40 Hari di Eropa Tengah: Itinerary dan Biaya

Musim panas telah berakhir! Besok sudah masuk kuliah lagi. Masih kebayang-bayang rasanya summer trip gue yang 40 hari kemarin. Berhubung masih segar di ingatan, jadi gue ngepost tentang summer trip dulu ya. Post2 lain yang sebelumnya (kebanyakan jalan2 sih), dipending dan bakal dibuat setelah rangkaian post summer trip. Postingan tentang summer trip akan dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama adalah itinerary secara keseluruhan (beserta rincian biaya) dan bagian kedua ketiga, keempat dan seterusnya adalah tentang cerita di masing-masing kota (ada di hyperlink kota-kota di bawah). Di postingan ini gue cerita tentang itinerary dan biayanya dulu ya.

—-

Musim panas kemarin gue solo travelling selama hampir 40 hari di Eropa Tengah. Jalan-jalannya sendiri cukup santai, satu kota kira-kira 3 malam, jadi ga keburu-buru dan bisa bangun siang untuk menjaga stamina tetep fit dan ga kecapekan. Gue pergi dari 1 kota ke kota lain dengan menggunakan bis. Untuk penginapan, gue menginap di couchsurfing dan juga hostel. Kota-kota yang gue datengin adalah Bonn (Jerman), Berlin (Jerman), Krakow (Polandia), Budapest (Hungaria), Vienna (Austria), Bratislava (Slovakia), Praha (Ceko), Salzburg (Austria), Munchen (Jerman), Frankfurt (Jerman).

Jujur, gue agak takut pas trip ini karena ini pertama kalinya gue pergi selama ini, 40 hari dan sendirian pula ! Untuk penginapan juga gue tidak bisa memastikan dari awal, karena masih menunggu dapat atau tidaknya couchsurfing. Kalo ga dapet baru cari hostel. Jadi deg-degan aja, gimana kalo ntar gue ga dapet tempat tinggal, gimana kalo tiba2 duit gue habis di jalan (secara budget gue terbatas banget), gimana kalo ntar gue sakit di jalan, gimana kalo ntar gue kecapekan dan jadi hilang minat selama travelling, dan berbagai ketakutan lain di dalam otak gue. Ternyata, ketakutan tersebut tidak terbukti sama sekali. Hanya ada beberapa kejadian sial di trip kali ini dan overall itu ga mengganggu trip gue. Setelah travelling pun gue merasa sangat senang, bahkan jadi ketagihan trip selama itu lagi. Sekarang setelah pulang, gue merasa agak hampa, pengen travelling dan pindah-pindah kota lagi tiap harinya. Okedeh, daripada kebanyakan curhat, langsung aja gue share itinerary-nya!

Berikut itinerarynya:

19-23 Juli: Paris dan sekitarnya ketemu sama temen2 gue

23 Juli : Paris-Bonn (Jerman) → 25 Euro, Flixbus

Di Bonn gue menginap di tempat teman selama seminggu. Gue sebenernya pernah ke sini, tapi emang pengen main aja lagi..

29 Juli: BonnBerlin → 20.35 Euro, Polskibus (di sini ada kesialan saat naik bus. Jadi di tiket yang gue beli di Polskibus, ditulis kalo gue akan naik Flixbus karena mereka punya kerjasama. Tapi begitu sampai di TKP gue ditolak sama Flixbus karena nama gue ga ada di daftar penumpangnya dia. Asli panik banget, dan gue ga ada jalan lain selain beli tiket bus lagi on the spot dan itu seharga 50 Euro! Asli kesel banget dan pengen nangis, baru awal trip udah kehilangan duit segitu. Akhirnya gue komplain ke pihak Polskibus dan duit gue yang 20.35 Euro dirembourse. Tapi yang 50 Euro tetep melayang. Mayan lah daripada lu manyun)

Di Berlin gue menginap selama 3 malam di tempat couchsurfing, kebetulan gue nyarinya orang Indonesia biar kemungkinan diterimanya lebih besar.

Berikut tempat-tempat yang gue datengin di Berlin: Brandenburger Tor, Reichstag Building, Check point Charlie, East side Gallery, Berlin Memorial Wall, Holocaust Monument, Berlin Cathedral, Museum Island, Alexanderplatz, Potsdamer Platz.

