Jasa Tour Guide Eropa

Hi semuanya! Kali ini saya mau menggunakan blog ini untuk jualan. Jadi, sudah beberapa bulan ini saya menyediakan jasa TOUR GUIDE EROPA.

Seperti apa sih servis dan biayanya?

Kalau kamu mau jalan-jalan ke Eropa tapi gamau ikut tur, tapi takut nyasar di negara tujuan, kamu bisa menggunakan jasa tour guide lokal Indonesia di Eropa. Tim tour guide saya adalah orang Indonesia yang tinggal di Eropa, jadi mereka benar-benar mengetahui seluk beluk negaranya dan bisa menceritakan dan memandu Anda dalam Bahasa Indonesia.

Untuk sementara, tour guide kami berada di kota-kota ini:

  1. Paris, Prancis
  2. Brussels, Belgia
  3. Amsterdam, Belanda
  4. Roma dan Milan, Italia
  5. Budapest, Hungaria
  6. Wina, Austria
  7. Stockholm, Swedia
  8. Tallin, Estonia
  9. Berlin, Jerman
  10. Dusseldorf, Jerman
  11. Porto dan Lisbon, Portugal

Harga untuk kota-kota di atas:
– 150 Euro/10 jam (1-8 orang). Additional fee/hours (15 Euro)
– 200 Euro/10 jam (lebih dari 8 orang). Additional fee/hours (20 Euro)

Selain itu, saya juga menyediakan guide di Swiss dengan harga yang berbeda:
350 Euro/10 jam. Additional fee/hours (30 Swiss Franc)

Dan juga guide di London, Inggris dengan harga:
230 Euro/10 jam. Additional fee/hours (15-18 GBP)

Harga di atas tidak termasuk makan dan transportasi guide.

Untuk negara-negara lain selain yang disebut di atas juga bisa menghubungi saya.

IMG_2730

Menemani Mbak Bella dan keluarga keliling Paris

IMG_4522

Menemani rombongan yang sedang photoshoot di Paris

IMG_2889

Mbak Astrie dan klien-kliennya seusai berbelanja di Champs Elysees, Paris

c7aec9cc-2fbe-46df-b9e7-e272a016eb35

Saya bersama Mas Paulus dan istri di Milan Cathedral (Duomo)

f23ac201-5c2e-4b20-a5e3-e11040fa62d3

Mbak Sherina dan keluarga menggunakan jasa lokal guide kami di Zaanse Schans, Belanda

 

Selain itu, saya juga menyediakan JASA SEWA MOBIL beserta supir.

1. Paris, Prancis
– Minivan Mercedes Benz V-Class (7 person maksimum): 500 Euro/10 jam. Additional fee/hours: 50 Euro
– Jasa pick up dari airport atau stasiun ke hotel: 80-120 Euro tergantung jarak

2. Amsterdam, Belanda
– Minivan Mercedes Benz V-Class (7 person maksimum): 500 Euro/10 jam. Additional fee/hours: 50 Euro
– Jasa pick up dari airport atau stasiun ke hotel: 80-150 Euro tergantung jarak

3. Milan, Italia
– Minivan Mercedes Benz V-Class (7 person maksimum): 550 Euro/10 jam
– Jasa pick up dari airport atau stasiun ke hotel: 100-170 Euro tergantung jarak

4. London, Inggris
– Minivan (7 person maksimum): 600 Euro/10 jam. Additional fee/hours: 50 GBP

5. Keliling Eropa
– Harga menyesuaikan jumlah hari dan jarak. Mobil yang tersedia: Mercedes Benz V-Class, Mercedes Benz Sprinter, bis besar.

Susan Pranata V Class 2

Minivan Mercedes Benz V-Class yang sedang mengantar tamu keliling Prancis selama 2 minggu. Lokasi: Meribel, Alpen Prancis

Susan Pranata V Class 1

Ibu Susan dan keluarga yang menyewa minivan Mercedes Benz V-Class kami untuk berlibur keliling Prancis selama 2 minggu.

IMG_6964

Ibu Grace dan keluarga yang menyewa minivan Mercedes Benz V-Class untuk berlibur ke Mont St Michel, dari Paris. Yang paling kanan itu salah satu supir kami 😀

 

Selain jasa tour guide dan sewa mobil, saya juga menyediakan jasa fotografer dan catering Indonesia di Paris, Prancis.

Yang terakhir, kalau kamu ingin mendapat paket liburan private/group lebih dari seminggu di Eropa, lengkap dengan tiket pesawat dan hotel, saya juga siap melayani. Kamu tinggal rekues mau kemana saja di Eropa, lalu saya akan mengatur setiap detail perjalananmu. Dalam paket ini, kamu hanya akan ditemani oleh 1 guide (saya) dari hari pertama hingga terakhir, tanpa ganti guide di setiap kota. Paket saya dijual dari harga Rp 20.000.000 per person.

3DF7831E-0D80-4B01-B4EC-E6FE11AEA602

Private tour untuk Pak Samuel dan Bu Eunike selama 2 minggu di Eropa dengan destinasi sebanyak 8 negara (Prancis, Belgia, Belanda, Italia, Jerman, Austria, Swiss, Yunani). Bekerjasama dengan Starguidesco.

CBAD6054-16E4-4B49-9843-320E57076248

Private tour untuk Ibu Tiffany dan Ibu Mei selama 2 minggu keliling Prancis (Bordeaux, Marseille, Aix-en-Provence, Nice, Lyon, Annecy, Strasbourg, Colmar, Riquewihr, Paris), Monaco, Italia (Cinque Terre, Florence) dan Belanda (Amsterdam, Zaanse Schans). Bekerjasama dengan Travel Buddy Indonesia.

 

Untuk informasi lebih lengkapnya bisa langsung menghubungi saya melalui e-mail di cuni.candrika@gmail.com dan instagram @cunay.

Selamat berlibur! 😀

 

Journey to the North : Tallin

Setelah perjalanan selama 4 hari mengelilingi kota Riga, Helsinki dan menikmati cruise ke St. Petersburg, di hari terakhir ini saya memutuskan untuk bertualang ke Tallin, Estonia. Trip ini tadinya tidak direncanakan sama sekali, tapi melihat kalo ternyata dekat ke Tallin dan bisa dengan naik cruise, sayang rasanya kalo ga ke kota ini. Jadilah saya memisahkan diri dari teman-teman saya untuk solo travelling ke Tallin selama seharian. Teman-teman seperjalanan saya memilih untuk bersantai dan berendam air panas di Helsinki, sementara saya memilih melihat satu lagi kota di sebelah utara Eropa, Tallin.

