Camino de Santiago: Camino Ingles (2)

Ini adalah post bagian kedua gw tentang Camino de Santiago, untuk bagian pertama, bisa dilihat di sini.


Setelah melewati hari ke-4 yang penuh perjuangan dan berakhir dengan tidur di matras di aula sekolah tanpa pemanas dengan suhu di luar sekitar 11 derajat celsius, sampai juga gw di hari ke-5!

Hari ke-5: Kamis, 18 April 2019. Betanzos-Presedo. 12 km, 5 jam.

Karena malam itu gw tidur ga nyenyak, maka gw memutuskan berangkat pagi-pagi aja, daripada kelamaan kedinginan di aula sekolah dan biar nyampe destinasi selanjutnya juga lebih cepat. Kira-kira jam 7 pagi gw sudah berangkat. Saat itu, langit masih gelap, gw orang pertama yang keluar dari aula sekolah. Meskipun gw yang paling pagi, tapi gw yakin di jalan pasti banyak yang bakal nyusul gw, karena gw jalannya pincang, habis operasi mata ikan.

Hari itu jalanan sepi, tanjakan dan turunan cukup ada walaupun tidak separah kemarin-kemarin. Di separuh perjalanan, gw bertemu dengan ibu-ibu Prancis yang ketemu di penginapan kemarin, dan dia sudah menyusul gw. Dia jg mengenalkan gw pada temannya yang lain, yang jalannya lebih lama daripada dia, untuk berjalan bersama gw.

Kira-kira jam 12 siang gw sudah sampai tempat tujuan. Presedo.

Presedo ini kotanya sangat kecil, hanya ada 1 albergue dengan kapasitas 16 orang. Ada 1 restoran dan 1 gereja. Gerejanya sendiri juga jarang digunakan, misa hanya diadakan sebulan sekali. Tidak ada supermarket di kota ini.

Pukul 12.00 gw sudah mengantri di depan albergue, bersama para peziarah yang lain. Setelah lama menunggu, kita baru sadar ternyata masuk ke dalamnya itu sistem self-service, jadi ada instruksi dan kita harus memasukan kode-kode untuk membuka brangkas kecil berisi kunci pintu. Kita pun masuk. Fiuhhh~ Untuk pertama kalinya gw berhasil mendapatkan tempat di albergue. Untuk pertama kalinya juga gw sampai di kota tujuan sepagi ini. Masih banyak yang bisa dilakukan di sisa hari. Gw pun berjalan2 di kota Presedo yang kecil, melihat2 bagian luar gereja (ga bisa masuk karena dikunci), kemudian makan siang di satu-satunya restoran di situ: Meson-Museo Xente No Camino.

Presedo ini memang jarang menjadi tempat persinggahan para peziarah. Biasanya mereka dari Betanzos langsung ke kota setelah Presedo, yaitu Hospital de Burma. Jarak dari Betanzos ke Hospital de Bruma adalah 25 km dan perjalanan cukup mendaki setelah melewati Presedo. Untuk itu, gw memutuskan untuk tahu diri dan menginap di Presedo saja sambil santai-santai.

Menunggu albergue-nya buka.

Akhirnya dapet Albergue juga! Albergue ini adalah dorm, yang dikelola oleh pemerintah setempat (publik). Kapasitasnya 16 orang. Harga di kisaran 6-7 Euro tapi fasilitasnya terbatas dan tidak ada pemanas ruangan.

Dapur dan tempat makan di Albergue Presedo

Interior restoran Meson-Museo Xente No Camino

Sisa hari gw di hari itu dihabiskan dengan santai-santai di beranda, main sama kucing, leyeh-leyeh di kasur, main hape, ngobrol sama peziarah lain. Oh indahnya hari itu, masih bisa melakukan banyak aktivitas setelah sampai di kota tujuan.

Hari ke-6: Jum’at, 19 April 2019. Presedo-Hospital de Bruma. 13 km, 5.5 jam.

Hari ini sudah hari Jum’at Agung, harusnya gw sudah berada di Santiago de Compostela, mengikuti misa Jum’at Agung. Namun takdir berkata lain, hari ini gw masih di perjalanan. Masih 2 hari lagi menuju Santiago. Yasudahlah, disyukuri saja, perjalanan ini memang mengajari gw banyak hal, layaknya perjalanan kehidupan.

