Journey to the North: Riga and Helsinki

Sepulang dari Chamonix, seorang teman tiba2 message mengajak liburan naik cruise ke Rusia. Dia bilang, “Cun, gue mau pesen kamar di cruise Finlandia-Rusia PP, sekamar 4 orang, kita udah bertiga, kurang 1 orang lagi, lo mau join ga?” Tanpa pikir panjang gw langsung jawab, “Mauuuuu.. tapi gue musti cek dulu ya tanggal segitu pas ujian apa ga.” Sebenernya hari2 itu gw lagi kuliah, bukan pas libur, tapi gue nekat aja pengen pergi. Sumpek juga kuliah mulu dan parahnya, kampus gw ga ada liburan sama sekali semester itu. Padahal normalnya kampus publik di Prancis itu libur seminggu di bulan Februari dan seminggu di bulan April. Tapi kampus gw ga ada sama sekali -.- Setelah mengecek jadwal ujian, ternyata pas tanggal segitu ga ada ujian, langsung lah cus beli tiket. Jadi rencananya gw liburan seminggu dengan rute Riga (Latvia), Helsinki (Finlandia), habis itu naik cruise ke St. Petersburg (Rusia) dan balik lagi ke Helsinki (Finlandia). Saat itu ga ada rencana sama sekali ke Estonia, tapi pas hari H akhirnya gw memutuskan buat ke Tallin (Estonia).

Seminggu sebelum keberangkatan, setelah semua tiket sudah dibeli baru lah ketawan kalo ternyata minggu itu banyak buanget tugas. Hampir tiap hari presentasi dan tugas-tugas lainnya. Mati lah gw. Tapi ya mau gimana lagi. Tugas2 tersebut terpaksa gw kebut sebelum gw pergi dan beberapa setelah gw pulang.

Hari Rabu tanggal 28 Maret, gw terbang dari Paris ke Riga naik Baltic Air jam 10 pagi. Perjalanan memakan waktu 2 jam 45 menit. Sampai di sana kira2 jam 13.50, jamnya maju sejam dari Paris. Harga tiket pesawat Paris-Riga-Helsinki-Riga-Paris adalah 177 Euro, semua dengan Baltic Air. Buat balik dari Helsinki ke Paris harus lewat Riga, karena transitnya di situ.

Di Riga gw langsung ketemu sama Atha di airport, Atha ini adalah salah satu temen di FIB tapi beda jurusan. Kita pun naik bis ke tengah kota, kemudian taruh barang di hostel yang bernama Tree House Hostel (10 Euro semalam untuk 10 Bed Female Dorm). Setelah itu, kita pun langsung cus buat eksplor Riga. Riga ini kotanya cukup kecil jadi bisa dieksplor dengan jalan kaki.

Webp.net-resizeimage

Warna-warni kota Riga. Kota-nya agak sepi ya.

Webp.net-resizeimage-2

Pusat kota Riga: House of the Blackheads

Webp.net-resizeimage-3

Di tengah jalan ngelewatin danau yang beku menjadi es. Amayzeng!

Webp.net-resizeimage-8

Salah satu bangunan di distrik Art Nouveau, kompleks bangunan modern dan warna-warni di Riga.

Webp.net-resizeimage-6

Riga Orthodox Church ❤

 

Webp.net-resizeimage-5

Makan-makanan khas Latvia di restoran Lido. Recommended!

Malemnya kita ke bar tradisional Latvia bernama Folkklubs buat nyobain alkohol khas Latvia yang bernama Black Balsamic Riga. Di bar ini ada stage dimana orang2 pada nari tradisional Latvia.

Webp.net-resizeimage-7

Cheers from Riga! Fun fact: Latvia ini adalah negara ke-26 yang gw kunjungin, sementara ini adalah negara ke-27 yang Atha kunjungin 😀

Keesokan harinya, kita naik pesawat dari Riga menuju Helsinki. Siang hari kita sudah sampai di Helsinki dan menuju ke hostel yang bernama Eurohostel. Kita pesen kamar yang private, satu kamar buat berdua dengan harga 50 Euro per malam. Kenapa kita pilih private room? Karena harganya mirip2 sama dorm, kalo di dorm sekitar 25 Euro per malam, nah ini juga sama per orang bayarnya 25, udah dapet yang private room. Yaudah kita pilih private aja.

Di hostel sudah menunggu Tita, temennya Atha yang tinggal di Hamburg, Jerman. Setelah beres2, kita pun langsung eksplor Helsinki.

Webp.net-resizeimage-9

Helsinki yang juga membeku. Kita kira kan akhir Maret udah agak panas gitu ya, taunya masih aja dingin.

Webp.net-resizeimage-10

Jajan roti pake salmon di Old Market Hall, pasar indoor yang berada di kompleks Market Square.

Webp.net-resizeimage-11

Ini stasiunnya Helsinki, Helsinki Central Station.

Malamnya, kita ngaso-ngaso sebentar lalu kemudian menjajal karaoke bar di Helsinki. Pas lagi di hostel, ada kejadian tidak mengenakkan. Jadi kan di setiap lantai itu ada dapur dan common area-nya. Nah, gw, Atha sama Tita mau makan sekaligus santai di dapur. Tiba2 ada 3 cowo masuk, warga negara G (negara di Eropa Timur yang namanya sengaja gw samarkan) dan 3 orang ini ngajak kita ngobrol. Yang pertama kena ngobrol adalah gw, bego-nya gw (dan mungkin sebagian besar orang Indonesia lain) adalah terlalu ramah, gw ajak ngobrol aja tanpa ada pretensi apa2. Eh, tuh orang2 malah kesenangan dan berakhir ngajak kita ke bar. Dari situ gw mulai takut dan nyuekin tuh orang2, sementara si Atha dan Tita emang udah nyuekin dari awal. Tapi tuh 3 orang masih aja usaha ngajak ngobrol dan ngegoda-goda. Setelah berapa lama, akhirnya mereka keluar dan kita pun bisa agak bebas di dapur. Kita pun masuk kamar dan ternyata 3 orang itu kamarnya sebelahan sama salah satu dari kita. Mereka pun kayanya sengaja berdiri-berdiri di luar buat ngeganggu kita. Ya kita jadi takut keluar, rencana yang tadinya mau ke bar, malah jadi ketakutan. Setelah di luar ga ada suara, baru akhirnya kita berani ke luar, itu juga pasang tampang jutek biar kalo ga sengaja ketemu kita bisa pura-pura ga kenal. Huff.

Akhirnya kita pun ke karaoke bar yang bernama Wallis. Tempatnya seru abis. Jadi kita bisa pesen lagu, udah gitu kalo giliran kita tiba, lagu kita diputer dan kita musti nyanyi di depan panggung hahah. Berasa beneran jadi true singer gitu ditontonin orang-orang lol. Seru sih, dan lebih lucunya lagi adalah banyak lagu yang pake bahasa Finlandia, jadi kita sok2 ikutan nyanyi aja padahal ga tau maknanya apa.

Webp.net-resizeimage-12

Penampakan sebelum nyanyi di atas panggung. Sayang, ga bisa upload video pas nyanyi, wordpress gw belum diupgrade ke yang premium lol.

Sepulang dari bar, kita pun pulang ke hostel. Di hostel sudah menunggu si Ega, satu lagi temannya Atha (yang ini kerja di Irlandia) yang baru saja sampai di Helsinki. Keesokan paginya si Ega cerita kalo ternyata salah satu dari cowo yang semalem itu ganggu dia juga. Jadi dia lagi telpon, terus tiba2 salah satu cowo itu ngetok2 sambil manggil salah satu nama kita (Dang, dia inget nama2 kita). Akhirnya dicuekin aja sama si Ega, pura2 ga denger.

Besok paginya kita berempat breakfast di dapur, sambil cemas takut ketemu 3 cowo aneh itu lagi. Untungnya, tiba2 di dapur itu kita ketemu 2 cowo Indonesia yang nginep di hostel yang sama, jadilah ngobrol2 seru sama mereka dan gara2 ada mereka, si 3 cowo G itu jadi ga berani ngajak ngobrol kita. Dia cuma liatin kita aja di dapur sambil bingung, mungkin pikirnya “Ini siapa lagi, ada orang baru tiba2, pada akrab bener2” Wkwk. Thanks ya, Marconi and Handoko, you saved our life! Haha 😀

Hari itu, kita keliling kota Helsinki lagi, kali ini tambah satu personel baru: Ega. Geng kita komplit sudah!

 

Webp.net-resizeimage-13

Kita berempat di depan Uspenski Cathedral, gereja Orthodox utama di Finlandia.

Webp.net-resizeimage-14

Salah satu sudut kota Helsinki

Webp.net-resizeimage-15

Ini dia Helsinki Cathedral, gereja Evangelical Lutheran.