Sesampainya di Helsinki saya langsung ke pelabuhan untuk membeli tiket ke Tallin, beruntungnya, tiket di kapal (Viking Line) saat itu tinggal sisa 2, jadi saya bisa naik kapal yang langsung berangkat setengah jam kemudian. Tiketnya sendiri harganya 20an Euro untuk one way. Kapalnya mirip dengan kapal yang saya gunakan untuk menuju St. Petersburg. Ada restoran, duty free shop dan beraneka ragam ruangan entertainment. Begitu naik ke atas kapal, saya langsung meletakkan backpack saya di locker, untuk diambil saat pulang ke Helsinki nanti. Saya makan sandwich dulu di kapal untuk makan siang, kemudian mengelilingi kapal, sampai akhirnya saya berhenti di sebuah cafe (duduk doang, kaga ada yang dibeli) untuk mendengarkan lagu dan sedikit berdendang dari musisi yang lagi nyanyi di situ.

Setelah 2 jam perjalanan, sampailah saya di kota Tallin. Tallin ini cukup kecil, dari pelabuhan ke pusat kota hanya memakan waktu 20 menit jalan kaki. Langsung saja ya.. Ini tempat-tempat yang saya kunjungi di Tallin beserta cerita-cerita di dalamnya.

Webp.net-resizeimage-4

Pintu gerbang menuju pusat kota Tallin, namanya Viru Gate. Kotanya berasa kaya kota abad pertengahan gitu, dikelilingin oleh benteng.

Webp.net-resizeimage-5

Kawasan pusat kota Tallin yang rumahnya warna-warni

Webp.net-resizeimage-10

Kaya di negeri dongeng ya

Webp.net-resizeimage-2

Pusat kota Tallin

Webp.net-resizeimage-3

Salah satu pintu lucu di kota Tallin

Webp.net-resizeimage-6

Cathedral Alexander Nevsky yang juga terletak di bukit Toompea. Buat mendaki bukit ini ga jauh kok, masih di pusat kota dan cuma ngedaki sedikit aja.

Webp.net-resizeimage-8

View untuk melihat kota Tallin dari atas, di bukit Toompea. Tjakep bingitss!!

Webp.net-resizeimage-7

Ceritanya kedinginan, belilah hot wine. Eh malah jadi sedikit high, sampe belanjaan jatuh di supermarket dan nabrak orang pas balik kapal hahaha.

Webp.net-resizeimage-9

Kapal untuk kembali ke Helsinki. Laut di sekitarnya sudah mulai membeku, es semua itu..

Itu dia tempat-tempat yang saya kunjungi di kota Tallin. Overall, untuk mengelilingi kota ini cuma dibutuhkan 4 jam, jadi cocoklah kalo mau naik cruise dari Helsinki (atau kota-kota lain) seperti saya ini untuk one day trip ke Tallin.

Hari itu gw merasa happy bisa travelling sendirian, setelah kurang lebih bareng sama temen2 selama 3 hari. Kadang emang me time itu diperlukan ya. Haha. Apalagi kalo me time-nya ke kota cantik kaya Tallin ini. Hihi. Oiya, ada cerita yang agak lucu pas gw di Tallin. Seperti gw tulis di caption di atas, gara2 gw minum hot wine itu, gw jadi agak naik. Mungkin karena sebelumnya cuma makan sandwich doang di kapal. Gw masih bisa kembali ke kapal sih, cuma ya itu.. pas gw ke mini market buat belanja, barang2nya beberapa meleset dari tangan gw. Dan yang lebih ngeselin adalah gue ga sengaja nabrak bapak2 pas di kapal, dan dia marah2 dong sama gue. Hhhhh. Akhirnya begitu sampe di kapal, gw langsung cari tempat ngemper yang enak di lantai (banyak org yang duduk-duduk di lantai gitu) terus gue tidur hahahah. Sampe2 udah di Helsinki lagi deh. Haahha. Pagi dini hari gw flight menuju ke Paris, bareng sama Atha yang juga balik ke Vienna.

Sekian cerita perjalanan kali ini! Akhirnya ngeblog lagi setelah 6 bulan ga ngeblog!

Cruise Experience: Helsinki-St.Petersburg

Setelah menjelajah Riga dan Helsinki, sore itu kita naik cruise bernama Princess Anastasia dari Helsinki menuju ke St. Petersburg. Kita memesan kamar berukuran 9m2 di cruise untuk 3 hari 2 malem di website St. Petersline, seharga 454 Euro untuk 4 orang (113 Euro per orang). Adapun harga tersebut sudah termasuk: gratis visa ke Rusia selama 3 hari, satu kali makan malam di cruise dan bus transfer dari pelabuhan ke pusat kota St. Petersburg.

Ini pertama kalinya gw naik cruise jadi gw excited banget, pengalaman naik kapal terakhir itu pas Living on Boat di Pulau Komodo dan sekitarnya yang berujung dengan malapetaka. Sebelum naik cruise, kita beli makanan dulu di restoran Subway depan pelabuhan, karena kita tidak memesan makan malam untuk hari itu. Sesampainya di Cruise, kita langsung menuju kamar yang ternyata mini banget. Berasa kaya lagi di asrama mahasiswa Prancis tapi ini kasurnya ada 4, 2 di atas dan 2 di bawah. Bener2 sempit, kalo mau mondar mandir susah dan musti gantian haha. Tapi gapapa, kamarnya tergolong bagus dan bersih serta dilengkapi kamar mandi. Setelah menaruh barang-barang, kita pun keluar untuk melihat-lihat dalam cruise dan juga pemandangan di luar.  Cruise ini isinya super lengkap, ada restoran, beberapa bar, game room, gym, sauna, kolam renang kecil, duty free shop dan masih banyak lagi.

Webp.net-resizeimage-2

Di depan kapal Princess Anastasia. Siap-siap naik cruise!

princessa_anastasia-cabins

Seperti ini kira-kira kamar kita, hanya saja sofa di kanan bawah diganti sama kasur dan tidak ada jendela. Foto diambil dari sumber lain karena gw tidak mengambil foto kamar. (Foto: guide-guru.com)

Webp.net-resizeimage-5

Lobby cruise

Webp.net-resizeimage

Tangga di cruise, cruise kita ini ada 8 lantai.

Webp.net-resizeimage-11

Menikmati sunset di salah satu lounge di cruise

Webp.net-resizeimage-4

Game room. Yang bosen, bisa main game di sini.

Webp.net-resizeimage-7

Tempat gym

Webp.net-resizeimage-3

Salah satu pertunjukan di Cruise.

Malam pertama di kapal kita habiskan dengan duduk di restoran sambil melihat sunset, lalu kemudian menonton pertunjukan di sana. Malam itu kita bermalam di kapal, sekitar jam 8 pagi, kita pun sampai di St. Petersburg. Welcome to Russia!

Ga nyangka rasanya bisa sampai di negara yang satu ini tanpa visa. Ya, seperti yang sudah gw bilang di awal, cruise ini menyediakan 3 hari free visa ke Rusia, cocok buat traveler asal Indonesia kaya kita yang emang butuh visa buat ke Rusia. Tapi di sini kita ga 3 hari, karena kita hanya mengambil paket yang 1 hari di Russia. Jadi, sekitar jam 4 sore kita harus kembali ke kapal untuk pulang ke Helsinki.

