40 Hari di Eropa Tengah: Vienna

Setelah puas menghabiskan liburan di Budapest, gue beralih ke kota selanjutnya, Vienna! Dari Budapest gue naik bis Regiojet seharga 9 Euro. Bis ini adalah bis antar negara Eropa yang paling kece yang pernah gue temuin, harganya murah dan fasilitasnya kaya pesawat! Ada layar kecil di setiap bangku dimana kita bisa nonton film, memutar lagu ataupun main game. Terus dikasih headphone satu-satu dan dikasih hot drink, gratis! Bahkan dia juga nyediain koran kalo ada yang mau baca. That was sooooo cooool! Selain itu juga ada wifi dan colokan seperti layaknya bis di Eropa. Gue berangkat dari Budapest tanggal 8 Agustus 2016 pukul 9.15 dan sampai di Vienna pukul 13.55. Masuk ke Vienna gue mulai berasa kembali ke Eropa Barat, hahaha. Karena di sini semuanya berbahasa Jerman dan ga ada lagi huruf alfabet aneh-aneh kaya di Budapest ataupun Krakow. Dan karena kita kembali ke negara dengan mata uang Euro, otomatis barang-barang semuanya jadi lebih mahal. O la la. Kembali ke makan sandwich 1 Euro di supermarket!

Di Vienna gue tinggal di tempat temennya temen gue, orang Indonesia. Gue punya temen yang tinggal di Vienna, tapi karena dia lagi liburan juga, jadilah gue dititipkan ke temennya, ibu-ibu, namanya Ibu Bidah. Ibu Bidah ini sedang menjalankan kuliah doktorat di Universitat Wien. Gue janjian sama ibu ini di salah satu stasiun metro, untuk bersama-sama pulang ke rumahnya. Waktu itu sampai di rumah, sudah sore hari, jadi gue memutuskan untuk istirahat dan ga kemana-mana seharian. Gue mulai pingin nyantai, secara kemarin udah jalan-jalan terus.

Keesokan harinya, tanggal 9 Agustus, gue ikut Free Walking Tour (FWT) jam 10 pagi. Kita bertemu di Albertina, sebuah museum di pusat kota, berkeliling memutari Inner Stadt atau pusat kota dan mengakhiri perjalanan di gereja terbesar di Vienna, St. Stephen’s Cathedral. Selama trip ini, ini adalah FWT paling mengecewakan, peserta turnya banyak banget dan ga dibagi lagi, ada sekitar 60 orang dalam 1 tour, jadilah kita ga fokus karena terlalu banyak orang. Udah gitu, pas terakhirnya secara ga langsung guidenya kaya minta 10 Euro gitu. What?? Ga memaksa sih, cuma kayanya orang orang pada ngikutin kata dia. Gue sih ngasi 2 Euro doang, bodo amat. Hahaha. Mana ada sih dimana mana FWT ngasi patokan uang tips.

img_4313

Patung Mozart, di sebuah taman di kawasan Hofburg Palace

img_4332

Sebuah sudut kota

Habis ikut FWT, gue beli makan siang sandwich di supermarket (di sini yang murah namanya Billa), kemudian gue melanjutkan perjalanan ke Karlskirche atau St. Charles Church, di sana sempet duduk-duduk di luar sambil makan es krim yang dijual di mobil-mobil gt. Di perjalanan gue juga sempet liat Universitat Wien yang bangunannya keren bgt, klasik gitu. Habis itu gue balik lagi ke pusat kota untuk lebih menikmati bangunan yang tadi gue liat pas FWT. Gue ke kompleks Hofburg Palace, ikon-nya Vienna. Hofburg Palace ini kompleks istananya besar bgt dan ada beberapa musium juga dalam kompleknya. Kerennya, istana ini masih berada di pusat kota, dan ga berdiri sendiri di agak pinggir kota kaya istana di Eropa kebanyakan. Habis itu gw menuju ke Vienna Ring Road, kaya semacam pembatas buat keluar dari pusat kota gitu. Di Vienna Ring Road ini ada Austrian Parlement Building dan juga Rathaus atau City Hall. Kebetulan di halaman Rathaus lagi ada persiapan pemutaran festival film gitu, tapi pas gue lewat belum mulai acaranya, jadi ga bisa sekalian nonton. Habis itu gue balik ke rumahnya Ibu Bidah, hari itu kayanya udah cukup yang dikunjungin, dan pengen leyeh-leyeh di rumah.

img_4343

Gloomy Karlskirche

img_4356

Salah satu sudut di kompleks Hofburg Palace

img_4363

Masih di Hofburg Palace

img_4409

Ini juga..

img_4410

Ini juga! Hahaha. Gede banget kan kompleks istananya!

img_4393

Austrian Parlement Building

Leyeh-leyeh berlanjut sampe keesokan harinya, gue ga bisa keluar karena di luar hujan deras. Males keluar, gue leyeh-leyeh aja sampe jam 3 sore, nunggu ujannya berenti. Hahaha. Gitu nikmatnya solo travelling, mau santai-santai doang seharian juga ga ada yang ngurusin. Si Ibu Bidah jg baik banget, ngebiarin gue di rumahnya, kapan aja hahaha. Setelah hujan berhenti, tujuan gue hari iru adalah ke 2 istana besar di Vienna. Istana Belvedere dan Istana Schonbrunn. Perhentian pertama ke Istana Schonbrunn, istana yang paling luas di Vienna. Kompleks istananya gede banget, dengan halaman luas yang bentuknya simetris, seperti istana di Eropa Barat kebanyakan. Di sini kita bisa liat Istana Schonbrunn dari atas, sedikit tips, di deket tempat pandang yang dari atas itu, ada restoran yang bisa kita colong wifi-nya hahah. Mayan lah buat update instagram hahha. O ya, gue kalo jalan-jalan ga pernah paket data atau sengaja mesen paket yang dari luar negeri gitu, gue bergantung pada wifi dan telp/sms. Kalo ada apa-apa gue bisa sms host gue, ya secara ga mahal juga sih, pake kartu Prancis selama masih di Uni Eropa harganya 0.07 Euro per sms. Puas di Istana Schonbrunn, gue ke istana yang lebih kecil bernama Belvedere. Tipikalnya sama kaya Schonbrunn, simetris dengan halaman luas di depannya, tapi yang ini bangunannya lebih berwarna putih, sementara Schonbrunn kuning kecoklatan gitu. O ya, kita bisa masuk ke Schonbrunn, dan melihat istananya ke dalam, tapi harus bayar, kalo gue sih dari luar aja. Hehe.

img_4427

Halaman Istana Schonbrunn

img_4441

Istana Schonbrunn

img_4455

That’s me, di dekat resto yang ada wifi-nya! Hahah. Summernya dingin bo, pake jaket sama celana panjang gitu gue.

img_4486

Istana Belvedere

Habis dari istana, gue balik lagi ke pusat kota untuk melihat tempat yang belum gue jelajahi kemarin. Karena itu summer, jadi jam 8 malem juga masih terang benderang hahaha. I love summer! Gue kali ini mampir ke Museumsquartier, kompleks di mana terdapat banyak museum di dalamnya dan ke Mariahilfestrasse, jalan besar tempat dimana banyak toko dan restoran gitu. Gue sempet ngiler liat Nordsee (chain fastfood-nya Jerman yang isinya makanan dari ikan) jadilah gue beli makan malam itu haha.

Perjalanan gue ke Vienna berakhir sudah, keesokan harinya gue akan melanjutkan perjalanan ke Bratislava!