Hari ini gw berangkat jam 9 pagi, karena kita diharuskan check out jam segitu, karena Albergue-nya mau dibersihkan. Tujuan hari ini adalah menuju Hospital de Bruma. Penginapan di Hospital de Bruma sangat sedikit, cuma ada 1 albergue dan 2 penginapan publik. Karena sudah parno duluan ga dapet Albergue, akhirnya gw memesan sebuah kamar di hotel bernama Hotel Canaima. Daripada gw luntang lantung di jalan ye kan, dan di daerah situ emang kotanya sepi banget, beda sama Betanzos yang seenggaknya ada aula sekolah.

Jalanan menuju Hospital de Bruma cukup menanjak, kebanyakan kita disuguhi pemandangan alam yang indah, bahkan ada hamparan bunga matahari. Sekitar pukul 3 sore gw sampai di Albergue Hospital de Bruma, dan guest what? masih available beberapa tempat buat ditiduri. Darn. Gw pun galau. Antara mau tidur di situ, atau di hotel yang gw pesen. Kalo gw cancel hotel, bakal kepotong uang DP 50%. Masih cuan sedikit sih kalo gw memilih di albergue, tapi… setelah gw pikir2 lagi, Hotel Canaima ini letaknya lebih strategis daripada Albergue. Letaknya di jalan raya. Dan gw pengen naik bis ke Santiago buat misa Jum’at Agung di sana dan juga mengikuti prosesi Semana Santa.

Oke, jadilah gw tetep tidur di hotel yang gw pesen, Hotel Canaima. Gw dadah2 sama orang2 di albergue (yang mostly adalah yang nginep di Albergue Presedo bareng gw) lalu makan di restoran sebelahnya. Dari situ, gw minta dijemput sama orang Hotel Canaima, karena hotel itu menyediakan servis antar jemput dari lokasi terdekat. Sampai di Canaima, gw beres2, lalu gw memutuskan untuk naik bis ke Santiago de Compostela.

Dan selesailah perjalanan Camino gw kali ini.

 

Hahahha. Tapi boong! Wkwk.

Gw pergi ke Santiago cuma buat ikut misa sama liat prosesi Semana Santa aja, habis itu gw bakal balik lagi ke Bruma untuk melanjutkan jalan kaki keesokan harinya. Lucu ya, seminggu itu sebenernya gw udah ke Santiago 2 kali (pas berangkat mau ke Ferrol dan sekarang) tapi gw belum benar2 menyelesaikan camino gw di Cathedrale Santiago de Compostela.

Gw pun naik bis ke Santiago, perjalanan dari Bruma ke Santiago sekitar setengah jam. Perjalanan yang bisa gw tempuh dengan 2 hari berjalan kaki, cuma ditempuh oleh bis selama setengah jam! Haha. Di Santiago, gw diturunkan di stasiun. Dan dari situ ke kota masih agak jauh, musti naik bis dalam kota lagi. Sialnya.. bis di Spanyol itu ga tepat waktu. Bis yang dijadwalkan baru muncul setengah jam setelahnya –” Jadilah gw terlambat ikut misa (oiya misanya ini bukan di katedral ya, tapi di gereja kecil, jadi technically gw belum bener2 liat wujudnya Cathedral Santiago de Compostela), dan gw pun ikut misa dikit lalu melihat prosesi Semana Santa Jum’at Agung di jalan. Gw juga sempat bertemu Laura yang sudah sampai di Santiago hari itu. Dan gw.. menitipkan sebagian barang gw di dia. Hahaha! Biar ransel gw ga berat2 amat di sisa perjalanan. Haha.

Prosesi Semana Santa di Santiago de Compostela.

Prosesi Semana Santa saat Jum’at Agung itu dilaksanakan 4 kali dalam sehari di Santiago. Tapi lucunya, misanya cuma sekali. Itu juga ga semua orang tau ada misa. Sampai ditanya ke hotel atau tourist office juga, orangnya ga tau. Memang ya, Semana Santa ini udah menjadi bagian dari kultur orang Spanyol, tapi kalo dilihat dari sisi religiusnya ga ada. Jatuhnya kaya cuma perayaan aja, kaya Natal atau Paskah di negara-negara Barat.

