40 Hari di Eropa Tengah: Berlin

Setelah mengalami kesialan sebelum naik bis dari Bonn ke Berlin, akhirnya sampai juga gue di Berlin jam 7 pagi tanggal 30 Agustus 2016. Gue turun di Berlin ZOB (Zentral Omnibus Bahnhof) yang sangat luas, tempat pemberhentian bus-bus dari dan menuju Berlin. Gue harus menunggu temen gue si Jeanne, yang baru akan datang jam 11 pagi. Jeanne adalah salah satu temen kuliah gue di Sastra Prancis UI, dia ke Polandia dalam rangka seminar dan kursus bahasa musim panas selama 1 bulan. Di akhir perjalanannya, dia menyempatkan liburan sama gue di Berlin selama 4 hari. Jeanne berangkat dari Praha ke Berlin, karena dia habis jalan-jalan di Praha.

Empat jam menunggu di terminal bus adalah waktu yang cukup lama, ditambah tidak ada wifi di tempat tersebut. Gue yang masih dalam keadaan ngantuk, sempat tidur beberapa kali di bangku terminal bus. Sempet juga bolak balik ke WC dimana sekali masuk bayar Rp 7500 (alias 50 cent). Agak susah memang travelling sendirian, bawa backpack yang cukup besar dan harus bolak balik ke wc dengan membawa backpack ke dalam wc, ga bisa nitip terus minta jagain gtu maksudnya. Tapi gapapa lah, asal lantai wc ga kotor.

Waktu menunjukkan pukul 11 lewat, akhirnya bis Eurolines yang dinaiki Jeanne datang juga. Gue jemput dia di depan bus, kita pun berteriak kegirangan bisa bertemu satu sama lain, setelah 1 tahun tidak berjumpa. Gue selalu senang bertemu teman (baik) dari Jakarta, yang sedang travelling ke Europe. Rasanya bahagia banget, ketemu temen lama, bisa cerita segala hal kisah kehidupan gw di Prancis selama ini, dan bisa nostalgia macem-macem. Hmm.. I think I miss Jakarta a lot 😛

Kami pun makan siang terlebih dahulu di restoran Cina sebelah halte bis. Sebenernya gue ga makan sih, karena harga makanannya di atas 5 Euro. Jadi Jeanne saja yang makan, gue makan burger McD 1 Euro saja setelah menemani Jeanne makan. Kasian ya? Hahaha. Yah emang gtu cara pengiritan ala gue. Hampir ga pernah gue membeli makanan di atas 5 Euro saat sedang travelling ke luar negeri. Kalo ada makanan 1 Euro, ngapain beli yang mahal? Haha.

Selepas dari terminal bis, kami langsung menuju ke rumah host couchsurfing di Berlin yang sudah saya pesan dari sebulan sebelumnya. Kebetulan gue dapet host orang Indonesia. Bukan kebetulan sih, emang nyarinya orang Indonesia biar kemungkinan diapprovenya lebih besar. Rumah host gue ini ga di pusat kota Berlin tapi bisa diakses dengan menggunakan S-Bahn, masih di zona 1, nyaris masuk ke zona 2 haha. Host gue namanya Atika, dia udah 11 tahun tinggal di Jerman, dari sejak kuliah sarjana sampai sekarang dia lagi PhD. Keren yak? Dia punya kucing lucu yang namanya Pedro. Habis sampai di rumahnya, taruh barang-barang dan ngobrol beberapa saat, gue dan Jeanne pun jalan menuju pusat kota Berlin, untuk makan sore di tempat hits yang namanya Burgermeister (terletak di Jalan Oberbaumstrasse, U1 stop-Schlesisches Tor). Di sini dijual burger (dan kentang) dengan harga 4-5 Euro. Tempat ini sangat terkenal, sampai-sampai pas kita datang antriannya panjang banget. Tempatnya berupa kios kecil, di dekat stasiun U-Bahn. Kios ini menyediakan beberapa meja di luar gue dan Jeanne mencari taman terdekat untuk duduk-duduk sambil makan. Kami memesan yang paling populer, Meistaburger, rasanya enak, si Jeanne sampe pengen makan ini lagi besok-besok. Haha. Habis makan, kita menyambangi Brandenburger Tor, gerbang ikonik khas kota Berlin dan juga Reichstag Building, gedung parlemen di Berlin. Sebenernya kita bisa naik ke atas Reichstag untuk melihat Berlin dari atas dengan gratis.Tapi gue dan Jeanne memilih untuk duduk-duduk saja di taman depan Reichstag sambil menikmati senja.

img_3361

Kedai Burgermeister tampak depan

img_3364

Burger-burger kami :9

1469916712309

Bersama Jeanne di benteng ikon kota Berlin. Yippie!

img_3399

Reichstag Building

Setelah itu kami menuju Alexanderplatz, salah satu pusat nongkrong anak muda Berlin, dimana sedang ada bazaar yang menjual makanan dari berbagai negara. Si Jeanne membeli cemilan, lalu kita juga membeli sereal untuk sarapan esok harinya di supermarket DM dekat situ. Di Alexanderplatz ini juga terdapat menara pemancar Berlin Tower dan Galeria (semacam pusat perbelanjaan kecil). Lalu kamipun pulang dan beristirahat di rumah Atika.