Menurut gue pribadi, Vienna ga sebagus ekspektasi gue hahaha. Bagus sih, bangunannya klasik gitu dan cantik, rapih, terawat, keliatan banget kota musikal, tapi mungkin karena gue suka jalan-jalan di Eropa Barat ya, jadi keliatan sama aja kaya di Prancis, Jerman, dan tempat-tempat lain, beda sama Budapest atau Krakow yang bener-bener baru buat gue. It just my two cents, though! 🙂

img_4480

Halaman Istana Belvedere

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

Advertisements

40 Hari di Eropa Tengah: Budapest

Tanggal 5 Agustus pagi gue meninggalkan Krakow untuk menuju ke Budapest. Perjalanan ke Budapest memakan waktu 7 jam. Gue naik Polskibus lagi, kali ini harganya 8 Euro. Di Budapest gue akan meninggalkan kenyamanan Couchsurfing gue bersama orang Indonesia di 2 kota sebelumnya dan mencoba peruntungan dengan warga lokal. Gue sampai di Budapest kira-kira setengah 5 sore dan langsung mencari money changer di terminal bis. Budapest ini memiliki mata uang Forint. Gue mulai panik karena gue tidak menemukan money changer di terminal, gue mencari-cari kesana kemari masih belum ketemu juga. Akhirnya gue masuk ke dalam stasiun metro dan menemukannya. Alhamdullilah! Setelah itu gue membeli tiket metro menuju tempat bertemu gue dan host couchsurfing gue. Kami bertemu di stasiun metro dekat rumahnya di pusat kota. Namanya Ivett, orang Hungaria asli yang baik dan juga ramah sekali, bahkan pas pertama ketemu langsung keliatan kalo dia open. Dia mengantar gue ke rumahnya untuk naruh barang bawaan. Habis itu gue diajak melihat Budapest di malam hari. Kami menelusuri jembatan, lalu berputar-putar di pusat kota tempat banyak makanan berada. Kami ngobrol macem-macem di sepanjang jalan, walaupun Bahasa Inggrisnya ga terlalu lancar, tapi dia tetep punya banyak hal untuk diceritakan. Gue diajak untuk membeli burger di food truck, tempatnya cukup rame dan burgernya lumayan enak. Setelah itu dia menunjukkan ke gue tempat paling hits di Budapest, sebuah Ruin Bar yang bernama Szimpla, Ruin Bar paling besar dan paling tua di Budapest. Ruin Bar sendiri adalah sebuah bar dengan konsep unik: bar ini menggunakan tempat tua yang sudah tak terurus/hancur, kemudian menjadikannya bar dan memenuhinya dengan barang-barang antik, juga terdapat banyak tandatangan artis di dindingnya. Agak susah sebenernya mendeskripsikan tempat ini, yang jelas ada suasana berantakan di dalamnya. Dan di Szimpla ini buanyak banget orang, sampe berasa bising banget dan kalo mau ngobrol ga bakal kedengeran. Gue sama Ivett cuma masuk buat liat-liat sekeliling dan ga lama-lama di situ. Habis itu kita pulang, karena kaki gue mulai sakit, ada gelembung di telapak kaki gue, sepatunya ga nyaman buat dipakai saat itu. Huff.

img_3976

Ini dia Ivett, cewek Hungaria host couchsurfing gue ❤ ❤

Keesokannya, tanggal 6, gue berjalan mengitari Budapest sendirian, karena Ivett ada janji sama temannya hari itu. Jujur, travelling ideal versi gue ya kaya gt, gue bisa eksplor sendirian sepanjang hari, terus gue bisa pulang ke tempat orang yang gue kenal dan menceritakan petualangan gue hari itu. Gue kurang suka eksplor tempat bareng orang lain, tapi jg terlalu kesepian kalo sepanjang hari gue lewati sendirian, gue harus ngomong sama orang lain. Dan kadang kalo di hostel gue malah berasa kesepian karena belum tentu kita bisa cerita sama orang lain, kayanya couchsurfing emang cocok buat gue hahaha.

Guepun menyusuri Budapest sendirian dengan kaki yang masih sakit, dengan berbekal peta dan beberapa petunjuk dari Ivett. Karena waktu itu kaki gue sakit, gue naik bus untuk naik ke Buda Castle, tujuan teramai di Budapest. Padahal sebenernya jalan kaki ga terlalu jauh, cuma 30 menit dari pusat kota. Budapest sendiri terbagi menjadi dua bagian dengan dipisahkan oleh sungai Danube. Dua wilayah ini disebut Buda dan Pest. Pusat kota terletak di wilayah Pest, sementara di wilayah Buda terdapat Buda Castle, kompleks istana yang sangat besar terletak agak di bukit. Di kompleks istana ini terdapat beberapa museum, monumen, gereja dan juga istana itu sendiri. Dari atas Buda Castle terlihat pemandangan Pest yang cantik dengan gedung parlemennya, serta Sungai Danube. Yang haram untuk dilewatkan di Buda Castle adalah Matthias Church dan Fisherman’s Bastion. Gue hampir aja turun dari Buda Castle dengan melewatkan itu semua kalo ga inget wejangan dari Ivett, katanya harus mampir ke Fisherman’s Bastion. Matthias Church sendiri sangat cantik dilihat dari luar, dengan atapnya yang eksotik khas Hungaria. Waktu gue ke sana, lagi ada pernikahan di area Fisherman’s Bastion, jadi agak susah ambil angle foto yang bagus dari situ. Dari Fisherman’s Bastion juga keliatan jelas gedung parlemen Budapest yang luar biasa cantik. O iya, di sini gue juga nyobain snack khas Budapest yang namanya Kurtoskalacs, pastry besar yang berbentuk roll.

img_4041

Pemandangan dari Buda Castle

img_4056

Kurtoskalacs, Hungarian Chimney Cake. Snack ini juga bisa ditemukan di Ceko dan negara Eropa Tengah lain dengan nama yang berbeda.

img_4201

Matthias Church

img_4073

Atap-atap di Matthias Church, lucu ya..

img_4089

Fisherman’s Bastion

Selesai mengagumi kompleks istana ini, gue kembali ke arah Pest dengan menaiki bus. Gue berjalan menyusuri sungai Danube menuju gedung parlemen. Di situ gue menemukan sepatu-sepatu besi berserakan yang ternyata adalah sebuah tempat peringatan bagi orang-orang Yahudi yang ditembak di pinggir sungai Danube. Jadi sebelum ditembak dan didorong ke sungai, mereka disuruh melepas sepatu terlebih dahulu. Lagi-lagi jejak NAZI di Eropa Tengah, bener bener ngebuat pilu. Setelah dari situ gue ke Budapest Parliament Building yang cantiknya luar biasa. Puas foto-foto gue tiduran di bangku deket situ hahaha. Salah satu enaknya solo travelling, bisa ngapain aja termasuk tiduran di mana saja dan kapan saja. Hahaha. O ya, kalo di Eropa itu tidur di taman atau bangku dekat teman itu sudah biasa, jangan dibandingin sama di Jakarta ya hahaha.

img_4103

Sepatu besi untuk memperingati korban Holocaust di Budapest

img_4119

Gedung Parlemen Hungaria, so beautiful!

Dari situ gue melanjutkan perjalanan ke St Stephen’s Basilica, sebuah gereja yang diberi nama raja pertama Hungaria, Stephen. Adapun gereja ini memiliki tinggi yang sama dengan gedung parlemen, dan mereka adalah dua bangunan tertinggi di Hungaria dengan tinggi 96 m, tidak boleh ada bangunan lain yang tingginya melebihi itu. Konon katanya, di gereja ini disimpan tangan kanan Raja (yang juga menjadi Santo-sebutan untuk orang suci agama Katolik) Stephen. Selepas dari situ gue menaiki subway ke Hosok Tere, monumen besar tempat mengenang para pahlawan. Di dekat situ gue melihat Beer Bike yang lagi ngetem buat disewain. Beer Bike adalah sebuah kendaraan yang berisi 10 orang yang mengayuhnya sambil berhadap-hadapan (kaya naik angkot gtu) dan mereka muter keliling kota sambil minum bir (total 30 liter!) yang sudah disediakan di kendaraan itu. Biasanya mereka muter kota sambil ruri, alias seru sendiri, mereka nyanyi-nyanyi dan teriak-teriak di dlm beer bike itu. Oya, ada musiknya juga di dalam situ! Kata Ivett sih biasanya mereka ngadain semacam bachelor party di situ. Asli seru abis!

img_4184

Mamam pizza 2 Euro-an di depan St. Stephen’s Basilica

img_4158

Hosok Tere

Jalan dikit dari Hosok Tere, ada salah satu tempat terpopuler di Budapest, Szechenyi Thermal Bath. Gw pernah liat di foto temen gue sih bagus ya. O ya, pemandian air panas kaya gini juga ngehits banget di Budapest. Gue sih ga nyobain, ga pengen dan ga sesuai sama kantong hihi. Habis dari situ gue pulang ke rumahnya Ivett. Kayanya udah hampir semua tempat populer di Budapest udah gue kunjungi hari itu, kecuali satu, yang katanya tempat terindah buat liat Budapest night view, itu disimpan buat besok malam hihi.

