Keliling Santorini dengan Budget Backpacker

Hi semuanya! Bulan Mei yang lalu gue habis balik dari Yunani! Gue masih ga percaya sih bisa menginjakkan kaki di negara yang bisa gue bilang wishlist ini. Tujuan gue ke Yunani adalah tentu saja ke Santorini dan Athena! Tadinya pengen eksplor yang lain kaya Mykonos, tapi karena keterbatasan biaya, dua ini aja udah cukup menyenangkan hati gue.

Gue dapet tiket Paris-Athena-Santorini-Athena-Paris dengan total harga 210 Euro. Paris-Athena dan Athena-Santorini naik Aegean Air (maskapai Yunani tapi oke punya), Santorini-Athena, Athena-Roma dan Roma-Paris dengan Ryan Air. Kenapa gue transit dulu di Roma? Karena tiket Athena-Roma dan Roma-Paris jauh lebih murah daripada tiket Athena-Paris langsung. Sebenernya kalo lagi low season banget, semua tiket di atas bisa dijangkau dengan harga 150 Euro.

Hari ke-1: Berangkat dari Paris

Gue berangkat dari airport Paris Charles-de-Gaulle tanggal 17 Mei 2017 sekitar jam 10 malam bareng sama temen gue Anin. Jadi travelling ke Yunani kali ini gue bakal berdua sama Anin, non-stop, kecuali hari terakhir dia musti balik duluan karena ada kuliah. Si Anin ini sebenernya satu kampus sama gue di UI, tapi baru suka ngobrol pas sama-sama di Prancis. Itu juga ga pernah ngobrol yang tatap muka, biasanya cuma lewat whatsapp. Pernah sekali nginep di rumah dia, eh dianya ga ada hahaha. Jadi trip kali ini bener baru pertama kali kita ngobrol langsung hahaha.

Kitapun naik Aegean Air menuju Athena, pertamanya agak takut juga karena belum pernah denger Aegean Air. Ternyata itu maskapainya Yunani dan ternyata servisnya mayan oke, dikasih makan minum segala, ga kaya low cost carrier pada umumnya. Mungkin emang ini maskapai bukan low cost kali ya. Kita sampai di Athena sekitar tengah malam, kemudian transit sekitar 4 jam untuk melanjutkan perjalanan ke Santorini. Dari Athena ke Santorini gue kira bakal naik Olympic Air, versi kecilnya si Aegean, dan dia pake baling-baling. Ternyata engga tuh, kita tetep dinaekin Aegean, mungkin banyak yang mau ke sana kali. Di airport cuma berhasil tidur sejam, di pesawat ga bisa tidur sama sekali, karena ketakutan haha. Norak ya gue, ngaku2 traveler, tapi naik pesawat nervous berat hahaha.

Hari ke-2: Athena-Santorini (Fira, Oia)

Kita pun sampai di Santorini pukul 6 pagi. Kita langsung naik bus dari airport menuju Fira, hostel tempat kita menginap. Bisnya cuma 1.7 Euro, memakan waktu hanya 10 menit. Bis ini persis kaya di Indonesia, ada keneknya yang mintain duit ke penumpang satu-satu. Kesan pertama sampe di Yunani, rasanya beda sama Prancis dan negara Eropa lain. Keliatan, negara ini belum semaju itu, ya maklum, Yunani itu paling rendah GDP-nya di Uni Eropa, mana kemarin habis bangkrut ini negara. Kadang gue suka bilang “Eropa miskin” hehehe. Tapi kalo negara miskin justru malah menguntungkan buat traveler kere kaya gue, apa-apa murah haha.

Habis dari terminal bus Fira, kita langsung jalan kaki ke hostel, namanya Fira Backpacker. Hostel ini letaknya strategis banget, cuma 5 menit jalan kaki dari halte bus Fira. Dan ternyata terminal bus Fira ini adalah pusatnya bus2 berkumpul, jadi mau naik bus ke mana aja di Santorini, musti lewat Fira. O iya, FYI, Santorini itu nama pulau, bukan nama kota. Kota paling gedenya adalah Fira. Nah kalo kota yang suka di foto2 itu namanya Oia.

Sampai di Hostel Fira Backpacker, kita nitipin tas ransel di sana. Terus kita sempet tidur gitu dua jam di ruang tengahnya, karena belum bisa check ini, masih kepagian. Tapi mayanlah bisa tidur sebentar. Hostel ini paling murah di Santorini, harganya 15 Euro. Well, sebenernya ada sih hostel yang lebih murah, sekitar 7 Euro, tapi letaknya di Perissa dan itu jauh gitu kemana2 aksesnya. Itu gue dapet 15 Euro buat malam pertama, buat malam kedua jadi 19 Euro, kayanya gara2 weekend. Ada juga kan hostel murah di Santorini? Ga perlu deh nginep di resort2 mahal hahha.

Sekitar jam 10 pagi kita berangkat ke Oia, rasanya udah ga sabar liat kota yang di gambar2 itu. Kita naik bus selama 30 menit dari Fira ke Oia (1.7 Euro). Pemandangan sepanjang jalannya cantik luar biasa, sebelah kanan langsung laut Aegean yang biruuuuu banget! Sampai di Oia, kita langsung jalan mengikuti kemana kaki melangkah. Oia itu kotanya beneran cantiiiiiik banget. Lebih cantik daripada di foto. Gue amaze sendiri gitu bisa menjejakkan kaki di situ. Jalanannya itu dari marbel warna putih, dinding2 bangunan kebanyakan warna putih bersih. O la la. Cantikkkkk banget! Tujuan kita ke Oia adalah mencari 3 dome biru yang ada di foto2. Agak susah loh nyarinya, belum ditambah penyakit gue saat jalan2 kambuh, sakit perut! Huh, ampun dah, ini sakit perut ga bisa tunggu ntar pas gue pulang ke rumah aja apa ya.

