Itinerary Liburan ke Belgia 5 Hari 4 Malam

Liburan natal lalu gue sempet menjelajah Belgia (dan sedikit Prancis Utara di perbatasan Belgia) selama 5 hari 4 Malam. Waktu itu karena gue kerja pas weekend jadi gue cuma bisa pergi dari Senin sampai Jumat! Ini dia itinerarynya:

Hari ke-1: Sampai di Brussels

Gue naik bus (Eurolines, 18 Euro) dari Paris sampai Brussels-nya udah malam, jadi gue langsung ke rumah host gue. Di Brussels ini gue pake Couchsurfing, jadi urusan menginap, gratis. Host gue ini orang Korea yang agak aneh, tapi ga membahayakan, dia agak geek gitu dan ngomongnya cepet banget. Yang uniknya adalah dia terbiasa ngehost beberapa orang dalam waktu semalam. Pas gue ke sana, gue ber-5 gitu sama tamu-tamunya yang lain.

Hari ke-2: Brussels

Hari ini dihabiskan dengan eksplor Brussels. Pertama gue jalan ke Grand Place, main square-nya Brussels. Lalu muter-muter di pusat kota Brussels. Habis itu ngeliat Manneken Pis yang ternyata kecilllll banget! Hahaha. Zonk dah pas ke sana, bener kata tour guide gue pas di Praha, Mannekin Pis adalah the most overrated attraction in Europe. Haha!  Habis itu gue naik metro ke Atomium, gue cuma liat Atomium dari luar aja, karena kalo masuk harus bayar. Jadi katanya di tiap buletan-buletannya itu ada hall tempat pameran dan juga di puncaknya ada restoran. Malam tiba, gue pun mencoba waffle cokelat khas Brussels dengan cokelat hangat di Mokafe, salah satu cafe kece yang termasuk legendaris dan tua di Brussels. Interiornya kaya berasa di kerajaan, antik deh! Cafe ini terletak di Galeries Royales Saint-Hubert, sebuah shopping centre yang arsitekturnya juga kece berat! Galeries ini letaknya deket sama Grand Place dan mudah ditemuin. Sepulangnya, gue menghabiskan waktu di christmas market, karena waktu itu udah musim natal jadi Christmas Market jangan sampai terlewatkan!

grand place brussels

Grand Place and its Christmas tree

Webp.net-resizeimage (1)

Sisi lain Grand Place

Webp.net-resizeimage (3)

Manneken Piss, the most overrated attraction in Europe

Webp.net-resizeimage (4)

Atomium

Webp.net-resizeimage

waffle cokelat di Mokafe

Ada cerita absurd di malam kedua gue di rumah host gue. Ceritanya tengah malam ada bapak2 ngetokin semua kamar di rumah itu dan mencari-cari si host gue. Diapun kaget melihat banyak tamu di rumahnya. Dia pun kesel dan bilang ke kita semua: “Harusnya ini anak udah ga boleh nge-host lagi. Masih aja terima tamu. Kalian semua besok pagi2 jam 8 udah harus meninggalkan rumah ini ya!” Doenggggg! Untung aja itu malam terakhir kita di situ, kalo besokannya kita masih di Brussels bisa kalang kabut nyari penginapan huff.

Hari ke-3: Brussels-Bruges-Ghent

Hari ini gue pengen liat kota yang namanya Bruges, yang kata orang-orang cantik banget! Buat ke Brugges kita musti naik kereta dari Brussels seharga 14.7 Euro. Sebenernya untuk pilihan yang lebih murah ada juga option lain yaitu Blablacar, kalo bis tidak ada yang rute ini.

Perjalanan ke Bruges memakan waktu sekitar 1 jam. Bruges ini kotanya cukup kecil dan cukup untuk dibuat jalan-jalan seharian. Highlight dari Bruges adalah Main Square-nya yang bernama Markt, di sinilah terdapat bangunan warna-warni yang kaya di instagram hihi. Di sini juga ada Christmas Market, jadi ga bisa terlalu banyak foto bangunan lucu karen kehalang sama stand-stand Christmas Market.