Gue pulang dengan banyak cerita untuk Ivett. Tapi sebanyak2nya cerita gue jg tetep aja banyakan cerita dia hahahha. Malam itu gue habiskan dengan santai dan nonton Sex and City versi Hungaria hahaha. Negara2 di Eropa selalu punya cara untuk mendubbing film US ke bahasanya sendiri2 wkwk.

Keesokan harinya, hari minggu, gue juga jalan-jalan sendiri untuk kembali menjelajahi Budapest. Di saat bingung mau ngapain, Free Walking Tour jawabannya! Hahaha. Meski FWT kali ini rutenya ga beda jauh sama lokasi jalan-jalan kemarin, tapi gue pengen melihat Budapest dengan perspektif yang berbeda, perspektif warga lokal, alias guidenya. Tempat tujuan akhir FWT ini adalah Buda Castle, tapi bedanya dari perjalanan gue kemarin, gue kali ini naik ke atas Buda Castle jalan kaki! Hahaha. Karena jalan kaki gue bisa menikmati menyusuri Chain Bridge, jembatan yang sangat besar penghubung Buda dan Pest.

Di saat solo travelling pasti ada aja kejutannya. Kali ini gue ketemu sama orang Indonesia di Free Walking Tour (FWT)! Awalnya kita cuma liat-liatan, dalam hati gue yakin dia orang Indonesia tapi segan nyapa duluan, ternyata gitu juga yang ada di pikiran dia. Dan pas akhirnya nyapa, ternyata bener! Dan bukan cuma orang Indonesia, tapi dia juga anak sanur, dan punya banyak friend in common sama gue. Nama panggilannya Noni, anak sanur 08 dan juga anak UI yang udah tinggal di Milan selama beberapa tahun. Hahaha. Habis itu kita ngobrol macem-macem dan akhirnya kita bisa foto diri dengan proper, karena kita berdua solo travelling jadi dari kemaren ga ada yang motoin hahaha. Sekarang saatnya saling minta fotoin hahahah. Habis dr FWT kita ngemil snack Hungaria bareng yang disebut Langos. Sayangnya habis itu kita musti berpisah, karena dia mau ikut bar crawl tur yang diadakan sama tur yang sama, sementara gue mau naik ke atas Citadel, tempat yang katanya bagus banget buat liat night view. Bye, Noni, semoga kapan2 bisa ketemu lagi..

img_4236

Gedung Parlemen dari atas Fisherman’s Bastion

img_4293

Meet Noni, Sanurians and UI-ers juga! 😀

img_4239

Langos, snack khas Hungaria, toppingnya bisa macem-macem.

Perjuangan naik ke atas Citadel jauh lebih sulit dibandingin ke atas Buda Castle, bukitnya lebih tinggi dan lebih curam. Gue sempet duduk beberapa kali untuk ambil napas. Sampai di atas hari belum bisa disebut gelap, masih peralihan dari sore menuju malam. Sudah banyak orang yang menanti di atas situ untuk melihat city view. Udara mulai dingin, anginnya berasa banget. Sambil menanti gue mencoba menghangatkan badan dengan mencari spot yang terlindungi dari angin, tapi ga ngaruh sama sekali rrrr. Setengah jam kemudian hari sudah benar benar gelap. Gue kembali ke spot awal tempat melihat night view, dan…. jeng jeng jeng jeng! I saw the most breathtaking night city view in my life! Seriously! Ini bener bener jadi penutup yang indah di hari terakhir gue di Budapest. Totally recommended!!

img_4260

Sunset in Citadel

img_4275

Breathtaking view of Budapest from Citadel. A must visit!!

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Krakow

Gue sampai di Krakow jam 7 pagi tanggal 3 Agustus 2015 dengan menggunakan Polski Bus seharga 13.8 Euro dari Berlin. Gue dijemput dengan host couchsurfing (CS) gue di mal dekat dengan terminal bis. Host CS gue orang Indonesia, namanya Dipta. Dan guess what? Dia juga anak FIB angkatan 2007! OMG dunia sempit bgt. Pas tau dia anak FIB juga rasanya kaget banget. Jauh-jauh kuliah di Depok, eh ketemunya di Polandia, itu juga ga sengaja tanpa kenalan dan babibu sebelumnya. Begitu ketemu dia langsung deh ngobrolin macem-macem, rasanya kaya ketemu temen lama, anaknya asik dan lucu juga. Hahaha.

Habis dijemput di deket terminal, kita langsung menuju rumahnya Dipta untuk taruh tas. Gue juga dikasih sarapan hihi. Dia ga bisa menemani gue jalan-jalan karena dia musti ngerjain tesis di kampusnya. Jadi gue berpetualang sendiri di Krakow. Sepanjang gue jalan-jalan di Eropa, baru kali ini gue mengunjungi negara yang di alphabetnya banyak banget aksennya dan susah banget diucapinnya. Haha. Gue juga sempet ngerasa kaya mimpi, kayanya setaun yang lalu ga bakal terbersit aja dipikiran gue untuk bisa berada di negara bernama Polandia, negara yang kurang umum dijadikan tujuan wisata bagi para pelancong Indonesia.

Setelah berpisah dengan Dipta, gue langsung ke Main Square-nya Krakow yang bernama Rynek Glowny. Tempatnya baguuuus banget, gue suka banget sama warna warninya. Bener bener beda dari arsitektur Eropa Barat, berasa banget kita lagi di Eropa Tengah, unik, amazing! Gue pun melewati Main Square karena perut sudah keroncongan mencari makan siang! Gue dikasi rekomendasi sama Dipta untuk makan di tempat yang bernama Gospoda Koko. Harganya bikin gue bengong, 3 Euro udah dapet sup, appetizer dan main course lengkap ! Makin cinta gue sama Polandia, di Eropa Barat mana ada makanan harga segitu.. Oiya, Polandia ini punya mata uang sendiri namanya Zloty. Pantes harga barang2nya juga murah, karena dia ga mengikuti standar Eurozone.

img_3781

Rynek Glowny, main square-nya Krakow, so beautiful, udah berasa ga di Eropa Barat lagi.

img_3752

Makanan sebanyak ini cuma 3 Euro

Habis makan siang gue balik lagi ke Main Square, di situ ada gereja besar bernama Bazylika Mariacka yang dalemnya buagusssss banget, mungkin gereja paling bagus yang pernah gue lihat selama ini. Ada tips biar masuknya ga bayar, kita musti masuk dari belakang, jangan dari samping. Soalnya belakang itu buat tmp berdoa, sementara samping emang buat turis. Yah bayar cuma 1 atau 2 Euro juga sih. Awalnya gue masuk di tmp yang turis, trus belakangan baru ngeh kalo bisa masuk lewat belakang wkwk. Habis keluar gereja, gue jalan-jalan di sekitar Main Square dan juga pusat kota. Kota ini benar-benar unik dan menyuguhkan warna tersendiri. Setelah itu gue jalan ke gerbang tempat masuk ke pusat kota, lalu kembali ke arah berlawanan menuju ke sungai Vistula.

img_3800

Stunning Bazylika Mariacka!

Saat hari menjelang malam, gue disarankan mencari makanan di Jewish District (Kazimierz). Daerah ini adalah daerah tempat banyak org Yahudi tinggal, di situ ada sejenis foodcourt dengan makanan yang super murah. Gue disarankan membeli Zapikanki, baguette ala Polandia dengan berbagai macam topping di atasnya. Baguette ini super murah, harganya kalo dikursin jadi 1-3 Euro tergantung toppingnya. Dan bentuknya gede banget, bisa buat berdua. Bayangin makan kenyang 1 Euro bisa buat berdua, o la la, pengen ga pulang rasanya hahaha. Gue awalnya ga tau kalo makanannya segede itu, trus diliatin sama orang-orang pas beli segitu buat sendiri hahaha. Ternyata gue ga abis juga, akhirnya separo gue kasi gelandangan deket situ..

img_3875

Food court bundar di Jewish District. Wajib ke sini!

img_3877

Besarnya si Zapikanki, bisa buat berdua!

