Keliling Santorini dengan Budget Backpacker

Hi semuanya! Bulan Mei yang lalu gue habis balik dari Yunani! Gue masih ga percaya sih bisa menginjakkan kaki di negara yang bisa gue bilang wishlist ini. Tujuan gue ke Yunani adalah tentu saja ke Santorini dan Athena! Tadinya pengen eksplor yang lain kaya Mykonos, tapi karena keterbatasan biaya, dua ini aja udah cukup menyenangkan hati gue.

Gue dapet tiket Paris-Athena-Santorini-Athena-Paris dengan total harga 210 Euro. Paris-Athena dan Athena-Santorini naik Aegean Air (maskapai Yunani tapi oke punya), Santorini-Athena, Athena-Roma dan Roma-Paris dengan Ryan Air. Kenapa gue transit dulu di Roma? Karena tiket Athena-Roma dan Roma-Paris jauh lebih murah daripada tiket Athena-Paris langsung. Sebenernya kalo lagi low season banget, semua tiket di atas bisa dijangkau dengan harga 150 Euro.

Hari ke-1: Berangkat dari Paris

Gue berangkat dari airport Paris Charles-de-Gaulle tanggal 17 Mei 2017 sekitar jam 10 malam bareng sama temen gue Anin. Jadi travelling ke Yunani kali ini gue bakal berdua sama Anin, non-stop, kecuali hari terakhir dia musti balik duluan karena ada kuliah. Si Anin ini sebenernya satu kampus sama gue di UI, tapi baru suka ngobrol pas sama-sama di Prancis. Itu juga ga pernah ngobrol yang tatap muka, biasanya cuma lewat whatsapp. Pernah sekali nginep di rumah dia, eh dianya ga ada hahaha. Jadi trip kali ini bener baru pertama kali kita ngobrol langsung hahaha.

Kitapun naik Aegean Air menuju Athena, pertamanya agak takut juga karena belum pernah denger Aegean Air. Ternyata itu maskapainya Yunani dan ternyata servisnya mayan oke, dikasih makan minum segala, ga kaya low cost carrier pada umumnya. Mungkin emang ini maskapai bukan low cost kali ya. Kita sampai di Athena sekitar tengah malam, kemudian transit sekitar 4 jam untuk melanjutkan perjalanan ke Santorini. Dari Athena ke Santorini gue kira bakal naik Olympic Air, versi kecilnya si Aegean, dan dia pake baling-baling. Ternyata engga tuh, kita tetep dinaekin Aegean, mungkin banyak yang mau ke sana kali. Di airport cuma berhasil tidur sejam, di pesawat ga bisa tidur sama sekali, karena ketakutan haha. Norak ya gue, ngaku2 traveler, tapi naik pesawat nervous berat hahaha.

Hari ke-2: Athena-Santorini (Fira, Oia)

Kita pun sampai di Santorini pukul 6 pagi. Kita langsung naik bus dari airport menuju Fira, hostel tempat kita menginap. Bisnya cuma 1.7 Euro, memakan waktu hanya 10 menit. Bis ini persis kaya di Indonesia, ada keneknya yang mintain duit ke penumpang satu-satu. Kesan pertama sampe di Yunani, rasanya beda sama Prancis dan negara Eropa lain. Keliatan, negara ini belum semaju itu, ya maklum, Yunani itu paling rendah GDP-nya di Uni Eropa, mana kemarin habis bangkrut ini negara. Kadang gue suka bilang “Eropa miskin” hehehe. Tapi kalo negara miskin justru malah menguntungkan buat traveler kere kaya gue, apa-apa murah haha.

Habis dari terminal bus Fira, kita langsung jalan kaki ke hostel, namanya Fira Backpacker. Hostel ini letaknya strategis banget, cuma 5 menit jalan kaki dari halte bus Fira. Dan ternyata terminal bus Fira ini adalah pusatnya bus2 berkumpul, jadi mau naik bus ke mana aja di Santorini, musti lewat Fira. O iya, FYI, Santorini itu nama pulau, bukan nama kota. Kota paling gedenya adalah Fira. Nah kalo kota yang suka di foto2 itu namanya Oia.

Sampai di Hostel Fira Backpacker, kita nitipin tas ransel di sana. Terus kita sempet tidur gitu dua jam di ruang tengahnya, karena belum bisa check ini, masih kepagian. Tapi mayanlah bisa tidur sebentar. Hostel ini paling murah di Santorini, harganya 15 Euro. Well, sebenernya ada sih hostel yang lebih murah, sekitar 7 Euro, tapi letaknya di Perissa dan itu jauh gitu kemana2 aksesnya. Itu gue dapet 15 Euro buat malam pertama, buat malam kedua jadi 19 Euro, kayanya gara2 weekend. Ada juga kan hostel murah di Santorini? Ga perlu deh nginep di resort2 mahal hahha.

Sekitar jam 10 pagi kita berangkat ke Oia, rasanya udah ga sabar liat kota yang di gambar2 itu. Kita naik bus selama 30 menit dari Fira ke Oia (1.7 Euro). Pemandangan sepanjang jalannya cantik luar biasa, sebelah kanan langsung laut Aegean yang biruuuuu banget! Sampai di Oia, kita langsung jalan mengikuti kemana kaki melangkah. Oia itu kotanya beneran cantiiiiiik banget. Lebih cantik daripada di foto. Gue amaze sendiri gitu bisa menjejakkan kaki di situ. Jalanannya itu dari marbel warna putih, dinding2 bangunan kebanyakan warna putih bersih. O la la. Cantikkkkk banget! Tujuan kita ke Oia adalah mencari 3 dome biru yang ada di foto2. Agak susah loh nyarinya, belum ditambah penyakit gue saat jalan2 kambuh, sakit perut! Huh, ampun dah, ini sakit perut ga bisa tunggu ntar pas gue pulang ke rumah aja apa ya.

Webp.net-resizeimage-17

This place is just too good to be true ❤ ❤

Webp.net-resizeimage-4

Now I have one more favorite destination.

Webp.net-resizeimage-2

Those 3 picturesque blue domes ❤

Webp.net-resizeimage-5

The sea is just sooooo blue!

Webp.net-resizeimage-3

Setiap sudut kota ini bener-bener cantik ❤

Sekitar jam 5 sore, kita balik dari Oia menuju Fira. Karena kita belum tidur cukup semalem, jadi pengen cepet2 balik dan tidur aja di hostel. Bis menuju Fira kali itu bener2 ramai. Kita sampai berdiri di tangga bagian bawah, deket sama pintu tengah. Asli itu ga enak banget, jadi kan emang kontur jalanannya berkelok-kelok, rasanya pusing banget ditambah kita ga bisa liat apa-apa, karena di bawah. Jendelanya ga keliatan.

Sesampainya di hostel, kita langsung check in dan tidur! Itu baru jam 6 sore tapi gue sudah terlelap kecapekan, jam 11 malam pun gue bangun sebentar sekitar sejam, lalu tidur lagi sampai keesokan harinya. Oh, malam yang indah.

Hari ke-3: Red Beach dan Sunset di Oia

Hari ini kita bangun jam 9! Hahaha. Setelah puas tidur semalaman, gue pun mandi, lalu makan siang pizza bekas kemarin hahaha. Setelah itu kita berangkat ke Red Beach! Tentunya naik bus dari Fira. Enak deh tinggal di Fira, akses kemana2 mudah. Seandainya kita tinggal di Oia, kita musti ke Fira dulu baru bisa ke tempat2 lain. Hahhaa. *gaya lu cun, kaga mampu juga tinggal di Oia hahaha* Bis dari Fira ke Red Beach memakan waktu sekitar 30 menit dengan harga 2.2 Euro (ga tau gue kenapa yang ini lebih mahal).

