Gunung Bromo dan Air Terjun Madakaripura

Sepulangnya dari Kawah Ijen (baca di postingan sebelumnya), kami melanjutkan perjalanan ke Bromo. Kami sampai di penginapan bromo jam 7 malam. Setelah itu, kami makan malam dan beristirahat sampai kira-kira pukul 2. Ini pertama kalinya kami tidur di kasur dalam trip ini!

Pukul 2, gue pun bangun dan bersih2 sedikit. Kamipun bersiap-siap untuk kemudian naik jip ke Bromo. Satu jip berisi 8 orang. 2 orang di depan dan 6 orang di belakang. Untuk ke Bromo memang harus naik jip karena medannya cukup berat. Di jalan kita juga sempat kena macet karena ramenya jip yang ke sana. Akhirnya kami sampai juga di sana. Rencana kami untuk melihat sunrise di Penanjakan 1 gagal karena ramenya tempat tersebut. Kami akhirnya melihat sunrise dari Bukit Cinta. Keadaan malam itu sangat dingin, ditambah kami hanya diam dan menunggu sunrise muncul, tidak bergerak sama sekali. Gue sempet pengen pake masker kain kemarin biar mulut gue ga kedinginan, tapi karena bau belerang, gue pake syal aja buat nutupin mulut.

Akhirnya sunrise yang ditunggu-tunggu datang juga. Ini dia!

P1090857

It’s almost sunrise!

P1090859

Yeayy it’s sunrise!

Setelah mulai terang, kamipun langsung foto-foto di tempat itu. Pemandangannya spektakuler!

P1090890

The icon

Di atas awan

Puas foto-foto, kami kembali ke jip untuk melanjutkan perjalanan di spot lain di bromo. Kami ke savanna, bukit teletubbies dan juga pasir berbisik. Sayang, kami tidak mendaki untuk melihat kawah bromo, untuk menghemat waktu. Selain itu, pendakiannya juga ramai orang dan harus mengantri.

P1090922

Naik kudaa!

P1090923

Kudaaa!

IMG-20150518-WA0074

Bukit teletubbies

IMG-20150518-WA0079

Pasir berbisik

IMG-20150518-WA0098

Savanna!

IMG-20150518-WA0104

Sama bunga lavender

IMG-20150518-WA0109

IMG-20150518-WA0126

With jeep

Sepulang dari Bromo, kami kembali ke penginapan untuk beberes dan juga makan pagi menjelang siang alias brunch. Gue dan 6 orang yang lain berpamitan dengan yang lain untuk melanjutkan perjalanan ke Madakaripura. Sebenernya, madakaripura tidak masuk dalam paket trip ini, tapi karena gue udah sampe Bromo, sayang banget rasanya kalo ga ke Madakaripura. Gue pun bertekad harus ke sana bagaimanapun caranya. Ternyata, pihak Wuki Traveller bisa menyediakan mobil APV untuk ber-7 dan harus menambah 50ribu per orang. Tadinya APV ini memang digunakan sebagian peserta untuk kembali ke Surabaya. Lumayan banget Cuma nambah 50ribu termasuk tiket masuk, daripada harus sewa mobil!

Perjalanan ke Madakaripura memakan waktu 1 jam. Sepanjang jalan dari penginapan terlihat pemandangan pegunungan hijau yang memanjakan mata. Wuihh! Kamipun sampai di Madakaripura kira-kira pukul 12 siang.

Pemandangan sepanjang jalan dari penginapan

Pemandangan sepanjang jalan dari penginapan

Air terjun madakaripura dikisahkan adalah tempat bertapanya patih Gajah Mada. Untuk mencapai air terjun ini kami harus berjalan 30 menit. Tadinya jalannya lurus, tapi mendekati air terjun kami harus melewati bebatuan. Para pengunjung juga diharuskan memakai jas hujan karena akan melewati air terjun yang airnya membasahi tubuh layaknya hujan. Ada kebegoan yang terjadi di titik ini, gue yang sudah membawa jas hujan dari rumah lupa mengenakan penutup kepalanya saat melewati air terjun. Alhasil basahlah kepala gue dan airnya juga masuk ke badan. Sia-sia dah pake jas hujan!

Air terjun madakaripura sangatlah besar dan menawan. Di sekitarnya terdapat air terjun berbentuk tirai yang juga cantik! Ga nyesel deh pokoknya ke sana!