Habis makan malam gue menelusuri daerah Jewish District. Banyak sinagoga dan bangunan Yahudi yang lain yang ga ada penjelasannya. Gue penasaran sama district ini, dan gue pun memutuskan untuk ikutan Free Walking Tour besokannya yang khusus untuk Jewish District biar lebih mengenal kawasan ini dan sejarah bangsa Yahudi di Krakow.  Habis itu, gue janjian sama Dipta buat ketemu depan rumahnya, yang dekat dengan kawasan Jewish District. Si Dipta pun mengajak gue jalan lagi sambil membeli makan malam buat dia. Dia mengajak gue ke kawasan penuh food truck. Dan guess what.. dia beli fish and chips seharga 4 Euro.. gila murah abis. Dipta yang tahun pertamanya dihabiskan di Glasgow, Inggris (dia ikut program Erasmus) bilang emang kalo habis dari Eropa Barat trus tinggal di Krakow rasanya kaya surga, apa-apa murah hahaha. Habis itu kami pun pulang lalu cerita-cerita sampai malam.

img_3948

Sama Dipta dan Zapikanki-nya

Keesokan harinya, gue mengawali penjelajahan gue dengan makan pangsit rebus khas Polandia bernama Pierogi, gue makan sepiring penuh dengan harga 2.5 Euro di sebuah restoran! Habis mengisi bensin, gue pergi ke Wawel Castle, kastil di kota Krakow yang ternyata ga gede-gede amat. Di lingkungan kastil ini juga ada gerejanya. Usai dari kastil, gue tidur-tiduran di taman dekat sungai sambil menunggu jam 4 untuk mengikuti Free Walking Tour. Ini adalah FWT pertama gue. Buat yang belum tau, FWT adalah salah satu bentuk tur tanpa biaya, tapi tetap kita bisa memberikan tips seiklasnya, gue sih kasih 2 Euro setelah coba tanya beberapa orang berapa kira2 gue harus membayar. Biasanya tur ini berdurasi 2 hingga 3 jam dan terdapat banyak pilihan. Untuk Krakow sendiri, kita bisa memilih tur untuk menjelajahi pusat kota, atau menjelajahi Jewish District.  Gue memilih yang kedua. Jam 4 sore kita berkumpul di depan Sinagoga besar untuk memulai tur ini, kira-kira ada 20 orang dari berbagai negara yang hadir. Guide gue orang Polandia asli, cewek dan lagi hamil. Kita pun menuju tempat-tempat bersejarah di Jewish district sambil si guide menceritakan sejarah bangunan-bangunannya. Setelah dari Jewish district kita menuju ke sebuah lapangan yang letaknya agak jauh dari situ, dimana terdapat memorial tempat orang-orang Yahudi dikumpulkan sebelum dibawa ke kamp konsentrasi. Di tempat tersebut, yang disebut Ghetto Memorial, terdapat kursi-kursi besar dimana 1 kursi mewakili ratusan orang Yahudi yang dibantai di situ. Si Guide bercerita, orang Yahudi ini dikumpulkan di rumah sekitar situ, dimana rumahnya sangat sempit dan harus diisi sekitar 10 orang, itu adalah tempat tinggal terakhir mereka sebelum dibunuh. Kamp konsentrasinya sendiri berada di Auswitch, cukup dekat dengan Krakow (ada tur berbayar juga untuk ke Austzwich kalo kalian tertarik), kata Dipta sih kalo ke sana bawaannya sedih dan moodnya depresi bgt. Yaiyalah, gue ada di memorial itu aja ngebayanginnya udah sedih banget apalagi ke Austwich. Tur selama 2.5 jam pun berakhir di Schindler factory. Tempat seorang Jerman bernama Schindler membantu meloloskan ratusan orang Yahudi dari kamp konsentrasi dengan mempekerjakan mereka di pabriknya. Buat kalian yang pernah nonton film Schindler List pasti tahu ceritanya. Saat itu gue Cuma bisa liat luarnya aja karena untuk masuk ke dalam harus membayar ekstra dan saat itu juga sudah tutup. Pengalaman pertama FWT gue sungguh luar biasa, gue dapet banyak pengetahuan, bahkan emosinya juga dapet saat itu. Habis di Krakow, gue juga mengikuti FWT di negara-negara lain, tapi FWT ini yang paling berkesan buat gue.

img_3898

Pierogi alias pangsit rebus

img_3916

Salah satu bagian Wawel Castle

img_3927

Gerbang Wawel Castle

img_3930

Tour guide Free Walking Tour pertama saya di depan salah satu sinagoga -tempat ibadah Yahudi-. Dia lagi hamil loh.

img_3940

Krakow Ghetto, monumen yang terdiri dari kursi-kursi kosong peringatan orang Yahudi yang dibunuh NAZI. Di lapangan ini dipisahkan antara yang masih bisa bekerja (untuk diperbudak) dan yang tak bisa lagi bekerja (siap untuk dibunuh di kamp konsentrasi).

img_3944

Foto orang-orang Yahudi yang diselamatkan oleh Oscar Schindler, dipasang di depan Pabrik Schindler.

Habis menguras emosi, gue balik lagi ke food court tempat makan kemaren bareng sama Dipta, gue makan babi rebus yang bernama Golonka Wieprzowa seharga 2.5 Euro, dari kemarin mupeng liat orang makan ini, tapi ga seenak yang gue bayangin sih hihi. Gila deh di Krakow makan enak mulu, biasa makan sandwich supermarket doang ye kan. Hahahha. Malam itu adalah malam terakhir gue di Krakow, sedih karena musti berpisah dari Dipta dan kotanya yang cantik. Besok saatnya naik bis menuju Budapest!

img_3946

Golonka Wieprzowa

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Potsdam

Setelah puas menjelajah Berlin selama 3 hari, keesokan harinya gue menelusuri kota Potsdam. Potsdam adalah kota kecil di pinggiran Berlin yang terkenal dengan Istana Sanssouci-nya. Kita bisa menggunakan S-Bahn untuk menuju Potsdam Hbf dari Berlin. Potsdam terletak di zona C, jadi kalo kita dari Berlin, kita harus menggunakan tiket yang meng-cover zona C. Dari tempat couchsurfing gue sendiri jaraknya lebih dekat ke kota Potsdam daripada ke pusat kota Berlin. Jadi sangat mudah gue mengunjungi kota ini.

Gue menjelajahi Potsdam sendirian karena Jeanne sudah kembali ke Polandia untuk kembali ke Indonesia di pagi hari. Gue pergi ke Potsdam kira-kira jam 12 siang dengan kondisi cuaca hujan. Sebenarnya agak malas kalau sudah hujan begitu tapi yah masa di rumah aja ye kan? Haha. Karena mendung dan hujan hasil foto hari itu juga ga terlalu bagus, tapi pengalamannya tetep tak terlupakan.

img_3591

Keluar dari Stasiun Potsdam, setelah menyeberangi jembatan menuju pusat kota, kita langsung disuguhi pemandangan gedung berwarna pink ini – Museum Film.

 

img_3593

Kawasan old market square dengan St Nicholas Church-nya

 

img_3596

St. Nicolas Church

 

img_3601

Masih di Old Market Square, gloomy ya.

 

img_3613

Dutch Quarter in Potsdam, sebuah area yang bangunannya kaya di Belanda

img_3617

Masih di Dutch Quarter

img_3625

Potsdam city center

img_3631

Brandenburger Tor yang ada di Berlin ternyata ada juga versi Potsdam-nya!

img_3642

Istana Sanssouci tampak depan

img_3663

Ini dia Istana Sanssouci! Gloomy bener yak!

img_3678

Sanssouci, kalo diterjemahin artinya no problem hahahha.

img_3699

Chinese House di komplek Istana Sanssouci

img_3709

New Palace, salah satu istana yang juga masih berada di kompleks Sanssouci, yang ini lebih gede malah dibanding yang sebelumnya

img_3728

Di belakang New Palace ada Universitas Potsdam!

img_3738

Bangunan sebelah kiri dan kanan itu gedung universitas Potsdam, kece mampus!

Setelah setengah hari berada di Potsdam, gue pun kembali ke Berlin untuk mengambil ransel dan naik bus malam ke tujuan berikutnya, Krakow!

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Berlin

Setelah mengalami kesialan sebelum naik bis dari Bonn ke Berlin, akhirnya sampai juga gue di Berlin jam 7 pagi tanggal 30 Agustus 2016. Gue turun di Berlin ZOB (Zentral Omnibus Bahnhof) yang sangat luas, tempat pemberhentian bus-bus dari dan menuju Berlin. Gue harus menunggu temen gue si Jeanne, yang baru akan datang jam 11 pagi. Jeanne adalah salah satu temen kuliah gue di Sastra Prancis UI, dia ke Polandia dalam rangka seminar dan kursus bahasa musim panas selama 1 bulan. Di akhir perjalanannya, dia menyempatkan liburan sama gue di Berlin selama 4 hari. Jeanne berangkat dari Praha ke Berlin, karena dia habis jalan-jalan di Praha.