Di Red Beach, kita diturunin di dekat situs purbakala Akrotiri, dari situ kita musti jalan kaki ke Red Beach. Perjalanan dari situ sampai ke Red Beach kira2 30 menit jalan kaki. Di ujung, medannya agak curam, karena isinya batu-batu semua. Musti ati2 pas di sini. Red Beach ini bentuknya lebih ke tebing daripada pantai, tebingnya itu yang warnanya merah. Ada pantai, tapi pasirnya sedikit dan kurang nyaman buat leyeh-leyeh. Tapi lautnya bener2 bagus, warna biru tua dan di tengah2nya ada gradasi biru muda. Cakep deh!

Webp.net-resizeimage-6

Red beach. Di samping kanan keliatan batu-batunya yang berwarna merah.

Webp.net-resizeimage-8

Tampak dekat.

Habis itu kita melanjutkan perjalanan ke Akrotiri, situs purbakala yang letaknya di deket tempat bis. Karena kita adalah pelajar Uni Eropa, maka masuk ke dalam sini gratis. Nah, curangnya adalah, di loket itu ga ditulis kalo buat pelajar Uni Eropa gratis, jadi kalo lo ga tau, lo pasti bakal ngira lo bayar. Untungnya gue udah sempet dikasi tau temen, jadi tau kalo itu gratis. Hoho.

Di Akrotiri ini ada peninggalan bangunan Yunani jaman dulu yang udah tinggal sisa-sisanya. Sisa-sisa bangunan ini ada di dalam satu ruangan, jadi dia ga outdoor. Gue udah bayangin aja dia bakal outdoor kaya di Pompeii (Italia) taunya ga. Indoor dan menurut gue ga gede-gede amat.

Webp.net-resizeimage-7

Tiket gratis masuk Akrotiri.

Habis itu kita duduk-duduk di luar sambil menunggu bis datang. Lanjut dari sini, kita bakal balik ke Oia lagi untuk melihat sunset. Kita musti naik bis dulu ke Fira, untuk kemudian ke Oia. Sampai di Oia jam 6 malam, kita makan dulu di restoran murah no 1 di Trip Advisor bernama Pito Gyros. Pito Gyros ini letaknya deket sama tempat turun bis di Oia dan di belakang sekolahan (met nyari deh, di sana kaga ada nama jalannya haha). Di sini gue makan Pork Gyros (Gyros itu kaya sejenis pita tapi kecil) seharga 3 Euro sudah termasuk French Fries. Di Yunani, kalo mau ngirit, bisa beli gyros atau souvlaki seharga 2-3 Euro. Bahkan di restoran gede pun kadang suka jual gyros seharga 3 Euro loh. Porsinya emang ga gede2 amat, tapi cukup buat gue. Dan ada macem2, ga cuma babi, tapi ada yang ayam juga. Pito Gyros ini bener2 enak. Recommended banget dah! :DD

Habis itu kita turun ke bawah tebing, ceritanya mau liat teluk bernama Amoudi Bay. Tapi baru 30 menit jalan kita menyudahi perjalanan itu, karena kecapekan, keliatannya pantainya biasa aja dan kita musti ngejar sunset di Oia Castle. Oke lah, langsung kita meluncur ke Oia Castle tempat orang-orang pada nunggu sunset. Kita sampai di Oia Castle jam 19.30, padahal sunsetnya baru jam 20.30. Omg, di situ udah penuh sesak orang yang nunggu sunset, dan di situ dingin bangeeet, angin lagi kenceng2nya. Akhirnya terpaksa kedinginan sejam sambil nunggu sunset, untung akhirnya dapet duduk.

Webp.net-resizeimage-10

Kumpulan orang-orang yang menunggu sunset. Ini masih sebagian kecil.

Webp.net-resizeimage-9

Sunset in Oia Castle ❤

Habis itu kita pun pulang ke Fira. Menikmati malam terakhir di Santorini *rrrr supposed-to-be*.

Hari ke-4: Perissa Beach

Di Santorini, selain ada Red Beach, ada juga yang namanya Black Beach. Black Beach itu ada 2, satu namanya Perissa, satu namanya Kamari. Gue memutuskan ke Perissa, karena tempatnya lebih populer di kalangan travel blogger. Tadinya pengen ke dua-duanya, tapi setelah diliat-liat sama aja. Jadi dah pilih salah satu. Perjalanan dari Fira ke Perissa memakan waktu setengah jam dengan bis (2.2 Euro)

Perissa ini bener2 pantai guede banget, buat leyeh2 dan berenang. Beda sama Oia yang emang tempat turistik banget dan juga beda sama Red Beach yang bertebing-tebing. Ini pantainya landai, ya kaya pantai2 di Bali gitu, cuma warnanya item. Ga item2 banget lah, abu-abu tua. Gue sama Anin pun memutuskan untuk menikmati waktu hari ini, leyeh-leyeh di pantai seharian. Kita pun duduk di payung, lalu mesen makan (kali-kali makan yang agak mahalan dikit -padahal mah ga mahal juga, dibagi dua sama Anin hahaha). Gile leyeh2 ini rasanya kaya lagi di Gili Trawangan, well, lautnya bagusan Gili sih, tapi suasananya mirip2. Dan ga rame juga kaya di Bali.

Webp.net-resizeimage-11

Leyeh-leyeh di Gili Trawangan eh.. Black Beach.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore dan kamipun cabut dari nikmatnya udara pantai. Kami berencana menjelajah kota Fira sebelum berangkat ke bandara jam 10 buat naik pesawat ke Athena. Fira ini ternyata cantik juga, dia punya tempat di mana kita bisa liat bangunan putih berjejer mirip kaya di Oia. Kece deh! Untung kita sempet2in ke sini. Selain itu di Fira juga ada cable car buat turun ke tebing dan melihat teluk di bawah. Tapi karena budget gue terbatas, jadilah gue ga naik cable car. Gue pikir juga teluknya bakal sama aja kaya yang di Oia.

Webp.net-resizeimage-15

Cakepnya si Fira.

Puas menjelajah Fira, kita pulang ke hostel untuk nge-charge, ngambil tas lalu ke airport naik bis. Malem itu rasanya dingiiiiiiin banget. Dan gila-nya, airport Santorini itu kecil banget (kaya airport di Papua!) dan turis yang dateng banyak banget. Jadilah kita ngantri check in sampe luar2, astajimmm! Mana gue kebelet pipis, mati lah gue. Setelah nunggu di luar sejam, gue ga tahan lagi, akhirnya gue minta ijin ke wc sama petugasnya, eh ternyata dibolehin, yaaa tau gitu dari tadi aja. Gubrak. Dan ternyata juga, sebenernya karena kita udah online check-in dan ga punya bagasi, kita bisa langsung masuk tanpa ngantri di luar kaya gitu. Huff. Akhirnya kita udah masuk, duduk ngemper di bawah, karena tempat duduk udah penuh dan bandaranya sesak!

Waktu menunjukkan pukul 00.30, seharusnya kita sudah boarding di pesawat Ryan Air menuju ke Athena. Muka orang-orang udah mulai gelisah. Jam 01.00, belum ada tanda apa-apa. Jam 01.30 terdengar pengumuman yang kira-kira isinya begini “Pesawat Ryan Air menuju Athena dicancel dan dimundurkan jadi besok malam jam 02.30 karena cuaca buruk”. WHAT THE F*CK? Omg jinx apa lagi ini, Tuhan. Gue kira perjalanan kali ini bakal lancar2 aja tapi ternyata ada kesialan. Gue kira jinx gue saat traveling udah berenti (buat kalian yang suka baca blog ini pasti tau travel gue penuh dengan jinx hahaha), ini malah muncul lagi saat di Yunani. Gue udah pasrah, mau nangis ga bisa, udah pasrah lah. Terus tiba2 ada penumpang yang nanya gini ke pihak Ryan Air “Ini bakal dikasih akomodasi ga kita?”. Baru deh, pihak Ryan Air-nya bilang iya, terus disuruh ngantri buat dikasih hotel. Omg, kalo tadi ga ada yang nanya si Ryan Air ga bakal bilang kalo kita dapet akomodasi. Dia bakal ngebiarin kita luntang lantung. Maskapai macam apa ini grrrrh. Tapi yaudahlah, untung akhirnya dapet akomodasi. Sebenernya diantara kesialan ini, kita masih cukup beruntung, karena kita ga punya flight sambungan di Athena. Banyak orang yang punya flight sambungan dari Athena dan kalo flightnya itu bukan Ryan Air, tiket mereka bakal hangus, belum lagi orang-orang yang musti kerja karena keesokan harinya itu Senin.