Di hari terakhir gue ke kota sebelah yang deket banget sama Berlin (bisa naik S Bahn) yaitu Potsdam. Kotanya sendiri bagus, kecil tapi ada istana Sanssouci yang terkenal.

3 Agt: BerlinKrakow → 13.8 Euro, Polskibus (sengaja ambil bis malam biar bisa menginap di bis dan mengurangi biaya penginapan)

Di Krakow gue menginap selama 2 malam di tempat couchsurfing, yang lagi-lagi orang Indonesia, dan ternyata dulu pernah satu fakultas sama gue! Haha. Dunia sempit..

Tempat-tempat yang dikunjungi di Krakow: Main Square, Wawel Castle, St. Mary’s Basilica, Oscar Schlinder Factory (liat dari luar aja), Jewish Quarter (di sini ada food court kecil tempat makanan khas Polandia murah-murah dijual. Zapikanki, sejenis baguette Polandia, ada dari harga 1-3 Euro dan bisa buat dimakan berdua).

5 Agt: KrakowBudapest → 8 Euro, Polskibus

Di Budapest gue menginap di couchsurfing, kali ini orang Hungaria asli yang super baik, selama 3 malam.

Tempat yang gue datengin: Buda castle, Fisherman Bastion, Matthias Church, Parliament Building, St. Stephen’s Basilica, Chain Bridge, Hosok Tere, Citadella (wajib liat night view dari sini, bener2 breathtaking).

8 Agt: BudapestVienna → 9 Euro, Regiojet (baru pertama kali naik regiojet, bus ini kece banget. Harga murah tapi fasilitas kaya pesawat, ada layar kecil di setiap bangku, bisa nonton, dengerin musik, dll; dikasi hot drink, bisa pilih kopi atau cokelat; dipinjami headset dan dipinjami koran)

Di Vienna gue nginep di rumah temennya temen, selama 3 malam.

Tempat yang dikunjungi: Hofburg Palace, Schonbrunn Palace, Belvedere Palace, State Opera, Ring road, Albertina, Museum’s Quarter, Rathaus, Karlskirche, City Centre

11 Agt: ViennaBratislava → 1 Euro, Regiojet (dengan fasilitas pesawat, gue bingung dia dapet untungnya darimana haha)

Di Bratislava gue menginap di host couchsurfing selama 1 malam (host gue pernah dapet beasiswa belajar bahasa Indonesia selama 1 tahun dan dia ngajak temen-temennya org Bratislava yang pernah tinggal di Indonesia juga buat ketemu gue. How cool!). Karena dia cuma bisa ngehost gue selama semalam, maka gue mencari hostel untuk 2 malam selanjutnya. Gue menginap di hostel Possonium: 19 Euro per malam.

Tempat yang dikunjungi: City centre, Michael’s gate, St. Martin’s cathedral, Devin castle (yang ini agak jauh di pinggir kota tapi bagus!), Blue church, Slavin Memorial, Bratislava castle

14 Agt: BratislavaPraha → 10 Euro, Regiojet

Di Praha gue menginap di Hostel Plus selama 3 malam, biaya 7 Euro per malam

Tempat yang dikunjungi: Charles Bridge, Old Town Square, Astronomical Clock, Wenceslas Square, Prague Castle, Jewish Quarter, Dancing House, Lennon Wall, Infant Jesus of Prague (Church)

17 Agt: PrahaSalzburg

Karena biaya bis langsung cukup mahal maka gue memutuskan untuk transit dulu di Munich, dengan rincian sebagai berikut: PrahaMunich → 9 Euro, Eurolines dan MunichSalzburg → 7 Euro, Flixbus

Di Salzburg gue menginap di Hostel Jufa selama 2 malam, harga per malam 26 Euro (biaya penginapan paling mahal selama trip ini, makanya ga mau lama-lama di Salzburg)

Tempat yang dikunjungi: Hohensalzburg castle (dari luar, soalnya masuknya bayar; tapi pemandangannya di atas bukit gitu, bagus), Old Town, Mirabell Garden, Hellburn palace, Nonnberg Abbey, Schloss Leopoldskron.

Kalo punya banyak waktu, gue bakal ke Hallstatt, kota deket sini yang katanya bagus banget dan juga ikut tur mengelilingi danau dan gunung di sekitar Salzburg, yang kece berat. Guengnya ga kesampean, maybe next time!