Empat jam menunggu di terminal bus adalah waktu yang cukup lama, ditambah tidak ada wifi di tempat tersebut. Gue yang masih dalam keadaan ngantuk, sempat tidur beberapa kali di bangku terminal bus. Sempet juga bolak balik ke WC dimana sekali masuk bayar Rp 7500 (alias 50 cent). Agak susah memang travelling sendirian, bawa backpack yang cukup besar dan harus bolak balik ke wc dengan membawa backpack ke dalam wc, ga bisa nitip terus minta jagain gtu maksudnya. Tapi gapapa lah, asal lantai wc ga kotor.

Waktu menunjukkan pukul 11 lewat, akhirnya bis Eurolines yang dinaiki Jeanne datang juga. Gue jemput dia di depan bus, kita pun berteriak kegirangan bisa bertemu satu sama lain, setelah 1 tahun tidak berjumpa. Gue selalu senang bertemu teman (baik) dari Jakarta, yang sedang travelling ke Europe. Rasanya bahagia banget, ketemu temen lama, bisa cerita segala hal kisah kehidupan gw di Prancis selama ini, dan bisa nostalgia macem-macem. Hmm.. I think I miss Jakarta a lot 😛

Kami pun makan siang terlebih dahulu di restoran Cina sebelah halte bis. Sebenernya gue ga makan sih, karena harga makanannya di atas 5 Euro. Jadi Jeanne saja yang makan, gue makan burger McD 1 Euro saja setelah menemani Jeanne makan. Kasian ya? Hahaha. Yah emang gtu cara pengiritan ala gue. Hampir ga pernah gue membeli makanan di atas 5 Euro saat sedang travelling ke luar negeri. Kalo ada makanan 1 Euro, ngapain beli yang mahal? Haha.

Selepas dari terminal bis, kami langsung menuju ke rumah host couchsurfing di Berlin yang sudah saya pesan dari sebulan sebelumnya. Kebetulan gue dapet host orang Indonesia. Bukan kebetulan sih, emang nyarinya orang Indonesia biar kemungkinan diapprovenya lebih besar. Rumah host gue ini ga di pusat kota Berlin tapi bisa diakses dengan menggunakan S-Bahn, masih di zona 1, nyaris masuk ke zona 2 haha. Host gue namanya Atika, dia udah 11 tahun tinggal di Jerman, dari sejak kuliah sarjana sampai sekarang dia lagi PhD. Keren yak? Dia punya kucing lucu yang namanya Pedro. Habis sampai di rumahnya, taruh barang-barang dan ngobrol beberapa saat, gue dan Jeanne pun jalan menuju pusat kota Berlin, untuk makan sore di tempat hits yang namanya Burgermeister (terletak di Jalan Oberbaumstrasse, U1 stop-Schlesisches Tor). Di sini dijual burger (dan kentang) dengan harga 4-5 Euro. Tempat ini sangat terkenal, sampai-sampai pas kita datang antriannya panjang banget. Tempatnya berupa kios kecil, di dekat stasiun U-Bahn. Kios ini menyediakan beberapa meja di luar gue dan Jeanne mencari taman terdekat untuk duduk-duduk sambil makan. Kami memesan yang paling populer, Meistaburger, rasanya enak, si Jeanne sampe pengen makan ini lagi besok-besok. Haha. Habis makan, kita menyambangi Brandenburger Tor, gerbang ikonik khas kota Berlin dan juga Reichstag Building, gedung parlemen di Berlin. Sebenernya kita bisa naik ke atas Reichstag untuk melihat Berlin dari atas dengan gratis.Tapi gue dan Jeanne memilih untuk duduk-duduk saja di taman depan Reichstag sambil menikmati senja.

img_3361

Kedai Burgermeister tampak depan

img_3364

Burger-burger kami :9

1469916712309

Bersama Jeanne di benteng ikon kota Berlin. Yippie!

img_3399

Reichstag Building

Setelah itu kami menuju Alexanderplatz, salah satu pusat nongkrong anak muda Berlin, dimana sedang ada bazaar yang menjual makanan dari berbagai negara. Si Jeanne membeli cemilan, lalu kita juga membeli sereal untuk sarapan esok harinya di supermarket DM dekat situ. Di Alexanderplatz ini juga terdapat menara pemancar Berlin Tower dan Galeria (semacam pusat perbelanjaan kecil). Lalu kamipun pulang dan beristirahat di rumah Atika.

img_3404

Berlin Tower di Alexanderplatz

Keesokan harinya, kami memulai perjalanan dengan mendatangi Holocaust Memorial, sebuah tempat peringatan untuk para korban Yahudi yang dibantai saat Holocaust yang dilakukan oleh Nazi. Tempatnya sendiri terdiri dari kotak-kotak berwarna abu-abu dengan berbagai ukuran. Para turis dilarang naik ke atas kubik-kubik ini, mungkin takut rusak. Kami menyimpulkan, dengan adanya tempat ini dan tempat lain yang menceritakan soal Nazi dan Yahudi, Jerman tidak malu mengakui sejarah bangsanya yang kelam. Habis itu kita makan siang hotdog (lagi) di dekat situ. Perjalanan berlanjut ke Tiergarten, taman yang sangat luas di sebelah Holocaust Memorial. Keluar dari situ, kita tak sengaja menemukan Soviet War Memorial, salah satu tempat ingin dikunjungi oleh Jeanne. Terus menyusuri jalan, kamipun sampai di Berlin Victory Column, sebuah monumen tinggi untuk memperingati kemenangan Prussia dalam Perang Denmark-Prussia. Setelah itu kami berjalan kaki ke Bellevue Palace, tempat kediaman presiden Jerman sejak tahun 1994. Setelah berfoto-foto di luar, kami menaiki bis nomer 100 menuju Kaiser Wilhem Memorial Church. Katanya, kalo kita tidak punya banyak waktu, kita bisa menaiki bis nomer 100 ini keliling Berlin, karena rutenya melewati banyak tempat wisata di sini. Gerejanya sendiri sangat unik, karena terlihat hanya setengah bangunan dan tidak utuh. Konon katanya, separuh gereja ini runtuh saat pengeboman Berlin di Perang Dunia ke-2. Runtuhan ini dibiarkan begitu saja seperti adanya sehingga menjadi tujuan wisata sampai saat ini. Di sebelahnya, dibangun gereja yang baru, yang lebih rendah dan sangat modern. Tempat ini yang sekarang digunakan untuk misa.

img_3427

Holocaust Memorial, bentuknya unik dan cukup fotogenik

img_3431

Soviet War Memorial, ga sengaja nyampe sini

img_3442

Bellevue Palace

img_3446

Kaiser Wilhem Memorial Church yang sebagian runtuh terkena bom di Perang Dunia II

Kamipun melanjutkan perjalanan ke Potsdamer Platz, jantung kota Berlin dimana banyak pusat perkantoran dan gedung-gedung modern. Saat itu hujan, dan kami berteduh di museum Dali. Kami menemukan bahwa di dekat situ ada Spy Museum, Jeanne yang demen banget sama dunia mata-mata dan detektif, pengen mampir ke sana. Yasudah, dia masuk ke dalam sementara saya duduk di luar menunggu dia di lobby. Setelah itu, kami mampir ke Pizza Hut untuk makan malam, lalu ke Sony Center. Salah satu pusat perbelanjaan yang futuristik. Jujur sih, tempat ini gak kaya gambar2nya di google. Biasa banget tempatnya haha. Di sini kami bertemu dengan Atika untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Checkpoint Charlie bertiga. Checkpoint Charlie adalah salah satu tempat tujuan wisata terkenal di Berlin. Tempat ini tadinya merupakan perbatasan Jerman Barat dan Jerman Timur, setiap individu yang lewat akan dicek oleh polisi perbatasan. Masih berbau sejarah, kami menuju ke Eastside Gallery, sisa tembok berlin yang berada di sebelah timur dan penuh dengan grafiti dan gambar-gambar yang unik. Sangat cocok dijadikan background foto. Sayang sekali, hujan mulai turun saat kami di tempat ini. Hujan makin lama makin deras, dan terjadilah hujan badai. Wow! Kami berjalan cukup jauh sampai akhirnya menemukan stasiun U-Bahn. Ga nyangka bakal ada hujan badai di musim panas yang seharusnya cerah. Payungnya si Jeanne pun sampai rusak karena terpaan angin kencang. Baju kami sudah basah semua, payung saja tak cukup untuk menahan hujan angin. Akhirnya sampai juga kita di stasiun U-Bahn dan langsung pulang ke rumah.

