Perjalanan ke Negeri Sakura: Kyoto

Postingan ini merupakan lanjutan postingan sebelumnya di Tokyo dan Nikko.

DAY 6: OSAKA-KYOTO

Perjalanan menempuh waktu 8 jam. Pukul 8 pagi kami sudah tiba di terminal Willer Express di Umeda Sky Building. Lagi-lagi tempat ini, sepertinya memang saya ditakdirkan untuk terus kembali ke sini, ke Willer Express, ke Osaka. Udah 4 kali ke sini selama kami di Jepang. Di sana, saya membuang sepatu saya yang sudah tidak enak dipakai, sekalian buang sial. Hahahha. Saya meneruskan perjalanan dengan sandal jepit Melta, yang walaupun sempit, tapi lebih proper daripada sepatu saya.

Kami memiliki 2 pilihan untuk pergi dari Osaka ke Kyoto. Pertama, naik Shinkansen 10 menit dengan harga 1420 Yen* atau naik kereta biasa 30 menit dengan harga 560 Yen*. Rencananya saya akan naik Shinkansen saat pulang dari Kyoto ke Osaka (flight kami ke Indonesia dari Osaka). Kami pun naik kereta biasa dan.. voila! Dalam 30 menit kami sudah berada di Kyoto!

Stasiun Kyoto sangatlah luas, kami membeli Kyoto Bus Pass (500 Yen seharian) terlebih dahulu untuk berkeliling Kyoto nantinya. Kami berjalan kaki menuju penginapan J-Hoppers Kyoto (5300 Yen untuk 2 malam), dari stasiun kira-kira jaraknya 20 menit. Sesampainya di hostel, saya mandi dulu kemudian bersiap menjelajah Kyoto! Sehabis makan, saya mencari sepatu boots di Department Store dekat stasiun. Sangatlah sulit mencari sepatu dengan ukuran kaki saya 41. Sepertinya memang cewek2 Jepang kakinya kecil mungil, ga kaya saya. Akhirnya setelah 2 jam mencari, ketemu juga boots di GU. Ga disangka, harganya cukup murah dan ada ukuran saya. Langsung saja saya membelinya! (N.B: setelah saya kembali ke Jakarta, saya menemukan sepatu yang sama di UNIQLO dengan harga 2 kali lipat)

GINKAKUJI TEMPLE

Setelah belanja, kami pergi dengan menggunakan bis dari stasiun Kyoto ke Ginkakuji Temple, kami naik bis ke stasiun terdekat, kemudian jalan kaki menuju templenya. Sepanjang jalan menuju temple, terdapat berbagai jajanan dan pernak-pernik khas Jepang. Saya tergiur untuk membeli Es Krim Green Tea-nya (300 Yen). Nyam! Sepanjang saya di Jepang, semua makan di sini beserta jajanannya enak-enak. Ga ada yang ga enak. Bahkan melta yang katanya picky eater juga makan terus selama di sini.

I miss this ice cream when back to Jakarta

Ginkakuji (tiket masuk 500 Yen) ini templenya sangat rindang, dipenuhi dengan pepohonan. Sayang, tidak ada guide yang bisa menceritakan asal muasal temple ini pada saya, keterangan di bookletnya pun menurut saya kurang jelas. Tapi menurut saya templenya sangat bagus. Saya mulai jatuh cinta dengan kota budaya, Kyoto. Sesuai dugaan saya sebelumnya..

Ginkakuji Temple

KYOMIZUDERA
Hari mulai sore, dan kami  memutuskan untuk pergi ke kuil lain, Kiyomizudera (tiket masuk 300 Yen). Perjalanan ke kuil ini juga dipenuhi stall2 makanan dan pernak pernik. Kami betah berlama-lama jalan di sini. Karena hari mulai sore, kami pun agak tergesa-gesa ke sana. Kiyomizudera adalah kawasan kuil yang sangat luas. Kami mengitari kuil ini selama 1 jam. Sayang, di sana, ada kuil yang sedang direnovasi. Kami menghabiskan sunset di tempat ini, melihat pemandangan kota Kyoto yang begitu cantik. Di mana-mana banyak wanita yang memakai Yukata. Mungkin lain waktu saya juga pengen nyoba jalan-jalan di Jepang pake yukata. Hihi.

Sunset in Kyoto from Kyomizudera

GION

Ternyata boots yang baru saya beli juga tidak senyaman itu saat dipakai. Saya pun menemukan sepatu kets Puma dengan harga diskon di jalan dan membelinya. Haha. Boros banget gue belanja2 mulu. Sehabis dari Kiyomizudera, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Gion. Kawasan ini adalah pusat perbelanjaan di Kyoto. Kawasan ini juga terkenal dengan Geisha-nya. Sayang, kami tidak menemukan Geisha saat itu.