Air terjun madakaripura

Air terjun madakaripura

Air terjun madakaripura

Air terjun madakaripura

Air terjun berbentuk tirai di madakaripura

Air terjun berbentuk tirai di madakaripura

Kira-kira pukul 2 siang kami kembali dari air terjun tersebut. Gue dan beberapa orang yang lain mandi dulu karena kebasahan. Kemudian kita kembali ke Surabaya untuk pulang ke Jakarta. Kami mampir dulu ke tempat makan untuk makan malam dan ke toko oleh-oleh. Pukul 8 malam, gue sampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya, sementara yang lain ke bandara karena mereka naik pesawat. Jam 9 malam lewat, kereta pun berjalan. Beruntung, gue bisa duduk deket rombongan trip dengan menukar seat. Hehe. Malam itu rasanya panjang sekali, gue sempet ga bisa tidur sampe jam 3 pagi dan kelaperan. Gue mencari makanan di ruang restorasi dengan melewati banyak orang yang tidur di sepanjang jalan.  Maklum, gue waktu itu di gerbong 7.

Pukul 9 pagi, kamipun sampai di Jakarta dengan selamat. Terima kasih Surabaya dan sekitarnya! Bener-bener puas jalan-jalan di trip kali ini.

Advertisements

Perjuangan Mendaki ke Kawah Ijen

“Orang ma naik turun tangga biar kurus, lah ini buat liburan.” Begitu kira-kira kata temen gue waktu ngeliat perjuangan gue naik turun tangga kantor ke lantai 11 demi bisa fit saat ngedaki ke kawah ijen. Perjuangan naik turun tangga gue lakukan 2 bulan sebelum keberangkatan, alias bulan Maret. Awalnya masih rajin, tiap hari naik tangga, lama-lama berkurang hingga hanya 2 kali seminggu naik tangga. Mulai mendekati kepergian, gue mulai rutin lagi (hampir) tiap hari. Selain itu, gue juga ikut kelas aerobik/fitness 1-2 minggu sekali. Sulit ya, memang, membiasakan badan ini berolahraga, tapi demi kawah ijen semua gue lakukan!

Awal mula gue pengen ke kawah ijen, karena seorang teman, Sari yang sudah mengelilingi Indonesia, bilang kalo tempat terbagus yang pernah dia liat itu Kawah Ijen. Sejak saat itu, gue mulai suka googling dan liat-liat foto Ijen. Dari foto kawah biru toscanya, sampai foto blue fire. Buat yang belum tau, blue fire adalah api berwarna biru yang ada di dalam kawah Ijen, hanya bisa dilihat dini hari, dari jam 2-4. Blue fire katanya cuma ada 2 di dunia. Di Iceland dan Indonesia. Jika ingin melihat api lebih jelas, setelah mendaki selama 2 jam, kita harus turun lagi ke kawah selama 30 menit dengan kemiringan ekstrem agar bisa melihat si api biru. Banyak bule yang berburu api ini sampai ke kawah ijen.

Kesempatanpun datang saat gue melihat ada trip ke Ijen di pertengahan Mei, dan di trip itu juga ke Bromo. Sekalian, gue emang belum pernah ke Bromo dan pingin ke sana.

Setelah bermain di Baluran dan snorkeling di Menjangan (cek di postingan sebelumnya), gue sampai di pos awal pendakian ijen yaitu Paltuding kira-kira pukul 3 pagi. Setelah menunggu rombongan ngumpul, kita naik jam 3.30. Untuk menaiki kawah ijen kita harus menyiapkan baju hangat (karena suhu di sana luar biasa dingin sampai keluar asap dari mulut saya), alas kaki yang cocok untuk mendaki, senter dan yang paling penting adalah masker. Bau belerang di kawah ijen sangat menyengat, sehingga mengharuskan kita memakai masker. Gue agak galau, mau pake masker biasa atau gas mask. Secara gue baca di blog bule, mereka pada pake gas mask untuk faktor keamanan, tapi orang Indonesia kayanya lebih cuek bebek soal keselamatan. Gue sempet diketawain gara-gara mau pake gas mask. Akhirnya gue bawa aja 2-2nya. Masker kain biasa dan gas mask. Gue beli gas mask hanya 60.000 di web ini.

Rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok, kelompok pertama adalah kelompok yang ingin mengejar blue fire, sehingga mereka harus mendaki setengah berlari agar bisa sampai di kawah setidaknya jam 4. Ga mungkin dong gue ikut kelompok yang ini? Hahahha. Gue sendiri ikut kelompok tengah-tengah, namun di perjalanan jadi kelompok paling belakang. Hahhaha. Seperti sudah diduga, gue yang lemah dalam urusan trekking ini pasti paling belakang!

Gue di barisan belakang bersama dengan Tour Leader Eki, bersama dengan 5 orang yang lain. Kami semua lemah-lemah. Bahkan surprisingly ada yang lebih lemah dari gue hahahah *oops!*. Kami berhenti hampir tiap 5 menit sekali, untuk mengatur nafas dan istirahat. Namun Eki terus mengingatkan kami untuk tidak duduk, agar tidak susah lagi saat berdiri dan mendaki. Beberapa dari kami (termasuk saya) sempat ingin menyerah namun Eki terus berkata “Ayo, jangan nyerah, masa sudah sampai sini kok nyerah.” Gue pun berjalan dan terus berjalan. Suatu keuntungan bagi kami untuk mendaki dalam keadaan gelap, karena kami tidak melihat seberapa panjang dan seramnya jalur trekking yang kami lewati.

Separuh lebih perjalanan telah terlewati. Kami pun beristirahat sebentar di sebuah warung besar. Bau belerang sangat menyengat sampai pada titik ini. Gue pun memutuskan untuk mengganti masker kain dengan gas mask. Thanks God, sekarang bisa lebih bernafas dengan gas mask ini! Setelah beristirahat 15 menit, kamipun melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini lebih curam, tapi kami sadar di sekeliling kami ada pemandangan menakjubkan.

Pukul 5 pagi, setelah 2,5 jam mendaki (pendakian normal 2 jam), kami sampai juga di atas, kami berhenti untuk melihat jejeran gunung di atas awan. Omygod, kami berada di atas awan! Buat gue yang baru pertama kali naik gunung, ini pemandangan benar-benar menakjubkan. Luar biasa! Mungkin foto bisa lebih mengatakannya..

P1090797-1

amayzeeeeeng!

P1090800

sudut pandang lain..

P1090808

Gue di atas awaaan!

P1090794

The girl in the gas mask. Scary, huh?

Kami berfoto sejenak dengan pemandangan ini, untuk menunggu perginya kabut yang sedang menyelimuti kawah ijen. Setelah beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak, kawah ijen! Perjalanan menjadi lebih sulit karena bau belerang semakin menyengat. Bahkan gue mulai batuk-batuk! Waduh, ga kebayang gimana yang pake masker biasa. Akhirnya kamipun sampai di puncak kawah ijen! Sayang sekali, kabut tebal menyelimuti kawahnya yang berwarna biru tosca. Kami tidak bisa melihat cantiknya kawah ijen. Tapi gue udah bersyukur karena bisa sampai di sini dan melihat pemandangan yang menakjubkan. Bau belerang semakin menyengat dan sudah masuk paru-paru. Paru-paru pun terasa sesak. Saat itu, blue fire sudah tidak ada, karena kami kurang pagi sampai di sana.

P1090814

Kawah ijen yang tertutup kabut

P1090822

Gue lagi nahan nafas!

P1090827

Ruamenya kaya pasar!

Teman-teman yang sampai di sana jam setengah 5 sempat turun ke kawah dan melihat sisa-sisa blue fire. Ada 1 orang yang berhasil sampai kawah pukul 4.15 dan dia berhasil mendapatkan foto blue fire. Wow, luar biasa sekali semangatnya! Orang yang sama juga sempat menunggu di atas sampai kabut hilang. Gila dah! Buat mereka yang turun ke kawah, mereka bisa melihat biru tosca-nya ijen, karena bisa melihat dari sudut pandang yang tidak dikelilingi kabut. Sementara kami yang tidak turun, harus cukup puas memandangi kabutnya saja. Dari cerita teman saya yang turun, medan untuk turun ke bawah sangat terjal, apalagi pas naik ke atasnya lagi, beuh, katanya sih kemiringan hampir vertical. Kebayang betapa bahayanya kalo turun ke kawah.

