67 Hari Keliling Asia Tenggara: Siem Reap (Angkor Wat)

Halo semuanya! Kembali lagi dengan post jalan-jalan keliling Asia Tenggara tahun lalu. Setelah jalan-jalan di ibukota Kamboja, Phnom Penh, gw dan Tichu melanjutkan perjalanan ke kota Siem Reap, tempat dimana terdapat kompleks kuil terkenal: Angkor Wat. Perjalanan dari Phnom Penh ke Siem Reap kami tempuh dengan menggunakan bis Mey Hong seharga 8 USD dengan waktu tempuh 6 jam. Sesampainya di Siem Reap, kami langsung check in di Parent Heritage Angkor Hotel. Kami menginap di hotel ini selama 4 malam dengan harga per malamnya Rp 332.000 sudah termasuk breakfast. Ada cerita unik waktu kami menginap di hotel ini. Jadi kan koper gw roda-nya rusak, karena keseringan ditarik-tarik di jalanan berlubang, terus gw iseng aja tanya sama agen asuransi perjalanan gw, ini bisa dicover asuransi atau ga. Ternyata bisa dong, tapi harus melampirkan surat keterangan dari hotel. Yaudah gw minta owner hotel ini buat bantu gw nulis surat keterangannya. Puji Tuhan, dia mau. Tentu saja sebelumnya gw udah ngobrol-ngobrol dulu sama dia dan emang orangnya friendly, jadi ya gas lah. Lumayan dapet reimbourse-an kerusakan koper hehe. Btw yang mau rekomen asuransi perjalanan oke bisa kontak gw juga ya. Hehe.

Hari 1
Sore menjelang malam kami keluar untuk jalan-jalan di kota Siem Reap. Kami ke salah satu jalanan terkenal yang bernama Pub Street. Di situ banyak bar, restoran dan kehidupan malam. Di dekatnya juga terdapat Old Market, tempat berbelanja suvenir. Setelah minum jus di salah satu kedai di Pub Street, kami makan malam di tempat yang banyak direkomendasikan traveller: Tevy’s Place. Restoran ini dikelola oleh pasangan suami istri Irlandia-Kamboja. Mereka menjual makanan khas Kamboja dan bapaknya (orang Irlandia) ramaaaah bgt, dia ajak ngobrol tamu-tamu restoran termasuk kami. Untuk makanannya rasanya enak, cuma kayanya gw salah pesan. Gw masih penasaran dengan Beef Loc Lac, karena yang kemarin dimakan di Titanic Restaurant rasanya ga seenak yang biasa gw makan di Paris. Yaudahlah ya gw pesan lagi di sini. Ternyata rasanya sama ga enaknya kaya di Titanic Restaurant. Gw mulai berpikir, kayanya emang rasa aslinya kaya gini kali ya. Rasa Beef Loc Lac yang di Paris mungkin sudah dimodif T____T

Kiri: Beef Loc Lac. Kanan: Berpose dengan bapak-bapak Irlandia ramah owner Tevy’s Place.

Hari 2
Hari ini adalah harinya kita menjelajah Angkor Wat! Yeaaaay! Gw penasaran kaya apa sih kompleks kuil populer di Asia Tenggara yang katanya lebih bagus dari Candi Borobudur. Pagi-pagi kami dijemput oleh tur yang sudah kami pesan sebelumnya. Kami memesan tur agar bisa dijemput di hotel dan menggunakan tour guide, dengan harga paket 13 USD. Harga ini belum termasuk harga tiket Angkor Wat yaitu 37 USD. Tiket Angkor Wat sendiri bisa dipesan online. Jika kalian mau berangkat sendiri dari hotel dan tidak membutuhkan tour guide, maka tidak perlu memesan paket 13 USD seperti punya gw. Cuma jujur ya, lebih enak pake tour guide sih, jadi bisa lebih dijelasin sejarah candi-candi yang ada di Angkor Wat.

Angkor Wat. Photo by Tichu.

Angkor Wat sendiri adalah kompleks besar yang terdiri dari beberapa kuil. Tujuan hari ini adalah ke Angkor Wat (kuil yang paling populer), Banteay Kdei, Ta Phrom Temple (kuil tempat syuting film Tomb Raider), Bayon Temple dan Phnom Bakeng Temple. Karena di Kamboja waktu itu lagi panas-panasnya, gw sempet kepanasan dan juga ga kuat jalan. Habis dari Ta Phrom Temple, gw sempet ga ikut turun ke Bayon Temple dan memilih ngadem di mobil. Daripada pingsan ye kan. Dari sekian banyak kuil, yang paling gw suka tentu saja Angkor Wat dan Ta Phrom Temple. Langsung saja kita liat foto-fotonya.

Ini adalah Ta Phrom Temple, terkenal karena menjadi tempat syuting Tomb Raider. Salah satu favoritku!

Sedikit cerita, dulunya kawasan Angkor Wat ini sempat hilang selama 500 tahun dan tertimbun pohon dan tanah. Namun kemudian ditemukan oleh Bangsa Prancis dan dirawat kembali sehingga bisa menjadi warisan UNESCO seperti sekarang. Pada saat itu lah Bangsa Prancis juga mulai menjajah Kamboja.

Bayon Temple, ada yang bisa liat gambar muka di tengah2 candi tersebut?

Menjelang sore, kami menuju ke Phnom Bakeng Temple untuk melihat sunset dari atas. Temple ini memang letaknya di atas bukit, jadi sangat cantik untuk melihat pemandangan ke bawah dan melihat sunset. Ada hal yang gw inget saat mendaki ke atas temple ini, gw ditelpon klien hahaha. Yah begitulah ya nasib jadi digital nomad, lagi mendaki aja telponan sama klien hahaha. Tapi untung deal sih pada saat itu.

Sunset di Phnom Bakeng Temple

Hari 3
Setelah puas menjelajah Angkor Wat kemarin, hari ini kita berjalan-jalan di kota Siem Reap aja. Btw kalo memang kalian Temple Enthusiast, bisa juga membeli 3 days pass untuk keliling semua kuil di Angkor Wat, karena emang kuil-kuilnya sebanyak itu. Kalo ga segitunya sama kuil atau cuma punya waktu dikit di Siem Reap, bisa juga beli 1 day pass seperti gw kemarin.

Hari ini gw kerja dulu di pinggir kolam sampai waktu makan siang. Kemudian kita mencari restoran Malaysia untuk makan siang, rasanya enak dan cocok di lidah kita. Rekomendasi gw kalo mau ke Kamboja tapi pengen makanan yang citarasanya mirip Indonesia, datanglah ke restoran Malaysia. Pasti halal juga.

Kiri: Makan di restoran Malaysia. Kanan: Made in Cambodia Market.

Setelah makan, kita liat-liat ke pasar etnik bernama Made in Cambodia Market. Kemudian kita juga menjelajah beberapa kuil di tengah kota Siem Reap seperti Wat Bo dan Wat Damnak. Selain itu juga ngopi-ngopi cantik di Dialogue Siem Reap. Malamnya kita makan barbecue di pinggir sungai dengan harga yang cukup affordable.

Kiri: Wat Bo. Kanan: Wat Damnak

Hari 4
Hari ini adalah harinya leyeh-leyeh dan bekerja. Hari ini gw seharian di hotel buat bersantai sekaligus menyelesaikan pekerjaan. Sementara Tichu jalan-jalan sendirian di tengah kota. Sore hari-nya kami memesan pijat tradisional Kamboja di kamar hotel. Pijat ini adalah ide dari Tichu, karena gw emang jarang pijat jadi kayanya kalo sendirian juga ga akan mesen pijat hehe. Harganya sendiri adalah 8 USD per orang.

Malamnya, kami menonton pertunjukan sendratari tradisional Kamboja yaitu Apsara Dance di restoran bernama Robam. Di sini kalian bisa makan makanan Kamboja sekaligus menikmati pertunjukannya. Restoran ini terletak di Pub Street jadi mudah untuk ditemukan. Sendratari-nya bagus sih walo ga beda jauh sama yang di Indonesia ya hehe. Pengalaman yang cukup unik, apalagi bisa sambil makan dan juga ditemenin sama Tichu. Lagi-lagi kayanya kalo gw solo traveling ga masuk ke sini juga :))

Kiri: Lagi-lagi makan amok! Kanan: Berpose bersama para penari Apsara Dance.

Malam ini adalah malam terakhir kami di Siem Reap dan juga Kamboja. Sungguh senang apalagi bertepatan dengan International Women’s Day. Kami merayakan wanita dan juga kebebasannya untuk memilih. Seperti kami yang pada saat itu memilih menikmati hidup dengan travelling ke Kamboja. Besok kami akan melanjutkan perjalanan masing-masing. Gw akan melanjutkan trip secara solo ke Thailand dan Tichu akan kembali pulang ke Jakarta.

67 Hari Keliling Asia Tenggara: Phnom Penh

Setelah berpetualang selama 4 hari di Vietnam (Ho Chi Minh City), gw akan melanjutkan perjalanan ke Kamboja tepatnya kota Phnom Penh. Pagi itu gw mengalami kesialan. Gw kehilangan duit 200.000 VND (Rp 127.000) yang baru saja dikembalikan dari hostel untuk deposit. Kayanya duitnya jatuh dari kantong huhu. Gw pun berjalan ke tempat bis yang tidak begitu jauh dari hostel. Bisnya sendiri menggunakan bis Kumho Samco dengan harga Rp 398.000. Adapun waktu tempuh perjalanan Ho Chi Minh menuju Phnom Penh dengan bis adalah 5 jam.