Dari Gion kami pulang ke hostel. Kami makan di dekat hostel (650 Yen) lalu kemudian beristirahat. Menurut saya, hostel ini agak kurang nyaman. Dinginnya udara di luar masuk ke dalam, saya tidak tahu apa pemanas di dalam rusak atau dindingnya kurang tebal. Yang jelas, banyak orang juga mengeluhkan hal itu di internet. Showernya agak aneh karena harus ditekan tiap 5 menit sekali. Dan untuk menuju ke lantai atas tidak tersedia lift, alias harus naik tangga. J-Hoppers Hostel ini memang terkenal sebagai salah satu pelopor hostel di Jepang, sudah berdiri sejak tahun 2000-an. Mungkin karena sudah lama ini, maintenance-nya jadi kurang, berbeda sama hostel2 baru yang sebelumnya saya inapi. Kelebihannya, penerima tamunya ramah. Namanya Yulia, dan dia berasal dari Rusia. Hostel ini juga meminjamkan yukata free untuk kita berfoto-foto.

DAY 7 : KYOTO

Belajar dari pengalaman kami sebelumnya, kami bangun pukul 7 pagi dan berangkat pukul 8. Udah hari ke-7, baru belajar, telat booo! HAHAHHA.

Hari ini kami berencana akan pergi ke Kinkakuji Temple, kawasan Arashiyama dan juga Nishiki Market.

KINKAKUJI TEMPLE
Perjalanan dari stasiun Kyoto menuju Kinkakuji ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan bis. Kinkakuji temple (tiket masuk 400 Yen) ini sangat terkenal dengan kuil emasnya. Benar saja, begitu masuk ke dalam, saya menemukan kuil emas yang sangat cantik dengan pantulan air yang sempurna. Saya semakin jatuh cinta dengan Kyoto. Setelah mengitari area kuil, kami pun melanjutkan perjalanan ke Arashiyama. Oh iya, kuil-kuil yang saya datangi di Kyoto ini hanya bisa dilihat dari luar. Kita tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat isi kuil tersebut.

The beautiful Kinkakuji Temple (Golden Pavillion)

ARASHIYAMA

Kami naik bis ke Arashiyama di mana terdapat Togetsukyo Bridge, yang sangat bagus di musim gugur. Sayang, waktu itu daun musim gugur di Kyoto belum nampak. Puncak musim gugur di Kyoto itu bulan November. Saya terbayang  bagaimana indahnya jembatan tersebut dengan latar belakang daun musim gugur yang memukau. Setelah melewati jembatan, kami mengikuti jalan, yang akhirnya membawa kami ke Bamboo Path. Tempat ini sangat keren, terdapat jalan di mana kiri kanannya ada pohon bamboo yang tinggi menjulang. Cooooool! Setelah itu, kami naik Sagano Romantic Train (620 Yen) yang di sekitarnya terdapat pohon dan sungai cantik. Sagano train ini jadwalnya sejam sekali. Waktu saya ke sana, saya datang jam 1, tapi mendapatkan tiket yang jam 3. Harus menunggu agak lama untuk menikmati Sagano.

Togetsukyo Bridge

Bamboo Path

Setelah berkeliling dengan Sagano train, kami naik JR dari stasiun terdekat (200 Yen) untuk kembali ke terminal bis untuk melanjutkan perjalanan ke Nishiki Market. Agak deg-degan juga karena pasar ini tutupnya jam 5. Beruntung, hari itu adalah malam minggu, dan ternyata pasarnya tutup agak malam. Kami belanja oleh-oleh di Nishiki Market, dan sekitarnya. Akhirnya kami bisa puas-puasin belanja oleh-oleh. Pas banget, karena itu adalah malam terakhir kami di Jepang.

Sagano Romantic Train

View from Sagano Romantic Train

Pukul 9 malam kami pulang ke hostel dan saya berfoto-foto dengan yukata yang disediakan. Sayang si Mel ga mau foto pake yukata. Malam itu kami mulai packing dan menyadari bahwa bawaan kami berlipat ganda. Semoga kami tidak kena tambahan bagasi di flight esok hari.

DAY 8: KYOTO-KUALA LUMPUR

Tak terasa sudah hari terakhir di Jepang. Saya sangat sedih karena saya mulai mencintai kota ini, dan negara ini. Yaa selain itu males juga sih ke kantor tau bakal ada kerjaan numpuk. Hahaha. Hari ini kami bangun pagi kembali karena akan mengeksplor sebuah kuil yang tak kalah cantiknya dengan kuil lain, Fushimi Inari Shrine (free entry).

FUSHIMI INARI SHRINE 

Kuil ini masuk dalam peringkat pertama tempat di Jepang yang paling banyak dikunjungi oleh turis versi Trip Advisor. Terdapat ribuan gerbang untuk menuju puncaknya. Perjalanan menuju puncak memakan waktu 1.5 jam. Kami tidak sampai puncak dan hanya berhenti di tengah-tengah. Selain lelah, kami juga harus mengejar bis untuk kembali ke hostel lalu pulang ke Osaka.