Kita pun dapet akomodasi di hotel bernama Kalma, kita disediain shuttle bus buat ke hotel itu. Hotelnya sih, liat di google, bintang tiga. Alhamdullilah. Ngerasain juga akhirnya nginep di hotel yang nyaman hahah. Backpacker naik pangkat. Yah walopun kalo boleh milih gue tetep milih flight ke Athena saat itu sih, biar jatah jalan2 gue di Athena ga berkurang.

Hari ke-5: TIDUR SEHARIAN

Berhubung kita baru sampe hotel jam 3 malam, jadilah kita baru bangun jam 10 pagi. Gue pun langsung sarapan, muter liat2 hotel, terus tidur lagi hahaha. Sampe sekitar jam 4 gue bangun. Terus kita mandi dan cari makan malam di luar. Ketemu lah dengan restoran yang menjual gyros persis di depan hotel hahah langsung cus. Makanan murah favoritku. Habis itu kita ke supermarket bentar, terus leyeh2 lagi di depan kolam renang hotel.

Webp.net-resizeimage-12

Penampakan Hotel Kalma. Bagus ya! Sayang, letaknya ga di pinggir pantai.

Webp.net-resizeimage-14

Gyros, makanan favorit backpacker. Dia kaya kebab tapi dalemnya ada french friesnya. Harga around 2-3 Euro.

Jam 10 malam kita dijemput dengan Shuttle Bus menuju ke bandara. Kali ini udah tau triknya, jadi gausah ngantri lagi di luar. Tapi tetep aja di dalem pake drama, yang musti ngeprint tiket lagi lah, pindah pindah konter lah, sampe akhirnya bisa masuk ke ruang tunggu beneran. Hati ini belum selesai deg-degan sampe naik pesawat. Masih takut bakal dicancel lagi. Gimana kalo dicancel lagi coba? Gw pengen meninggalkan Santorini! Hiks.

Alhamdullilah, malam itu kita berhasil terbang, penumpang pun jauh berkurang dari malam sebelumnya. Kayanya banyak yang udah berangkat duluan. Perjalanan dari Santorini ke Athena itu cuma setengah jam, tapi itu berasa jadi setengah jam terlama dalam hidup gue. You know what? Sepanjang jalan turbulence lumayan parah, dan cuacanya itu lagi ujan, di kejauhan keliatan kilat-kilat. Sumpah, itu ngeri banget. Gue sama Anin berdoa sepanjang jalan, kita udah takut ga nyampe Athena dengan selamat. Ngeri banget. Kayanya ini perjalanan pesawat paling ngeri sepanjang hidup gw. Tapi Puji Tuhan, kita bisa sampai Athena dengan selamat. Omg, nangis rasanya pas landing, bersyukur banget.. Akhirnya sampai juga di kota bernama Athena, setelah banyak cobaan menuju ke sini.

Webp.net-resizeimage-16

Finally.. Bye Santorini! Such an amazing place to see! ❤

Advertisements

Itinerary Liburan ke Belgia 5 Hari 4 Malam

Liburan natal lalu gue sempet menjelajah Belgia (dan sedikit Prancis Utara di perbatasan Belgia) selama 5 hari 4 Malam. Waktu itu karena gue kerja pas weekend jadi gue cuma bisa pergi dari Senin sampai Jumat! Ini dia itinerarynya:

Hari ke-1: Sampai di Brussels

Gue naik bus (Eurolines, 18 Euro) dari Paris sampai Brussels-nya udah malam, jadi gue langsung ke rumah host gue. Di Brussels ini gue pake Couchsurfing, jadi urusan menginap, gratis. Host gue ini orang Korea yang agak aneh, tapi ga membahayakan, dia agak geek gitu dan ngomongnya cepet banget. Yang uniknya adalah dia terbiasa ngehost beberapa orang dalam waktu semalam. Pas gue ke sana, gue ber-5 gitu sama tamu-tamunya yang lain.

Hari ke-2: Brussels

Hari ini dihabiskan dengan eksplor Brussels. Pertama gue jalan ke Grand Place, main square-nya Brussels. Lalu muter-muter di pusat kota Brussels. Habis itu ngeliat Manneken Pis yang ternyata kecilllll banget! Hahaha. Zonk dah pas ke sana, bener kata tour guide gue pas di Praha, Mannekin Pis adalah the most overrated attraction in Europe. Haha!  Habis itu gue naik metro ke Atomium, gue cuma liat Atomium dari luar aja, karena kalo masuk harus bayar. Jadi katanya di tiap buletan-buletannya itu ada hall tempat pameran dan juga di puncaknya ada restoran. Malam tiba, gue pun mencoba waffle cokelat khas Brussels dengan cokelat hangat di Mokafe, salah satu cafe kece yang termasuk legendaris dan tua di Brussels. Interiornya kaya berasa di kerajaan, antik deh! Cafe ini terletak di Galeries Royales Saint-Hubert, sebuah shopping centre yang arsitekturnya juga kece berat! Galeries ini letaknya deket sama Grand Place dan mudah ditemuin. Sepulangnya, gue menghabiskan waktu di christmas market, karena waktu itu udah musim natal jadi Christmas Market jangan sampai terlewatkan!

grand place brussels

Grand Place and its Christmas tree

Webp.net-resizeimage (1)

Sisi lain Grand Place

Webp.net-resizeimage (3)

Manneken Piss, the most overrated attraction in Europe

Webp.net-resizeimage (4)

Atomium

Webp.net-resizeimage

waffle cokelat di Mokafe

Ada cerita absurd di malam kedua gue di rumah host gue. Ceritanya tengah malam ada bapak2 ngetokin semua kamar di rumah itu dan mencari-cari si host gue. Diapun kaget melihat banyak tamu di rumahnya. Dia pun kesel dan bilang ke kita semua: “Harusnya ini anak udah ga boleh nge-host lagi. Masih aja terima tamu. Kalian semua besok pagi2 jam 8 udah harus meninggalkan rumah ini ya!” Doenggggg! Untung aja itu malam terakhir kita di situ, kalo besokannya kita masih di Brussels bisa kalang kabut nyari penginapan huff.

Hari ke-3: Brussels-Bruges-Ghent

Hari ini gue pengen liat kota yang namanya Bruges, yang kata orang-orang cantik banget! Buat ke Brugges kita musti naik kereta dari Brussels seharga 14.7 Euro. Sebenernya untuk pilihan yang lebih murah ada juga option lain yaitu Blablacar, kalo bis tidak ada yang rute ini.

Perjalanan ke Bruges memakan waktu sekitar 1 jam. Bruges ini kotanya cukup kecil dan cukup untuk dibuat jalan-jalan seharian. Highlight dari Bruges adalah Main Square-nya yang bernama Markt, di sinilah terdapat bangunan warna-warni yang kaya di instagram hihi. Di sini juga ada Christmas Market, jadi ga bisa terlalu banyak foto bangunan lucu karen kehalang sama stand-stand Christmas Market.

Webp.net-resizeimage (5)

Main Square-nya Bruges yang warna-warni

Webp.net-resizeimage (6)

Lucu ya kotanya, banyak kanal-kanal gitu.

Kalo udah mampir Belgia, jangan lupa juga makan Belgian French Fries dengan mayonaise-nya yang banyak. Gue cukup dengan makan siang itu, lalu duduk di resto kecil di sana sambil liat orang lalu lalang.

Malamnya, gue naik kereta ke Ghent, tempat host couchsurfing gue selanjutnya tinggal. Kereta dari Bruges ke Ghent lebih murah, karena jaraknya lebih dekat sekitar 30 menit. Harganya 7 Euro. Gue pun turun di stasiun Gent St Pieter untuk menunggu temen gue si Agnes, temen UI yang tinggal di kota kecil deket Ghent. Kita bakal dinner bareng di restoran Indonesia yang ada di Ghent. Namanya adalah Gado Gado. Tempatnya bagus dan harganya cukup mahal (menurut gue). Tapi malem itu si Agnes berbaik hati nraktir gue, mayanlah rejeki anak kos. Makasih Nes! Malam itu gue memesan nasi rendang yang rasanya enak banget! Hihi.