Di Kamboja, mata uang yang digunakan adalah Riel dan USD. Kita dapat menggunakan kedua2nya untuk bertransaksi.

Hari 1

Di Phnom Penh gw memesan White Room Hotel seharga Rp 306.000 semalam. Karena gw berdua sama temen gw, jadi kita pesan hotel dengan harga per orang-nya Rp 153.000. Nah di trip Kamboja ini gw bakal jalan berdua sama temen kuliah S1 gw yang bernama Tichu. Kita bakal eksplor Kamboja selama kurang lebih seminggu.

Setelah gw check in hotel dan bertemu Tichu, kami lanjut makan malam di salah satu restoran yang direkomendasikan bernama Khmer Surin. Kita nyoba berbagai makanan termasuk makanan favorit di Kamboja: Amok Fish. Amok Fish di sini itu enak banget, sampe kita jadikan perbandingan kalo nyobain Amok Fish lain selama di Kamboja.

Khmer Surin dan Amok Fish yang enak

Hari 2

Di hari ini kita bakal jalan-jalan keliling Phnom Penh. Kalo di Kamboja ada yang namany Grab Tuktuk, kita langsung pergi ke destinasi pertama dengan mengggunakan Grab Tuktuk seharga Rp 18.200. Destinasi pertama kita adalah Independence Monument, lalu dilanjutkan ke dekat situ ada Statue of King Norodom. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, kita pun makan siang di salah satu rekomendasi restoran yaitu David Restaurant dengan menunya Khmer Noodle (Rp 70.000 udah sama minum). Jujur, lebih enak mie2-an yang ada di Vietnam daripada ini wkwk. Kalo Tichu mesen Vegetarian Amok.

Nah karena tempat makan siangnya panas, kami lanjut ngopi dan ngadem di Coffee Today. Gw mesen Thai Tea dengan harga Rp 32.000. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan ke National Museum of Cambodia. Kita ga masuk ke dalam karena tiketnya mayan mahal, jadi cuma keliling di luarnya aja. Itu aja udah cakep banget. Setelah itu kita lanjut ke Royal Palace, istana raja dengan harga tiket masuk 10 USD. Untuk masuk ke istana ini harus berpakaian sopan, lutut dan lengan ga boleh keliatan. Jadilah gw masuk sini pake cardigan hitam. Istananya sendiri cukup ok, walau menurut gw lebih bagus Royal Palace yang di Bangkok. Di kompleks Royal Palace kita juga bisa melihat Silver Pagoda.

Kiri: National Museum of Cambodia. Kanan: Royal Palace

Setelah dari Royal Palace kita ke temple lagi yang bernama Wat Phnom Daun Penh, kemudian jalan-jalan juga di tepi sungai di tempat yang bernama Sisowath Quay. Hari sudah menunjukkan sore hari, kita pulang ke hotel untuk mandi, karena habis itu akan dinner bersama teman kuliah S2 gw orang Kamboja yang bernama Vattey.

Sekitar pukul 7 kami dijemput Vattey menaiki mobil, kemudian kami makan malam di restoran pinggir sungai Mekong yaitu Titanic Restaurant. Dinamakan Titanic Restaurant karena bentuknya yang menyerupai kapal. Makanannya sendiri menurut saya masih kurang enak dibandingkan Khmer Surin. Saya menghabiskan Rp 196.000 untuk makan di sini. Maklum, tempatnya mayan fancy dengan view yang ciamik walaupun makanannya agak kurang. Salah dua dari tiga makanan yang kami pesan adalah Beef Loc Lac dan Amok 3 rasa. Gw dulu pas kuliah di Prancis suka banget makan Beef Loc Lac, makanya pengen ngerasain di negara asalnya. Taunya pas cobain ga enak huhu. Tapi besok masih mau coba lagi di tempat lain, siapa tau emang restorannya aja yang masaknya ga enak wkwk.

Bersama Vattey (kiri) dan Tichu (kanan) di Titanic Restaurant

Hari 3

Hari ini adalah hari wisata depresi. Gw akan masuk ke museum-museum dimana terdapat sejarah Pembantaian Khmer Rouge. Museum pertama adalah Tuol Sleng Genocide Museum atau S21 Prison dengan tiket masuk 5 USD (Rp 79.000). Tuol Sleng Genocide Museum adalah penjara tempat para korban Khmer Merah ditangkap dan disiksa. Sebelum tahun 1975 saat Khmer Merah berkuasa, tempat ini tadinya adalah sekolah. Khmer Merah yang dikepalai Pol Pot berkuasa dari tahun 1975 sampai 1979. Setelah mengkudeta pemerintahan saat itu, Pol Pot menjadi kepala negara diktator dan genosida terjadi di Kamboja.

Gedung sekolah yang dijadikan penjara Khmer Merah

Sedih banget rasanya berada di sini. Ada ya orang sejahat itu membantai manusia lain demi kekuasaan :”

Setelah wisata depresi yang pertama, gw dan Tichu bertemu dengan temen gw, orang Indonesia yang tinggal di Kamboja: Ega, untuk makan siang bersama. Kami makan siang menu fusion Kamboja di restoran yang bernama Labaab Restaurant. Sumpah ini restoran enak banget, kayanya jadi restoran terenak yang gw makan selama 67 hari keliling Asia Tenggara ini. Harganya setelah dibagi 3 adalah Rp 138.000.

Ini restoran paling enak yang gw makan selama trip ini: Labaab Restaurant

Setelah makan siang, gw melanjutkan wisata depresi kedua. Gw pergi sendiri karena Tichu ga mau tambah depresi. Kali ini tempatnya bernama The Killing Fields, udah keliatan ya dari namanya ini tempat apa. Tempat ini adalah tempat dimana para tahanan di masa Khmer Merah dieksekusi mati. Jaraknya sekitar 40-50 menit dari kota Phnom Penh dengan menggunakan tuk tuk. Jujur gw agak kasian sama abangnya sih jalan sejauh itu wkwk, cuma kayanya dia ga keberatan. Untuk harga tiket masuk Killing Fields sendiri adalah 6 USD, sudah termasuk audio guide. Killing Fields ini adalah 1 dari ratusan tempat eksekusi yang tersebar di seluruh Kamboja.

Foto sebelah kanan adalah pohon dimana anak kecil dibantai, kepalanya dilempar ke tembok sampai meninggal. Mereka membantai anak kecil juga karena takut jika tetap hidup, akan membalaskan dendam orang tua-nya yang dibunuh.

Di masa Khmer Merah, sebanyak 3 dari 8 juta warga Kamboja dibunuh. Yang artinya hampir 40% dari populasi Kamboja. Bapaknya Vattey sendiri punya 11 saudara, dan 8 di antaranya meninggal di masa itu T___T Betapa ngeri dan biadabnya Khmer Merah ya. Meskipun kekejaman Khmer Merah berhenti di awal 1979 karena terjadinya kudeta, namun Pol Pot masih berkeliaran bebas sampai tahun 1990-an dan Khmer Merah masih beroperasi. Ia meninggal di tahun 1998. Baru pada tahun 2000-an para penjahat ini, para petinggi Khmer Merah diadili dan dihukum seumur hidup.

Foto sebelah kanan adalah tugu pusat peringatan, di dalamnya terdapat tengkorak para korban. Beberapa banyak yang berlubang karena dibunuh dengan cangkul, tongkat dan alat-alat lain. Khmer Merah tidak menggunakan pistol karena peluru harganya mahal.

Bener-bener hari ini wisata depresi. Tapi seru juga karena jadi mengenal sejarah Kamboja. Buat yang suka sejarah, aku rekomendasiin dateng ke Phnom Penh.

Selesai sudah 3 hari di Phnom Penh, besok saatnya pindah ke kota lain di Kamboja yaitu Siem Reap, tempat dimana Angkor Wat berada.

67 Hari Keliling Asia Tenggara: Ho Chi Minh City

Halo guys! Kembali lagi di travel blog gw! Setelah kemaren gw merincikan itinerary dan biaya di sini, sekarang saatnya gw cerita per negara. Perjalanan gw dimulai dari Vietnam tepatnya kota Ho Chi Minh City, di sini gw akan stay selama 4 hari untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja. Untuk mata uang Vietnam sendiri namanya adalah Dong. Kursnya itu 10.000 VND sekitar Rp 6.300. Saran gw kalo mau ke Vietnam, bisa menukar uang di money changer di Indonesia, karena kalau mau tarik ATM rate-nya mahal bgt! Dan di sini kalo kepepet mau tuker uang bisa bawa USD dan dituker di toko emas. Yak, toko emas ratenya lumayan bagus kalo di Vietnam dibanding money changer. Ok deh, langsung aja kita lanjut ke cerita perjalanan gw ya!

Hari 1
Berangkat dari Jakarta ke Ho Chi Minh City dengan maskapai Vietjet Air (3 jam): Rp 1.181.000.
Begitu landing naik bis kecil 109 persis di depan bandara menuju ke tengah kota. Harganya cuma Rp 10.000! Dengan tambahan Rp 10.000 lagi untuk 1 koper. O ya, di perjalanan kali ini gw bawa koper ukuran medium karena tangan gw udah ga kuat gendong backpack sejak patah tulang T___T
Bisnya kebetulan lewat depan hostel gw, jadi gw bisa turun di dekat situ. Gw memesan kamar di 9 Hostels & Suites, female dorm yang 1 kamarnya berisi 8 orang. Harga: Rp 75.000 per malam. Di Vietnam emang murah-murah, hostel di sini rate-nya ga nyampe Rp 100.000.