img_3404

Berlin Tower di Alexanderplatz

Keesokan harinya, kami memulai perjalanan dengan mendatangi Holocaust Memorial, sebuah tempat peringatan untuk para korban Yahudi yang dibantai saat Holocaust yang dilakukan oleh Nazi. Tempatnya sendiri terdiri dari kotak-kotak berwarna abu-abu dengan berbagai ukuran. Para turis dilarang naik ke atas kubik-kubik ini, mungkin takut rusak. Kami menyimpulkan, dengan adanya tempat ini dan tempat lain yang menceritakan soal Nazi dan Yahudi, Jerman tidak malu mengakui sejarah bangsanya yang kelam. Habis itu kita makan siang hotdog (lagi) di dekat situ. Perjalanan berlanjut ke Tiergarten, taman yang sangat luas di sebelah Holocaust Memorial. Keluar dari situ, kita tak sengaja menemukan Soviet War Memorial, salah satu tempat ingin dikunjungi oleh Jeanne. Terus menyusuri jalan, kamipun sampai di Berlin Victory Column, sebuah monumen tinggi untuk memperingati kemenangan Prussia dalam Perang Denmark-Prussia. Setelah itu kami berjalan kaki ke Bellevue Palace, tempat kediaman presiden Jerman sejak tahun 1994. Setelah berfoto-foto di luar, kami menaiki bis nomer 100 menuju Kaiser Wilhem Memorial Church. Katanya, kalo kita tidak punya banyak waktu, kita bisa menaiki bis nomer 100 ini keliling Berlin, karena rutenya melewati banyak tempat wisata di sini. Gerejanya sendiri sangat unik, karena terlihat hanya setengah bangunan dan tidak utuh. Konon katanya, separuh gereja ini runtuh saat pengeboman Berlin di Perang Dunia ke-2. Runtuhan ini dibiarkan begitu saja seperti adanya sehingga menjadi tujuan wisata sampai saat ini. Di sebelahnya, dibangun gereja yang baru, yang lebih rendah dan sangat modern. Tempat ini yang sekarang digunakan untuk misa.

img_3427

Holocaust Memorial, bentuknya unik dan cukup fotogenik

img_3431

Soviet War Memorial, ga sengaja nyampe sini

img_3442

Bellevue Palace

img_3446

Kaiser Wilhem Memorial Church yang sebagian runtuh terkena bom di Perang Dunia II

Kamipun melanjutkan perjalanan ke Potsdamer Platz, jantung kota Berlin dimana banyak pusat perkantoran dan gedung-gedung modern. Saat itu hujan, dan kami berteduh di museum Dali. Kami menemukan bahwa di dekat situ ada Spy Museum, Jeanne yang demen banget sama dunia mata-mata dan detektif, pengen mampir ke sana. Yasudah, dia masuk ke dalam sementara saya duduk di luar menunggu dia di lobby. Setelah itu, kami mampir ke Pizza Hut untuk makan malam, lalu ke Sony Center. Salah satu pusat perbelanjaan yang futuristik. Jujur sih, tempat ini gak kaya gambar2nya di google. Biasa banget tempatnya haha. Di sini kami bertemu dengan Atika untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Checkpoint Charlie bertiga. Checkpoint Charlie adalah salah satu tempat tujuan wisata terkenal di Berlin. Tempat ini tadinya merupakan perbatasan Jerman Barat dan Jerman Timur, setiap individu yang lewat akan dicek oleh polisi perbatasan. Masih berbau sejarah, kami menuju ke Eastside Gallery, sisa tembok berlin yang berada di sebelah timur dan penuh dengan grafiti dan gambar-gambar yang unik. Sangat cocok dijadikan background foto. Sayang sekali, hujan mulai turun saat kami di tempat ini. Hujan makin lama makin deras, dan terjadilah hujan badai. Wow! Kami berjalan cukup jauh sampai akhirnya menemukan stasiun U-Bahn. Ga nyangka bakal ada hujan badai di musim panas yang seharusnya cerah. Payungnya si Jeanne pun sampai rusak karena terpaan angin kencang. Baju kami sudah basah semua, payung saja tak cukup untuk menahan hujan angin. Akhirnya sampai juga kita di stasiun U-Bahn dan langsung pulang ke rumah.

1470002723819

Checkpoint Charlie bersama Jeanne dan Atika

img_3480

Kehujanan di Eastside Gallery -sebelum payung Jeanne rusak

1 Agustus, awal dari bulan baru, hari ketiga kami menjelajahi Berlin. Ini adalah hari terakhir saya travelling sama Jeanne karena keesokan paginya dia harus sudah kembali ke Polandia untuk pulang ke Jakarta. Seperti biasa, kami tidur sampai siang dan baru berangkat saat menuju makan siang. Kami makan di kedai bernama Konnopke’s Imbiss (U stop Eberswalder Strasse), salah satu tempat yang juga sangat terkenal. Kedai ini menjual snack khas Jerman, currywurst! Currywurst dan kentang dibanderol dengan harga 3.5 Euro.Rasanya enak! Perut kenyang, kamipun melanjutkan petualangan di kota penuh sejarah ini ke Berlin Memorial Wall. Di tempat ini kita bisa melihat sisa tembok Jerman di sebelah utara. Temboknya cukup panjang, ada beberapa bagian yang temboknya sudah tidak ada dan hanya tinggal pilarnya doang. Di sini banyak cerita mengenai sejarah Jerman Barat dan Jerman Timur, dalam bentuk suara. Juga ada salah satu komplek pemakaman yang sempat dipindahkan karena dibangun tembok Berlin. Di sebelahnya terdapat gedung dimana kita bisa melihat tembok Berlin dari atas dan bisa juga melihat menara pos penjagaan tentara Jerman yang dulu digunakan sebagai tempat para tentara memantau siapa saja yang nekat memanjat tembok Berlin untuk menyeberang dan langsung menembaknya di tempat saat itu juga. Kebayang gue betapa ngerinya.. Masih soal tembok Berlin, Jeanne, yang suka banget sama sejarah, cerita sebuah kisah dimana seorang mahasiswa PhD memiliki rumah di Jerman Barat dan kampusnya di Jerman Timur, di hari saat dia  harus sidang disertasi, tembok Berlin mulai dibangun, diapun tak bisa lagi pergi ke kampusnya yang berada di Jerman Timur. Kebayang sedihnya jadi itu anak..