Webp.net-resizeimage (5)

Main Square-nya Bruges yang warna-warni

Webp.net-resizeimage (6)

Lucu ya kotanya, banyak kanal-kanal gitu.

Kalo udah mampir Belgia, jangan lupa juga makan Belgian French Fries dengan mayonaise-nya yang banyak. Gue cukup dengan makan siang itu, lalu duduk di resto kecil di sana sambil liat orang lalu lalang.

Malamnya, gue naik kereta ke Ghent, tempat host couchsurfing gue selanjutnya tinggal. Kereta dari Bruges ke Ghent lebih murah, karena jaraknya lebih dekat sekitar 30 menit. Harganya 7 Euro. Gue pun turun di stasiun Gent St Pieter untuk menunggu temen gue si Agnes, temen UI yang tinggal di kota kecil deket Ghent. Kita bakal dinner bareng di restoran Indonesia yang ada di Ghent. Namanya adalah Gado Gado. Tempatnya bagus dan harganya cukup mahal (menurut gue). Tapi malem itu si Agnes berbaik hati nraktir gue, mayanlah rejeki anak kos. Makasih Nes! Malam itu gue memesan nasi rendang yang rasanya enak banget! Hihi.

Webp.net-resizeimage (7)

Cuni, Agnes dan makanan Indonesia ❤

Habis makan malam sama Agnes gue pulang ke rumah host couchsurfing gue, cowok Belgia. Rumahnya cukup gede dan orangnya baik banget!

Hari ke-4: Ghent

Hari ini dihabiskan dengan eksplor Ghent. Jujur, sebelumnya gue ga tau keberadaan kota ini. Tapi karena temen gue yang rekomendasiin gue ke host couchsurfing ini bilang kalo dia ada temen di Ghent, gue baru kepikiran mau ke sini. Gue liat gambarnya di google ternyata lucu juga dan jaraknya dekat dengan Bruges, jadilah gue ke sini.

Ternyata, kota Ghent ini bagus! Ukurannya lebih besar dari Bruges tapi lebih kecil dari Brussels, sedang lah. Di sini gue jalan-jalan ke pusat kotanya di daerah Torens dimana berjejer gereja dari St Niklaaskerk sampai St Baafskathedraal. Lalu gue juga ke Vrijdaag Market, untuk makan french fries (lagi!), serta menelusuri daerah Graslei dan Gravensteen. Gue waktu itu berjalan mengikuti peta ini, jadi semua tempat bisa dijelajahi!

Webp.net-resizeimage (8)

Bangunan model begini dan kanal lagi ❤

Webp.net-resizeimage (9)

Pusat kota dan Christmas Market Ghent

Di malam harinya, gue berjalan-jalan sama host gue ngeliatin Christmas market dan melihat pemandangan malam kota Ghent. Host gue baik bener karena dia nemenin gue jalan kaki sambil nenteng sepedanya haha. Malam itu diakhiri dengan main board games di rumahnya yang bernama Carcassone. Seru juga ternyata main board games haha!

Hari ke-5: Ghent-Lille-Paris

Hari ini gue meninggalkan Belgia untuk kembali ke Prancis, sebelum pulang gue mampir dulu ke Lille, kota besar yang terletak di perbatasan Belgia dan Prancis. Di sana gue ada temen UI yang namanya Cinta. Gue naik blablacar dari Gent ke Lille seharga 7 Euro. Perjalanan memakan waktu sejam.

Di Lille gue makan siang opor ayam buatannya Cinta hihi, habis itu kita jalan-jalan di pusat kota Lille menelusuri Grand Place dan Christmas Market-nya serta muter-muter di daerah situ selama 2 jam. Sore-nya gue pun pulang ke Paris naik bis (Flixbus, 15 Euro)!

Webp.net-resizeimage (10)

Bangunannya mirip-mirip di Belgia ya.