Webp.net-resizeimage (7)

Cuni, Agnes dan makanan Indonesia ❤

Habis makan malam sama Agnes gue pulang ke rumah host couchsurfing gue, cowok Belgia. Rumahnya cukup gede dan orangnya baik banget!

Hari ke-4: Ghent

Hari ini dihabiskan dengan eksplor Ghent. Jujur, sebelumnya gue ga tau keberadaan kota ini. Tapi karena temen gue yang rekomendasiin gue ke host couchsurfing ini bilang kalo dia ada temen di Ghent, gue baru kepikiran mau ke sini. Gue liat gambarnya di google ternyata lucu juga dan jaraknya dekat dengan Bruges, jadilah gue ke sini.

Ternyata, kota Ghent ini bagus! Ukurannya lebih besar dari Bruges tapi lebih kecil dari Brussels, sedang lah. Di sini gue jalan-jalan ke pusat kotanya di daerah Torens dimana berjejer gereja dari St Niklaaskerk sampai St Baafskathedraal. Lalu gue juga ke Vrijdaag Market, untuk makan french fries (lagi!), serta menelusuri daerah Graslei dan Gravensteen. Gue waktu itu berjalan mengikuti peta ini, jadi semua tempat bisa dijelajahi!

Webp.net-resizeimage (8)

Bangunan model begini dan kanal lagi ❤

Webp.net-resizeimage (9)

Pusat kota dan Christmas Market Ghent

Di malam harinya, gue berjalan-jalan sama host gue ngeliatin Christmas market dan melihat pemandangan malam kota Ghent. Host gue baik bener karena dia nemenin gue jalan kaki sambil nenteng sepedanya haha. Malam itu diakhiri dengan main board games di rumahnya yang bernama Carcassone. Seru juga ternyata main board games haha!

Hari ke-5: Ghent-Lille-Paris

Hari ini gue meninggalkan Belgia untuk kembali ke Prancis, sebelum pulang gue mampir dulu ke Lille, kota besar yang terletak di perbatasan Belgia dan Prancis. Di sana gue ada temen UI yang namanya Cinta. Gue naik blablacar dari Gent ke Lille seharga 7 Euro. Perjalanan memakan waktu sejam.

Di Lille gue makan siang opor ayam buatannya Cinta hihi, habis itu kita jalan-jalan di pusat kota Lille menelusuri Grand Place dan Christmas Market-nya serta muter-muter di daerah situ selama 2 jam. Sore-nya gue pun pulang ke Paris naik bis (Flixbus, 15 Euro)!

Webp.net-resizeimage (10)

Bangunannya mirip-mirip di Belgia ya.

Webp.net-resizeimage (12)

Sama Cinta (nama sebenarnya) di depan Pohon Natal

Webp.net-resizeimage (11)

Grand Place-nya Lille

Overall, perjalanan ke Belgia ini cukup menyenangkan. Kalo kalian cuma pengen jalan ke satu kota aja di Belgia, saran gue, jalanlah ke Bruges, jangan ke Brussels. Ga ada apa-apa di Brussels. Hehe.

40 Hari di Eropa Tengah: Frankfurt

Yeayyyy, akhirnya sampai juga di bagian terakhir seri postingan gue ”40 Hari di Eropa Tengah”. Setelah 8 bulan lamanya berkutat dengan ini postingan dan struggle dengan niat dan juga waktu. Huff! Finally I did it and I will move on to next story hahaha. Oke, jadi bagian terakhir dari postingan ini gue akan menceritakan soal Frankfurt, destinasi penutup di rangkaian perjalanan gue di Eropa Tengah. Sebenernya gue ke sini cuma buat ketemu temen-temen doang, dan lagi.. gue pernah ke sini sebelumnya, around winter 2015. Daripada gue ceritain tentang proses ketemu temen2 gue mending gue langsung aja cerita tempat-tempat yang bisa dijajal selama di Frankfurt ya! Oh ya, fyi.. di kota ini gue nginep tempat temen jadi akomodasi gratis dan gue mendapat tiket Megabus dari Munchen ke Frankfurt seharga 1 Euro! Sisa-sisa tiket Megabus terakhir sebelum akhirnya gulung tikar dan merger sama Flixbus, huff.

So, what to visit when in Frankfurt?

1. Romer

Ini adalah main square-nya Frankfurt, di mana banyak bangunan khas Jerman yang motifnya kotak-kotak dan super cantik! Romer ini tadinya adalah city hall-nya Frankfurt selama 600 tahun. Sekarang bangunan ini lebih digunakan menjadi bangunan serbaguna milik pemda setempat.

img_5589

Romer, ikon Frankfurt

2. Frankfurt Cathedral

Katedral bergaya gothic ini terletak di pusat kota Frankfurt dan didedikasikan untuk Santo Bartholomeus.

img_5607

3. Alte Oper

Alte Oper adalah bahasa Jerman dari gedung Opera tua. Bangunan yang tadinya gedung opera ini sekarang digunakan sebagai tempat konser. Bangunannya kece dan terdapat square di depannya yang disebut Opernplatz.

img_5632

Bareng Nany, temen yang gue inepin kali ini, di depan Alte Oper

4. Eurotower

Kalo kalian suka liat foto lambang Euro yang gede banget, itu dia letaknya di depan tower ini. Gedung ini digunakan sebagai European Central Bank, yaitu bank sentral untuk Uni Eropa. Bangunan  ini terletak di Willy-Brand-Platz di Central Business District-nya Frankfurt. Kalo kita jalan kaki dari stasiun ke pusat kota, pasti bakal ngelewatin bangunan ini.

img_6504

5. Main River

Sungai Main membelah kota Frankfurt menjadi dua bagian. Sungai ini juga menjadi asal muasal pemberian nama Frankfurt-am-Main, yang artinya Frankfurt di sungai Main. Di pinggir sungai ini kita bisa duduk duduk cantik sambil menikmati pemandangan. Gue sendiri waktu itu ngobrol sama temen2 di sini sambil makan currywurst super pedas (belinya di kedai Best Worscht in Town (jalan Grueneburgweg 37). Dia jual currywurst dengan berbagai level kepedasan gitu, dan gue ga nyangka yang gue pesen bakal pedes banget hahaha).

img_5610

Sungai Main di kala senja

img_5616

Bareng anak-anak Frankfurters! Ada Nany, temen SMA gue; Nandha, temen organisasi waktu di fakultas; sama Dimas, temen organisasi tingkat UI. Lengkap deh! Haha.

Kayanya cuma itu aja yang bisa gue ceritain dari Frankfurt, gue ga terlalu eksplor banyak karena keasikan menghabiskan waktu sama temen-temen gue 🙂

 

img_5582

Auf Wiedersehen, Frankfurt!

 

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Neuschwanstein Castle dan Munich

Kalo di Jerman ada 1 tempat yang pengen banget gue liat, tempat itu adalah kastil Neuschwanstein. Kastil ini terkenal banget dengan kastil disney dan salah satu kastil yang paling populer di Eropa. Di penjelajahan ke Eropa Tengah kali ini gue sempatkan mampir ke Munich dan sekalian berkunjung ke Neuschwanstein. Postingan kali ini akan gue bagi menjadi beberapa bagian: Pertama, tentang penginapan gue, The Tent; Kedua, tentang Neuschwanstein Castle; Ketiga, tentang obyek wisata di Munich (atau bahasa Jermannya: Munchen).