img_3496

Tampak depan kios Konnopke’s Imbiss, sepertinya salah satu tempat jualan currywurst tertua, sejak 1930 bo!

img_3497

Currywurst-enak, murah dan kenyang

img_3500

Sisa-sisa tembok Berlin

img_3588

View landscape tembok berlin-terdiri dari 2 lapis tembok, di tengahnya ada menara pemantau. Yang berani lewat, langsung ditembak!

img_3558

Katedral Berlin dan kanalnya

img_3580

Katedral Berlin

Selesai ke tempat-tempat bersejarah, kami menuju Alexander Platz untuk berjalan ke arah Berlin Cathedral dan sekitarnya. Katedral Berlin atau Berliner Dom ini sangatlah bagus, dia dikelilingi kanal. Sayang, untuk melihat bagian dalam katedral dipungut biaya, jadilah kita tidak masuk. Di belakang katedral ada sebuah komplek museum yang disebut Museum Island, terdiri dari Old Museum, New Museum, Old National Galery, Bode Museum dan Pergamon Museum. Sementara di sebelah kanan katedral, dipisahkan oleh kanal terdapat Museum DDR, museum interaktif yang menunjukkan cara hidup masyarakat Jerman Timur saat masih dipisahkan oleh tembok Berlin. Kita bisa merasakan bagaimana jadi orang Jerman Timur dengan berbagai game dan pameran menarik di museum tersebut. Sayang, gue tidak masuk ke dalam. Hanya Jeanne saja yang masuk. Tadinya Jeanne dapat info dari temannya kalau DDR Museum adalah museum militer, makanya gue ga mau masuk dan memilih menunggu di luar. Eh, setengah jam setelah Jeanne masuk gue iseng2 liat lobby museum itu dan gue baru tau kalo itu museum menceritakan kehidupan orang Jerman Timur. Tau gitu gue mau masuk ke museum itu! Huff! Masuk sekarang juga udah telat, takutnya malah ga ketemu Jeanne dan berujung cari-carian. Yaudahlah, mungkin next time..

Rasanya hampir semua tempat populer telah kami jelajahi, kami pun memutuskan menutup hari dengan naik bis 100 dari Berliner Dom untuk memutari kota Berlin sampai ujung (Botanical Garden) dan kemudian kembali lagi ke ujung satunya di Alexander Platz.

Overall, perjalanan di kota Berlin ini sangat menyenangkan, gue belajar banyak sejarah di kota ini. Dari sejarah nazi, holocaust dan juga pemisahan Jerman Barat dan Jerman Timur. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, dan terbayang betapa mengerikannya saat itu, saat semua pembantaian tersebut terjadi. Saya beruntung jalan di Berlin ditemani oleh Jeanne, karena dia penggila sejarah, dia menceritakan banyak hal tentang sejarah Jerman yang tidak saya tahu. Dan menjadikan saya semakin suka kota ini.

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

 

Advertisements

Travelling ke Barat Jerman (3): Bruhl-Cologne

Setelah menjelajah Bonn kemarin, hari ini gue akan meninggalkan Bonn dan rumah Laura yang hangat hahahahha. Agenda hari ini adalah ke satu kota yang namanya Bruhl, yang letaknya antara Cologne dan Bonn, dimana ada Augustusburg Palace, salah satu istana warisan UNESCO, kemudian balik ke Cologne dan jalan-jalan di sana sambil nunggu Megabus pulang ke Mulhouse jam 10 malam.

Augustusburg Palace ini letaknya persis di depan stasiun kota Bruhl. Dari luar keliatan banget bentuknya simetris, macam istana-istana Prancis. Istana ini bergaya Rococo dan disebut2 sebagai salah satu istana Rococo yang pertama dibangun di Jerman. Untuk masuk ke dalam gue harus membayar 5 Euro (harga pelajar). Begitu masuk ke dalam.. Jreng jreng jreng! Istananya bagus bangettt! Pantes ga boleh motret (oops, ketawan deh gue motretnya diem2). Istana ini dibangun dengan mandat dari Elector dan Uskup Cologne Clemens August pada tahun 1725. Ceritanya memang dia menghambur-hamburkan duit banget buat ngebangun istana ini. Langsung aja intip fotonya ya!