19 Agt: SalzburgMunich → 9 Euro, flixbus

Di Munich gue menginap selama 4 malam di The Tent Hostel. Hostel ini konsepnya tenda yang sangat unik (akan dibuat postingan sendiri mengenai hostel ini). Gue menginap 2 malam di bunkbed (12 Euro semalam) dan 2 malam di matras (8 Euro semalam).

Tempat yang dikunjungi: Neuchwanstain Castle (tujuan ke Munich emang pengen liat istana ini, jaraknya 3 jam dari kota Munich), City centre, Marienplatz, Rathaus, Englischer Garten, Nymphenburg Palace, Viktualienmarkt, Odeonsplatz.

23 Agt: MunichFrankfurt → 1 Euro, Megabus (gue mendapat sisa-sisa tiket murah Megabus yang terakhir, karena habis ini dia merger sama Flixbus dan harga tiketnya jadi lebih mahal)

Di Frankfurt gue menginap selama 3 malam di tempat teman, sebenernya ke kota ini karena ingin bertemu teman-teman saja.

26 Agt: FrankfurtParis → 19 Euro, Eurolines

Keterangan tambahan:

Gue mencari tiket bus dengan bantuan goeuro.com; di mana kita bisa membandingkan harga 1 bus dengan bus lain, bahkan bisa membandingkan dengan tiket pesawat dan kereta juga. Kalo dilihat dari rutenya agak sedikit muter-muter, karena disesuaikan dengan tiket dengan destinasi termurah.

Untuk makanan, makanan di Eropa Tengah tidak terlalu mahal, contohnya saja di Krakow gue mendapatkan full lunch set dengan harga 3 Euro. Di Budapest dan Praha yang notabene mata uangnya berbeda dari Euro juga tidak terlalu mahal. Sisanya, bila kotanya mahal seperti Salzburg, gue membeli sandwich 2 Euro-an di supermarket.

Dalam perjalanan ini gue banyak mengikuti Free Walking Tour, agar mendapat gambaran sejarah kotanya dengan lebih baik. Tur sejenis ini bisa dicari di google, dengan mengetikkan free walking tour + nama kota tujuan. Turnya sendiri gratis, tapi kita harus memberi tips. Setelah tanya ke beberapa orang tips normalnya, gue cuma ngasih 2 Euro-an aja.

Oya, gue cuma bawa backpack 32 liter (bawa bajunya cuma 7 helai), di sana gue sempat mencuci 2 kali. Satu di tempat teman di Bonn dan satu lagi di Hostel Possonium di Bratislava.

Total biaya transportasi : 132, 15 Euro

Total biaya akomodasi: 151 Euro

Total semua pengeluaran (termasuk transportasi dan akomodasi) selama 40 hari: Sekitar 700 Euro atau Rp 10 juta-an.

IMG_4263

One of the breathtaking view that I’ve seen during my summer trip. Guess where?

 

Advertisements

Beautiful Day at Luzern

Setelah berpetualang ke Mt. Titlis, keesokan harinya gue mengeksplor kota Luzern. Gue berencana pulang hari itu, tapi karena ga dapat blablacar, gue pulang keesokan harinya. Untungnya host couchsurfing gue masih mau nampung gue hahaha.

Kota Luzern sendiri sangat cantik, apalagi pas cerah! Beruntung hari itu cerah, karena teman gue yang dateng ke situ keesokan harinya, dapetnya cuaca mendung. Gue pun langsung jatuh cinta dengan kota Luzern. Keluar dari stasiun kereta utama, kita bisa menemukan danau Luzern. Di sepanjang pinggir danau itu terlihat pemandangan kota yang sangat memukau.

IMG_5941

Kapellbrucke (Chapel Bridge) dan pemandangan kota Luzern

IMG_5946

Kita bisa menyeberang ke arah pusat kota di Kapellbrucke ini

IMG_5948

Amazing landscape view

Jika kita menyeberang dari arah stasiun kereta, pemandangannya juga luar biasa. Danau luzern dengan latar belakang gunung salju.

IMG_6043

Dilihat dari arah pusat kota, danaunya punya background gunung salju

IMG_6048

Banyak angsa. Mereka ga kedinginan apa ya? Hihi

IMG_6052

Kapal-kapal di Danau Luzern

IMG_6022

Jalan di sepanjang danau. Daun2 mulai rontok, tandanya musim dingin segera tiba.