Turun dari kapal, kita sampai di pelabuhan di St Petersburg untuk masuk ke imigrasi. Keadaan di imigrasi: chaos! Orang dimana2, ga ada line yang jelas tempat untuk mengantri, jadi semua orang main serobot sana sini. Dari sekian banyak counter imigrasi yang dibuka hanya sedikit, itu juga tidak langsung buka saat tiba di sana. Jadilah kita stuck diam menunggu imigrasi dibuka. Ternyata seperti ini di Rusia, negara dunia ke-2, aturan masih kacau dan memang tidak seperti negara-negara maju di Eropa. Setelah menunggu 3 jam untuk melewati imigrasi, akhirnya kita masuk juga di negara ini. Karena sudah memesan city transfer bus dalam paket cruise, kita menaiki bus untuk menuju ke pusat kota St Petersburg. Jam sudah menunjukkan angka 12. Itu artinya kita cuma punya waktu 4 jam di St Petersburg, padahal kita sudah membayangkan mengitari St Peter selama 8 jam, semua karena kerusuhan di imigrasi.

Sebelum mengitari kota, kita berhenti makan dulu di sebuah restoran Italia, yang pelayanannya kurang memuaskan dan makanannya seperti tidak matang. Gw pun sempet ngomel sama karyawannya untuk meminta makanan gw diganti. Makanan gw diganti dan mereka minta maaf berkali2, bahkan sampai pas kita keluar, kita kaya dihormati gitu sama para staff-nya hahahaha. Pengalaman yang lucu, mengingat orang Rusia itu stereotipnya dingin, tapi ternyata mereka baik hati dan ramah (walaupun harus diomelin dulu haha).

Setelah itu kita pun mengitari kota St Petersburg dengan berjalan kaki. Berikut tempat2 yang kita lalui dengan berjalan kaki selama 3 jam.

webp.net-resizeimage

Di depan Winter Palace yang sekarang menjadi Museum Hermitage

webp.net-resizeimage-2

Gerbang cantik di depan Lapangan Hermitage.

webp.net-resizeimage-3

Pemandangan di balik gerbang

webp.net-resizeimage-4

Bangunannya warna warni, tsakep!

webp.net-resizeimage-5

The Church of the Saviour on the Spilled Blood, gereja ikon kota St Petersburg

webp.net-resizeimage-10

Gereja tampak belakang

webp.net-resizeimage-6

Kalo winter lapangan gini doang jadi cakep yak

webp.net-resizeimage-7

Danau yang membeku

Setelah mengitari kota St Petersburg selama 3 jam, kita harus kembali ke tempat di mana shuttle bus mengantarkan kami ke pelabuhan. Sayang, petualangan di kota yang sangat cantik ini sudah berakhir. Coba kalo ga chaos di imigrasi, kita bisa muterin lebih lama. Tapi gapapalah, lumayan, daripada lumanyun. Dari 2 kota yang sudah gw jelajahi sebelumnya: Riga dan Helsinki, gw paling suka sama St Petersburg. Bangunannya cantik dan unik bgt, beda sama negara Eropa yang lebih barat.

Sesampainya di pelabuhan, kita pun menuju ke restoran di cruise karena malam itu kita sudah memesan makan malam di cruise!

webp.net-resizeimage-8

Dinner di cruise. Dinner ini sifatnya opsional. Jika ingin menakan bujet bisa tidak memilih opsi dinner.

Makan selesai, kita pun duduk-duduk lagi di salah satu lounge yang menampilkan atraksi pertunjukan hingga tengah malam. Ketika sudah tengah malam, panggung pun berubah menjadi lantai dansa alias tempat dugem hahaha! So, we have so much fun at the cruise. Bener-bener recommended dengan harga yang cukup terjangkau.

Setelah bermalam di cruise, esok paginya saya melanjutkan perjalanan ke Tallin seorang diri dengan menggunakan cruise yang berbeda. Pas ke Tallin ini, saya berjalan sendiri, karena yang lain pengen santai-santai di Helsinki. Tunggu kisah perjalanan saya yang berikutnya di kota yang ga kalah cantik, Tallin, Estonia.

Journey to the North: Riga and Helsinki

Sepulang dari Chamonix, seorang teman tiba2 message mengajak liburan naik cruise ke Rusia. Dia bilang, “Cun, gue mau pesen kamar di cruise Finlandia-Rusia PP, sekamar 4 orang, kita udah bertiga, kurang 1 orang lagi, lo mau join ga?” Tanpa pikir panjang gw langsung jawab, “Mauuuuu.. tapi gue musti cek dulu ya tanggal segitu pas ujian apa ga.” Sebenernya hari2 itu gw lagi kuliah, bukan pas libur, tapi gue nekat aja pengen pergi. Sumpek juga kuliah mulu dan parahnya, kampus gw ga ada liburan sama sekali semester itu. Padahal normalnya kampus publik di Prancis itu libur seminggu di bulan Februari dan seminggu di bulan April. Tapi kampus gw ga ada sama sekali -.- Setelah mengecek jadwal ujian, ternyata pas tanggal segitu ga ada ujian, langsung lah cus beli tiket. Jadi rencananya gw liburan seminggu dengan rute Riga (Latvia), Helsinki (Finlandia), habis itu naik cruise ke St. Petersburg (Rusia) dan balik lagi ke Helsinki (Finlandia). Saat itu ga ada rencana sama sekali ke Estonia, tapi pas hari H akhirnya gw memutuskan buat ke Tallin (Estonia).

Seminggu sebelum keberangkatan, setelah semua tiket sudah dibeli baru lah ketawan kalo ternyata minggu itu banyak buanget tugas. Hampir tiap hari presentasi dan tugas-tugas lainnya. Mati lah gw. Tapi ya mau gimana lagi. Tugas2 tersebut terpaksa gw kebut sebelum gw pergi dan beberapa setelah gw pulang.

Hari Rabu tanggal 28 Maret, gw terbang dari Paris ke Riga naik Baltic Air jam 10 pagi. Perjalanan memakan waktu 2 jam 45 menit. Sampai di sana kira2 jam 13.50, jamnya maju sejam dari Paris. Harga tiket pesawat Paris-Riga-Helsinki-Riga-Paris adalah 177 Euro, semua dengan Baltic Air. Buat balik dari Helsinki ke Paris harus lewat Riga, karena transitnya di situ.

Di Riga gw langsung ketemu sama Atha di airport, Atha ini adalah salah satu temen di FIB tapi beda jurusan. Kita pun naik bis ke tengah kota, kemudian taruh barang di hostel yang bernama Tree House Hostel (10 Euro semalam untuk 10 Bed Female Dorm). Setelah itu, kita pun langsung cus buat eksplor Riga. Riga ini kotanya cukup kecil jadi bisa dieksplor dengan jalan kaki.

Webp.net-resizeimage

Warna-warni kota Riga. Kota-nya agak sepi ya.

Webp.net-resizeimage-2

Pusat kota Riga: House of the Blackheads

Webp.net-resizeimage-3

Di tengah jalan ngelewatin danau yang beku menjadi es. Amayzeng!