Setelah naruh koper di hostel, gw langsung jalan kaki ke Bui Vien Walking Street, jalanan terkenal di HCM. Di sini banyak resto, bar, coffee shop, tempat dugem dan kehidupan malam yang menyala. Bahkan ada debus juga alias orang makan api :O

Gw makan malam di Bun Cha 145, yang terkenal dengan Bun Cha (Rp 51.000). Bun Cha ini dalemnya babi. Rasanya enak, dan bikin nagih. Dalam trip ke Vietnam ini Bun Cha menjadi comfort food gw. Beberapa kali makan Bun Cha, soalnya di Indonesia susah nyarinya. Setelah jalan-jalan dan makan di Bui Vien, gwpun pulang ke hostel.

Makanan pertama di Vietnam: Bun Cha

Hari 2
Hari ini bangun agak siang, leyeh-leyeh, kerja bentar, baru cabut buat makan siang. Gw makan siang di Banh Mi Huynh Hoa, banh mi viral yang antriannya cukup panjang, apalagi di bawah panas matahari. Banh Mi ini non-halal, harganya Rp 44.000. Banh Mi itu adalah baguette dengan isian macem-macem. Kuliner Vietnam memang terpengaruh dari Prancis, karena bekas jajahan Prancis. Rasanya enak, dan bisa buat 2 kali makan karena isiannya banyak banget!

Banh Mi Huynh Hoa, isiannya ga pelit, mostly babi 🙂

Habis makan kita tur keliling Ho Chi Minh, gw jalan kaki ke Reunification PalaceSaigon Central Post Office yang cakepp banget – Cathédrale Notre Dame de Saigon yang masih direnovasi – City Hall yang bangunannya mirip kaya di Prancis Selatan dan yang terakhir ke Saigon Opera House. Gw juga sempet jalan-jalan di tengah kota, belanja di mall, ngadem di café lalu sorenya bungkus makanan buat makan malam di hostel.

Saigon Central Post Office yang rasanya kaya di Prancis

Hari 3
Hari ini juga baru jalan siang-siang. Maklum ya, namanya juga travelling sambil kerja, ga diburu-buru waktu jadi jalan ya sesukanya aja. Itu juga yang bikin gw stay di 1 kota 3-4 hari biar bisa santai, bisa kerja pokoknya woles lah. Pengennya berasa kaya lagi di rumah tapi pindah-pindah kota 😀
Siang ini gw coba makanan lokal lagi namanya Bun Rieu, yang ada di restoran Bun Rieu Ganh (Rp 38.000). Bun Rieu ini isinya ada bihun, darah babi, daging kepiting, tomat dan lain-lain. Banyak banget ingredient di situ, tapi secara rasa gw masih lebih suka Bun Cha.

Makan ala warga lokal di Bún Rieu Gánh

Setelah itu gw ikut tur ke Cu Chi Tunnels. Gw ikut tur dari Viator seharga Rp 284.000 . Meeting point di kantor travelnya terus kita naik bis ke Cu Chi Tunnels kira2 sejam. Cu Chi Tunnels itu sebuah kompleks di mana banyak terowongan yang dibuat saat perang Vietnam. Tentara Vietnam Utara banyak bersembunyi di terowongan ini dan mengatur strategi melawan musuh: tentara Vietnam Selatan dan Amerika Serikat. Di sini juga banyak jebakan-jebakan yang dibuat untuk menjebak musuh. Di sini kita juga bisa latihan menembak, yang harus menggunakan headphone khusus agar tidak merusak telinga. Overall menurut gw turnya oke sih, cuma… tour guidenya aksen Vietnamnya kental banget, gw jadi ga bisa terlalu nangkep dia ngomong apa T_T

Cu Chi Tunnels, merasakan ngumpet di bawah tanah seperti jaman Perang Vietnam

Malemnya, gw makan Pho (Rp 67.000) di restoran deket hostel, namanya Pho Ong Cat Gia Truyen. Rasanya enak sih, tapi somehow yang di Indo lebih gurih. Kayanya emang ditambahin micin yang di Indo hahahaha.

Hari 4
Pagi ini dimulai dengan kerja, ngobrol sama temen baru di hostel dan santai-santai. Siang baru gw makan Bun Bo (lupa nama tempatnya, tapi inget harganya: Rp 42.000 hahaha). Terus gw ke War Remnant Museum, salah satu museum yang recommended di Ho Chi Minh bahkan dapet penghargaan Trip Advisor dari tahun 2012 sampai 2014. Harga tiket masuknya sendiri adalah Rp 26.000. Murah ya, bikin betah ke museum di Asia Tenggara, harganya ga semahal Eropa haha. War Remnant Museum sendiri menceritakan sejarah perang Vietnam secara detail, banyak gambar-gambar yang disturbing, menurut gw kurang rekomen buat anak kecil. Ruangannya sendiri banyak yang hanya menggunakan kipas angin, tanpa AC, jadi berasa deh tuh bau ketek para turis yang kebanyakan bule, semerbak haha. Museumnya bener-bener bagus, gw lumayan lama di sini dan investasi perasaan juga, sedihnya berasa banget. Recommended pokoknya.

War Remnants Museum tampak depan

Setelah dari museum, gw ke Tan Dinh Church atau yang lebih dikenal dengan Pink Church. Warna pinknya cantik banget! Untuk makan malam, gw makan Banh Xeo di restoran Banh Xeo 46A. Banh Xeo sendiri adalah pancake goreng yang didominasi dengan toge dan udang. Harganya Rp 70.000. Menurut gw sih terlalu banyak minyak dan kurang berasa ya. Tapi gapapa, buat nyobain aja.

Salah satu makanan yang orang2 suka tapi gw ga suka: Banh Xeo. Kebanyakan minyaknya, shay!

Setelah makan Banh Xeo, saya pun pulang ke hostel dengan naik grab bike. Malam ini adalah malam terakhir di Vietnam, besok kita sudah pindah negara dan kota yaitu Kamboja!

67 Hari Keliling Asia Tenggara: Itinerary

Halooo semuanya! Akhirnya sempet nulis blog lagi! Kali ini gw mau cerita tentang perjalanan gw 67 hari Keliling Asia Tenggara. Perjalanan terlama gw seumur hidup! Tadinya mau 90 hari, cuma karena 1 dan lain hal akhirnya berhenti di hari ke-67. Haha. Perjalanan ini adalah perjalanan Solo Travelling kecuali di Kamboja, di mana temen gw Tichu ikut ngetrip selama seminggu. Di blog ini gw akan cerita rekap perjalananan gw. Adapun gw keliling ke 4 negara: Vietnam, Kamboja, Thailand dan Laos dengan total 17 kota. Perjalanan ini dimulai di 27 Februari 2024 dan berakhir di 3 Mei 2024 . Di post ini gw hanya akan menulis ringkasan itinerary, beserta harga penginapan dan transportasi. Untuk detail tempat wisata yang gw datengin akan dibuat di beda post, 1 negara 1 post. Langsung aja kita intip rekapnya!

Hari 1: Jakarta-Ho Chi Minh dengan maskapai Vietjet Air (3 jam): Rp 1.181.000.
Hari 1-4: Ho Chi Minh City, Vietnam. Menginap di 9 Hostels & Suites. Harga: Rp 75.000 per malam.
Hari 5: Perjalanan dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh, Kamboja dengan bis Kumho Samco. Total perjalanan: 5 jam, harga: Rp 398.000. Semua bis di trip Asia Tenggara ini gw beli di website 12GO.
Hari 5-7: Phnom Penh, Kamboja. Penginapan: White Corner Hotel. Harga: Rp 153.000 per malam (setelah dibagi 2 sama temen)

Bersama teman kuliah S1 (Tichu) & S2 (Vattey – Orang Kamboja) di resto tepi Sungai Mekong, Phnom Penh

Hari 8: Perjalanan dari Phnom Penh ke Siem Reap, Kamboja dengan Mey Hong bus. Total perjalanan: 6 jam, harga: Rp 132.000
Hari 8-11: Siem Reap, Kamboja. Penginapan: Hotel Parent Heritage Angkor. Harga: Rp 332.000 per malam (dibagi 2 sama temen)

Hari 12: Siem Reap-Bangkok dengan Travel Mart Bus (best bus!). Total perjalanan: 9 jam. Harga: Rp 550.000
Hari 12-14: Bangkok dan Ayutthaya. Penginapan: Travelier Hostel, Rp 133.000 per malam.

Hari 15: Perjalanan dari Bangkok ke Chiang Mai, Thailand dengan kereta. Total perjalanan: 10.5 jam. Harga: Rp 416.000.
Hari 16-19: Chiang Mai, Thailand. Penginapan: @Home Hostel. Harga: Rp 99.000 per malam

Hari 20: Chiang Mai-Chiang Rai dengan bis. Total perjalanan: 4 jam. Harga: Rp 118.000
Hari 20-23: Chiang Rai, Thailand. Penginapan: Baan Mai Kradan Hostel (best hostel!). Harga: 118.000 per malam

Di salah satu kuil terbagus yang pernah aku temui: White Temple, Chiang Rai

Hari 24: Chiang Rai-Chiang Mai dengan bis. Total perjalanan: 4 jam. Rp 118.000
Chiang Mai-Nong Khai dengan bis (overnight). Total perjalanan: 11.5 jam. Rp 478.000
Hari 25: Nong Khai-Vientiane dengan mini van. Total perjalanan: 1.5 jam. Rp 260.000
Hari 25-28: Vientiane, Laos. Penginapan: Dream Home Hostel (worst hostel!). Rp 122.000 per malam.