Pusat kota Luzern juga cukup cantik, banyak orang Indonesia bertebaran membeli oleh-oleh hahah. Oya, di Luzern ini buanyak bgt turis Indonesia. Mungkin karena banyak paket tur Indonesia yang menyelipkan Mt. Titlis untuk itinerari Eurotrip, jadilah mereka basecampnya di Luzern. Gue sendiri pernah ketemu beberapa rombongan tur dari Indonesia di kota ini.

IMG_5962

Pusat kota Luzern

IMG_5964

Masih di bagian pusat kota

IMG_5965

The last supper (?)

Jika ingin melihat pemandangan kota Luzern dari atas, kita bisa melihatnya dari Musegg Wall. Musegg Wall ini adalah tembok, semacam benteng yang dulunya mengelilingi kota Luzern untuk membatasi kota. Pemandangan sepanjang perjalanan naik ke benteng ini juga sangat bagus, apalagi dilengkapi dengan warna warni bunga musim gugur.

IMG_5968

Jalan menuju Musegg Wall. Cakeppp banget daun warna-warninya yak!

IMG_5983

Di sepanjang jalan menanjak dimanjakan dengan pemandangan ini.

IMG_5986

Musegg wall. Tadinya benteng untuk membatasi kota Luzern.

IMG_5989

Pemandangan dari atas Musegg Wall!

IMG_5997

Luzern from above

IMG_6003

Do you see the lake? 

Sehabis turun dari Musegg Wall, gue menuju Lion Monument. Ini adalah salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi di Luzern. Di sini gue nemu rombongan tur Indonesia! Lion monument ini dibuat untuk mengenang para tentara Swiss yang gugur dalam revolusi Prancis.

IMG_6017

Jujur, gue memiliki ekspektasi lebih sama Lion Monument ini..

Segitu aja jalan-jalan gue di Lucerne, walaupun gue ga banyak cerita, tapi gambar aja udah berbicara banyak mengenai kota yang cantik ini. Enaknya sih emang ke Lucerne pas autumn kaya gue ini, biar gunung saljunya keliatan dan daun-nya cantik cantik hihi.

Keesokan harinya, gue pulang ke Mulhouse dengan naik blablacar dari Bern. Jadi gue transit dulu di Bern terus ngambil blablacar lain dengan tujuan Bern-Mulhouse. Agak susah kalo nyari yang langsung dr Luzern. Pas gue naik blablacar yang dari Bern aja pake ada kejadian drama cari-carian sama supirnya, sampe 45 menit sendiri dan gue lari ngos-ngosan ngiterin stasiun Bern sambil telpon supirnya. Pelajaran sih, kalo mau janjian jangan di stasiun Luzern, gede banget dan ada 2 gedung, jadi ngebingungin..

My First Snowy Mountain: Mt. Titlis

Setelah bertolak dari Bern, gue melanjutkan perjalanan menggunakan blablacar menuju kota Luzern. Gue memilih Luzern karena gue pengen melihat Mt. Titlis, gunung salju yang cukup populer untuk turis Indonesia haha. Sebenernya sempet kepikir juga mau ke Titlis apa Jungfrau, puncak Alpen yang lumayan terkenal juga. Tapi karena Jungfrau sulit diakses dan musti naik kereta yang mahalnya naujubilah itu dengan perjalanan jauh, maka gue memutuskan untuk pergi ke Titlis saja.

Sampe di Luzern, gue dijemput sama temennya host gue di stasiun tram deket rumahnya. Gue agak deg-degan takut hostnya serem gitu haha. Ternyata begitu nyampe rumahnya, ada temen-temennya si host lagi party! Wuahhh! Ternyata rame banget dan seru. Mereka asik gitu diajak ngobrol. Mereka kebanyakan orang swiss sama ada beberapa orang Chili. Ditambah ada 1 lagi yang nginep juga buat Couchsurfing, orang India. Jadilah berasa soirée internationale gitu. Terus karena ada beberapa yang bisa bahasa Prancis, jadilah kita ngobrol dengan berbagai bahasa gitu. Ada yang ngomong pake swiss-jerman, pake inggris, prancis dan juga spanyol. Haha. Turns out.. kekhawatiran gue bener2 termentahkan dan malam itu gue dapet banyak temen baru. Ternyata, host gue yang orang Irak itu nyewa rumah di situ bareng orang Swiss.. trus ada juga temennya, orang Turki yang suka dateng ke situ. Jadi mereka bertiga yang manage couchsurfing gitu. Makanya gue bingung pas telponan menuju ke sana, kok ada 3 orang berbeda yang nelpon gue hahaha. Ternyata mereka bersahabat..Si host gue sempet bilang dia ga nyangka kalo gue ternyata anaknya open dan banyak ngobrol, soalnya stereotypenya orang Asia kan pendiem haha (ini udah stereotype yang mendunia banget)

