Haut-Koenigsbourg, Kastil Terbesar di Alsace

Setiap saya melintasi jalan tol dari selatan ke utara Alsace (region di sebelah timur Prancis), di sebelah kiri saya selalu terlihat sebuah kastil besar berwarna kecokelatan yang terletak di atas bukit. Sayapun bertanya pada supir blablacar (moda transportasi murah, macam nebengers, yang membawa saya dari satu kota di kota lain) kastil apakah itu. Ia berkata bahwa itu adalah kastil terbesar di Alsace, Haut-Koenigsbourg namanya. Suatu hari setelah saya selesai main ke Strasbourg, saya ingin menyambangi kastil ini.

Untuk mencapai kastil ini, saya harus menaiki bis dari kota Selestat, sebuah kota yang berada di tengah-tengah Alsace. Mencapai kota Selestat bisa dengan kereta dari Strasbourg/Colmar/Mulhouse atau dengan blablacar tentunya. Dari depan stasiun Selestat, saya menunggu shuttle bis nomer 500 dengan tujuan Haut-Koenigsbourg.

IMG_5295

Stasiun Sélestat

Hari itu, akhir bulan Oktober 2015, di musim gugur, saya hanya berdua saja dengan backpacker asal Kanada dan si bapak supir di dalam bis. Kami bertiga mengobrol dalam Bahasa Prancis, karena si turis ini aslinya dari Quebec, bagian dari Kanada yang berbahasa Prancis. Pemandangan menuju ke atas bukit sangatlah memukau, di kiri kanan, daun berwarna merah dan oranye khas musim gugur. Benar benar saat yang tepat untuk mengeksplor kastil ini.

IMG_5387

Pemandangan sepanjang jalan

Setengah jam berlalu dan kamipun sampai di depan pintu masuk. Ternyata di sini banyak juga turis lain dan mereka membawa mobil. Pantes, yang dateng turis kaya atau penduduk Prancis semua yang bawa mobil, kita doang yang backpacker gembel hahahha. O ya, harga shuttle bis ini 2 Euro sekali jalan. Untuk masuk ke dalam kastil, kita harus merogoh kocek 9 Euro (kalo sudah naik bis ini, kita hanya perlu membayar 7 Euro).

IMG_5300

Pintu masuk ke dalam kastil

IMG_5303

Bentuknya si kastil

IMG_5305

Ayo masuk!

IMG_5310

Dalamnya kira-kira begini..

IMG_5311

Dan begini..

IMG_5317

Kastilnya unik ya.. Beda sama kastil2 Prancis yang lain..

IMG_5320

“Apa lo liat liat?”

IMG_5323

Sampailah kita di bagian atas kastil

IMG_5329

I see the lights..

IMG_5337

Whoaa.. Amazing!

IMG_5343

Such a breathtaking view! Nikmat mana yang kamu dustakan?

IMG_5348

I can look at this all day long!

IMG_5349

Those autumn color!

IMG_5350

Pemandangan yang terbingkai..

IMG_5361

Antoine, si orang Kanada yang nemu di bis..

IMG_5363

Habis dari kastil doi hiking di hutan-hutan, saya sih melipir saja..

IMG_5375

Tampak bawah..

Habis puas menikmati pemandangan dari Kastil Haut-Koenigsbourg yang kece badai! Sayapun kembali ke Selestat, di situ saya sempat eksplor sedikit kota kecil ini..

IMG_5397

Salah satu gereja di Sélestat..

IMG_5401

Kotanya sendiri kecil dan ga gitu banyak yang bisa diliat..

Sampai jumpa di petualangan Cuni selanjutnya!

Colmar, When A Magic Begins

Colmar adalah salah satu kota di Alsace, bagian timur Prancis yang terletak di antara Strasbourg dan Mulhouse. Kota ini sangat terkenal karena rumah-rumah Alsace yang cantik dan warna warni. Bahkan di Malaysia, dibangun sebuah komplek turistik bernama Colmar Tropicale yang bangunannya dibuat menyerupai kota Colmar. Kota ini merupakan salah satu syuting film disney dibuat. Wajar, kotanya magis banget sih!

Kotanya sendiri cukup kecil, cukup ke sini dengan one day trip. Bisa ditempuh dengan naik kereta selama 30 menit dari Strasbourg (kira-kira 10 Euro), atau dengan blablacar yang lebih bersahabat di kantong (bisa dengan 5 Euro saja).

Highlight dari kota ini adalah La Petite Venise atau The Little Venise. Di tempat ini terdapat bangunan Alsace warna warni sepanjang kanal. Lebih cantik lagi kalo ke sininya pas summer atau awal spring, banyak bunga yang dipasang di sepanjang kanal. Sisanya, siap-siap dimanjakan dengan bangunan khas Alsace di seluruh kota.

IMG_5127

Selamat datang di kota Colmar!

IMG_5137

Sebuah taman besar di kota Colmar, yang dinamakan Champ de Mars. Kece berat ya pas musim gugur!

IMG_5148

Biasanya kalo ada tulisannya eau potable, airnya bisa diminum. hihi.

IMG_5165

Ini yang namanya Little Venise. Instagram-able!

IMG_5170IMG_5190

IMG_5199

IMG_5149

IMG_5202

IMG_5212

Nah, kalo beberapa yang di bawah ini diambil pas Natal, makanya ada dekor macem-macem di beberapa rumahnya. Ada jg Christmas Market yang rame bgt! (tentang Christmas Market akan dibuat postingan sendiri).

IMG_7496

IMG_7492

IMG_7487

Makanan khas Alsace: Choucroute aux 5 viandes. Isinya daging babi. Makannya mirip banget sama khas Jerman, karena Alsace pernah menjadi bagian dari Jerman.

IMG_7504

 

So, jangan lupa ke Colmar ya, kalo ada kesempatan main ke timur Prancis, atau barat Jerman! :))

Strasbourg, I’m In Love

Sampai detik ini, gue sudah menyambangi kira-kira 12 kota di Prancis dan kalo ditanya kota apa yang paling gue suka, jawabannya pasti Strasbourg. Kota ini ga gede, ga kecil, tapi sangat menarik. Gw udah 3 kali ke sana dan ga pernah bosen. Gw sih saranin kalo mau ke Strasbourg mending pas bulan Desember sekalian, karena di sana ada Christmas Market paling besar di Prancis, sampai disebut Christmas Capital. Satu kota ada 12 area Christmas Market dan dimana-mana lampu, berasa magis deh. Soal Christmas Market ini bakal gue bahas di postingan lain. Sekarang gue bakal cerita tentang tempat-tempat yang bisa kamu kunjungin di Strasbourg.

Strasbourg adalah ibukota dari region Alsace, region yang berada di sebelah timur Prancis, dekat dengan perbatasan Jerman. Strasbourg pernah beberapa kali menjadi wilayah Jerman, oleh karena itu banyak sekali tradisi yang mirip dengan Jerman, seperti Christmas Market itu. Selain itu, di sini juga nama jalannya ditulis dalam 2 bahasa, Prancis dan Jerman. Strasbourg itu kota yang bener-bener komplit menurut gue, ada bangunan bangunan tua, tepatnya rumah rumah khas Alsace yang cantik banget dan suka dijadiin shooting film Disney; ada bangunan bangunan klasik kaya di kota-kota Prancis yang lain; dan juga ada Parlemen Eropa yang kompleksnya bener-bener keliatan modern.

So, ke mana aja kalo jalan-jalan ke Strasbourg?

  1. Petite France

Ini ada di nomer 1 tempat yang musti kamu datengin di Strasbourg, versi gue. Bahkan menurut gue area ini lebih penting dibandingkan Cathédrale-nya. Di Petite France ini kita bisa liat kanal kecil dikelilingin rumah-rumah khas Alsace. Beda banget rasanya pas nyampe sini, ga kaya di Prancis hihi. Ga heran deh, rumah-rumah Alsace macam gini suka dijadiin tempat syuting disney. Kaya lagi main ke dunia ajaib hihi. Selain di Strasbourg, ada jg area serupa kaya gini tapi lebih bagus dan colorful menurut gue, yaitu di Colmar, sebuah kota kecil dengan jarak setengah jam dari Strasbourg. Si Petite France ini kelihatan lebih cantik kalo summer atau awal musim gugut, karena di sepanjang kanal bakal ditaruh bunga warna warni. Kalo musim dingin, bunganya udah ga ada lagi karena ga kuat sama cuaca dingin.

IMG_4725IMG_4726IMG_4724IMG_4721IMG_4727IMG_4730

IMG_7607

2. Cathédrale Notre Dame de Strasbourg

Katedral paling gede di Strasbourg. Tempatnya bagus, di sekitar notre-dame juga ada berbagai museum, dari museum sejarah, arkeologi dan masih banyak lagi. O ya, di deket sini juga ada Tourism office, bisa minta peta kota Strasbourg di sini. Selain itu, di deket sini juga ada salah bangunan unik bergaya gothic yang bernama Maison Kammerzell.

17

Cathédrale Notre-Dame de Strasbourg tampak depan

19

Bangunan khas Alsace di sekitar Cathédrale

20

Kalo di sini ga ada tukang gorengan, adanya tukang marrons alias chestnut!

18

Maison Kammerzell yang sekarang sudah berubah fungsi jadi restoran

  1. Place Gutenberg

Jalan dikit dari katedral, ada tempat yang namanya Place Gutenberg. Kalo di Prancis, « Place » itu berarti kaya tempat besar, biasanya di pusat kota, di mana orang bisa ngumpul-ngumpul, duduk-duduk, dan lain sebagainya. Di Place Gutenberg ini juga ada Carousel alias komidi putar. Adem rasanya duduk di sini sambil ngeliatin rumah-rumahan Alsace.

21

  1. Place Klèber

Agak ke sana lagi ada yang namanya Place Klèber, ini kaya pusat kotanya Strasbourg gitu. Di sini ada macem-macem, dari McD sampai Galerie Lafayette. Bahkan pas pembukaan Christmas Market di Strasbourg, Anggun C. Sasmi nyanyi di sini, di tempat pohon natal super gede dipasang.

11IMG_4711IMG_4709

  1. Place Broglie

Di tempat ini ada gedung opéra yang di depannya ada patung Leclerc (salah satu tokoh pembebasan Strasbourg); city hall dan berbagai bangunan penting lainnya.

12

Place Broglie

13

Gedung Opéra

  1. Gallia

Selain Katedral, ada juga gereja bagus bernama Eglise St. Paul di daerah yang namanya Gallia. Paling enak ngeliat gereja ini dari stasiun tram. Bisa keliatan, ada kanal di depan gereja ini dan jadinya cakeppp banget. Di sisi seberangnya, juga keliatan pemandangan kanal yang cantik dan cocok buat tempat melihat sunset.

IMG_7637

Pemandangan ini didapat dari stasiun tram Gallia. Gereja St. Paul yang di depannya ada kanal cantik.

IMG_7647

Masih di Gallia, tapi disisi yang satunya lagi. It’s sunset, babe!

  1. Place de la République

Tempat ini adalah salah satu taman gede di Strasbourg, letaknya di pusat kota dan dikelilingi oleh Palais du Rhin, gedung teater, bibliothéque universitaire alias perpus dan gedung prefektur. Di tengah taman ini ada sebuah monumen untuk mengenang para tentara yang meninggal dalam perang dunia 1.

