Beautiful Day at Luzern

Setelah berpetualang ke Mt. Titlis, keesokan harinya gue mengeksplor kota Luzern. Gue berencana pulang hari itu, tapi karena ga dapat blablacar, gue pulang keesokan harinya. Untungnya host couchsurfing gue masih mau nampung gue hahaha.

Kota Luzern sendiri sangat cantik, apalagi pas cerah! Beruntung hari itu cerah, karena teman gue yang dateng ke situ keesokan harinya, dapetnya cuaca mendung. Gue pun langsung jatuh cinta dengan kota Luzern. Keluar dari stasiun kereta utama, kita bisa menemukan danau Luzern. Di sepanjang pinggir danau itu terlihat pemandangan kota yang sangat memukau.

IMG_5941

Kapellbrucke (Chapel Bridge) dan pemandangan kota Luzern

IMG_5946

Kita bisa menyeberang ke arah pusat kota di Kapellbrucke ini

IMG_5948

Amazing landscape view

Jika kita menyeberang dari arah stasiun kereta, pemandangannya juga luar biasa. Danau luzern dengan latar belakang gunung salju.

IMG_6043

Dilihat dari arah pusat kota, danaunya punya background gunung salju

IMG_6048

Banyak angsa. Mereka ga kedinginan apa ya? Hihi

IMG_6052

Kapal-kapal di Danau Luzern

IMG_6022

Jalan di sepanjang danau. Daun2 mulai rontok, tandanya musim dingin segera tiba.

Pusat kota Luzern juga cukup cantik, banyak orang Indonesia bertebaran membeli oleh-oleh hahah. Oya, di Luzern ini buanyak bgt turis Indonesia. Mungkin karena banyak paket tur Indonesia yang menyelipkan Mt. Titlis untuk itinerari Eurotrip, jadilah mereka basecampnya di Luzern. Gue sendiri pernah ketemu beberapa rombongan tur dari Indonesia di kota ini.

IMG_5962

Pusat kota Luzern

IMG_5964

Masih di bagian pusat kota

IMG_5965

The last supper (?)

Jika ingin melihat pemandangan kota Luzern dari atas, kita bisa melihatnya dari Musegg Wall. Musegg Wall ini adalah tembok, semacam benteng yang dulunya mengelilingi kota Luzern untuk membatasi kota. Pemandangan sepanjang perjalanan naik ke benteng ini juga sangat bagus, apalagi dilengkapi dengan warna warni bunga musim gugur.

IMG_5968

Jalan menuju Musegg Wall. Cakeppp banget daun warna-warninya yak!

IMG_5983

Di sepanjang jalan menanjak dimanjakan dengan pemandangan ini.

IMG_5986

Musegg wall. Tadinya benteng untuk membatasi kota Luzern.

IMG_5989

Pemandangan dari atas Musegg Wall!

IMG_5997

Luzern from above

IMG_6003

Do you see the lake? 

Sehabis turun dari Musegg Wall, gue menuju Lion Monument. Ini adalah salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi di Luzern. Di sini gue nemu rombongan tur Indonesia! Lion monument ini dibuat untuk mengenang para tentara Swiss yang gugur dalam revolusi Prancis.

IMG_6017

Jujur, gue memiliki ekspektasi lebih sama Lion Monument ini..

Segitu aja jalan-jalan gue di Lucerne, walaupun gue ga banyak cerita, tapi gambar aja udah berbicara banyak mengenai kota yang cantik ini. Enaknya sih emang ke Lucerne pas autumn kaya gue ini, biar gunung saljunya keliatan dan daun-nya cantik cantik hihi.

Keesokan harinya, gue pulang ke Mulhouse dengan naik blablacar dari Bern. Jadi gue transit dulu di Bern terus ngambil blablacar lain dengan tujuan Bern-Mulhouse. Agak susah kalo nyari yang langsung dr Luzern. Pas gue naik blablacar yang dari Bern aja pake ada kejadian drama cari-carian sama supirnya, sampe 45 menit sendiri dan gue lari ngos-ngosan ngiterin stasiun Bern sambil telpon supirnya. Pelajaran sih, kalo mau janjian jangan di stasiun Luzern, gede banget dan ada 2 gedung, jadi ngebingungin..

Advertisements

My First Snowy Mountain: Mt. Titlis

Setelah bertolak dari Bern, gue melanjutkan perjalanan menggunakan blablacar menuju kota Luzern. Gue memilih Luzern karena gue pengen melihat Mt. Titlis, gunung salju yang cukup populer untuk turis Indonesia haha. Sebenernya sempet kepikir juga mau ke Titlis apa Jungfrau, puncak Alpen yang lumayan terkenal juga. Tapi karena Jungfrau sulit diakses dan musti naik kereta yang mahalnya naujubilah itu dengan perjalanan jauh, maka gue memutuskan untuk pergi ke Titlis saja.