IMG_5743

Bersama host dan teman-temannya

Setelah puas malam itu, gue pun tidur bersama si surfer (sebutan buat orang yang nginap dalam Couchsurfing) cewek dari India dalam 1 kamar. Anak ini kuliah di Belgia, dan dia punya europass, tiket kereta buat keliling Eropa. Wow! Dia ternyata udah ke Mt. Titlis hari itu, dan dia ceritain pengalamannya di sana. Di hari yang sama dia juga ke Jungfrau. Hahaha. Ambisius bener ya, tapi emang itu strateginya buat manfaatin europass-nya.

Keesokan harinya, gue menuju Mt. Titlis dan bertemu di stasiun bersama salah satu temennya temen gue, namanya Ladina. Gue baru kali ini ketemu Ladina karena dikenalin lewat whatsapp sama temen gue, Tichu. Anaknya baik banget, walaupun bahasa inggrisnya pas-pasan, tapi keliatan dia friendly banget. Sampai detik itu, berdasarkan pengalaman gue selama 4 hari gue berpikir, orang Swiss beda banget ya sama orang Prancis yang tertutup hahaha. Dari stasiun Luzern (hauptbahnhof) kita naik kereta menuju Engelberg (20 Euro PP) kemudian dilanjutkan dengan naik cable car (89 Euro-iya, mahal banget, tapi sekali seumur idup haha) ke atas Mt. Titlis. Di perjalanan naik kereta ke arah Engelberg, depan gue duduk anak yang keterbelakangan mental, terus dia kaya nunjuk2 peta di meja kereta gitu, “Kita ke Mt Titlis” sambil diulang-ulang. Dia kayanya excited banget gitu. Asli, saat itu gue rasanya sedih banget liat anak itu. Gue kaya merasa bersyukur banget atas segala anugrah yang udah Tuhan kasih buat gue sampai saat ini. Meskipun kaya gitu aja, tapi perjalanan di kereta itu ga akan pernah gue lupa.

Sampai di Engelberg, pemandangannya udah bagus bangettt. Kiri kanan gunung salju cantikkk banget. Dan di sana ketemu beberapa orang Indonesia yg juga mau naik Mt. Titlis. Hahaha. Dari Engelberg kita menuju ke stasiun cable car untuk naik ke Titlis. Gue mulai nambahin baju beberapa lapis dan juga sarung tangan biar ga kedinginan. Perjalanan naik cable car pun tergolong lama. Kira-kira kita sempet transit di 3 stasiun sebelum akhirnya sampai ke puncak gunung.

IMG_5751

Ini dia Engelberg!

IMG_5796

Pemandangan dari cable car

Begitu nyampe atas, beuhhhh… gila pemandangannya luar biasa indah banget! Pemandangan yang gue ga pernah liat sebelumnya. Gue ada di atas gunung salju! Ga sia2 bayar 89 Euro hahahha. Di Mt Titlis ini banyak atraksinya, kita bisa masuk ke gua es -gua yang semuanya terbuat dari es. Selain itu kita juga bisa naik jembatan dari tali gitu. Setelah puas jalan jalan dan foto-foto, gue sama Ladina makan siang di salah satu restoran di situ. Ngeliat pemandangan dari resto itu aja rasanya seneng banget. Buat ngehemat, gue mesen French Fries doang di situ haha.

IMG_5809

This is Titlis! Amayzeeeeng!

IMG_5804

Goa yang terbuat dari es

IMG_5825

Melewati jembatan yang goyang-goyang

IMG_5848

Entah anaknya siapa, yang jelas udah jagoan main ski-nya.