Sepanjang Fushimi Inari Shrine pemandangannya begini semua

Sehabis makan siang, kami mengambil barang bawaan kami di Hostel kemudian ke stasiun Kyoto, tempat kita akan menaiki Shinkansen ke Osaka (1420 Yen). Shinkansen ini benar-benar cepat, dalam 10 menit kami sudah tiba di Osaka. Di luar kereta terlihat pemandangannya cepat sekali berubah, sementara di dalam, tidak terasa kecepatannya. Coool! Jika Anda memiliki banyak budget, Anda bisa menggunakan Shinkansen untuk berkeliling Jepang. Harganya sendiri sekitar 3 juta rupiah untuk satu minggu. Jarak dari Osaka ke Tokyo saja hanya ditempuh dalam waktu 2 jam, berbeda dengan naik bis malam yang menempuh waktu 8 jam.

Tiket Shinkansen Kyoto-Osaka

Shinkansen (Japanese bullet train)

Setibanya di Osaka, kami menuju Namba untuk menaiki Nankai Express ke Bandara Kansai. Yang kami takutkan terjadi, tas kami overload sehingga harus menambah extra bagasi. Kamipun membayar 4000 Yen untuk kelebihan bagasi kami berdua. Di bandara, akhirnya kami bertemu Tokyo Banana, yang sangat sulit dicari di Jepang. Tokyo Banana ini sangat terkenal di Indonesia, sementara di Jepang, sepertinya biasa saja. Maklum, semua snack di Jepang memang enak-enak. Kata teman saya, kalau mau mencari Tokyo Banana yang lebih murah, bisa dicari di Tokyo Sky Tree. Perbedaan harga sampai dengan Rp 50.000 dibanding di bandara.

Pukul 4 sore, saatnya kami berpisah dengan Jepang. Sedih rasanya. Jam 10 malam kami sudah tiba kembali di Kuala Lumpur. Suasana di sana sangat berbeda. Kami bertemu dengan petugas imigrasi yang galak-galak, jauh berbeda dengan orang Jepang yang sangat baik dan sangat santun. Di Jepang, orang-orangnya sangat helpful. Meskipun mereka tidak bisa Bahasa Inggris, tapi mereka akan mencoba menjawab pertanyaan kita sekuat tenaga, saya sendiri sampai kasihan melihatnya. Mereka juga selalu berterima kasih dan minta maaf. Bayangkan, saya tidak sengaja menyenggol orang di bis, eh malah dia yang minta maaf. Padahal saya yang salah, jadi merasa gak enak sendiri..

Karena sudah tahu spot enak untuk tidur, kami mengunjungi Burger King yang sofanya bisa untuk ditiduri. Setelah makan malam di sana, saya pun tertidur. Cukup pulas hari itu. Keesokan harinya kami berangkat ke Jakarta pukul 8 pagi dan tiba di Jakarta pukul 9. Selamat kembali ke kota yang panas dan macet. Hehehe..

Note:

*1 Yen = 113.5 Rupiah

Total biaya keseluruhan perjalanan kurang lebih Rp13.500.000 (jika tidak terjadi ketinggalan bus dan tidak belanja belanji, mungkin bisa Rp 11.000.000)

Arigatou Gozaimasu, Japan!

Advertisements

Perjalanan ke Negeri Sakura: Tokyo dan Nikko

Postingan ini merupakan lanjutan postingan sebelumnya di Osaka.

DAY 4 : TOKYO

Setelah bermalam di bis dengan tidur yang cukup nyenyak, kami sampai di Tokyo tepatnya di Stasiun Ikebukuro. Dari Ikebukuro, kami naik subway ke Asakusa tempat hostel kami berada. Kami membeli tiket terusan subway untuk 1 hari penuh seharga 1000 Yen*. Kami menginap di Khaosan Asakusa Hostel World & Ryokan (3400 Yen per malam) dengan memesan tempat tidur ala Jepang, yang disebut Ryokan. Asakusa adalah daerah pusat budaya dan pernak pernik tradisional Tokyo, berbeda dengan bagian Tokyo lain yang “kota” banget. Setelah mandi, kami melanjutkan perjalanan ke Tsukiji Fish Market.

TSUKIJI FISH MARKET
Kami sampai di sini kira-kira jam 1, banyak tempat yang sudah tutup, namun beberapa penjual masih buka. Kabarnya, Tsukiji Fish Market adalah pasar tempat menjual ikan terbesar di dunia. Di sini dijual berbagai macam ikan seperti salmon, tuna dan sebagainya. Jika ke sini jam 4 subuh, Anda bisa melihat pelelangan tuna. Saran saya kalau mau ke sini lebih baik di pagi hari, jangan kesiangan kaya saya. Di sini kami melihat berbagai makanan dan juga ikan dijual, kami tidak membeli apa-apa karena sudah kenyang. Perjalanan pun dilanjutkan ke Meiji Shrine.

MEIJI SHRINE dan HARAJUKU
Meiji shrine adalah sebuah kuil di sebelah pusat perbelanjaan Harajuku. Cuaca saat itu cukup dingin ditambah hujan, kuilnya sendiri cukup besar namun sederhana. Terdapat tempat berbagai doa yang ditulis di kayu digantung. Saya juga pengen nulis doa, tapi lalu inget kantong. Hahah.