Webp.net-resizeimage (12)

Sama Cinta (nama sebenarnya) di depan Pohon Natal

Webp.net-resizeimage (11)

Grand Place-nya Lille

Overall, perjalanan ke Belgia ini cukup menyenangkan. Kalo kalian cuma pengen jalan ke satu kota aja di Belgia, saran gue, jalanlah ke Bruges, jangan ke Brussels. Ga ada apa-apa di Brussels. Hehe.

Advertisements

Jelajah Maroko (2): Chefchaouen dan Tangier

Setelah puas menjelajahi Marrakesh dan Gurun Sahara, saatnya gue beralih ke tujuan lain yaitu Chefchaouen! Chefchaouen adalah yang paling gue tunggu-tunggu dari perjalanan ini. Gue sampe bela-belain nempuh perjalanan dengan total 12 jam naik bis demi ngeliat Chefchaouen.

Hari ke-6: Marrakesh-Casablanca-Chefchaouen

Untuk mencapai Chefchaouen dari Marrakesh, bisa menggunakan 3 moda transportasi, yang pertama kereta api, yang kedua bus, yang ketiga taxi. Naik taksi itu paling ideal kalo travellingnya rame-rame, jadi share budget. Kalo sendirian kaya gue, kalo ga kereta ya bis. Gw memilih bis karena harganya lebih murah, bisa dibeli online dan jarak tempuhnya ga beda jauh dari kereta. Selain itu website CTM, nama bus yang gue naiki juga mudah untuk diakses. Gue harus naik bis dari Marrakesh ke Casablanca, lalu melanjutkan dari Casablanca ke Chefchaouen, karena itu satu-satunya bis yang bisa mencapai Chefchaouen dari Marrakesh. Dari Casablanca ke Chefchaouen itu cuma ada sekali sehari jadi ga ada pilihan lain selain ngikutin jam keberangkatan. Gue berangkat dari Marrakesh jam 6.45 di stasiun bis. Gue naik taksi ke stasiun bis dari deket hostel seharga 7 Euro. Bis ini seharga 85 Dirham (8.5 Euro) dan estimasi sampai Casablanca sekitar pukul 10.00. Bis menuju Chefchaouen baru ada pukul 13.30 jadi gue harus menunggu di Casablanca sekitar 3 jam. Bis tersebut bakal sampai di Chefchaouen sekitar pukul 20.00. Jadi kira-kira perjalanan yang ditempuh dari Marrakesh-Chefchaouen selama 11 jam belum termasuk transit. Luar biasa! Hahaha. Oya, harga tiketnya 140 Dirham (14 Euro).

CTM ini bisnya cukup besar dan bagus, bahkan menurut gue lebih bagus dari bis antar kota di Indonesia, tempat buat selonjorin kakinya cukup luas, mungkin disesuaikan dengan postur tubuh orang Maroko yang besar. Di stasiun bisnya ada semacam kantin, jadi kita bisa beli makan di situ kalo laper. Jujur, perjalanan naik bis ini cukup membuat gue deg-degan awalnya, karena kali ini gue bener-bener sendiri, ga ada grup tur, ga ada temen gue jadi beneran sendiri. Terus gue mikirnya bisnya kaya bis antar kota Indo gitu banyak abang-abang. Secara abang-abang di Marrakesh kerjaannya godain mulu kan, jadi was-was. Well, ternyata ga seserem bayangan gue sih. Bisnya bagus dan orang orangnya keliatannya behave, mungkin karena bis ini jatuhnya bis eksekutip alias cukup mahal haha.

Gue sampai di Casablanca pukul 10.00 tapi karena kena macet di dalam kota Casablanca, gue baru nyampe stasiun sekitar 40 menit kemudian! Gile udah lama ga ngerasain macet, asli ini macetnya kaya di Jakarta yang bener-bener berhenti gitu. Sekilas liat Casablanca, kota ini bener-bener kota gede dan modern. Pantesan macet wkwk.