Webp.net-resizeimage-17

This place is just too good to be true ❤ ❤

Webp.net-resizeimage-4

Now I have one more favorite destination.

Webp.net-resizeimage-2

Those 3 picturesque blue domes ❤

Webp.net-resizeimage-5

The sea is just sooooo blue!

Webp.net-resizeimage-3

Setiap sudut kota ini bener-bener cantik ❤

Sekitar jam 5 sore, kita balik dari Oia menuju Fira. Karena kita belum tidur cukup semalem, jadi pengen cepet2 balik dan tidur aja di hostel. Bis menuju Fira kali itu bener2 ramai. Kita sampai berdiri di tangga bagian bawah, deket sama pintu tengah. Asli itu ga enak banget, jadi kan emang kontur jalanannya berkelok-kelok, rasanya pusing banget ditambah kita ga bisa liat apa-apa, karena di bawah. Jendelanya ga keliatan.

Sesampainya di hostel, kita langsung check in dan tidur! Itu baru jam 6 sore tapi gue sudah terlelap kecapekan, jam 11 malam pun gue bangun sebentar sekitar sejam, lalu tidur lagi sampai keesokan harinya. Oh, malam yang indah.

Hari ke-3: Red Beach dan Sunset di Oia

Hari ini kita bangun jam 9! Hahaha. Setelah puas tidur semalaman, gue pun mandi, lalu makan siang pizza bekas kemarin hahaha. Setelah itu kita berangkat ke Red Beach! Tentunya naik bus dari Fira. Enak deh tinggal di Fira, akses kemana2 mudah. Seandainya kita tinggal di Oia, kita musti ke Fira dulu baru bisa ke tempat2 lain. Hahhaa. *gaya lu cun, kaga mampu juga tinggal di Oia hahaha* Bis dari Fira ke Red Beach memakan waktu sekitar 30 menit dengan harga 2.2 Euro (ga tau gue kenapa yang ini lebih mahal).

Di Red Beach, kita diturunin di dekat situs purbakala Akrotiri, dari situ kita musti jalan kaki ke Red Beach. Perjalanan dari situ sampai ke Red Beach kira2 30 menit jalan kaki. Di ujung, medannya agak curam, karena isinya batu-batu semua. Musti ati2 pas di sini. Red Beach ini bentuknya lebih ke tebing daripada pantai, tebingnya itu yang warnanya merah. Ada pantai, tapi pasirnya sedikit dan kurang nyaman buat leyeh-leyeh. Tapi lautnya bener2 bagus, warna biru tua dan di tengah2nya ada gradasi biru muda. Cakep deh!

Webp.net-resizeimage-6

Red beach. Di samping kanan keliatan batu-batunya yang berwarna merah.

Webp.net-resizeimage-8

Tampak dekat.

Habis itu kita melanjutkan perjalanan ke Akrotiri, situs purbakala yang letaknya di deket tempat bis. Karena kita adalah pelajar Uni Eropa, maka masuk ke dalam sini gratis. Nah, curangnya adalah, di loket itu ga ditulis kalo buat pelajar Uni Eropa gratis, jadi kalo lo ga tau, lo pasti bakal ngira lo bayar. Untungnya gue udah sempet dikasi tau temen, jadi tau kalo itu gratis. Hoho.

Di Akrotiri ini ada peninggalan bangunan Yunani jaman dulu yang udah tinggal sisa-sisanya. Sisa-sisa bangunan ini ada di dalam satu ruangan, jadi dia ga outdoor. Gue udah bayangin aja dia bakal outdoor kaya di Pompeii (Italia) taunya ga. Indoor dan menurut gue ga gede-gede amat.

Webp.net-resizeimage-7

Tiket gratis masuk Akrotiri.

Habis itu kita duduk-duduk di luar sambil menunggu bis datang. Lanjut dari sini, kita bakal balik ke Oia lagi untuk melihat sunset. Kita musti naik bis dulu ke Fira, untuk kemudian ke Oia. Sampai di Oia jam 6 malam, kita makan dulu di restoran murah no 1 di Trip Advisor bernama Pito Gyros. Pito Gyros ini letaknya deket sama tempat turun bis di Oia dan di belakang sekolahan (met nyari deh, di sana kaga ada nama jalannya haha). Di sini gue makan Pork Gyros (Gyros itu kaya sejenis pita tapi kecil) seharga 3 Euro sudah termasuk French Fries. Di Yunani, kalo mau ngirit, bisa beli gyros atau souvlaki seharga 2-3 Euro. Bahkan di restoran gede pun kadang suka jual gyros seharga 3 Euro loh. Porsinya emang ga gede2 amat, tapi cukup buat gue. Dan ada macem2, ga cuma babi, tapi ada yang ayam juga. Pito Gyros ini bener2 enak. Recommended banget dah! :DD

Habis itu kita turun ke bawah tebing, ceritanya mau liat teluk bernama Amoudi Bay. Tapi baru 30 menit jalan kita menyudahi perjalanan itu, karena kecapekan, keliatannya pantainya biasa aja dan kita musti ngejar sunset di Oia Castle. Oke lah, langsung kita meluncur ke Oia Castle tempat orang-orang pada nunggu sunset. Kita sampai di Oia Castle jam 19.30, padahal sunsetnya baru jam 20.30. Omg, di situ udah penuh sesak orang yang nunggu sunset, dan di situ dingin bangeeet, angin lagi kenceng2nya. Akhirnya terpaksa kedinginan sejam sambil nunggu sunset, untung akhirnya dapet duduk.