15

IMG_7633

IMG_7625

Gedung Prefektur Bas-Rhin

  1. Palais Universitaire

Kalo punya banyak waktu, bisa coba masuk ke salah satu gedung di universitas Strasbourg di bagian yang deket sama Gallia. Aula-nya keren banget! Ga berasa kaya lagi di kampus. Gedung ini sekarang masih dipakai untuk tempat kuliah fakultas seni dan beberapa ilmu social. O ya, Universitas Strasbourg ini juga salah satu universitas terbaik di Prancis, loh. Buat yang mau kuliah di sini bisa dijadiin pertimbangan.

16

universitas strasbourg

Aula yang kece mampus. Foto diambil dari mbah Google karena foto gue ga tau kemana.

  1. Ponts Couverts

Terletak di ujungnya Petite France, area Ponts Couverts terdiri dari 3 jembatan dan 4 menara. Juga terdapat Barrage Vauban, semacam bendungan. Tempat ini cantik jika dilihat di malam hari ini karena ada pencahayaan yang warnanya silih berganti.

IMG_7570IMG_7572

  1. Parlemen Eropa

Uni Eropa memiliki 3 kota sebagai penyelenggara pemerintahannya, di Strasbourg, Brussel dan Luxembourg. Di Strasbourg, berdiri yang namanya Parlemen Eropa. Bentuk parlemen Eropanya sendiri menurut gue sih ok, ga bagus bagus gimana amat, tapi modern. Berasa beda banget sama di pusat kota Strasbourg. Di deket Parlemen Eropa juga ada Conseil d’Europe dan Palais des Droits de l’Homme (Hak Asasi Manusia).

parlement

Parlemen Eropa (foto diambil dari mbah google karena foto gue ga tau kemana)

Le Parlement Europeen a Strasbourg

Dalemnya Parlemen Eropa (diambil dari mbah Google, punya gue ga tau kemana)

  1. Kehl, Jerman

Strasbourg ini berbatasan dengan kota kecil bernama Kehl yang masuk ke dalam wilayah Jerman. Kalo kalian udah di Strasbourg dan pengen nginjakin kaki ke Jerman tapi ga punya banyak waktu, bisa coba ke Kehl, tinggal naik bus. Kotanya sendiri kecil. Anak anak PPI Alsace biasanya ke sana buat belanja mingguan/bulanan, karena harga barang-barang di Jerman lebih murah dari Prancis.

IMG_4792

Selain tempat-tempat di atas, kita juga bisa jalan kaki random muterin nih kota, pasti ada aja tempat lucu yang fotogenik. So, Enjoy Strasbourg !

IMG_4757

Tempat yang didapat karena random walk, kalo gue disuruh ke sana lagi juga gue ga bisa nemuin ini di mana hahaha.

Info tambahan :

1. Jika ingin berwisata dari Paris, bisa menggunakan kereta ataupun bis. Ada megabus, salah satu bis low budget yang bisa dinaiki dengan merogoh kocek sekitar 10 Euro.

2. Di dalam kota ada moda transportasi tram dengan harga 1,7 Euro untuk sekali perjalanan (bisa transit). Menurut saya pribadi sih, asal sudah sampai pusat kota, kemana mana kita bisa jalan kaki, kotanya tidak terlalu besar kok. Kecuali kalo kita mau ke Parlemen Eropa yang letaknya agak jauh.

3. Kalo sudah sampai Strasbourg, jangan lupa mampir ke Colmar. Kotanya cakep bgt!

 

4-Hours-Trip to Basel, Switzerland

Halo! Udah lama juga ya ga ngeblog. Sayang nih, udah bayar domain mahal-mahal, tapi updateannya jarang-jarang hahaha. Sebenernya banyak sih perjalanan yang musti ditulis, tapi malesnya itu loh haha. Ditambah, sekarang gue sibuk kerja sambil kuliah. Yah akhirnya gue dapet kerja part-time juga buat mencukupi kebutuhan gue di Prancis, walaupun kerja fisik, tapi disyukuri aja. Oke deh, langsung aja ke cerita jalan-jalan keliling Eropa berikutnya yaitu Basel, Switzerland! Jeng jeng..

Di hari yang cerah tanggal 19 September 2015, gue dan temen gue Mas Istas ceritanya mau jalan-jalan ke luar kota. Si Mas Istas ini adalah dosen tamu, dia ngajar di Université de Haute Alsace 1 bulan lamanya. Ngajar teknik bo! Hahaha. Dulu dia pernah kuliah S3 di Prancis dan sekarang jadi dosen di ITS (Institut Teknologi Surabaya). Si Mas Istas ini punya temen Prancis, namanya Gilbert, dia kerja di uni juga. Si Gilbert rencananya mau ajak jalan-jalan Mas Istas sabtu ini, gue nimbrung deh hahaha.

Jam 12 siang kita dijemput sama mobilnya Gilbert di asramanya Mas Istas. Si Gilbert ternyata bawa istrinya juga. Guepun masuk mobil, ngobrol-ngobrol dan kemudian diketahui bahwa kita mau ke Swiss! Whatt? Gue kira kita mau jalan-jalan ke luar kota doang, taunya ke luar negeri. Mati lah, gue ga bawa paspor! Kata Gilbert ya udah coba aja, kalo ga tembus ya ntar parkir aja deket perbatasan trus masuknya jalan kaki.

30 menit berlalu dan kita memasuki perbatasan Prancis-Swiss. Hahaha. Deket ya, Mulhouse-Basel cuma 30 menit! Ternyata.. si penjaga perbatasan meloloskan mobil kita tanpa memeriksa apapun. Alhamdullilah! Kita pun melenggang kangkung masuk Basel!

Hahaha. Senangnya bisa ke Swiss, walaupun Basel agak berbeda dengan kota di Swiss yang lain. Kita tidak bisa melihat gunung salju dari sini. Bahkan, kata temen gue yang tinggal di Swiss, orang Swiss menyebut Basel “The Ugly Swiss” karena ga gitu bagus dibanding kota kota lain di Swiss. Duh, kasian amat.

Gilbert memarkirkan mobilnya di dekat pusat kota Basel, kita pun berjalan-jalan mengelilingi kota Basel dengan berjalan kaki. Langsung aja yuk cus liat foto-fotonya! 😀

IMG_4476

Strolling around the city

IMG_4479

This is Basel. Di setiap sudut kota ada gambar penunjuk jalan ke arah pusat kota.

IMG_4494

Sampailah kita di depan Rathaus. Gedung berwarna merah ini adalah city hall alias kantor walikota.

IMG_4509

Dalemnya Rathaus

IMG_4512

Masih di dalam Rathaus. Pas kita ke sini lagi ada grup pemain biola lagi main di sini.

IMG_4514

Very cool, huh?

IMG_4548

Sungai Rhein yang melewati Jerman bagian barat juga melewati Basel. Katanya, kalo musim panas, sungai ini penuh dengan orang-orang yang berenang di sungai ini untuk pergi ke kantor. Bahkan pas musim gugur ini juga terlihat 1-2 orang lagi berenang :O

IMG_4555

Perahu seharga 2 CHF (Swiss Franc) untuk menyeberangi sungai Rhein.

IMG_4564

O beautiful Rhein

IMG_4582

Nyeberang sungai, tau-tau udah di Munsterplatz. Katedral-nya kota Basel.

IMG_4583

Munsterplatz

IMG_4605

Dan perjalanan ini diakhiri dengan minum bir. Cheers!

 

Ga berasa 4 jam berlalu muterin kota Basel. Menurut gue pribadi kotanya yah ga gtu beda jauh sama kota-kota lain di Eropa. Cukup besar. Terus banyak Starbucks! Hahaha. Buat gue yang tinggal di Prancis agak amaze liat Starbucks, karena di Prancis yang namanya Starbucks dikiiiiiiiiit banget, bahkan di Mulhouse ga ada. Haha.

Oke deh, segini dulu ceritanya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

 

Travelling ke Barat Jerman (3): Bruhl-Cologne

Setelah menjelajah Bonn kemarin, hari ini gue akan meninggalkan Bonn dan rumah Laura yang hangat hahahahha. Agenda hari ini adalah ke satu kota yang namanya Bruhl, yang letaknya antara Cologne dan Bonn, dimana ada Augustusburg Palace, salah satu istana warisan UNESCO, kemudian balik ke Cologne dan jalan-jalan di sana sambil nunggu Megabus pulang ke Mulhouse jam 10 malam.

Augustusburg Palace ini letaknya persis di depan stasiun kota Bruhl. Dari luar keliatan banget bentuknya simetris, macam istana-istana Prancis. Istana ini bergaya Rococo dan disebut2 sebagai salah satu istana Rococo yang pertama dibangun di Jerman. Untuk masuk ke dalam gue harus membayar 5 Euro (harga pelajar). Begitu masuk ke dalam.. Jreng jreng jreng! Istananya bagus bangettt! Pantes ga boleh motret (oops, ketawan deh gue motretnya diem2). Istana ini dibangun dengan mandat dari Elector dan Uskup Cologne Clemens August pada tahun 1725. Ceritanya memang dia menghambur-hamburkan duit banget buat ngebangun istana ini. Langsung aja intip fotonya ya!

IMG_4316

IMG_4327

IMG_4331

Di luar, ada taman gede banget yang bentuknya juga simetris. Katanya taman ini dibangun oleh salah satu murid dari arsitek taman di Istana Versailles. Keren ! Pas jam makan siang, gue makan dengan bekal dari Laura, tongseng ! Hahahhaa. Indahnya dunia, bisa makan makanan Indonesia beberapa hari ini. Makasih Laura! :* (ssstt.. Laura ini punya catering loh di Bonn, yang ada deket situ dan kangen makanan Indo, mungkin bisa kontak dia hahahhaha). Sayangnya acara makan di pinggir taman ini kurang begitu nikmat, karena diganggu oleh angin kencang yang bikin gue kedinginan. Hahaha. Gue pun segera cus setelah selesai makan. Gue kemudian muterin taman yang segede alaihim. Sempet pengen ke rumah tempat Augustusburg berburu dan memanah buruannya juga, tapi jaraknya agak jauh dari taman tersebut.

IMG_4337

IMG_4350

Tongseng!!

IMG_4369

IMG_4391

Puas di istana Augustusburg, yang menurut gue recommended banget, gue pun menuju Cologne untuk menjelajah Cologne, sekali lagi..

Sampai di Cologne, gue melewati Katedral lagi, yang tepat berada di samping stasiun Cologne, kemudian jalan-jalan ke pusat kota yang juga terdapat kota tua. Tujuan pertama adalah melihat Museum Tina Farina, orang yang membuat Eau de Cologne. Sayangnya hari itu tidak ada kelompok tur berbahasa Inggris, adanya Bahasa Jerman, jadi ga bisa menjelajah museumnya. Untuk masuk museum ini kita harus mengikuti kelompok tur yang sudah ditentukan jamnya setiap harinya. Ga boleh main ngeloyor masuk gitu sendirian. Di bagian depan museum, dijual berbagai pernak Pernik dan tentunya Eau de Cologne. Asli ! Masih dari bahan yang sama yang dibuat oleh penemunya, si Farina ini. Btw, Farina ini cowok loh, kaya cewe ya namanya! Hahahha.