IMG_4316

IMG_4327

IMG_4331

Di luar, ada taman gede banget yang bentuknya juga simetris. Katanya taman ini dibangun oleh salah satu murid dari arsitek taman di Istana Versailles. Keren ! Pas jam makan siang, gue makan dengan bekal dari Laura, tongseng ! Hahahhaa. Indahnya dunia, bisa makan makanan Indonesia beberapa hari ini. Makasih Laura! :* (ssstt.. Laura ini punya catering loh di Bonn, yang ada deket situ dan kangen makanan Indo, mungkin bisa kontak dia hahahhaha). Sayangnya acara makan di pinggir taman ini kurang begitu nikmat, karena diganggu oleh angin kencang yang bikin gue kedinginan. Hahaha. Gue pun segera cus setelah selesai makan. Gue kemudian muterin taman yang segede alaihim. Sempet pengen ke rumah tempat Augustusburg berburu dan memanah buruannya juga, tapi jaraknya agak jauh dari taman tersebut.

IMG_4337

IMG_4350

Tongseng!!

IMG_4369

IMG_4391

Puas di istana Augustusburg, yang menurut gue recommended banget, gue pun menuju Cologne untuk menjelajah Cologne, sekali lagi..

Sampai di Cologne, gue melewati Katedral lagi, yang tepat berada di samping stasiun Cologne, kemudian jalan-jalan ke pusat kota yang juga terdapat kota tua. Tujuan pertama adalah melihat Museum Tina Farina, orang yang membuat Eau de Cologne. Sayangnya hari itu tidak ada kelompok tur berbahasa Inggris, adanya Bahasa Jerman, jadi ga bisa menjelajah museumnya. Untuk masuk museum ini kita harus mengikuti kelompok tur yang sudah ditentukan jamnya setiap harinya. Ga boleh main ngeloyor masuk gitu sendirian. Di bagian depan museum, dijual berbagai pernak Pernik dan tentunya Eau de Cologne. Asli ! Masih dari bahan yang sama yang dibuat oleh penemunya, si Farina ini. Btw, Farina ini cowok loh, kaya cewe ya namanya! Hahahha.

Selain Farina, ternyata di sini ada juga Eau de Cologne lain yang cukup besar. Bisa dibilang dia meniru Farina, tapi karena beda jenis, ga tau juga sih bisa dibilang meniru apa ga. Yang jelas gedungnya lebih gede dan modern daripada si museum Farina, makanya keliatan dia yang lebih menonjol.

IMG_4417

Old city

IMG_4422

Farina Museum

IMG_4425

Farina Museum, eau de cologne di mana2

IMG_4436

Rhein river

IMG_4413

Habis itu gue ngider-ngider lagi di pusat kota sambil makan french fries ala German ! Hahahha. Bisa dibilang french fries ini porsinya cukup besar, sampe gue ga abis dalam sekali makan. Hahahha.

IMG_4431

Perjalanan pun dilanjutkan ke Old Town kemudian ke sungai Rhine lagi. Di sepanjang sungai Rhine ada bangunan warna warni yang cakeppp banget hihi. Sebenernya itu adalah restoran, tapi bangunannya kece banget dan Instagram-able. Haha.

IMG_4437

Colorful house near the river

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 dan gue udah cape jalan-jalan. Megabus masih 3 jam lagi, bengong di depan sungai Rhine juga ga mungkin, karena udaranya dingin mampus. Akhirnya gue memutuskan melipir ke Coffee Bean buat menghangatkan diri, ngecharge sekaligus nge-wifi. Hahahha. Btw, toilet di Coffee Bean ini ada kodenya. Dan kita dikasih kode sama Baristanya saat melakukan transaksi pembelian. Hal ini untuk mencegah sembarang orang pipis gretongan di sana hahahah. Boleh juga idenya!

Akhirnya setengah 10 tiba! Gue pun berjalan ke arah halte Megabus untuk pulang ke Mulhouse. Auf Wiedersehen Germany! 😀 😀

IMG_4448

Travelling ke Barat Jerman (2): Bonn

Setelah menjelajah sedikit Cologne dan Dusseldorf, hari Minggu, 20 September 2015, gue menjelajah Bonn. Berhubung ini hari Minggu, jadilah gue jalan-jalan ditemani Laura.

Hari itu kami makan siang empal gepuk buatannya Laura. Rasanya, beuh, enak! Hahhaa. Udah lama ga makan makanan Indonesia, ketemu lagi rasanya super menyenangkan! Habis itu kita pergi ke Istana Drachenfels yang letaknya ada di Bonn.

IMG_4139

Empal gepuk buatan Chef Laura

ISTANA DRACHENFELS

Tempat ini dapat dijangkau dengan kereta dalam kota (entah tram apa subway, bisa di bawah tanah tapi bisa di atas juga hahahha). Di kereta ini kita ketemu sama bapak-bapak Jerman yang bisa Bahasa Indonesia. Denger kita ngomong, dia langsung nyamperin, dan ngajak ngobrol dengan Bahasa Indo seadanya. Ternyata dia pernah tinggal di Bandung beberapa tahun dan anaknya bahkan sekarang masih di sana. Ga berapa lama kemudian, kita berpisah dengan bapak-bapak itu dan turun di stasiun koenigswinter. Dari situ kita jalan dikit ke stasiun kereta Drachenfels. Akses menuju ke istana yang letaknya di atas bukit bisa ditempuh dengan berbagai cara, dari jalan kaki, naik sepeda atau naik kereta. Tentunya gue milih yang terakhir hahaha, naik kereta. Jadilah kita membeli tiket kombo, yang mencakup kereta dan juga tiket masuk istana, harganya 16 Euro. Mahal sih, tapi sekali-kali gapapa (kaya gini mulu nih kalo jalan-jalan, mikirnya selalu kapan lagi ke sini, tapi habis pulang liburan nangis darah liat rekening hahaha).