THE TENT HOSTEL

Gue naik flixbus dari Salzburg ke Munich seharga 9 Euro. Gw menginap di Munich selama 4 malam, rencana awalnya cuma 3 malam, tapi karena penginapan di Salzburg terlalu mahal, jadilah kita 4 malam di sana. Gw menginap di hostel yang bernama The Tent. Hostel ini memiliki konsep tenda yang sangat unik. Jadi dia memiliki 2 tenda super besar: tenda pertama diisi sekitar 100 bunkbed atas bawah, jadi kita nginep satu atap bersama 100-150 orang, tenda kedua isinya orang-orang yang memilih untuk tidur di matras, bukan di bunkbed. Harganya pun beda, di bunkbed itu 12 Euro dan di matras 8 Euro. Gw memilih untuk tidur di bunkbed selama 2 malam dan di matras selama 2 malam. The tent ini hanya buka dari bulan Juni sampai awal Oktober, saat Oktoberfest. Karena ga mungkin tidur di tenda kalo bukan summer, bisa mati kedinginan tamu2nya. Hahaha. Fasilitas The Tent ini cukup lengkap, ada loker, wifi, kamar mandi, dapur, bahkan restoran kecil untuk breakfast, makan siang dan makan malam dengan harga yang cukup terjangkau. Ada juga hammock dan tempat duduk santai buat leyeh-leyeh di berbagai sudutnya. Kalo malem, kita bs berkumpul di api unggun sambil bersosialisasi sama backpacker lain.

Overall, it was a nice experience until.. the weather ruined it. Malam pertama tidur masih oke, agak berisik karena kebanyakan orang tapi gue masih bs tidur dengan nyaman. Malam kedua, cuaca mulai menggila, gue musti pake selimut berlapis-lapis. Malam ketiga, gue pindah ke matras, si Echa temen gue juga mulai bergabung dan dia yang ngide biar tidur di matras. Itu udaranya makin dingin, musti pake selimut tebel 3 biji dan muka musti ikut masuk ke selimut meskipun susah nafas, kalo ga ya kedinginan. Malam keempat udah merajalela dinginnya. Untung malam terakhir. Di luar 17 derajat tapi dinginnya bener2 gila, meskipun itu summer. Gue sama echa kapok tidur di tenda di Eropa! Hahahha. Udaranya itu yang labil, sebentar panas sebentar dingin ga bisa diprediksi. Tapi overall, gue cukup ngerekomendasiin sih ini hostel, tapi sebelum pesen musti liat cuaca dulu ya. Kalo bisa di atas 20 derajat! Haha.

IMG_5358

Dari kiri atas ke kanan, searah jarum jam: tenda yang isinya bunkbed, tenda yang isinya matras, api unggun di malam hari, tempat buat duduk santai dan leyeh-leyeh di halaman tenda.

 

NEUSCHWANSTEIN CASTLE

Habis cerita soal hostel, gue mau cerita soal Neuschwanstein Castle. Tadinya gue mau ke sini bareng Echa tapi si Echa ga jadi karena duitnya udah abis. Jadilah gue ke sini sendiri. Untuk mencapai kastil ini kita harus naik kereta ke kota Fussen. Gue membeli one-day bayern ticket (tiket ini bisa buat keliling region Bayern) seharga 23 Euro di ticket machine di stasiun tram deket hostel. Sebenernya bakal bisa lebih murah kalo perginya lebih dari seorang. Jadi setiap tambah 1 orang (maksimum 5 orang) cuma nambah 5 Euro. Hemat bgt kalo perginya berlima! Sayang gue cuma sendiri. Haha. Gue naik kereta ke Fussen dari Munich Hbf, keretanya cuma ada sejam sekali jadi harus bener-bener liat jadwal. Oya, tiket ini juga bisa dipake keliling kota, misalnya di kota Munchen. Jadi ga perlu beli tiket lagi buat transport dari hostel ke stasiun.

Untuk masuk kastilnya, kita juga harus membeli tiket dan disarankan membeli tiket online di website ini. Belinya paling lambat 2 hari sebelum keberangkatan, tapi beberapa hari sebelumnya lebih baik. Tidak dianjurkan buat membeli tiket on the spot karena banyak yang keabisan dan gigit jari, padahal udah jauh-jauh ke Fussen.

Perjalanan dari Munchen ke Fussen memakan waktu 2 jam. Pemandangan di sepanjang jalannya bagus banget, banyak bukit2 hijau yang dibangun rumah-rumah. Setelah sampai di Fussen, ikutin aja orang-orang lain, maka sampailah kita di tempat menunggu bus. Kita musti naik bis ini untuk bisa mencapai bagian bawah Neuschwanstain. Bis ini juga dicover dalam Bayern ticket. Setelah 5-10 menit naik bis, sampailah kita di ticket centre. Kita bisa mengambil tiket yang sudah dipesan di tempat ini. O ya, satu tiket harganya 13.8 Euro! Jangan mengantri di tempat orang yang mau beli tiket, ikutin aja petunjuk arah ke tempat pengambilan tiket yang sudah direservasi sebelumnya.

Habis beli tiket, kita punya beberapa opsi buat jalan ke atas: jalan kaki (sekitar 40 menit jalan menanjak), naik shuttle bus (2.60 Euro return) atau naik delman alias kereta kuda (6 Euro buat naik, 3 Euro buat turun). Gw pilih opsi yang kedua, naik shuttle bus. Sesampainya di atas, kita musti naik lagi buat ke istananya. Sebelum mencapai istana, kalian wajib ke jembatan yang namanya Marienbrucke (Mary Bridge), kita bisa liat kastilnya dari tempat ini dan ini bener-bener luar biasa pemandangannya. Puas foto-foto, gue pun naik ke atas menunggu giliran gue untuk masuk kastil (kita udah dapet jam masuk saat pesen tiket sebelumnya).

Tur mengitari kastil menurut gue cukup singkat, kita cuma 30 menit muterin kastil dipandu sama guide yang berbahasa Inggris. Saat di dalam kastil kita tidak diperbolehkan mengambil foto sama sekali, kecuali foto pemandangan di luar kastil. Kastilnya bagus sih, tapi secara interior masih bagusan Versailles hehe. Tapi worth it lah, masa udah jauh2 ke sini ga masuk kastil? Haha. Habis dari kastil gue muter2 di sekitar kastil sampe sore. Habis itu balik ke Munich.

img_5467

Neuschwanstein Castle dilihat dari Marienbrucke. Salah satu pemandangan terindah dalam hidup gue.

img_5524

Pemandangan di akhir tur mengitari kastil

img_5456

Di danau sekitar kastil

 

WHAT TO VISIT IN MUNICH?

Hari-hari lain di Munich dihabiskan dengan mengitari Munich. Berikut beberapa tempat yang harus dikunjungi di Munich.

1. Marienplatz

Tempat ini adalah central square-nya Munchen dan didominasi oleh New City Hall yang bangunannya bagus bangeeet. Sementara Old City Hall-nya ada di sisi lain daerah ini.

 

img_5419

Bareng Echa di Marienplatz. Echa itu temen satu organisasi di UI, yang bedanya 7 tahun (dia lebih muda) dari gue. Kalo ada traveller yang gue kenal dan lebih ngenes dari gue itu adalah Echa. Gue masih makan sandwich supermarket, dia cukup makan siang biskuit. Dia bahkan bela-belain jalan kaki selama hampir sejam dari pusat kota ke hostel biar ga keluar ongkos transport. Hahaha.

 

2. Viktualienmarkt

Sebuah kompleks pasar dimana banyak kios-kios yang menjual babi dan bir khas Bavaria. Hahaha. Surga! Orang-orang pada duduk dan ngobrol-ngobrol sambil makan babi dan bir! Gile gini aja udah rame apalagi pas Oktoberfest! Selain itu juga dijual macam-macam bahan pangan, buah dan sayuran seperti pasar pada umumnya.

 

img_5294

Kedai penjual babi-babian di Viktualienmarkt

img_5286

Nom nom nom~

img_5288

Orang yang duduk-duduk di “food court” Viktualienmarkt ini. Ruamenya!