Blue fire yang berhasil diambil sama anak yang sampai kawah jam 4.15 (Photo by Yogi)

IMG-20150517-WA0021

Sisa-sisa blue fire. Dan itu disekelilingnya adalah belerang (Photo by Rina)

IMG-20150517-WA0019

Kawah biru tosca yang berhasil diambil kalau turun ke bawah (Photo by Rina)

Biru toscanya kawah ijen dari Mbah Google (Photo from ramadhanadi.wordpress.com)

Eki mengajak kami untuk cepat-cepat kembali pulang karena asap belerang menggila dan anginnya ke arah pengunjung. Kata dia, baru kali ini dia ngerasain asepnya separah ini. Wow! Setelah berfoto-foto kami pun kembali. Perjuangan banget foto di situ ga pake masker, karena langsung menghirup belerang. Gue sampai ga bisa senyum sangking nahan nafasnya. Huhu.

Perjalanan turun biasanya lebih mudah, tapi ini tak semudah itu. Kami harus menahan berat badan saat turun. Saat turun, hari sudah terang dan kami bisa melihat dengan persis trek yang tadi kami lalui. Gila, ternyata trek pendakiannya jauuuuuuuuh banget dan cukup miring. Gue yakin, kalo gue pas ndaki ngeliat trek-nya pasti jadi jiper duluan dan ga jadi daki. Untung pas gelap!

Sesampainya di bawah, kami pun sarapan dan kemudian melanjutkan perjalanan ke pemandian air panas. Menurut saya sih tempatnya biasa aja. Tapi ya lumayanlah buat yang mau menghangatkan (atau memanaskan?) kaki dengan air belerang.

Pemandian air panas ijen

Pemandian air panas ijen

KISAH SANG PENAMBANG BELERANG

Selain cerita pendakian, ada juga cerita lain yang kami temui. Cerita sang penambang belerang. Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan bapak-bapak yang mendaki ke ijen untuk mengambil belerang di kawahnya. Mereka mengangkut belerang sebanyak 80 KG. Mereka harus menaiki medan yang terjal dari kawah untuk kemudian turun ke bawah. Gila! Kita aja orang biasa ga bisa ngangkut itu belerang sambil berdiri, ini mereka ngangkut belerang sambil mendaki. Dan lebih gilanya, mereka menjual belerang tersebut dengan harga 900 per kg. 80 kg cuman dapet 70ribu!! Gila, perjuangan mereka mendaki dengan asap belerang Cuma dihargai segitu. Dan banyak dari mereka yang hanya menggunakan masker biasa, tidak menggunakan masker yang layak. Gila ya, bersyukur banget kita yang kerja biasa ga perlu menghadapi maut seperti itu dan mendapatkan upah yang jauh lebih layak. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

Salah satu penambang belerang

Salah satu penambang belerang

Simak cerita selanjutnya di Bromo, di sini.

Taman Nasional Baluran dan Pulau Menjangan

Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu, 14 Mei 2015! Bukan, bukan karena hari itu adalah hari ulang tahun gue, tapi gue akan trekking ke Kawah Ijen, Jawa Timur. Gue ikut tripnya Wuki Traveller (1.100.000) dengan destinasi Baluran-Menjangan-Kawah Ijen-Bromo plus gue mau ke Madakaripura. Di postingan yang ini gue akan ceritain dulu perjalanan gue ke Baluran dan Menjangan.

Pukul 2 siang gue menaiki kereta ekonomi AC Kertajaya (90.000) dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Pasar Turi Surabaya. Gue tadinya bakal berangkat sama Dea, tapi karena dia mendadak ga bisa, ya sudahlah gue berangkat sendiri. Toh di Surabaya juga bakal ketemu Maria, temen trip Derawan gue. Aslik ya, duduk tegak di kereta selama 12 jam itu rasanya bosen banget, mati gaya, mana ga bisa ngobrol juga sama sebelahnya. Tapi untungnya gue bisa nyelonjorin kaki sih, karena depan gue kosong. Hahaha. Di perjalanan di kereta gue juga sempat ditemani oleh radio dakwah dalam bahasa Jawa, pembahasannya lucu sih. Hahaha.