Hari 29: Vientiane-Vang Vieng, Laos dengan kereta cepat (1 jam). Rp 350.000
Hari 29-32: Vang Vieng, Laos. Penginapan: Vang Vieng Rock Backpacker Hostel. Rp 122.000 per malam.

Hari 33: Vang Vieng-Luang Prabang, Laos dengan kereta cepat (1 jam). Rp 344.000
Hari 33-37: Luang Prabang, Laos. Penginapan: Sunset Riverside Hostel. Rp 99.000 per malam.

Cantiknya pemandangan di kota Vang Vieng, Laos


Hari 37-38: Luang Prabang-Hanoi, Vietnam dengan bis. Total perjalanan: 26 jam (!!!). Harga: Rp 842.000
Hari 38-43: Hanoi, Vietnam. Termasuk day trip ke Halong Bay dan Incense Village. Penginapan: Golden Diamond Hotel (Rp 271.000 per malam) dan Hanoi Boutique House (Rp 533.200)

Hari 44: Hanoi-Sa Pa dengan bis (6 jam). Rp 273.000.
Hari 44-47: Sa Pa, Vietnam. Penginapan: Lustig Hostel (Rp 63.000)

Hari 48: Sa Pa-Ninh Binh dengan bis (Perjalanan: 9 jam, termasuk transit di Hanoi). Harga: Rp 550.285
Hari 48-51: Ninh Binh, Vietnam. Penginapan: City Garden Hostel (Rp 52.000)

Hari 51-52: Ninh Binh-Hoi An dengan bis overnight (14 jam). Rp 300.000
Hari 52-56: Hoi An, Vietnam. Penginapan: BAP Homestay (Rp 217.000 per malam)

Hari 56-57: Hoi An-Nha Trang dengan bis overnight (11 jam). Rp 553.000
Hari 57-59: Nha Trang, Vietnam. Penginapan: Mojzo Inn Boutique Hotel (best hotel!). Rp 215.000 per malam.

Hari 60: Nha Trang-Da Lat dengan mini van (3.5 jam). Rp 194.000.
Hari 60-62: Da Lat, Vietnam. Penginapan: Pretty Backpackers House (Rp 102.000 per malam)

Hari 63: Da Lat-Mui Ne dengan bis (4.5 jam). Rp 237.000
Hari 63-65: Mui Ne, Vietnam. Penginapan: T House Homestay (Rp 127.000 per malam).

White Sand Dunes, Mui Ne, Vietnam

Hari 66: Mui Ne – Ho Chi Minh dengan bis (4 jam). Rp 212.000
Hari 66: Ho Chi Minh, Vietnam. Penginapan: 9 Hostels and Suites (Rp 76.000 per malam).
Hari 67: Ho Chi Minh-Jakarta dengan maskapai Vietjet Air (3 jam). Rp 1.352.400

Panjang ya, perjalanan gw! Hahahhaa. Mostly untuk transportasi gw menggunakan bis, cuma naik kereta beberapa kali termasuk di Thailand dan Laos. Gw beli tiketnya semua di website 12GO. Untuk penginapan, gw kebanyakan di hostel, tapi pas di Vietnam gw cobain beberapa kali di hotel karena harganya lumayan terjangkau, kecuali yang di Hanoi! Nanti gw ceritain di post lain kenapa bisa dapet hotel semahal itu -___-

Untuk itinerary-nya memang sengaja gw buat 1 kota 3-4 hari karena gw kan travelling sambil kerja, jadi biar masih bisa disambi kerja dan ga buru-buru dikejar waktu. Kalau kalian cuma punya waktu liburan singkat, jumlah harinya bisa menyesuaikan. Yasudah segitu dulu post kali ini yang dipenuhi angka-angka. Sampai jumpa di post berikutnya! Lagi mikir mau Kamboja dulu atau Vietnam dulu! Haha. Ciao!


What to do in Semarang?

Halo semuanya! Apa kabar? Udah lama banget ga nulis di blog ini ya. Belakangan udah terlalu sibuk sampai blog ini terlupakan hahaha. Well, karena lagi ada waktu luang, gw bakal cerita tentang pengalaman gw ke Semarang selama seminggu di akhir tahun 2022. Sebenernya bukan cerita pengalaman sih, gw bakal merangkum tempat-tempat yang musti dikunjungi selama di Semarang. Enjoy!

1. Kota Lama
Rasanya ke Semarang belum lengkap tanpa ke Kota Lama. Kota Lama ini mirip kaya Kota Tua di Jakarta, tapi lebih kecil. Beberapa spot yang penting di kota lama: Spiegel dan Gereja Blenduk. Kemarin waktu ke sana, gw ikut walking tour dari Bersukaria Walk. Jadi bisa dijelasin sama guide-nya sejarah mengenai bangunan-bangunan plus difotoin foto-foto kece. Rekomendasi resto di Kota lama: Warung Koyor. Jujur waktu itu ga sempet ke sini, tapi guide-nya bilang di sini enak 😀

Salah satu sudut di Kota Lama Semarang

Kita juga diajak jalan-jalan ke depan pabrik rokok Praoe Lajar

Salah satu sudut Kota Lama Semarang

2. Lawang Sewu
Nah ini juga salah satu yang wajib dikunjungi saat ke Semarang. Harga tiket masuk Lawang Sewu adalah Rp 20.000 untuk dewasa. Lawang Sewu ini tadinya adalah Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api. Sekarang ia menjadi museum yang menceritakan tentang perkeretaapian dari masa ke masa. Pas ke Lawang Sewu gw juga nyewa guide biar tau cerita di baliknya. Dan biar ada yang motoin juga hahaha. Turned out hasil jepretan si guide ini emang bagus banget. Harga guide-nya suka rela dengan perkiraan 50-100 ribu, cuma karena gw puas banget, jadilah gw kasi 150.000.

3. Simpang Lima
Yang ini khusus buat pecinta kuliner. Di simpang lima ini banyak banget kuliner khas Semarang yang bisa dijajal, dari Pecel, Tahu Petis, Lumpia dan lain-lain. Gw ke sana waktu itu pengen banget nyobain tahu petis terkenal, yang bernama Tahu Petis Prasojo cuma sayang banget lagi tutup. Akhirnya, gw makan tahu gimbal, yang juga merupakan kuliner khas Semarang. Di simpang lima ini kita juga bisa main kendaraan warna-warni gitu ngiterin simpang, tapi waktu itu gw ga sempet main. Hehe.

4. Klenteng Sam Poo Kong
Klenteng ini adalah klenteng terbesar di Indonesia. Didirikan untuk menghormati Laksamana Cheng Ho, penjelajah terkenal asal Cina yang pernah berlabuh di Semarang. Kompleks ini terdiri dari beberapa klenteng dengan tema masing-masing. Di bagian belakang, terdapat ukiran kisah perjalanan hidup Laksamana Cheng Ho. Untuk masuk ke sini kita harus membayar sebesar Rp 10.000 (weekdays) dan ini baru sampe di area luar. Kita dapat juga membeli tiket terusan termasuk untuk masuk ke tiap klenteng, sebesar Rp 30.000 (weekdays). Saat itu, saya juga menyewa tour guide yang standby di area pintu masuk kuil, biar lebih asik dan tahu cerita di balik klenteng ini.

5. Chinatown
Sebenernya daerah Chinatown ini cukup luas, kita bisa ke klenteng Tay Kak Sie, mencicipi lumpia semarang di Gang Lombok dan tentunya wisata kuliner di Pasar Malam Semawis yang hanya buka di malam hari pada saat weekend. Ornamen khas Tiongkok pun banyak bertebaran di daerah ini, menjadikan tempat ini juga asik untuk dibuat foto-foto. Sebenernya banyak klenteng yang bertempat di sini, tapi yang paling rekomen itu klenteng Tay Kak Sie. Cukup gw aja lah, yang cape-cape muterin semua klenteng di Chinatown, kalian yang baca blog ini gw kasi review yang musti dikunjungi aja. Haha.

Klenteng Tay Kak Sie
Suasana di Pasar Semawis

6. Museum Kota Lama
Selama di Semarang, gw mengunjungi sekitar 5 museum dan yang paling rekomen menurut gw itu adalah Museum Kota Lama. Museum Kota Lama menceritakan sejarah kota Semarang dengan modern dan interaktif. Harga tiketnya sendiri gratis, tapi harus mendapatkan slot untuk waktu yang available di aplikasi Lunpia. Selain menceritakan sejarah Kota Semarang, di museum ini kita juga bisa melihat artefak kereta api tua. Secara tidak sengaja, orang-orang yang membangun museum ini menemukan bangkai kereta api di bawah tanahnya.

7. Brown Canyon
Brown Canyon ini bisa dibilang letaknya agak di luar kota Semarang, jaraknya sekitar 40 menit dari kota Semarang. Kita bisa memesan taksi online untuk ke tempat ini. Brown Canyon ini unik karena landscape-nya sendiri tercipta dari proyek galian pertambangan yang sudah ada lebih dari 10 tahun. Bahkan sampai sekarang masih digunakan untuk pertambangan. Di sini banyak debu, jadi rekomen untuk pakai masker. Waktu yang paling pas untuk berkunjung adalah sore hari. 1 tips lagi: kalau menggunakan taksi online, mending supirnya disuruh nunggu kita terus kita bayar lebih untuk kembali ke kota Semarang, karena katanya bakal agak susah kalau mesan dari Brown Canyon, jarang yang mau ambil!

