40 Hari di Eropa Tengah: Krakow

Gue sampai di Krakow jam 7 pagi tanggal 3 Agustus 2015 dengan menggunakan Polski Bus seharga 13.8 Euro dari Berlin. Gue dijemput dengan host couchsurfing (CS) gue di mal dekat dengan terminal bis. Host CS gue orang Indonesia, namanya Dipta. Dan guess what? Dia juga anak FIB angkatan 2007! OMG dunia sempit bgt. Pas tau dia anak FIB juga rasanya kaget banget. Jauh-jauh kuliah di Depok, eh ketemunya di Polandia, itu juga ga sengaja tanpa kenalan dan babibu sebelumnya. Begitu ketemu dia langsung deh ngobrolin macem-macem, rasanya kaya ketemu temen lama, anaknya asik dan lucu juga. Hahaha.

Habis dijemput di deket terminal, kita langsung menuju rumahnya Dipta untuk taruh tas. Gue juga dikasih sarapan hihi. Dia ga bisa menemani gue jalan-jalan karena dia musti ngerjain tesis di kampusnya. Jadi gue berpetualang sendiri di Krakow. Sepanjang gue jalan-jalan di Eropa, baru kali ini gue mengunjungi negara yang di alphabetnya banyak banget aksennya dan susah banget diucapinnya. Haha. Gue juga sempet ngerasa kaya mimpi, kayanya setaun yang lalu ga bakal terbersit aja dipikiran gue untuk bisa berada di negara bernama Polandia, negara yang kurang umum dijadikan tujuan wisata bagi para pelancong Indonesia.

Setelah berpisah dengan Dipta, gue langsung ke Main Square-nya Krakow yang bernama Rynek Glowny. Tempatnya baguuuus banget, gue suka banget sama warna warninya. Bener bener beda dari arsitektur Eropa Barat, berasa banget kita lagi di Eropa Tengah, unik, amazing! Gue pun melewati Main Square karena perut sudah keroncongan mencari makan siang! Gue dikasi rekomendasi sama Dipta untuk makan di tempat yang bernama Gospoda Koko. Harganya bikin gue bengong, 3 Euro udah dapet sup, appetizer dan main course lengkap ! Makin cinta gue sama Polandia, di Eropa Barat mana ada makanan harga segitu.. Oiya, Polandia ini punya mata uang sendiri namanya Zloty. Pantes harga barang2nya juga murah, karena dia ga mengikuti standar Eurozone.

img_3781

Rynek Glowny, main square-nya Krakow, so beautiful, udah berasa ga di Eropa Barat lagi.

img_3752

Makanan sebanyak ini cuma 3 Euro

Habis makan siang gue balik lagi ke Main Square, di situ ada gereja besar bernama Bazylika Mariacka yang dalemnya buagusssss banget, mungkin gereja paling bagus yang pernah gue lihat selama ini. Ada tips biar masuknya ga bayar, kita musti masuk dari belakang, jangan dari samping. Soalnya belakang itu buat tmp berdoa, sementara samping emang buat turis. Yah bayar cuma 1 atau 2 Euro juga sih. Awalnya gue masuk di tmp yang turis, trus belakangan baru ngeh kalo bisa masuk lewat belakang wkwk. Habis keluar gereja, gue jalan-jalan di sekitar Main Square dan juga pusat kota. Kota ini benar-benar unik dan menyuguhkan warna tersendiri. Setelah itu gue jalan ke gerbang tempat masuk ke pusat kota, lalu kembali ke arah berlawanan menuju ke sungai Vistula.

img_3800

Stunning Bazylika Mariacka!

Saat hari menjelang malam, gue disarankan mencari makanan di Jewish District (Kazimierz). Daerah ini adalah daerah tempat banyak org Yahudi tinggal, di situ ada sejenis foodcourt dengan makanan yang super murah. Gue disarankan membeli Zapikanki, baguette ala Polandia dengan berbagai macam topping di atasnya. Baguette ini super murah, harganya kalo dikursin jadi 1-3 Euro tergantung toppingnya. Dan bentuknya gede banget, bisa buat berdua. Bayangin makan kenyang 1 Euro bisa buat berdua, o la la, pengen ga pulang rasanya hahaha. Gue awalnya ga tau kalo makanannya segede itu, trus diliatin sama orang-orang pas beli segitu buat sendiri hahaha. Ternyata gue ga abis juga, akhirnya separo gue kasi gelandangan deket situ..

img_3875

Food court bundar di Jewish District. Wajib ke sini!

img_3877

Besarnya si Zapikanki, bisa buat berdua!