Selain Farina, ternyata di sini ada juga Eau de Cologne lain yang cukup besar. Bisa dibilang dia meniru Farina, tapi karena beda jenis, ga tau juga sih bisa dibilang meniru apa ga. Yang jelas gedungnya lebih gede dan modern daripada si museum Farina, makanya keliatan dia yang lebih menonjol.

IMG_4417

Old city

IMG_4422

Farina Museum

IMG_4425

Farina Museum, eau de cologne di mana2

IMG_4436

Rhein river

IMG_4413

Habis itu gue ngider-ngider lagi di pusat kota sambil makan french fries ala German ! Hahahha. Bisa dibilang french fries ini porsinya cukup besar, sampe gue ga abis dalam sekali makan. Hahahha.

IMG_4431

Perjalanan pun dilanjutkan ke Old Town kemudian ke sungai Rhine lagi. Di sepanjang sungai Rhine ada bangunan warna warni yang cakeppp banget hihi. Sebenernya itu adalah restoran, tapi bangunannya kece banget dan Instagram-able. Haha.

IMG_4437

Colorful house near the river

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 dan gue udah cape jalan-jalan. Megabus masih 3 jam lagi, bengong di depan sungai Rhine juga ga mungkin, karena udaranya dingin mampus. Akhirnya gue memutuskan melipir ke Coffee Bean buat menghangatkan diri, ngecharge sekaligus nge-wifi. Hahahha. Btw, toilet di Coffee Bean ini ada kodenya. Dan kita dikasih kode sama Baristanya saat melakukan transaksi pembelian. Hal ini untuk mencegah sembarang orang pipis gretongan di sana hahahah. Boleh juga idenya!

Akhirnya setengah 10 tiba! Gue pun berjalan ke arah halte Megabus untuk pulang ke Mulhouse. Auf Wiedersehen Germany! 😀 😀

IMG_4448

Travelling ke Barat Jerman (2): Bonn

Setelah menjelajah sedikit Cologne dan Dusseldorf, hari Minggu, 20 September 2015, gue menjelajah Bonn. Berhubung ini hari Minggu, jadilah gue jalan-jalan ditemani Laura.

Hari itu kami makan siang empal gepuk buatannya Laura. Rasanya, beuh, enak! Hahhaa. Udah lama ga makan makanan Indonesia, ketemu lagi rasanya super menyenangkan! Habis itu kita pergi ke Istana Drachenfels yang letaknya ada di Bonn.

IMG_4139

Empal gepuk buatan Chef Laura

ISTANA DRACHENFELS

Tempat ini dapat dijangkau dengan kereta dalam kota (entah tram apa subway, bisa di bawah tanah tapi bisa di atas juga hahahha). Di kereta ini kita ketemu sama bapak-bapak Jerman yang bisa Bahasa Indonesia. Denger kita ngomong, dia langsung nyamperin, dan ngajak ngobrol dengan Bahasa Indo seadanya. Ternyata dia pernah tinggal di Bandung beberapa tahun dan anaknya bahkan sekarang masih di sana. Ga berapa lama kemudian, kita berpisah dengan bapak-bapak itu dan turun di stasiun koenigswinter. Dari situ kita jalan dikit ke stasiun kereta Drachenfels. Akses menuju ke istana yang letaknya di atas bukit bisa ditempuh dengan berbagai cara, dari jalan kaki, naik sepeda atau naik kereta. Tentunya gue milih yang terakhir hahaha, naik kereta. Jadilah kita membeli tiket kombo, yang mencakup kereta dan juga tiket masuk istana, harganya 16 Euro. Mahal sih, tapi sekali-kali gapapa (kaya gini mulu nih kalo jalan-jalan, mikirnya selalu kapan lagi ke sini, tapi habis pulang liburan nangis darah liat rekening hahaha).

Kereta Drachenfels ini bentuknya ucuk! Kereta ini memiliki beberapa perhentian, kita bisa turun di istana yang letaknya agak di tengah, atau bisa juga turun di reruntuhan kastil yang letaknya di atas bukit. Pertama gue naik dulu ke reruntuhan kastil. Dari situ kita bisa liat kota Bonn dari atas, yang dibelah oleh sungai Rhein. Pemandangan dari sini cakepp banget, sayang waktu itu lagi berkabut.

P1100234

Kereta kecil naik ke atas Drachenfels

P1100211

Reruntuhan kastil Drachenfels. Kalo diliat dari jauh bagus nih, sayang musti naik helikopter dulu 😛

P1100227

Masih di reruntuhan

P1100216

Kota Bonn dari atas Drachenfels

P1100223

Masih cengar cengir. Habis ini manyun kameranya rusak.

O ya, di kastil ini ada peristiwa menyebalkan, yaitu kamera gue rusak kena ujan! Huhuhu. Kamera lumix kesayangan gue rusak. Ga sampe rusak parah sih, tapi tulisannya zoomnya error. KZL. Baru di negara pertama eurotrip aja udah rusak huhu.

Habis dari reruntuhan kastil, kita naik kereta lagi turun ke bawah, tempat istana utuhnya ada. Istana ini juga bagus banget, apalagi ada taman di bagian luar istana, yang bikin warna warni dan juga tambah cantik!

IMG_4200

Istana Drachenfels dilihat dari taman

IMG_4193

Cakep yak!

IMG_4191

IMG_4196

Eh, ada Laura!

Dari sini kita turun ke bawah jalan kaki ke museum reptil. Museumnya sih sebenernya biasa aja. Tapi ya lumayan lah, daripada lumanyun hahahha. Habis itu kita pun turun ke bawah untuk pulang.

Habis dari istana, kita sempet jalan-jalan ke pusat kota bentar, lalu makan malam dengan kebab! Hahaha. Makanan anak kosan Eropa banget tuh, Kebab! Kebab di sini beda sama doner kebab di Indo, daging dan sayurnya lebih banyak. Pokoknya makan itu aja udah kenyang deh. Harganya berkisar di 4 Euro.

Usai makan kebab, kita pulang. Pulang-pulang, gue ngerendem kamera di beras, berharap airnya bakal masuk ke beras dan kameranya betul lagi T__T

Hari Senin, 21 September (gue masih libur loh!), gue menjelajah kota Bonn sendirian, karena Laura kerja. Kota Bonn ini disebutnya Kota Beethoven, karena Beethoven lahir dan besar di sini, sebelum dia pergi ke Austria. Bahkan di kota ini juga ada festival of Beethoven, yang spanduknya ada dimana-mana pas gue ke sana.

Tujuan pertama gue hari itu adalah Godesburg. Godesburg ini kastil juga, tapi tinggal menaranya doang, jauh lebih kecil daripada Drachenfels. Gue ke Godesburg dulu karena itu yang paling jauh dari tengah kota, sementara obyek wisata lain ada di tengah kota. Nyari ini kastil susahnya ampun, mana gue ga ada GPS kan, ga mau roaming. Akhirnya ketemu juga jalan menuju kastil ini, yang adalah tangga batu ditengah hutan. Mana sepi. Jalan 10 menit, keliatan kuburan. Kanan gue kuburan ala Eropa gitu, yang cakep, tapi tetep aja serem. Mana sendirian pulak. Akhirnya sampai juga di menara itu. Bagus sih dari luar, tapi gue males naik tangga ke atasnya, cape, mana ga ada orang hahaha.

IMG_4239

Godesberg. Entah kenapa ini obyek wisata sepi banget, mungkin karena itu hari senen pagi.

Habis dari Godesburg, gue ke taman gedeeee banget, trus melipir ke pinggir sungai Rhein buat makan siang! Hahaha. Kali ini bawa bekal ayam penyet buatannya Laura! Walaupun sambel terasinya pake terasi ABC tapi tetep aja… Nyammm..

IMG_4245

Makan ayam penyet di tepi sungai Rhine. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?

Selesai makan, gue kembali menyusuri taman dan menemukan taman kecil bergaya jepang yang bernama Japanische Garten, tamannya terawat banget, dengan daun-daun berbentuk bulat lonjong yang dipotong secara teratur (waktu gue ke sana ada amang-amangnya lagi motong daun). Gue menuju ke pusat kota dengan melalui Post Tower dan Kantor PBB yang tinggi menjulang. Pas lewat situ berasa agak aneh karena semua orang berpakaian rapi sementara gue keliatan banget turisnya hahaha. Jalan terus, gue menyusuri sungai Rhine lagi sambil sekali sekali duduk kecapean sampe ke pusat kota.

IMG_4259

Japanischer Garten

IMG_4257

Japanischer Garten

IMG_4264

Yang kiri Post Tower, yang kanan gedung PBB

Sampe pusat kota, gue ngelewatin Universitas Bonn yang bangunannya kece berat. Terus gue duduk-duduk di taman depannya. Taman tersebut menghadap Akademische Kuntsmuseum. Gue kalo jalan-jalan sendirian kerjaannya melipir duduk duduk mulu. Antara pegel sama pengen menikmati perjalanannya. Hahahha. Habis itu gue ke gereja yang bernama Bonn Minster dan kemudian berlabuh di depan patung Beethoven gede banget di tengah kota. Di depan patung ini ada kantor pos gede yang warnanya ucuk.

IMG_4274

Universitat Bonn

IMG_4276

Asik ya bisa duduk duduk di taman depan kampus

IMG_4286

Bonn Minster yang lagi sedikit direnovasi

IMG_4290

Ada benteng-bentengan lucu di tengah kota

IMG_4289

Bonn, City of Beethoven

Habis itu gue ke Beethoven Haus alias museum Beethoven. Nyari ini museum susah bener, karena tempatnya kecil dan ga mencolok mata. Di museum ini ada barang-barang peninggalan Beethoven dan juga kisah perjalanan hidupnya beliau. Sayangnya semua keterangan di museum ini berbahasa Jerman (point yang perlu dicatat, museum di Eropa kecuali yang terkenal banget, pake Bahasa negaranya masing-masing dan tidak diterjemahkan dalam Bahasa Inggris). Mereka ada kasih brosur Bahasa Inggris mengenai ruangan-ruangan dan benda-benda koleksinya sih, tapi ga selengkap penjelasan Bahasa Jerman di masing-masing bendanya. Di museum ini juga ada ruangan digital tempat kita bisa mendengarkan karya-karya Beethoven di computer.

IMG_4298

Beethoven House

IMG_4296

Salah satu piano yang pernah dimainin Beethoven

Puas liat museum dan muter-muter pusat kota, gue ke arah sungai Rhein lagi sambil menunggu Laura pulang kantor. Karena tiba-tiba hujan, gue melipir ke salah satu space taman yang ada atapnya. Dan di situ gue melihat pelangi, tepat di atas sungai Rhine. Cakep bangetttt! Indahnya karya Tuhan yang satu ini.

IMG_4302

Rainbow over the Rhein

To be continued..

Travelling ke Barat Jerman (1): Cologne-Dusseldorf

Dulu waktu masih di Indonesia, gue udah mulai ngecek tiket tiket keliling Eropa. Kira-kira gue bisa ke mana ya dari kota gue. Hahaha. Dan ternyata, gue bisa ke beberapa kota dari tempat gue tinggal, Mulhouse. Ga nyangka juga sih, soalnya kan Mulhouse ga populer-populer amat. Malah kota yang lebih populer suka ga ada bus ke kota-kota lain haha.

Jadi, Mulhouse ini letaknya di perbatasan Prancis, Swiss dan Jerman, makanya banyak bus yang suka lewat situ, untuk ke kota lain di Eropa. Salah satunya adalah Megabus. Megabus ini adalah perusahaan bis Eropa dengan harga mulai dari 1 Euro. 1 EURO? Kapan lagi bisa keliling Eropa dengan harga segitu, wong naik tram satu kota aja one way 1.5 Euro hahahha.