8. Museum Kereta Api Ambarawa
Kalo teman-teman punya banyak waktu di Semarang, gw saranin main ke kota sebelah yaitu Ambarawa, untuk merasakan naik kereta api wisata diesel dari Ambarawa ke Tuntang. Kita bisa naik kereta api ini dari Museum Kereta Api Ambarawa, tapi harus datang pagi agar tidak kehabisan tiket (tiket tidak dijual online). Harganya sendiri adalah Rp 120.000 untuk PP selama kira-kira sejam. Di kereta ini, akan ada pemandu yang menceritakan sejarah kereta api ini (dan kereta api uap yang dulu dipakai) dengan gaya bercerita yang menarik. Kalian juga akan disajikan pemandangan sawah yang sangat cantik selama perjalanan. Bener-bener keren sih!

Selain naik kereta api ini, kalian juga bisa melihat museum kereta api Ambarawa dengan beberapa keunikan mengenai kereta api di dalamnya.

Salah satu koleksi di Museum Kereta Api Ambarawa

Naik kereta Ambarawa-Tuntang

Pemandangan selama perjalanan kereta Ambarawa-Tuntang

Nah, kalo ke Ambarawa, ada 1 lagi tempat yang gw rekomendasiin namanya Eling Bening. Dari sini kalian bisa liat pemandangan alam di sekitar Ambarawa dari ketinggian yang bener-bener cakep. Ada restoran juga di sini. Cocok untuk makan siang atau sekedar ngemil cantik, sambil menikmati pemandangan.

Pemandangan dari Eling Bening

Sebenernya banyak tempat yang gw datengin selain tempat-tempat di atas, tapi dari yang gw datengin ya yang paling rekomen menurut gw yang gw tulis di sini. Jadi ikutin aja tempat-tempat ini ya. Dijamin puas selama berada di Semarang. See you! 😀

Fourth Week in Bali: Menjangan

Haloooo semuanya!
Ketemu lagi dengan cerita gw nomad sebulan di Bali.
Nah, di postingan terakhir ini gw akan menceritakan minggu keempat gw di Bali. Buat yang ketinggalan postingan selama gw di Bali, bisa dicek di sini ya.

Di minggu keempat ini sebenernya gw ga cuma ke Menjangan aja. Gw ke Pulau Menjangan sekitar 4 hari. Sisanya, gw eksplor bagian-bagian Bali yang lain dan juga ada kalanya gw cuma diem aja di hotel buat kerja.

Nah, pertama gw akan cerita dulu perjalanan gw 4 hari di Pulau Menjangan.

Hari 1
Perjalanan dari Seminyak ke Banyuwedang.
Banyuwedang ini terletak di ujung Barat Pulau Bali, sudah dekat dengan Gilimanuk dan tempat penyebrangan kapal ke Pulau Jawa. Nah, Banyuwedang ini letaknya dekat dengan Pulau Menjangan, destinasi gw kali ini. Di sini gw menginap di Yuda Homestay selama 3 hari dengan harga Rp 200.000 per malamnya. Yuda Homestay ini mendapat rating di atas 9 di Booking.com, reviewnya bagus-bagus dan highlightnya adalah sang owner, Bli Yuda dengan servis dan hospitality yang luar biasa.

Gw memesan servis antar jemput di Yuda Homestay, dari Seminyak ke Banyuwedang dengan membayar Rp 600.000. Gw dijemput langsung oleh anak laki-laki Bli Yuda bernama Kadek. Nah, selama perjalanan ke Banyuwedang, kami berhenti di Puncak Wanagiri, untuk melihat pemandangan Danau Buyan dan Danau Tamblingan. Gw juga makan siang di sini, pemandangannya cakep banget. Setelah itu, kita juga main di Air Terjun Munduk. Total perjalanan dari Seminyak ke Banyuwedang sekalian mampir di Puncak Wanagiri dan Air Terjun Munduk sekitar 7 jam. Gw sampai di Yuda Homestay sekitar jam 16.00. Setelah itu kembali bekerja dari Homestay.

Hari 2
Snorkeling di Pulau Menjangan

Agenda hari ini adalah snorkeling! Gw menghabiskan sepagian dengan snorkeling di 2 tempat di Pulau Menjangan. Karena saat itu sedang low season dan sehabis pandemi belum banyak turis yang datang ke Menjangan, gw jadi ga bisa share kapal sama turis lain. Jadilah gw pesen tuh kapal sendiri, alias private! Hahahhaa. Gile, kapan lagi snorkeling nyewa kapal sendirian. Mahal sih, harganya Rp 900.000 untuk 3 jam. Tapi udah ga ada pilihan lain kalo mau snorkeling saat itu juga. Akhirnya gw snorkeling sendiri dipandu oleh snorkeling leadernya, yang tentu saja jadi kaya private guide, gw kemana-mana pas berenang ngikutin dia hahahaha. Biota bawah laut di Pulau Menjangan ini baguuuuus banget, lebih bagus dibanding 2 tempat yang sebelumnya gw datengin di Nusa Penida dan Amed. Super recommended!

Dan guess what.. saat gw posting di story tentang Pulau Menjangan ada temen gw yang komen: “Eh, kita kan pernah ke Pulau Menjangan juga ya ikut open trip beberapa tahun yang lalu.” Anjir! Gw baru inget! Asli hahahahhaa. Pantesan kok kaya familiar, ternyata emang gw pernah ke sini dan gw bener-bener lupa sama sekali. Setelah gw liat-liat, bahkan jejak digitalnya ada di sini! Hahahhaa. Gw antara nyesel ngapain ke sini lagi, tapi di sisi lain hepi juga sih karena emang tempatnya bener-bener bagus hahaha. Dan waktu itu kan snorkeling doang, ga ke tempat-tempat lain juga.

Sorenya setelah snorkeling dan istirahat tipis-tipis, gw makan di Restoran Pasir Putih sampai malam hari. Restoran ini adalah bagian dari Hotel Dynasty, Menjangan. Hotel bintang lima di kawasan ini. Gw ke sini diantar oleh Putu, anaknya Bli Yuda yang perempuan. Dan dengan baiknya, selama gw makan di sini sekitar 3 jam, Putu mau nungguin gw di pantai, biar gw bisa balik lagi ke Homestay naik motor sama dia. Huhu. Emang bener deh hospitality Bli Yuda dan keluarga ini mantappp.

Restoran ini berada di pantai pasir putih dan menghadap laut. Pemandangannya ciamik tapi harga makanannya lumayan mahal, hahaha. Yah secara ini bagian dari Hotel Dynasty jadi ya sudahlah ya. Uniknya, saat kami sedang makan, ada menjangan (sejenis rusa) lewat depan kami! Hahahhaha. Wowww!

Hari 3
Snorkeling di Pantai Pemuteran dan Mangrove Tour

Di pagi hari, gw ke Pantai Pemuteran yang berjarak sekitar 15 menit dari homestay. Gw ke sini diantar oleh Kadek. Di pantai ini, gw snorkeling sendiri tanpa guide, dan melihat biota laut yang juga cakep. Habis snorkeling, gw nyemil-nyemil di restoran deket situ.

Sorenya, gw ikutan Mangrove Tour yang juga diarrange oleh Yuda Homestay. Jadi kita akan berkeliling Taman Nasional Bali Barat dengan menggunakan perahu untuk melihat hutan mangrove dan burung-burung langka yang ada di sana. Kita juga melihat sunset dari perahu. Harga Mangrove Tour: Rp 500.000. Lagi-lagi gw harus menyewa perahu sendiri, karena tidak ada yang bisa diajak share.

Hari 4
Pemandian Air Panas Banyuwedang dan kembali ke Seminyak

Pagi ini gue ikut Bli Yuda ke Pemandian Air Panas Banyuwedang, yang katanya pemandian air panas terpanas di Bali. Harga tiket masuknya: Rp 10.000. Gila sih, service keluarga ini emang mantap. Kemana-mana dianter anaknya, bisa juga ikut bapaknya ke pemandian air panas hahahah. Di siang hari, gw kembali ke Bali Selatan dan gw pesen Hotel Grandmas Legian di Legian. Dalam perjalanan, sempat mampir ke Subak Bali Agro untuk melihat proses pembuatan kopi luwak.

Setelah dari Menjangan, gw menghabiskan sisa-sisa hari gw di Bali (Legian) dengan bekerja di hotel, dan mengunjungi beberapa destinasi lain, seperti Pantai Suluban, Pantai Thomas dan Pantai Jimbaran.

Nah, seperti biasa, detail dan visualisasi cerita gw barusan bisa diliat di vlog ini ya. Cuss!

Third Week in Bali: Amed

Halo semuanya! Setelah post gw di minggu kedua di Bali di sini, sekarang gw akan menceritakan minggu ketiga di Bali tepatnya di Amed! Ada yang tau ga Amed itu di mana? Amed terletak di sebelah timur Bali, terkenal dengan pasir pantainya yang berwarna hitam dan juga beberapa situs diving terkenal. Gw tau tempat ini dari seorang travel blogger. Karena gw punya sebulan di Bali, gw pikir kenapa ga abisin beberapa hari di Amed aja? Jadilah gw ke Amed dengan pengetahuan yang minim dengan menyewa mobil dari pelabuhan Sanur hingga ke penginapan di daerah Amed.

Sepanjang perjalanan dari pelabuhan Sanur ke Amed, gw mengunjungi beberapa destinasi wisata: Virgin Beach, Taman Tirta Gangga dan Pura Lempuyang. Setelah itu gw langsung menuju hotel gw di Amed: Solaluna Beach Homestay. Harga penginapannya adalah Rp 1.080.000 untuk 3 malam alias Rp 360.000 per malam. Tergolong mahal di antara penginapan lain yang gw gunakan selama di Bali. Tapi gapapa, itu udah termasuk murah dari yang gw temukan di Amed. Pemandangannya juga langsung depan pantai Amed dengan view Gunung Agung. Kereeeen!! Bahkan ada kasur kecil di teras buat leyeh-leyeh sambil menghadap ke pantai.