Webp.net-resizeimage-16

Jadi gimana kesan gw soal kota Helsinki? Menurut gw, kotanya kurang menarik, terlalu modern dan ga gitu banyak yang diliat. The best moment? Tentu saja nyanyi di atas panggung ditontonin orang Finlandia, berasa artezz.

 

Sorenya, kita bersiap untuk naik cruise ke St. Petersburg, Rusia! Gimana ya serunya naik cruise? Tunggu ceritanya di post selanjutnya! :*

Advertisements

Weekend in French Alps: Chamonix-Mont-Blanc

Pengen jalan-jalan ke pegunungan bersalju? Mungkin yang kepikiran di benak kalian adalah Interlaken, Jungfrau atau Mt Titlis di Swiss. Ternyata ada juga tempat lain yang lebih murah dan ga kalah kecenya sama tempat-tempat tersebut di atas. Namanya Chamonix-Mont-Blanc. Kota ini terletak di tenggara Prancis, dekat dengan Lyon, Grenoble dan Annecy dan juga dekat dengan negara Italia dan Swiss. Chamonix-Mont-Blanc ini dikelilingi oleh jajaran pegunungan Alpen, sama seperti Mt Titlis di Swiss. Cuma bedanya yang ini Alpennya di Prancis.

Pertengahan Februari lalu gue mendapat kesempatan untuk pergi ski ke sana sama temen2 Indonesia. Awalnya pergi ke sana ga direncanain, awal mula bisa diajakin ke sana pas gue dan Wulan lagi makan siang di KBRI, lalu kita ketemu si Dhafi yang juga lagi di sana dan ada temennya Wulan yang namanya Reza. Kita berempat duduk satu meja dan cerita-cerita banyak hal (gitu tuh org Indonesia, pertama kali ketemu aja rasanya kaya langsung akrab wkwk) sampe akhirnya si Reza ngajakin kita buat ke Chamonix sama temen-temennya. Akhirnya kita pun cus ke Chamonix tanggal 22 Februari (sayang, Dhafi akhirnya ga jadi ikut karena satu dan lain hal). Di sana gue ketemu dengan geng-nya si Reza yang ngerencanain acara ini. Beberapa gue udah kenal kaya Fathi, Isol dan Andri. Beberapa baru gue ketemu waktu itu kaya Alan, Kevlin, Carina dan Monica. Jadilah kita ber-10 menjelajah Chamonix bareng (ya ga bareng-bareng amat sih, kadang gue suka misah haha).

Perjalanan dimulai pada hari Kamis tanggal 22 Februari dengan menggunakan Flixbus dari Paris. Perjalanan ke Chamonix sekitar 9 jam dan kita bermalam di bus. Untuk tiket, kita menggunakan paket Interflix yang harganya 100 Euro untuk 5 kali perjalanan, jadi sekali perjalanan cuma 20 Euro, sangat ekonomis! Kalo ga pake paket itu, kita harus membayar sekitar 50 Euro sekali perjalanan bis Paris-Chamonix, dan makin mendekati hari H harga semakin mahal. Sejujurnya gue agak takut perjalanan jauh naik bis, karena gue lagi mengidap penyakit yang mbikin gue pipis-pipis terus, tapi untungnya WC-nya berfungsi dengan baik.

Sekitar jam 8 pagi kita tiba di Chamonix. Baru masuk kota-nya aja udah terkagum-kagum karena bener-bener dikelilingi pegunungan Alpen. Kita turun di terminal bis yang bernama Chamonix-Sud, gue dan Wulan naik bis ke hostel yang bernama Gite Chamoniard (22 Euro per malam) sementara yang lain naik bis ke hostel yang bernama Hi Chamonix. Tadinya kita juga mau nginep di sana tapi tempatnya udah penuh, jadi kita baru bisa check in di sana keesokan harinya. Transportasi umum yang beroperasi di kota Chamonix itu cuma bis, jadi kita kemana-mana naik bis, harganya gratis kalo kita bisa nunjukkin kalo kita menginap di sebuah penginapan di Chamonix.

Di Chamonix ini dikelilingi oleh beberapa pegunungan yang merupakan gugusan pegunungan Alpen, ada Le Brévent, Les Houches, Les Grands Montets, Argentière dan lain sebagainya. Nah buat naik ke pegunungan-pegunungan ini kita harus naik cable car dan buat naik cable car kita harus punya Chamonix ski pass. Untuk ski pass sendiri harga aslinya 63.5 Euro per hari, tapi karena kita beli di hostel Hi Chamonix, tempat kita bakal nginep malam setelahnya, kita cuma bayar 25 Euro. Ekonomis kan? Nginep di Hostel Hi Chamonix emang pilihan yang bagus buat budget traveler yang mau bertualang ke Chamonix. Harga hostelnya sendiri 23 Euro per malam, tapi kalo mau nginep ditambah beli ski pass seharian kita cukup bayar 44 Euro . Untuk menjelajahi Chamonix, ada sebuah website lengkap yang menunjukkan keadaan cuaca di setiap puncak gunung, lengkap dengan keterangan apakah tempat tersebut tutup atau tidak. Beberapa tempat kadang tutup hari itu, karena keadaan cuaca yang tidak memungkinkan.

Selesai naruh barang di kamar, Gue dan Wulan membeli ski pass di hostel Hi Chamonix seharga 25 Euro (ini sebenernya agak susah kalo kita ga nginep di hostel ini malam itu, kita dapet ski pass karena yang beliin temen kita yang udah di hostel ini duluan). Setelah itu, kita memulai petualangan pertama di Chamonix, yaitu Paragliding! Yeayy! Gue udah ngebayangin gimana indahnya paragliding di pegunungan bersalju, kaya yang gue pernah liat di poster waktu ke Puncak buat paragliding. Sayang, takdir berkata lain. Bukan Cuni’s Journey namanya kalo ga ketemu sial hahaha. Jadi paragliding kita terpaksa dicancel karena anginnya terlalu kencang dan kita baru tau pas udah di tempatnya. Si orangnya yang ngurusin paragliding telpon gw: “Iya, jadi kita terpaksa cancel karena angin kencang.” Gw: “Yah masa dicancel sih udah sampe sini.” Dia: “Ya, bahaya soalnya, kamu ga mau mati kan?” Gw: “Ga, gw ga mau mati.” Hahhaha. Ada2 aja emang kalo ngomong sama orang Prancis wkwk.

Ga jadi paragliding, kita memutuskan buat sightseeing di tempat yang harusnya buat paragliding, yaitu Le Brévent. Tempatnya kece bgt, jadi buat ke atas kita harus naik cable car dan sepanjang perjalanan yang keliatan gunung salju semua. Di sini juga ada sebuah restoran di tmp paling tinggi dan pemandangannya bagus banget, kita ga makan di situ tapi foto-foto aja.

Webp.net-resizeimage

Chamonix Mont-Blanc ❤

Webp.net-resizeimage-2

View from the restaurant

Webp.net-resizeimage-3

Ga usah jauh2 ke Swiss buat liat pemandangan se-luv ini ❤

Webp.net-resizeimage-6

Exploring Mont-Blanc with Wulan

Puas menjelajahi Le Brévent, kita ke puncak tertinggi selanjutnya yang bernama Les Grands Montets. Sayang, di sini kita ga bisa naik karena buat naik khusus yang punya alat ski. Yaudah kita menikmati pemandangan aja dari bawah.

Webp.net-resizeimage-4

Les Grands Montets

Webp.net-resizeimage-5

Ski station

Di hari kedua, gue dan Wulan pindah ke hostel yang sama kaya anak-anak, yaitu Hi Chamonix. Hostel ini jaraknya lebih jauh dari hostel yang pertama dari tengah kota. Di bis kita ketemu sama Reza dan Kevlin yang baru tiba dari Paris. Kita pun taruh barang-barang di hotel, beli ski forfait alias pass ski biar bisa naik turun ke gunung mana aja yang kita mau, nimbrung sarapan pagi, lalu pake peralatan ski karena bersiap ski. Peralatan ski ini bisa disewa di hostel, dengan membayar sekitar 20 euro. Peralatan ski ini berat banget, apalagi tempat tujuan kita buat main ski jauh dan musti naik bis. Gw sama Wulan udah ngeluh-ngeluh sepanjang jalan, apalagi gue, yang udah tau gimana ga enaknya main ski, pengen gw balikin aja rasanya ke hostel itu alat-alat. Tapi nasi sudah menjadi bubur, yaudahlah sebisa mungkin ikut aja ke tmp ski yang terletak di La Flégère. Setelah perjalanan yang terasa amat lama akhirnya sampai juga. Cowo-cowo itu udah pada jalan duluan, sementara gw dan Wulan di belakang, sama ada si Isol yang bersabar buat nungguin kita haha. Sampai di atas, gw mencoba main ski sedikit, tapi kok rasanya ga kuat. Harusnya gw percaya sama instinct gue, kalo gausah main ski dari awal. Dulu sekitar 2 taun yang lalu gue juga pernah main ski di Toulouse, dan gue ga suka, mana jatuh mulu. Sekarang gw pengen nyoba lagi karena masih penasaran, tapi kayanya udah cukup. Gw ga bakal lagi main ski, kecuali tiba2 ada duit dan ada yang ngajakin kursus dari awal di Ecole du Ski. Atau mungkin suatu hari ada seseorang yang cukup sabar ngajarin gue main ski dari awal haha. Selain itu, ajakan main ski akan gw tolak. Gw cukup bahagia ngeliatin gunung salju tanpa harus bermain ski.