Webp.net-resizeimage-10

Kumpulan orang-orang yang menunggu sunset. Ini masih sebagian kecil.

Webp.net-resizeimage-9

Sunset in Oia Castle ❤

Habis itu kita pun pulang ke Fira. Menikmati malam terakhir di Santorini *rrrr supposed-to-be*.

Hari ke-4: Perissa Beach

Di Santorini, selain ada Red Beach, ada juga yang namanya Black Beach. Black Beach itu ada 2, satu namanya Perissa, satu namanya Kamari. Gue memutuskan ke Perissa, karena tempatnya lebih populer di kalangan travel blogger. Tadinya pengen ke dua-duanya, tapi setelah diliat-liat sama aja. Jadi dah pilih salah satu. Perjalanan dari Fira ke Perissa memakan waktu setengah jam dengan bis (2.2 Euro)

Perissa ini bener2 pantai guede banget, buat leyeh2 dan berenang. Beda sama Oia yang emang tempat turistik banget dan juga beda sama Red Beach yang bertebing-tebing. Ini pantainya landai, ya kaya pantai2 di Bali gitu, cuma warnanya item. Ga item2 banget lah, abu-abu tua. Gue sama Anin pun memutuskan untuk menikmati waktu hari ini, leyeh-leyeh di pantai seharian. Kita pun duduk di payung, lalu mesen makan (kali-kali makan yang agak mahalan dikit -padahal mah ga mahal juga, dibagi dua sama Anin hahaha). Gile leyeh2 ini rasanya kaya lagi di Gili Trawangan, well, lautnya bagusan Gili sih, tapi suasananya mirip2. Dan ga rame juga kaya di Bali.

Webp.net-resizeimage-11

Leyeh-leyeh di Gili Trawangan eh.. Black Beach.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore dan kamipun cabut dari nikmatnya udara pantai. Kami berencana menjelajah kota Fira sebelum berangkat ke bandara jam 10 buat naik pesawat ke Athena. Fira ini ternyata cantik juga, dia punya tempat di mana kita bisa liat bangunan putih berjejer mirip kaya di Oia. Kece deh! Untung kita sempet2in ke sini. Selain itu di Fira juga ada cable car buat turun ke tebing dan melihat teluk di bawah. Tapi karena budget gue terbatas, jadilah gue ga naik cable car. Gue pikir juga teluknya bakal sama aja kaya yang di Oia.

Webp.net-resizeimage-15

Cakepnya si Fira.

Puas menjelajah Fira, kita pulang ke hostel untuk nge-charge, ngambil tas lalu ke airport naik bis. Malem itu rasanya dingiiiiiiin banget. Dan gila-nya, airport Santorini itu kecil banget (kaya airport di Papua!) dan turis yang dateng banyak banget. Jadilah kita ngantri check in sampe luar2, astajimmm! Mana gue kebelet pipis, mati lah gue. Setelah nunggu di luar sejam, gue ga tahan lagi, akhirnya gue minta ijin ke wc sama petugasnya, eh ternyata dibolehin, yaaa tau gitu dari tadi aja. Gubrak. Dan ternyata juga, sebenernya karena kita udah online check-in dan ga punya bagasi, kita bisa langsung masuk tanpa ngantri di luar kaya gitu. Huff. Akhirnya kita udah masuk, duduk ngemper di bawah, karena tempat duduk udah penuh dan bandaranya sesak!

Waktu menunjukkan pukul 00.30, seharusnya kita sudah boarding di pesawat Ryan Air menuju ke Athena. Muka orang-orang udah mulai gelisah. Jam 01.00, belum ada tanda apa-apa. Jam 01.30 terdengar pengumuman yang kira-kira isinya begini “Pesawat Ryan Air menuju Athena dicancel dan dimundurkan jadi besok malam jam 02.30 karena cuaca buruk”. WHAT THE F*CK? Omg jinx apa lagi ini, Tuhan. Gue kira perjalanan kali ini bakal lancar2 aja tapi ternyata ada kesialan. Gue kira jinx gue saat traveling udah berenti (buat kalian yang suka baca blog ini pasti tau travel gue penuh dengan jinx hahaha), ini malah muncul lagi saat di Yunani. Gue udah pasrah, mau nangis ga bisa, udah pasrah lah. Terus tiba2 ada penumpang yang nanya gini ke pihak Ryan Air “Ini bakal dikasih akomodasi ga kita?”. Baru deh, pihak Ryan Air-nya bilang iya, terus disuruh ngantri buat dikasih hotel. Omg, kalo tadi ga ada yang nanya si Ryan Air ga bakal bilang kalo kita dapet akomodasi. Dia bakal ngebiarin kita luntang lantung. Maskapai macam apa ini grrrrh. Tapi yaudahlah, untung akhirnya dapet akomodasi. Sebenernya diantara kesialan ini, kita masih cukup beruntung, karena kita ga punya flight sambungan di Athena. Banyak orang yang punya flight sambungan dari Athena dan kalo flightnya itu bukan Ryan Air, tiket mereka bakal hangus, belum lagi orang-orang yang musti kerja karena keesokan harinya itu Senin.