Webp.net-resizeimage-8

Salah satu bangunan di distrik Art Nouveau, kompleks bangunan modern dan warna-warni di Riga.

Webp.net-resizeimage-6

Riga Orthodox Church ❤

 

Webp.net-resizeimage-5

Makan-makanan khas Latvia di restoran Lido. Recommended!

Malemnya kita ke bar tradisional Latvia bernama Folkklubs buat nyobain alkohol khas Latvia yang bernama Black Balsamic Riga. Di bar ini ada stage dimana orang2 pada nari tradisional Latvia.

Webp.net-resizeimage-7

Cheers from Riga! Fun fact: Latvia ini adalah negara ke-26 yang gw kunjungin, sementara ini adalah negara ke-27 yang Atha kunjungin 😀

Keesokan harinya, kita naik pesawat dari Riga menuju Helsinki. Siang hari kita sudah sampai di Helsinki dan menuju ke hostel yang bernama Eurohostel. Kita pesen kamar yang private, satu kamar buat berdua dengan harga 50 Euro per malam. Kenapa kita pilih private room? Karena harganya mirip2 sama dorm, kalo di dorm sekitar 25 Euro per malam, nah ini juga sama per orang bayarnya 25, udah dapet yang private room. Yaudah kita pilih private aja.

Di hostel sudah menunggu Tita, temennya Atha yang tinggal di Hamburg, Jerman. Setelah beres2, kita pun langsung eksplor Helsinki.

Webp.net-resizeimage-9

Helsinki yang juga membeku. Kita kira kan akhir Maret udah agak panas gitu ya, taunya masih aja dingin.

Webp.net-resizeimage-10

Jajan roti pake salmon di Old Market Hall, pasar indoor yang berada di kompleks Market Square.

Webp.net-resizeimage-11

Ini stasiunnya Helsinki, Helsinki Central Station.

Malamnya, kita ngaso-ngaso sebentar lalu kemudian menjajal karaoke bar di Helsinki. Pas lagi di hostel, ada kejadian tidak mengenakkan. Jadi kan di setiap lantai itu ada dapur dan common area-nya. Nah, gw, Atha sama Tita mau makan sekaligus santai di dapur. Tiba2 ada 3 cowo masuk, warga negara G (negara di Eropa Timur yang namanya sengaja gw samarkan) dan 3 orang ini ngajak kita ngobrol. Yang pertama kena ngobrol adalah gw, bego-nya gw (dan mungkin sebagian besar orang Indonesia lain) adalah terlalu ramah, gw ajak ngobrol aja tanpa ada pretensi apa2. Eh, tuh orang2 malah kesenangan dan berakhir ngajak kita ke bar. Dari situ gw mulai takut dan nyuekin tuh orang2, sementara si Atha dan Tita emang udah nyuekin dari awal. Tapi tuh 3 orang masih aja usaha ngajak ngobrol dan ngegoda-goda. Setelah berapa lama, akhirnya mereka keluar dan kita pun bisa agak bebas di dapur. Kita pun masuk kamar dan ternyata 3 orang itu kamarnya sebelahan sama salah satu dari kita. Mereka pun kayanya sengaja berdiri-berdiri di luar buat ngeganggu kita. Ya kita jadi takut keluar, rencana yang tadinya mau ke bar, malah jadi ketakutan. Setelah di luar ga ada suara, baru akhirnya kita berani ke luar, itu juga pasang tampang jutek biar kalo ga sengaja ketemu kita bisa pura-pura ga kenal. Huff.

Akhirnya kita pun ke karaoke bar yang bernama Wallis. Tempatnya seru abis. Jadi kita bisa pesen lagu, udah gitu kalo giliran kita tiba, lagu kita diputer dan kita musti nyanyi di depan panggung hahah. Berasa beneran jadi true singer gitu ditontonin orang-orang lol. Seru sih, dan lebih lucunya lagi adalah banyak lagu yang pake bahasa Finlandia, jadi kita sok2 ikutan nyanyi aja padahal ga tau maknanya apa.

Webp.net-resizeimage-12

Penampakan sebelum nyanyi di atas panggung. Sayang, ga bisa upload video pas nyanyi, wordpress gw belum diupgrade ke yang premium lol.

Sepulang dari bar, kita pun pulang ke hostel. Di hostel sudah menunggu si Ega, satu lagi temannya Atha (yang ini kerja di Irlandia) yang baru saja sampai di Helsinki. Keesokan paginya si Ega cerita kalo ternyata salah satu dari cowo yang semalem itu ganggu dia juga. Jadi dia lagi telpon, terus tiba2 salah satu cowo itu ngetok2 sambil manggil salah satu nama kita (Dang, dia inget nama2 kita). Akhirnya dicuekin aja sama si Ega, pura2 ga denger.

Besok paginya kita berempat breakfast di dapur, sambil cemas takut ketemu 3 cowo aneh itu lagi. Untungnya, tiba2 di dapur itu kita ketemu 2 cowo Indonesia yang nginep di hostel yang sama, jadilah ngobrol2 seru sama mereka dan gara2 ada mereka, si 3 cowo G itu jadi ga berani ngajak ngobrol kita. Dia cuma liatin kita aja di dapur sambil bingung, mungkin pikirnya “Ini siapa lagi, ada orang baru tiba2, pada akrab bener2” Wkwk. Thanks ya, Marconi and Handoko, you saved our life! Haha 😀

Hari itu, kita keliling kota Helsinki lagi, kali ini tambah satu personel baru: Ega. Geng kita komplit sudah!

 

Webp.net-resizeimage-13

Kita berempat di depan Uspenski Cathedral, gereja Orthodox utama di Finlandia.

Webp.net-resizeimage-14

Salah satu sudut kota Helsinki

Webp.net-resizeimage-15

Ini dia Helsinki Cathedral, gereja Evangelical Lutheran.

Webp.net-resizeimage-16

Jadi gimana kesan gw soal kota Helsinki? Menurut gw, kotanya kurang menarik, terlalu modern dan ga gitu banyak yang diliat. The best moment? Tentu saja nyanyi di atas panggung ditontonin orang Finlandia, berasa artezz.

 

Sorenya, kita bersiap untuk naik cruise ke St. Petersburg, Rusia! Gimana ya serunya naik cruise? Tunggu ceritanya di post selanjutnya! :*

Weekend in French Alps: Chamonix-Mont-Blanc

Pengen jalan-jalan ke pegunungan bersalju? Mungkin yang kepikiran di benak kalian adalah Interlaken, Jungfrau atau Mt Titlis di Swiss. Ternyata ada juga tempat lain yang lebih murah dan ga kalah kecenya sama tempat-tempat tersebut di atas. Namanya Chamonix-Mont-Blanc. Kota ini terletak di tenggara Prancis, dekat dengan Lyon, Grenoble dan Annecy dan juga dekat dengan negara Italia dan Swiss. Chamonix-Mont-Blanc ini dikelilingi oleh jajaran pegunungan Alpen, sama seperti Mt Titlis di Swiss. Cuma bedanya yang ini Alpennya di Prancis.