Dan Megabus ini punya trayek Mulhouse-Cologne (Jerman). Gue langsung seneng banget, karena gue punya temen di deket situ, di Bonn. Bahkan sebelum gue berangkat ke Prancis, gue udah merencanakan destinasi pertama gue, yaitu Cologne dan Bonn. HAHAHA.

Jadilah di weekend di minggu kedua gue kuliah di Prancis gue langsung ke Cologne, tepatnya tanggal 18 September 2015. Pas banget tuh, lagi stress-stressnya kuliah, dengerin dosen ngomong Bahasa Prancis cepet banget (Iya, kuliah gue pake Bahasa Prancis! Pusing pala barb!) plus temen-temen yang susah banget dideketin (beda banget sama Indo bo!) dan tugas yang udah lumayan numpuk.

Gue memesan tiket jam 23.45 dari depan Stasiun Mulhouse menuju Cologne naik Megabus. Malam amat yak? Iya itu salah satu minusnya naik bus murah, jamnya dipasang di jam-jam ga nyaman buat bepergian. Waktu itu gue ga dapat tiket 1 Euro, dapatnya 5 Euro. Tapi mayan banget lah, jadi 10 Euro PP! Haha. Naik kereta yang jaraknya cuma setengah jam aja ga dapet segitu. Haha.

Jam 23.30 gue udah siap depan halte. Di tengah dinginnya cuaca Prancis. Kalo di Indonesia enak ya, malam-malam juga udaranya ga dingin dingin amat, lah di sini? Hahaha. Di luar 10 menit diem aja udah kedinginan. Gue tunggu sampai 23.40, kok bisnya ga ada-ada, mana ga ada orang lain yang nunggu di situ. Apa jangan jangan gue salah halte? Hmmm. Tiba-tiba gue teringat pengalaman temen gue yang Megabusnya telat, bahkan pernah sampai ga dateng. Mati. Ga kebayang kalo tuh malam bisnya ga dateng. Sempet juga baca forum ada yang megabusnya telat 5 jam @_@

Akhirnya gue telpon aja CSnya, mana CSnya basenya di London kan, kena international call deh. Dan CSnya bilang “Megabusnya telat 1 jam.” Doeng! Kesel sih tapi seenggaknya ga dicancel hahahaha. Oke, gue masih nunggu aja di halte yang sama. Kedinginan. 15 menit kemudian, ada orang minta-minta dateng, dia tanya “Kamu punya koin ga? Aku belum makan 3 hari.” Ah elah. Tempat sepi gini, ada aja. Karena gue takut gue kasi aja koin gue. Di Prancis ini emang banyak orang minta-minta, tapi mereka selalu ga keliatan kaya orang minta-minta. Bisa aja ada orang tiba-tiba nyamperin lo di jalan terus minta duit. Sebenernya sih tinggal bilang aja “ga ada” terus mereka pergi, belum pernah sih nemu yang maksa gitu (jangan sampe juga..) cuma kalo tempatnya gelep ya ngeri lah. Huhu.

Habis itu, gue berpikir buat masuk aja ke dalam stasiun, tapi gue takut gue ga bisa liat megabus dateng kalo nunggunya di dalem stasiun. Terus gue celingukan liat halte lain deket situ, eh ternyata ada cewe 1, gue samperin aja sok kenal, ternyata dia nunggu megabus jg. Alhamdullilah! Ada temennya! Akhirnya sisa menunggu selama 30 menit dihabiskan dengan ngobrol sama nih cewe yang ternyata orang Spanyol. Haha. Ga berapa lama ada juga cowok yang nunggu (dan kita ternyata pernah ketemu di couchsurfing meeting!) dan jadilah kita ngobrol bertiga.

Kira-kira jam 00.45 bus yang ditunggu dateng juga! Huahhh… senangnya! Langsung kita bertiga berlarian ke bus itu. Nunjukkin tiket, terus duduk di tempat yang pewe. Kalo busnya lagi ga rame, bisa tuh 2 kursi kita pake sendirian, kaya waktu itu. O ya, meski murah, tapi bis ini juga dilengkapi wifi, colokan (ga semua kursi ada) dan WC (sayangnya waktu itu lagi rusak). Mayan lah. Walaupun manyun juga nunggu 1 jam di udara dingin hahahha.

Habis itu gue pun istirahat, sambil kadang-kadang melek, liat udah nyampe mana. Karena ini perjalanan ke luar Prancis gue yg pertama, gue excited banget. Ini bis sempet berhenti ngangkut penumpang di Freiburg, Frankfurt dan beberapa kota lain di Jerman. Selain excited, gue juga ngeri sih, karena saat itu residence permit gue belum keluar hahahha. Nekad ya, belum punya residence permit tapi udah keluar Prancis. Tapi dari semua anak yg udah nyoba, belum ada yang ketangkep sih. Border di sini emang penjagaannya ga ketat, kecuali di beberapa titik rawan.

Setelah perjalanan 8 jam, akhirnya jam 9 pagi kita sampai juga di COLOGNE! Hahahhaa. Hore! Halte yang di Cologne ini bener-bener di tengah jalan, ga deket stasiun, jauh dari pusat kota dan ga ada tempat duduknya. Gila! Hahaha. Sesampainya di sana, gue janjian mau ketemuan sama temen gue Laura, terus kita berdua mau ketemu temannya di Dusseldorf. Tadinya gue sempet mau naik blablacar (apa lagi tuh Blablacar? Tenang, nanti gue akan buat cerita sendiri tentang blablacar) ke Dusseldorf biar murah dibanding kereta, tapi karena blablacarnya ga dapet, akhirnya gue naik kereta aja bareng Laura dari Cologne.

Penampakan megabus. Bus 1 Euro-an.

Sambil menunggu Laura yang keretanya gangguan dari Bonn (iya, kereta di Eropa juga banyak gangguan macam KRL!), dari tempat nunggu bus gue jalan ke pusat kota, ngelewatin sungai Rhein (sungai yang membelah Jerman bagian barat) dan berujung di Katedral Cologne, yang sebelahan sama stasiun utama (bahasa Jermannya Hauptbahnhof). Katedral Cologne yang terkenal ini bener-bener bergaya gothic dan menimbulkan kesan mistis gimana gitu. Hihi.

P1100101

Sungai rhein di Cologne

P1100108

Katedral Cologne bergaya gothic

P1100109

Dari samping. Langitnya gloomy amat yak!

P1100111

Love lock di jembatan dekat Hauptbahnhof

Setelah muterin ini katedral, akhirnya Laura pun datang! Horeeee! Ga nyangka akhirnya bisa tinggal di Eropa ngikutin nih anak. Laura itu temen SMA gue, dari dulu dia suka banget sama Jerman, sementara gue suka banget sama Prancis. Eh dia udah ke sana duluan, bahkan sekarang udah kerja tetap di sana. Sekarang akhirnya gue bisa nyusul! Hihi :*

Kita pun naik kereta ke DUSSELDORF. Perjalanan Bonn-Dusseldorf cuma ditempuh sekitar setengah jam. Kita beli tiket kereta seharga 42 Euro yang bisa dipake untuk maksimal 5 orang. Jadi mau lo cuman ber2 juga ya harganya tetep segitu, mending ber5 kalo mau maksimalin tiket ini. Karena kita cuman ber2, jadilah seorang kena 21 Euro. Tiket ini bisa dipake seharian keliling North Rhine-Westphalia (region yang di dalamnya ada kota Bonn, Cologne, Dusseldorf, Dortmund, Essen, dll)

P1100129

This is Laura! Hari itu rambutnya dikeriting buat menyambut gua hahahah. Gue jadi berasa kaya upik abu.

Sesampainya di Dusseldorf kita makan siang dulu, makan makanan khas Bavaria (Jerman), Schweinhaxe (12.5 Euro), alias paha babi. Hahaha. Kalo liburan, saatnya makan enak hahahah setelah di kosan makan makanan rumahan mulu. Kita makan di restoran yang bernama Schwein Janes, yang cukup terkenal di Dusseldorf. Letaknya sendiri masih di kawasan Old town. Kita makan ini sambil minum bir khas Dusseldorf, Schlosser Alt. Beuh, mantap dah. Makan makanan lokal di tempat aslinya bersama dengan orang lokal (Laura gue anggap orang lokal hahahha).

IMG_4121

I AM HAPPY!

Habis makan, kita muter-muter Old Town. Di sini ada city hall yang cantik banget dengan bunga-bunganya!

P1100135

City Hall

P1100142

Dusseldorf City Hall

IMG_4129

Old town

Kaki pun terus melangkah ke arah sungai Rhein. Di sepanjang sungai Rhein di Dusseldorf ada banyak restoran dan tempat nongkrong yang asik. Kalo ga ada duit, tinggal beli aja sandwich supermarket, terus duduk di sepanjang sungai Rhein, sambil liat orang lalu lalang dan kadang ada atraksi macem-macem. Di sini gue berpisah sebentar dengan Laura, karena dia mau ketemu temennya dan gue memilih untuk eksplor kota ini sendirian.

P1100151

Jalan di sepanjang sungai Rhein.

P1100155

Nongkrong kece sambil ngeliatin sungai Rhein, kalo punya duit

P1100162

Hey Laura!

P1100164

Nah kalo ga ada duit, beli aja sandwich supermarket terus duduk duduk di sini. Tetep asik kok!

Gue pun muter-muter ga tentu arah, ngelewatin gereja St. Lambertus, liat orang yang lagi nikah, terus jalan lagi ke Old Town dan nemuin Champs-Elysees-nya Dusseldorf, yang bernama Koenigsallee. Di sini bertengger butik papan atas macam Channel, Louis Vuitton, dan teman-temannya. Di tengah-tengahya ada sungai kecil yang juga kece. Keren deh. Mungkin karena udah umur ya, gue sebentar-sebentar berhenti untuk duduk. Hahaha. Ini enaknya jalan sendirian, lo bisa duduk selama mungkin tanpa ngerasa ga enak sama partner travelling lo hahhaha.

St. Lambertus church. Someone is getting married!

P1100181

Sungai yang ngebelah Koenigsallee. Pretty, Huh?

P1100182

Koenigsallee, Champs-Elyseesnya Dusseldorf. O ya, Dusseldorf ini adalah ibukota dari region North-Rhine Westphalia

Habis itu gue ke taman yang guede banget, namanya Hofgarten. Di sini ada bangunan asimetris bergaya modern yang namanya Ko-Bogen. Asik deh, ngeliatin itu bangunan sambil memandang taman, danau dan angsa-angsa yang lucu. Puas bengong di taman, gue melipir ke dekat situ, dan ngeliat ada band manggung di Universitas Dusseldorf. Sempet duduk sebentar tapi karena hujan, gue memutuskan untuk berteduh di mal dekat situ, sambil menunggu Laura.

P1100188

Hofgarten. Damainya!

P1100193

Ko-bogen. Keren yak!

P1100198

Eh ada angsa lewat..