Habis makan malam gue menelusuri daerah Jewish District. Banyak sinagoga dan bangunan Yahudi yang lain yang ga ada penjelasannya. Gue penasaran sama district ini, dan gue pun memutuskan untuk ikutan Free Walking Tour besokannya yang khusus untuk Jewish District biar lebih mengenal kawasan ini dan sejarah bangsa Yahudi di Krakow.  Habis itu, gue janjian sama Dipta buat ketemu depan rumahnya, yang dekat dengan kawasan Jewish District. Si Dipta pun mengajak gue jalan lagi sambil membeli makan malam buat dia. Dia mengajak gue ke kawasan penuh food truck. Dan guess what.. dia beli fish and chips seharga 4 Euro.. gila murah abis. Dipta yang tahun pertamanya dihabiskan di Glasgow, Inggris (dia ikut program Erasmus) bilang emang kalo habis dari Eropa Barat trus tinggal di Krakow rasanya kaya surga, apa-apa murah hahaha. Habis itu kami pun pulang lalu cerita-cerita sampai malam.

img_3948

Sama Dipta dan Zapikanki-nya

Keesokan harinya, gue mengawali penjelajahan gue dengan makan pangsit rebus khas Polandia bernama Pierogi, gue makan sepiring penuh dengan harga 2.5 Euro di sebuah restoran! Habis mengisi bensin, gue pergi ke Wawel Castle, kastil di kota Krakow yang ternyata ga gede-gede amat. Di lingkungan kastil ini juga ada gerejanya. Usai dari kastil, gue tidur-tiduran di taman dekat sungai sambil menunggu jam 4 untuk mengikuti Free Walking Tour. Ini adalah FWT pertama gue. Buat yang belum tau, FWT adalah salah satu bentuk tur tanpa biaya, tapi tetap kita bisa memberikan tips seiklasnya, gue sih kasih 2 Euro setelah coba tanya beberapa orang berapa kira2 gue harus membayar. Biasanya tur ini berdurasi 2 hingga 3 jam dan terdapat banyak pilihan. Untuk Krakow sendiri, kita bisa memilih tur untuk menjelajahi pusat kota, atau menjelajahi Jewish District.  Gue memilih yang kedua. Jam 4 sore kita berkumpul di depan Sinagoga besar untuk memulai tur ini, kira-kira ada 20 orang dari berbagai negara yang hadir. Guide gue orang Polandia asli, cewek dan lagi hamil. Kita pun menuju tempat-tempat bersejarah di Jewish district sambil si guide menceritakan sejarah bangunan-bangunannya. Setelah dari Jewish district kita menuju ke sebuah lapangan yang letaknya agak jauh dari situ, dimana terdapat memorial tempat orang-orang Yahudi dikumpulkan sebelum dibawa ke kamp konsentrasi. Di tempat tersebut, yang disebut Ghetto Memorial, terdapat kursi-kursi besar dimana 1 kursi mewakili ratusan orang Yahudi yang dibantai di situ. Si Guide bercerita, orang Yahudi ini dikumpulkan di rumah sekitar situ, dimana rumahnya sangat sempit dan harus diisi sekitar 10 orang, itu adalah tempat tinggal terakhir mereka sebelum dibunuh. Kamp konsentrasinya sendiri berada di Auswitch, cukup dekat dengan Krakow (ada tur berbayar juga untuk ke Austzwich kalo kalian tertarik), kata Dipta sih kalo ke sana bawaannya sedih dan moodnya depresi bgt. Yaiyalah, gue ada di memorial itu aja ngebayanginnya udah sedih banget apalagi ke Austwich. Tur selama 2.5 jam pun berakhir di Schindler factory. Tempat seorang Jerman bernama Schindler membantu meloloskan ratusan orang Yahudi dari kamp konsentrasi dengan mempekerjakan mereka di pabriknya. Buat kalian yang pernah nonton film Schindler List pasti tahu ceritanya. Saat itu gue Cuma bisa liat luarnya aja karena untuk masuk ke dalam harus membayar ekstra dan saat itu juga sudah tutup. Pengalaman pertama FWT gue sungguh luar biasa, gue dapet banyak pengetahuan, bahkan emosinya juga dapet saat itu. Habis di Krakow, gue juga mengikuti FWT di negara-negara lain, tapi FWT ini yang paling berkesan buat gue.

img_3898

Pierogi alias pangsit rebus

img_3916

Salah satu bagian Wawel Castle

img_3927

Gerbang Wawel Castle

img_3930

Tour guide Free Walking Tour pertama saya di depan salah satu sinagoga -tempat ibadah Yahudi-. Dia lagi hamil loh.

img_3940

Krakow Ghetto, monumen yang terdiri dari kursi-kursi kosong peringatan orang Yahudi yang dibunuh NAZI. Di lapangan ini dipisahkan antara yang masih bisa bekerja (untuk diperbudak) dan yang tak bisa lagi bekerja (siap untuk dibunuh di kamp konsentrasi).

img_3944

Foto orang-orang Yahudi yang diselamatkan oleh Oscar Schindler, dipasang di depan Pabrik Schindler.

Habis menguras emosi, gue balik lagi ke food court tempat makan kemaren bareng sama Dipta, gue makan babi rebus yang bernama Golonka Wieprzowa seharga 2.5 Euro, dari kemarin mupeng liat orang makan ini, tapi ga seenak yang gue bayangin sih hihi. Gila deh di Krakow makan enak mulu, biasa makan sandwich supermarket doang ye kan. Hahahha. Malam itu adalah malam terakhir gue di Krakow, sedih karena musti berpisah dari Dipta dan kotanya yang cantik. Besok saatnya naik bis menuju Budapest!

img_3946

Golonka Wieprzowa

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Potsdam

Setelah puas menjelajah Berlin selama 3 hari, keesokan harinya gue menelusuri kota Potsdam. Potsdam adalah kota kecil di pinggiran Berlin yang terkenal dengan Istana Sanssouci-nya. Kita bisa menggunakan S-Bahn untuk menuju Potsdam Hbf dari Berlin. Potsdam terletak di zona C, jadi kalo kita dari Berlin, kita harus menggunakan tiket yang meng-cover zona C. Dari tempat couchsurfing gue sendiri jaraknya lebih dekat ke kota Potsdam daripada ke pusat kota Berlin. Jadi sangat mudah gue mengunjungi kota ini.