Sampe di Luzern, gue dijemput sama temennya host gue di stasiun tram deket rumahnya. Gue agak deg-degan takut hostnya serem gitu haha. Ternyata begitu nyampe rumahnya, ada temen-temennya si host lagi party! Wuahhh! Ternyata rame banget dan seru. Mereka asik gitu diajak ngobrol. Mereka kebanyakan orang swiss sama ada beberapa orang Chili. Ditambah ada 1 lagi yang nginep juga buat Couchsurfing, orang India. Jadilah berasa soirée internationale gitu. Terus karena ada beberapa yang bisa bahasa Prancis, jadilah kita ngobrol dengan berbagai bahasa gitu. Ada yang ngomong pake swiss-jerman, pake inggris, prancis dan juga spanyol. Haha. Turns out.. kekhawatiran gue bener2 termentahkan dan malam itu gue dapet banyak temen baru. Ternyata, host gue yang orang Irak itu nyewa rumah di situ bareng orang Swiss.. trus ada juga temennya, orang Turki yang suka dateng ke situ. Jadi mereka bertiga yang manage couchsurfing gitu. Makanya gue bingung pas telponan menuju ke sana, kok ada 3 orang berbeda yang nelpon gue hahaha. Ternyata mereka bersahabat..Si host gue sempet bilang dia ga nyangka kalo gue ternyata anaknya open dan banyak ngobrol, soalnya stereotypenya orang Asia kan pendiem haha (ini udah stereotype yang mendunia banget)

IMG_5743

Bersama host dan teman-temannya

Setelah puas malam itu, gue pun tidur bersama si surfer (sebutan buat orang yang nginap dalam Couchsurfing) cewek dari India dalam 1 kamar. Anak ini kuliah di Belgia, dan dia punya europass, tiket kereta buat keliling Eropa. Wow! Dia ternyata udah ke Mt. Titlis hari itu, dan dia ceritain pengalamannya di sana. Di hari yang sama dia juga ke Jungfrau. Hahaha. Ambisius bener ya, tapi emang itu strateginya buat manfaatin europass-nya.

Keesokan harinya, gue menuju Mt. Titlis dan bertemu di stasiun bersama salah satu temennya temen gue, namanya Ladina. Gue baru kali ini ketemu Ladina karena dikenalin lewat whatsapp sama temen gue, Tichu. Anaknya baik banget, walaupun bahasa inggrisnya pas-pasan, tapi keliatan dia friendly banget. Sampai detik itu, berdasarkan pengalaman gue selama 4 hari gue berpikir, orang Swiss beda banget ya sama orang Prancis yang tertutup hahaha. Dari stasiun Luzern (hauptbahnhof) kita naik kereta menuju Engelberg (20 Euro PP) kemudian dilanjutkan dengan naik cable car (89 Euro-iya, mahal banget, tapi sekali seumur idup haha) ke atas Mt. Titlis. Di perjalanan naik kereta ke arah Engelberg, depan gue duduk anak yang keterbelakangan mental, terus dia kaya nunjuk2 peta di meja kereta gitu, “Kita ke Mt Titlis” sambil diulang-ulang. Dia kayanya excited banget gitu. Asli, saat itu gue rasanya sedih banget liat anak itu. Gue kaya merasa bersyukur banget atas segala anugrah yang udah Tuhan kasih buat gue sampai saat ini. Meskipun kaya gitu aja, tapi perjalanan di kereta itu ga akan pernah gue lupa.

Sampai di Engelberg, pemandangannya udah bagus bangettt. Kiri kanan gunung salju cantikkk banget. Dan di sana ketemu beberapa orang Indonesia yg juga mau naik Mt. Titlis. Hahaha. Dari Engelberg kita menuju ke stasiun cable car untuk naik ke Titlis. Gue mulai nambahin baju beberapa lapis dan juga sarung tangan biar ga kedinginan. Perjalanan naik cable car pun tergolong lama. Kira-kira kita sempet transit di 3 stasiun sebelum akhirnya sampai ke puncak gunung.

IMG_5751

Ini dia Engelberg!