Setelah ketemu Laura, kita makan malam! Hahahha. Kali ini kita makan ramen (12 Euro) yang katanya paling enak di Dusseldorf, nama restonya Takumi, letaknya di daerah Japanische Viertel, deket sama Hauptbahnhof. Kita ngantri panjang di depan pintu, ada kali 30 menit baru bisa masuk. Ramennya menurut gue sih biasa aja. Bahkan gue ga habis loh! Kayanya gue kebanyakan makan hari itu. Sejak di Eropa, gue ga biasa makan banyak. Mungkin karena pas awal awal sampe dibiasain makan sandwich doang tiap hari. Jadi kalo makan banyak dikit aja, langsung berasa kenyang banget hahahha. Sayang banget nih ramen ga habis, padahal harganya bisa 3 kali lipat ramen enak di Jakarta. Dan habis beli itu, gue nyesel sih kenapa gue makan di resto mulu hari itu, keluar duitnya mayan banyak. Sambil berjanji besok bakal bawa bekel dari rumah atau beli makan di supermarket aja.

IMG_4138

Enakan Ikkudo Ichi menurut gue! Haha.

Habis makan, kita pun pulang ke rumah Laura di Bonn dengan menggunakan tiket yang sama. Hihi. Asik, akhirnya ketemu kasur setelah semalaman tidur di bis. Tapi jangan senang dulu, perjalanan ke Bonn agak berliku, seperti biasa, selalu ada aja jinx travelling gue. Itu kereta karena lagi ada stasiun yang perbaikan, berenti ga sampai Bonn, tapi sampai kota deket situ. Dari situ kita musti naik shuttle bus ke Bonn. Dan nunggu shuttle busnya itu… satu jam! Di tengah udara Jerman yang dingin dan ga ada bangku sama sekali, nunggunya berdiri doang. Kaya deja vu ya, perasaan kemarin udah ngalamin ini. Haha.

To be continued on next post..

Note: 1 Euro = Rp 16.000 (saat gue ke sini)

France, A Dream Comes True

Hola!

Setelah perjalanan sekitar 15 jam, akhirnya tanggal 21 Agustus 2015 sampe juga gue di Prancis, negara impian! Hahahhaha. Dua minggu sebelum ke Prancis, gue banyak farewell-an sama temen-temen di Jakarta. Rasanya sedih banget musti ninggalin comfort zone gue. Tapi kaya temen gue bilang, “The line between your comfort zone and your dream is very thin.”. Emang berat rasanya ninggalin Jakarta, zona nyaman gue senyaman nyamannya. Kalo ditanya gue happy apa ga tinggal di Jakarta, jawabannya pasti happy! Hahahaha. (Kan ada tuh tipe orang yang kerjaannya ngutuk2 Jakarta dan pengen banget keluar dari sini). Kalo gue ga, gue ninggalin Jakarta karena gue punya mimpi, yaitu kuliah di Prancis. Dan setelah melalui perjalanan berat, mimpi itupun tercapai. O ya, satu lagi yang buat gue berat ninggalin Jakarta saat itu adalah eyang gue (gue tinggal sama eyang gue dari kecil) sakit mayan parah, dan sakitnya itu bener-bener 2 minggu sebelum gue berangkat (now she already rest in peace :(( ). Gue sempet pikir apa diundur aja ya gue perginya, tapi kayanya ga ngaruh apa-apa juga gue perginya kapan. Hiks.

Setelah galau ninggalin Jakarta (dan ada satu kegalauan yang lain), akhirnya gue nyampe Bandara Paris Charles de Gaulle kira-kira jam 7 pagi. Gue naik pesawat bareng Olla, temen yang kuliah di Prancis juga tahun ini. Sebelum ngambil bagasi gue sempet ke WC, pas gue balik WC si Olla udah ilang, jadilah gue ga ketemu Olla lagi hari itu. Yak, bagasi pun datang, koper seberat 33 kg harus dibawa sendirian! Plus ransel besar yang kalo ditimbang bisa sampai 7 kg. Si koper ini rodanya agak bermasalah, jadi susah dibawanya dan bikin jadi berat banget. Beraaaaat banget rasanya narik si koper, sampe tiap 2 meter sekali gue berenti. Dari Charles De Gaulle gue naik RER ke kota Paris. Sebelum naik RER (kereta gitu), gue beli sim card Lebara yang dijual di toko depan loket. Lebara ini salah satu dari sedikit SIM Card prabayar di Prancis. Kebanyakan kalo di sini bayarnya abonemen. Waktu itu gue beli 10 Euro (SIM card dan isinya 5 Euro). Yak, perjuangan menarik koper dalam kereta pun dimulai. Sangking gedenya itu koper sampe ngalangin jalan wkwk. Tujuan pertama adalah Gare de Lyon, gue rencana mau taruh koper di sini sampai 5 hari ke depan untuk kemudian bisa langsung dibawa ke kota tempat gue kuliah, Mulhouse (kereta ke Mulhouse berangkat dari Lyon). Naik RER musti transit dulu sekali baru bisa nyampe Gare de Lyon. Beuh perjuangan narik kopernya itu bener-bener dah. Sampe ada adegan gue jatuh dan kaki gue ketimpa koper di eskalator. Parah. Dan yang membuat itu lebih parah adalah ga ada satu orangpun yang berinisiatif bantu gue. Man, orang Prancis bener-bener cuek banget. Dia ga ngebantu sampe dimintain tolong. Gue yakin kalo gue ada di Jakarta pasti banyak yang bantu.

Sesampainya di Gare de Lyon, gue masih nyari tempat lokernya sampai muter muter. Ternyata itu stasiun kereta guede banget, huhu. Gue musti naik 3 tingkat untuk mencapai tempat loker. Di sana ketemu orang Indonesia, hahahha. Tuh orang sempet bantu angkutin itu koper juga di tempat screening hahahah. Koper pun masuk ke loker. Biayanya 10 euro untuk hari pertama dan tambahan 5 euro per harinya. Habis dari Gare de Lyon, gue menuju ke apartemennya Sally, temen UI gue. Nyampe sana sekitar jam 1 dan langsung tepar, rasanya ga kuat kemana mana lagi hari itu. Habis dibuatin ramen, gue pun terlelap! Hahahah. Hari itu cuma dilalui sambil tidur, ngenet, ngobrol sama Sally dan belanja ke supermarket deket situ.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Hari ini gue ke Istana Versailles. Hore! Dari dulu pengen banget ke Versailles tp ga kesampaian waktu ke Paris. Sekarang kesampaian hahahhaa. Untuk ke Versailles kita harus naik RER C dengan harga 8 euro pulang pergi. Sesampainya di Versailles gue beli tiket seharga 35 euro (termasuk tiket istana, taman dan rumah Marie Antoinette). Gue pun bertemu dengan Esa, teman UI juga, yang kebetulan tinggalnya dekat situ. Dia nyempetin nemenin ke Versailles di tengah-tengah deadline tesis yang jatuh keesokan harinya hahahaha. Yang bikin gue iri adalah si Esa bisa masuk Versailles gratis (tapi istananya aja), karena dia pelajar di bawah 26 tahun. Damn! Sementara gue yang udah tuir harus bayar segitu mahal. Di Eropa, kalo lo pelajar di bawah 26 banyak diskon yang bakal didapet. Jadi, kalo emang mau kuliah di Eropa mending buruan, sebelum ketuaan kaya gue ahahaha. Ga enak bgt kan, dompet mahasiswa tapi musti bayar layaknya pekerja. Huff.

Versailles sendiri areanya sangat luas. Langsung aja ya kagumi keindahannya dari foto-foto ini!

pertama dan terakhir kali pake tangan buntung di prancis tahun 2015 hahahha sekarang udah dingin

pertama dan terakhir kali pake tangan buntung di prancis tahun 2015 hahahha sekarang udah dingin

IMG_3199

kapel kecil

tamannya dilihat dari istana

tamannya dilihat dari istana

IMG_3253

lukisan cantik di langit-langit

galerie des glaces

galerie des glaces

tempat tidur marie antoinette

tempat tidur marie antoinette

galerie des batailles - isinya lukisan pertempuran di prancis dari masa ke masa

galerie des batailles – isinya lukisan pertempuran di prancis dari masa ke masa

IMG_3307

Francois Premier

Habis dari istana, kitapun makan siang sebentar kemudian pergi ke taman. Sayang, jimatnya Esa (alias kartu pelajar) udah ga berlaku lagi di sini. Katanya sih, kalo ga summer dia bisa masuk gratis juga ke taman. Cuma karena waktu itu summer, mungkin udah terlalu banyak turis dan rugi ngasi gratisan ke mahasiswa. Hahahha. Mungkin.. Yah, berpisah deh kita. Gue melanjutkan masuk taman dan si Esa pulang kembali mengerjakan tesisnya hahaha.

A bientot Esa! Gue ga akan lupa kata2 lo sebelum pergi, "Selamat datang di kegilaan ini!" (maksudnya kuliah-red)

A bientot Esa! Gue ga akan lupa kata2 lo sebelum pergi, “Selamat datang di kegilaan ini!” (maksudnya kuliah-red)

Tamannya sendiri guedeeee banget, dan hampir simetris bentuknya. Luar biasa! Udah gitu ada perahu perahuan yang bisa didayung berdua. Petit Trianon (rumah Marie Antoinette) letaknya masih agak jauh dari taman. Banyak jalan deh hari itu.

IMG_3329

Taman versailles yang kiri kanan hampir simetris. Beneran bisa liat, dulu cuma liat di buku kuliah S1 (dulu gue S1 Sastra Prancis).

IMG_3369

Bahkan pohonnya simetris

Danau di Taman Versailles

Danau di Taman Versailles

IMG_3380

Salah satu ruangan di Petit Trianon-kediaman Marie Antoinette

IMG_3392

Taman di Petit Trianon

Minggu, 22 Agustus 2015

Di minggu pagi gue janjian ketemuan sama temen SMA dan kuliah gue, Gita. Gita udah berkeluarga di sini dan suaminya orang Prancis. Pas hari itu kebetulan dia lagi pindahan ke rumah baru dan nyempetin ketemu gue pagi-pagi. Hahaha. Kita sarapan di Brioche Doree deket Notre-Dame sambil cerita-cerita banyak hal. Banyak kata-katanya yang memotivasi gue memasuki dunia perkuliahan yang kejam. Hahahaha. Habis itu diapun pulang dan gue melanjutkan perjalanan ke Cathedrale Notre-dame de Paris.

IMG_3442

Sama Mme Parisienne di patung St Michel. Gita ini satu-satunya temen SMA yang sejurusan waktu di Sastra Prancis dulu.

IMG_3456

Cathedrale Notre-Dame de Paris

IMG_3457

Tampak dalam

IMG_3499

Ukiran patung di pintu masuk

Habis dari Cathedrale Notre-Dame gue menuju ke Basilica Sacre-Coeur, perjalanan ke sini agak capek karena harus menanjak ke atas. Gue turun di metro Pigalle dan masih agak jauh perjalanan dari sana ke Sacre Coeur. Di tengah perjalanan sempet ngeliat red light districtnya Paris alias Moulin Rouge. Lucu ya, tempat prostitusi ini bersebelahan dengan gereja Sacre Coeur. Setelah jalan agak jauh, sampai juga ke Sacre Coeur. Sebenernya ada 2 opsi buat naik, bisa naik tangga, atau naik semacam lift menuju ke atas. Karena pas jalan dari arah gue ga nemu liftnya, jadilah gue naik tangga. Hahahha. O iya, untuk naik lift (yang mirip kereta gantung) ini harus membayar seharga tiket 1 kali metro (subway).