Setelah melalui perjalanan panjang, 1 nasi goreng, 1 pop mie, 1 roti dan 1 botol aqua besar, akhirnya sampailah juga gue di Surabaya. Jam setengah 2 pagi! Di situ gue bertemu rombongan gue dengan total 18 orang. Dan juga bertemu Maria dan temannya yang bernama Rina. Di stasiun sempet ketemu juga sama Desi, teman di Sastra Prancis bersama pacarnya, dia ikut trip Wuki juga tapi beda rombongan. Fyi, trip Wuki yang ke ijen ini ada 3 rombongan dengan jumlah 18 orang tiap 1 rombongannya. Ada satu lagi yang paling kaget, gue juga ketemu salah 1 temen kursus gue di IFI, Dinda. Mungkin dia satu-satunya temen yang gue liat di hari ulang tahun gue itu (maklum, seharian ga ketemu temen dan keluarga). Itu juga gue liatnya cuma sekilas, pas dia ke WC di kereta. Eh pas turun, ternyata dia ikut ke ijen juga bareng rombongan Wuki yang lain. What a coincidence! Hahaha.

Setelah bertemu dengan teman-teman serombongan, kamipun pergi menaiki ELF menuju Baluran. Beruntung, gue dapet tempat duduk yang di tengah pas di belakang supir. Gue jadi bisa nyelonjorin kaki. Hahahah! Oiya, di trip ini juga ada 2 bule dari Inggris, satu ngajar di EF Indonesia, satu lagi bekas pengajar di EF. Mereka dibawa oleh seorang staff EF juga, orang Indonesia.

TAMAN NASIONAL BALURAN

Setelah tidur-tidur ayam (Fyi, selama trip 3 hari ini kami tidur di mobil, cuma tidur di kasur sekali waktu sebelum ke Bromo), kami sampai di Taman Nasional Baluran, Situbondo jam 7 pagi. Harga tiket masuk (ini udah include di trip) seharga 15000, tapi kalo buat bule jadi 150.000. Buset dah, bedanya 10 kali lipat, mak! Di baluran ini katanya mirip sama afrika. Sepanjang jalan yang kelihatan adalah savana, kami juga melihat beberapa rusa dan banyak monyet!

Setelah sarapan pagi, kami naik ke Menara Pandang di Baluran. Tangganya cukup curam dan hampir vertikal. Dari menara ini kita bisa melihat seluruh baluran, rumput-rumput hijaunya yang luas membentang, tapi sayang kami tidak melihat satu hewan pun dari situ.

Taman nasional Baluran dari menara pandang

Gunung ini namanya juga baluran

Setelah turun dari Menara Pandang, kami jalan-jalan dan juga foto-foto di savana. Apalagi kerjaan kita kalo ga foto-foto, bukan?

P1090695-1

P1090708

nice view, isn’t it?

P1090698

monyet-monyet nakal

P1090701

tanduk banteng

P1090752

Puas foto-foto, kita ke Pantai Bama yang terletak dekat dari Baluran. Pantainya sih biasa aja, tapi ada satu cerita di sini. Kaki gue kepentok beton gara-gara ngehindarin monyet-monyet di sini. Sampai sekarang ada bekas luka bulet gede di lutut kiri gue. Bukan karena snorkeling atau hiking, tapi karena ngehindarin monyet! Zzz. Monyet di sini nakal, temen gue yang lagi minum jeruk diambil sama monyet, terus dibuang airnya. Hahahhaa.

P1090738

Kok banyak sampahnya?

P1090743

Selepas dari Baluran, kami kembali ke kota untuk Sholat Jum’at terlebih dahulu. Tapi anehnya, jam setengah 12 siang soljum-nya udah bubar. Lah? Kok aneh? Masa ngikutin waktu Indonesia Tengah? Hmmm. Akhirnya pada sholat dulu di pom bensin. Setelah itu kita ganti baju karena mau snorkeling ke Menjangan.

PULAU MENJANGAN

Pulau Menjangan terletak di Bali Barat dan merupakan salah satu spot snorkeling terbaik di Bali. Dipikir-pikir ini trip ambisius juga ya, bisa-bisanya mampir di Bali! Hahahha. Untuk ke Menjangan, kita naik perahu dari Pantai Watudodol, Banyuwangi. Saat itu jam 2 siang dan ombak terlihat begitu kencang, sampai-sampai perahu yang mengangkut kami tidak bisa menepi ke pantai. Setelah 1 jam menunggu, perahunya berhasil menepi tapi ga menepi-nepi amat. Kita masih harus bersusah payah ngelewatin air untuk naik ke kapal tersebut.