Kereta Drachenfels ini bentuknya ucuk! Kereta ini memiliki beberapa perhentian, kita bisa turun di istana yang letaknya agak di tengah, atau bisa juga turun di reruntuhan kastil yang letaknya di atas bukit. Pertama gue naik dulu ke reruntuhan kastil. Dari situ kita bisa liat kota Bonn dari atas, yang dibelah oleh sungai Rhein. Pemandangan dari sini cakepp banget, sayang waktu itu lagi berkabut.

P1100234

Kereta kecil naik ke atas Drachenfels

P1100211

Reruntuhan kastil Drachenfels. Kalo diliat dari jauh bagus nih, sayang musti naik helikopter dulu 😛

P1100227

Masih di reruntuhan

P1100216

Kota Bonn dari atas Drachenfels

P1100223

Masih cengar cengir. Habis ini manyun kameranya rusak.

O ya, di kastil ini ada peristiwa menyebalkan, yaitu kamera gue rusak kena ujan! Huhuhu. Kamera lumix kesayangan gue rusak. Ga sampe rusak parah sih, tapi tulisannya zoomnya error. KZL. Baru di negara pertama eurotrip aja udah rusak huhu.

Habis dari reruntuhan kastil, kita naik kereta lagi turun ke bawah, tempat istana utuhnya ada. Istana ini juga bagus banget, apalagi ada taman di bagian luar istana, yang bikin warna warni dan juga tambah cantik!

IMG_4200

Istana Drachenfels dilihat dari taman

IMG_4193

Cakep yak!

IMG_4191

IMG_4196

Eh, ada Laura!

Dari sini kita turun ke bawah jalan kaki ke museum reptil. Museumnya sih sebenernya biasa aja. Tapi ya lumayan lah, daripada lumanyun hahahha. Habis itu kita pun turun ke bawah untuk pulang.

Habis dari istana, kita sempet jalan-jalan ke pusat kota bentar, lalu makan malam dengan kebab! Hahaha. Makanan anak kosan Eropa banget tuh, Kebab! Kebab di sini beda sama doner kebab di Indo, daging dan sayurnya lebih banyak. Pokoknya makan itu aja udah kenyang deh. Harganya berkisar di 4 Euro.

Usai makan kebab, kita pulang. Pulang-pulang, gue ngerendem kamera di beras, berharap airnya bakal masuk ke beras dan kameranya betul lagi T__T

Hari Senin, 21 September (gue masih libur loh!), gue menjelajah kota Bonn sendirian, karena Laura kerja. Kota Bonn ini disebutnya Kota Beethoven, karena Beethoven lahir dan besar di sini, sebelum dia pergi ke Austria. Bahkan di kota ini juga ada festival of Beethoven, yang spanduknya ada dimana-mana pas gue ke sana.

Tujuan pertama gue hari itu adalah Godesburg. Godesburg ini kastil juga, tapi tinggal menaranya doang, jauh lebih kecil daripada Drachenfels. Gue ke Godesburg dulu karena itu yang paling jauh dari tengah kota, sementara obyek wisata lain ada di tengah kota. Nyari ini kastil susahnya ampun, mana gue ga ada GPS kan, ga mau roaming. Akhirnya ketemu juga jalan menuju kastil ini, yang adalah tangga batu ditengah hutan. Mana sepi. Jalan 10 menit, keliatan kuburan. Kanan gue kuburan ala Eropa gitu, yang cakep, tapi tetep aja serem. Mana sendirian pulak. Akhirnya sampai juga di menara itu. Bagus sih dari luar, tapi gue males naik tangga ke atasnya, cape, mana ga ada orang hahaha.

IMG_4239

Godesberg. Entah kenapa ini obyek wisata sepi banget, mungkin karena itu hari senen pagi.

Habis dari Godesburg, gue ke taman gedeeee banget, trus melipir ke pinggir sungai Rhein buat makan siang! Hahaha. Kali ini bawa bekal ayam penyet buatannya Laura! Walaupun sambel terasinya pake terasi ABC tapi tetep aja… Nyammm..

IMG_4245

Makan ayam penyet di tepi sungai Rhine. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?

Selesai makan, gue kembali menyusuri taman dan menemukan taman kecil bergaya jepang yang bernama Japanische Garten, tamannya terawat banget, dengan daun-daun berbentuk bulat lonjong yang dipotong secara teratur (waktu gue ke sana ada amang-amangnya lagi motong daun). Gue menuju ke pusat kota dengan melalui Post Tower dan Kantor PBB yang tinggi menjulang. Pas lewat situ berasa agak aneh karena semua orang berpakaian rapi sementara gue keliatan banget turisnya hahaha. Jalan terus, gue menyusuri sungai Rhine lagi sambil sekali sekali duduk kecapean sampe ke pusat kota.