Paris red light district - Moulin Rouge

Paris red light district – Moulin Rouge

Pas sampe atas ternyata ada pertunjukan (kayanya sih sulap, ga gtu merhatiin). Dari sacre Coeur kelihatan kota Paris dari atas, cakep deh. Asik rasanya merenung sore sore sambil memandangi Paris dari atas. Tadinya mau sampai malam biar bisa liat city light. Tapi kalo di sini gelapnya baru setengah 9 malam, kelamaan nunggunya. Bangunan gereja sacre-coeurnya sendiri dari luar sangat cantik, gue lebih suka arsitektur yang ini daripada Notre-Dame. Tapi bagian dalamnya memang ga seluas Notre-Dame. O iya, pas gue ke sini ada juga pertunjukan orang dribbling bola pake kaki di tiang. Jagoan banget deh, pokoknya. Memang ada ada aja ya cara warga Paris untuk mencari sesuap nasi.

Pertunjukkan dribbling di tiang depan Sacre Coeur

Pertunjukkan dribbling di tiang depan Sacre Coeur

Paris dari atas Montmartre

Paris dari atas Montmartre

Setelah itu, gue pulang dengan menggunakan si lift dan langsung mencari metro terdekat untuk pulang ke rumah Sally.

Senin, 23 Agustus 2015

Di hari ini gue agak malas-malasan, baru bangun jam 10an, terus makan siang di Chinatown. Akhirnya makan nasi juga pake daging. Gue dikasi rekomendasi sama Gita untuk makan di restoran Vietnam terkenal gtu, sayangnya tuh restoran hari itu tutup, jadilah gue makan di resto sebelahnya. Dagingnya enak sih, tapi nasinya agak aneh buat gue. Tapi gapapalah, mengobati rindu akan nasi setelah beberapa hari makan sandwich mulu.

Habis makan siang gue ke KBRI buat lapor diri sama translate akte kelahiran. Di sini gue janjian sama Olla dan Rezzy. Rezzy (Eji) adalah salah satu temen deket di kampus. Hari itu dia baru banget dateng ke Paris untuk berkuliah di La Rochelle. Gue dulu waktu kuliah suka berandai-andai sama dia minum kopi di depan menara Eiffel. Eh, ternyata mimpi kita itu kesampean. Ga janjian ga apa, kita berangkat S2 di Prancis di tahun yang sama! Kadang emang luar biasa kekuatan mimpi itu. Thanks God!

Jadi untuk mewujudkan kata-kata di mimpi itu, sudah jelas dong tujuan pertama kita ke mana? Ke Eiffel! Hahahhaha. Sayangnya hari itu hujan badai yang luar biasa. Jarang jarang di Paris sampai hujan badai gtu. Jadilah kita Cuma foto-foto sekadarnya, lalu berteduh di Metro sambil menunggu Siska (anak Sastra Prancis juga tahun 05). Siskapun datang dan kita main ke rumahnya dia sambil dimasakin makan malam, nasi kuning sama ayam panggang yang endues! Hahahhahah. Gue tadinya berencana pulang (Eji emang nginep di situ), tapi karena di luar udaranya luar biasa dingin dan gue mager, gue akhirnya nginep di tempat Siska.

The dreamers - Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu

The dreamers – Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (abaikan rambut gue yang kaya habis kena topan)

Selasa, 24 Agustus 2015

Saatnya keliling Paris bersama Eji! Hahahha. Rute kita bisa dibilang agak mainstream, tapi emang itu tempat yang wajib dikunjungin kalo di Paris. Perhentian pertama adalah Sorbonne. Siapa sih yang ga tau Sorbonne? Sekolah paling terkenal di Prancis. Jadi kita ceritanya mau daftar ulang.. ahahhaha. Kidding! Kita jalan muter-muter Sorbonne sambil foto-foto pake tongsis dan fish eye hahahhaha.

IMG_3655

Sorbonne- altar pengetahuan

Habis itu kita ke Notre-Dame dan sempet masuk ke toko buku yang lumayan terkenal, Gilbert Jaune. Bareng sama Eji ini gue baru tau kalo Notre-Dame adalah titik 0-nya Paris. Alias tempat pertama saat kota Paris baru dibangun. Jam makan siang tiba! Kita makan Crepes di sebelah Notre-Dame sambil ngeliat orang lalu lalang. Jadi gini rasanya makan ngadep ke jalan 2-2nya. Kaya kata salah satu dosen KBP (Kemahiran Berbahasa Prancis) dulu, orang Prancis sukanya melihat dan dilihat, jadi dia suka ngopi-ngopi sambil ngadep jalan (kalo berdua, dua-duanya ngadep jalan, bukan hadap-hadapan).

IMG_3725

Titik nol – Cathedrale Notre Dame de Paris

IMG_3748

Makan crepes di depan Notre Dame. Makan crepes di bawa sama duduk di restoran harganya beda jauh loh hahahha.

Habis dari Notre-Dame kita berjalan kaki menuju Hotel de Ville, kemudian menyusuri sungai Seine sambil melewati Chatelet. Sempet liat juga jembatan cinta (yang ada kunci-kunci dikasi nama pasangan itu). Tadinya tempatnya bukan di situ, tapi karena jembatan yang asli udah runtuh keberatan gembok, jadilah lokasinya dipindahin.

IMG_3690

Selfie di sungai seine. Bbrp bulan setelah foto ini, salah satu temen gue komentar pas liat foto ini di insta, “Wah ini waktu lo masih bahagia ya, lo belum disiksa” (maksudnya kuliah -red)

IMG_3759

Chatelet

Kita menuju ke Musee du Louvre, di mana kacamata item gue sempet masuk selokan -_-. Habis itu kita duduk duduk di Jardin de Tuileries dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Champs Elysees, tempat di mana brand papan atas Prancis bertengger. Di sini kita juga janjian sama 4 temennya Eji yang diplomat. Jadi Eji dan temen-temennya ini sebenernya dapat beasiswa dari Kemenlu ke Prancis untuk akhirnya menjadi penerjemah negara untuk Bahasa Prancis. Keren yak? Mungkin ada yang tertarik mempersunting Eji? Hahahhaha (Malah jadi biro jodoh). Habis itu kita ke Arc de Triomphe.

P1100039

Musee du Louvre, di dalamnya ada Monalisa karya Leonardo Da Vinci

P1100071

Hiburan murah meriah ala orang Eropa- duduk2 di taman! (Jardin Tuileries)

P1100090

Champs Elysees- Pusat perbelanjaan paling terkenal se-Eropa, di mana ada Channel, Louis Vuitton, dll.

IMG_3779

The gloomy arc de triomphe

Habis itu kita ke Eiffel lagi! Hahahha. Kita cari spot foto bagus yang ada rumput-rumputnya ntuh. Hahahha. Untung hari itu ga ujan kaya kemarin, jadi foto-fotonya cukup puas. Lucunya pas di situ kita ketemu pasangan Korea yang minta fotoin. Karena kamera dia ga gtu bagus hasilnya, dia minta tolong fotoin pake HP gue dan ntar dikirimin ke email dia hahahhaa. Si pasangan ini ceritanya lagi honeymoon. Makanya wajib banget kan foto depan Eiffel hahahha.

IMG_3843

Menara sutet

Habis dari Eiffel kita berpisah jalan sama temen-temennya Eji, gue dan Eji balik lagi ke daerah Sorbonne buat janjian makan malam sama Sally dan Siska. Jadi ceritanya, Sally ini pernah jadi murid les privatnya Eji sebelum dia ke Prancis, makanya kenal. Kita makan di resto Asia, yang sebenernya ga enak-enak amat. Hahahhaa. Milih tempatnya agak ngasal yang ini. Malam pun datang, dan kita pulang ke tempat masing-masing.

IMG_3864

From left to right: Cuni-Eji-Siska-Sally

Keesokan harinya gue harus bangun jam 4 untuk mengejar kereta paling pagi ke kota tujuan gue, Mulhouse. Tentunya perjalanan yang ini juga pake drama. Dari nyasar nyari halte bis, nunggu loker gue buka jam 6.15 (ngambil koper yang gue titipin di Gare de Lyon itu). Sampe geret2 koper segede gajah sambil setengah lari. Gimana ga lari, keretanya berangkat jam 6.30 sementara gue baru bisa ngambil koper 15 menit sebelumnya? Gila dah..

Itu dia petualangan pertama gue di benua Eropa, nantikan petualangan lain di post selanjutnya! :*

Terbang di atas Kebun Teh: The Amazing Paragliding

Sebelum kuliah di negeri orang, gue bertekad melakukan beberapa hal sebelum gue pergi, salah satunya nyobain Paragliding! Hahahha. Apa sih paragliding itu? Intinya semacam terbang dengan menggunakan parasut. Jangan ketuker sama terjun payung ya. Kalo terjun payung kan beneran terjun, dari atas ke bawah, kalo ini kita horizontal. Baru mulai menurun pas mendarat doang.

Jadi ceritanya gue Paragliding bareng sama Leva (temen kantor di AIMIA), Tichu dan Ai (masih personil yang sama dengan yang ke Bandung). Hahahaha. Hari Sabtu, 1 Agustus 2015, jam 8 pagi kita janjian ketemuan di Stasiun Bogor, dari situ kita naik angkot 3 kali sampai ke Puncak, tepatnya di Bukit Paralayang (deket Masjid Atta’awun). Kita naik angkot dulu sampai Ekalokasari, kemudian nyambung lagi yang ke Cisarua. Di angkot ke arah Cisarua kita bertemu ibu-ibu nyebelin. Jadi kita lagi asik-asik ngobrol sambil ketawa gitu kenceng banget. Nah selain kita ber-4 di angkot Cuma ada ibu-ibu itu. Si ibu ibu terganggu denger kita ketawa-tawa, dia langsung bilang “Ini mahasiswa, apa pegawai sih ngobrolnya berisik banget. Mahasiswa di sini juga ngobrolnya ga gitu-gitu amat.” Krik krik krik, langsung pada diem habis asik asik ketawa. Lalu dia melanjutkan, “Nanti kalau udah sampai Atta’awun ga boleh kaya gini, ntar doanya ga dijabah, lho!”. Dalem hati, “Lah lu siapa emangnya nentuin doa gue dikabulin apa ga? Lagian kita ga mau ke Atta’awun juga.” Oke, sejak saat itu sampai setengah jam ke depan suasana langsung sunyi senyap, sambil kita melempar senyuman pengen ngakak satu sama lain. Asli, yang tadinya suasananya asik jadi ngantuuuuuuuuk banget. Duh mau liburan kok ketemu Ibu model begini.

Masih sumringah sebelum ketemu ibu-ibu rese

Kira-kira setengah jam akhirnya dia turun juga. Dan dia sempet ngomong gini sebelum turun, “Lanjutin lagi sana ngobrolnya!” Njir. Langsung lah tawa kita pecah habis ibu itu turun. Aya aya wae.

Perjalanan menuju ke Bukit Paralayang memakan waktu 2 jam, cukup jauh juga. Kita berasa ga sampe-sampe. Akhirnya sampai juga ke tempat itu. Letaknya di sebelah kanan jalan. Begitu nyampe, di parkiran aja udah ngeliat buanyakkk banget orang Arab. Ternyata paragliding ini emang hiburannya orang Arab yang tinggal deket situ (seperti yang kita ketahui banyak orang Arab kawin kontrak di Puncak). Bahkan sampai papan penandanya juga ditambahkan Bahasa Arab. Wew!