Sehabis dari Meiji Shrine kami ke Harajuku. Saya berharap bisa menemukan jaket tebal dan boots di sini. Karena kabarnya harganya ada yang miring. Tapi setelah berputar-putar, saya tidak menemukan yang harganya miring. Kami malah berakhir belanja di Daiso untuk keperluan pribadi dan oleh-oleh. Saya juga berharap melihat banyak yang cosplay di sini, namun karena cuaca jelek dan hari itu masih hari biasa, tidak begitu banyak orang cosplay.

Meiji Shrine

Harajuku Street

Wallpaper at Harajuku Street

SHIBUYA dan SHINJUKU

Mengejar waktu, kami pun pergi ke Shibuya. Di sana adalah pusat kota Tokyo, di mana terdapat persimpangan Shibuya yang sangat ramai orang berlalu lalang. Kami mencari patung Hachiko, anjing yang terkenal itu. Agak susah mencari patung Hachiko, dalam bayangan saya patungnya besar, namun ternyata kecil dan sulit dicari.

Di Shibuya ini kami makan malam di Pepper Lunch. Sistem pemesanannya agak unik karena kami harus memilih menu dan membayar di boks panjang (seperti boks minuman kaleng), lalu mengambil bon dan memberikannya pada pelayan di sana. Pepper Lunchnya kurang lebih sama seperti yang di Jakarta. Yang saya amati sejak saya sampai di negara ini adalah banyaknya bangku untuk makan sendiri atau mengitari dapur. Jarang bangku yang untuk rame2. Sepertinya orang Jepang lebih senang makan sendirian daripada bersama orang lain.

Shibuya crossing line

d4de6-img-20141015-wa0012

Patung Hachiko

Selepas dari Shibuya kami ke Shinjuku. Shinjuku ternyata kurang wah dibanding Shibuya, padahal dalam bayangan saya Shinjuku itu lebih wah. Hehehhe. Saya menemukan UNIQLO lalu membeli jaket di sana. Akhirnya ketemu jaket juga! Sementara itu bootsnya belum ketemu, padahal kaki saya sudah sakit sekali ditambah sepatunya kemasukan air hujan 😦

Kemudian kami pulang ke Asakusa dan berharap bisa melihat pasar tradisional Nakamise di sana, sayang pasarnya sudah tutup dari jam 5 sore. Saya pun Cuma berfoto di kuil ini..

DAY 5: NIKKO

Kami bangun pada hari itu sekitar jam 10. Kami benar-benar pemalas, karena terlalu lelah setiap malamnya. Saya membayangkan perjalanan dari Tokyo ke Nikko hanyalah 1 jam. Tapi ternyata 3 jam. Jeng jeng jeng! Alhasil hari itu diawali dengan terburu-buru, kejar-kejaran sama kereta.

Kami melihat lihat sebentar ke Nakamise Shopping Street, tempat di mana banyak pernak pernik tradisional dijual, kemudian makan di MOS Burger (700 Yen). Setelah itu kami langsung naik kereta menuju kota Nikko (1360 Yen). Nikko menjadi tujuan kami di Jepang karena di bulan Oktober ini, di Nikko sudah musim gugur. Kota lain juga sudah musim gugur, namun belum banyak bunga musim gugurnya. Sementara di Nikko, sudah banyak. Kami berniat pergi ke beberapa air terjun yang di kanan kirinya ada autumn leaves.

Perjalanan dari Tokyo ke pusat kota Nikko ditempuh selama 2 jam 10 menit dengan menggunakan kereta Nikko Tobu Line dari stasiun Asakusa. Sesampainya di stasiun Nikko, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kami harus melanjutkan perjalanan ke Okunikko (menggunakan Nikko Day Pass 2000 Yen tergantung jarak), tempat air terjun2 itu berada. Perjalanan ke Okunikko berjarak 1 jam dengan menggunakan bis, kami pun langsung ke Kegon Falls (tiket masuk 550 Yen). Air terjun yang katanya paling besar di Nikko.

Naik air terjun di sini sangatlah berbeda dengan di Indonesia, di Indonesia kita harus trekking berjam-jam untuk melihat indahnya air terjun, sementara di sini kita tinggal naik lift menuju ke atas, lalu sampailah ke Observation deck air terjun. Memang, kita hanya bisa melihat air terjun tanpa bisa main dan mandi-mandi di sana. Tapi itu saja sudah sangat bagus. Kami melihat daun musim gugur di air terjun tersebut, belum benar-benar merah, tapi sudah lumayan lah.

Kegon Falls

It’s autumn in Nikko!

Pukul 5 kami melanjutkan perjalanan ke Ryuzu Falls (naik bis 420 Yen), sayang sampai sana sudah gelap, mana semua petunjuk jalan bertuliskan huruf kanji. Akhirnya kami berhasil melihat Ryuzu falls, yang jauh lebih kecil daripada Kegon. Namun sangat cantik karena di sebelah kiri dan kanannya ada autumn leaves. Saya agak menyesal sampai di sini sesore ini, karena kalo lebih siang pasti pemandangannya jauh lebih indah dan spot yang didapat pasti lebih banyak. Itulah ganjaran bangun siang, kalo kata orang jaman dulu.. rejekinya dipatok ayam. Hahahha. Di Ryuzu, kami makan udon dulu untuk makan malam, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Tokyo. Kami harus sampai Tokyo setidaknya jam stgh10 malam, karena jam 10.15 kami sudah harus naik bis Willer Express ke Kyoto. Selamat berpacu dalam waktu!