Webp.net-resizeimage-11

Ski squad. From Paris to Chamonix 😀

Webp.net-resizeimage-7

La Flégère

Webp.net-resizeimage-8

Church by the mountain

Akhirnya gue memutuskan untuk makan siang sendiri selagi anak2 main ski, dan habis itu gue balik ke hostel buat balikin alat. Habis itu gw pergi ke puncak tertinggi di Chamonix yang bernama Aiguille du Midi. Sayang, tempatnya ditutup karena angin kencang. Huff. Lagi-lagi belum jodoh. Gw kemudian mencari puncak lain dan jatuhlah pilihan gw ke tempat yang bernama Les Houches. Waktu itu waktu sudah menunjukkan pukul 17.15, sementara tempatnya akan ditutup pukul 17.30. Jadilah gue naik cable car terakhir ke sana, terus foto-foto sebentar di atas gunung, kemudian naik cable car terakhir buat turun. Gw pun pulang ke hostel dan secara ga sengaja di bis ketemu anak-anak yang habis balik main ski. Kita santai sebentar di hostel, lalu pergi lagi jalan ke pusat kota Chamonix untuk makan malam sembari menikmati malam terakhir di kota yang indah ini.

Webp.net-resizeimage-9

Gagal naik ke Aiguille du Midi, foto ini-nya aja wkwk

Webp.net-resizeimage-10

Les Houches, I am the last people who came up

Keesokan harinya hari Minggu, gw dan Wulan melanjutkan perjalanan ke Jenewa, sementara anak-anak lain masih stay di Chamonix sampai malam, ada yang main ski lagi, ada juga yang cuma jalan-jalan santai di Chamonix. So, thank you Chamonix! ❤

 

Itinerary Liburan ke Italia 6 Hari 5 Malam

Hai semuanya! Sebenernya udah lama gue liburan ke Italia ini, tepatnya bulan April 2016, tapi baru sempet dipublish sekarang. Pas liburan ke Italia ini gue ikut 2 sahabat gue yang lagi Eurotrip ke Eropa. Mereka sendiri mempunyai itinerary Belanda-Belgia-Prancis-Italia, tapi karena gue kebentur kuliah, jadi gue cuma bisa ikut mereka jalan ke Italia aja. Itu juga udah sangat menyenangkan hihi.

Hari ke-1: Milan

Karena waktu itu gue tinggal di La Rochelle, gue naik pesawat dari Bordeaux ke Milan dengan menggunakan Easyjet seharga 60 Euro PP. Sesampainya di Milan, gue langsung menuju stasiun kereta pusat untuk bertemu Lina dan Tichu. Mereka kayanya nunggu gue cukup lama, tanpa kepastian juga karena HP gue dan mereka sama2 ga bisa digunain di Itali. Tapi akhirnya kita bertemu, aaaaah senangnya, ketemuan di Italia! Hahaha. Di Milan kita cuma ke Cathedral Duomo yang letaknya dekat dengan stasiun dan juga ke Galeria Vittorio Emmanuele serta jalan-jalan di sekitar situ.

Sooo happy to meet them in Italy! ❤

Cathedrale Duomo de Milano

Galeria Vittorio Emmanuele

Malamnya, kita bermalam di Megabus menuju ke Roma (15 Euro). Kita berangkat pukul 9.30 PM dan tiba di Roma pukul 6.30 AM (9 jam).

Hari ke-2: Roma

Sesampainya di Roma, tepatnya di Stasiun Tiburtina, kita langsung ke tempat di mana kita menyewa airbnb dekat stasiun Tiburtina. Kita menyewa Airbnb seharga 50 Euro per malam untuk tiga orang. Setelah mandi dan siap-siap, kita pun langsung meluncur menjelajahi Roma. Yeayyy!

Tujuan pertama kita tentu saja Colosseum. Kita mengitari kompleks Colosseum untuk mengagumi keindahannya dan tentu saja mencari spot foto yang pas! Haha. Setelah dari Colosseum, ada sebuah kejutan menanti, kita ga sengaja ketemu bapak-bapak orang Indonesia yang ternyata tinggal di Roma dan kita ditraktir makan es krim di sebuah kafe sama dia. Omg. Seru banget cerita-cerita sama Bapak ini plus dia baik banget haha. Habis itu kita menuju ke Forum Romanum, reruntuhan bangunan kuno Italia dan Piazza Venezia untuk mengarah ke Fontana di Trevi. Fontana di Trevi, salah satu ikon kota Roma ini ternyata tempatnya cukup sempit, dibandingkan dengan ribuan turis yang berada di sana. Sumpah, crowded banget dan bikin pengen cepet-cepet cus dari situ.

Me in Colloseum ❤

Ditraktir bapak-bapak Indo yang ketemu di jalan

Forum Romanum

Piazza Venezia

Fontana di Trevi

Setelah itu kita menjelajah ke Spanish Steps dan Piazza de Popolo, main square besar khas Italia. Di Roma ini banyak banget Piazza alias square yang bisa dinikmati. Kitapun mengakhiri hari dengan makan pizza seharga 2 Euro. Meskipun murah, tapi pizza ini enyakk! Hihi.

Hari ke-3: Vatican dan Roma

Hari ini saatnya kita menjelajah ke Vatican! Vatican ini letaknya di jantung kota Roma dan untuk ke sana kita cukup menaiki subway. Pengamanannya sangat ketat, sebelum masuk Vatikan kita dan barang-barang harus discan terlebih dahulu. Untuk masuk ke dalam Basilica San Pietro, kita harus mengantri tetapi antriannya tidak cukup lama, karena ada 3 pintu yang dibuka. Tempatnya keren dan mevvah banget! Sayang kita ga sempet ke Vatican Museum karena keterbatasan waktu dan dana.

Garda Swiss di Vatikan

The stunning Vatican!

Basilica San Pietro  

Habis dari Vatican kita nongkrong dulu untuk makan es krim bersama dengan temannya Tichu, orang Italia. Setelah itu kita lanjut ke Castel Sant’Angelo, kastil cantik yang dulu sempat menjadi benteng dan kastil, namun sekarang sudah menjadi museum. Puas foto-foto di tempat ini dan jembatannya yang ciamik, kita berjalan kaki ke Piazza Navona yang letaknya sangat dekat dengan Pantheon.

Jembatan Sant’Angelo

Pantheon di kota Roma

Hari ke-4: Napoli-Pompeii

Pagi-pagi buta kita sudah menuju ke stasiun bus Tiburtina untuk melanjutkan perjalanan ke Napoli. Kita menggunakan Megabus Roma-Napoli seharga 8 Euro selama 3 jam. Tujuan kita ke Napoli adalah untuk melihat Pompeii, kota kuno yang sudah menjadi situs arkeologi dengan reruntuhannya akibat erupsi Gunung Vesuvius di abad 79 sebelum masehi. Kereta dari Napoli ke Pompeii sendiri harganya 3.20 Euro. Untuk masuk ke Pompeii dikenakan tiket seharga 11 Euro. Sebenernya trip ke Pompeii ini atas inisiatif dari Lina, karena dia dari kecil udah pengeeen banget ke Pompeii hihi.

Kawasan Pompeii ini sangat besar, jelas, hal itu karena Pompeii tadinya adalah sebuah kota. Banyak reruntuhan rumah dan patung dimana-mana dan membuat Pompeii menjadi sangat cantik. Kita menggunakan peta untuk bisa menjelajahi ke sudut-sudut Pompeii.

Patung yang sudah separuh hancur bersama runtuhnya kota Pompeii

Dengan background Gunung Vesuvius di kejauhan

Pilar-pilar yang tinggal separuh

Salah satu sudut kota Pompeii

Kami bertiga di Pompeii ❤   

Setelah dari Pompeii, kita melanjutkan perjalanan ke Venice. Kita menggunakan kereta Italo jurusan Napoli-Bologna (34.9 Euro) yang disambung dengan Bologna-Venice (15 Euro). Kita sampai di Venice saat sudah tengah malam dan kita pun langsung menuju tempat AirBnb kita, yang ternyata adalah hotel kecil alias Bed and Breakfast. Kita menginap di B&B The Caponi Bros, yang letaknya di Venice Mestre (52 Euro per malam untuk 3 orang). Kalo mau mencari penginapan di Venice, untuk menekan biaya, biasa mencarinya di Venice Mestre, karena harganya lebih murah daripada di Venice Central. Untuk menuju ke Central pun cukup mudah, hanya tinggal naik kereta seharga 1.5 Euro.