Pertengahan Februari lalu gue mendapat kesempatan untuk pergi ski ke sana sama temen2 Indonesia. Awalnya pergi ke sana ga direncanain, awal mula bisa diajakin ke sana pas gue dan Wulan lagi makan siang di KBRI, lalu kita ketemu si Dhafi yang juga lagi di sana dan ada temennya Wulan yang namanya Reza. Kita berempat duduk satu meja dan cerita-cerita banyak hal (gitu tuh org Indonesia, pertama kali ketemu aja rasanya kaya langsung akrab wkwk) sampe akhirnya si Reza ngajakin kita buat ke Chamonix sama temen-temennya. Akhirnya kita pun cus ke Chamonix tanggal 22 Februari (sayang, Dhafi akhirnya ga jadi ikut karena satu dan lain hal). Di sana gue ketemu dengan geng-nya si Reza yang ngerencanain acara ini. Beberapa gue udah kenal kaya Fathi, Isol dan Andri. Beberapa baru gue ketemu waktu itu kaya Alan, Kevlin, Carina dan Monica. Jadilah kita ber-10 menjelajah Chamonix bareng (ya ga bareng-bareng amat sih, kadang gue suka misah haha).

Perjalanan dimulai pada hari Kamis tanggal 22 Februari dengan menggunakan Flixbus dari Paris. Perjalanan ke Chamonix sekitar 9 jam dan kita bermalam di bus. Untuk tiket, kita menggunakan paket Interflix yang harganya 100 Euro untuk 5 kali perjalanan, jadi sekali perjalanan cuma 20 Euro, sangat ekonomis! Kalo ga pake paket itu, kita harus membayar sekitar 50 Euro sekali perjalanan bis Paris-Chamonix, dan makin mendekati hari H harga semakin mahal. Sejujurnya gue agak takut perjalanan jauh naik bis, karena gue lagi mengidap penyakit yang mbikin gue pipis-pipis terus, tapi untungnya WC-nya berfungsi dengan baik.

Sekitar jam 8 pagi kita tiba di Chamonix. Baru masuk kota-nya aja udah terkagum-kagum karena bener-bener dikelilingi pegunungan Alpen. Kita turun di terminal bis yang bernama Chamonix-Sud, gue dan Wulan naik bis ke hostel yang bernama Gite Chamoniard (22 Euro per malam) sementara yang lain naik bis ke hostel yang bernama Hi Chamonix. Tadinya kita juga mau nginep di sana tapi tempatnya udah penuh, jadi kita baru bisa check in di sana keesokan harinya. Transportasi umum yang beroperasi di kota Chamonix itu cuma bis, jadi kita kemana-mana naik bis, harganya gratis kalo kita bisa nunjukkin kalo kita menginap di sebuah penginapan di Chamonix.

Di Chamonix ini dikelilingi oleh beberapa pegunungan yang merupakan gugusan pegunungan Alpen, ada Le Brévent, Les Houches, Les Grands Montets, Argentière dan lain sebagainya. Nah buat naik ke pegunungan-pegunungan ini kita harus naik cable car dan buat naik cable car kita harus punya Chamonix ski pass. Untuk ski pass sendiri harga aslinya 63.5 Euro per hari, tapi karena kita beli di hostel Hi Chamonix, tempat kita bakal nginep malam setelahnya, kita cuma bayar 25 Euro. Ekonomis kan? Nginep di Hostel Hi Chamonix emang pilihan yang bagus buat budget traveler yang mau bertualang ke Chamonix. Harga hostelnya sendiri 23 Euro per malam, tapi kalo mau nginep ditambah beli ski pass seharian kita cukup bayar 44 Euro . Untuk menjelajahi Chamonix, ada sebuah website lengkap yang menunjukkan keadaan cuaca di setiap puncak gunung, lengkap dengan keterangan apakah tempat tersebut tutup atau tidak. Beberapa tempat kadang tutup hari itu, karena keadaan cuaca yang tidak memungkinkan.

Selesai naruh barang di kamar, Gue dan Wulan membeli ski pass di hostel Hi Chamonix seharga 25 Euro (ini sebenernya agak susah kalo kita ga nginep di hostel ini malam itu, kita dapet ski pass karena yang beliin temen kita yang udah di hostel ini duluan). Setelah itu, kita memulai petualangan pertama di Chamonix, yaitu Paragliding! Yeayy! Gue udah ngebayangin gimana indahnya paragliding di pegunungan bersalju, kaya yang gue pernah liat di poster waktu ke Puncak buat paragliding. Sayang, takdir berkata lain. Bukan Cuni’s Journey namanya kalo ga ketemu sial hahaha. Jadi paragliding kita terpaksa dicancel karena anginnya terlalu kencang dan kita baru tau pas udah di tempatnya. Si orangnya yang ngurusin paragliding telpon gw: “Iya, jadi kita terpaksa cancel karena angin kencang.” Gw: “Yah masa dicancel sih udah sampe sini.” Dia: “Ya, bahaya soalnya, kamu ga mau mati kan?” Gw: “Ga, gw ga mau mati.” Hahhaha. Ada2 aja emang kalo ngomong sama orang Prancis wkwk.

Ga jadi paragliding, kita memutuskan buat sightseeing di tempat yang harusnya buat paragliding, yaitu Le Brévent. Tempatnya kece bgt, jadi buat ke atas kita harus naik cable car dan sepanjang perjalanan yang keliatan gunung salju semua. Di sini juga ada sebuah restoran di tmp paling tinggi dan pemandangannya bagus banget, kita ga makan di situ tapi foto-foto aja.

Webp.net-resizeimage

Chamonix Mont-Blanc ❤

Webp.net-resizeimage-2

View from the restaurant

Webp.net-resizeimage-3

Ga usah jauh2 ke Swiss buat liat pemandangan se-luv ini ❤

Webp.net-resizeimage-6

Exploring Mont-Blanc with Wulan

Puas menjelajahi Le Brévent, kita ke puncak tertinggi selanjutnya yang bernama Les Grands Montets. Sayang, di sini kita ga bisa naik karena buat naik khusus yang punya alat ski. Yaudah kita menikmati pemandangan aja dari bawah.