Gue pun sempet menjelajahi kota Casablanca karena penasaran bentuknya kaya apa. Gw naik tram sampe ke ujung halte tram yaitu di pantai. Gue penasaran bentuk pantainya kaya apa. Yah taunya gitu doang, biasa. Hahaha. Kaya pangandaran gitu sih bentuknya, tapi ini beneran masih di dalam kota. Di sana gue sempet ketemu pasangan kakek-nenek Indonesia, so sweet banget, kakeknya kaya udah susah jalan gitu terus pake tongkat. Tadinya sempet mau nyapa, eh merekanya keburu ngeloyor duluan haha. Di Casablanca ini gue jg beli street food sejenis kebab gitu harganya cuma 1 Euro, rasanya ga enak sih hahah ga masalah, yang penting makan.

 

img_8583

Pantai di Casablanca yang B aja!

 

Habis muterin Casablanca, gue naik bis lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Chefchaouen, di bis ini banyak turis asing yang juga mau ke sana. Ada satu kejadian lucu-ngeselin di perjalanan gue ke Chaouen. Jadi kan gue turun ke restoran buat beli makan malam, terus diajak ngobrol pake bhs Prancis sama pelayannya, eh begitu dia tahu gue orang Indonesia, terus dia bilang ”Will you marry me?” What the f*ck? Gile orang pertama yang ngelamar gue adalah orang lewat di Maroko. Ya gue bilang aja ”Engga.” Trus dia jawab.. “Why? Indonesia and Morocco”. Heh? Udah gila apa mau nikah cuma gara2 gue orang Indonesia, dikira gue orang yang bisa langsung diajak taaruf gitu kali ya. Hahaha. Terus yaudah, gue tinggal pergi aja, bisnya udah mau jalan juga dan makanan gue udah jadi tinggal dibawa. Jadi gitu sodara-sodara, kalo di Maroko, kalo lo ngaku orang Indonesia, mereka seneng banget, kaya ketemu sodara jauh. Mungkin karena dianggap sama-sama negara Islam (Yah Indonesia emang bukan negara Islam sih, tapi orang-orang di luar sana menganggap kita negara Islam, FYI). Gue pernah sekali karena cape ngaku orang Indo, gue bilang aja orang Prancis hahhaa, ajarannya si Miss B itu (toh orang Prancis juga banyak yang asli Asia), langsung mereka diem. Hahaha. Takut kayanya sama negeri penjajahnya 😛

Akhirnya gue nyampe di Chaouen jam 8 malam dan langsung patungan taksi sama turis lain, jadi gue bayarnya cuma 1 Euro.

Hari ke-7: Chefchaouen

Gue menginap di hostel bernama Riad Baraka yang harganya 10 Euro per malem. Hostelnya bagus, lebih kecil dari Marrakech Rouge tapi lebih terawat dan teratur. Pas bangun pagi gue langsung naik ke atas rooftop hostel ini, pengen liat pemandangannya seperti apa. Ternyata seperti ini, sodara-sodara! Best hostel rooftop I’ve ever in only with 10 Euro!

 

img_8608

Pemandangan dari rooftop hostel seharga 10 Euro gue! Masih muka bantal bodo amat, yang penting pas ada yang motoin! #nasipsolotraveler

 

Seharian itu gue eksplor Chefchaouen, diawali dengan makan siang di Beldi Bab Ssour, salah satu restoran rekomendasi Trip Advisor. Dan bener aja, rasanya enak banget dan cukup bersahabat di kantong. 1 makanan harganya sekitar 3-5 Euro! Dalam 2 hari di Chaouen, gue 3 kali ke tempat ini sangking enaknya! Hahaha.

Chaouen itu kotanya kecil, jadi kalo udah di Medina (pusat kota)-nya biarkan saja diri kalian get lost. Kalian akan menemukan spot-spot terbaik untuk foto. Dimana-mana biru, jalanan biru, rumah biru, pintu biru! Bener-bener blue city deh nih kota. Kerennnnnn abisss! Belum pernah gue liat kota sebiru ini! Kaya di foto-foto instagram, walo tetep bagusan di foto daripada aslinya hahaha.

 

img_8678

Tempat foto favorit para turis!