Sepanjang jalan, ombaknya pun kencang luar biasa. Gue sampai berpikir lebih baik ga usah dipaksain daripada kenapa-kenapa. Sepertinya memang pilihan yang salah ke Menjangan di sore hari. Harusnya pagi. Tadinya di jadwal memang mau pagi, tapi karena mengejar SolJum, jadilah dituker sama Baluran jadwalnya. Baluran jadi pagi dan Menjangan jadi sore. Eh ternyata SolJum-nya juga ga kekejar. Wek wew..

Di jalan kita sempat bertemu dengan sebuah Pura di Pulau. Sangat unik menurut kami. Ga berapa lama kemudian, setelah sejam, kamipun sampai di spot snorkeling pertama! Karangnya banyak banget plus ada ikan warna-warni di atasnya pokoknya kece deh! Spot snorkeling kedua pun ga kalah kece. Sayang, di spot kedua ini banyak bulu babi sehingga musti hati-hati pas lagi snorkeling.

Pura di Pulau Menjangan

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Kami kembali dari snorkeling saat hari sudah mulai sore. Saat sampai di dekat pantai pun hari sudah gelap. Sangking ombaknya kenceng banget, kejadian lagi seperti kita mau berangkat, yaitu nunggu di laut sampai ombaknya mereda. Dan perahu yang mau menepi juga musti ngantri satu per satu, ga boleh bersamaan. Ada kali nunggu di kapal sambil muter-muter selama setengah jam di kegelapan malam. Di sinilah kesialan mulai terjadi, gue yang basah kuyup habis snorkeling, terombang-ambing di perahu kemudian mabuk. Rasanya parah bgt, mabuk sambil berasa mulai masuk angin. Tak lama setelah temen gue muntah, gue pun akhirnya muntah juga! Huhuhuhu. Setelah itu kita pun bisa turun, bukan di tepi pantai, tapi masih di laut. Air kira-kira seleher kita. Gue dengan life jacketnya disuruh berpegangan pada tali sampai ke pantai. Di setiap setengah meter ada bapak-bapak yang bersiap mengangkat kita untuk diestafet dan diberikan ke depannya. Jadi rasanya itu kaya dilempar-lempar di lautan. Gila dah! Barang-barangpun disuruh ditinggal di kapal karena sangat sulit membawa barang bersama kita. Setelah sampai di daratan dan kedinginan kami pun mencari tempat mandi. Tak sabar menunggu kamar mandi yang sudah diantrikan oleh banyak orang, kami pun dibawa untuk mandi di rumah penduduk. Dan, ke rumah penduduknya itu lewat jalan raya. Jadilah gue dengan celana renang pink super pendek, berjalan di jalan raya! Rrrr.. Setelah sampai di rumah penduduk, kami pun mandi, ber6! Hahahhahaha. Rekor mandi bareng terbanyak dalam sejarah hidup gue. Mana semuanya baru kenal hari itu. Hahahhaa. Epic dah!

Usai mandi, kami pun menunggu yang lain dan bersiap untuk melakukan perjalanan ke Kawah Ijen..

Simak postingan selanjutnya di kawah ijen, di sini.

Bertemu Nemo di Pahawang

Doing trip with totally strangers: checked.

Di kamis malam yang cerah tanggal 30 April 2015, gue memberanikan diri untuk ikutan trip sendirian ke pahawang. Lagi2 gue ikut Rani Journey hahahaa (Rp 450.000, meeting point Pelabuhan Merak). Setelah ditolak sm beberapa orang buat jalan ke pahawang, akhirnya gue memutuskan untuk pergi sendiri. Alasannya simpel: kalo nunggu ada temen dulu bisa2 gue ga pergi2. Toh di sana juga pasti bakal dapet temen. Mungkin ini bisa jadi latihan buat bener2 doing solo trip nantinya hahahaha.