Ryuzu Falls 

Perjalanan dari Nikko ke Tokyo sangatlah tidak mulus. Diawali dengan menunggu kereta di peron yang salah. Dan kami harus berkejar2an dengan kereta di peron lain yang akan segera berangkat. Di tengah jalan, kami dipindahkan ke kereta Express (alias lebih mahal). Kami pikir kami tidak harus membayar lagi, tapi ternyata kami harus bayar lagi, atau kami harus turun. Mau ga mau kami membayar, karena kami harus sampai ke Tokyo pukul setengah 10, dan tidak ada waktu untuk menunggu kereta lagi. Saya deg-degan dalam hati, takut tidak sampai di terminal tepat waktu.

Kami sampai di stasiun Asakusa setengah 10, kemudian harus naik subway lagi ke stasiun Shinjuku, tempat terminal bis berada. Tidak saya sangka-sangka, perjalanan ke Shinjuku cukup jauh. Dalam pikiran saya di Jepang kemana-mana deket, karena transportasinya gampang. Di tengah jalan di subway, kami melirik jam dan sudah pukul 09.45. 30 menit lagi menuju keberangkatan bis! Saya dan Melta memutuskan turun dan naik taksi ke Shinjuku, dengan ekspektasi perjalanan lebih cepat. Taksi di sini ternyata lebih mahal daripada di Osaka, sekali buka pintu 700 yen. Ternyata, Shinjuku letaknya memang agak lumayan, kami sampai sana pukul 22.25 dengan argo taksi seharga 4500 yen. Gila, stres banget, baru kali ini naik taksi seharga Rp500.000 dengan waktu tempuh 30 menit, mana tetep telat pula!

Kami sudah telat 10 menit dari pukul 22.15. Dan bispun sudah pergi. Ya, inilah Jepang, telat 1 menit aja ditinggal, apalagi 10 menit. Padahal saya sudah memohon untuk ditunggu dengan meng-email ke Willer Express. Tapi apa daya.. Perasaan kesal sekesal-kesalnya ini pun muncul kembali, udah capek-capek naik kereta Express, naik taksi 500ribu, tapi tetep aja telat! Akhirnya, tiket bispun Cuma di-refund 50%.

Saat itu saya hanya memiliki 2 pilihan, naik bis ke Osaka lalu melanjutkan perjalanan ke Kyoto via kereta (Osaka ke Kyoto cuma 30 menit). Atau naik bis ke Kyoto keesokan harinya dengan harga tiket 2x lebih mahal. Akhirnya kami memutuskan naik bis ke Osaka (3900 Yen). Bisnya tidak sebagus kemarin dan harganya lebih murah sedikit, tapi tidak apa, yang penting kami bisa ke Osaka. Kami pun menunggu jam keberangkatan bis, pukul 00.30.

Karena bisnya tidak sebagus kemarin, bis ini tidak ada selonjoran kaki, tutup kepala dan juga chargeran. Di bis itu saya cuma bisa tidur-tidur ayam, tidak sepulas waktu naik bis dari Osaka ke Tokyo.

*1 Yen = 113.5 Rupiah

Intip kelanjutannya di Perjalanan ke Negeri Sakura: Kyoto!

Perjalanan ke Negeri Sakura: Osaka

Setelah liburan ke 2 tempat tahun ini, saya memutuskan untuk berlibur lagi! Hahhaa. Semua hanya gara-gara impulsivitas saya melihat tiket promo murah. Bayangkan, siapa yang tak terketuk hatinya melihat tiket promo Kuala Lumpur-Osaka hanya seharga 1.5 juta rupiah PP! Hahaha. Saya menemukannya di akun twitter @flyingpromo. Di sana banyak penerbangan dalam dan luar negeri dengan harga super miring! Hal itu bisa terjadi karena pemilik akun tersebut, Mas Efan, memiliki Air Asia loyalty card yang namanya BIG! Gile, bisa promo abis-abisan gtu. Nah gue pun mengajak Melta, yang memang juga pengen ke Jepang. Tahun lalu kami pernah membayangkan liburan ke Jepang bareng, dan ternyata terwujud aja loh. Dia pun langsung mau saja saat diajak, dengan syarat, bukan saat musim dingin. Akhirnya kami memutuskan pergi di pertengahan bulan Oktober. Agak nekat sih gue, mengingat akan ada tes DELF (macam TOEFL buat Bahasa Prancis) di bulan November dan gue harus mempersiapkannya jauh-jauh hari.