 

3. Hofbrauhaus

Kalo kalian ada duit lebih dan ga ada masalah dengan makan babi dan minum bir, cobain deh ke Hofbrauhaus, ini adalah tempat minum bir tertua di Munchen. Tempatnya sendiri terdiri dari 3 lantai, dan rame bgt sama pengunjung. Wisatawan dan lokal pada makan di sini, ditemani dengan grup musik khas Bavaria. Gw sendiri ga mencicipi karena terhalang dana, tapi kalo suatu hari gue punya kesempatan balik lagi ke sini dengan dana yang lebih banyak, pasti ga akan gw lewatin!

 

img_5316

Hofbrauhus, tempat minum bir tertua di Munchen

img_5318

Hofbrauhaus tampak dalam. Arsitekturnya bener2 kece!

 

4. Englischer Garten

Melepas penat dari hiruk pikuk kota besar, gue melarikan diri sejenak ke Englischer Garten. Taman ini adalah taman terbesar di Munich dan jadi objek nomer wisata pertama di trip advisor. Kalau udara cerah, kalian bisa coba piknik di sini. Tempatnya cukup menenangkan.

 

img_5387

Sebagian kecil dari Englischer Garten

 

5. Nymphenburg Palace

Cuma beberapa perhentian dari hostel gue, ada sebuah istana di tengah kota Munchen. Namanya Nymphenburg Palace. Istana ini bergaya Baroque dengan bagian taman yang sangat luas.

 

img_5381

Istana Nymphenburg

 

6. Max-Joseph-Platz

Salah satu square yang cukup besar di Munchen, namanya Max-Joseph-Platz. Di tengah-tengah terdapat patung raja Maximilian Joseph, sementara di sekitarnya terdapat National Theatre, Konigsbau of the Munich residence dan Residenz Theatre.

 

img_5332

Max Joseph Platz, satu dari banyak Platz (bahasa Jerman dari Square) di Munchen

Sepertinya sudah cukup panjang dan lengkap postingan gue kali ini. Sampai jumpa di bagian terakhir postingan “40 Hari di Eropa Tengah” yaitu tentang Frankfurt. Ciao!

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

 

40 Hari di Eropa Tengah: Salzburg

Those hills are alive.. with the Sound of Music!

Sepanjang gue di Salzburg, gue keinget terus sama lagu ini.. Haha! Yap, film Sound of Music yang terkenal seantero dunia ini memiliki setting di Salzburg, bahkan mungkin itu salah satu yang menjadikan kota Salzburg seterkenal itu. Tapi apa iya, kota Salzburg sebagus itu? Gue ke sana untuk membuktikannya! Haha. Gue bela-belain bayar hostel paling mahal sepanjang trip gue selama 40 hari keliling Eropa Tengah yaitu seharga 26 Euro per malam demi menjajal kota ini.. Hostel itu adalah hostel paling murah yang gue temuin di Hostel World, namanya Hostel Jufa. Gue pun di kota ini cuma menginap selama 2 malam, gue mempersingkat perjalanan di kota ini karena tidak mau menghabiskan uang terlalu banyak. Jufa ini ternyata gabungan antara hostel dan hotel. Buat yang berduit, bisa menyewa kamar hotelnya yang kebanyakan letaknya di atas, sedangkan buat backpacker kaya gue, cukup puas dengan menyewa salah satu kasur di antara 6 kasur dalam satu ruangan dorm. Dorm ini letaknya di bawah, alias basement. Walau begitu kita memiliki fasilitas yang kurang lebih sama dengan para penghuni hotel.. kita dapet breakfast gratis dan bisa nonton film Sound of Music yang tiap malam diputar di ruang santai di dekat lobby. Overall, hostelnya biasa aja, sama kaya hostel-hostel lain tapi dia agak repot karena ga ada colokan di setiap tempat tidur, jadi ga bisa ngecharge dengan tenang di sebelah bantal tanpa takut kecopetan. Colokannya ada di sudut lain kamar.. Sama satu lagi, lokernya letaknya di luar, jadi kalo mau taruh barang berharga di loker, musti keluar kamar. Dan.. kamar mandinya juga di luar! Di bbrp hostel yang gue inepin di Eropa Tengah, kebanyakan kamar mandinya di dalam kamar, tapi ini di luar..

Perjalanan dari Praha ke Salzburg ditempuh dengan total 7 jam. Gue memutuskan untuk transit di Munich terlebih dahulu karena biaya perjalanan dari Praha ke Munich plus Munich ke Salzburg lebih murah dibanding biaya perjalanan langsung dari Praha ke Salzburg.  Biaya bis dari Praha ke Munich seharga 9 Euro dengan menggunakan Eurolines selama 5 jam dan biaya bis dari Munich ke Salzburg seharga 7 Euro dengan menggunakan Flixbus. 

Apa saja tempat yang bisa dikunjungi di Salzburg?

Kalo kalian tipe traveller yang males mikir itinerary dan punya uang lebih, kalian bisa mengikuti trip Sound of Music yang bisa keliling lokasi-lokasi syuting Sound of Music di Salzburg, trip yang katanya recommended sih Panorama Tours (ini bukan Panorama-nya Indo haha), harganya 42 Euro udah bisa keliling kota plus liat gunung dan danau di pinggir Salzburg. Terlalu mahal buat gue jadi gue memutuskan untuk eksplor Salzburg sendiri. So, kemana aja gue selama di Salzburg?

1. Mirabell Garden

Mirabell Garden adalah salah satu tempat syuting Sound of Music dimana suster Maria dan anak-anak Von Trapp bermain sambil bernyanyi-nyanyi. Taman ini cukup cantik, mirip kaya taman-taman di Eropa Barat yang bentuknya simetris. Mirabell Garden ini terletak di depan Mirabell Palace.

 

img_5126

Mirabell Garden

2. Old town

Di setiap kota di Eropa, Old town adalah jantung kehidupan, begitu pula di Salzburg. Kita bisa menemukan macam-macam situs turistik seperti Residenzplatz, Cathedral, Old City Hall, Mozartplatz dan juga Mozart Geburthaus alias tempat kelahiran Mozart.

img_5052

Salah satu sudut Aldstadt (Old Town)

img_5067

Chocolate Pretzel dengan latar belakang Hohensalzburg Castle

3. Nonnberg Abbey

Nonnberg Abbey ini letaknya ga gitu jauh dari hostel tempat gue menginap, tapi untuk menuju ke sini musti agak nanjak dulu. Di sinilah biara tempat suster Maria menghabiskan separuh hidupnya. Kita cuma bisa masuk ke dalam gerejanya saja dan tidak bisa melihat biara tersebut. Bentuk gerejanya sendiri kecil, katanya sih ini gereja tempat Maria dan kapten Von Trapp menikah di dunia nyata, kalo di film-nya bukan di sini, tapi di tempat lain.

img_5013

Halaman depan gereja di Nonnberg Abbey

4. Hohensalzburg castle

Kastil ini letaknya agak di atas bukit, dan bisa ditempuh dari arah Nonnberg Abbey. Untuk mencapai kastil ini jalannya cukup menanjak. Dan setelah sampai di pintu gerbang, ternyata masuk ke dalamnya bayar 9,80 Euro. Jeng jeng jeng jeng! Yaudah batal masuk kastil, liat-liat pemandangan aja dari atas bukit hahaha.

img_5158

View menuju Nonnberg Alley dan Hohensalzburg Castle

4. Hellburn Palace

Istana yang satu ini letaknya agak di pinggir kota, kita harus naik bis untuk mencapai ke sana. Kompleks istana ini cukup besar, dengan taman dan air mancur di tengahnya. Di dekat situ juga ada kebun binatang.

img_5164

Hellbrunn Palace, bagian depannya dijadikan syuting halaman rumah Von Trapp

img_5180

Gazebo di Hellbrunn Palace, tempat scene “Sixteen Going on Seventeen”

img_5183

Pemandangan di Hellbrunn Palace

7. Schloss Leopoldskron

Tempat ini juga merupakan tempat syuting Sound of Music yaitu bagian teras belakang rumah Kapten Von Trapp. Sayang, rumah ini sekarang sudah menjadi hotel sehingga kita tidak bisa masuk ke dalamnya. Gue sempet masuk ke halaman hotel ini dan melihat pagar tempat syuting Sound of Music. Kalo ga ikut tur, mencari tempat ini agak susah, musti jalan kaki tanpa ada arah petunjuk dari pemberhentian bis terdekat. Setelah jalan kaki ke arah kastil, kita tidak langsung sampai di kastil tetapi sampai di danau depan kastil yang super besaaaar dan musti mengelilingi danau ini untuk sampai di kastil. Danaunya baguuuus banget, dan pas gue dateng matahari lagi bersinar cerah dan membuat pantulan indah di danau ini. Bener-bener recommended!

img_5202

Kastil Leopoldskron yang sekarang sudah menjadi hotel

img_5194

Danau Leopoldskron. Bagian Salzburg yang paling gue suka!

img_5233

Teras belakang rumah Von Trapp, di mana Maria dan anak-anak Von Trapp kembali ke sini dengan menggunakan perahu (dan terjengkal karena kaget melihat ayahnya sudah pulang!) setelah bermain-main seharian.