Perjalanan gue dimulai pukul setengah 6 sore. Gue menunggu busway ke arah slipi jaya untuk naik bis merak dari situ. Busway ini lamanya ampun2an. Gw nunggu selama sejam baru dapet. Begitu sampe slipi jaya, gue ke toilet dulu. Kemudian gue keluar lagi nyari bisnya. Eh itu bis lewat di depan mata gue. Ga keburu ngejarnya. Mana kosong lagi. Yasudahlah, karena dr yang gue baca dia ada stgh jam sekali, gue memutuskan untuk makan dulu. Habis makan gue duduk manis lagi di halte, nunggu bis. Ga brp lama bisnya muncul. Horee! Langsung lah gue masuk dan thanks god, dapet duduk! Itu adalah seat terakhir di bis itu. Ga kebayang kalo musti berdiri selama 3.5 jam ke merak. Adapun ongkos bis Merak adalah 30.000. Gue duduk paling belakang dan sempit2an diantara 2 bapak2. Ternyata bis ini ada wcnya. Cenggih! Cucok buat gue yang hobinya beser. Gue pun sempat tertidur di bis. Bangun2, eh pundak gue udah disandarin bapak2 di sebelah kanan yang terlelap. Pengen ngebangunin tapi ga enak. Yaa untungnya ga brp lama dia sadar dan bangun sendiri. Hahahhaha. *coba kalo cowo ganteng yak?*

Begitu sampe di serang, mulai banyak yang turun dan orang2 yang tadinya berdiri udah bisa pada duduk. Jam stgh 11 pun gue udah sampe pelabuhan merak. Ternyata lebih cepat dari yang dibayangkan, kurang dari 3 jam! Sampe di merak gue menjalani ritual ke wc dulu plus beli roti biar ga kelaparan. Gue nunggu tour leader yang namanya koheng di sana. Harusnya kt ketemu jam stgh 12, tapi dia baru dtg jam stgh 1 lewat. Katanya sih mobilnya mogok. Habis ketemu koheng, gue mulai kenalan sama peserta2 lainnya. Banyak bgt yg surprise gue pergi sendiri hahahaa.

Setelah menunggu lagi, kita pun naik kapal ke merak. Gue dan bbrp org lain masuk ke ruangan vip. Mayan lah di situ duduknya enak, bisa nonton tipi plus ada ac ala kadarnya. Kita musti nambah 8 ribu buat duduk di situ. Jam menunjukkan pukul stgh 3 dini hari. Tapi kok kapal belum gerak juga. Gue sm tmn2 baru berasa ini kapal ga gerak2, tapi begitu nanya ke awak kapalnya katanya ini kapal udah jalan dari jam 2 kurang 10. Hahahah. Ternyata emang ga berasa kalo udah jalan. Bagus deh! Perjalanan selama 2 jam lebih itu gue habiskan dengan tidur sambil sesekali nonton film yang diputar.

Sekitar jam 4 kita sampai di bakauheni. Masih membutuhkan dua jam lagi perjalanan darat untuk sampai di dermaga ketapang, tempat kita naik perahu ke pahawang. Kalo dibandingkan dengan perjalanan ke kiluan, perjalanan ke ketapang ini jauuuuuh lebih singkat. Ke kiluan butuh berjam2 dengan kondisi jalan yang super jelek dan ngebuat kita loncat2 di mobil. Sesampainya di ketapang kita ganti baju dan cuci2. Siap2 buat snorkeling. Di ketapang ini kita digabrukin di 1 rumah penduduk bareng trip2 lain juga buat makan dan ganti baju. Crowded bgt dah itu tempat.

Dari dermaga ketapang kita mulai snorkeling keliling Pahawang. Kita sempet ke homestay dulu buat nurunin ransel, karena perahunya emang crowded banget dan takut kelebihan muatan. Perhentian pertama adalah snorkeling di Pulau Balak. Snorkeling di sini lumayan, banyak ikan biru kecil-kecil plus karang warna putih.

Setelah itu kami makan siang di Tanjung Putus. Pantainya kece bangett! Warna laut gradasi biru muda-biru layaknya pantai-pantai cantik di Endonesa tercinta. Yang paling epik adalah di sini kita makan siang nasi padang! Bukannya makan seafood gtu ya. Hahaha. Jadilah kita makan nasi padang sambil ngeliatin laut.

Makan nasi padang sambil ngeliatin view ini!

Makan nasi padang sambil ngeliatin view ini!