Gue menjelajahi Potsdam sendirian karena Jeanne sudah kembali ke Polandia untuk kembali ke Indonesia di pagi hari. Gue pergi ke Potsdam kira-kira jam 12 siang dengan kondisi cuaca hujan. Sebenarnya agak malas kalau sudah hujan begitu tapi yah masa di rumah aja ye kan? Haha. Karena mendung dan hujan hasil foto hari itu juga ga terlalu bagus, tapi pengalamannya tetep tak terlupakan.

img_3591

Keluar dari Stasiun Potsdam, setelah menyeberangi jembatan menuju pusat kota, kita langsung disuguhi pemandangan gedung berwarna pink ini – Museum Film.

 

img_3593

Kawasan old market square dengan St Nicholas Church-nya

 

img_3596

St. Nicolas Church

 

img_3601

Masih di Old Market Square, gloomy ya.

 

img_3613

Dutch Quarter in Potsdam, sebuah area yang bangunannya kaya di Belanda

img_3617

Masih di Dutch Quarter

img_3625

Potsdam city center

img_3631

Brandenburger Tor yang ada di Berlin ternyata ada juga versi Potsdam-nya!

img_3642

Istana Sanssouci tampak depan

img_3663

Ini dia Istana Sanssouci! Gloomy bener yak!

img_3678

Sanssouci, kalo diterjemahin artinya no problem hahahha.

img_3699

Chinese House di komplek Istana Sanssouci

img_3709

New Palace, salah satu istana yang juga masih berada di kompleks Sanssouci, yang ini lebih gede malah dibanding yang sebelumnya

img_3728

Di belakang New Palace ada Universitas Potsdam!

img_3738

Bangunan sebelah kiri dan kanan itu gedung universitas Potsdam, kece mampus!

Setelah setengah hari berada di Potsdam, gue pun kembali ke Berlin untuk mengambil ransel dan naik bus malam ke tujuan berikutnya, Krakow!

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Berlin

Setelah mengalami kesialan sebelum naik bis dari Bonn ke Berlin, akhirnya sampai juga gue di Berlin jam 7 pagi tanggal 30 Agustus 2016. Gue turun di Berlin ZOB (Zentral Omnibus Bahnhof) yang sangat luas, tempat pemberhentian bus-bus dari dan menuju Berlin. Gue harus menunggu temen gue si Jeanne, yang baru akan datang jam 11 pagi. Jeanne adalah salah satu temen kuliah gue di Sastra Prancis UI, dia ke Polandia dalam rangka seminar dan kursus bahasa musim panas selama 1 bulan. Di akhir perjalanannya, dia menyempatkan liburan sama gue di Berlin selama 4 hari. Jeanne berangkat dari Praha ke Berlin, karena dia habis jalan-jalan di Praha.

Empat jam menunggu di terminal bus adalah waktu yang cukup lama, ditambah tidak ada wifi di tempat tersebut. Gue yang masih dalam keadaan ngantuk, sempat tidur beberapa kali di bangku terminal bus. Sempet juga bolak balik ke WC dimana sekali masuk bayar Rp 7500 (alias 50 cent). Agak susah memang travelling sendirian, bawa backpack yang cukup besar dan harus bolak balik ke wc dengan membawa backpack ke dalam wc, ga bisa nitip terus minta jagain gtu maksudnya. Tapi gapapa lah, asal lantai wc ga kotor.

Waktu menunjukkan pukul 11 lewat, akhirnya bis Eurolines yang dinaiki Jeanne datang juga. Gue jemput dia di depan bus, kita pun berteriak kegirangan bisa bertemu satu sama lain, setelah 1 tahun tidak berjumpa. Gue selalu senang bertemu teman (baik) dari Jakarta, yang sedang travelling ke Europe. Rasanya bahagia banget, ketemu temen lama, bisa cerita segala hal kisah kehidupan gw di Prancis selama ini, dan bisa nostalgia macem-macem. Hmm.. I think I miss Jakarta a lot 😛

Kami pun makan siang terlebih dahulu di restoran Cina sebelah halte bis. Sebenernya gue ga makan sih, karena harga makanannya di atas 5 Euro. Jadi Jeanne saja yang makan, gue makan burger McD 1 Euro saja setelah menemani Jeanne makan. Kasian ya? Hahaha. Yah emang gtu cara pengiritan ala gue. Hampir ga pernah gue membeli makanan di atas 5 Euro saat sedang travelling ke luar negeri. Kalo ada makanan 1 Euro, ngapain beli yang mahal? Haha.