Gw stay di Amed selama 4 hari. Di Amed ini gw juga rencananya kerja, sambil eksplor Amed. Pas gw ke Amed gw ga booking tur apapun, jadi gw agak panik juga pas sampai sana ga prepare mau ngapain. Mana ternyata di sana kemana-mana juga musti naik motor dan gw ga bisa naik motor. Setelah googling, gw menemukan ada 3 pantai besar di Amed: Pantai Amed, Pantai Jemeluk dan Pantai Lipah. Untuk snorkeling di Amed ada beberapa spot: Pantai Jemeluk, Pantai Lipah dan Japanese Shipwreck (bekas kapal karam Jepang). Selain itu, 1 jam dari Amed, tepatnya di Tulamben, terdapat situs diving terkenal bernama USS Shipwreck (bekas kapal karam Amerika) yang dapat digunakan untuk diving maupun snorkeling. Sebenarnya, kalo mau menjelajah Amed, lebih cocok untuk yang mau diving, karena spotnya memang spot diving. Kalo snorkeling saja, bisa dibilang ga terlalu wah.

Ternyata 4 hari berada di Amed itu terlalu lama kalau ga bisa diving. Gw yang di sana sambil kerja aja masih menemukan banyak waktu luang, sampai mikir ini mau ngapain lagi ya hahhaa.
Berikut kira-kira kegiatan gw selama 4 hari:


Hari 1: Perjalanan menuju ke Amed (melewati Virgin Beach, Taman Tirta Gangga dan Pura Lempuyang)

Hari 2: Jalan kaki dari penginapan menuju ke viewpoint untuk melihat Teluk Jemeluk dari atas. Kita juga bisa ke restoran Blue Earth Village untuk melihat Teluk Jemeluk dari atas. Setelah ini, gw berencana ke Pantai Lipah, tetapi karena jaraknya yang jauh, gw ngide ke 1 restoran dekat situ yang memiliki servis pick up, namanya Gusto Cafe. Setelah snacking, gw diantar oleh bapaknya lihat Pantai Lipah, lalu kemudian diantar pulang naik motor. Keren banget sih servis pick up-nya, mana bapaknya baik mau antar lihat pantai dan pulang. Jaraknya ga jauh memang, tapi tetep aja, baik banget huhu.

Hari 3: Sambil jalan kaki di hari ke-2 gw menemukan tur yang menyewakan mobil/motor untuk menuju ke tempat-tempat snorkeling. Gw tentu saja memilih naik motor agak lebih murah. Pada pagi hari kita ke 3 spot snorkeling di Amed: Japanese Shipwreck, Pantai Lipah dan Pantai Jemeluk. Awalnya kita ke yang paling ujung dulu yaitu Japanese Shipwreck. Snorkeling di Amed ini sangat unik, karena kita tidak perlu menyewa kapal untuk bisa ke spot snorkeling. Spot-nya bisa ditempuh dengan berenang dari pinggir pantai. Pas di Japanese Shipwreck, karena gw masih takut berenang dari pinggir pantai ke dalam, gw menyewa snorkeling leader dengan harga Rp 150.000 untuk 40 menit. Dia yang akan mengarahkan kita ke spot snorkeling. Nah selanjutnya, pas di Pantai Lipah dan Pantai Jemeluk, gw mulai berani berenang sendiri ke spot snorkeling tanpa membutuhkan leader. Haha. Setelah puas snorkeling di Amed, gw kembali ke hotel untuk makan siang. Setelah itu, gw dijemput lagi oleh tur untuk menuju ke Tulamben. Si bapak drivernya kayanya menyerah kepanasan kalo ke Tulamben naik motor, dia berinisiatif membawa gw dengan mobil tanpa ada tambahan biaya. Haha. Perjalanan ke Tulamben sendiri memakan waktu sejam. Di sana gw juga menyewa Snorkeling Leader. Jujur, spot snorkeling USS Shipwreck ini bagus banget, tapi akan lebih bagus lagi kalo bisa diving, karena kita bisa mengeksplor bangkai kapal sampai ke dasar, di mana bangkai tersebut sudah ditutupi dengan coral warna-warni.

Hari 4: Hari ini gw cuma kerja, pijat dan waxing di salon, sama makan di restoran Mexico, La Cocina Mexicana, yang mendapat review bintang 5 di Google. Sisanya leyeh-leyeh, karena udah ga tau mau ngapain hahaha. Tadinya sempet kepikir mau ikut trial diving, cuma kayanya ga keburu.

Selesai sudah perjalanan gw di Amed! Btw kok blog gw yang ini panjang banget ya, hahahaha. Padahal kan harusnya diarahin di vlog. Tapi emang cerita kali ini kaya lebih seru buat ditulis. Nah, setelah dari Amed, gw kembali ke Seminyak dan menginap di The Grandmas Seminyak. Selama beberapa hari, gw lebih banyak diam dan bekerja di kamar. Paling ada beberapa destinasi yang gw sambangi seperti: Pantai Mengiat dan Water Blow di Nusa Dua serta Pantai Padang-Padang.

Nah, untuk melihat visualisasi dari yang gw ceritakan tadi, beserta penjelasan lebih detail, bisa langsung dilihat di sini:

Second Week in Bali: Nusa Penida

Setelah gw cerita minggu pertama gw di Bali di post ini, sekarang saatnya menceritakan minggu kedua gw di Bali. Di post ini formatnya masih sama, gw akan menceritakan garis besar itinerary di blog, lalu lengkapnya bisa dilihat di vlog! Hehe.

So, di minggu kedua di Bali gw berencana ke Nusa Penida selama 5 hari. Temen gw, Niken, yang bareng sama gw di minggu pertama udah pulang ke Austria, jadi gw bakal melanjutkan perjalanan gw dengan solo travelling. Yihaaa!

Nusa Penida ini adalah sebuah pulau kecil di selatan Bali dan untuk ke sananya harus menaiki kapal. Gw ke Nusa Penida hari Rabu, 30 Maret 2022. Sekitar jam 8 pagi, gw ke Pelabuhan Sanur untuk menaiki kapal ke Nusa Penida selama sejam. Harganya sendiri gw ga terlalu tau, karena gw beli paket sewa tour guide (dengan motor) lengkap dengan tiket kapal PP Sanur-Nusa Penida. Sesampainya di pelabuhan Nusa Penida, gw dijemput oleh 2 orang. Yang 1 adalah tour guide yang akan menemani gw selama di Nusa Penida: Bli Wayan dan 1 lagi adalah pihak penginapan yang menawarkan jasa penjemputan dengan mobil. Awalnya, gw udah janji ketemuan sama Bli Wayan di pelabuhan. Kita bakal naik motor buat naruh koper di penginapan. Tapi tiba-tiba pihak penginapan menawarkan penjemputan dengan mobil, ya gw iyain aja, secara lebih enak bawa koper naik mobil. Yaudah, akhirnya mereka berdua yang menjemput gw di pelabuhan hahahha.

Setelah itu, gw check in dan taruh koper di homestay. Homestay gw namanya adalah Pudak Nature. Harganya terjangkau dan reviewnya juga bagus di bookingcom. Harganya sendiri adalah Rp 392.490 untuk 4 malam alias ga sampai Rp 100.000 per malam. Tapi ini kayanya harga pandemi sih, kemungkinan sekarang udah naik. Harga segitu sudah termasuk breakfast dan penjemputan dari pelabuhan.

Selama di Nusa Penida, rencana gw adalah dari pagi sampai siang gw eksplor pulau Nusa Penida, lalu dari siang sampai malam kerja di penginapan atau café. Jadi kalo kalian mau ngikutin itinerary ini tapi cuma punya 3 hari, bisa juga ya. Karena gw 5 hari tapi cuma setengah hari per harinya.

Ini dia itinerary gw selama di Nusa Penida:

Hari 1: Nusa Penida Barat (Angel Billabong, Broken Beach, Kelingking Beach, Paluang Cliff, Crystal Bay)
Hari 2: Nusa Penida Timur (Atuh Beach, Diamond Beach, Pulau Seribu, Rumah Pohon, Bukit Teletubbies)
Hari 3: Snorkeling di Nusa Penida, Nongkrong di Penida Colada Beach Bar
Hari 4: Nusa Lembongan (Dream Beach, Devil Tears, Mahagiri Beach, Hutan Mangrove) dan Ceningan (Blue Lagoon, Le Pirate Beach Club)
Hari 5: Kembali ke Bali dengan naik kapal ke pelabuhan Sanur

Menurut gw, Nusa Penida ini bener-bener cantik banget. Gw bersyukur bisa ngabisin 5 hari di sana, karena kebanyakan orang PP dari Bali one day trip, jadi terburu-buru dan ga bener-bener bisa eksplor. Pokoknya kalo kalian ke Bali, gw sangat rekomen ke Nusa Penida, ya minimal 2-3 hari lah. Tapi kalo bener-bener ga ada waktu, one day trip PP dari Bali masih worth it lah.