Meskipun kota Salzburg bener-bener menarik untuk pecinta Sound of Music, tapi sejujurnya, kota ini jauh dari ekspektasi gue. Gue udah ngebayangin kota yang bener-bener indah dengan danau dan gunung kece di sekitarnya, sayangnya untuk bisa mencapai danau dan gunung itu ga cukup dengan muter-muter kota Salzburg, kita harus ikut tur yang menjangkau tempat ini, yang agak di luar kota. Gue nemu Hop on Hop off tour khusus buat Lake and Mountain yang harganya lebih terjangkau dari Panorama Tour. Harganya 25 Euro. Ini linknya! Gue hampir ikut tur itu, tapi karena ramalan cuacanya jelek, batal deh. Saran gue kalo mau ke Salzburg, harus ikut tur Lake and Mountain dan juga harus ke Hallstatt, kota deket Salzburg yang bagus banget. Sayang, gue ga ke 2 tempat itu, jadi perjalanan gue di Salzburg terasa kurang berkesan. Haha.

img_5157

Auf Wiedersehen, Salzburg!

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Praha

Tanggal 14 Agustus 2016, gue meninggalkan Bratislava untuk menuju kota Praha. Gw naik bis regiojet seharga 10 Euro, dari Bratislava jam 09.45 dan nyampe ke Praha jam 14.30. Di Praha gue menginap di Hostel bernama Plus Prague, lokasinya ga di tengah kota, tapi buat ke tengah kota bisa naik tramnya. Tramnya ini cukup otentik, dan ga keliatan modern. Gue memilih hostel ini karena murah dan reviewnya bagus, harganya sendiri semalam hanya 7 Euro. Habis check in dan naruh barang-barang di hostel gue mulai menjelajahi Prague, gue langsung ke old town square. Praha ini kotanya bagus banget, gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Bener-bener unik, beda sama kota lain di Eropa dan cantik! Cuma satu kekurangannya, terlalu banyak turis di kota ini, jadinya crowded banget kemana-mana desek-desekan sama orang.

Gue di sini selama 4 hari 3 malam, muterin kota ini sampe puas. Gw juga sempet ikut Free Walking Tour di sini. Nah, di postingan kali ini gue mau kasi rekomendasi 6 tempat yang harus dikunjungin saat ke Praha, bahkan kalo lo cuma punya waktu sehari di Praha, lo bisa dateng ke semua tempat ini..

 

1. Old town square

Di setiap kota di Eropa yang pasti harus dicari itu pasti Main Square-nya, jantung tempat kota itu berdenyut. Dan Main Square di Praha itu bener-bener magical! Probably the best main square i’ve ever seen in Europe. Arsitekturnya bener-bener cantik. Udah gitu kereta kuda berisi turis suka berseliweran di sana. Aku sukaaaaa deh pokoknya!

img_4729

Cakep kan? Lebih cakep diliat aslinya sih daripada di gambar sih hahaha.

2. Astronomical Clock

Salah satu ikon kota Praha ini letaknya masih di area Main Square, bentuk jamnya sih emang bener-bener overrated. Kalo kata tour guide gue pas Free Walking Tour, astronomical clock adalah second most overrated tourist atraction after Manneken Pis in Europe hahaha. Dan gw setuju sih sama kata dia. Walaupun overrated, tapi tempat ini ga boleh dilewatin saat di Praha.

img_4709

Astronomical Clock

3. Charles Bridge

Jembatan ikonik kebanggaan Praha, wajib ke sini meskipun tempatnya super crowded hahaha. Jembatannya cakep banget, banyak musisi dan seniman yang mencari nafkah di jembatan itu. Ada grup musik, ada orang yang gambar silhoutte muka orang pake gunting, dan lain sebagainya. Bener-bener hidup, dan ramai! Haha.

img_4783

Ini dia gerbang masuk Charles Bridge, see how crowded it is.

img_4793

Kalo ini udah di tengah-tengah Jembatannya Charles.

img_4795

Salah satu patung di Charles Bridge.

img_4804

Kalo kita nyeberangin Charles Bridge sampe ujung, kita bisa menemukan sisi lain kota di seberang sungai dan ini juga cantiiiik!

4. Prague Castle

Prague Castle ini sebenernya kompleksnya luas banget dan bukan bener-bener castle sendiri, jadi dia terdiri dari gereja seperti Cathedrale St. Vitus dan Basilica of St George dan juga residential palace, tempat presiden tinggal. Agak susah foto castle ini dari bawah, tapi dari atas castle ini pemandangan kota Praha bener-bener bagus. Di atas castle ini ada starbucks haha, tempat dimana lo bisa ambil foto bagus (pinter bgt starbucks milih lokasinya) dan biar bs masuk itu pasti lo berasa ga enak kalo ga beli apa-apa.. cuma gue liat ada beberapa turis Asia yang cuek aja foto-foto di situ tanpa beli, jadi ya gue ikutan haha. Starbucksnya sendiri sebenernya ada di lantai bawah, di atasnya kaya rooftopnya gtu, tempat buat duduk-duduk dan ambil foto.

img_4842

St. Vitus Cathedral

img_4845

Salah satu gereja lain di Prague Castle

img_4891

View Praha dari Starbucks di Prague Castle.

5. Dancing House

Tempat ini letaknya agak di luar pusat kota, buat jalan kaki ke sini dibutuhkan sekitar setengah jam dari pusat kota. Tempat ini terkenal karena bentuk gedungnya yang unik dan keliatan kaya lagi joget haha.

img_4924

Dancing building

6. John Lennon Wall

Ini tempat nyarinya susah luar biasa, sempet bayangin wallnya bakal gede gitu kaya tembok Berlin sebelah timur yang isinya grafiti dan gambar-gambar semua. Eh ternyata tempatnya kecil banget! Tapi bagus sih, walaupun crowded banget kebanyakan orang.

img_4953

Gue di John Lennon Wall. Udah kaya kang pijet belom? Haha.

Jadi, makin pingin ke Praha kan? Hihihi. Pokoknya Praha sama Budapest itu wajib kalo pengen main ke Eropa Tengah 😀

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Bratislava

Habis dari Vienna, perjalanan berlanjut ke Bratislava. Buat yang belum tau, Bratislava adalah ibukota dari Slovakia. Slovakia itu dulu pernah satu negara sama Ceko, namanya Cekoslovakia, tapi sekarang udah pecah dan jadi negara sendiri-sendiri. Gue naik bis regiojet seharga 1 Euro! 1 Euro, bayangin! Emang deket banget sih, perjalanan dari Vienna ke Bratislava itu cuma 1.5 jam, tapi kalo mengingat servis di bis regiojet yang bener-bener mantap: dikasih hot drink, ada layar tv kecil di masing2 bangku buat hiburan, dipinjemin koran, headset, rasanya kasian aja sama ini bis, dapet untungnya dari mana coba. Hahaha. Gw berangkat dari Vienna tanggal 11 Agustus 2016 jam 10.25 dan sampai di Bratislava jam 12.00 siang. Keluar dari stasiun, gue langsung ke mal bernama Eurovea untuk beli makan siang dan menunggu host couchsurfing gue menjemput. Gue menunggu di depan sungai Danube sambil duduk-duduk ngantuk. Host gue yang bernama Michal (nama cowo ini) berjanji akan menjemput gue jam 3 siang sepulang dia kerja. Dia sebenernya kerjanya sampe sore, tapi sengaja pulang jam 3 biar gue ga nunggu lama. Dan surprisingly, dia udah nyamperin gue jam 2! Gile, baik banget. Sebelum balik ke rumahnya dia buat naruh barang, kita sempet minum gitu di salah satu resto/bar di mal sambil ngobrol-ngobrol. Waktu itu gue yang bayarin minumnya dia, dia sempet ngelarang gtu, tapi akhirnya gue tetep bayarin. Haha.