IMG_4259

Japanischer Garten

IMG_4257

Japanischer Garten

IMG_4264

Yang kiri Post Tower, yang kanan gedung PBB

Sampe pusat kota, gue ngelewatin Universitas Bonn yang bangunannya kece berat. Terus gue duduk-duduk di taman depannya. Taman tersebut menghadap Akademische Kuntsmuseum. Gue kalo jalan-jalan sendirian kerjaannya melipir duduk duduk mulu. Antara pegel sama pengen menikmati perjalanannya. Hahahha. Habis itu gue ke gereja yang bernama Bonn Minster dan kemudian berlabuh di depan patung Beethoven gede banget di tengah kota. Di depan patung ini ada kantor pos gede yang warnanya ucuk.

IMG_4274

Universitat Bonn

IMG_4276

Asik ya bisa duduk duduk di taman depan kampus

IMG_4286

Bonn Minster yang lagi sedikit direnovasi

IMG_4290

Ada benteng-bentengan lucu di tengah kota

IMG_4289

Bonn, City of Beethoven

Habis itu gue ke Beethoven Haus alias museum Beethoven. Nyari ini museum susah bener, karena tempatnya kecil dan ga mencolok mata. Di museum ini ada barang-barang peninggalan Beethoven dan juga kisah perjalanan hidupnya beliau. Sayangnya semua keterangan di museum ini berbahasa Jerman (point yang perlu dicatat, museum di Eropa kecuali yang terkenal banget, pake Bahasa negaranya masing-masing dan tidak diterjemahkan dalam Bahasa Inggris). Mereka ada kasih brosur Bahasa Inggris mengenai ruangan-ruangan dan benda-benda koleksinya sih, tapi ga selengkap penjelasan Bahasa Jerman di masing-masing bendanya. Di museum ini juga ada ruangan digital tempat kita bisa mendengarkan karya-karya Beethoven di computer.

IMG_4298

Beethoven House

IMG_4296

Salah satu piano yang pernah dimainin Beethoven

Puas liat museum dan muter-muter pusat kota, gue ke arah sungai Rhein lagi sambil menunggu Laura pulang kantor. Karena tiba-tiba hujan, gue melipir ke salah satu space taman yang ada atapnya. Dan di situ gue melihat pelangi, tepat di atas sungai Rhine. Cakep bangetttt! Indahnya karya Tuhan yang satu ini.

IMG_4302

Rainbow over the Rhein

To be continued..

Travelling ke Barat Jerman (1): Cologne-Dusseldorf

Dulu waktu masih di Indonesia, gue udah mulai ngecek tiket tiket keliling Eropa. Kira-kira gue bisa ke mana ya dari kota gue. Hahaha. Dan ternyata, gue bisa ke beberapa kota dari tempat gue tinggal, Mulhouse. Ga nyangka juga sih, soalnya kan Mulhouse ga populer-populer amat. Malah kota yang lebih populer suka ga ada bus ke kota-kota lain haha.

Jadi, Mulhouse ini letaknya di perbatasan Prancis, Swiss dan Jerman, makanya banyak bus yang suka lewat situ, untuk ke kota lain di Eropa. Salah satunya adalah Megabus. Megabus ini adalah perusahaan bis Eropa dengan harga mulai dari 1 Euro. 1 EURO? Kapan lagi bisa keliling Eropa dengan harga segitu, wong naik tram satu kota aja one way 1.5 Euro hahahha.

Dan Megabus ini punya trayek Mulhouse-Cologne (Jerman). Gue langsung seneng banget, karena gue punya temen di deket situ, di Bonn. Bahkan sebelum gue berangkat ke Prancis, gue udah merencanakan destinasi pertama gue, yaitu Cologne dan Bonn. HAHAHA.

Jadilah di weekend di minggu kedua gue kuliah di Prancis gue langsung ke Cologne, tepatnya tanggal 18 September 2015. Pas banget tuh, lagi stress-stressnya kuliah, dengerin dosen ngomong Bahasa Prancis cepet banget (Iya, kuliah gue pake Bahasa Prancis! Pusing pala barb!) plus temen-temen yang susah banget dideketin (beda banget sama Indo bo!) dan tugas yang udah lumayan numpuk.

Gue memesan tiket jam 23.45 dari depan Stasiun Mulhouse menuju Cologne naik Megabus. Malam amat yak? Iya itu salah satu minusnya naik bus murah, jamnya dipasang di jam-jam ga nyaman buat bepergian. Waktu itu gue ga dapat tiket 1 Euro, dapatnya 5 Euro. Tapi mayan banget lah, jadi 10 Euro PP! Haha. Naik kereta yang jaraknya cuma setengah jam aja ga dapet segitu. Haha.

Jam 23.30 gue udah siap depan halte. Di tengah dinginnya cuaca Prancis. Kalo di Indonesia enak ya, malam-malam juga udaranya ga dingin dingin amat, lah di sini? Hahaha. Di luar 10 menit diem aja udah kedinginan. Gue tunggu sampai 23.40, kok bisnya ga ada-ada, mana ga ada orang lain yang nunggu di situ. Apa jangan jangan gue salah halte? Hmmm. Tiba-tiba gue teringat pengalaman temen gue yang Megabusnya telat, bahkan pernah sampai ga dateng. Mati. Ga kebayang kalo tuh malam bisnya ga dateng. Sempet juga baca forum ada yang megabusnya telat 5 jam @_@

Akhirnya gue telpon aja CSnya, mana CSnya basenya di London kan, kena international call deh. Dan CSnya bilang “Megabusnya telat 1 jam.” Doeng! Kesel sih tapi seenggaknya ga dicancel hahahaha. Oke, gue masih nunggu aja di halte yang sama. Kedinginan. 15 menit kemudian, ada orang minta-minta dateng, dia tanya “Kamu punya koin ga? Aku belum makan 3 hari.” Ah elah. Tempat sepi gini, ada aja. Karena gue takut gue kasi aja koin gue. Di Prancis ini emang banyak orang minta-minta, tapi mereka selalu ga keliatan kaya orang minta-minta. Bisa aja ada orang tiba-tiba nyamperin lo di jalan terus minta duit. Sebenernya sih tinggal bilang aja “ga ada” terus mereka pergi, belum pernah sih nemu yang maksa gitu (jangan sampe juga..) cuma kalo tempatnya gelep ya ngeri lah. Huhu.