Leva yang juga keturunan Arab langsung seneng melihat temennya di situ. Hahahha. Kidding. Yang ada dia malah takut kalo diliatin om-om Arab wkwk.

IMG_2467

Pemandangan dari Bukit Paralayang

 

IMG_2535

Sok-sok selfie padahal deg-degan

Sebelum kita ke situ, gue udah DP duluan sama Bapak Nixon, namanya tercantum di website Paralayang. Gue DP 50ribu, kemudian bayar sisanya 300ribu on the spot (total harga 350.000). Gue berharap dengan DP kita bisa naik lebih cepat. Tapi ternyata tidak, saudara-saudara! Gue tetep harus ngantri 2 jam meskipun udah DP. Jadi gini, ternyata sistemnya yang sudah DP sama Nixon akan mengantri dengan antrian Nixon (Cuma ada 1 orang tandem (supir paralayang) yang ngedampingin). Jadi kita musti nunggu satu persatu orang yang di antrian Nixon sampai tiba giliran kita. Gile aja! Gue pikir kan yang udah DP akan diprioritaskan dengan siapa saja tandemnya, ternyata cuma bisa dengan tandemnya Nixon. Yahelah! Sama aja boong!

Dan yang bikin kesel lagi adalah gue diselak sama orang Arab. Jadi dia udah duluan masukin barang-barangnya ke tas paralayang yang harusnya gue pake, otomatis dia yang bakal naik. Grrrr. Kata Leva, “Orang Arab emang kaya gitu hobinya nyelak, lo musti lebih agresif.”

Akhirnya penantian 2 jam usai juga, saatnya gue terbang! Hahahah. Gue memilih untuk direkam dan difoto saat terbang, sehingga harus membayar extra 150.000. Guepun dibekali dengan gopro yang gue pegang sendiri saat terbang dan juga gue sempat difoto dengan kamera SLR. Kemudian gue dipasangin tas besar Paralayang (bisa diisi sama barang pribadi kita) dan juga parasut. Tandem gue yang ngegerakin parasutnya di belakang. Gue cuma disuruh jalan cepat menuju landasan. Dan.. ada ada aja, pas jalan gue pake acara kesandung. Doeng! Diketawain deh sama orang orang di situ. Setelah jalan, akhirnya parasut pun mengembang dan gue terbang! Hahahhaa. Awalnya gue tereak tereak ketakutan, tapi akhirnya mulai berasa asiknya. Gw agak berasa pusing sih pas terbang itu.

Ternyata terbang itu enak banget! Hahahhaha. Keren deh, apalagi dengan pemandangan kebun teh yang ciamix. Sayang, kesenangan itu hanya berlangsung 5 menit. Menuju 5 menit tandem gue mulai menggerakkan parasut ke bawah, siap dalam posisi mendarat. Lah? Ini kok cepet banget udah mau turun aja? Perasaan gue baca di blog orang terbangnya 15 menit. Arrrrrgh kesel! Dan lebih kesel lagi karena pas mendarat gue ga difoto. Jadi di situ ada fotografer yang tugasnya moto moto orang yang lagi mau mendarat. Cuma karena orangnya Cuma 1, jadi yang moto dia, yang ngeprint dia juga. Pas gue mau turun dia lagi ngeprint, makanya ga foto-foto. DOENG!

Yaudahlah agak kecewa sih, Cuma mau gimana lagi. Gue pun naik mobil yang disediain untuk kembali naik ke atas ke tempat terbang, untuk membayar sisa uang dan menemui temen gue. Usut punya usut, kayanya emang antriannya banyak dan pak tandem udah agak capek, makanya kita Cuma kebagian 5 menit -___-. Harusnya ga bisa dijadiin alasan ya, hal hal kaya gitu?

Persiapan

 

IMG_2485

Mulai mengembangkan parasut. Njir, muka gue panik! Hahaha

 

IMG_2458

Terbang! Yuhuuuuuu!

IMG_2459

Cool-NESS!

Setelah semuanya puas terbang, kita pun membayar dan meminta hasil foto serta video gopro. Kita juga mendapatkan sertifikat paralayang. Kita juga ngobrol-ngobrol sama bapak asistennya Nixon (duh gue lupa siapa namanya) sambil menunggu hasil foto. Dari situ kita tahu bahwa les paragliding itu 7 juta, dapet 20 kali terbang. Dan beli ransel serta parasutnya itu sekitar 30 juta (baru) atau 15 juta (secondhand). Mahal banget yaaa? Tapi dengan berbekal itu, kita sudah bisa terbang di mana saja di dunia. Di foto yang ada di kantornya banyak tempat tempat amazing yang bisa dilalui dengan paragliding. Seperti bromo, atau juga pegunungan Alpen di Swiss. Gila, kebayang bo rasanya kaya apa terbang di Alpen? Pasti AMAZINGGG! Hahahhaa. Gue pun langsung mupeng wkwk. Di situ kita jg sempet nyobain angkat ransel yang isinya parasut dan luar biasa berat. Hahaha. Kita harus gotong-gotong itu ransel kalau mau paragliding. Kalo ga salah beratnya 10 kg. Gile musti masukin bagasi tuh kalo dibawa ke luar kota/negeri.

Akhirnya, petualangan penuh adrenalin siang itu, usai. Kami pun makan malam di Bogor, lalu kemudian pulang ke rumah masing-masing. Makasih semuanya! :*

N.B: gue pengen upload videonya tapi belum ketemu sampai sekarang, kalo ada yang penasaran, bisa search instagram dengan hashtag #cunayparagliding

Bandung: A Farewell Trip

What I miss most when leaving Jakarta? Salah satu jawabannya adalah teman-teman. Jadi, sebelum gue berangkat ke Prancis, gue dan teman-teman deket mengadakan acara jalan-jalan ke Bandung di weekend tanggal 24-26 Juli, seminggu setelah Lebaran. Kita sekalian main ke tempat Ai, yang sekarang udah kerja di Bandung dan juga nginep di kosannya, yang dinamai Kosan Muslimah. Siapa aja personilnya? Ada gue dan sobat Prancis 06: Ai, Lina, Tichu, dan Jen (tapi Jen cuma bareng kita semalam).

Kita berangkat dari Jakarta mencar-mencar. Si Jen sudah datang dari hari Kamis, sementara gue, Tichu dan Linux dari hari Jumat. Gue yang udah jadi pengangguran berangkat dari Jakarta Jum’at siang. Gue naik Cititrans langsung dari Kelapa Gading. Sesampainya di sana kira-kira pukul 3, gue langsung nyamperin Ai di kantornya, Pusdiklat Geologi ITB (penasaran ga lo anak Sastra Prancis kerja apaan di Pusdiklat Geologi?). Lalu guepun langsung naruh barang di kosannya yang deket situ. Ga berapa lama, kita langsung cus ke Riau Junction untuk beli Kasur! Hahahaha. Ternyata.. si Ai Cuma punya 1 kasur buat nampung kita dan baru mau beli 1 lagi Kasur tipis hari itu juga. Ternyata di Riau Junction yang dicari ga nemu. Agak deg-degan juga, gimana kalo hari itu kita ga nemu kasur??

Habis ketemu sama si Jen (yang habis mancing di Situ Lembang, anti mainstream banget ini anak!) di deket situ, kita melanjutkan pencarian si Kasur. Hari saat itu sudah mulai malam. Kita pun memutuskan mencarinya ke Bandung Trade Center yang udah agak di ujung Bandung. Kita udah semangat tuh karena pas security ditanya di sini ada tempat jual Kasur ga, dijawabnya ada. Ternyata pas sampai tokonya, Kasur yang dimaksud adalah Kasur gede. Doenggggg! Kita kaga nyari Kasur segede itu, yang bahkan kalo dimasukin ke kamarnya Ai ga muat hahahaha. Di deket situ ada Giant, sepertinya tinggal itu harapan terakhir kita. Kita pun naik angkot ke Giant dan voila.. akhirnya ketemu juga yang dicari! Kita ga jadi tidur di lantai malam ini :DD

Sepulangnya dari pencarian Ibu Kasur (lah kok jadi Ibu Kasur?), kita balik ke kosan Ai dan nonton Age of Adaline. Filmnya bagus banget! Di tengah-tengah nonton kira-kira jam 12 malam datanglah Tichu dan Linux ke kosan Ai. Mereka habis naik kereta langsung pulang dari kantor. Sekarang semua personil sudah lengkap! Satu jam kira-kira kita lanjut nonton Age of Adaline sambil ngobrol, lalu kita tepar, tewas di Kasur masing-masing. Malem ini gue dpt Kasur Ai yang gede, besok malam katanya bakal digilir. Hihi.

Sabtu, 25 Juli 2015

Sekarang sudah Sabtu pagi, saatnya kita jalan-jalan keliling Lembang! Jam 9 pagi kita dipertemukan dengan supir yang membawa mobil sewaan kita di Pusdiklat Geologi. Supirnya ternyata masih muda coy, lebih muda dari kita. Sebut saja namanya Mput. Walaupun masih muda, Mput ternyata sudah menikah. Sementara ia akan membawa 5 tante-tante yang masih jomblo semua hahahahha. Ke mana aja kita hari ini?

  1. Tangkuban Perahu

Sebelum ke Tangkuban kita mampir sarapan bubur dulu deket situ. Dan seperti biasa gue terserang penyakit mules! Buat yang suka ngetrip sama gue, pasti tau banget kalo gue kerjaannya mules mules mulu kalo di jalan.

Habis mules, gue pun melanjutkan perjalanan ke Tangkuban. Gue belum pernah ke sini, padahal udah pernah ke kawah putih beberapa kali. Tempatnya indah banget dengan bau belerang yang agak menusuk. Kita ga perlu menanjak jalan kaki ke sini. Tinggal naik mobil sampai Tangkuban lalu langsung disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Pemandangan kawah berwarna abu yang luar biasa besar, tempat legenda Sangkuriang berasal. Selain melihat Tangkuban Perahu, kita di sini juga bisa naik kuda. Si Jen yang hari itu harus pulang ke Jakarta, langsung excited pengen naik kuda tanpa ba bi bu! Mantap lah. O ya, di sini Ai juga beli topi boneka kelinci yang unyu hihii.

  1. Hutan Pinus

Habis dari Tangkuban, kita berencana ke Kopi Luwak Cikole. Nah, di jalan, ga sengaja ketemu hutan pinus, jadilah kita foto-foto sambil buat video video lucu di sana.

  1. Kopi Luwak Cikole

Kopi Luwak Cikole ini kompleknya cukup besar. Di sini kita bukan cuma minum kopi aja tapi juga bisa liat hewan musang luwak dan proses bagaimana kopi itu dibuat. Seru deh! Mayan, buat nambah pengetahuan. Kopinya sendiri.. karena gue kurang suka kopi rasanya terlalu pahit buat gue.

  1. Pasar Apung Lembang

Ini tempat emang lagi hits banget ya, pas ke sana bener-bener crowded. Kita makan di restoran Sunda yang harganya agak mahal, karena kelaperan kita main masuk aja ke tempat yang ga gitu rame. Setelah makan, kita jalan-jalan, eh taunya ada tmp makan lain di sekitar danau, gerobak gerobak gitu banyak banget. Tau gitu kan makan di sini. Pantesan tadi di sana sepi, orang-orang pada ramenya di sini. Hahhaha.