IMG_5893

Cable car buat naik ke atas-dilihat dari restoran

Habis makan, gue memutuskan untuk naik cable car terbuka.. jadi cable carnya ga ditutupin sama kaca dan bisa langsung ngerasain hawa dingin yang menusuk. Buat naik cable car ini dikenakan biaya lagi kalo ga salah 10 Euro. Ladina sendiri lebih memilih menunggu di restoran karena udara yang mendadak sangat dingin. Yaudah, gue naik cable car itu sendirian bolak balik. Sensasinya.. wow. Agak serem juga sih ga ada pembatasnya gitu Haha.

IMG_5906

Selfie at Mt. Titlis

Setelah puas seharian main di Mt. Titlis kita pun pulang ke Luzern dengan bahagia (guenya sih bahagia, Ladina kayanya biasa aja, udah sering liat gunung es haha). Ladina pun melanjutkan perjalanan ke kotanya yang deket Zurich (baik bener kan, mau jauh2 dateng buat nemenin gue!). Di Luzern gue sempet muter2 di deket sungainya terus ke centre ville.. Ada kejadian menyeramkan pas gue jalan-jalan ini, gue ketemu cowo eksibisionis, alias memamerkan itunya di jalan. Anjrit, perasaan terakhir gue liat gituan di Depok, ini udah jauh-jauh ke Swiss nemu begitu. Dan pas gue ceritain ke host gue, dia bilang dia yang udah bertaun2 di Luzern aja ga pernah liat, gue baru kali itu ke situ bisa-bisanya nemu..

IMG_5861

Me at Titlis

Bern, Ibukota Swiss yang Cantik

Banyak yang bilang jalan jalan ke Swiss itu mahal. Emang! Hahaha. Mau naik keretanya aja harganya puluhan euro. Makanya mumpung gue tinggal di Mulhouse, kota yang deket sama Swiss, gw manfaatkan untuk ke sana tanpa kereta. Gue naik blablacar yang cuma 8 Euro dari Mulhouse ke Bern. Agak susah nyari blablacar dari Mulhouse ke Bern, pertamanya gue udah dapet tapi tiba-tiba dicancel sama supirnya. Terpaksa gue nunggu 2 hari lagi buat naik blablacar yang lain. Karena gue ga punya temen di Bern, gue nyoba pake couchsurfing. Couchsurfing (CS) adalah situs komunitas traveller yang memungkinkan kita untuk menginap secara gratis dimanapun di dunia ini. Caranya kita tinggal meminta numpang pada orang-orang yang tinggal di kota yang kita tuju. Ini pertama kalinya gue pake Couchsurfing buat nginep di tempat orang. Gw pernah nginepin orang, sering ketemu nongkrong sama komunitas CS di beberapa kota, tapi baru kali ini gue nginep tempat orang ga dikenal. Di Bern ini susah banget nyari host, gue udah nanya ke 30 orang tapi semua responnya negatif. Akhirnya gue open request aja, jadi kalo ada yang mau numpangin gue bisa kirim pesen. Eh, nemu juga host. Cowo sih, agak ngeri awalnya, cuma gue pikir cuek aja, daripada ga jadi pergi hahahha. Gw bakal nginep tempat dia selama 3 hari 2 malam dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Luzern.

Jadilah gue pergi naik blablacar dari Mulhouse ke Bern, di suatu siang di bulan Oktober, pas lagi musim gugur. Sepanjang jalan ngelewatin Swiss pemandangannya cantik abiiis! Di sebelah kanan kiri kita banyak bukit-bukit dan di tengah-tengahnya ada rumah kecil-kecil. Ditambah dengan bunga musim gugur yang cakep banget. Seru deh pokoknya!

Setelah sekitar 2 jam perjalanan, sampai juga di ibukota Swiss yaitu Bern. Buat yang belum tau, ibukota Swiss itu Bern. Bukan Zurich, ataupun Geneva. Sampai di sana sore sore gue keliling pusat kota dulu sebelum ke rumah host gw. Gue mampir ke Federal Palace di mana gue ga sengaja nemuin pemandangan kota Bern bagus banget dari atasnya. Apalagi ditambah pemandangan autumn leaves warna kuning oranye dan merah yang bikin tambah ciamik. Habis dari sini gue muterin old town dan nemu Zytglogge, menara dengan jam di atasnya yang bagus. Puas muterin kota tua, gue langsung ke rumah host gue naik tram. Di Bern ini adalah tram paling mahal yang gue temuin, naik tramnya sekali bisa 2 CHF lebih dan kalo dikonversiin 3 Euro!