IMG_5796

Pemandangan dari cable car

Begitu nyampe atas, beuhhhh… gila pemandangannya luar biasa indah banget! Pemandangan yang gue ga pernah liat sebelumnya. Gue ada di atas gunung salju! Ga sia2 bayar 89 Euro hahahha. Di Mt Titlis ini banyak atraksinya, kita bisa masuk ke gua es -gua yang semuanya terbuat dari es. Selain itu kita juga bisa naik jembatan dari tali gitu. Setelah puas jalan jalan dan foto-foto, gue sama Ladina makan siang di salah satu restoran di situ. Ngeliat pemandangan dari resto itu aja rasanya seneng banget. Buat ngehemat, gue mesen French Fries doang di situ haha.

IMG_5809

This is Titlis! Amayzeeeeng!

IMG_5804

Goa yang terbuat dari es

IMG_5825

Melewati jembatan yang goyang-goyang

IMG_5848

Entah anaknya siapa, yang jelas udah jagoan main ski-nya.

IMG_5893

Cable car buat naik ke atas-dilihat dari restoran

Habis makan, gue memutuskan untuk naik cable car terbuka.. jadi cable carnya ga ditutupin sama kaca dan bisa langsung ngerasain hawa dingin yang menusuk. Buat naik cable car ini dikenakan biaya lagi kalo ga salah 10 Euro. Ladina sendiri lebih memilih menunggu di restoran karena udara yang mendadak sangat dingin. Yaudah, gue naik cable car itu sendirian bolak balik. Sensasinya.. wow. Agak serem juga sih ga ada pembatasnya gitu Haha.

IMG_5906

Selfie at Mt. Titlis

Setelah puas seharian main di Mt. Titlis kita pun pulang ke Luzern dengan bahagia (guenya sih bahagia, Ladina kayanya biasa aja, udah sering liat gunung es haha). Ladina pun melanjutkan perjalanan ke kotanya yang deket Zurich (baik bener kan, mau jauh2 dateng buat nemenin gue!). Di Luzern gue sempet muter2 di deket sungainya terus ke centre ville.. Ada kejadian menyeramkan pas gue jalan-jalan ini, gue ketemu cowo eksibisionis, alias memamerkan itunya di jalan. Anjrit, perasaan terakhir gue liat gituan di Depok, ini udah jauh-jauh ke Swiss nemu begitu. Dan pas gue ceritain ke host gue, dia bilang dia yang udah bertaun2 di Luzern aja ga pernah liat, gue baru kali itu ke situ bisa-bisanya nemu..

IMG_5861

Me at Titlis

Bern, Ibukota Swiss yang Cantik

Banyak yang bilang jalan jalan ke Swiss itu mahal. Emang! Hahaha. Mau naik keretanya aja harganya puluhan euro. Makanya mumpung gue tinggal di Mulhouse, kota yang deket sama Swiss, gw manfaatkan untuk ke sana tanpa kereta. Gue naik blablacar yang cuma 8 Euro dari Mulhouse ke Bern. Agak susah nyari blablacar dari Mulhouse ke Bern, pertamanya gue udah dapet tapi tiba-tiba dicancel sama supirnya. Terpaksa gue nunggu 2 hari lagi buat naik blablacar yang lain. Karena gue ga punya temen di Bern, gue nyoba pake couchsurfing. Couchsurfing (CS) adalah situs komunitas traveller yang memungkinkan kita untuk menginap secara gratis dimanapun di dunia ini. Caranya kita tinggal meminta numpang pada orang-orang yang tinggal di kota yang kita tuju. Ini pertama kalinya gue pake Couchsurfing buat nginep di tempat orang. Gw pernah nginepin orang, sering ketemu nongkrong sama komunitas CS di beberapa kota, tapi baru kali ini gue nginep tempat orang ga dikenal. Di Bern ini susah banget nyari host, gue udah nanya ke 30 orang tapi semua responnya negatif. Akhirnya gue open request aja, jadi kalo ada yang mau numpangin gue bisa kirim pesen. Eh, nemu juga host. Cowo sih, agak ngeri awalnya, cuma gue pikir cuek aja, daripada ga jadi pergi hahahha. Gw bakal nginep tempat dia selama 3 hari 2 malam dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Luzern.

Jadilah gue pergi naik blablacar dari Mulhouse ke Bern, di suatu siang di bulan Oktober, pas lagi musim gugur. Sepanjang jalan ngelewatin Swiss pemandangannya cantik abiiis! Di sebelah kanan kiri kita banyak bukit-bukit dan di tengah-tengahnya ada rumah kecil-kecil. Ditambah dengan bunga musim gugur yang cakep banget. Seru deh pokoknya!