Hari ke-5 : Venice

Hari ini saatnya muterin Venice! Siapa sih yang ga tau Venice, kota yang disebut2 sebagai kota paling romantis di dunia. Kita pergi dari stasiun Mestre ke Central yang hanya membutuhkan waktu setengah jam. Di Venice ini kita tidak memiliki itinerari pasti, kita hanya berjalan saja mengikuti langkah kaki, dan mengecek Piazza San Marco, main square-nya yang sangat terkenal. Tadinya kita mau Island Hopping ke Burano, tetapi karena keterbatasan waktu, jadilah kita mengurungkan niat itu. Venice sendiri kotanya sangat cantiiiik! Ga heran dibilang kota paling romantis. Dimana-mana kanal dan bangunan warna-warni. Kotanya sendiri cukup kecil dan bisa dieksplor dengan jalan kaki. Di sini, kita memilih untuk tidak menaiki gondola karena harganya yang lumayan, tapi gue ga nyesel sih, kotanya aja udah bagus hihi. Beruntung gue ke sini bersama sahabat2 tercinta, karena destinasi ini kurang cocok kalo buat solo traveller hahaha.

Welcome to Venezia!

Gondola dan Venezia

Kanal dan bangunan warna-warni khas Venezia

Piazza San Marco

Duduk-duduk di pinggir kanal ❤

The happy memory ❤

Ciao, Bella! ❤      

Hari ke-6: Pulang

Liburan ke Italia pun berakhir. Tichu dan Lina akan menaiki pesawat pulang menuju Indonesia, sementara gue akan menaiki pesawat menuju Bordeaux dari Milan. Untuk ke Milan-nya, gue menaiki kereta Trenitalia dari Venice seharga 19 Euro.

Overall, gue sangat suka perjalanan gue ke Italia. Kota-kotanya cantik cantikkk dan Italia menjadi salah satu negara favorit gue di Eropa. Apalagi jalan-jalannya bareng sama sahabat, bikin trip ini makin berkesan. Ciao, Bella!

Athena, Kotanya Dewa-Dewi

Wiih udah lama juga ya gue ga nge-blog. Terakhir Agustus yang lalu, mohon maap ya semuanya, gw kemarin habis sakit dan balik ke Indonesia jadi agak ga mood nge-blog gitu hehe.

Setelah cerita terakhir tentang Santorini, sekarang gue akan bercerita tentang ibukotanya Yunani yaitu Athena. Setelah mengalami turbulensi sepanjang perjalanan ke Athena, akhirnya sampai juga kita di Athena. Waktu itu waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi dan hujan deras, jadi kita memutuskan naik taksi bandara walau agak mahal (50 Euro untuk malam hari jam 00.00-05.00). Sebenernya bisa juga naik bis malam dari bandara menuju pusat kota Athena, tapi si Anin pengen naik taksi, yaudahlah gue ngikut aja.

Di Athena kita menyewa airbnb dengan harga yang sangat murah, 12 Euro semalam. Dan itu kamarnya bisa buat berdua, jadi satu orang cuma membayar 6 Euro. Kita sampe sana jam 3 pagi dan untungnya si pemiliknya masih bangun buat bukain kita pintu. Kamarnya cukup oke dan nyaman.

Keesokan harinya, kita bangun agak siang untuk mengeksplor Athena. Waktu kita untuk mengeksplor jadi berkurang karena kita extend 1 hari di Santorini. Si Anin cuma punya seharian penuh di Athena sementara gue punya 2 hari, karena kita beda flight pulang. Si Anin harus pulang lebih awal karena ada kuliah.

Destinasi pertama, apalagi kalau bukan Acropolis. Destinasi wajib kalau ke Athena, dengan simbol ikoniknya Parthenon, kuil kuno yang berada di tengah2 kota kuno berbenteng. Masuk ke dalam Acropolis ini gratis untuk pelajar Eropa. Untung kita udah tau dari sebelumnya kalo masuk semua tempat di Yunani itu gratis untuk pelajar Eropa, jadi ga perlu beli tiket dan langsung bilang aja kalau pelajar. Saat mulai mendaki ke atas Acropolis, kita akan bertemu dengan Odeon of Herodes Atticus, teater kuno setengah lingkaran yang terbuat dari batu-batu. Setelah itu, kita pun mendaki ke atas dan menjelajahi kompleks Acropolis yang sangat luas, termasuk di dalamnya Parthenon dan bangunan serta kuil-kuil kuno, yang semuanya ciamik. Rasanya bener-bener bisa ngebayangin waktu jaman dulu banget, waktu kuil ini masih berdiri kokoh dan katanya dihuni dewa-dewi.

Webp.net-resizeimage-21

Berpose di depan reruntuhan kuil Parthenon

Webp.net-resizeimage-22

Pemandangan dari atas Akropolis

Webp.net-resizeimage-23

Bersama Anin, my Greece travel mate!

Webp.net-resizeimage-24

Reruntuhan Kota Akropolis

Kita di situ menghabiskan waktu yang sangat lama, sampai beberapa jam karena tempatnya yang sangat besar. Kita juga sempet nyasar naik turun bukit saat mencari Tower of The Winds, yang akhirnya juga tidak ditemukan. Entahlah ada di mana itu obyek wisata. Puas mengelilingi Akropolis, kami menuju ke Plaka, pasar kece tempat dijual banyak barang-barang lucu khas Yunani. Kalo mau berbelanja di sini agak mahal, ada lagi tempat yang lebih murah yaitu di Monastiraki. Kita juga makan malam di salah satu resto di Plaka (Eh yang makan Anin doang deng, harganya ga pas sama budget gue jadi gue cari Gyros di pinggir jalan haha). Setelah itu kita mencari pasar di Monastiraki tapi karena sudah malam jadi sudah tutup, kitapun berjalan-jalan saja di area itu sambil gue mencari makan Gyros.

Webp.net-resizeimage-25

Plaka, tempat jualan suvenir dan banyak resto kece

Keesokan harinya, Anin pulang ke Paris sementara gue masih punya seharian untuk mengeksplor Athena. Penjelajahan hari ini dimulai dari Monastiraki, pasar besar di Athena yang harganya cukup miring, di sini gue membeli badge gambar bendera Yunani. Belakangan gue emang suka ngumpulin badge dari berbagai negara, emang udah telat sih, banyak yang udah gue kunjungin tapi ga kekumpul badge-nya. Rencananya badge tersebut mau dijahit di tas ransel atau di bantal kecil. Di sini juga gue makan Gyros, seperti biasa, kebab ala-ala seharga 3 Euro, makanan kenyang yang pas di kantong gue hahaha.

Webp.net-resizeimage-27

Monastiraki, pasar yang harganya cukup miring dibandingkan dengan Plaka

Webp.net-resizeimage-33

Gyros, my love

Setelah itu, gue menuju ke Hadrian’s Library, Roman Agora (Ternyata saudara-saudara, Tower of the Winds yang gue cari dari kemarin itu adanya di dalem sini, cape deh!) dan Ancient Agora of Athens, dimana terdapat reruntuhan kuil dan juga Agora Museum. Gw sempet masuk ke dalam museum itu, isinya sih kurang lebih patung-patung kuno yang terselamatkan dari kehancuran kota dan dijadikan koleksi museum. Di kawasan ini juga terdapat Temple of Hephaestus yang mirip Parthenon tapi lebih kecil. Puas menjelajah yang kuno-kuno, gue beralih ke Athens Cathedral yang cukup modern. Dari situ gue berjalan kaki menuju Syntagma, tempat berdirinya parlemen Yunani, yang dijaga oleh 2 serdadu dengan atraksi jalan-nya yang cukup menghibur. Setelah itu, gue duduk di National Gardens untuk beristirahat dan menikmati pemandangan. Di ujung taman, terdapat bangunan Zeppeion yang merupakan Exhibition Hall. Gue pun melangkah ke Temple of Olympian Zeus yang berada persis di seberangnya. Gue masuk ke temple ini yang tentu saja dengan cuma-cuma.