Tanjung Putus

Habis itu kita snorkeling lagi! Kali ini nama tempatnya Jelarangan. Jeng jeng jeng! Begitu masuk laut beuhh pemandangannya bagus banget. Jadi banyak coral yang dibudidayain gitu di situ, plus ada tulisan “Pulau Pahawang Wisataku”. Sebenernya tulisan itu ngeganggu sih kalo menurut gue. Jadi bikin tercemar wkwk. Trus di situ kita juga liat berbagai macam makhluk laut dari soft coral warna-warni, nemo sampai anemon ungu! Yang paling bikin gue kaget adalah si anemon ini. Kereeeeen banget. Dan dia ada di pahawang! *oke gue akui gue agak underestimate pahawang hahahaha*. Sayang gue ga bisa eksplor lautnya lebih banyak, karena ombaknya kenceng bgt. Kalo pake life jacket rasanya kaya mau muntah kebawa arus, sementara kalo life jacketnya dipegang doang di depan, gue jadi ga jalan karena ngelawan arus. Sementara gue ga pake fin. Dan gue ga berani kalo lepas life jacket full. Hahahhaa. Baru kali ini gue pikir kalo fin ada gunanya, biasanya kan gue pake booties aja, karena faktor kenyamanan.

Underwater life (Photo by Paskal)

Here it comes, nemo! (Photo by Paskal)

4

Anemon aaaaa! I love this! (Photo by: Paskal)

Habis snorkeling kita main2 lagi ke pantai, kali ini ke Kelagian kecil. Pantai yang ini juga cukup bagus, walaupun masih kalah sama Tanjung Putus. Ga jauh dari situ, kita snorkeling lagi. Bawah lautnya ga sebagus di Jelarangan, tapi oke lah! Banyak ikan warna warni.

Pulau kelagian kecil. Yuhuu!

Kelagian Kecil (Photo by Paskal)

Habis itu kita balik ke homestay buat mandi dan makan malam. Pas mau tidur, ternyata tidurnya banyak yang ngemper gitu di depan kamar. Perasaan gue ikut trip Rani bbrp kali pasti dapat kamar deh, 1 kamar ber5 gitu. Tapi yang ini cuma beralaskan tikar dan dijejerin satu2, yasudahlah nikmati saja. Selain itu, kamar mandinya cuma 1. Kebayang deh, belasan orang ngantri mandi begitu lama. Dan harus nimba dulu. Hahahha.

Keesokan harinya, hari Sabtu, habis makan pagi kita main ke pulau Pahawang Kecil. Pulaunya bagus. Di pulau itu juga ada resort orang Prancis. Wow, orang bule emang tau aja ya tempat bagus di Indonesia. Langsung dibuat resort sama dia. Tapi uniknya, resort ini ga disewain tapi dijadiin resort pribadi sama dia. Hmm..

Sama temen-temen baru di Pulau Pahawang Kecil

Ga jauh dari situ, kita snorkeling lagi. Kita juga sempat snorkeling terakhir kalinya di Cukubedil. Pemandangan bawah lautnya cukup oke lah. Gila juga ya dipikir2 udah snorkeling 5 kali dari hari pertama. Hahaha. Ini memang trip snorkeling! Sayang yang duduk di kapal aja tapi ga nikmatin bawah lautnya..

Setelah makan siang (yang tidak include di trip), kita balik ke Ketapang. Setelah itu, kita mampir dulu makan di Bakso Sony dan mampir ke pusat oleh-oleh. Tadinya mau ketemu Devi si gadis Lampung, tapi waktu tidak memungkinkan. Hiks. Sekitar pukul 6 kita naik kapal ke Merak. Kali ini kita duduk di ruangan eksekutif dengan nambah 11.000. Ruangannya di bawah, jadi agak berasa goncangannya. Sebenernya ruangan ini bagus, banyak sofa-sofa gtu, plus kita dapet hiburan live music (Bahkan ada momen dangdutan bareng! Hahahaha), tapi sayang ac-nya ga gitu berasa, dan dari tempat gue duduk rasanya puanaaaaas banget! Huhuhu. Setelah 2.5 jam perjalanan, sampailah juga kita di pulau jawa lagi, di Pelabuhan Merak. Dari situ gue nebeng mobil temen yang ke Kelapa Gading. Senangnya nemu temen yang kebetulan ke sana. Hihi. Dan gue pun sampe rumah pukul 12 malam…

Oke dah, sampai jumpa 2 minggu lagi di petualangan yang sudah saya tunggu-tunggu! Hahahhaa.

Ternyata ikut trip sendirian itu asik, bisa ketemu teman-teman baru, tapi juga bebas ngelakuin apa yang kita mau.

Notes: For more beautiful pictures, see my travelmate blog, Paskal in here.