Habis itu, gue berpikir buat masuk aja ke dalam stasiun, tapi gue takut gue ga bisa liat megabus dateng kalo nunggunya di dalem stasiun. Terus gue celingukan liat halte lain deket situ, eh ternyata ada cewe 1, gue samperin aja sok kenal, ternyata dia nunggu megabus jg. Alhamdullilah! Ada temennya! Akhirnya sisa menunggu selama 30 menit dihabiskan dengan ngobrol sama nih cewe yang ternyata orang Spanyol. Haha. Ga berapa lama ada juga cowok yang nunggu (dan kita ternyata pernah ketemu di couchsurfing meeting!) dan jadilah kita ngobrol bertiga.

Kira-kira jam 00.45 bus yang ditunggu dateng juga! Huahhh… senangnya! Langsung kita bertiga berlarian ke bus itu. Nunjukkin tiket, terus duduk di tempat yang pewe. Kalo busnya lagi ga rame, bisa tuh 2 kursi kita pake sendirian, kaya waktu itu. O ya, meski murah, tapi bis ini juga dilengkapi wifi, colokan (ga semua kursi ada) dan WC (sayangnya waktu itu lagi rusak). Mayan lah. Walaupun manyun juga nunggu 1 jam di udara dingin hahahha.

Habis itu gue pun istirahat, sambil kadang-kadang melek, liat udah nyampe mana. Karena ini perjalanan ke luar Prancis gue yg pertama, gue excited banget. Ini bis sempet berhenti ngangkut penumpang di Freiburg, Frankfurt dan beberapa kota lain di Jerman. Selain excited, gue juga ngeri sih, karena saat itu residence permit gue belum keluar hahahha. Nekad ya, belum punya residence permit tapi udah keluar Prancis. Tapi dari semua anak yg udah nyoba, belum ada yang ketangkep sih. Border di sini emang penjagaannya ga ketat, kecuali di beberapa titik rawan.

Setelah perjalanan 8 jam, akhirnya jam 9 pagi kita sampai juga di COLOGNE! Hahahhaa. Hore! Halte yang di Cologne ini bener-bener di tengah jalan, ga deket stasiun, jauh dari pusat kota dan ga ada tempat duduknya. Gila! Hahaha. Sesampainya di sana, gue janjian mau ketemuan sama temen gue Laura, terus kita berdua mau ketemu temannya di Dusseldorf. Tadinya gue sempet mau naik blablacar (apa lagi tuh Blablacar? Tenang, nanti gue akan buat cerita sendiri tentang blablacar) ke Dusseldorf biar murah dibanding kereta, tapi karena blablacarnya ga dapet, akhirnya gue naik kereta aja bareng Laura dari Cologne.

Penampakan megabus. Bus 1 Euro-an.

Sambil menunggu Laura yang keretanya gangguan dari Bonn (iya, kereta di Eropa juga banyak gangguan macam KRL!), dari tempat nunggu bus gue jalan ke pusat kota, ngelewatin sungai Rhein (sungai yang membelah Jerman bagian barat) dan berujung di Katedral Cologne, yang sebelahan sama stasiun utama (bahasa Jermannya Hauptbahnhof). Katedral Cologne yang terkenal ini bener-bener bergaya gothic dan menimbulkan kesan mistis gimana gitu. Hihi.

P1100101

Sungai rhein di Cologne

P1100108

Katedral Cologne bergaya gothic

P1100109

Dari samping. Langitnya gloomy amat yak!

P1100111

Love lock di jembatan dekat Hauptbahnhof

Setelah muterin ini katedral, akhirnya Laura pun datang! Horeeee! Ga nyangka akhirnya bisa tinggal di Eropa ngikutin nih anak. Laura itu temen SMA gue, dari dulu dia suka banget sama Jerman, sementara gue suka banget sama Prancis. Eh dia udah ke sana duluan, bahkan sekarang udah kerja tetap di sana. Sekarang akhirnya gue bisa nyusul! Hihi :*

Kita pun naik kereta ke DUSSELDORF. Perjalanan Bonn-Dusseldorf cuma ditempuh sekitar setengah jam. Kita beli tiket kereta seharga 42 Euro yang bisa dipake untuk maksimal 5 orang. Jadi mau lo cuman ber2 juga ya harganya tetep segitu, mending ber5 kalo mau maksimalin tiket ini. Karena kita cuman ber2, jadilah seorang kena 21 Euro. Tiket ini bisa dipake seharian keliling North Rhine-Westphalia (region yang di dalamnya ada kota Bonn, Cologne, Dusseldorf, Dortmund, Essen, dll)

P1100129

This is Laura! Hari itu rambutnya dikeriting buat menyambut gua hahahah. Gue jadi berasa kaya upik abu.