Kita pun dapet akomodasi di hotel bernama Kalma, kita disediain shuttle bus buat ke hotel itu. Hotelnya sih, liat di google, bintang tiga. Alhamdullilah. Ngerasain juga akhirnya nginep di hotel yang nyaman hahah. Backpacker naik pangkat. Yah walopun kalo boleh milih gue tetep milih flight ke Athena saat itu sih, biar jatah jalan2 gue di Athena ga berkurang.

Hari ke-5: TIDUR SEHARIAN

Berhubung kita baru sampe hotel jam 3 malam, jadilah kita baru bangun jam 10 pagi. Gue pun langsung sarapan, muter liat2 hotel, terus tidur lagi hahaha. Sampe sekitar jam 4 gue bangun. Terus kita mandi dan cari makan malam di luar. Ketemu lah dengan restoran yang menjual gyros persis di depan hotel hahah langsung cus. Makanan murah favoritku. Habis itu kita ke supermarket bentar, terus leyeh2 lagi di depan kolam renang hotel.

Webp.net-resizeimage-12

Penampakan Hotel Kalma. Bagus ya! Sayang, letaknya ga di pinggir pantai.

Webp.net-resizeimage-14

Gyros, makanan favorit backpacker. Dia kaya kebab tapi dalemnya ada french friesnya. Harga around 2-3 Euro.

Jam 10 malam kita dijemput dengan Shuttle Bus menuju ke bandara. Kali ini udah tau triknya, jadi gausah ngantri lagi di luar. Tapi tetep aja di dalem pake drama, yang musti ngeprint tiket lagi lah, pindah pindah konter lah, sampe akhirnya bisa masuk ke ruang tunggu beneran. Hati ini belum selesai deg-degan sampe naik pesawat. Masih takut bakal dicancel lagi. Gimana kalo dicancel lagi coba? Gw pengen meninggalkan Santorini! Hiks.

Alhamdullilah, malam itu kita berhasil terbang, penumpang pun jauh berkurang dari malam sebelumnya. Kayanya banyak yang udah berangkat duluan. Perjalanan dari Santorini ke Athena itu cuma setengah jam, tapi itu berasa jadi setengah jam terlama dalam hidup gue. You know what? Sepanjang jalan turbulence lumayan parah, dan cuacanya itu lagi ujan, di kejauhan keliatan kilat-kilat. Sumpah, itu ngeri banget. Gue sama Anin berdoa sepanjang jalan, kita udah takut ga nyampe Athena dengan selamat. Ngeri banget. Kayanya ini perjalanan pesawat paling ngeri sepanjang hidup gw. Tapi Puji Tuhan, kita bisa sampai Athena dengan selamat. Omg, nangis rasanya pas landing, bersyukur banget.. Akhirnya sampai juga di kota bernama Athena, setelah banyak cobaan menuju ke sini.

Webp.net-resizeimage-16

Finally.. Bye Santorini! Such an amazing place to see! ❤

Advertisements

40 Hari di Eropa Tengah: Praha

Tanggal 14 Agustus 2016, gue meninggalkan Bratislava untuk menuju kota Praha. Gw naik bis regiojet seharga 10 Euro, dari Bratislava jam 09.45 dan nyampe ke Praha jam 14.30. Di Praha gue menginap di Hostel bernama Plus Prague, lokasinya ga di tengah kota, tapi buat ke tengah kota bisa naik tramnya. Tramnya ini cukup otentik, dan ga keliatan modern. Gue memilih hostel ini karena murah dan reviewnya bagus, harganya sendiri semalam hanya 7 Euro. Habis check in dan naruh barang-barang di hostel gue mulai menjelajahi Prague, gue langsung ke old town square. Praha ini kotanya bagus banget, gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Bener-bener unik, beda sama kota lain di Eropa dan cantik! Cuma satu kekurangannya, terlalu banyak turis di kota ini, jadinya crowded banget kemana-mana desek-desekan sama orang.

Gue di sini selama 4 hari 3 malam, muterin kota ini sampe puas. Gw juga sempet ikut Free Walking Tour di sini. Nah, di postingan kali ini gue mau kasi rekomendasi 6 tempat yang harus dikunjungin saat ke Praha, bahkan kalo lo cuma punya waktu sehari di Praha, lo bisa dateng ke semua tempat ini..

 

1. Old town square

Di setiap kota di Eropa yang pasti harus dicari itu pasti Main Square-nya, jantung tempat kota itu berdenyut. Dan Main Square di Praha itu bener-bener magical! Probably the best main square i’ve ever seen in Europe. Arsitekturnya bener-bener cantik. Udah gitu kereta kuda berisi turis suka berseliweran di sana. Aku sukaaaaa deh pokoknya!

img_4729

Cakep kan? Lebih cakep diliat aslinya sih daripada di gambar sih hahaha.

2. Astronomical Clock

Salah satu ikon kota Praha ini letaknya masih di area Main Square, bentuk jamnya sih emang bener-bener overrated. Kalo kata tour guide gue pas Free Walking Tour, astronomical clock adalah second most overrated tourist atraction after Manneken Pis in Europe hahaha. Dan gw setuju sih sama kata dia. Walaupun overrated, tapi tempat ini ga boleh dilewatin saat di Praha.

img_4709

Astronomical Clock

3. Charles Bridge

Jembatan ikonik kebanggaan Praha, wajib ke sini meskipun tempatnya super crowded hahaha. Jembatannya cakep banget, banyak musisi dan seniman yang mencari nafkah di jembatan itu. Ada grup musik, ada orang yang gambar silhoutte muka orang pake gunting, dan lain sebagainya. Bener-bener hidup, dan ramai! Haha.

img_4783

Ini dia gerbang masuk Charles Bridge, see how crowded it is.

img_4793

Kalo ini udah di tengah-tengah Jembatannya Charles.

img_4795

Salah satu patung di Charles Bridge.

img_4804

Kalo kita nyeberangin Charles Bridge sampe ujung, kita bisa menemukan sisi lain kota di seberang sungai dan ini juga cantiiiik!