Selepas dari terminal bis, kami langsung menuju ke rumah host couchsurfing di Berlin yang sudah saya pesan dari sebulan sebelumnya. Kebetulan gue dapet host orang Indonesia. Bukan kebetulan sih, emang nyarinya orang Indonesia biar kemungkinan diapprovenya lebih besar. Rumah host gue ini ga di pusat kota Berlin tapi bisa diakses dengan menggunakan S-Bahn, masih di zona 1, nyaris masuk ke zona 2 haha. Host gue namanya Atika, dia udah 11 tahun tinggal di Jerman, dari sejak kuliah sarjana sampai sekarang dia lagi PhD. Keren yak? Dia punya kucing lucu yang namanya Pedro. Habis sampai di rumahnya, taruh barang-barang dan ngobrol beberapa saat, gue dan Jeanne pun jalan menuju pusat kota Berlin, untuk makan sore di tempat hits yang namanya Burgermeister (terletak di Jalan Oberbaumstrasse, U1 stop-Schlesisches Tor). Di sini dijual burger (dan kentang) dengan harga 4-5 Euro. Tempat ini sangat terkenal, sampai-sampai pas kita datang antriannya panjang banget. Tempatnya berupa kios kecil, di dekat stasiun U-Bahn. Kios ini menyediakan beberapa meja di luar gue dan Jeanne mencari taman terdekat untuk duduk-duduk sambil makan. Kami memesan yang paling populer, Meistaburger, rasanya enak, si Jeanne sampe pengen makan ini lagi besok-besok. Haha. Habis makan, kita menyambangi Brandenburger Tor, gerbang ikonik khas kota Berlin dan juga Reichstag Building, gedung parlemen di Berlin. Sebenernya kita bisa naik ke atas Reichstag untuk melihat Berlin dari atas dengan gratis.Tapi gue dan Jeanne memilih untuk duduk-duduk saja di taman depan Reichstag sambil menikmati senja.

img_3361

Kedai Burgermeister tampak depan

img_3364

Burger-burger kami :9

1469916712309

Bersama Jeanne di benteng ikon kota Berlin. Yippie!

img_3399

Reichstag Building

Setelah itu kami menuju Alexanderplatz, salah satu pusat nongkrong anak muda Berlin, dimana sedang ada bazaar yang menjual makanan dari berbagai negara. Si Jeanne membeli cemilan, lalu kita juga membeli sereal untuk sarapan esok harinya di supermarket DM dekat situ. Di Alexanderplatz ini juga terdapat menara pemancar Berlin Tower dan Galeria (semacam pusat perbelanjaan kecil). Lalu kamipun pulang dan beristirahat di rumah Atika.

img_3404

Berlin Tower di Alexanderplatz

Keesokan harinya, kami memulai perjalanan dengan mendatangi Holocaust Memorial, sebuah tempat peringatan untuk para korban Yahudi yang dibantai saat Holocaust yang dilakukan oleh Nazi. Tempatnya sendiri terdiri dari kotak-kotak berwarna abu-abu dengan berbagai ukuran. Para turis dilarang naik ke atas kubik-kubik ini, mungkin takut rusak. Kami menyimpulkan, dengan adanya tempat ini dan tempat lain yang menceritakan soal Nazi dan Yahudi, Jerman tidak malu mengakui sejarah bangsanya yang kelam. Habis itu kita makan siang hotdog (lagi) di dekat situ. Perjalanan berlanjut ke Tiergarten, taman yang sangat luas di sebelah Holocaust Memorial. Keluar dari situ, kita tak sengaja menemukan Soviet War Memorial, salah satu tempat ingin dikunjungi oleh Jeanne. Terus menyusuri jalan, kamipun sampai di Berlin Victory Column, sebuah monumen tinggi untuk memperingati kemenangan Prussia dalam Perang Denmark-Prussia. Setelah itu kami berjalan kaki ke Bellevue Palace, tempat kediaman presiden Jerman sejak tahun 1994. Setelah berfoto-foto di luar, kami menaiki bis nomer 100 menuju Kaiser Wilhem Memorial Church. Katanya, kalo kita tidak punya banyak waktu, kita bisa menaiki bis nomer 100 ini keliling Berlin, karena rutenya melewati banyak tempat wisata di sini. Gerejanya sendiri sangat unik, karena terlihat hanya setengah bangunan dan tidak utuh. Konon katanya, separuh gereja ini runtuh saat pengeboman Berlin di Perang Dunia ke-2. Runtuhan ini dibiarkan begitu saja seperti adanya sehingga menjadi tujuan wisata sampai saat ini. Di sebelahnya, dibangun gereja yang baru, yang lebih rendah dan sangat modern. Tempat ini yang sekarang digunakan untuk misa.

img_3427

Holocaust Memorial, bentuknya unik dan cukup fotogenik

img_3431

Soviet War Memorial, ga sengaja nyampe sini

img_3442

Bellevue Palace

img_3446

Kaiser Wilhem Memorial Church yang sebagian runtuh terkena bom di Perang Dunia II