Setelah sekitar 2 jam perjalanan, sampai juga di ibukota Swiss yaitu Bern. Buat yang belum tau, ibukota Swiss itu Bern. Bukan Zurich, ataupun Geneva. Sampai di sana sore sore gue keliling pusat kota dulu sebelum ke rumah host gw. Gue mampir ke Federal Palace di mana gue ga sengaja nemuin pemandangan kota Bern bagus banget dari atasnya. Apalagi ditambah pemandangan autumn leaves warna kuning oranye dan merah yang bikin tambah ciamik. Habis dari sini gue muterin old town dan nemu Zytglogge, menara dengan jam di atasnya yang bagus. Puas muterin kota tua, gue langsung ke rumah host gue naik tram. Di Bern ini adalah tram paling mahal yang gue temuin, naik tramnya sekali bisa 2 CHF lebih dan kalo dikonversiin 3 Euro!

IMG_5453

Welcome to Bern!

IMG_5454

Kotanya bersih dan teratur, kaya kota-kota di Swiss yang lain

IMG_5460

Federal Palace

IMG_5520

Dari atas Federal Palace

IMG_5521

Indahnyaaaa!

IMG_5522

Zytglogge, jam gadangnya warga Bern

Akhirnya sampe juga gue di rumah host gue, cuaca saat itu gerimis dan host gue jemput di halte tram bawa payung. Orangnya keliatan ramah banget. Di rumahnya ternyata ada 2 kamar, 1 buat dia dan 1 lagi kosong, gue tidur di kamar kosong itu. Sebenernya kamar kosong ini lebih buat ruang tamu, ada tivinya dan juga tempat tidurnya itu sofabed. Kalo ga dipake tidur bisa dilipet jadi sofa. Host gue ternyata adalah orang Israel yang udah tinggal lama di Amerika. Terus dia pindah ke Swiss dan di sini dia jadi penyanyi di sinagoga (tempat ibadah orang Yahudi). Dia keliatan agak takut waktu memperkenalkan dirinya sebagai orang Yahudi, ga tau kenapa, mungkin karena gue dari Indonesia dan orang Indonesia kan pro-Palestina banget. Mungkin ya.. Gue sih santai aja hahah. Gue seneng kenal sama banyak orang dari berbagai ras dan etnis. Si host gue ini ternyata udah beberapa kali ke Indonesia buat surfing. Dia suka banget surfing. Dan yang lebih ajaib adalah dia beliin gue indomi! Jadilah kita makan malam indomi goreng hahaha. Awalnya dia ga tau kalo kuahnya ga usah dimakan, tapi habis itu gue kasitau haha. Jadilah malam itu kita ngobrol ngalor ngidul. Haha. Seneng gue kalo ketemu orang yang bisa bahasa Inggris, bisa ngomong hampir apa aja kaya dalam bahasa ibu gue haha.

Keesokan harinya, karena host gue lowong, kita jalan-jalan berdua muterin Bern dan muterin sungai Aare yang mengeliling pusat kota Bern. Kota ini cantik banget, apalagi di musim gugur.

IMG_5537

Cantiknya sungai Aare

IMG_5540

And those trees!

IMG_5559

Jembatan di Sungai Aare

IMG_5599

Sungai Aare yang mengelilingi pusat kota Bern

IMG_5600

Lovely!

IMG_5529

Bersama host gue

Di hari terakhir gue di sini, gue diajak naik ke bukit Gurten pake cable car, bareng sama salah satu temen cewenya (temennya ini sakit kanker, dan si host gue emang nemenin dia karena perhatian). Dari bukit ini bisa keliatan gunung es! Gila, ini gunung es pertama yang gue liat dalam hidup gue. Rasanya takjub banget meskipun cuma dari jauh. Dan untungnya cuaca hari itu cerah jadi keliatan gunung esnya. Di atas bukit ini juga banyak peternakan kambing. Kita turun dari bukit itu dengan jalan kaki sampai ke tempat kita parkir mobil (si Ibu bawa mobil). Setelah itu kita pulang dan gue bersiap-siap untuk meninggalkan Bern dan melanjutkan perjalanan ke Luzern. Jujur, sebenernya, walaupun host gue baik banget, tapi dia agak genit, ga sampe parah dan mengganggu sih, tapi gue rada ga nyaman. Dan di Luzern gue bakal di-host-in lagi sama seorang cowo Irak, jadi gue agak takut. Bukan mendiskreditkan warga negara tertentu ya, tapi ya namanya juga jaga-jaga. Gue sempet siap-siap nyiapin list hostel kalau-kalau host gue yang di Luzern serem hahahha.

IMG_5678

Pegunungan Alpen di Bukit Gurten

IMG_5679

Amaze!!

IMG_5716

Kambing-kambing (?) berkulit tebal yang hidup di udara dingin

IMG_5724

See you, Bern!