4. Prague Castle

Prague Castle ini sebenernya kompleksnya luas banget dan bukan bener-bener castle sendiri, jadi dia terdiri dari gereja seperti Cathedrale St. Vitus dan Basilica of St George dan juga residential palace, tempat presiden tinggal. Agak susah foto castle ini dari bawah, tapi dari atas castle ini pemandangan kota Praha bener-bener bagus. Di atas castle ini ada starbucks haha, tempat dimana lo bisa ambil foto bagus (pinter bgt starbucks milih lokasinya) dan biar bs masuk itu pasti lo berasa ga enak kalo ga beli apa-apa.. cuma gue liat ada beberapa turis Asia yang cuek aja foto-foto di situ tanpa beli, jadi ya gue ikutan haha. Starbucksnya sendiri sebenernya ada di lantai bawah, di atasnya kaya rooftopnya gtu, tempat buat duduk-duduk dan ambil foto.

img_4842

St. Vitus Cathedral

img_4845

Salah satu gereja lain di Prague Castle

img_4891

View Praha dari Starbucks di Prague Castle.

5. Dancing House

Tempat ini letaknya agak di luar pusat kota, buat jalan kaki ke sini dibutuhkan sekitar setengah jam dari pusat kota. Tempat ini terkenal karena bentuk gedungnya yang unik dan keliatan kaya lagi joget haha.

img_4924

Dancing building

6. John Lennon Wall

Ini tempat nyarinya susah luar biasa, sempet bayangin wallnya bakal gede gitu kaya tembok Berlin sebelah timur yang isinya grafiti dan gambar-gambar semua. Eh ternyata tempatnya kecil banget! Tapi bagus sih, walaupun crowded banget kebanyakan orang.

img_4953

Gue di John Lennon Wall. Udah kaya kang pijet belom? Haha.

Jadi, makin pingin ke Praha kan? Hihihi. Pokoknya Praha sama Budapest itu wajib kalo pengen main ke Eropa Tengah 😀

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Bratislava

Habis dari Vienna, perjalanan berlanjut ke Bratislava. Buat yang belum tau, Bratislava adalah ibukota dari Slovakia. Slovakia itu dulu pernah satu negara sama Ceko, namanya Cekoslovakia, tapi sekarang udah pecah dan jadi negara sendiri-sendiri. Gue naik bis regiojet seharga 1 Euro! 1 Euro, bayangin! Emang deket banget sih, perjalanan dari Vienna ke Bratislava itu cuma 1.5 jam, tapi kalo mengingat servis di bis regiojet yang bener-bener mantap: dikasih hot drink, ada layar tv kecil di masing2 bangku buat hiburan, dipinjemin koran, headset, rasanya kasian aja sama ini bis, dapet untungnya dari mana coba. Hahaha. Gw berangkat dari Vienna tanggal 11 Agustus 2016 jam 10.25 dan sampai di Bratislava jam 12.00 siang. Keluar dari stasiun, gue langsung ke mal bernama Eurovea untuk beli makan siang dan menunggu host couchsurfing gue menjemput. Gue menunggu di depan sungai Danube sambil duduk-duduk ngantuk. Host gue yang bernama Michal (nama cowo ini) berjanji akan menjemput gue jam 3 siang sepulang dia kerja. Dia sebenernya kerjanya sampe sore, tapi sengaja pulang jam 3 biar gue ga nunggu lama. Dan surprisingly, dia udah nyamperin gue jam 2! Gile, baik banget. Sebelum balik ke rumahnya dia buat naruh barang, kita sempet minum gitu di salah satu resto/bar di mal sambil ngobrol-ngobrol. Waktu itu gue yang bayarin minumnya dia, dia sempet ngelarang gtu, tapi akhirnya gue tetep bayarin. Haha.