Webp.net-resizeimage-4

Les Grands Montets

Webp.net-resizeimage-5

Ski station

Di hari kedua, gue dan Wulan pindah ke hostel yang sama kaya anak-anak, yaitu Hi Chamonix. Hostel ini jaraknya lebih jauh dari hostel yang pertama dari tengah kota. Di bis kita ketemu sama Reza dan Kevlin yang baru tiba dari Paris. Kita pun taruh barang-barang di hotel, beli ski forfait alias pass ski biar bisa naik turun ke gunung mana aja yang kita mau, nimbrung sarapan pagi, lalu pake peralatan ski karena bersiap ski. Peralatan ski ini bisa disewa di hostel, dengan membayar sekitar 20 euro. Peralatan ski ini berat banget, apalagi tempat tujuan kita buat main ski jauh dan musti naik bis. Gw sama Wulan udah ngeluh-ngeluh sepanjang jalan, apalagi gue, yang udah tau gimana ga enaknya main ski, pengen gw balikin aja rasanya ke hostel itu alat-alat. Tapi nasi sudah menjadi bubur, yaudahlah sebisa mungkin ikut aja ke tmp ski yang terletak di La Flégère. Setelah perjalanan yang terasa amat lama akhirnya sampai juga. Cowo-cowo itu udah pada jalan duluan, sementara gw dan Wulan di belakang, sama ada si Isol yang bersabar buat nungguin kita haha. Sampai di atas, gw mencoba main ski sedikit, tapi kok rasanya ga kuat. Harusnya gw percaya sama instinct gue, kalo gausah main ski dari awal. Dulu sekitar 2 taun yang lalu gue juga pernah main ski di Toulouse, dan gue ga suka, mana jatuh mulu. Sekarang gw pengen nyoba lagi karena masih penasaran, tapi kayanya udah cukup. Gw ga bakal lagi main ski, kecuali tiba2 ada duit dan ada yang ngajakin kursus dari awal di Ecole du Ski. Atau mungkin suatu hari ada seseorang yang cukup sabar ngajarin gue main ski dari awal haha. Selain itu, ajakan main ski akan gw tolak. Gw cukup bahagia ngeliatin gunung salju tanpa harus bermain ski.

Webp.net-resizeimage-11

Ski squad. From Paris to Chamonix 😀

Webp.net-resizeimage-7

La Flégère

Webp.net-resizeimage-8

Church by the mountain

Akhirnya gue memutuskan untuk makan siang sendiri selagi anak2 main ski, dan habis itu gue balik ke hostel buat balikin alat. Habis itu gw pergi ke puncak tertinggi di Chamonix yang bernama Aiguille du Midi. Sayang, tempatnya ditutup karena angin kencang. Huff. Lagi-lagi belum jodoh. Gw kemudian mencari puncak lain dan jatuhlah pilihan gw ke tempat yang bernama Les Houches. Waktu itu waktu sudah menunjukkan pukul 17.15, sementara tempatnya akan ditutup pukul 17.30. Jadilah gue naik cable car terakhir ke sana, terus foto-foto sebentar di atas gunung, kemudian naik cable car terakhir buat turun. Gw pun pulang ke hostel dan secara ga sengaja di bis ketemu anak-anak yang habis balik main ski. Kita santai sebentar di hostel, lalu pergi lagi jalan ke pusat kota Chamonix untuk makan malam sembari menikmati malam terakhir di kota yang indah ini.

Webp.net-resizeimage-9

Gagal naik ke Aiguille du Midi, foto ini-nya aja wkwk

Webp.net-resizeimage-10

Les Houches, I am the last people who came up

Keesokan harinya hari Minggu, gw dan Wulan melanjutkan perjalanan ke Jenewa, sementara anak-anak lain masih stay di Chamonix sampai malam, ada yang main ski lagi, ada juga yang cuma jalan-jalan santai di Chamonix. So, thank you Chamonix! ❤

 

Itinerary Liburan ke Italia 6 Hari 5 Malam

Hai semuanya! Sebenernya udah lama gue liburan ke Italia ini, tepatnya bulan April 2016, tapi baru sempet dipublish sekarang. Pas liburan ke Italia ini gue ikut 2 sahabat gue yang lagi Eurotrip ke Eropa. Mereka sendiri mempunyai itinerary Belanda-Belgia-Prancis-Italia, tapi karena gue kebentur kuliah, jadi gue cuma bisa ikut mereka jalan ke Italia aja. Itu juga udah sangat menyenangkan hihi.

Hari ke-1: Milan

Karena waktu itu gue tinggal di La Rochelle, gue naik pesawat dari Bordeaux ke Milan dengan menggunakan Easyjet seharga 60 Euro PP. Sesampainya di Milan, gue langsung menuju stasiun kereta pusat untuk bertemu Lina dan Tichu. Mereka kayanya nunggu gue cukup lama, tanpa kepastian juga karena HP gue dan mereka sama2 ga bisa digunain di Itali. Tapi akhirnya kita bertemu, aaaaah senangnya, ketemuan di Italia! Hahaha. Di Milan kita cuma ke Cathedral Duomo yang letaknya dekat dengan stasiun dan juga ke Galeria Vittorio Emmanuele serta jalan-jalan di sekitar situ.

Sooo happy to meet them in Italy! ❤

Cathedrale Duomo de Milano

Galeria Vittorio Emmanuele

Malamnya, kita bermalam di Megabus menuju ke Roma (15 Euro). Kita berangkat pukul 9.30 PM dan tiba di Roma pukul 6.30 AM (9 jam).

Hari ke-2: Roma

Sesampainya di Roma, tepatnya di Stasiun Tiburtina, kita langsung ke tempat di mana kita menyewa airbnb dekat stasiun Tiburtina. Kita menyewa Airbnb seharga 50 Euro per malam untuk tiga orang. Setelah mandi dan siap-siap, kita pun langsung meluncur menjelajahi Roma. Yeayyy!

Tujuan pertama kita tentu saja Colosseum. Kita mengitari kompleks Colosseum untuk mengagumi keindahannya dan tentu saja mencari spot foto yang pas! Haha. Setelah dari Colosseum, ada sebuah kejutan menanti, kita ga sengaja ketemu bapak-bapak orang Indonesia yang ternyata tinggal di Roma dan kita ditraktir makan es krim di sebuah kafe sama dia. Omg. Seru banget cerita-cerita sama Bapak ini plus dia baik banget haha. Habis itu kita menuju ke Forum Romanum, reruntuhan bangunan kuno Italia dan Piazza Venezia untuk mengarah ke Fontana di Trevi. Fontana di Trevi, salah satu ikon kota Roma ini ternyata tempatnya cukup sempit, dibandingkan dengan ribuan turis yang berada di sana. Sumpah, crowded banget dan bikin pengen cepet-cepet cus dari situ.

Me in Colloseum ❤

Ditraktir bapak-bapak Indo yang ketemu di jalan

Forum Romanum

Piazza Venezia

Fontana di Trevi

Setelah itu kita menjelajah ke Spanish Steps dan Piazza de Popolo, main square besar khas Italia. Di Roma ini banyak banget Piazza alias square yang bisa dinikmati. Kitapun mengakhiri hari dengan makan pizza seharga 2 Euro. Meskipun murah, tapi pizza ini enyakk! Hihi.

Hari ke-3: Vatican dan Roma

Hari ini saatnya kita menjelajah ke Vatican! Vatican ini letaknya di jantung kota Roma dan untuk ke sana kita cukup menaiki subway. Pengamanannya sangat ketat, sebelum masuk Vatikan kita dan barang-barang harus discan terlebih dahulu. Untuk masuk ke dalam Basilica San Pietro, kita harus mengantri tetapi antriannya tidak cukup lama, karena ada 3 pintu yang dibuka. Tempatnya keren dan mevvah banget! Sayang kita ga sempet ke Vatican Museum karena keterbatasan waktu dan dana.