Nah, untuk pergi ke negeri sakura ini kami harus mempersiapkan visa (yang kata orang agak susah dapetinnya). Dengan modal minjem duit emak, gue pun mengapply visa dan lolos! Hahaha. Ternyata apply visa jepang ga terlalu susah, tinggal masukin persyaratan yang ada di web, bayar biaya administrasi Rp320 ribu sama siapin rekening tabungan. Ga ada rumus pasti tabungannya musti berapa tapi kata orang-orang sih setidaknya 1 juta x jumlah hari kepergian lo ke sana. Misalnya lo ke sana 10 hari, lo musti nyiapin 10 juta..

Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu, 11 Oktober 2014. Saya dan Melta pergi ke Malaysia pada pukul 9 malam naik Lion Air (Rp900 ribu PP) untuk kemudian transit dan tidur di sana. Ini pertama kalinya saya tidur di bandara. Dan rasanya… ga enak! Hahahhaha. Iya lah, tidur di cuma di karpet dengan suara orang lalu lalang. Di bandara Kuala Lumpur ini memang tidak memungkinkan pengunjung untuk tidur di kursi. Kursinya didesain biar kita ga bisa tidur di sana. Beda banget sama bandara Kansai di Osaka yang kata teman saya, bisa tidur nyaman di kursi ditambah dikasi selimut. Waw! Yah walaupun Cuma di karpet tapi bandara KL itu nyaman, ga heran masuk dalam 10 bandara terbaik di dunia.

Day 1: KUALA LUMPUR-OSAKA

Setelah tidak bisa tidur selama semalam, kamipun berangkat ke Osaka pukul 8 pagi untuk menempuh perjalanan udara selama 7 jam. Di pesawat, kurang lebih sama keadaannya, gue cuma tidur-tidur ayam. Akhirnya sampai juga kami di Osaka, kurang lebih jam 4. Rasanya seneng campur terharu. Hahaha. Ini pertama kalinya gue ke luar negeri tanpa nyokap gue, ke Jepang pula gitu kan.

Sesampainya di airport kami langsung mencari kereta yang menghubungkan airport dengan pusat kota Osaka. Nama keretanya Nankai Express (920 Yen*). Setelah 1 jam di kereta, kami pun sampai di stasiun yang dekat dengan tempat kami menginap. Kami memesan hotel kapsul di Agoda bernama Shin-Imamiya Hotel (Rp 230.000). Kami memesan hotel ini karena kami ingin merasakan menginap di hotel kapsul. Hotel kapsul yang lain sudah penuh di tanggal itu dan satu-satunya pilihan kami adalah hotel ini.

Begitu sampai, kami langsung menanyakan modem wifi yang sudah kami pesan dari Jakarta. Dan modemnya pun sudah sampai. Fyi, kami memesan Japan Wireless dengan harga 4200 Yen (Rp 489.981) untuk 5 hari, dan modemnya pun bisa dipakai ramai-ramai sampai 10 gadget. Pelayanannya sangat bagus dan sinyalnya kencang. Recommended!

Hotel kapsul ini benar-benar di luar dugaan saya, saya membayangkan kapsulnya berjejer, tapi yang saya dapat adalah 1 kamar yang di dalamnya ada 1 kapsul. Hahahha. Setelah mandi, kami pergi makan sebentar di sekitar hotel (480 Yen*). Sejak kedatangan saya ke Osaka, saya sudah memperhatikan 1 hal. Suara ambulans yang tidak berhenti setiap 15 menit sekali. Saya pernah membaca buku bahwa katanya setiap 15 menit sekali ada orang yang bunuh diri di Jepang, Dan setiap ada ambulans saya jadi merinding membayangkannya.

Expectation

Reality

NAMBA-DOTONBURI

Meskipun lelah dan ingin tidur, tapi tidak mungkin malam itu tidak kami lewatkan dengan berjalan-jalan. Kami pergi ke daerah Namba (naik JR Line 150 Yen*), pusat perbelanjaan dan nongkrong anak muda Osaka di malam hari. Di sana ada area Shinsaibashi dan Dotonburi. Isinya adalah outlet2 makanan dan fashion di sepanjang jalan. Seruu! Kami pun makan takoyaki enak 760 Yen* (tapi berujung enek karena mesennya kebanyakan). Malam itu dilewatkan dengan berjalan-jalan sampai kaki pegel. Kami pun kembali ke hotel dan tidur dengan lelapnya malam itu.

Dotonburi, Osaka

Day 2 : OSAKA

Dua pemalas ini kecapekan dan baru bangun tidur jam 10! Kami pun mandi, lalu bersiap pergi ke Osaka Castle.

Sebelum ke Osaka Castle kami pergi ke Umeda Sky Building (180 Yen* via JR Line) terlebih dahulu untuk menitipkan barang di loker Willer Express (500 Yen*), bis yang akan kami naiki nanti malam menuju Tokyo. Setelah makan siang, kami pun ke Osaka Castle dengan menggunakan JR Line (160 Yen*).