Host gue ini adalah salah satu host yang paling memorable dalam perjalanan gue selama 40 hari di Eropa Tengah. Jadi waktu itu gue minta dia jadi host gue, karena dia pernah ke Indonesia. Foto profilnya keliatan bgt di salah satu tempat di Indonesia. Ya jarang2 kan bisa nemu bule yang pernah ke Indo. Eh, dia accept gue dan kita sepakat bahwa gue nginep tempatnya dia selama 1 malam. Gue sebenernya di Bratislava 3 malem, tapi dia ga bisa host gue selama 3 malem karena dia harus bantu-bantu nikahan adiknya di malam ke-2 dan ke-3 gue di sana. Nah, setelah ngobrol-ngobrol, ternyata dia itu pernah tinggal di Indonesia selama 16 bulan karena ikut program beasiswa Darmasiswa, yang gue baru tau kalo program itu ada. Jadi program ini memang khusus untuk orang asing yang mau belajar Bahasa Indonesia. Ternyata, di Bratislava ada 2 orang lagi yang ikut program yang sama. Dan si host gue mengajak mereka berdua untuk bertemu gue malamnya. Baik banget sumpah, gue terharu dia arrange pertemuan itu buat gue. Jadi setelah naruh barang di rumah, gue dan dia pergi makan malam dan bertemu 2 temannya itu. Sepanjang malam mereka cerita pengalaman mereka di Indonesia, yang bener-bener unforgetable katanya. Unik-unik sih, yang paling ajaib adalah waktu salah satu temennya cerita kalo dia nemuin pasukan kecoa buanyaaaak bgt di kamar kosannya, sampe akhirnya dia bunuhin satu-satu hahaha. Overall, mereka seneng banget ke Indonesia. Bahkan si host gue pernah punya pacar 3 orang Indonesia hahaa. Cuma kalo ditanya mau ga tinggal lebih lama lagi di Indo, dia bilang “Ga. 2 tahun kayanya udah maksimal buat gue, habis itu rasanya pengen pulang.” Hahaha. O iya, mereka juga bisa bahasa Indonesia dikit-dikit, jadi mereka latihan juga pas ketemu sama gue haha.  Ada satu kata-kata mereka yang gw inget, salah satu dari mereka bilang “Gila ya, gue kangen sama Indonesia, tinggal di Indonesia selama itu rasanya kaya mimpi, sekarang di Bratislava itu kaya kembali ke kenyataan.” Terus yang lain nyaut, “Kalo kamu lagi di dalam mimpi ya, Cuni. Mimpi kamu itu Prancis”. Hahaha. Lucu rasanya negara kita itu dianggep mimpi sama orang asing, sementara gue di sini lagi menjalani mimpi gue, di Prancis, yang ga seindah dalam bayangan gue hahaha *loh kok ada curhat colongan?* hahhaa. Kembali ke topik. Malam itu dihabiskan dengan ngobrol, makan, jalan, sampe akhirnya waktu menunjukkan lewat dari pukul 12 dan kita pun pulang naik taksi haha. Si host gue ini besokannya musti balik ke kantor.

img_4515

Dari kanan ke kiri: Gue, Michal (host gue, pernah tinggal di Lampung 16 bulan), Temen cowonya (gue lupa namanya siapa, dia juga di Lampung), Temen cewenya (tinggal di Malang).

Besokannya gue pindah dari rumah host gue ke hostel yang bernama Possonium (18 Euro per malam). Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini gue nginap di hostel. Dan setelah ini gue bakal tinggal di hostel terus (kecuali di Frankfurt, ada temen). Rasanya, seneng sih.. hahaha. Akhirnya gue bisa bangun tidur sesuka gue, tanpa harus ngikutin host gue, gue ga usah pusing basa-basi cari topik buat ngobrol. Tapi kesenangan itu hanya berlangsung beberapa hari, habis itu gue ngerasa kesepian. Karena orang-orang di hostel ga ada yang bisa diajak ngobrol sampe deket bgt, biasanya ngobrol cuma sekedarnya, dan ga sampe deket bgt. Sementara kalo di couchsurfing berasa deket sama host-nya dan bisa ngobrol macem-macem. Saat itu gue ngerti, ternyata emang metode yang paling cocok buat gue adalah couchsurfing haha.

Habis naruh barang di Possonium, gue mengitari Bratislava, berbekal juga beberapa tips dari si host. Bratislava ini kotanya cukup kecil, jadi beberapa jam cukup buat mengitari Bratislava. Habis itu gue ke Bratislava castle, istana kecil yang berada di tengah kota Bratislava. Agak sorean, gue ke Devin castle, bayar sih masuknya (4 Euro buat umum, 2 Euro buat mahasiswa), tapi worth it, lebih bagus dibanding Bratislava castle. Untuk ke Devin ini kita musti naik bis sekitar 45 menit dari tengah kota. Recommended! O iya, selama di Bratislava gue ga gt makan makanan lokal, soalnya harganya ga semurah di Krakow atau Budapest dan duit gue udah mulai menipis. Gue berapa kali makan panini di pinggir jalan, recommend dari host gue hahha (harganya kalo ga salah 3 Euro).

img_4528

Pusat kota Bratislava. And out of nowhere gue ketemu sama Helmi Yahya, dan tim-nya yang entah lagi mau syuting apa di Bratislava.

 

img_4530

Di Bratislava itu banyak banget patung-patung unik. Salah satunya patung ini.

 

img_4545

Bratislava castle tampak depan. Lebih mirip sama kantor pemerintahan ya? Haha.

 

img_4559

View dari atas Bratislava castle

img_4582

Reruntuhan Devin Castle

img_4613

Devin Castle. Di sini gue bertemu sama cewe yang diduga cewek Indonesia, yang kerjaannya self video gtu, jadi keliatan ngomong sendiri di layar telepon haha. Mungkin lagi buat vlog..

 

Keesokan harinya, gue habiskan dengan leyeh leyeh di kamar hostel menikmati kasur. Hari itu adalah salah satu hari di liburan gue selama 40 hari dimana gue ga pengen kemana mana sama sekali, pengen istirahat aja. Gtu enaknya jalan-jalan dalam jangka panjang, bisa sambil santai. Sesiangan juga gue habiskan buat nyuci baju di mesin cuci hostel, nyucinya gratis, tapi karena deterjennya abis terpaksa gue beli sendiri deterjennya di warung sebelah haha. Tapi ujung-ujungnya gue keluar juga karena bosen, sekitar jam 4 sore gue keluar dan ikut Free Walking Tour di Bratislava. Lumayan, jadi tau sejarah tempat-tempat yang gue datengin kemarinnya. Menutup perjalanan gue di Bratislava, gue pergi ke Slavin memorial, tempat peringatan tentara Soviet yang gugur di Perang Dunia II, di tempat ini juga banyak kuburan gt. Pas pulangnya, gue agak nyasar-nyasar dikit karena letak tempat ini agak di atas, tapi untungnya gue menemukan jalan pulang haha.

img_4653

Blue church, cakep ya! Biru semua gitu..

img_4654

Blue church tampak dalam.

img_4629

Michael’s Gate, salah satu gerbang ke pusat kota Bratislava yang sangat ikonik.