Di Nusa Penida (Nuspen) ini gw juga kebantu sama guide yang suka foto. Bli Wayan ini bener-bener foto dan video-in gw terus bahkan tanpa diminta HAHA. Hasil fotonya cakep-cakep dan instagrammable. Kalo ada yang mau ke Nusa Penida dan mau kontak beliau, bisa langsung hubungi gw ya. Kalo kalian ramean, kalian bisa minta supirin mobil sama dia. Kalo solo travelling kaya gw, disetirin motor juga udah cukup. Kalo kalian nekat dan bisa naik motor, bisa juga sih keliling Nuspen sendiri naik motor, tapi gw pribadi sih serem ya, medannya banyak banget tanjakan dan turunan dan masih didominasi oleh hutan haha.

O iya, total harga yang gw bayar ke Bli Wayan untuk 4 hari tur termasuk PP Bali, makan siang, snorkeling trip dan PP Nusa Lembongan + Ceningan adalah Rp 1.600.000.

Nah, buat yang pengen tau video dan keseruan gw di Nuspen, beserta detail setiap itinerary, bisa dilihat di youtube ini ya!

First week in Bali

Halo semuanya!
Akhirnya ngeblog lagi hahahaha!
Tapi kali ini formatnya agak beda, karena gw lagi mau coba bikin youtube, detail informasi yang gw share di post bakal ngelink ke youtube. Haha. Semoga pada mau nonton ya, youtube-nya!

Sebelum itu, gw bakal update kehidupan gw selama 3 tahun terakhir.
Jadi, gw udah balik for good ke Indonesia sejak Desember 2019. Sejak saat itu, gw mulai kembangin bisnis kecil-kecilan. Bisnis travel ini dan juga ada kursus bahasa asing. Gw bisa kerja dari mana aja, ga terikat oleh tempat. Karena udah muak sama pandemi 2 tahun ga kemana-mana, di awal tahun 2022 gw memutuskan untuk liburan ke Bali bareng sama temen gw di Austria yang bernama Niken. Nah, rencananya Niken bakal di Bali selama seminggu. Karena gw bisa kerja dari mana aja, gw bakal di Bali selama sebulan. Tadinya sih gw masih gatau bakal berapa lama di Bali, tapi karena satu dan lain hal akhirnya merasa cukup sebulan di Bali hahahhaa. Itung-itung latihan jadi digital nomad.

Selama sebulan di Bali, gw mencoba membagi waktu untuk bekerja dan berlibur. Gw sampai di Bali tanggal 24 Maret 2022 malam hari dan menginap di Hotel Pullman Legian selama 6 malam. Pas gw sama Niken pesen hotel ini, harganya di Rp 584.000 per malam. Bener-bener banting harga dari harga Pullman yang biasanya di atas 1 juta. Yaudahlah langsung aja kita cus pesen, kapan lagi dapet Pullman dengan harga segitu. Actually ini pertama kali gw mesen hotel bintang 5 dengan duit gw sendiri, seumur idup gw hahahha (Niken juga gitu kayanya). Pandemi ini emang berdampak banget ya buat Bali, sampai-sampai Pullman banting harga. Kalo kalian cek sekarang, pastinya harganya udah kembali ke normal, karena pariwisata mulai bangkit lagi!

Di minggu pertama gw di Bali, gw mostly liburan di hari pertama sampai ketiga. Di hari keempat dan kelima, kebanyakan kerja aja di hotel. Di vlog ini gw bakal ceritain destinasi apa aja yang gw kunjungin di 3 hari pertama di Bali. Itinerary-nya juga cocok buat kalian yang mau ke Bali 3 hari atau seminggu, ga perlu sebulan juga kaya gw. Nah, sebelum kalian liat video lengkapnya di youtube, gw bakal rangkum destinasi apa aja yang gw kunjungi di 3 hari itu:

Hari pertama: Ubud (Sawah Tegallalang) dan Pantai Pandawa — di sini gw bareng Niken dan teman-temannya.
Hari kedua:
Sawah Jatiluwih dan Pura Ulun Danu Beratan — di sini bareng sama Ica.
Hari ketiga:
Kintamani (Restoran Paperhills), Danau Batur (Restoran Lakeview), Desa Panglipuran dan Pantai Greenbowl — di sini bareng sama Niken.

Untuk transportasi selama 3 hari ini gw kebanyakan naik mobil, karena bisa share cost seenggaknya berdua lah. Harga sewa mobil yang gw dapat, untuk sehari dengan driver sekitar Rp 550.000 (include bensin) dan untuk mobil lepas kunci Rp 250.000 (belum termasuk bensin).

Udah sih kayanya segitu aja intro dari gw, untuk lebih lengkapnya tonton di vlog di bawah ini ya! See you! 😀

Stockholm: A Best Friend’s Wedding

Biasanya sebelum gw ngepost gw liat dulu foto-foto di tempat yg bakal gw post, buat liat tanggal berapa gw perginya. Pas gw buka album foto-nya, gw liat video-video gw bareng Vidi, sahabat yg akan gw ceritakan di post ini. Dan asli gw kangen banget sama lu, Vid, sejak gw balik Indo, kt udah jarang telponan, padahal dulu pas masih satu zona waktu hampir tiap hari telpon, ketemu bisa setahun 3-4 kali, kalo ga di Bordeaux, Paris ya Stockholm. Oh good old days. Hahhaa. So this post is dedicated to you, Vidi Ratnafury, satu-satunya orang yg pernah meminta gw jadi bridesmaid-nya hahahaa. Dari dulu gw selalu pengen jadi bridesmaid, tapi temen-temen deket gw emang dikit yg udah nikah, kalo udah nikah, jg mereka ga pake bridesmaid2an, kalo pake jg paling bridesmaid-nya cuma 1 atau 2. So I never get a chance to being one. Until.. Vidi, sahabat yang nikah sama orang Swedia, meminta gw jadi bridesmaid-nya (not just bridesmaid, even maid of honor –ketua bridesmaid haha). Tentu saja gw mau! Perjalanan Paris-Stockholm pasti akan ditempuh demi kesayangan yang satu ini. Hahaha. Sebelumnya gw ga pernah kepikiran ke negara Skandinavia karena pasti mahal, tapi ternyata emang gw ditakdirkan ke sana untuk main ke tempat Vidi, di Stockholm, Swedia. So let’s get the story started…

Hari 1: 16 Juli 2019

Tiket termurah yang gw dapet (not even murah padahal) adalah naik maskapai Air France, langsung dari Paris ke Stockholm. Emang dasar ya, gw, padahal waktu itu duit gw lagi tipis bgt, cuma gw pikir, ah kapan lagi nikahan Vidi, ah kapan lagi ke Stockholm, duit bisa dicari. Akhirnya gw nekat aja hahaha.

Waktu itu gw naik Air France dari Charles de Gaulle, sungguhlah tumben, karena biasanya gw naik pesawat lowcost dari Orly atau Beauvais. Gw hepi sendiri gitu bakal naik Air France, terus terminalnya juga bagus. Di pesawat dikasi makan dong. Terus paket makanannya lucu gitu, dibungkus sama tentengan dari kertas. Sebagai sobat miskin, gw seneng baru kali ini dpt makanan di pesawat, karena baru kali ini ga naik lowcost airline ke negara Eropa lain wkwk.

Lunch Box dari Air France

Perjalanan ke Stockholm kira-kira 2 jam, dan gw dijemput sama Vidi di bandara Arlanda. Pas dia ketemu gw, dia langsung ngasi kertas gitu, tulisannya “Would you be my maid of honor?” beserta dengan crown dari batang plastik. Sumpah, so sweet banget huhuhu. Terharu jadinya. Tentu saja gw mau, kalo ga mau ngapain gw jauh2 ke sana hahaha.

Uwuuu so sweet banget dijemput dengan ini ❤

Gw pun langsung naruh tas di rumah Vidi, lalu kita berkeliling subway station di Stockholm. Jadi salah satu obyek wisata di Stockholm itu adalah stasiun subway-nya, karena banyak stasiun yang digambar warna-warni dan dijadikan karya seni. Cakep bgt! Cocok buat yang ga mau kedinginan di luar, bisa wisata keliling stasiun aja haha. Setelah itu kita berkeliling ke pusat kota Stockholm, dari kota tua (Gamla Stan), menyeberangi jembatan Skeppsholmsbrown yang terdapat replika crown kecil dan naik kapal ferry yang menjadi moda transportasi di Stockholm. Stockholm sendiri terdiri dari 14 pulau kecil yang dilalui oleh danau yang bermuara di Laut Baltik. Nah untuk menyeberangi satu pulau ke pulau lain, bisa menggunakan transportasi umum seperti metro, bis atau bahkan kapal ferry. Menarik bgt ya kota ini.

Kota tua Stockholm yang disebut Gamla Stan.

Jembatan Skeppsholmsbrown dengan replika crown kecil-nya.

Hari 2: 17 Juli 2019

Hari ini masih jalan-jalan seputar Stockholm, dengan highlightnya Gondolen di mana kita bisa melihat kota Stockholm dari atas. Selain itu, gw juga ke pusat kota Stockholm yang terlihat jauh lebih modern dibanding kota tua;  melewati Gedung Opera dan juga jalan-jalan di Royal Palace. Hari ini juga gw bertemu teman-teman Kamar Pelajar yang tinggal di Stockholm.

Tak lupa perjalanan mengelilingi stasiun subway yang super cantik juga terus dilanjutkan. Hari ini juga salah satu bridesmaid lain yang merupakan teman dekat Vidi datang ke Stockholm. Namanya Febry (Ebi). Aslinya dia tinggal di Swiss dan ke Stockholm untuk menjadi bridesmaid, kang foto dan juga saksi di KUA. Ebi ini anaknya asik, plus dia jago masak juga, jadi bisa bantu-bantu Vidi buat masak di nikahannya. Pernikahan kali ini benar-benar luar biasa sih, calon pengantennya yang ngurusin semuanya, dari masak, dekor hingga perintilan-perintilan kecil.