Garda Swiss di Vatikan

The stunning Vatican!

Basilica San Pietro  

Habis dari Vatican kita nongkrong dulu untuk makan es krim bersama dengan temannya Tichu, orang Italia. Setelah itu kita lanjut ke Castel Sant’Angelo, kastil cantik yang dulu sempat menjadi benteng dan kastil, namun sekarang sudah menjadi museum. Puas foto-foto di tempat ini dan jembatannya yang ciamik, kita berjalan kaki ke Piazza Navona yang letaknya sangat dekat dengan Pantheon.

Jembatan Sant’Angelo

Pantheon di kota Roma

Hari ke-4: Napoli-Pompeii

Pagi-pagi buta kita sudah menuju ke stasiun bus Tiburtina untuk melanjutkan perjalanan ke Napoli. Kita menggunakan Megabus Roma-Napoli seharga 8 Euro selama 3 jam. Tujuan kita ke Napoli adalah untuk melihat Pompeii, kota kuno yang sudah menjadi situs arkeologi dengan reruntuhannya akibat erupsi Gunung Vesuvius di abad 79 sebelum masehi. Kereta dari Napoli ke Pompeii sendiri harganya 3.20 Euro. Untuk masuk ke Pompeii dikenakan tiket seharga 11 Euro. Sebenernya trip ke Pompeii ini atas inisiatif dari Lina, karena dia dari kecil udah pengeeen banget ke Pompeii hihi.

Kawasan Pompeii ini sangat besar, jelas, hal itu karena Pompeii tadinya adalah sebuah kota. Banyak reruntuhan rumah dan patung dimana-mana dan membuat Pompeii menjadi sangat cantik. Kita menggunakan peta untuk bisa menjelajahi ke sudut-sudut Pompeii.

Patung yang sudah separuh hancur bersama runtuhnya kota Pompeii

Dengan background Gunung Vesuvius di kejauhan

Pilar-pilar yang tinggal separuh

Salah satu sudut kota Pompeii

Kami bertiga di Pompeii ❤   

Setelah dari Pompeii, kita melanjutkan perjalanan ke Venice. Kita menggunakan kereta Italo jurusan Napoli-Bologna (34.9 Euro) yang disambung dengan Bologna-Venice (15 Euro). Kita sampai di Venice saat sudah tengah malam dan kita pun langsung menuju tempat AirBnb kita, yang ternyata adalah hotel kecil alias Bed and Breakfast. Kita menginap di B&B The Caponi Bros, yang letaknya di Venice Mestre (52 Euro per malam untuk 3 orang). Kalo mau mencari penginapan di Venice, untuk menekan biaya, biasa mencarinya di Venice Mestre, karena harganya lebih murah daripada di Venice Central. Untuk menuju ke Central pun cukup mudah, hanya tinggal naik kereta seharga 1.5 Euro.

Hari ke-5 : Venice

Hari ini saatnya muterin Venice! Siapa sih yang ga tau Venice, kota yang disebut2 sebagai kota paling romantis di dunia. Kita pergi dari stasiun Mestre ke Central yang hanya membutuhkan waktu setengah jam. Di Venice ini kita tidak memiliki itinerari pasti, kita hanya berjalan saja mengikuti langkah kaki, dan mengecek Piazza San Marco, main square-nya yang sangat terkenal. Tadinya kita mau Island Hopping ke Burano, tetapi karena keterbatasan waktu, jadilah kita mengurungkan niat itu. Venice sendiri kotanya sangat cantiiiik! Ga heran dibilang kota paling romantis. Dimana-mana kanal dan bangunan warna-warni. Kotanya sendiri cukup kecil dan bisa dieksplor dengan jalan kaki. Di sini, kita memilih untuk tidak menaiki gondola karena harganya yang lumayan, tapi gue ga nyesel sih, kotanya aja udah bagus hihi. Beruntung gue ke sini bersama sahabat2 tercinta, karena destinasi ini kurang cocok kalo buat solo traveller hahaha.

Welcome to Venezia!

Gondola dan Venezia

Kanal dan bangunan warna-warni khas Venezia

Piazza San Marco

Duduk-duduk di pinggir kanal ❤

The happy memory ❤

Ciao, Bella! ❤      

Hari ke-6: Pulang

Liburan ke Italia pun berakhir. Tichu dan Lina akan menaiki pesawat pulang menuju Indonesia, sementara gue akan menaiki pesawat menuju Bordeaux dari Milan. Untuk ke Milan-nya, gue menaiki kereta Trenitalia dari Venice seharga 19 Euro.

Overall, gue sangat suka perjalanan gue ke Italia. Kota-kotanya cantik cantikkk dan Italia menjadi salah satu negara favorit gue di Eropa. Apalagi jalan-jalannya bareng sama sahabat, bikin trip ini makin berkesan. Ciao, Bella!

P.S:  Buat yang pengen jalan-jalan ke Italia dan takut/bingung jalan sendiri, bisa kontak gue ya. Gw menyediakan jasa tour guide lokal Italia berbahasa Indonesia. Terima kasih! 😀

Athena, Kotanya Dewa-Dewi

Wiih udah lama juga ya gue ga nge-blog. Terakhir Agustus yang lalu, mohon maap ya semuanya, gw kemarin habis sakit dan balik ke Indonesia jadi agak ga mood nge-blog gitu hehe.

Setelah cerita terakhir tentang Santorini, sekarang gue akan bercerita tentang ibukotanya Yunani yaitu Athena. Setelah mengalami turbulensi sepanjang perjalanan ke Athena, akhirnya sampai juga kita di Athena. Waktu itu waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi dan hujan deras, jadi kita memutuskan naik taksi bandara walau agak mahal (50 Euro untuk malam hari jam 00.00-05.00). Sebenernya bisa juga naik bis malam dari bandara menuju pusat kota Athena, tapi si Anin pengen naik taksi, yaudahlah gue ngikut aja.

Di Athena kita menyewa airbnb dengan harga yang sangat murah, 12 Euro semalam. Dan itu kamarnya bisa buat berdua, jadi satu orang cuma membayar 6 Euro. Kita sampe sana jam 3 pagi dan untungnya si pemiliknya masih bangun buat bukain kita pintu. Kamarnya cukup oke dan nyaman.

Keesokan harinya, kita bangun agak siang untuk mengeksplor Athena. Waktu kita untuk mengeksplor jadi berkurang karena kita extend 1 hari di Santorini. Si Anin cuma punya seharian penuh di Athena sementara gue punya 2 hari, karena kita beda flight pulang. Si Anin harus pulang lebih awal karena ada kuliah.