 

img_8704

Pintu-pintunya biru semua!

img_8832

Dagangan di pinggir jalan yang ditata sedemikian rupa

img_8835

Menuju salah satu hostel (bukan hostel gue!)

 

Cuni Candrika

It’s literally blue everywhere! I’ve never seen a city this blue in my life! ❤

 

Selain ke pusat kota, tempat yang harus dikunjungi adalah Spanish Mosque. Jadi ini kaya masjid di atas bukit (masjidnya udah ga kepake lagi sih), tempat kita bisa melihat kota Chefchaouen dari atas. Keren abis! Naik ke sini sekitar 30 menit dari Medina. Dan di sinilah gue dilamar untuk kedua kalinya.. Jeng Jeng Jeng! Jadi begini ceritanya, gue lagi anteng di atas bukit sepi, ngeliatin rumah-rumah lucu dari atas. Tiba-tiba ada 2 cewe Jepang naik, yang diikuti oleh seorang pria Maroko, yang gue sangka guide-nya. Lama lama kok aneh, nih cewe2 kaya mau kabur dari si cowo ini dan gelagatnya cowo ini juga aneh. Si cewe2 Jepang pun naik agak ke atas buat duduk, gue juga dalam keadaan duduk tapi di batu bawah, tiba2 si pria ini nyamperin gue. Perasaan gue ga enak dan gue pura-pura ga bisa bahasa Prancis biar ga diajak ngomong. Dia pun ngajak ngomong gue pake bahasa tubuh, dia nunjuk-nunjuk ke gue, terus ke 2 cewe itu, terus nunjuk ke jari manisnya dia. Which is artinya, dia mau ngajak kita bertiga nikah, OMFG! Kali ini gue bukan cuma dilamar tapi diajak poligami, OMG. Gue pura-pura ga ngerti tapi si cowo itu tetep kekeh dan memperagakan hal yang sama selama 10 menit, sampe akhirnya dia berlutut di depan gue!! OMG, udah kaya di pilem pilem cowo berlutut ngelamar cewe. Pemandangannya bagus banget sih, kalo di setting udah keren tuh, asal ga ditunjukin muka cowonya aja LOL. Gue akhirnya udah kesel banget dan gue cuma bilang ”No!” sambil nunjukkin ekspresi marah, akhirnya dia pergi dengan sedih. Yah tau gitu ma dari tadi aja gue tolak, gausah pake pura-pura ga tau. Kebiasaan orang Indonesia dibawa-bawa sih, ga enakan.. Oya, fyi, di situ cuma ada kita bertiga doang jadi sebenernya agak serem juga. Tapi untungnya tuh cowo ga ngapa2in gue haha. Setelah kejadian itu, gue samperin si cewe2 Jepang dan gue cerita sama mereka kalo kita diajak nikah. Mereka langsung kaget dan akhirnya kita malah ketawa-tawa. Akhirnya si cewe2 ini jadi travelmate gue seharian itu haha.

 

img_8745

Si dua cewe Jepang di Spanish Mosque.

 

Hari ke-8: Chefchaouen-Tangier

Hari ini gue naik bis CTM ke Tangier pukul 15.15 dan sampai di Tangier pukul 18.00 (harga bis 45 Dirham). Sebelum gue pergi, gue sempet kesel sama yang punya hostel. Jadi kan gue check in jam 11 pagi, nah habis gue check-in gue ga boleh nunggu di lobby gtu, gue diusir. Aneh bgt, mentang2 gue ga nitip tas sama mereka (kalo nitip tas musti bayar) terus mereka usir gue. Yang jaga resepsionis kali itu beneran yang punya, kayanya orang Jerman. Nah kemarin2annya itu yang jaga bukan dia, anak2 muda gitu dan orang2 yang nunggu di situ dibolehin, lah ini gue malah diusir gitu dengan titipan ga enak. Asli, kesel. Akhirnya mau ga mau gue pergi dan nunggu di depan resto Beldi Bab Ssour sampe mereka buka untuk makan siang. Habis itu baru jalan-jalan, bawa ransel gue yg mayan berat! Berdasarkan pengalaman, jarak ke stasiunnya ga gtu jauh, jadi gue memutuskan untuk jalan kaki kira2 20 menit ke stasiun.