Host gue ini adalah salah satu host yang paling memorable dalam perjalanan gue selama 40 hari di Eropa Tengah. Jadi waktu itu gue minta dia jadi host gue, karena dia pernah ke Indonesia. Foto profilnya keliatan bgt di salah satu tempat di Indonesia. Ya jarang2 kan bisa nemu bule yang pernah ke Indo. Eh, dia accept gue dan kita sepakat bahwa gue nginep tempatnya dia selama 1 malam. Gue sebenernya di Bratislava 3 malem, tapi dia ga bisa host gue selama 3 malem karena dia harus bantu-bantu nikahan adiknya di malam ke-2 dan ke-3 gue di sana. Nah, setelah ngobrol-ngobrol, ternyata dia itu pernah tinggal di Indonesia selama 16 bulan karena ikut program beasiswa Darmasiswa, yang gue baru tau kalo program itu ada. Jadi program ini memang khusus untuk orang asing yang mau belajar Bahasa Indonesia. Ternyata, di Bratislava ada 2 orang lagi yang ikut program yang sama. Dan si host gue mengajak mereka berdua untuk bertemu gue malamnya. Baik banget sumpah, gue terharu dia arrange pertemuan itu buat gue. Jadi setelah naruh barang di rumah, gue dan dia pergi makan malam dan bertemu 2 temannya itu. Sepanjang malam mereka cerita pengalaman mereka di Indonesia, yang bener-bener unforgetable katanya. Unik-unik sih, yang paling ajaib adalah waktu salah satu temennya cerita kalo dia nemuin pasukan kecoa buanyaaaak bgt di kamar kosannya, sampe akhirnya dia bunuhin satu-satu hahaha. Overall, mereka seneng banget ke Indonesia. Bahkan si host gue pernah punya pacar 3 orang Indonesia hahaa. Cuma kalo ditanya mau ga tinggal lebih lama lagi di Indo, dia bilang “Ga. 2 tahun kayanya udah maksimal buat gue, habis itu rasanya pengen pulang.” Hahaha. O iya, mereka juga bisa bahasa Indonesia dikit-dikit, jadi mereka latihan juga pas ketemu sama gue haha.  Ada satu kata-kata mereka yang gw inget, salah satu dari mereka bilang “Gila ya, gue kangen sama Indonesia, tinggal di Indonesia selama itu rasanya kaya mimpi, sekarang di Bratislava itu kaya kembali ke kenyataan.” Terus yang lain nyaut, “Kalo kamu lagi di dalam mimpi ya, Cuni. Mimpi kamu itu Prancis”. Hahaha. Lucu rasanya negara kita itu dianggep mimpi sama orang asing, sementara gue di sini lagi menjalani mimpi gue, di Prancis, yang ga seindah dalam bayangan gue hahaha *loh kok ada curhat colongan?* hahhaa. Kembali ke topik. Malam itu dihabiskan dengan ngobrol, makan, jalan, sampe akhirnya waktu menunjukkan lewat dari pukul 12 dan kita pun pulang naik taksi haha. Si host gue ini besokannya musti balik ke kantor.

img_4515

Dari kanan ke kiri: Gue, Michal (host gue, pernah tinggal di Lampung 16 bulan), Temen cowonya (gue lupa namanya siapa, dia juga di Lampung), Temen cewenya (tinggal di Malang).

Besokannya gue pindah dari rumah host gue ke hostel yang bernama Possonium (18 Euro per malam). Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini gue nginap di hostel. Dan setelah ini gue bakal tinggal di hostel terus (kecuali di Frankfurt, ada temen). Rasanya, seneng sih.. hahaha. Akhirnya gue bisa bangun tidur sesuka gue, tanpa harus ngikutin host gue, gue ga usah pusing basa-basi cari topik buat ngobrol. Tapi kesenangan itu hanya berlangsung beberapa hari, habis itu gue ngerasa kesepian. Karena orang-orang di hostel ga ada yang bisa diajak ngobrol sampe deket bgt, biasanya ngobrol cuma sekedarnya, dan ga sampe deket bgt. Sementara kalo di couchsurfing berasa deket sama host-nya dan bisa ngobrol macem-macem. Saat itu gue ngerti, ternyata emang metode yang paling cocok buat gue adalah couchsurfing haha.

Habis naruh barang di Possonium, gue mengitari Bratislava, berbekal juga beberapa tips dari si host. Bratislava ini kotanya cukup kecil, jadi beberapa jam cukup buat mengitari Bratislava. Habis itu gue ke Bratislava castle, istana kecil yang berada di tengah kota Bratislava. Agak sorean, gue ke Devin castle, bayar sih masuknya (4 Euro buat umum, 2 Euro buat mahasiswa), tapi worth it, lebih bagus dibanding Bratislava castle. Untuk ke Devin ini kita musti naik bis sekitar 45 menit dari tengah kota. Recommended! O iya, selama di Bratislava gue ga gt makan makanan lokal, soalnya harganya ga semurah di Krakow atau Budapest dan duit gue udah mulai menipis. Gue berapa kali makan panini di pinggir jalan, recommend dari host gue hahha (harganya kalo ga salah 3 Euro).

img_4528

Pusat kota Bratislava. And out of nowhere gue ketemu sama Helmi Yahya, dan tim-nya yang entah lagi mau syuting apa di Bratislava.

 

img_4530

Di Bratislava itu banyak banget patung-patung unik. Salah satunya patung ini.

 

img_4545

Bratislava castle tampak depan. Lebih mirip sama kantor pemerintahan ya? Haha.

 

img_4559

View dari atas Bratislava castle

img_4582

Reruntuhan Devin Castle

img_4613

Devin Castle. Di sini gue bertemu sama cewe yang diduga cewek Indonesia, yang kerjaannya self video gtu, jadi keliatan ngomong sendiri di layar telepon haha. Mungkin lagi buat vlog..

 

Keesokan harinya, gue habiskan dengan leyeh leyeh di kamar hostel menikmati kasur. Hari itu adalah salah satu hari di liburan gue selama 40 hari dimana gue ga pengen kemana mana sama sekali, pengen istirahat aja. Gtu enaknya jalan-jalan dalam jangka panjang, bisa sambil santai. Sesiangan juga gue habiskan buat nyuci baju di mesin cuci hostel, nyucinya gratis, tapi karena deterjennya abis terpaksa gue beli sendiri deterjennya di warung sebelah haha. Tapi ujung-ujungnya gue keluar juga karena bosen, sekitar jam 4 sore gue keluar dan ikut Free Walking Tour di Bratislava. Lumayan, jadi tau sejarah tempat-tempat yang gue datengin kemarinnya. Menutup perjalanan gue di Bratislava, gue pergi ke Slavin memorial, tempat peringatan tentara Soviet yang gugur di Perang Dunia II, di tempat ini juga banyak kuburan gt. Pas pulangnya, gue agak nyasar-nyasar dikit karena letak tempat ini agak di atas, tapi untungnya gue menemukan jalan pulang haha.

img_4653

Blue church, cakep ya! Biru semua gitu..

img_4654

Blue church tampak dalam.

img_4629

Michael’s Gate, salah satu gerbang ke pusat kota Bratislava yang sangat ikonik.

Segitu saja kisah perjalanan gue di Bratislava, besok gue akan melanjutkan petualangan di Praha.

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.