Kamipun melanjutkan perjalanan ke Potsdamer Platz, jantung kota Berlin dimana banyak pusat perkantoran dan gedung-gedung modern. Saat itu hujan, dan kami berteduh di museum Dali. Kami menemukan bahwa di dekat situ ada Spy Museum, Jeanne yang demen banget sama dunia mata-mata dan detektif, pengen mampir ke sana. Yasudah, dia masuk ke dalam sementara saya duduk di luar menunggu dia di lobby. Setelah itu, kami mampir ke Pizza Hut untuk makan malam, lalu ke Sony Center. Salah satu pusat perbelanjaan yang futuristik. Jujur sih, tempat ini gak kaya gambar2nya di google. Biasa banget tempatnya haha. Di sini kami bertemu dengan Atika untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Checkpoint Charlie bertiga. Checkpoint Charlie adalah salah satu tempat tujuan wisata terkenal di Berlin. Tempat ini tadinya merupakan perbatasan Jerman Barat dan Jerman Timur, setiap individu yang lewat akan dicek oleh polisi perbatasan. Masih berbau sejarah, kami menuju ke Eastside Gallery, sisa tembok berlin yang berada di sebelah timur dan penuh dengan grafiti dan gambar-gambar yang unik. Sangat cocok dijadikan background foto. Sayang sekali, hujan mulai turun saat kami di tempat ini. Hujan makin lama makin deras, dan terjadilah hujan badai. Wow! Kami berjalan cukup jauh sampai akhirnya menemukan stasiun U-Bahn. Ga nyangka bakal ada hujan badai di musim panas yang seharusnya cerah. Payungnya si Jeanne pun sampai rusak karena terpaan angin kencang. Baju kami sudah basah semua, payung saja tak cukup untuk menahan hujan angin. Akhirnya sampai juga kita di stasiun U-Bahn dan langsung pulang ke rumah.

1470002723819

Checkpoint Charlie bersama Jeanne dan Atika

img_3480

Kehujanan di Eastside Gallery -sebelum payung Jeanne rusak

1 Agustus, awal dari bulan baru, hari ketiga kami menjelajahi Berlin. Ini adalah hari terakhir saya travelling sama Jeanne karena keesokan paginya dia harus sudah kembali ke Polandia untuk pulang ke Jakarta. Seperti biasa, kami tidur sampai siang dan baru berangkat saat menuju makan siang. Kami makan di kedai bernama Konnopke’s Imbiss (U stop Eberswalder Strasse), salah satu tempat yang juga sangat terkenal. Kedai ini menjual snack khas Jerman, currywurst! Currywurst dan kentang dibanderol dengan harga 3.5 Euro.Rasanya enak! Perut kenyang, kamipun melanjutkan petualangan di kota penuh sejarah ini ke Berlin Memorial Wall. Di tempat ini kita bisa melihat sisa tembok Jerman di sebelah utara. Temboknya cukup panjang, ada beberapa bagian yang temboknya sudah tidak ada dan hanya tinggal pilarnya doang. Di sini banyak cerita mengenai sejarah Jerman Barat dan Jerman Timur, dalam bentuk suara. Juga ada salah satu komplek pemakaman yang sempat dipindahkan karena dibangun tembok Berlin. Di sebelahnya terdapat gedung dimana kita bisa melihat tembok Berlin dari atas dan bisa juga melihat menara pos penjagaan tentara Jerman yang dulu digunakan sebagai tempat para tentara memantau siapa saja yang nekat memanjat tembok Berlin untuk menyeberang dan langsung menembaknya di tempat saat itu juga. Kebayang gue betapa ngerinya.. Masih soal tembok Berlin, Jeanne, yang suka banget sama sejarah, cerita sebuah kisah dimana seorang mahasiswa PhD memiliki rumah di Jerman Barat dan kampusnya di Jerman Timur, di hari saat dia  harus sidang disertasi, tembok Berlin mulai dibangun, diapun tak bisa lagi pergi ke kampusnya yang berada di Jerman Timur. Kebayang sedihnya jadi itu anak..

img_3496

Tampak depan kios Konnopke’s Imbiss, sepertinya salah satu tempat jualan currywurst tertua, sejak 1930 bo!

img_3497

Currywurst-enak, murah dan kenyang

img_3500

Sisa-sisa tembok Berlin

img_3588

View landscape tembok berlin-terdiri dari 2 lapis tembok, di tengahnya ada menara pemantau. Yang berani lewat, langsung ditembak!

img_3558

Katedral Berlin dan kanalnya

img_3580

Katedral Berlin

Selesai ke tempat-tempat bersejarah, kami menuju Alexander Platz untuk berjalan ke arah Berlin Cathedral dan sekitarnya. Katedral Berlin atau Berliner Dom ini sangatlah bagus, dia dikelilingi kanal. Sayang, untuk melihat bagian dalam katedral dipungut biaya, jadilah kita tidak masuk. Di belakang katedral ada sebuah komplek museum yang disebut Museum Island, terdiri dari Old Museum, New Museum, Old National Galery, Bode Museum dan Pergamon Museum. Sementara di sebelah kanan katedral, dipisahkan oleh kanal terdapat Museum DDR, museum interaktif yang menunjukkan cara hidup masyarakat Jerman Timur saat masih dipisahkan oleh tembok Berlin. Kita bisa merasakan bagaimana jadi orang Jerman Timur dengan berbagai game dan pameran menarik di museum tersebut. Sayang, gue tidak masuk ke dalam. Hanya Jeanne saja yang masuk. Tadinya Jeanne dapat info dari temannya kalau DDR Museum adalah museum militer, makanya gue ga mau masuk dan memilih menunggu di luar. Eh, setengah jam setelah Jeanne masuk gue iseng2 liat lobby museum itu dan gue baru tau kalo itu museum menceritakan kehidupan orang Jerman Timur. Tau gitu gue mau masuk ke museum itu! Huff! Masuk sekarang juga udah telat, takutnya malah ga ketemu Jeanne dan berujung cari-carian. Yaudahlah, mungkin next time..