OSAKA CASTLE

Sesampainya di Osaka Castle, saya agak terkejut karena ada pengumuman bahwa Osaka Castle tutup karena akan ada taifun. What? Taifun? Another disaster come again to my holiday. Rrrrr. Walau begitu kami masih agak santai, dan berpikir bahwa taifunnya paling bakal ga parah2 amat. Walaupun tidak bisa masuk, kami cukup puas untuk berfoto di luar Osaka Castle. Bangunannya sangat bagus. Penasaran dalamnya seperti apa. Sepulangnya kami dari Osaka Castle, kami bertemu dengan seorang bule yang senang bertemu kami karena bisa bahasa Inggris (maklum, orang Jepang kebanyakan ga bisa Bahasa Inggris). Dia agak panik lalu menanyakan tentang taifun. Dia bertanya-tanya apakah taifun itu berbahaya? Dengan sotoynya gue bilang aja kayanya ga bahaya. Hahaha.

Osaka Castle

Kami sampai di stasiun JR dan mendapat info bahwa JR akan tutup jam 4 karena taifun. Sementara saat itu adalah jam 3. Saya agak panik apakah harus kembali ke tempat bis Willer, atau melanjutkan pergi ke tempat wisata lain. Saya pun memutuskan pergi ke tempat wisata lain yaitu Shitennoji Temple (160 Yen* via JR Line). Di stasiun JR dekat Shitennoji, saya bertanya pada petugas di sana apakah subway juga tutup jam 4 atau tidak. Ternyata tidak, kami pun bisa santai dan menikmati sisa hari itu dengan subway. Di Osaka, jaringan subway dan jaringan JR berbeda. Subway itu pasti di bawah tanah, sementara JR bisa di atas, bisa di bawah.

SHITENNOJI TEMPLE

Keluar dari stasiun JR, kami mendapati angin kencang dan juga hujan. Kami lupa membawa payung, maka kami masuk lagi ke dalam stasiun untuk menunggu hujan reda. Saya pun mulai panik, apakah ini yang dinamakan taifun. Saya mencoba mencari informasi dari teman saya yang pernah tinggal di Jepang soal taifun. Katanya sih tidak berbahaya. Tapi dosennya pernah nabrak pohon gara2 kebawa angin taifun. Itu sih katanya karena dosennya badannya kecil. Kesannya kalo saya tidak mungkin terbang gitu ya. Hahaha. Setelah mendapat penjelasan dari dia, saya agak merasa tenang. Memang, saya disarankan untuk tidak keluar keluar, tapi nanggung banget, masa diem aja di dalam. Hahahha.

Saya dan Melta kemudian mencari payung dan mendapatkan payung transparan ala ala orang Jepang (565 Yen*). Payung ini yang akhirnya melindungi kami selama perjalanan jalan kaki ke Shitennoji Temple. Dan.. setelah susah payah jalan ke sana, Shitennoji temple pun juga tutup! Hhh.. agak kecewa, tapi ya sudahlah kami berfoto-foto saja di depan. Sekembalinya dari Shitennoji Temple, kami langsung kembali ke tempat bis Willer Express. Rencana awalnya, kami ingin melihat-lihat Universal City Walk, namun karena perjalanan ke sana harus ditempuh dengan JR dan JRnya sudah tutup. Ya apa boleh buat.

Shitennoji Temple

Kami naik subway ke stasiun Osaka/Umeda (280 Yen), stasiun paling dekat dengan Umeda Sky Building. Stasiun tersebut sepi sekali, semua pusat perbelanjaan tutup, bahkan kami kesulitan mencari restoran. Ternyata memang semua pegawai di Jepang dipulangkan jam 4 sore, karena ada taifun. Dipikir-pikir canggih juga negara ini, bisa memprediksi bencana alam, dan semuanya akurat. Saya akhirnya makan sushi di Family Mart. Fyi, sushi Family Mart ini enak2, harganya juga cukup murah (1 kotak sushi sekitar 400 Yen). Setelah makan, dengan susah payah kami berjalan ke Umeda Sky. Angin semakin kencang dan hujan semakin deras. Rasanya sekarang benar-benar taifun. Payung melta terbalik karena angin.

Sesampainya di terminal bis, another bad news come. Bis kami ke Tokyo di cancel karena taifun! Omygod, rasanya pengen nangis saat itu. Kenapa rasanya bencana ga abis-abis datang ke liburan saya. Dari komodo kena abu vulkanik, derawan ga dapet penginapan, sekarang di Jepang gue kena taifun. Rrrr. Beruntung, Melta anaknya woles. Dia menenangkan gue dan bilang “Ya udahlah, mau diapain lagi.” Haahahha. Itu kata kunci dia kalo udah pasrah sama segala sesuatunya. Akhirnya saya memesan bis ke Tokyo kembali keesokan harinya (cancellation bis hari ini direfund) dan hostel dekat situ di Agoda. Beruntung bisa dapat penginapan itu. Semakin malam ternyata taifun semakin parah. Kami tidak bisa pergi berjalan kaki ke penginapan karena hujan deras dan angin kencang. Payung saya pun terbalik. Kami bertemu dengan orang Indonesia yang menyarankan naik taksi, katanya naik taksi kalau dekat harganya 680 Yen (sekitar 70ribu rupiah). Yasudah akhirnya kami naik taksi ke penginapan, si bapak taksi yang tidak bisa Bahasa Inggris agak kesulitan menemukan itu hostel. Untung dia canggih dan bisa nyari lewat GPSnya sendiri. Akhirnya kami sampai di Drop Inn Osaka Hostel (Rp 342.000 per malam). Thank God we are safer now! Anyway, selama gue di Jepang, menurut gue ini hostel yang paling bagus. Meskipun satu ruangan bisa belasan orang, tapi tempatnya bersih, baru dan nyaman!