Selesai mengikuti Semana Santa, gw pun kembali ke Bruma naik bis. Agak deg-degan juga sih, soalnya bisnya termasuk 2 bis terakhir, terus jalannya gelap dan ga gitu keliatan haltenya di mana. Niat ya, hari ini gw ke Santiago buat misa dan prosesi, habis itu balik lagi ke titik terakhir jalan kaki hahaha.

Hari ke-7: Sabtu, 20 April 2019. Hospital de Bruma-Sigueiro. 25 km, 11 jam.

Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang karena akan berjalan sejauh 25 km ke Sigueiro, kota terakhir sebelum Santiago de Compostela. Beban di punggung sudah sedikit berkurang, karena beberapa barang dititip di Laura pas ke Santiago kemarin. Perjalanan hari ini cukup berat, walaupun medan pendakiannya ga securam kemarin. Gw berangkat pukul 9 pagi. Gw sempet berhenti di 1 kota untuk mampir makan. Di sana juga banyak peziarah dan penduduk kota lain. Jalan gw yang pincang mencuri perhatian mereka, mereka nanyain, “Kenapa kakinya?” “Kamu gapapa jalan dengan kaki kaya gitu?”. Banyak jg yang ngomong pake bahasa Spanyol, tapi gw bingung jawabnya gimana hahahha.

Sudah sekitar 9 jam gw berjalan hari ini. Namun masih ada 5.5 km lagi untuk ditempuh. Gw bisa. Gw kuat. Untung hari ini cuaca mendukung, cuacanya agak panas.

Beristirahat sejenak di pendopo. Di sini ada keran air juga dan bisa minum dari situ.

Sekitar jam 8 malam akhirnya gw sampai juga di Sigueiro. Setelah 11 jam berjalan kaki, 25 km ditempuh! Akhirnya gw sampai juga di Sigueiro! OMG!!!! Bener2 ga nyangka bisa nyampe, karena ini perjalanan terpanjang gw selama Camino. Gwpun langsung ke hostel yang sudah gw pesen sebelumnya. Hostel ini private, bukan di albergue publik. Tapi bentuknya tetep dorm, dan sekamar berlima. Sampai di sana, gw ketemu sama ibu2 Jerman. Ibu2 ini pernah nginep bareng sama gw di Albergue Presedo kemarin. Ternyata dia menginap di situ juga bareng 5 anggota keluarganya. Dan pas gw sampe, gw dipeluk dong T_______T OMG! That was the warmest hug I got in the journey, the hug that I need, after 11 frikin hours of walking. (Yaampun, skrg nginget2 cerita itu aja sambil mewek). Makasih ya Tante, you really made me feel warm. Thank you. A hug from stranger, that I need most T___T

Habis beres2, gw pun makan malam, karena di bawah hotel langsung ada restoran. Lalu gw mencari gereja untuk misa Malam Paskah. Sayang di Sigueiro tidak ada prosesi Semana Santa.

Gereja kecil di Sigueiro. Suasana di luar sebelum misa Malam Paskah.

Interior gereja. Setelah selesai, para umat diajak untuk halal bihalal bersama sang pastur. Gw juga diajak, tapi udah ga kuat, mau tidur aja.

Hari ke-8: Minggu, 21 April 2019. Sigueiro-Santiago de Compostela. 16 km, 5.5 jam.

Hari ini adalah hari terakhir perjalanan camino gw. 16 km terakhir, dan sampailah gw di Cathedral Santiago de Compostela!

Ternyata walaupun hari terakhir, tanjakannya tetap gila-gilaan. Tapi harus tetap semangat. One last day!