Rasanya hampir semua tempat populer telah kami jelajahi, kami pun memutuskan menutup hari dengan naik bis 100 dari Berliner Dom untuk memutari kota Berlin sampai ujung (Botanical Garden) dan kemudian kembali lagi ke ujung satunya di Alexander Platz.

Overall, perjalanan di kota Berlin ini sangat menyenangkan, gue belajar banyak sejarah di kota ini. Dari sejarah nazi, holocaust dan juga pemisahan Jerman Barat dan Jerman Timur. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, dan terbayang betapa mengerikannya saat itu, saat semua pembantaian tersebut terjadi. Saya beruntung jalan di Berlin ditemani oleh Jeanne, karena dia penggila sejarah, dia menceritakan banyak hal tentang sejarah Jerman yang tidak saya tahu. Dan menjadikan saya semakin suka kota ini.

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

 

40 Hari di Eropa Tengah: Paris dan Bonn

Kalo dari judulnya agak aneh ya, Paris dan Bonn itu kan letaknya bukan di Eropa Tengah, tapi kenapa gue tulis seperti itu? Karena 2 kota itu masuk dalam rangkaian liburan musim panas gue tahun 2016 ini, yang didominasi dengan negara di Eropa Tengah. Paris dan Bonn hanyalah awal dari perjalanan solo travelling gue selama 40 hari. Sebenernya gue juga udah pernah ke 2 kota ini, jadi gue cukup santai di sini dan cuma main-main sama teman aja, ga ada ambisi ngeliat macem-macem lagi.

Oke, jadi perjalanan gue dimulai di Paris tanggal 19 Agustus 2016, gue di sana menghabiskan 5 hari untuk bertemu dengan teman-teman gue. Kebetulan ada temen kampus gue di UI dulu yang lagi jalan-jalan ke Paris, namanya Rio, jadi gue main sama dia dan sama temen gue satu lagi, Rezzy, yang pernah gue ceritain di post tentang Paris sebelum ini. Dulu kita bertiga pernah mimpi bakal ke Paris bareng2, ngupi2 di deket menara eiffel. Eh kesampean! Hahahha. Selain itu, gue ke Paris jg bertemu teman2 yg lain.

Yuhuuu, we are in Paris!

Tanggal 23 Agustus gue beranjak ke Bonn, Jerman dengan menggunakan Flixbus seharga 25 Euro, transit sekali di Brussels. Ada kejadian aneh dengan bus gue dari Brussels ke Bonn. Jadi gue dan para penumpang lain menunggu si Flixbus yang tak kunjung datang, agak aneh karena Flixbus yang pernah gue naikin selalu on time. Terus tiba2 ada satu orang nanya ke Megabus tujuan Koln, si Flixbus yang ke Bonn itu mana, eh si supir Megabusnya bilang, naik ini aja. Lah? Kok aneh bener, gue tau sih Flixbus sama Megabus udah merger. Dan emang, Koln itu deket banget sama Bonn, tapi masa ujuk ujuk ga ada pemberitahuan apa-apa sebelumnya bisa langsung naik Megabus? Tapi karena supirnya bilang begitu ya kita manut-manut aja, daripada ditelantarkan bis yang tak kunjung datang. Gue pun naik megabus dengan dag dig ser, gimana kalo ini bis kaga berenti di Bonn. Setengah jam setelah menaiki megabus, gue dapet pemberitahuan dari pihak flixbus kalo bisnya telat 5 jam! Tanpa ada embel-embel diganti megabus atau apa. WTF! Makin panik lah gue, apa emang seharusnya gue ga naik bis ini? Beberapa jam kemudian bis ini tiba di Bandara Koln dan Bonn. Ternyata bandara kedua kota itu disatuin. Bis ini berhenti di situ. Gue pun tanya sama si supir apa bis ini berenti di Bonn, dan dia jawab engga! Kalo mau turun musti di sini! What?! Yaudah akhirnya gue dan 5 orang lain yang emang mau turun di Bonn turun dari megabus itu, sambil bertanya2 gimana caranya ke kota Bonn dari airport. Si 5 orang lain ini ternyata turun di Bonn cuma buat transit doang, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Barcelona. Gile, makin deg-degan lagi jadi mereka. Mereka cuma bisa transit di Bonn selama 1 jam. Akhirnya dengan dibantu sama orang Jerman, kita menemukan bis buat ke Bonn, dan harus membayar 8 Euro. Tidak! Biaya tak terduga harus dikeluarkan. Tapi yaudahlah, gimana lagi, bagus bisa nyampe Bonn. Sesampainya di rumah Laura gue meng-email flixbus atas kejadian tidak mengenakkan ini. Gue minta ganti pengeluaran gue sebesar 8 Euro, tapi sampe detik ini e-mail gue ga dibalas sama flixbus GRRR.