Destinasi pertama, apalagi kalau bukan Acropolis. Destinasi wajib kalau ke Athena, dengan simbol ikoniknya Parthenon, kuil kuno yang berada di tengah2 kota kuno berbenteng. Masuk ke dalam Acropolis ini gratis untuk pelajar Eropa. Untung kita udah tau dari sebelumnya kalo masuk semua tempat di Yunani itu gratis untuk pelajar Eropa, jadi ga perlu beli tiket dan langsung bilang aja kalau pelajar. Saat mulai mendaki ke atas Acropolis, kita akan bertemu dengan Odeon of Herodes Atticus, teater kuno setengah lingkaran yang terbuat dari batu-batu. Setelah itu, kita pun mendaki ke atas dan menjelajahi kompleks Acropolis yang sangat luas, termasuk di dalamnya Parthenon dan bangunan serta kuil-kuil kuno, yang semuanya ciamik. Rasanya bener-bener bisa ngebayangin waktu jaman dulu banget, waktu kuil ini masih berdiri kokoh dan katanya dihuni dewa-dewi.

Webp.net-resizeimage-21

Berpose di depan reruntuhan kuil Parthenon

Webp.net-resizeimage-22

Pemandangan dari atas Akropolis

Webp.net-resizeimage-23

Bersama Anin, my Greece travel mate!

Webp.net-resizeimage-24

Reruntuhan Kota Akropolis

Kita di situ menghabiskan waktu yang sangat lama, sampai beberapa jam karena tempatnya yang sangat besar. Kita juga sempet nyasar naik turun bukit saat mencari Tower of The Winds, yang akhirnya juga tidak ditemukan. Entahlah ada di mana itu obyek wisata. Puas mengelilingi Akropolis, kami menuju ke Plaka, pasar kece tempat dijual banyak barang-barang lucu khas Yunani. Kalo mau berbelanja di sini agak mahal, ada lagi tempat yang lebih murah yaitu di Monastiraki. Kita juga makan malam di salah satu resto di Plaka (Eh yang makan Anin doang deng, harganya ga pas sama budget gue jadi gue cari Gyros di pinggir jalan haha). Setelah itu kita mencari pasar di Monastiraki tapi karena sudah malam jadi sudah tutup, kitapun berjalan-jalan saja di area itu sambil gue mencari makan Gyros.

Webp.net-resizeimage-25

Plaka, tempat jualan suvenir dan banyak resto kece

Keesokan harinya, Anin pulang ke Paris sementara gue masih punya seharian untuk mengeksplor Athena. Penjelajahan hari ini dimulai dari Monastiraki, pasar besar di Athena yang harganya cukup miring, di sini gue membeli badge gambar bendera Yunani. Belakangan gue emang suka ngumpulin badge dari berbagai negara, emang udah telat sih, banyak yang udah gue kunjungin tapi ga kekumpul badge-nya. Rencananya badge tersebut mau dijahit di tas ransel atau di bantal kecil. Di sini juga gue makan Gyros, seperti biasa, kebab ala-ala seharga 3 Euro, makanan kenyang yang pas di kantong gue hahaha.

Webp.net-resizeimage-27

Monastiraki, pasar yang harganya cukup miring dibandingkan dengan Plaka

Webp.net-resizeimage-33

Gyros, my love

Setelah itu, gue menuju ke Hadrian’s Library, Roman Agora (Ternyata saudara-saudara, Tower of the Winds yang gue cari dari kemarin itu adanya di dalem sini, cape deh!) dan Ancient Agora of Athens, dimana terdapat reruntuhan kuil dan juga Agora Museum. Gw sempet masuk ke dalam museum itu, isinya sih kurang lebih patung-patung kuno yang terselamatkan dari kehancuran kota dan dijadikan koleksi museum. Di kawasan ini juga terdapat Temple of Hephaestus yang mirip Parthenon tapi lebih kecil. Puas menjelajah yang kuno-kuno, gue beralih ke Athens Cathedral yang cukup modern. Dari situ gue berjalan kaki menuju Syntagma, tempat berdirinya parlemen Yunani, yang dijaga oleh 2 serdadu dengan atraksi jalan-nya yang cukup menghibur. Setelah itu, gue duduk di National Gardens untuk beristirahat dan menikmati pemandangan. Di ujung taman, terdapat bangunan Zeppeion yang merupakan Exhibition Hall. Gue pun melangkah ke Temple of Olympian Zeus yang berada persis di seberangnya. Gue masuk ke temple ini yang tentu saja dengan cuma-cuma.

Webp.net-resizeimage-26

Salah satu sudut Hadrian’s Library

Webp.net-resizeimage-28

Beberapa koleksi di Agora Museum

Webp.net-resizeimage-29

Temple Hephaesteus, versi mini dari Parthenon

Webp.net-resizeimage-30

The Cathedral of Athens

Webp.net-resizeimage-31

2 Serdadu dengan atraksinya di depan Gedung Parlemen

Webp.net-resizeimage-32

Temple of Olympian Zeus

Waktu menunjukkan pukul 4 sore, gue ragu mau menikmati Acropolis Museum atau menuju ke Piraeus Port untuk melihat dermaga dan pelabuhan di ujung kota Athena. Akhirnya gue memutuskan untuk masuk ke museum dahulu, dan melihat bahwa waktunya masih ada, gue meluncur ke Piraeus Port yang letaknya cukup jauh di pinggir kota dengan menggunakan subway. Gue menemukan dua hal tidak menyenangkan saat perjalanan ke dan di Piraeus Port. Pertama, gue diliatin sama orang item di subway dan dia ngeliatin gue non-stop selama sekitar 15 menit tanpa memandang ke hal lain. Gue yang takut akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dari dia, pas turun subway dia juga masih liatin gue sambil menengok2 ke belakang, karena gue sengaja jalan jauh di belakang dia. Untungnya akhirnya dia menghilang. Hufff, ada-ada aja. Perjalanan ke Piraeus Port dari stasiun subway ternyata cukup jauh. Butuh sekitar 30 menit jalan kaki (atau lebih?) untuk sampai ke pelabuhan dan pantai. Pelabuhan dan pantainya ternyata biasa aja, kurang worth it untuk dijelajahi. Tapi ya namanya juga gue penasaran kan, kalo belum liat wujud aslinya ga akan berhenti haha. Di pelabuhan inilah gue bertemu dengan orang aneh kedua, orang (sepertinya) Yunani yang melihat gue dengan seksama dari kejauhan lalu mengikuti kemana gue pergi. Yaallah, serem bgt, akhirnya gue berhasil lolos dari tuh orang. Ada-ada aja. Malam pun tiba, dan gue pulang ke tengah kota sembari nyemil Greek Yoghurt di tengah jalan. Ternyata Greek Yoghurt ini asem, tapi dikasi madu untuk memberikan rasa manis.

Webp.net-resizeimage-34

Pelabuhan Piraeus

O iya, untuk transport di Athena ini sebenernya mudah, terdapat subway dan juga bus. Tapi untuk bus, agak tricky, karena semuanya menggunakan alfabet Yunani tanpa ada terjemahan latinnya. Jadilah gue cuma mengandalkan aplikasi transportasi dan mengingat-ingat tempat pemberhentian dengan menggunakan alfabet Yunani.

So, thank you Greece! You are unforgettable! :*