Bersambung ke My First Snowy Mountain: Mt. Titlis

4-Hours-Trip to Basel, Switzerland

Halo! Udah lama juga ya ga ngeblog. Sayang nih, udah bayar domain mahal-mahal, tapi updateannya jarang-jarang hahaha. Sebenernya banyak sih perjalanan yang musti ditulis, tapi malesnya itu loh haha. Ditambah, sekarang gue sibuk kerja sambil kuliah. Yah akhirnya gue dapet kerja part-time juga buat mencukupi kebutuhan gue di Prancis, walaupun kerja fisik, tapi disyukuri aja. Oke deh, langsung aja ke cerita jalan-jalan keliling Eropa berikutnya yaitu Basel, Switzerland! Jeng jeng..

Di hari yang cerah tanggal 19 September 2015, gue dan temen gue Mas Istas ceritanya mau jalan-jalan ke luar kota. Si Mas Istas ini adalah dosen tamu, dia ngajar di Université de Haute Alsace 1 bulan lamanya. Ngajar teknik bo! Hahaha. Dulu dia pernah kuliah S3 di Prancis dan sekarang jadi dosen di ITS (Institut Teknologi Surabaya). Si Mas Istas ini punya temen Prancis, namanya Gilbert, dia kerja di uni juga. Si Gilbert rencananya mau ajak jalan-jalan Mas Istas sabtu ini, gue nimbrung deh hahaha.

Jam 12 siang kita dijemput sama mobilnya Gilbert di asramanya Mas Istas. Si Gilbert ternyata bawa istrinya juga. Guepun masuk mobil, ngobrol-ngobrol dan kemudian diketahui bahwa kita mau ke Swiss! Whatt? Gue kira kita mau jalan-jalan ke luar kota doang, taunya ke luar negeri. Mati lah, gue ga bawa paspor! Kata Gilbert ya udah coba aja, kalo ga tembus ya ntar parkir aja deket perbatasan trus masuknya jalan kaki.

30 menit berlalu dan kita memasuki perbatasan Prancis-Swiss. Hahaha. Deket ya, Mulhouse-Basel cuma 30 menit! Ternyata.. si penjaga perbatasan meloloskan mobil kita tanpa memeriksa apapun. Alhamdullilah! Kita pun melenggang kangkung masuk Basel!

Hahaha. Senangnya bisa ke Swiss, walaupun Basel agak berbeda dengan kota di Swiss yang lain. Kita tidak bisa melihat gunung salju dari sini. Bahkan, kata temen gue yang tinggal di Swiss, orang Swiss menyebut Basel “The Ugly Swiss” karena ga gitu bagus dibanding kota kota lain di Swiss. Duh, kasian amat.

Gilbert memarkirkan mobilnya di dekat pusat kota Basel, kita pun berjalan-jalan mengelilingi kota Basel dengan berjalan kaki. Langsung aja yuk cus liat foto-fotonya! 😀

IMG_4476

Strolling around the city

IMG_4479

This is Basel. Di setiap sudut kota ada gambar penunjuk jalan ke arah pusat kota.

IMG_4494

Sampailah kita di depan Rathaus. Gedung berwarna merah ini adalah city hall alias kantor walikota.

IMG_4509

Dalemnya Rathaus

IMG_4512

Masih di dalam Rathaus. Pas kita ke sini lagi ada grup pemain biola lagi main di sini.

IMG_4514

Very cool, huh?

IMG_4548

Sungai Rhein yang melewati Jerman bagian barat juga melewati Basel. Katanya, kalo musim panas, sungai ini penuh dengan orang-orang yang berenang di sungai ini untuk pergi ke kantor. Bahkan pas musim gugur ini juga terlihat 1-2 orang lagi berenang :O

IMG_4555

Perahu seharga 2 CHF (Swiss Franc) untuk menyeberangi sungai Rhein.

IMG_4564

O beautiful Rhein

IMG_4582

Nyeberang sungai, tau-tau udah di Munsterplatz. Katedral-nya kota Basel.

IMG_4583

Munsterplatz

IMG_4605

Dan perjalanan ini diakhiri dengan minum bir. Cheers!

 

Ga berasa 4 jam berlalu muterin kota Basel. Menurut gue pribadi kotanya yah ga gtu beda jauh sama kota-kota lain di Eropa. Cukup besar. Terus banyak Starbucks! Hahaha. Buat gue yang tinggal di Prancis agak amaze liat Starbucks, karena di Prancis yang namanya Starbucks dikiiiiiiiiit banget, bahkan di Mulhouse ga ada. Haha.

Oke deh, segini dulu ceritanya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!