Perjalanan di bis cukup lancar tanpa ada yang ngajak kawin, akhirnya sampe juga di Tangier. Ternyata kotanya kota besar dan kota pantai gitu, kaya Nice. Di sini emang tempat dimana turis-turis dari Spanyol masuk, mereka naik kapal buat nyebrang dari Tarifa ke Tangier. Malem itu, setelah makan seafood di restoran Rif Kebdani yang juga jadi unggulan di Trip Advisor, gue jalan-jalan dikit menuju ke Kasbah, semacam benteng yang mengelilingi kota Tangier, untuk melihat pemandangan pelabuhan di malam hari. Di Tangier ini orang-orangnya ga beda jauh sama Marrakesh, gue sepanjang jalan di panggil2in, tapi karena gue udah tau triknya, yaitu berjalan cepat tanpa liat kanan kiri, jadi agak berkurang yang manggilin.

 

img_8837

Seafood Plater di Rif Kebdani. Harganya 10 Euro. Di Prancis ga bakal dapet harganya segini, makanya begitu liat langsung beli. It reminds me of Indonesian seafood ❤

 

Hari ke-9: Tangier-Paris

Karena flight gue jam 1 siang dan gue udah janjian sama tukang taksi yang kemarin nganter ke hostel, untuk ke Bandara jam 11, jadi gue ga punya waktu banyak buat eksplor Tangier. Gue udah pergi dari hostel dari jam 8 pagi buat memanfaatkan momen-momen terakhir gue di Tangier. Gue jalan-jalan lagi ke Kasbah, lalu muter ke Place du 9 Avril sambil beli sarapan dan akhirnya ke pantai. Pantainya ini bagus banget, kaya di Nice. Sayang, orang-orangnya ngebuat ngelus dada. Di pantai ini hampir semuanya cowo dan gue kena catcalling habis-habisan tanpa bisa kabur. Sampe ada segerombolan cowo yang ngehadang gue terus manggil gue ”Ni Hao!”. Omg, ini bener2 lebih parah dari pas di Marrakesh, karena kalo di Marrakesh kebanyakan yang manggil2 itu pedagang yang maksa, tapi kalo di sini beneran cowo-cowo yang dengan sengaja manggil buat godain cewe. Omg. Gue cuma bisa sabar dan bilang sama diri gue sendiri ”Sebentar lagi ini semua berakhir dan lo akan kembali ke negara dimana2 orang2nya ga peduli sama keberadaan lo.” Baru kali itu gue merasa bersyukur tinggal di Prancis. Selama ini gue suka ngutuk2 Prancis karena orangnya yang rese dan ga peduli, tapi ternyata mending digituin daripada dipanggilin tiap 5 meter sekali. Travel itu bener-bener menyadarkan kita tentang indahnya rumah ya. Dengan ke Maroko, gue disadarkan akan menyenangkannya Prancis, sementara dengan ke Prancis gue diingatkan akan menyenangkannya Indonesia 🙂

 

img_8845

Tangier di pagi hari. Di seberang sana terlihat benua Eropa 😀

fullsizerender-4

Rumah-rumah putih di Tangier

img_8895

Pemandangan dari rooftop Hostel gue (Hostel Melting Pot: 10 Euro per malam)

 

Sebelum gue keluar dari hostel, ada kejadian ajaib, ternyata resepsionisnya saat itu adalah cowo Indonesia. Dia hidupnya nomad, setelah 6 bulan kerja sambil jalan-jalan di India, sekarang dia 3 bulan kerja sambil jalan di Maroko dan next-nya dia bakal ke Amerika Selatan. Sayang, gue ga bisa ngobrol banyak sama dia karena sudah ditunggu supir taksi buat ke bandara.