Webp.net-resizeimage-26

Salah satu sudut Hadrian’s Library

Webp.net-resizeimage-28

Beberapa koleksi di Agora Museum

Webp.net-resizeimage-29

Temple Hephaesteus, versi mini dari Parthenon

Webp.net-resizeimage-30

The Cathedral of Athens

Webp.net-resizeimage-31

2 Serdadu dengan atraksinya di depan Gedung Parlemen

Webp.net-resizeimage-32

Temple of Olympian Zeus

Waktu menunjukkan pukul 4 sore, gue ragu mau menikmati Acropolis Museum atau menuju ke Piraeus Port untuk melihat dermaga dan pelabuhan di ujung kota Athena. Akhirnya gue memutuskan untuk masuk ke museum dahulu, dan melihat bahwa waktunya masih ada, gue meluncur ke Piraeus Port yang letaknya cukup jauh di pinggir kota dengan menggunakan subway. Gue menemukan dua hal tidak menyenangkan saat perjalanan ke dan di Piraeus Port. Pertama, gue diliatin sama orang item di subway dan dia ngeliatin gue non-stop selama sekitar 15 menit tanpa memandang ke hal lain. Gue yang takut akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dari dia, pas turun subway dia juga masih liatin gue sambil menengok2 ke belakang, karena gue sengaja jalan jauh di belakang dia. Untungnya akhirnya dia menghilang. Hufff, ada-ada aja. Perjalanan ke Piraeus Port dari stasiun subway ternyata cukup jauh. Butuh sekitar 30 menit jalan kaki (atau lebih?) untuk sampai ke pelabuhan dan pantai. Pelabuhan dan pantainya ternyata biasa aja, kurang worth it untuk dijelajahi. Tapi ya namanya juga gue penasaran kan, kalo belum liat wujud aslinya ga akan berhenti haha. Di pelabuhan inilah gue bertemu dengan orang aneh kedua, orang (sepertinya) Yunani yang melihat gue dengan seksama dari kejauhan lalu mengikuti kemana gue pergi. Yaallah, serem bgt, akhirnya gue berhasil lolos dari tuh orang. Ada-ada aja. Malam pun tiba, dan gue pulang ke tengah kota sembari nyemil Greek Yoghurt di tengah jalan. Ternyata Greek Yoghurt ini asem, tapi dikasi madu untuk memberikan rasa manis.

Webp.net-resizeimage-34

Pelabuhan Piraeus

O iya, untuk transport di Athena ini sebenernya mudah, terdapat subway dan juga bus. Tapi untuk bus, agak tricky, karena semuanya menggunakan alfabet Yunani tanpa ada terjemahan latinnya. Jadilah gue cuma mengandalkan aplikasi transportasi dan mengingat-ingat tempat pemberhentian dengan menggunakan alfabet Yunani.

So, thank you Greece! You are unforgettable! :*

 

Keliling Santorini dengan Budget Backpacker

Hi semuanya! Bulan Mei yang lalu gue habis balik dari Yunani! Gue masih ga percaya sih bisa menginjakkan kaki di negara yang bisa gue bilang wishlist ini. Tujuan gue ke Yunani adalah tentu saja ke Santorini dan Athena! Tadinya pengen eksplor yang lain kaya Mykonos, tapi karena keterbatasan biaya, dua ini aja udah cukup menyenangkan hati gue.

Gue dapet tiket Paris-Athena-Santorini-Athena-Paris dengan total harga 210 Euro. Paris-Athena dan Athena-Santorini naik Aegean Air (maskapai Yunani tapi oke punya), Santorini-Athena, Athena-Roma dan Roma-Paris dengan Ryan Air. Kenapa gue transit dulu di Roma? Karena tiket Athena-Roma dan Roma-Paris jauh lebih murah daripada tiket Athena-Paris langsung. Sebenernya kalo lagi low season banget, semua tiket di atas bisa dijangkau dengan harga 150 Euro.

Hari ke-1: Berangkat dari Paris

Gue berangkat dari airport Paris Charles-de-Gaulle tanggal 17 Mei 2017 sekitar jam 10 malam bareng sama temen gue Anin. Jadi travelling ke Yunani kali ini gue bakal berdua sama Anin, non-stop, kecuali hari terakhir dia musti balik duluan karena ada kuliah. Si Anin ini sebenernya satu kampus sama gue di UI, tapi baru suka ngobrol pas sama-sama di Prancis. Itu juga ga pernah ngobrol yang tatap muka, biasanya cuma lewat whatsapp. Pernah sekali nginep di rumah dia, eh dianya ga ada hahaha. Jadi trip kali ini bener baru pertama kali kita ngobrol langsung hahaha.

Kitapun naik Aegean Air menuju Athena, pertamanya agak takut juga karena belum pernah denger Aegean Air. Ternyata itu maskapainya Yunani dan ternyata servisnya mayan oke, dikasih makan minum segala, ga kaya low cost carrier pada umumnya. Mungkin emang ini maskapai bukan low cost kali ya. Kita sampai di Athena sekitar tengah malam, kemudian transit sekitar 4 jam untuk melanjutkan perjalanan ke Santorini. Dari Athena ke Santorini gue kira bakal naik Olympic Air, versi kecilnya si Aegean, dan dia pake baling-baling. Ternyata engga tuh, kita tetep dinaekin Aegean, mungkin banyak yang mau ke sana kali. Di airport cuma berhasil tidur sejam, di pesawat ga bisa tidur sama sekali, karena ketakutan haha. Norak ya gue, ngaku2 traveler, tapi naik pesawat nervous berat hahaha.

Hari ke-2: Athena-Santorini (Fira, Oia)

Kita pun sampai di Santorini pukul 6 pagi. Kita langsung naik bus dari airport menuju Fira, hostel tempat kita menginap. Bisnya cuma 1.7 Euro, memakan waktu hanya 10 menit. Bis ini persis kaya di Indonesia, ada keneknya yang mintain duit ke penumpang satu-satu. Kesan pertama sampe di Yunani, rasanya beda sama Prancis dan negara Eropa lain. Keliatan, negara ini belum semaju itu, ya maklum, Yunani itu paling rendah GDP-nya di Uni Eropa, mana kemarin habis bangkrut ini negara. Kadang gue suka bilang “Eropa miskin” hehehe. Tapi kalo negara miskin justru malah menguntungkan buat traveler kere kaya gue, apa-apa murah haha.

Habis dari terminal bus Fira, kita langsung jalan kaki ke hostel, namanya Fira Backpacker. Hostel ini letaknya strategis banget, cuma 5 menit jalan kaki dari halte bus Fira. Dan ternyata terminal bus Fira ini adalah pusatnya bus2 berkumpul, jadi mau naik bus ke mana aja di Santorini, musti lewat Fira. O iya, FYI, Santorini itu nama pulau, bukan nama kota. Kota paling gedenya adalah Fira. Nah kalo kota yang suka di foto2 itu namanya Oia.

Sampai di Hostel Fira Backpacker, kita nitipin tas ransel di sana. Terus kita sempet tidur gitu dua jam di ruang tengahnya, karena belum bisa check ini, masih kepagian. Tapi mayanlah bisa tidur sebentar. Hostel ini paling murah di Santorini, harganya 15 Euro. Well, sebenernya ada sih hostel yang lebih murah, sekitar 7 Euro, tapi letaknya di Perissa dan itu jauh gitu kemana2 aksesnya. Itu gue dapet 15 Euro buat malam pertama, buat malam kedua jadi 19 Euro, kayanya gara2 weekend. Ada juga kan hostel murah di Santorini? Ga perlu deh nginep di resort2 mahal hahha.

Sekitar jam 10 pagi kita berangkat ke Oia, rasanya udah ga sabar liat kota yang di gambar2 itu. Kita naik bus selama 30 menit dari Fira ke Oia (1.7 Euro). Pemandangan sepanjang jalannya cantik luar biasa, sebelah kanan langsung laut Aegean yang biruuuuu banget! Sampai di Oia, kita langsung jalan mengikuti kemana kaki melangkah. Oia itu kotanya beneran cantiiiiiik banget. Lebih cantik daripada di foto. Gue amaze sendiri gitu bisa menjejakkan kaki di situ. Jalanannya itu dari marbel warna putih, dinding2 bangunan kebanyakan warna putih bersih. O la la. Cantikkkkk banget! Tujuan kita ke Oia adalah mencari 3 dome biru yang ada di foto2. Agak susah loh nyarinya, belum ditambah penyakit gue saat jalan2 kambuh, sakit perut! Huh, ampun dah, ini sakit perut ga bisa tunggu ntar pas gue pulang ke rumah aja apa ya.

Webp.net-resizeimage-17

This place is just too good to be true ❤ ❤

Webp.net-resizeimage-4

Now I have one more favorite destination.

Webp.net-resizeimage-2

Those 3 picturesque blue domes ❤

Webp.net-resizeimage-5

The sea is just sooooo blue!

Webp.net-resizeimage-3

Setiap sudut kota ini bener-bener cantik ❤

Sekitar jam 5 sore, kita balik dari Oia menuju Fira. Karena kita belum tidur cukup semalem, jadi pengen cepet2 balik dan tidur aja di hostel. Bis menuju Fira kali itu bener2 ramai. Kita sampai berdiri di tangga bagian bawah, deket sama pintu tengah. Asli itu ga enak banget, jadi kan emang kontur jalanannya berkelok-kelok, rasanya pusing banget ditambah kita ga bisa liat apa-apa, karena di bawah. Jendelanya ga keliatan.