Sesampainya di Dusseldorf kita makan siang dulu, makan makanan khas Bavaria (Jerman), Schweinhaxe (12.5 Euro), alias paha babi. Hahaha. Kalo liburan, saatnya makan enak hahahah setelah di kosan makan makanan rumahan mulu. Kita makan di restoran yang bernama Schwein Janes, yang cukup terkenal di Dusseldorf. Letaknya sendiri masih di kawasan Old town. Kita makan ini sambil minum bir khas Dusseldorf, Schlosser Alt. Beuh, mantap dah. Makan makanan lokal di tempat aslinya bersama dengan orang lokal (Laura gue anggap orang lokal hahahha).

IMG_4121

I AM HAPPY!

Habis makan, kita muter-muter Old Town. Di sini ada city hall yang cantik banget dengan bunga-bunganya!

P1100135

City Hall

P1100142

Dusseldorf City Hall

IMG_4129

Old town

Kaki pun terus melangkah ke arah sungai Rhein. Di sepanjang sungai Rhein di Dusseldorf ada banyak restoran dan tempat nongkrong yang asik. Kalo ga ada duit, tinggal beli aja sandwich supermarket, terus duduk di sepanjang sungai Rhein, sambil liat orang lalu lalang dan kadang ada atraksi macem-macem. Di sini gue berpisah sebentar dengan Laura, karena dia mau ketemu temennya dan gue memilih untuk eksplor kota ini sendirian.

P1100151

Jalan di sepanjang sungai Rhein.

P1100155

Nongkrong kece sambil ngeliatin sungai Rhein, kalo punya duit

P1100162

Hey Laura!

P1100164

Nah kalo ga ada duit, beli aja sandwich supermarket terus duduk duduk di sini. Tetep asik kok!

Gue pun muter-muter ga tentu arah, ngelewatin gereja St. Lambertus, liat orang yang lagi nikah, terus jalan lagi ke Old Town dan nemuin Champs-Elysees-nya Dusseldorf, yang bernama Koenigsallee. Di sini bertengger butik papan atas macam Channel, Louis Vuitton, dan teman-temannya. Di tengah-tengahya ada sungai kecil yang juga kece. Keren deh. Mungkin karena udah umur ya, gue sebentar-sebentar berhenti untuk duduk. Hahaha. Ini enaknya jalan sendirian, lo bisa duduk selama mungkin tanpa ngerasa ga enak sama partner travelling lo hahhaha.

St. Lambertus church. Someone is getting married!

P1100181

Sungai yang ngebelah Koenigsallee. Pretty, Huh?

P1100182

Koenigsallee, Champs-Elyseesnya Dusseldorf. O ya, Dusseldorf ini adalah ibukota dari region North-Rhine Westphalia

Habis itu gue ke taman yang guede banget, namanya Hofgarten. Di sini ada bangunan asimetris bergaya modern yang namanya Ko-Bogen. Asik deh, ngeliatin itu bangunan sambil memandang taman, danau dan angsa-angsa yang lucu. Puas bengong di taman, gue melipir ke dekat situ, dan ngeliat ada band manggung di Universitas Dusseldorf. Sempet duduk sebentar tapi karena hujan, gue memutuskan untuk berteduh di mal dekat situ, sambil menunggu Laura.

P1100188

Hofgarten. Damainya!

P1100193

Ko-bogen. Keren yak!

P1100198

Eh ada angsa lewat..

Setelah ketemu Laura, kita makan malam! Hahahha. Kali ini kita makan ramen (12 Euro) yang katanya paling enak di Dusseldorf, nama restonya Takumi, letaknya di daerah Japanische Viertel, deket sama Hauptbahnhof. Kita ngantri panjang di depan pintu, ada kali 30 menit baru bisa masuk. Ramennya menurut gue sih biasa aja. Bahkan gue ga habis loh! Kayanya gue kebanyakan makan hari itu. Sejak di Eropa, gue ga biasa makan banyak. Mungkin karena pas awal awal sampe dibiasain makan sandwich doang tiap hari. Jadi kalo makan banyak dikit aja, langsung berasa kenyang banget hahahha. Sayang banget nih ramen ga habis, padahal harganya bisa 3 kali lipat ramen enak di Jakarta. Dan habis beli itu, gue nyesel sih kenapa gue makan di resto mulu hari itu, keluar duitnya mayan banyak. Sambil berjanji besok bakal bawa bekel dari rumah atau beli makan di supermarket aja.

IMG_4138

Enakan Ikkudo Ichi menurut gue! Haha.

Habis makan, kita pun pulang ke rumah Laura di Bonn dengan menggunakan tiket yang sama. Hihi. Asik, akhirnya ketemu kasur setelah semalaman tidur di bis. Tapi jangan senang dulu, perjalanan ke Bonn agak berliku, seperti biasa, selalu ada aja jinx travelling gue. Itu kereta karena lagi ada stasiun yang perbaikan, berenti ga sampai Bonn, tapi sampai kota deket situ. Dari situ kita musti naik shuttle bus ke Bonn. Dan nunggu shuttle busnya itu… satu jam! Di tengah udara Jerman yang dingin dan ga ada bangku sama sekali, nunggunya berdiri doang. Kaya deja vu ya, perasaan kemarin udah ngalamin ini. Haha.

To be continued on next post..

Note: 1 Euro = Rp 16.000 (saat gue ke sini)