Central station dengan artwork birunya yang memukau.

Stasiun Rinkeby

Stasiun Tensta dengan burung-burungnya.

Hari 3: 18 Juli 2019

Hari ini selain membantu Vidi menyiapkan pernikahannya, gw dan Ebi juga diajak Vidi ke Langholmsbadet, pantai di tengah kota Stockholm di pulau kecil Langholmen. Di sini kita bersantai dan menikmati siang hari. Setelah itu Vidi meninggalkan gw dan Ebi untuk mengurus pernikahannya.

Jembatan menuju pulau Langholmen.

Bersantai di taman sekaligus pantai Langholmsbadet.

Setelah dari Langholmsbadet, gw dan Ebi kembali ke kota tua untuk berjalan-jalan dan foto-foto di berbagai spot. Di sini gw juga mencicipi ikan Herring di salah satu food stall yang bernama Nystekt Stromming. Gw makan di dekat situ, sambil menikmati bangunan Stockholm yang didominasi oleh warna orange.

Sorenya, kita ke City Hall, bertemu kembali dengan si Vidi. Kita duduk-duduk sebentar menikmati laut dan cantiknya kota Stockholm. Tiba-tiba terdengar suara orang-orang Indo dari kejauhan. Ternyata kita bertemu dengan turis Indo yang suaranya medok banget, pas ditengok, oh ini kayanya keluarga tajir dari Surabaya alias Crazy Rich Surabayan haha. Tadinya kita ga mau nyapa, tapi akhirnya ketauan juga kalo kita orang Indo hahaha. Ngobrol lah kita, plus gantian foto-fotoan, mayan kan, kapan lagi bisa foto bertiga dengan pemandangan bagus.

Setelah selesai dari city hall, kita menyusuri danau menuju ke taman besar bernama Ralambshovparken. Di sini kita sudah merencanakan Bachelorette Vidi. Kita duduk-duduk, pake alas piknik, ngebuka champagne dan juga ngobrol ngalor ngidul sampe kedinginan haha. Senang sekali rasanya malam itu, sambil setengah tipsy kita ngoceh-ngoceh, rasanya kaya udah lama sekali kenal mereka, kaya berasa deket banget. Malam itu kita berharap, akan ada next bachelorette (ceritanya buat gw) dan kita bakal kumpul lagi di Amsterdam buat ngerayain itu. Hahahhaa.

Makan Herring sambil menikmati Old Town.

Pemandangan Stockholm dari City Hall.

Difotoin sama keluarga Crazy Rich Surabayans 😀

Bachelorette sambil mimik2 cantik di taman.

Hari 4: 19 Juli 2019

Today is the day! Hari ini akad nikah Vidi dan Jon di Masjid Raya Stockholm. Jujur, ini adalah kali pertama gw dateng ke ijab kabul yang di KUA dan pertama kalinya ini malah di Stockholm. Perjalanan hari ini agak rempong, kita bakal ke masjid dengan naik subway. Si Vidi juga dress up dengan kebaya dan kain dan sukses menarik perhatian orang-orang di sepanjang perjalanan ke mesjid. Hahahah.

Sehabis akad nikah di Masjid Raya Stockholm.

Setelah akad nikah, kita beli makanan di Max Burgers deket masjid untuk dibawa ke Monteliusvagen untuk makan siang. Max Burgers ini adalah chain fastfood yang terkenal di Swedia. Kalo pas ke sini bisa banget nyobain Max Burgers yang ada di mana-mana.

Habis itu kita duduk-duduk di taman di Monteliusvagen dan photoshoot di sana. Vidi dan Jon foto-foto untuk wedding dan gw ngikut aja foto ala-ala mumpung ada si fotografer Ebi. Hahahha. Monteliusvagen ini recommended banget untuk dikunjungi di Stockholm. Ini adalah bukit kecil tempat melihat pemandangan kota Stockholm.

Setelah itu kita ke Monteliusvagen untuk photoshoot. Vidi sama Jon foto untuk pernikahannya, sementara gw foto ala ala aja mumpung ada Ebi si fotografer.

Setelah puas foto-foto, kita pun pulang untuk melanjutkan masak2 dan persiapan lainnya untuk hari H besok.

Hari 5: 20 Juli 2019

Tiba sudah hari yang ditunggu-tunggu. Resepsi acara Vidi dan Jon dengan tema Garden Party. Jam 5 pagi gw sama Vidi sudah bangun untuk melanjutkan masak dan manasin makanan. Kemudian kita make up sendiri, dan pesen uber untuk ke tempat acara. Tempatnya ini bisa dibilang agak di luar pusat kota Stockholm, namanya adalah Torparängens Badplats. Sebuah hutan yang sangat luas yang mengelilingi Danau Norrviken. Kita sampai sana agak pagian untuk ngetekin tempat di spot deket danau. Konsep weddingnya sendiri bisa dibilang seperti piknik. Kita duduk di bawah dengan beralaskan kain piknik dan ada meja-meja kecil. Setiap karpet berisi 2 orang. Undangan yang hadir kira-kira ada 15 orang yaitu keluarga Jon dan teman-teman Vidi. Sebelum acara, gw mempersiapkan dekorasi dan peletakan makanan bersama bridesmaid lain, total ada 4 orang. Gw, Ebi, Cynthia dan juga Laura. Cynthia dan Laura adalah teman-teman dekat Vidi yang dulu pernah menjadi kolega di kedutaan besar Swedia di Jakarta.

Para tamu undangan pun mulai berdatangan, mereka adalah keluarga Jon dan teman-teman Vidi yang merupakan kolega di kedubes Swedia. Acara dimulai dengan prosesi pembukaan. Mempelai pria dan tamu undangan sudah menunggu di dekat danau. Kemudian para bridemaids dan mempelai wanita memasuki tempat acara. Mempelai pria pun menyampaikan sedikit pidato pembukaan, kemudian kami semua menuju ke tengah taman untuk menyantap makanan yang telah dihidangkan dan juga beramahtamah.

Denah tempat duduk sudah disiapkan oleh Vidi, 1 karpet piknik berisi 1 meja dan 2 orang. Gw dipasangkan dengan koleganya waktu di kedubes dulu. Cowo Swedia yang bahkan gw lupa namanya siapa hahahha. Kita ngobrol cukup banyak, kemudian ngobrol-ngobrol juga dengan teman-teman Vidi yang lain. Rombongan keluarga Jon lebih memilih untuk makan dan ngobrol sambil berdiri dibanding duduk di karpet. Mungkin dikarenakan juga cuaca hari itu yang cukup terik, jadi kurang nyaman untuk duduk langsung di bawah sinar matahari.

Di tengah-tengah acara, Vidi juga menyiapkan games agar tamu yang hadir bisa lebih akrab. Gamesnya berupa tebak-tebakan mengenai tamu yang hadir. Kita diberi pertanyaan, untuk kemudian harus dicari jawabannya, dengan menanyakan pada satu persatu tamu undangan. Selain itu juga ada kuis mengenai Indonesia dan Swedia. Vidi juga tak lupa menyiapkan suvenir yang sudah dipersonalisasi untuk setiap tamu yang hadir. Sungguh sangat detail persiapan pernikahannya, cukup impressive mengingat yang mengatur semuanya adalah Vidi sendiri.

Para bridesmaid memasuki tempat pernikahan 😀

Setelah sedikit pidato di pinggir danau dari mempelai pria, seluruh tamu undangan menuju ke tempat acara.

Hidangan yang dibuat sendiri oleh Vidi, dengan bantuan gw dan Ebi. Ada Taco dengan pilihan topping daging cincang, rendang dan vegetarian. Juga ada pasta dengan pilihan tuna pedas dan vegetarian bolognaise.

Kue pengantin dan cupcake buatan Cynthia.

Pemotongan kue pengantin.

The bride and maid of honor.

The lovebirds and all bridesmaids (ki-ka: Ebi, Laura, Vidi, Jon, gw, Cynthia).

The garden party

Beberapa jam sudah berlalu dan sampailah kita di penghujung acara. Karena tadi perginya sudah naik uber, sekarang pulangnya naik public transport lagi. Hahaha. Barang-barang dititipkan pada keluarga Vidi yang naik mobil. Sesampainya di rumah kami pun tepar. Dan beristirahat sepanjang sisa hari. Benar-benar acara pernikahan yang tak akan terlupakan seumur hidup. Di Swedia, pernikahan sahabat, dengan semuanya diatur sendiri oleh pengantin. Intim tapi sangat berkesan.

Hari 6: 21 Juli 2019

Hari ini adalah hari terakhir gw di Stockholm. Cukup sedih musti berpisah dengan Vidi. Entah kapan kt akan bertemu lagi. Hari ini dihabiskan dengan pergi ke Ikea, mencoba meatballs di tempat asalnya. Harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan yang di Prancis. Untuk rasa, tidak beda jauh dengan Ikea lainnya.

Makan meatball di IKEA pusat di Swedia hahaha. Kayanya ini satu2nya makanan yang lebih murah dibanding di Prancis.

Sisa hari itu masih kita habiskan dengan jalan-jalan, hingga saatnya harus berpisah. Gw akan naik bis malam menuju ke kota selanjutnya: Oslo, Norwegia. Karena sudah sampai di Stockholm, tentunya gw mengambil kesempatan ini untuk jalan-jalan ke negara Skandinavia yang lain 😀