Keesokan harinya, gue sama Laura berencana nonton Startrek di bioskop. Gue sih sebenernya ga gt doyan, tapi ngikut aja, filmnya pake asli bahasa Inggris juga, ga didubbing ke Bahasa Jerman (oya, fyi, film-film di eropa itu hampir semuanya didubbing ke bahasa negaranya. Misalnya di Prancis didubbing jadi bahasa Prancis. Buat kita yang udah biasa denger pake bahasa aslinya, rasanya aneh banget. Cuma ada sedikit film, yang biasanya terkenal, yang dibiarkan tetap dalam versi aslinya). Habis nonton startrek, kita ke Bierborse. Festival bir dari seluruh penjuru dunia di mana terdapat berbagai bir dari berbagai negara. Gue sendiri ga beli bir, malah beli slushy hahaha. Lebih menarik itu buat gue daripada bir 😛

IMG_3298

Pusat kota Bonn

IMG_3275

Suasana di Festival Bir

IMG_3282

Laura minum bir, saya minum slushy (yang diumpetin :P)

IMG_3283

Salah satu stand bir

5 hari ke depan karena Laura kerja, gue jadi cuma diem aja di kamarnya Laura, kadang-kadang keluar buat jalan-jalan, tapi ga ada ambisi mau kemana mana, karena udah pernah juga ke Bonn. Waktu-waktu ini gue gunakan buat cari couchsurfing selama liburan ke Eropa tengah nanti. Hahah. Jadi intinya gue ke Bonn, cuma numpang hahahaha. Sekalian main sama Laura 😀

Hari Jum’at tanggal 29 Juli malam, gue bersiap pergi ke Berlin dengan menggunakan Polskibus. Gue agak waswas, karena tiketnya itu tiket Polskibus, tapi emang ditulis (ga bener-bener ditulis jadi gue ngira-ngira doang) kalo bakal naik Flixbus, karena dia bekerja sama dengan Flixbus. Bener aja, pas gue nyampe sana yang ada cuma Flixbus, dengan rute dan waktu yang sama dengan yang tercantum di tiket. Gue pun nyamperin supirnya dan jengjeng! Dia bilang nama gw ga ada di daftar penumpang Flixbus. Damn kesialan apaan lagi nih? Langsung panik lah gw. Si supir ini ga gt bisa bahasa Inggris, tapi untung si Laura nganterin gue dan dia ngomong sama Laura pake bahasa Jerman. Si Laura udah jelasin kalo ini polski ada kerjasama sama flixbus dan emang di tiketnya tertera kalo gue bakal naik flixbus. Cuma si supir kekeh gue ga bisa naik karena ga ada nama gue. Bahkan dia ga tau kalo ada kerjasama antara Flixbus dan Polskibus. OMG. Gue coba telp ke customer service Polskibus ga diangkat sama sekali karena itu udah jam 10 malam. Gue panik. Gue ga punya pilihan lain selain beli lagi itu tiket Flixbus on the spot, yang which is sangat mahal, 50 Euro. Sementara gue beli tiket Polskibus cuma 20,35 Euro. Dengan segala ketidakrelaan yang ada, akhirnya gue ngasi lembaran 50 Euro-an sama supir bisnya. Transport termahal sepanjang gue jalan-jalan keliling Eropa satu tahun belakangan :((( Akhirnya gue naik bis, udah mau nangis tuh di dalem bis. Sambil bilang dalam hati, kenapa gue baru mulai trip Eropa tengah udah sial banget ya. Moga2 ini jadi kesialan terakhir gue..

Anyway, besokannya akhirnya gue hubungi customer service Polskibus dan diganti uang gue sebanyak 20.35 Euro. Gue sih ngarepnya 50 Euro yang diganti ya, secara harga pas pertama gue beli bukan segitu. Tapi ya mayanlah daripada lu manyun..

P.S: Yang mengharap isi informatif dari postingan ini, maap banget ya, isinya cuma curhatan kesialan bersama bis-bis ini. Hahaa. Mungkin harusnya judulnya “Drama di Dalam Bus”..

Oiya, kalo mau baca tulisan yang lebih informatif tentang Paris dan Bonn bisa diintip di post ini (untuk Paris) dan ini (untuk Bonn). 

 

40 Hari di Eropa Tengah: Itinerary dan Biaya

Musim panas telah berakhir! Besok sudah masuk kuliah lagi. Masih kebayang-bayang rasanya summer trip gue yang 40 hari kemarin. Berhubung masih segar di ingatan, jadi gue ngepost tentang summer trip dulu ya. Post2 lain yang sebelumnya (kebanyakan jalan2 sih), dipending dan bakal dibuat setelah rangkaian post summer trip. Postingan tentang summer trip akan dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama adalah itinerary secara keseluruhan (beserta rincian biaya) dan bagian kedua ketiga, keempat dan seterusnya adalah tentang cerita di masing-masing kota (ada di hyperlink kota-kota di bawah). Di postingan ini gue cerita tentang itinerary dan biayanya dulu ya.