IMG_5453

Welcome to Bern!

IMG_5454

Kotanya bersih dan teratur, kaya kota-kota di Swiss yang lain

IMG_5460

Federal Palace

IMG_5520

Dari atas Federal Palace

IMG_5521

Indahnyaaaa!

IMG_5522

Zytglogge, jam gadangnya warga Bern

Akhirnya sampe juga gue di rumah host gue, cuaca saat itu gerimis dan host gue jemput di halte tram bawa payung. Orangnya keliatan ramah banget. Di rumahnya ternyata ada 2 kamar, 1 buat dia dan 1 lagi kosong, gue tidur di kamar kosong itu. Sebenernya kamar kosong ini lebih buat ruang tamu, ada tivinya dan juga tempat tidurnya itu sofabed. Kalo ga dipake tidur bisa dilipet jadi sofa. Host gue ternyata adalah orang Israel yang udah tinggal lama di Amerika. Terus dia pindah ke Swiss dan di sini dia jadi penyanyi di sinagoga (tempat ibadah orang Yahudi). Dia keliatan agak takut waktu memperkenalkan dirinya sebagai orang Yahudi, ga tau kenapa, mungkin karena gue dari Indonesia dan orang Indonesia kan pro-Palestina banget. Mungkin ya.. Gue sih santai aja hahah. Gue seneng kenal sama banyak orang dari berbagai ras dan etnis. Si host gue ini ternyata udah beberapa kali ke Indonesia buat surfing. Dia suka banget surfing. Dan yang lebih ajaib adalah dia beliin gue indomi! Jadilah kita makan malam indomi goreng hahaha. Awalnya dia ga tau kalo kuahnya ga usah dimakan, tapi habis itu gue kasitau haha. Jadilah malam itu kita ngobrol ngalor ngidul. Haha. Seneng gue kalo ketemu orang yang bisa bahasa Inggris, bisa ngomong hampir apa aja kaya dalam bahasa ibu gue haha.

Keesokan harinya, karena host gue lowong, kita jalan-jalan berdua muterin Bern dan muterin sungai Aare yang mengeliling pusat kota Bern. Kota ini cantik banget, apalagi di musim gugur.

IMG_5537

Cantiknya sungai Aare

IMG_5540

And those trees!

IMG_5559

Jembatan di Sungai Aare

IMG_5599

Sungai Aare yang mengelilingi pusat kota Bern

IMG_5600

Lovely!

IMG_5529

Bersama host gue

Di hari terakhir gue di sini, gue diajak naik ke bukit Gurten pake cable car, bareng sama salah satu temen cewenya (temennya ini sakit kanker, dan si host gue emang nemenin dia karena perhatian). Dari bukit ini bisa keliatan gunung es! Gila, ini gunung es pertama yang gue liat dalam hidup gue. Rasanya takjub banget meskipun cuma dari jauh. Dan untungnya cuaca hari itu cerah jadi keliatan gunung esnya. Di atas bukit ini juga banyak peternakan kambing. Kita turun dari bukit itu dengan jalan kaki sampai ke tempat kita parkir mobil (si Ibu bawa mobil). Setelah itu kita pulang dan gue bersiap-siap untuk meninggalkan Bern dan melanjutkan perjalanan ke Luzern. Jujur, sebenernya, walaupun host gue baik banget, tapi dia agak genit, ga sampe parah dan mengganggu sih, tapi gue rada ga nyaman. Dan di Luzern gue bakal di-host-in lagi sama seorang cowo Irak, jadi gue agak takut. Bukan mendiskreditkan warga negara tertentu ya, tapi ya namanya juga jaga-jaga. Gue sempet siap-siap nyiapin list hostel kalau-kalau host gue yang di Luzern serem hahahha.

IMG_5678

Pegunungan Alpen di Bukit Gurten

IMG_5679

Amaze!!

IMG_5716

Kambing-kambing (?) berkulit tebal yang hidup di udara dingin

IMG_5724

See you, Bern!

Bersambung ke My First Snowy Mountain: Mt. Titlis