Day 3: UNIVERSAL STUDIO OSAKA

Seharusnya saya sudah berada di Tokyo hari ini. Ya, semua rencana berantakan gara-gara si taifun, tapi sekali lagi harus bersyukur karena masih hidup dan masih bisa tidur dengan pulas.

Hari ini saya memutuskan pergi ke Universal Studio Osaka (USO). Tempat yang tidak masuk daftar tujuan saya dari awal, karena basically menurut saya Universal Studio dan Disneyland itu sama di negara manapun.  Tempatnya lebih cocok untuk anak kecil dan masuk ke situnya mahal. Hahahhaa. Saya agak penasaran sama USO ini karena ada wahana baru, The Wizarding World of Harry Potter.

Universal Studio Osaka

Kami sampai di Universal Studio (180 Yen via JR Line) sekitar jam 1 siang, maklum bangun tidurnya aja baru jam 10. Udara sudah jauh lebih cerah dari kemarin. Taifun telah pergi jauh dari Osaka. Kami menitipkan tas di loker, kemudian membeli tiket seharga 6980 Yen. Agak heran karena tempat ini super super rame padahal hari biasa. Kami pun foto-foto di bola dunia khas Universal Studio  lalu langsung menuju ke wahana Harry Potter. Ternyata kita harus ambil jam antrian masuk dulu untuk masuk ke wahana ini, sangking banyaknya pengunjung yang mau ke situ. Kami dapat jam antrian masuk, jam 3. Sambil menunggu, kami menaiki wahana-wahana lain terlebih dulu. Satu hal yang agak ajaib dari USO adalah, setiap karakter di wahana yang kami naiki memakai bahasa Jepang. Kami sukses mengantuk saat karakter tersebut ngoceh-ngoceh sendiri dalam bahasa Jepang. Hahahha.

Akhirnya jam antrian masuk ke Harry Potter tiba juga. Begitu masuk, tempatnya benar-benar Wow! Persis kaya penggambaran dunia Harry Potter di film dan bukunya. Kami masuk ke hogsmeade dan melihat desa dengan rumah bercerobong asap dilapisi salju. Di sepanjang jalan kami melihat Honeydukes (yang super super antri masuknya), toko Ollivander dan masih banyak lagi. Kami melihat kerumuman orang mengantri Butterbeer dan kami berjanji akan minum juga setelah puas melihat-lihat.

Kami pun memasuki wahana utama di dunia Harry Potter tersebut, untuk memasuki wahana tersebut kami harus mengantri 2 jam! Sambil mengantri, kami memperhatikan orang-orang Jepang yang pake kostum unik-unik Cosplay. Waktu itu ada segerombolan cewek pake kostum berdarah-darah. Kami juga menghabiskan waktu dengan wifi-an. Thanks to japan wireless, again! Haha. Wahana yang di dalam, begitu mirip dengan kastil Hogwarts. Kami pun bermain seolah-olah naik sapu terbang untuk mengelilingi Hogwarts bersama Harry Potter. Overall, cukup seru, walau ga ngerti Harry ngomong apa. Hahahha. Malam mulai tiba saat kami keluar dari kastil. Kami pun mengantri butterbeer dan rasanya ternyata enak (1100 Yen sudah mendapatkan mug)! Gabungan butter dan beer hahahahha. Kami agak tertarik mengantri Honeydukes, tapi melihat antrian yang sangat panjang dan saat itu sudah super super dingin, kami mengurungkan niat tersebut dan keluar dari zona Harry Potter.

The Wizarding World of Harry Potter

Di cuaca yang sedingin itu saya cuma memakai cardigan dan sepatu yang tidak nyaman sama sekali. Tadinya kami mau pulang saja, tetapi karena sayang, kami melanjutkan mengitari USO, makan churros (450 Yen) dan melihat parade karnaval.

Kami pun pulang ke terminal willer express (180 Yen via JR Line), kali ini bisnya beroperasi dan kami bisa tidur di bis dengan nyaman selama perjalanan ke Tokyo. Bis willer express ini sangat bagus, ada selonjoran kaki dan juga tutup kepala serta selimut. Saya memesan tipe Relax seharga 4800 Yen. Terdapat berbagai pilihan harga dan fasilitas yang berbeda.

Ruang tunggu Willer Express Umeda Sky Building (photo from Google)

Bis Willer Express tipe Relax tampak depan (photo from Google)

Bis Willer Express tipe Relax tampak dalam (photo from Google)

*1 Yen = 113.5 Rupiah
Baca lanjutannya di sini.