Segitu saja kisah perjalanan gue di Bratislava, besok gue akan melanjutkan petualangan di Praha.

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

 

 

40 Hari di Eropa Tengah: Krakow

Gue sampai di Krakow jam 7 pagi tanggal 3 Agustus 2015 dengan menggunakan Polski Bus seharga 13.8 Euro dari Berlin. Gue dijemput dengan host couchsurfing (CS) gue di mal dekat dengan terminal bis. Host CS gue orang Indonesia, namanya Dipta. Dan guess what? Dia juga anak FIB angkatan 2007! OMG dunia sempit bgt. Pas tau dia anak FIB juga rasanya kaget banget. Jauh-jauh kuliah di Depok, eh ketemunya di Polandia, itu juga ga sengaja tanpa kenalan dan babibu sebelumnya. Begitu ketemu dia langsung deh ngobrolin macem-macem, rasanya kaya ketemu temen lama, anaknya asik dan lucu juga. Hahaha.

Habis dijemput di deket terminal, kita langsung menuju rumahnya Dipta untuk taruh tas. Gue juga dikasih sarapan hihi. Dia ga bisa menemani gue jalan-jalan karena dia musti ngerjain tesis di kampusnya. Jadi gue berpetualang sendiri di Krakow. Sepanjang gue jalan-jalan di Eropa, baru kali ini gue mengunjungi negara yang di alphabetnya banyak banget aksennya dan susah banget diucapinnya. Haha. Gue juga sempet ngerasa kaya mimpi, kayanya setaun yang lalu ga bakal terbersit aja dipikiran gue untuk bisa berada di negara bernama Polandia, negara yang kurang umum dijadikan tujuan wisata bagi para pelancong Indonesia.

Setelah berpisah dengan Dipta, gue langsung ke Main Square-nya Krakow yang bernama Rynek Glowny. Tempatnya baguuuus banget, gue suka banget sama warna warninya. Bener bener beda dari arsitektur Eropa Barat, berasa banget kita lagi di Eropa Tengah, unik, amazing! Gue pun melewati Main Square karena perut sudah keroncongan mencari makan siang! Gue dikasi rekomendasi sama Dipta untuk makan di tempat yang bernama Gospoda Koko. Harganya bikin gue bengong, 3 Euro udah dapet sup, appetizer dan main course lengkap ! Makin cinta gue sama Polandia, di Eropa Barat mana ada makanan harga segitu.. Oiya, Polandia ini punya mata uang sendiri namanya Zloty. Pantes harga barang2nya juga murah, karena dia ga mengikuti standar Eurozone.

img_3781

Rynek Glowny, main square-nya Krakow, so beautiful, udah berasa ga di Eropa Barat lagi.

img_3752

Makanan sebanyak ini cuma 3 Euro

Habis makan siang gue balik lagi ke Main Square, di situ ada gereja besar bernama Bazylika Mariacka yang dalemnya buagusssss banget, mungkin gereja paling bagus yang pernah gue lihat selama ini. Ada tips biar masuknya ga bayar, kita musti masuk dari belakang, jangan dari samping. Soalnya belakang itu buat tmp berdoa, sementara samping emang buat turis. Yah bayar cuma 1 atau 2 Euro juga sih. Awalnya gue masuk di tmp yang turis, trus belakangan baru ngeh kalo bisa masuk lewat belakang wkwk. Habis keluar gereja, gue jalan-jalan di sekitar Main Square dan juga pusat kota. Kota ini benar-benar unik dan menyuguhkan warna tersendiri. Setelah itu gue jalan ke gerbang tempat masuk ke pusat kota, lalu kembali ke arah berlawanan menuju ke sungai Vistula.

img_3800

Stunning Bazylika Mariacka!

Saat hari menjelang malam, gue disarankan mencari makanan di Jewish District (Kazimierz). Daerah ini adalah daerah tempat banyak org Yahudi tinggal, di situ ada sejenis foodcourt dengan makanan yang super murah. Gue disarankan membeli Zapikanki, baguette ala Polandia dengan berbagai macam topping di atasnya. Baguette ini super murah, harganya kalo dikursin jadi 1-3 Euro tergantung toppingnya. Dan bentuknya gede banget, bisa buat berdua. Bayangin makan kenyang 1 Euro bisa buat berdua, o la la, pengen ga pulang rasanya hahaha. Gue awalnya ga tau kalo makanannya segede itu, trus diliatin sama orang-orang pas beli segitu buat sendiri hahaha. Ternyata gue ga abis juga, akhirnya separo gue kasi gelandangan deket situ..

img_3875

Food court bundar di Jewish District. Wajib ke sini!

img_3877

Besarnya si Zapikanki, bisa buat berdua!