Bicara tentang supir taksi, gue kira tadinya supir taksi gue baik, ramah, dll. Kita udah sepakat bayar 10 Euro buat ke bandara, eh pas nyampe bandara dia minta tambahan lagi 2 Euro. Duh, emang susah ye mau berbaik sangka di Maroko haha.

Dan dengan pulangnya gue ke Prancis (flight Tangier-Paris 50 Euro naik TUI airline), berakhir lah perjalanan super seru gue ke Maroko. Perjalanan yang meninggalkan kesan benci tapi cinta. Benci karena orang-orangnya, tapi cinta karena pemandangannya yang luar biasa. Dan ternyata banyak juga traveller yang mengalami perasaan yang sama kaya gue, they have love-hate relationship with Morocco. Hahaha. Buat gue Maroko, selain pemandangannya yang bagus juga mengingatkan gue pada Indonesia: suara adzan, toilet jongkok, dan banyak hal lainnya. I miss my home more after travelling to this country.

 

Cuni Candrika (1)

Kuliner Maroko. Kiri ke kanan, searah jarum jam: Brochette, Couscous, Kefta, Tagine. My favorite of course Brochette alias sate! 😀

 

Sebelum selesai gue mau kasih tips buat kalian yang mau ke sini (terutama cewek2):

  • Jangan pernah percaya sama orang Maroko, sedikitpun bantuan yang mereka berikan, mereka pasti minta imbalan di akhir, biasanya imbalannya sih duit, tapi ada juga yang minta nomer telepon kita haha. Sampe anak kecil aja nyeberangin kita di sungai, ujung-ujungnya minta duit, yaelah dek. Gue sih ga ada masalah ya kalo mereka minta duit, tapi mbok ya bilang di awal, kalo kaya gini kan kesannya mau nolong, tapi ujung-ujungnya malah minta duit.
  • Kalo lagi liat-liat di pasar, usahakan jangan berhenti ngeliatin barang di satu toko, mereka bakal dengan agresifnya nyuruh kita masuk dan beli. Liat aja sekilas lalu jalan. Gue kena beberapa kali kaya gini, pernah suatu kali gue ga jadi beli karena mahal, eh yang jualan super bete. Siapa suruh manggil2 gue? Wek.
  • Jangan pernah foto ular di Medina-nya Marrakesh kecuali udah siap dimintain duit. Gue foto ular dari jarak 10 meter aja bisa ketawan dan orangnya nyamperin minta duit. Selain ular, foto pertunjukan apapun juga jangan, karena mereka pasti minta duit.
  • Buat cewe-cewe, jangan memberikan kontak mata pada cowo-cowo sana, sebisa mungkin keliatan cuek aja dengan tatapan-tatapan lapar mereka. Dan juga jangan hiraukan catcalling. Buat gue yang orang Indo mungkin udah biasa kena catcalling, walaupun jauuuuuh lebih sedikit dari Maroko, tapi buat Miss B dia bener2 kaget haha. Tampaknya Botswana lebih ramah untuk wanita.
  • Dan jangan pake pakaian yang menunjukkan aurat meskipun musim panas sekalipun. Sekali lagi, gue sih udah biasa ya di Indo, tapi Miss B pake baju yang keliatan dadanya dikit udah mulai diliatin dan dia bertanya2 apa yang salah dengan bajunya.
  • Dalam keadaan nyasar sekalipun berusahalah untuk tidak terlihat nyasar karena itu jadi sasaran empuk buat orang bantu guide kita dan ujung-ujungnya minta duit.
  • Kalo emang lewat di tempat yang banyak cowo (which is hampir semua tempat 90% cowo dan cewe2 Maroko jarang banget di luar rumah), berjalanlah secepat mungkin, untuk menghindari panggilan2 mereka

Overall, Maroko adalah negara yang menakjubkan, tapi kalo kamu adalah cewe yang baru pertama kali solo traveller, sebaiknya jangan deh. Kalo gue udah sering solo traveller jadi udah tau trik-trik dan common sense-nya 🙂

 

img_8685

Shukran, Maroko!