Sesampainya di hostel, kita langsung check in dan tidur! Itu baru jam 6 sore tapi gue sudah terlelap kecapekan, jam 11 malam pun gue bangun sebentar sekitar sejam, lalu tidur lagi sampai keesokan harinya. Oh, malam yang indah.

Hari ke-3: Red Beach dan Sunset di Oia

Hari ini kita bangun jam 9! Hahaha. Setelah puas tidur semalaman, gue pun mandi, lalu makan siang pizza bekas kemarin hahaha. Setelah itu kita berangkat ke Red Beach! Tentunya naik bus dari Fira. Enak deh tinggal di Fira, akses kemana2 mudah. Seandainya kita tinggal di Oia, kita musti ke Fira dulu baru bisa ke tempat2 lain. Hahhaa. *gaya lu cun, kaga mampu juga tinggal di Oia hahaha* Bis dari Fira ke Red Beach memakan waktu sekitar 30 menit dengan harga 2.2 Euro (ga tau gue kenapa yang ini lebih mahal).

Di Red Beach, kita diturunin di dekat situs purbakala Akrotiri, dari situ kita musti jalan kaki ke Red Beach. Perjalanan dari situ sampai ke Red Beach kira2 30 menit jalan kaki. Di ujung, medannya agak curam, karena isinya batu-batu semua. Musti ati2 pas di sini. Red Beach ini bentuknya lebih ke tebing daripada pantai, tebingnya itu yang warnanya merah. Ada pantai, tapi pasirnya sedikit dan kurang nyaman buat leyeh-leyeh. Tapi lautnya bener2 bagus, warna biru tua dan di tengah2nya ada gradasi biru muda. Cakep deh!

Webp.net-resizeimage-6

Red beach. Di samping kanan keliatan batu-batunya yang berwarna merah.

Webp.net-resizeimage-8

Tampak dekat.

Habis itu kita melanjutkan perjalanan ke Akrotiri, situs purbakala yang letaknya di deket tempat bis. Karena kita adalah pelajar Uni Eropa, maka masuk ke dalam sini gratis. Nah, curangnya adalah, di loket itu ga ditulis kalo buat pelajar Uni Eropa gratis, jadi kalo lo ga tau, lo pasti bakal ngira lo bayar. Untungnya gue udah sempet dikasi tau temen, jadi tau kalo itu gratis. Hoho.

Di Akrotiri ini ada peninggalan bangunan Yunani jaman dulu yang udah tinggal sisa-sisanya. Sisa-sisa bangunan ini ada di dalam satu ruangan, jadi dia ga outdoor. Gue udah bayangin aja dia bakal outdoor kaya di Pompeii (Italia) taunya ga. Indoor dan menurut gue ga gede-gede amat.

Webp.net-resizeimage-7

Tiket gratis masuk Akrotiri.

Habis itu kita duduk-duduk di luar sambil menunggu bis datang. Lanjut dari sini, kita bakal balik ke Oia lagi untuk melihat sunset. Kita musti naik bis dulu ke Fira, untuk kemudian ke Oia. Sampai di Oia jam 6 malam, kita makan dulu di restoran murah no 1 di Trip Advisor bernama Pito Gyros. Pito Gyros ini letaknya deket sama tempat turun bis di Oia dan di belakang sekolahan (met nyari deh, di sana kaga ada nama jalannya haha). Di sini gue makan Pork Gyros (Gyros itu kaya sejenis pita tapi kecil) seharga 3 Euro sudah termasuk French Fries. Di Yunani, kalo mau ngirit, bisa beli gyros atau souvlaki seharga 2-3 Euro. Bahkan di restoran gede pun kadang suka jual gyros seharga 3 Euro loh. Porsinya emang ga gede2 amat, tapi cukup buat gue. Dan ada macem2, ga cuma babi, tapi ada yang ayam juga. Pito Gyros ini bener2 enak. Recommended banget dah! :DD

Habis itu kita turun ke bawah tebing, ceritanya mau liat teluk bernama Amoudi Bay. Tapi baru 30 menit jalan kita menyudahi perjalanan itu, karena kecapekan, keliatannya pantainya biasa aja dan kita musti ngejar sunset di Oia Castle. Oke lah, langsung kita meluncur ke Oia Castle tempat orang-orang pada nunggu sunset. Kita sampai di Oia Castle jam 19.30, padahal sunsetnya baru jam 20.30. Omg, di situ udah penuh sesak orang yang nunggu sunset, dan di situ dingin bangeeet, angin lagi kenceng2nya. Akhirnya terpaksa kedinginan sejam sambil nunggu sunset, untung akhirnya dapet duduk.

Webp.net-resizeimage-10

Kumpulan orang-orang yang menunggu sunset. Ini masih sebagian kecil.

Webp.net-resizeimage-9

Sunset in Oia Castle ❤

Habis itu kita pun pulang ke Fira. Menikmati malam terakhir di Santorini *rrrr supposed-to-be*.

Hari ke-4: Perissa Beach

Di Santorini, selain ada Red Beach, ada juga yang namanya Black Beach. Black Beach itu ada 2, satu namanya Perissa, satu namanya Kamari. Gue memutuskan ke Perissa, karena tempatnya lebih populer di kalangan travel blogger. Tadinya pengen ke dua-duanya, tapi setelah diliat-liat sama aja. Jadi dah pilih salah satu. Perjalanan dari Fira ke Perissa memakan waktu setengah jam dengan bis (2.2 Euro)

Perissa ini bener2 pantai guede banget, buat leyeh2 dan berenang. Beda sama Oia yang emang tempat turistik banget dan juga beda sama Red Beach yang bertebing-tebing. Ini pantainya landai, ya kaya pantai2 di Bali gitu, cuma warnanya item. Ga item2 banget lah, abu-abu tua. Gue sama Anin pun memutuskan untuk menikmati waktu hari ini, leyeh-leyeh di pantai seharian. Kita pun duduk di payung, lalu mesen makan (kali-kali makan yang agak mahalan dikit -padahal mah ga mahal juga, dibagi dua sama Anin hahaha). Gile leyeh2 ini rasanya kaya lagi di Gili Trawangan, well, lautnya bagusan Gili sih, tapi suasananya mirip2. Dan ga rame juga kaya di Bali.

Webp.net-resizeimage-11

Leyeh-leyeh di Gili Trawangan eh.. Black Beach.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore dan kamipun cabut dari nikmatnya udara pantai. Kami berencana menjelajah kota Fira sebelum berangkat ke bandara jam 10 buat naik pesawat ke Athena. Fira ini ternyata cantik juga, dia punya tempat di mana kita bisa liat bangunan putih berjejer mirip kaya di Oia. Kece deh! Untung kita sempet2in ke sini. Selain itu di Fira juga ada cable car buat turun ke tebing dan melihat teluk di bawah. Tapi karena budget gue terbatas, jadilah gue ga naik cable car. Gue pikir juga teluknya bakal sama aja kaya yang di Oia.

Webp.net-resizeimage-15

Cakepnya si Fira.

Puas menjelajah Fira, kita pulang ke hostel untuk nge-charge, ngambil tas lalu ke airport naik bis. Malem itu rasanya dingiiiiiiin banget. Dan gila-nya, airport Santorini itu kecil banget (kaya airport di Papua!) dan turis yang dateng banyak banget. Jadilah kita ngantri check in sampe luar2, astajimmm! Mana gue kebelet pipis, mati lah gue. Setelah nunggu di luar sejam, gue ga tahan lagi, akhirnya gue minta ijin ke wc sama petugasnya, eh ternyata dibolehin, yaaa tau gitu dari tadi aja. Gubrak. Dan ternyata juga, sebenernya karena kita udah online check-in dan ga punya bagasi, kita bisa langsung masuk tanpa ngantri di luar kaya gitu. Huff. Akhirnya kita udah masuk, duduk ngemper di bawah, karena tempat duduk udah penuh dan bandaranya sesak!

Waktu menunjukkan pukul 00.30, seharusnya kita sudah boarding di pesawat Ryan Air menuju ke Athena. Muka orang-orang udah mulai gelisah. Jam 01.00, belum ada tanda apa-apa. Jam 01.30 terdengar pengumuman yang kira-kira isinya begini “Pesawat Ryan Air menuju Athena dicancel dan dimundurkan jadi besok malam jam 02.30 karena cuaca buruk”. WHAT THE F*CK? Omg jinx apa lagi ini, Tuhan. Gue kira perjalanan kali ini bakal lancar2 aja tapi ternyata ada kesialan. Gue kira jinx gue saat traveling udah berenti (buat kalian yang suka baca blog ini pasti tau travel gue penuh dengan jinx hahaha), ini malah muncul lagi saat di Yunani. Gue udah pasrah, mau nangis ga bisa, udah pasrah lah. Terus tiba2 ada penumpang yang nanya gini ke pihak Ryan Air “Ini bakal dikasih akomodasi ga kita?”. Baru deh, pihak Ryan Air-nya bilang iya, terus disuruh ngantri buat dikasih hotel. Omg, kalo tadi ga ada yang nanya si Ryan Air ga bakal bilang kalo kita dapet akomodasi. Dia bakal ngebiarin kita luntang lantung. Maskapai macam apa ini grrrrh. Tapi yaudahlah, untung akhirnya dapet akomodasi. Sebenernya diantara kesialan ini, kita masih cukup beruntung, karena kita ga punya flight sambungan di Athena. Banyak orang yang punya flight sambungan dari Athena dan kalo flightnya itu bukan Ryan Air, tiket mereka bakal hangus, belum lagi orang-orang yang musti kerja karena keesokan harinya itu Senin.