1470002723819

Checkpoint Charlie bersama Jeanne dan Atika

img_3480

Kehujanan di Eastside Gallery -sebelum payung Jeanne rusak

1 Agustus, awal dari bulan baru, hari ketiga kami menjelajahi Berlin. Ini adalah hari terakhir saya travelling sama Jeanne karena keesokan paginya dia harus sudah kembali ke Polandia untuk pulang ke Jakarta. Seperti biasa, kami tidur sampai siang dan baru berangkat saat menuju makan siang. Kami makan di kedai bernama Konnopke’s Imbiss (U stop Eberswalder Strasse), salah satu tempat yang juga sangat terkenal. Kedai ini menjual snack khas Jerman, currywurst! Currywurst dan kentang dibanderol dengan harga 3.5 Euro.Rasanya enak! Perut kenyang, kamipun melanjutkan petualangan di kota penuh sejarah ini ke Berlin Memorial Wall. Di tempat ini kita bisa melihat sisa tembok Jerman di sebelah utara. Temboknya cukup panjang, ada beberapa bagian yang temboknya sudah tidak ada dan hanya tinggal pilarnya doang. Di sini banyak cerita mengenai sejarah Jerman Barat dan Jerman Timur, dalam bentuk suara. Juga ada salah satu komplek pemakaman yang sempat dipindahkan karena dibangun tembok Berlin. Di sebelahnya terdapat gedung dimana kita bisa melihat tembok Berlin dari atas dan bisa juga melihat menara pos penjagaan tentara Jerman yang dulu digunakan sebagai tempat para tentara memantau siapa saja yang nekat memanjat tembok Berlin untuk menyeberang dan langsung menembaknya di tempat saat itu juga. Kebayang gue betapa ngerinya.. Masih soal tembok Berlin, Jeanne, yang suka banget sama sejarah, cerita sebuah kisah dimana seorang mahasiswa PhD memiliki rumah di Jerman Barat dan kampusnya di Jerman Timur, di hari saat dia  harus sidang disertasi, tembok Berlin mulai dibangun, diapun tak bisa lagi pergi ke kampusnya yang berada di Jerman Timur. Kebayang sedihnya jadi itu anak..

img_3496

Tampak depan kios Konnopke’s Imbiss, sepertinya salah satu tempat jualan currywurst tertua, sejak 1930 bo!

img_3497

Currywurst-enak, murah dan kenyang

img_3500

Sisa-sisa tembok Berlin

img_3588

View landscape tembok berlin-terdiri dari 2 lapis tembok, di tengahnya ada menara pemantau. Yang berani lewat, langsung ditembak!

img_3558

Katedral Berlin dan kanalnya

img_3580

Katedral Berlin

Selesai ke tempat-tempat bersejarah, kami menuju Alexander Platz untuk berjalan ke arah Berlin Cathedral dan sekitarnya. Katedral Berlin atau Berliner Dom ini sangatlah bagus, dia dikelilingi kanal. Sayang, untuk melihat bagian dalam katedral dipungut biaya, jadilah kita tidak masuk. Di belakang katedral ada sebuah komplek museum yang disebut Museum Island, terdiri dari Old Museum, New Museum, Old National Galery, Bode Museum dan Pergamon Museum. Sementara di sebelah kanan katedral, dipisahkan oleh kanal terdapat Museum DDR, museum interaktif yang menunjukkan cara hidup masyarakat Jerman Timur saat masih dipisahkan oleh tembok Berlin. Kita bisa merasakan bagaimana jadi orang Jerman Timur dengan berbagai game dan pameran menarik di museum tersebut. Sayang, gue tidak masuk ke dalam. Hanya Jeanne saja yang masuk. Tadinya Jeanne dapat info dari temannya kalau DDR Museum adalah museum militer, makanya gue ga mau masuk dan memilih menunggu di luar. Eh, setengah jam setelah Jeanne masuk gue iseng2 liat lobby museum itu dan gue baru tau kalo itu museum menceritakan kehidupan orang Jerman Timur. Tau gitu gue mau masuk ke museum itu! Huff! Masuk sekarang juga udah telat, takutnya malah ga ketemu Jeanne dan berujung cari-carian. Yaudahlah, mungkin next time..

Rasanya hampir semua tempat populer telah kami jelajahi, kami pun memutuskan menutup hari dengan naik bis 100 dari Berliner Dom untuk memutari kota Berlin sampai ujung (Botanical Garden) dan kemudian kembali lagi ke ujung satunya di Alexander Platz.

Overall, perjalanan di kota Berlin ini sangat menyenangkan, gue belajar banyak sejarah di kota ini. Dari sejarah nazi, holocaust dan juga pemisahan Jerman Barat dan Jerman Timur. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, dan terbayang betapa mengerikannya saat itu, saat semua pembantaian tersebut terjadi. Saya beruntung jalan di Berlin ditemani oleh Jeanne, karena dia penggila sejarah, dia menceritakan banyak hal tentang sejarah Jerman yang tidak saya tahu. Dan menjadikan saya semakin suka kota ini.

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

 

40 Hari di Eropa Tengah: Paris dan Bonn

Kalo dari judulnya agak aneh ya, Paris dan Bonn itu kan letaknya bukan di Eropa Tengah, tapi kenapa gue tulis seperti itu? Karena 2 kota itu masuk dalam rangkaian liburan musim panas gue tahun 2016 ini, yang didominasi dengan negara di Eropa Tengah. Paris dan Bonn hanyalah awal dari perjalanan solo travelling gue selama 40 hari. Sebenernya gue juga udah pernah ke 2 kota ini, jadi gue cukup santai di sini dan cuma main-main sama teman aja, ga ada ambisi ngeliat macem-macem lagi.

Oke, jadi perjalanan gue dimulai di Paris tanggal 19 Agustus 2016, gue di sana menghabiskan 5 hari untuk bertemu dengan teman-teman gue. Kebetulan ada temen kampus gue di UI dulu yang lagi jalan-jalan ke Paris, namanya Rio, jadi gue main sama dia dan sama temen gue satu lagi, Rezzy, yang pernah gue ceritain di post tentang Paris sebelum ini. Dulu kita bertiga pernah mimpi bakal ke Paris bareng2, ngupi2 di deket menara eiffel. Eh kesampean! Hahahha. Selain itu, gue ke Paris jg bertemu teman2 yg lain.

Yuhuuu, we are in Paris!

Tanggal 23 Agustus gue beranjak ke Bonn, Jerman dengan menggunakan Flixbus seharga 25 Euro, transit sekali di Brussels. Ada kejadian aneh dengan bus gue dari Brussels ke Bonn. Jadi gue dan para penumpang lain menunggu si Flixbus yang tak kunjung datang, agak aneh karena Flixbus yang pernah gue naikin selalu on time. Terus tiba2 ada satu orang nanya ke Megabus tujuan Koln, si Flixbus yang ke Bonn itu mana, eh si supir Megabusnya bilang, naik ini aja. Lah? Kok aneh bener, gue tau sih Flixbus sama Megabus udah merger. Dan emang, Koln itu deket banget sama Bonn, tapi masa ujuk ujuk ga ada pemberitahuan apa-apa sebelumnya bisa langsung naik Megabus? Tapi karena supirnya bilang begitu ya kita manut-manut aja, daripada ditelantarkan bis yang tak kunjung datang. Gue pun naik megabus dengan dag dig ser, gimana kalo ini bis kaga berenti di Bonn. Setengah jam setelah menaiki megabus, gue dapet pemberitahuan dari pihak flixbus kalo bisnya telat 5 jam! Tanpa ada embel-embel diganti megabus atau apa. WTF! Makin panik lah gue, apa emang seharusnya gue ga naik bis ini? Beberapa jam kemudian bis ini tiba di Bandara Koln dan Bonn. Ternyata bandara kedua kota itu disatuin. Bis ini berhenti di situ. Gue pun tanya sama si supir apa bis ini berenti di Bonn, dan dia jawab engga! Kalo mau turun musti di sini! What?! Yaudah akhirnya gue dan 5 orang lain yang emang mau turun di Bonn turun dari megabus itu, sambil bertanya2 gimana caranya ke kota Bonn dari airport. Si 5 orang lain ini ternyata turun di Bonn cuma buat transit doang, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Barcelona. Gile, makin deg-degan lagi jadi mereka. Mereka cuma bisa transit di Bonn selama 1 jam. Akhirnya dengan dibantu sama orang Jerman, kita menemukan bis buat ke Bonn, dan harus membayar 8 Euro. Tidak! Biaya tak terduga harus dikeluarkan. Tapi yaudahlah, gimana lagi, bagus bisa nyampe Bonn. Sesampainya di rumah Laura gue meng-email flixbus atas kejadian tidak mengenakkan ini. Gue minta ganti pengeluaran gue sebesar 8 Euro, tapi sampe detik ini e-mail gue ga dibalas sama flixbus GRRR.