Sekitar jam 3 sore, akhirnya gw masuk ke gerbang kota Santiago. Ini dia yang gw tunggu-tunggu. Cathedral Santiago! And yes! I saw it from afar! Lebih dekat lagi, akhirnya sampai juga di…. Cathedral SANTIAGO DE COMPOSTELA! OMG! Gw liat katedral itu langsung nangis, mewek. Gw nangis ga berhenti2 selama 15 menit. Gw ga nyangka bisa sampai situ. Gw ga nyangka gw masih bertahan setelah 8 hari jalan kaki. Gw ga nyangka gw kuat. Perasaan terharu gw luar biasa. Gw cuma duduk mandangin itu katedral sambil nangis ga berhenti-henti. Katedral ini… akan menjadi katedral favoritku. Bukan karena arsitekturnya, tapi karena perasaan gw saat melihat bangunan ini. The emotion! OMG. FINALLY I AM HERE.

Finally! Setelah 113 km dan 8 hari jalan kaki non-stop! Akhirnya katedral ini berada di depan mata gw sendiri. Omgggggg! Ga berhenti2 nangisnya pas sampe sini.

Hari ke-8 pun ditutup dengan manis. 5.5 jam terakhir. 16 km terakhir. Finally I am here!

Di pilgrim office mengantri untuk mendapatkan Sertifikat Compostela. Lagi rame banget dan high season karena pas Paskah. Pada hari itu tercatat sebanyak 1.828 peziarah yang sampai di Santiago de Compostela dari berbagai rute camino.

Ini dia, Certificate of Distance yang didapat setelah menyelesaikan Camino. Di sertifikat ini ditulis berapa km yang telah kita selesaikan untuk sampai ke Santiago dan start point awal, serta tanggal dan rute camino yang ditempuh. Di gw tulisannya 113 km, dari Ferrol, sejak tanggal 14 April 2019 dengan rute Camino Ingles. O ya, sertifikat ini ditulis dengan Bahasa Spanyol.

Nah, kalo ini namanya Certificate Compostela, yang menyatakan kalau peziarah sudah melakukan perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela. Kalau yang ini dalam Bahasa Latin.

Setelah puas nangis dan foto-foto di depan katedral, gw pun bertemu dengan Laura dan kita ke pilgrim office buat ngambil Certificate Compostela dan Certificate of Distance. Setelah itu gw pun menaruh barang-barang di penginapan.

Ini adalah penginapan kita di Santiago Compostela, namanya Hospederia Seminario Mayor. Tadinya bangunan ini adalah biara, dengan arsitekturnya yang masih klasik dan berasa di kastil. Seneng rasanya bisa nginep di sini. Kita juga mendapatkan harga khusus untuk peziarah.

Habis menaruh barang-barang, kita mencari makan di pusat kota dan kita memutuskan untuk makan makanan Spanyol. Pesta! Hahahhaa. Kita makan paella, Pulpo a la Gallega dan minum sangria untuk merayakan keberhasilan kita menjalani Camino de Santiago. Yeayyyyyy!

Paella untuk merayakan keberhasilan camino!

Ini namanya Pulpo a la Gallega. Octopus yang dibumbuin khas daerah Galicia (region-nya Santiago). Sejak saat itu, si pulpo ini adalah makanan yang paling gw cari kalo ke Spanyol 😀

Puas makan, kita masuk ke dalam cathedral Santiago de Compostela. Gw masuk dan mencari makam Santo Yakobus. Di situlah tujuan terakhir kita, sowan ke makam Santo Yakobus. Mungkin bagi sebagian peziarah hal ini kurang penting dan sering dilewatkan. Tapi untukku ini sangat penting. Kita bisa berdoa di sana dan berdoanya jg harus mengantri, karena banyak yang ingin melihat makam.

Setelah selesai, kita berjalan-jalan di kota Santiago, mencari suvenir dan juga mengirim kartu pos pada teman-teman. Malam itu adalah malam terakhir kita di Santiago, besok gw akan melanjutkan perjalanan ke Porto, sedangkan Laura akan kembali ke Jerman. Ternyata, memang semuanya sudah diatur. Gw berhasil sampai di Santiago, di hari terakhir, tepat pada waktunya. Karena Senin sudah membeli tiket ke Porto. Walaupun meleset dari rencana awal, di mana sampai di Santiago pada hari Jum’at, tapi gapapa. Tetap harus disyukuri. Seperti perjalanan hidup yang kadang tak sesuai rencana, tapi selalu indah pada waktuNya. (cie lagi bijak)