Kita pun dapet akomodasi di hotel bernama Kalma, kita disediain shuttle bus buat ke hotel itu. Hotelnya sih, liat di google, bintang tiga. Alhamdullilah. Ngerasain juga akhirnya nginep di hotel yang nyaman hahah. Backpacker naik pangkat. Yah walopun kalo boleh milih gue tetep milih flight ke Athena saat itu sih, biar jatah jalan2 gue di Athena ga berkurang.

Hari ke-5: TIDUR SEHARIAN

Berhubung kita baru sampe hotel jam 3 malam, jadilah kita baru bangun jam 10 pagi. Gue pun langsung sarapan, muter liat2 hotel, terus tidur lagi hahaha. Sampe sekitar jam 4 gue bangun. Terus kita mandi dan cari makan malam di luar. Ketemu lah dengan restoran yang menjual gyros persis di depan hotel hahah langsung cus. Makanan murah favoritku. Habis itu kita ke supermarket bentar, terus leyeh2 lagi di depan kolam renang hotel.

Webp.net-resizeimage-12

Penampakan Hotel Kalma. Bagus ya! Sayang, letaknya ga di pinggir pantai.

Webp.net-resizeimage-14

Gyros, makanan favorit backpacker. Dia kaya kebab tapi dalemnya ada french friesnya. Harga around 2-3 Euro.

Jam 10 malam kita dijemput dengan Shuttle Bus menuju ke bandara. Kali ini udah tau triknya, jadi gausah ngantri lagi di luar. Tapi tetep aja di dalem pake drama, yang musti ngeprint tiket lagi lah, pindah pindah konter lah, sampe akhirnya bisa masuk ke ruang tunggu beneran. Hati ini belum selesai deg-degan sampe naik pesawat. Masih takut bakal dicancel lagi. Gimana kalo dicancel lagi coba? Gw pengen meninggalkan Santorini! Hiks.

Alhamdullilah, malam itu kita berhasil terbang, penumpang pun jauh berkurang dari malam sebelumnya. Kayanya banyak yang udah berangkat duluan. Perjalanan dari Santorini ke Athena itu cuma setengah jam, tapi itu berasa jadi setengah jam terlama dalam hidup gue. You know what? Sepanjang jalan turbulence lumayan parah, dan cuacanya itu lagi ujan, di kejauhan keliatan kilat-kilat. Sumpah, itu ngeri banget. Gue sama Anin berdoa sepanjang jalan, kita udah takut ga nyampe Athena dengan selamat. Ngeri banget. Kayanya ini perjalanan pesawat paling ngeri sepanjang hidup gw. Tapi Puji Tuhan, kita bisa sampai Athena dengan selamat. Omg, nangis rasanya pas landing, bersyukur banget.. Akhirnya sampai juga di kota bernama Athena, setelah banyak cobaan menuju ke sini.

Webp.net-resizeimage-16

Finally.. Bye Santorini! Such an amazing place to see! ❤

40 Hari di Eropa Tengah: Praha

Tanggal 14 Agustus 2016, gue meninggalkan Bratislava untuk menuju kota Praha. Gw naik bis regiojet seharga 10 Euro, dari Bratislava jam 09.45 dan nyampe ke Praha jam 14.30. Di Praha gue menginap di Hostel bernama Plus Prague, lokasinya ga di tengah kota, tapi buat ke tengah kota bisa naik tramnya. Tramnya ini cukup otentik, dan ga keliatan modern. Gue memilih hostel ini karena murah dan reviewnya bagus, harganya sendiri semalam hanya 7 Euro. Habis check in dan naruh barang-barang di hostel gue mulai menjelajahi Prague, gue langsung ke old town square. Praha ini kotanya bagus banget, gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Bener-bener unik, beda sama kota lain di Eropa dan cantik! Cuma satu kekurangannya, terlalu banyak turis di kota ini, jadinya crowded banget kemana-mana desek-desekan sama orang.

Gue di sini selama 4 hari 3 malam, muterin kota ini sampe puas. Gw juga sempet ikut Free Walking Tour di sini. Nah, di postingan kali ini gue mau kasi rekomendasi 6 tempat yang harus dikunjungin saat ke Praha, bahkan kalo lo cuma punya waktu sehari di Praha, lo bisa dateng ke semua tempat ini..

 

1. Old town square

Di setiap kota di Eropa yang pasti harus dicari itu pasti Main Square-nya, jantung tempat kota itu berdenyut. Dan Main Square di Praha itu bener-bener magical! Probably the best main square i’ve ever seen in Europe. Arsitekturnya bener-bener cantik. Udah gitu kereta kuda berisi turis suka berseliweran di sana. Aku sukaaaaa deh pokoknya!

img_4729

Cakep kan? Lebih cakep diliat aslinya sih daripada di gambar sih hahaha.

2. Astronomical Clock

Salah satu ikon kota Praha ini letaknya masih di area Main Square, bentuk jamnya sih emang bener-bener overrated. Kalo kata tour guide gue pas Free Walking Tour, astronomical clock adalah second most overrated tourist atraction after Manneken Pis in Europe hahaha. Dan gw setuju sih sama kata dia. Walaupun overrated, tapi tempat ini ga boleh dilewatin saat di Praha.

img_4709

Astronomical Clock

3. Charles Bridge

Jembatan ikonik kebanggaan Praha, wajib ke sini meskipun tempatnya super crowded hahaha. Jembatannya cakep banget, banyak musisi dan seniman yang mencari nafkah di jembatan itu. Ada grup musik, ada orang yang gambar silhoutte muka orang pake gunting, dan lain sebagainya. Bener-bener hidup, dan ramai! Haha.

img_4783

Ini dia gerbang masuk Charles Bridge, see how crowded it is.

img_4793

Kalo ini udah di tengah-tengah Jembatannya Charles.

img_4795

Salah satu patung di Charles Bridge.

img_4804

Kalo kita nyeberangin Charles Bridge sampe ujung, kita bisa menemukan sisi lain kota di seberang sungai dan ini juga cantiiiik!

4. Prague Castle

Prague Castle ini sebenernya kompleksnya luas banget dan bukan bener-bener castle sendiri, jadi dia terdiri dari gereja seperti Cathedrale St. Vitus dan Basilica of St George dan juga residential palace, tempat presiden tinggal. Agak susah foto castle ini dari bawah, tapi dari atas castle ini pemandangan kota Praha bener-bener bagus. Di atas castle ini ada starbucks haha, tempat dimana lo bisa ambil foto bagus (pinter bgt starbucks milih lokasinya) dan biar bs masuk itu pasti lo berasa ga enak kalo ga beli apa-apa.. cuma gue liat ada beberapa turis Asia yang cuek aja foto-foto di situ tanpa beli, jadi ya gue ikutan haha. Starbucksnya sendiri sebenernya ada di lantai bawah, di atasnya kaya rooftopnya gtu, tempat buat duduk-duduk dan ambil foto.

img_4842

St. Vitus Cathedral

img_4845

Salah satu gereja lain di Prague Castle

img_4891

View Praha dari Starbucks di Prague Castle.

5. Dancing House

Tempat ini letaknya agak di luar pusat kota, buat jalan kaki ke sini dibutuhkan sekitar setengah jam dari pusat kota. Tempat ini terkenal karena bentuk gedungnya yang unik dan keliatan kaya lagi joget haha.

img_4924

Dancing building

6. John Lennon Wall

Ini tempat nyarinya susah luar biasa, sempet bayangin wallnya bakal gede gitu kaya tembok Berlin sebelah timur yang isinya grafiti dan gambar-gambar semua. Eh ternyata tempatnya kecil banget! Tapi bagus sih, walaupun crowded banget kebanyakan orang.

img_4953

Gue di John Lennon Wall. Udah kaya kang pijet belom? Haha.