Keesokan harinya, gue sama Laura berencana nonton Startrek di bioskop. Gue sih sebenernya ga gt doyan, tapi ngikut aja, filmnya pake asli bahasa Inggris juga, ga didubbing ke Bahasa Jerman (oya, fyi, film-film di eropa itu hampir semuanya didubbing ke bahasa negaranya. Misalnya di Prancis didubbing jadi bahasa Prancis. Buat kita yang udah biasa denger pake bahasa aslinya, rasanya aneh banget. Cuma ada sedikit film, yang biasanya terkenal, yang dibiarkan tetap dalam versi aslinya). Habis nonton startrek, kita ke Bierborse. Festival bir dari seluruh penjuru dunia di mana terdapat berbagai bir dari berbagai negara. Gue sendiri ga beli bir, malah beli slushy hahaha. Lebih menarik itu buat gue daripada bir 😛

IMG_3298

Pusat kota Bonn

IMG_3275

Suasana di Festival Bir

IMG_3282

Laura minum bir, saya minum slushy (yang diumpetin :P)

IMG_3283

Salah satu stand bir

5 hari ke depan karena Laura kerja, gue jadi cuma diem aja di kamarnya Laura, kadang-kadang keluar buat jalan-jalan, tapi ga ada ambisi mau kemana mana, karena udah pernah juga ke Bonn. Waktu-waktu ini gue gunakan buat cari couchsurfing selama liburan ke Eropa tengah nanti. Hahah. Jadi intinya gue ke Bonn, cuma numpang hahahaha. Sekalian main sama Laura 😀

Hari Jum’at tanggal 29 Juli malam, gue bersiap pergi ke Berlin dengan menggunakan Polskibus. Gue agak waswas, karena tiketnya itu tiket Polskibus, tapi emang ditulis (ga bener-bener ditulis jadi gue ngira-ngira doang) kalo bakal naik Flixbus, karena dia bekerja sama dengan Flixbus. Bener aja, pas gue nyampe sana yang ada cuma Flixbus, dengan rute dan waktu yang sama dengan yang tercantum di tiket. Gue pun nyamperin supirnya dan jengjeng! Dia bilang nama gw ga ada di daftar penumpang Flixbus. Damn kesialan apaan lagi nih? Langsung panik lah gw. Si supir ini ga gt bisa bahasa Inggris, tapi untung si Laura nganterin gue dan dia ngomong sama Laura pake bahasa Jerman. Si Laura udah jelasin kalo ini polski ada kerjasama sama flixbus dan emang di tiketnya tertera kalo gue bakal naik flixbus. Cuma si supir kekeh gue ga bisa naik karena ga ada nama gue. Bahkan dia ga tau kalo ada kerjasama antara Flixbus dan Polskibus. OMG. Gue coba telp ke customer service Polskibus ga diangkat sama sekali karena itu udah jam 10 malam. Gue panik. Gue ga punya pilihan lain selain beli lagi itu tiket Flixbus on the spot, yang which is sangat mahal, 50 Euro. Sementara gue beli tiket Polskibus cuma 20,35 Euro. Dengan segala ketidakrelaan yang ada, akhirnya gue ngasi lembaran 50 Euro-an sama supir bisnya. Transport termahal sepanjang gue jalan-jalan keliling Eropa satu tahun belakangan :((( Akhirnya gue naik bis, udah mau nangis tuh di dalem bis. Sambil bilang dalam hati, kenapa gue baru mulai trip Eropa tengah udah sial banget ya. Moga2 ini jadi kesialan terakhir gue..

Anyway, besokannya akhirnya gue hubungi customer service Polskibus dan diganti uang gue sebanyak 20.35 Euro. Gue sih ngarepnya 50 Euro yang diganti ya, secara harga pas pertama gue beli bukan segitu. Tapi ya mayanlah daripada lu manyun..

P.S: Yang mengharap isi informatif dari postingan ini, maap banget ya, isinya cuma curhatan kesialan bersama bis-bis ini. Hahaa. Mungkin harusnya judulnya “Drama di Dalam Bus”..

Oiya, kalo mau baca tulisan yang lebih informatif tentang Paris dan Bonn bisa diintip di post ini (untuk Paris) dan ini (untuk Bonn). 

 

40 Hari di Eropa Tengah: Itinerary dan Biaya

Musim panas telah berakhir! Besok sudah masuk kuliah lagi. Masih kebayang-bayang rasanya summer trip gue yang 40 hari kemarin. Berhubung masih segar di ingatan, jadi gue ngepost tentang summer trip dulu ya. Post2 lain yang sebelumnya (kebanyakan jalan2 sih), dipending dan bakal dibuat setelah rangkaian post summer trip. Postingan tentang summer trip akan dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama adalah itinerary secara keseluruhan (beserta rincian biaya) dan bagian kedua ketiga, keempat dan seterusnya adalah tentang cerita di masing-masing kota (ada di hyperlink kota-kota di bawah). Di postingan ini gue cerita tentang itinerary dan biayanya dulu ya.

—-

Musim panas kemarin gue solo travelling selama hampir 40 hari di Eropa Tengah. Jalan-jalannya sendiri cukup santai, satu kota kira-kira 3 malam, jadi ga keburu-buru dan bisa bangun siang untuk menjaga stamina tetep fit dan ga kecapekan. Gue pergi dari 1 kota ke kota lain dengan menggunakan bis. Untuk penginapan, gue menginap di couchsurfing dan juga hostel. Kota-kota yang gue datengin adalah Bonn (Jerman), Berlin (Jerman), Krakow (Polandia), Budapest (Hungaria), Vienna (Austria), Bratislava (Slovakia), Praha (Ceko), Salzburg (Austria), Munchen (Jerman), Frankfurt (Jerman).

Jujur, gue agak takut pas trip ini karena ini pertama kalinya gue pergi selama ini, 40 hari dan sendirian pula ! Untuk penginapan juga gue tidak bisa memastikan dari awal, karena masih menunggu dapat atau tidaknya couchsurfing. Kalo ga dapet baru cari hostel. Jadi deg-degan aja, gimana kalo ntar gue ga dapet tempat tinggal, gimana kalo tiba2 duit gue habis di jalan (secara budget gue terbatas banget), gimana kalo ntar gue sakit di jalan, gimana kalo ntar gue kecapekan dan jadi hilang minat selama travelling, dan berbagai ketakutan lain di dalam otak gue. Ternyata, ketakutan tersebut tidak terbukti sama sekali. Hanya ada beberapa kejadian sial di trip kali ini dan overall itu ga mengganggu trip gue. Setelah travelling pun gue merasa sangat senang, bahkan jadi ketagihan trip selama itu lagi. Sekarang setelah pulang, gue merasa agak hampa, pengen travelling dan pindah-pindah kota lagi tiap harinya. Okedeh, daripada kebanyakan curhat, langsung aja gue share itinerary-nya!

Berikut itinerarynya:

19-23 Juli: Paris dan sekitarnya ketemu sama temen2 gue

23 Juli : Paris-Bonn (Jerman) → 25 Euro, Flixbus

Di Bonn gue menginap di tempat teman selama seminggu. Gue sebenernya pernah ke sini, tapi emang pengen main aja lagi..