Habis makan malam gue menelusuri daerah Jewish District. Banyak sinagoga dan bangunan Yahudi yang lain yang ga ada penjelasannya. Gue penasaran sama district ini, dan gue pun memutuskan untuk ikutan Free Walking Tour besokannya yang khusus untuk Jewish District biar lebih mengenal kawasan ini dan sejarah bangsa Yahudi di Krakow.  Habis itu, gue janjian sama Dipta buat ketemu depan rumahnya, yang dekat dengan kawasan Jewish District. Si Dipta pun mengajak gue jalan lagi sambil membeli makan malam buat dia. Dia mengajak gue ke kawasan penuh food truck. Dan guess what.. dia beli fish and chips seharga 4 Euro.. gila murah abis. Dipta yang tahun pertamanya dihabiskan di Glasgow, Inggris (dia ikut program Erasmus) bilang emang kalo habis dari Eropa Barat trus tinggal di Krakow rasanya kaya surga, apa-apa murah hahaha. Habis itu kami pun pulang lalu cerita-cerita sampai malam.

img_3948

Sama Dipta dan Zapikanki-nya

Keesokan harinya, gue mengawali penjelajahan gue dengan makan pangsit rebus khas Polandia bernama Pierogi, gue makan sepiring penuh dengan harga 2.5 Euro di sebuah restoran! Habis mengisi bensin, gue pergi ke Wawel Castle, kastil di kota Krakow yang ternyata ga gede-gede amat. Di lingkungan kastil ini juga ada gerejanya. Usai dari kastil, gue tidur-tiduran di taman dekat sungai sambil menunggu jam 4 untuk mengikuti Free Walking Tour. Ini adalah FWT pertama gue. Buat yang belum tau, FWT adalah salah satu bentuk tur tanpa biaya, tapi tetap kita bisa memberikan tips seiklasnya, gue sih kasih 2 Euro setelah coba tanya beberapa orang berapa kira2 gue harus membayar. Biasanya tur ini berdurasi 2 hingga 3 jam dan terdapat banyak pilihan. Untuk Krakow sendiri, kita bisa memilih tur untuk menjelajahi pusat kota, atau menjelajahi Jewish District.  Gue memilih yang kedua. Jam 4 sore kita berkumpul di depan Sinagoga besar untuk memulai tur ini, kira-kira ada 20 orang dari berbagai negara yang hadir. Guide gue orang Polandia asli, cewek dan lagi hamil. Kita pun menuju tempat-tempat bersejarah di Jewish district sambil si guide menceritakan sejarah bangunan-bangunannya. Setelah dari Jewish district kita menuju ke sebuah lapangan yang letaknya agak jauh dari situ, dimana terdapat memorial tempat orang-orang Yahudi dikumpulkan sebelum dibawa ke kamp konsentrasi. Di tempat tersebut, yang disebut Ghetto Memorial, terdapat kursi-kursi besar dimana 1 kursi mewakili ratusan orang Yahudi yang dibantai di situ. Si Guide bercerita, orang Yahudi ini dikumpulkan di rumah sekitar situ, dimana rumahnya sangat sempit dan harus diisi sekitar 10 orang, itu adalah tempat tinggal terakhir mereka sebelum dibunuh. Kamp konsentrasinya sendiri berada di Auswitch, cukup dekat dengan Krakow (ada tur berbayar juga untuk ke Austzwich kalo kalian tertarik), kata Dipta sih kalo ke sana bawaannya sedih dan moodnya depresi bgt. Yaiyalah, gue ada di memorial itu aja ngebayanginnya udah sedih banget apalagi ke Austwich. Tur selama 2.5 jam pun berakhir di Schindler factory. Tempat seorang Jerman bernama Schindler membantu meloloskan ratusan orang Yahudi dari kamp konsentrasi dengan mempekerjakan mereka di pabriknya. Buat kalian yang pernah nonton film Schindler List pasti tahu ceritanya. Saat itu gue Cuma bisa liat luarnya aja karena untuk masuk ke dalam harus membayar ekstra dan saat itu juga sudah tutup. Pengalaman pertama FWT gue sungguh luar biasa, gue dapet banyak pengetahuan, bahkan emosinya juga dapet saat itu. Habis di Krakow, gue juga mengikuti FWT di negara-negara lain, tapi FWT ini yang paling berkesan buat gue.

img_3898

Pierogi alias pangsit rebus

img_3916

Salah satu bagian Wawel Castle

img_3927

Gerbang Wawel Castle

img_3930

Tour guide Free Walking Tour pertama saya di depan salah satu sinagoga -tempat ibadah Yahudi-. Dia lagi hamil loh.

img_3940

Krakow Ghetto, monumen yang terdiri dari kursi-kursi kosong peringatan orang Yahudi yang dibunuh NAZI. Di lapangan ini dipisahkan antara yang masih bisa bekerja (untuk diperbudak) dan yang tak bisa lagi bekerja (siap untuk dibunuh di kamp konsentrasi).

img_3944

Foto orang-orang Yahudi yang diselamatkan oleh Oscar Schindler, dipasang di depan Pabrik Schindler.

Habis menguras emosi, gue balik lagi ke food court tempat makan kemaren bareng sama Dipta, gue makan babi rebus yang bernama Golonka Wieprzowa seharga 2.5 Euro, dari kemarin mupeng liat orang makan ini, tapi ga seenak yang gue bayangin sih hihi. Gila deh di Krakow makan enak mulu, biasa makan sandwich supermarket doang ye kan. Hahahha. Malam itu adalah malam terakhir gue di Krakow, sedih karena musti berpisah dari Dipta dan kotanya yang cantik. Besok saatnya naik bis menuju Budapest!

img_3946

Golonka Wieprzowa

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.