Jadi, makin pingin ke Praha kan? Hihihi. Pokoknya Praha sama Budapest itu wajib kalo pengen main ke Eropa Tengah 😀

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Bratislava

Habis dari Vienna, perjalanan berlanjut ke Bratislava. Buat yang belum tau, Bratislava adalah ibukota dari Slovakia. Slovakia itu dulu pernah satu negara sama Ceko, namanya Cekoslovakia, tapi sekarang udah pecah dan jadi negara sendiri-sendiri. Gue naik bis regiojet seharga 1 Euro! 1 Euro, bayangin! Emang deket banget sih, perjalanan dari Vienna ke Bratislava itu cuma 1.5 jam, tapi kalo mengingat servis di bis regiojet yang bener-bener mantap: dikasih hot drink, ada layar tv kecil di masing2 bangku buat hiburan, dipinjemin koran, headset, rasanya kasian aja sama ini bis, dapet untungnya dari mana coba. Hahaha. Gw berangkat dari Vienna tanggal 11 Agustus 2016 jam 10.25 dan sampai di Bratislava jam 12.00 siang. Keluar dari stasiun, gue langsung ke mal bernama Eurovea untuk beli makan siang dan menunggu host couchsurfing gue menjemput. Gue menunggu di depan sungai Danube sambil duduk-duduk ngantuk. Host gue yang bernama Michal (nama cowo ini) berjanji akan menjemput gue jam 3 siang sepulang dia kerja. Dia sebenernya kerjanya sampe sore, tapi sengaja pulang jam 3 biar gue ga nunggu lama. Dan surprisingly, dia udah nyamperin gue jam 2! Gile, baik banget. Sebelum balik ke rumahnya dia buat naruh barang, kita sempet minum gitu di salah satu resto/bar di mal sambil ngobrol-ngobrol. Waktu itu gue yang bayarin minumnya dia, dia sempet ngelarang gtu, tapi akhirnya gue tetep bayarin. Haha.

Host gue ini adalah salah satu host yang paling memorable dalam perjalanan gue selama 40 hari di Eropa Tengah. Jadi waktu itu gue minta dia jadi host gue, karena dia pernah ke Indonesia. Foto profilnya keliatan bgt di salah satu tempat di Indonesia. Ya jarang2 kan bisa nemu bule yang pernah ke Indo. Eh, dia accept gue dan kita sepakat bahwa gue nginep tempatnya dia selama 1 malam. Gue sebenernya di Bratislava 3 malem, tapi dia ga bisa host gue selama 3 malem karena dia harus bantu-bantu nikahan adiknya di malam ke-2 dan ke-3 gue di sana. Nah, setelah ngobrol-ngobrol, ternyata dia itu pernah tinggal di Indonesia selama 16 bulan karena ikut program beasiswa Darmasiswa, yang gue baru tau kalo program itu ada. Jadi program ini memang khusus untuk orang asing yang mau belajar Bahasa Indonesia. Ternyata, di Bratislava ada 2 orang lagi yang ikut program yang sama. Dan si host gue mengajak mereka berdua untuk bertemu gue malamnya. Baik banget sumpah, gue terharu dia arrange pertemuan itu buat gue. Jadi setelah naruh barang di rumah, gue dan dia pergi makan malam dan bertemu 2 temannya itu. Sepanjang malam mereka cerita pengalaman mereka di Indonesia, yang bener-bener unforgetable katanya. Unik-unik sih, yang paling ajaib adalah waktu salah satu temennya cerita kalo dia nemuin pasukan kecoa buanyaaaak bgt di kamar kosannya, sampe akhirnya dia bunuhin satu-satu hahaha. Overall, mereka seneng banget ke Indonesia. Bahkan si host gue pernah punya pacar 3 orang Indonesia hahaa. Cuma kalo ditanya mau ga tinggal lebih lama lagi di Indo, dia bilang “Ga. 2 tahun kayanya udah maksimal buat gue, habis itu rasanya pengen pulang.” Hahaha. O iya, mereka juga bisa bahasa Indonesia dikit-dikit, jadi mereka latihan juga pas ketemu sama gue haha.  Ada satu kata-kata mereka yang gw inget, salah satu dari mereka bilang “Gila ya, gue kangen sama Indonesia, tinggal di Indonesia selama itu rasanya kaya mimpi, sekarang di Bratislava itu kaya kembali ke kenyataan.” Terus yang lain nyaut, “Kalo kamu lagi di dalam mimpi ya, Cuni. Mimpi kamu itu Prancis”. Hahaha. Lucu rasanya negara kita itu dianggep mimpi sama orang asing, sementara gue di sini lagi menjalani mimpi gue, di Prancis, yang ga seindah dalam bayangan gue hahaha *loh kok ada curhat colongan?* hahhaa. Kembali ke topik. Malam itu dihabiskan dengan ngobrol, makan, jalan, sampe akhirnya waktu menunjukkan lewat dari pukul 12 dan kita pun pulang naik taksi haha. Si host gue ini besokannya musti balik ke kantor.

img_4515

Dari kanan ke kiri: Gue, Michal (host gue, pernah tinggal di Lampung 16 bulan), Temen cowonya (gue lupa namanya siapa, dia juga di Lampung), Temen cewenya (tinggal di Malang).

Besokannya gue pindah dari rumah host gue ke hostel yang bernama Possonium (18 Euro per malam). Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini gue nginap di hostel. Dan setelah ini gue bakal tinggal di hostel terus (kecuali di Frankfurt, ada temen). Rasanya, seneng sih.. hahaha. Akhirnya gue bisa bangun tidur sesuka gue, tanpa harus ngikutin host gue, gue ga usah pusing basa-basi cari topik buat ngobrol. Tapi kesenangan itu hanya berlangsung beberapa hari, habis itu gue ngerasa kesepian. Karena orang-orang di hostel ga ada yang bisa diajak ngobrol sampe deket bgt, biasanya ngobrol cuma sekedarnya, dan ga sampe deket bgt. Sementara kalo di couchsurfing berasa deket sama host-nya dan bisa ngobrol macem-macem. Saat itu gue ngerti, ternyata emang metode yang paling cocok buat gue adalah couchsurfing haha.

Habis naruh barang di Possonium, gue mengitari Bratislava, berbekal juga beberapa tips dari si host. Bratislava ini kotanya cukup kecil, jadi beberapa jam cukup buat mengitari Bratislava. Habis itu gue ke Bratislava castle, istana kecil yang berada di tengah kota Bratislava. Agak sorean, gue ke Devin castle, bayar sih masuknya (4 Euro buat umum, 2 Euro buat mahasiswa), tapi worth it, lebih bagus dibanding Bratislava castle. Untuk ke Devin ini kita musti naik bis sekitar 45 menit dari tengah kota. Recommended! O iya, selama di Bratislava gue ga gt makan makanan lokal, soalnya harganya ga semurah di Krakow atau Budapest dan duit gue udah mulai menipis. Gue berapa kali makan panini di pinggir jalan, recommend dari host gue hahha (harganya kalo ga salah 3 Euro).

img_4528

Pusat kota Bratislava. And out of nowhere gue ketemu sama Helmi Yahya, dan tim-nya yang entah lagi mau syuting apa di Bratislava.

 

img_4530

Di Bratislava itu banyak banget patung-patung unik. Salah satunya patung ini.

 

img_4545

Bratislava castle tampak depan. Lebih mirip sama kantor pemerintahan ya? Haha.

 

img_4559

View dari atas Bratislava castle

img_4582

Reruntuhan Devin Castle

img_4613

Devin Castle. Di sini gue bertemu sama cewe yang diduga cewek Indonesia, yang kerjaannya self video gtu, jadi keliatan ngomong sendiri di layar telepon haha. Mungkin lagi buat vlog..

 

Keesokan harinya, gue habiskan dengan leyeh leyeh di kamar hostel menikmati kasur. Hari itu adalah salah satu hari di liburan gue selama 40 hari dimana gue ga pengen kemana mana sama sekali, pengen istirahat aja. Gtu enaknya jalan-jalan dalam jangka panjang, bisa sambil santai. Sesiangan juga gue habiskan buat nyuci baju di mesin cuci hostel, nyucinya gratis, tapi karena deterjennya abis terpaksa gue beli sendiri deterjennya di warung sebelah haha. Tapi ujung-ujungnya gue keluar juga karena bosen, sekitar jam 4 sore gue keluar dan ikut Free Walking Tour di Bratislava. Lumayan, jadi tau sejarah tempat-tempat yang gue datengin kemarinnya. Menutup perjalanan gue di Bratislava, gue pergi ke Slavin memorial, tempat peringatan tentara Soviet yang gugur di Perang Dunia II, di tempat ini juga banyak kuburan gt. Pas pulangnya, gue agak nyasar-nyasar dikit karena letak tempat ini agak di atas, tapi untungnya gue menemukan jalan pulang haha.

img_4653

Blue church, cakep ya! Biru semua gitu..

img_4654

Blue church tampak dalam.

img_4629

Michael’s Gate, salah satu gerbang ke pusat kota Bratislava yang sangat ikonik.

Segitu saja kisah perjalanan gue di Bratislava, besok gue akan melanjutkan petualangan di Praha.

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.