Selain danau, di sini juga ada berbagai wahana perahu. Dari perahu yang bentuknya kaya kereta-keretaan sampai perahu yang dikayuh sendiri. Pas kita di sana ada anak kecil berdua susah payah ngayuh perahu, ekspresinya itu loh, lucu banget. Ahahahha. Pengen rasanya kita videoin dan dimasukkin ke 9gag.

Di pasar apung juga ada rumah kelinci dan berbagai tempat unik lain. Karena Ai dan Lina penggemar kelinci, mereka masuklah ke tempat ini. Tempatnya kaya taman yang dibuat lubang-lubang buat tempat tinggal kelinci. Banyakan yang masuk anak kecil dan mereka pada barbar banget. Main Tarik dan angkat kelinci sesuka hati sampe keliatan kelincinya sedih. Si Ai yang di dalem sana jadi ga tega ngeliat kelinci-kelinci itu.

  1. D’Ranch

Tebak di sini ga sengaja ketemu siapa hayo? Penulis beseler Nadia Silvarani aka temen kita sendiri hahahahha. Ga sengaja ketemu nih anak di sini yang lagi liburan sama keluarganya. Kalo jodoh emang dipertemukan ya, Nad. Hihi.

D’Ranch sendiri tempatnya luas banget dan menyediakan berbagai macam aktivitas. Kita nyobain naik kuda sama panahan. Seru seru deh. Terus kita dikasi kostum koboi dan Indian lucu gtu, biar keliatan bener-bener all out mainnya. Hahahha.

  1. Maja House

Ini adalah salah satu restoran yang ngehits banget di Bandung, makanya ekspektasi kita tinggi banget waktu dateng ke sini. Gue pernah beberapa kali liat bentuk gedung Maja House, bentuknya unik banget. Pernah juga sekali ngereview di kantor lama gue, Sendok Garpu (kasian ya ngereview doang tapi yang ke sana bukan gue hahaha).

Dan pas ke sini… kita ga liat sama sekali itu bangunan karena gelap! Terus masuk ke dalam juga keliatannya sepi banget, jadi deg-degan gimana gtu. Pas naik ke atas baru berasa rame, restorannya ternyata terletak di lantai 2. Tempatnya sendiri agak remang-remang. Kita memilih posisi yang agak terang biar bisa ngobrol. Terus kita penasaran kaya apa sih view Bandung dari atas Maja House? Ternyata.. biasa aja! Jadi menurut kita tempat ini overrated doang, dan mungkin.. bakal lebih bagus diliat kalo siang hari. O iya, ada satu yang ga mengecewakan dari Maja House. Makanannya enak! Secara, orang orang Bandung jago masak kan, dari kemarin sampe hari ini kita makan, makanannya ga ada yang ga enak. Hahahha.

Sepulang dari Maja House kita langsung balik ke kosan Ai. Hari ini gue masih dpt giliran tidur di atas, karena lagi ga enak badan Hehe.

 

Minggu, 26 Juli 2015

Hari ini kita berencana keliling Bandung dan nyobain berbagai hal seru lagi, dari naik Bandros sampe ke Bukit Moko.

  1. Bandros (Bandung Tour on Bus)

Pernah liat bis Double Decker yang ada di London? Bandros ini mirip banget sama bis itu! Hihihi. Liat bentuknya aja udah kece berat. Sebelum bisa naik ke sini, kita harus memesan dulu via whatsapp dan mentransfer uangnya. Nomor whatsappnya bisa ditemukan di twitter dan Instagram Bandros. Kita ga bisa langsung dateng ke bis ini lalu bayar. Bener bener musti transfer dulu sebelumnya.  Banyak orang yang kecewa karena ga bisa naik bis ini langsung, alias go show.

Tempat meeting point bis ini adalah Taman Cibereunyi. Di hari Minggu pukul setengah 8 pagi, kita menunggu bis itu dengan semangat, sambil sarapan juga. Sayang, siomay yang gue makan buat sarapan belum mateng huhuhu. Ngeselin! Jam 8 pun bisnya datang.. Karena nama kita dipanggil paling pertama, kita milih posisi yang paling pewe. Di atas dan paling depan! Hahahha. Sayang ga ada yang motoin kita dari depan, bakal bagus banget pasti keliatannya. Setelah duduk manis dan bis terisi penuh, bis ini mulai jalan mengelilingi kota Bandung. Ada Tour Guidenya juga di dalam bis yang menerangkan semua tempat yang kita lewati. Ternyata tour guidenya itu peserta Masterchef Indonesia lho. Dia sendiri sempet promosiin kalo dia ikut Masterchef, tapi karena kita pikir dia bercanda, jadi kita anggap lalu aja sambil ketawa-tawa. Eh, taunya waktu digoogling beneran, beneran ada muka dia hahahhha.

Kota Bandung ini ternyata memang kaya akan sejarah. Di setiap sudut ada aja bangunan yang ada cerita bersejarahnya. Mantap dah! Setelah muter-muter Braga, Asia Afrika, dan tempat-tempat lain, akhirnya sampai juga kita di penghujung tur. Durasinya kurang lebih 1 jam. Sebelum turun, kita nyanyi dulu Halo Halo Bandung bareng2, sambil mengepal2kan tangan hahahah!

  1. Tebing Keraton

Habis naik Bandros kita ke tempat hits lainnya yaitu Tebing Keraton. Buat naik ke sini, kita ga bisa naik mobil, harus jalan kaki atau naik ojek. Jalan mendakinya sekitar 30-45 menit. Karena cukup curam, gue dan Lina mulai merasa ngos-ngosan di awal-awal pendakian. Ditambah lagi abang ojek yang bener-bener kekeh nawarin ojeknya ke kita sambil jalan di samping kita. Gue dan Lina pun akhirnya tergiur bujuk rayu tukang ojek dan naik ke atas pake ojek (Rp 15.000). Hahahha. Otomatis, kita sampai lebih cepat dari Ai dan Tichu. Tapi mereka nyampe atasnya ga lama-lama amat kok. Jagoan emang! Hahahhaha.

Sampai di atas, kita melanjutkan jalan sedikit ke arah Tebing Keraton. Tempatnya ruameeee banget! Di tempat spot foto-foto sudah dibatasi dengan pagar, agar tidak berbahaya buat yang ke situ. Tapi heran, masih ada aja yang keluar pagar untuk foto di batu-batu yang lebih curam. Pada ga sayang nyawa apa ya?

Tempatnya sendiri bagus, di mana mana warna hijau, tapi sayang, kondisi waktu itu sedang berkabut. O iya, waktu itu ketemu banyak orang yang naik sepeda ke Tebing Keraton. Dengan medan securam itu, gue salut sih sama para bikers. Mana banyak juga bapak-bapak yang udah lumayan berumur.

  1. Cocorico

Habis dari Tebing Keraton, kita makan siang di Cocorico. Tempatnya sendiri di Lembang, di sebelahnya The Valley. Pemandangan dari sini kece, tapi sayang mataharinya agak masuk ke restoran dan bikin panas. Hahahah. Tapi overall bagus, better than Maja House. Makanannya juga enak-enak. Duh, kayanya ga ada makanan di Bandung yang ga enak hahahah.

  1. Cihampelas Walk

Setelah dari tempat-tempat unik, kita main dulu di Mal. Hahahha. Gue dan Tichu jalan-jalan di mal, Lina ke deket mal nyari oleh-oleh, sementara si Ai di mobil aja berduaan sama pak supir hahahah. Katanya sih dia pusing gara-gara kepanasan di Tebing Keraton (Ai ini anaknya emang anti panas hahahha). Tapi siapa tau dia Cuma modus biar bisa berduaan sama supir di mobil? Hahahah.

Di Ciwalk, gue ngeliat mainan yang lagi ngehits di Jakarta, namanya Escape Room. Kata temen gue yang pernah nyobain permainan sejenis di Malaysia, kita disuruh mecahin berbagai kode di ruangan ini selama satu jam, biar bisa keluar dari tempat ini. Gw penasaran banget kaya apa gamesnya, tapi sayang antriannya berjibun. Dateng jam 2 siang, disuruh masuk jam 7 malam, muke gile! Hahahah.

  1. Bukit Moko

Nah sorenya kita berpetualang lagi melihat pemandangan alam. Dulu gue udah hampir ke sini sama temen gue, tapi karena satu dan lain hal, perjalanan tersebut dicancel. Baru sekarang deh kesampaian ke sini. Bukit moko juga memiliki nama lain Bukit Bintang. Kita naik mobil jauuuuh banget untuk bisa sampai ke bukit ini. Ada kali perjalanan sejam. Setelah itu, kita turun dan melanjutkan mendaki sekitar 15 menit.

Begitu sampai di atas, gue terkesima dengan hutan pinus yang luar biasa bagus. Kalo kata Tichu, berasa kaya di Nami Island. Ini jauh lebih bagus daripada yang kita temuin di Tangkuban Perahu. Selain hutan pinus, kita juga bisa ngeliat pemandangan Bandung yang bagus banget dari atas. Kita di sini nunggu sunset. Begitu udah agak gelap, kita pun pulang dan berencana untuk makan di sekitar situ sambil ngeliatin city light Bandung dari atas. Sayang, beberapa tempat makan udah kehabisan tempat parkir atau ga bisa diparkirin. Terpaksa kita urung untuk melihat city light. Kita langsung turun ke bawah untuk makan malam.

  1. Taman Vanda dan Asia Afrika

Sebelum makan, ada seseorang yang penasaran banget liat Taman Vanda, sebut saja dia Adlinux, bukan nama sebenarnya. Dia penasaran ke tempat ini karena ini adalah lokasi syuting sinetron Preman Pensiun. Sinetron favorit doi. Mukanya berseri-seri banget pas nyampe sini, kaya habis naik haji hahahhha. Tamannya sendiri menurut gue bagus ya, dengan beberapa air mancur dan lampu warna-warni yang menyorot tulisan Taman Vanda.

IMG_2276

Adlina’s favorite!

Habis itu kita ke jalan Asia Afrika yang katanya habis dipugar habis-habisan gara2 KAA kemarin. Dan bener aja tempatnya jadi bagus banget. Alun-alunnya juga bagus dan diberi rumput sintetis buat warga Bandung piknik atau sekedar bermain. Untuk ke rumput ini, sepatu harus dilepas. Nah kita bisa duduk duduk di rumput ini sambil melihat Masjid Agung Bandung yang ciamix!

  1. Paskal Hypermarket

Keren gitu ya namanya Paskal, tapi ternyata Paskal itu singkatan dari Pasir Kaliki. Nama daerah tempat food court ini dibuat. Food court yang satu ini sangat besar dan buanyak sekali pilihan menunya. Dari menu yang ke-Bandung2an sampai menu yang ke-Barat2an. Untuk harga yang cukup di tengah-tengah, ga terlalu mahal dan juga ga terlalu murah.

Jadi, hari Minggu ini adalah malam terakhir kita di Bandung. Besokannya kita udah pulang ke Jakarta. Di hari Senin sebelum pulang kita sempat mampir ke Kartika Sari dulu untuk beli oleh-oleh. Makasih ya teman2 untuk jalannya. Next trip kita Eurotrip ya! Ditunggu! (PS: mereka beneran udah ngerencanain Eurotrip tahun depan buat ngunjungin gue. So sweet!)