29 Juli: BonnBerlin → 20.35 Euro, Polskibus (di sini ada kesialan saat naik bus. Jadi di tiket yang gue beli di Polskibus, ditulis kalo gue akan naik Flixbus karena mereka punya kerjasama. Tapi begitu sampai di TKP gue ditolak sama Flixbus karena nama gue ga ada di daftar penumpangnya dia. Asli panik banget, dan gue ga ada jalan lain selain beli tiket bus lagi on the spot dan itu seharga 50 Euro! Asli kesel banget dan pengen nangis, baru awal trip udah kehilangan duit segitu. Akhirnya gue komplain ke pihak Polskibus dan duit gue yang 20.35 Euro dirembourse. Tapi yang 50 Euro tetep melayang. Mayan lah daripada lu manyun)

Di Berlin gue menginap selama 3 malam di tempat couchsurfing, kebetulan gue nyarinya orang Indonesia biar kemungkinan diterimanya lebih besar.

Berikut tempat-tempat yang gue datengin di Berlin: Brandenburger Tor, Reichstag Building, Check point Charlie, East side Gallery, Berlin Memorial Wall, Holocaust Monument, Berlin Cathedral, Museum Island, Alexanderplatz, Potsdamer Platz.

Di hari terakhir gue ke kota sebelah yang deket banget sama Berlin (bisa naik S Bahn) yaitu Potsdam. Kotanya sendiri bagus, kecil tapi ada istana Sanssouci yang terkenal.

3 Agt: BerlinKrakow → 13.8 Euro, Polskibus (sengaja ambil bis malam biar bisa menginap di bis dan mengurangi biaya penginapan)

Di Krakow gue menginap selama 2 malam di tempat couchsurfing, yang lagi-lagi orang Indonesia, dan ternyata dulu pernah satu fakultas sama gue! Haha. Dunia sempit..

Tempat-tempat yang dikunjungi di Krakow: Main Square, Wawel Castle, St. Mary’s Basilica, Oscar Schlinder Factory (liat dari luar aja), Jewish Quarter (di sini ada food court kecil tempat makanan khas Polandia murah-murah dijual. Zapikanki, sejenis baguette Polandia, ada dari harga 1-3 Euro dan bisa buat dimakan berdua).

5 Agt: KrakowBudapest → 8 Euro, Polskibus

Di Budapest gue menginap di couchsurfing, kali ini orang Hungaria asli yang super baik, selama 3 malam.

Tempat yang gue datengin: Buda castle, Fisherman Bastion, Matthias Church, Parliament Building, St. Stephen’s Basilica, Chain Bridge, Hosok Tere, Citadella (wajib liat night view dari sini, bener2 breathtaking).

8 Agt: BudapestVienna → 9 Euro, Regiojet (baru pertama kali naik regiojet, bus ini kece banget. Harga murah tapi fasilitas kaya pesawat, ada layar kecil di setiap bangku, bisa nonton, dengerin musik, dll; dikasi hot drink, bisa pilih kopi atau cokelat; dipinjami headset dan dipinjami koran)

Di Vienna gue nginep di rumah temennya temen, selama 3 malam.

Tempat yang dikunjungi: Hofburg Palace, Schonbrunn Palace, Belvedere Palace, State Opera, Ring road, Albertina, Museum’s Quarter, Rathaus, Karlskirche, City Centre

11 Agt: ViennaBratislava → 1 Euro, Regiojet (dengan fasilitas pesawat, gue bingung dia dapet untungnya darimana haha)

Di Bratislava gue menginap di host couchsurfing selama 1 malam (host gue pernah dapet beasiswa belajar bahasa Indonesia selama 1 tahun dan dia ngajak temen-temennya org Bratislava yang pernah tinggal di Indonesia juga buat ketemu gue. How cool!). Karena dia cuma bisa ngehost gue selama semalam, maka gue mencari hostel untuk 2 malam selanjutnya. Gue menginap di hostel Possonium: 19 Euro per malam.

Tempat yang dikunjungi: City centre, Michael’s gate, St. Martin’s cathedral, Devin castle (yang ini agak jauh di pinggir kota tapi bagus!), Blue church, Slavin Memorial, Bratislava castle

14 Agt: BratislavaPraha → 10 Euro, Regiojet

Di Praha gue menginap di Hostel Plus selama 3 malam, biaya 7 Euro per malam

Tempat yang dikunjungi: Charles Bridge, Old Town Square, Astronomical Clock, Wenceslas Square, Prague Castle, Jewish Quarter, Dancing House, Lennon Wall, Infant Jesus of Prague (Church)

17 Agt: PrahaSalzburg

Karena biaya bis langsung cukup mahal maka gue memutuskan untuk transit dulu di Munich, dengan rincian sebagai berikut: PrahaMunich → 9 Euro, Eurolines dan MunichSalzburg → 7 Euro, Flixbus

Di Salzburg gue menginap di Hostel Jufa selama 2 malam, harga per malam 26 Euro (biaya penginapan paling mahal selama trip ini, makanya ga mau lama-lama di Salzburg)

Tempat yang dikunjungi: Hohensalzburg castle (dari luar, soalnya masuknya bayar; tapi pemandangannya di atas bukit gitu, bagus), Old Town, Mirabell Garden, Hellburn palace, Nonnberg Abbey, Schloss Leopoldskron.

Kalo punya banyak waktu, gue bakal ke Hallstatt, kota deket sini yang katanya bagus banget dan juga ikut tur mengelilingi danau dan gunung di sekitar Salzburg, yang kece berat. Guengnya ga kesampean, maybe next time!

19 Agt: SalzburgMunich → 9 Euro, flixbus

Di Munich gue menginap selama 4 malam di The Tent Hostel. Hostel ini konsepnya tenda yang sangat unik (akan dibuat postingan sendiri mengenai hostel ini). Gue menginap 2 malam di bunkbed (12 Euro semalam) dan 2 malam di matras (8 Euro semalam).

Tempat yang dikunjungi: Neuchwanstain Castle (tujuan ke Munich emang pengen liat istana ini, jaraknya 3 jam dari kota Munich), City centre, Marienplatz, Rathaus, Englischer Garten, Nymphenburg Palace, Viktualienmarkt, Odeonsplatz.

23 Agt: MunichFrankfurt → 1 Euro, Megabus (gue mendapat sisa-sisa tiket murah Megabus yang terakhir, karena habis ini dia merger sama Flixbus dan harga tiketnya jadi lebih mahal)

Di Frankfurt gue menginap selama 3 malam di tempat teman, sebenernya ke kota ini karena ingin bertemu teman-teman saja.

26 Agt: FrankfurtParis → 19 Euro, Eurolines

Keterangan tambahan:

Gue mencari tiket bus dengan bantuan goeuro.com; di mana kita bisa membandingkan harga 1 bus dengan bus lain, bahkan bisa membandingkan dengan tiket pesawat dan kereta juga. Kalo dilihat dari rutenya agak sedikit muter-muter, karena disesuaikan dengan tiket dengan destinasi termurah.

Untuk makanan, makanan di Eropa Tengah tidak terlalu mahal, contohnya saja di Krakow gue mendapatkan full lunch set dengan harga 3 Euro. Di Budapest dan Praha yang notabene mata uangnya berbeda dari Euro juga tidak terlalu mahal. Sisanya, bila kotanya mahal seperti Salzburg, gue membeli sandwich 2 Euro-an di supermarket.

Dalam perjalanan ini gue banyak mengikuti Free Walking Tour, agar mendapat gambaran sejarah kotanya dengan lebih baik. Tur sejenis ini bisa dicari di google, dengan mengetikkan free walking tour + nama kota tujuan. Turnya sendiri gratis, tapi kita harus memberi tips. Setelah tanya ke beberapa orang tips normalnya, gue cuma ngasih 2 Euro-an aja.

Oya, gue cuma bawa backpack 32 liter (bawa bajunya cuma 7 helai), di sana gue sempat mencuci 2 kali. Satu di tempat teman di Bonn dan satu lagi di Hostel Possonium di Bratislava.

Total biaya transportasi : 132, 15 Euro

Total biaya akomodasi: 151 Euro

Total semua pengeluaran (termasuk transportasi dan akomodasi) selama 40 hari: Sekitar 700 Euro atau Rp 10 juta-an.

IMG_4263

One of the breathtaking view that I’ve seen during my summer trip. Guess where?