—-

Musim panas kemarin gue solo travelling selama hampir 40 hari di Eropa Tengah. Jalan-jalannya sendiri cukup santai, satu kota kira-kira 3 malam, jadi ga keburu-buru dan bisa bangun siang untuk menjaga stamina tetep fit dan ga kecapekan. Gue pergi dari 1 kota ke kota lain dengan menggunakan bis. Untuk penginapan, gue menginap di couchsurfing dan juga hostel. Kota-kota yang gue datengin adalah Bonn (Jerman), Berlin (Jerman), Krakow (Polandia), Budapest (Hungaria), Vienna (Austria), Bratislava (Slovakia), Praha (Ceko), Salzburg (Austria), Munchen (Jerman), Frankfurt (Jerman).

Jujur, gue agak takut pas trip ini karena ini pertama kalinya gue pergi selama ini, 40 hari dan sendirian pula ! Untuk penginapan juga gue tidak bisa memastikan dari awal, karena masih menunggu dapat atau tidaknya couchsurfing. Kalo ga dapet baru cari hostel. Jadi deg-degan aja, gimana kalo ntar gue ga dapet tempat tinggal, gimana kalo tiba2 duit gue habis di jalan (secara budget gue terbatas banget), gimana kalo ntar gue sakit di jalan, gimana kalo ntar gue kecapekan dan jadi hilang minat selama travelling, dan berbagai ketakutan lain di dalam otak gue. Ternyata, ketakutan tersebut tidak terbukti sama sekali. Hanya ada beberapa kejadian sial di trip kali ini dan overall itu ga mengganggu trip gue. Setelah travelling pun gue merasa sangat senang, bahkan jadi ketagihan trip selama itu lagi. Sekarang setelah pulang, gue merasa agak hampa, pengen travelling dan pindah-pindah kota lagi tiap harinya. Okedeh, daripada kebanyakan curhat, langsung aja gue share itinerary-nya!

Berikut itinerarynya:

19-23 Juli: Paris dan sekitarnya ketemu sama temen2 gue

23 Juli : Paris-Bonn (Jerman) → 25 Euro, Flixbus

Di Bonn gue menginap di tempat teman selama seminggu. Gue sebenernya pernah ke sini, tapi emang pengen main aja lagi..

29 Juli: BonnBerlin → 20.35 Euro, Polskibus (di sini ada kesialan saat naik bus. Jadi di tiket yang gue beli di Polskibus, ditulis kalo gue akan naik Flixbus karena mereka punya kerjasama. Tapi begitu sampai di TKP gue ditolak sama Flixbus karena nama gue ga ada di daftar penumpangnya dia. Asli panik banget, dan gue ga ada jalan lain selain beli tiket bus lagi on the spot dan itu seharga 50 Euro! Asli kesel banget dan pengen nangis, baru awal trip udah kehilangan duit segitu. Akhirnya gue komplain ke pihak Polskibus dan duit gue yang 20.35 Euro dirembourse. Tapi yang 50 Euro tetep melayang. Mayan lah daripada lu manyun)

Di Berlin gue menginap selama 3 malam di tempat couchsurfing, kebetulan gue nyarinya orang Indonesia biar kemungkinan diterimanya lebih besar.

Berikut tempat-tempat yang gue datengin di Berlin: Brandenburger Tor, Reichstag Building, Check point Charlie, East side Gallery, Berlin Memorial Wall, Holocaust Monument, Berlin Cathedral, Museum Island, Alexanderplatz, Potsdamer Platz.

Di hari terakhir gue ke kota sebelah yang deket banget sama Berlin (bisa naik S Bahn) yaitu Potsdam. Kotanya sendiri bagus, kecil tapi ada istana Sanssouci yang terkenal.

3 Agt: BerlinKrakow → 13.8 Euro, Polskibus (sengaja ambil bis malam biar bisa menginap di bis dan mengurangi biaya penginapan)

Di Krakow gue menginap selama 2 malam di tempat couchsurfing, yang lagi-lagi orang Indonesia, dan ternyata dulu pernah satu fakultas sama gue! Haha. Dunia sempit..

Tempat-tempat yang dikunjungi di Krakow: Main Square, Wawel Castle, St. Mary’s Basilica, Oscar Schlinder Factory (liat dari luar aja), Jewish Quarter (di sini ada food court kecil tempat makanan khas Polandia murah-murah dijual. Zapikanki, sejenis baguette Polandia, ada dari harga 1-3 Euro dan bisa buat dimakan berdua).

5 Agt: KrakowBudapest → 8 Euro, Polskibus

Di Budapest gue menginap di couchsurfing, kali ini orang Hungaria asli yang super baik, selama 3 malam.

Tempat yang gue datengin: Buda castle, Fisherman Bastion, Matthias Church, Parliament Building, St. Stephen’s Basilica, Chain Bridge, Hosok Tere, Citadella (wajib liat night view dari sini, bener2 breathtaking).

8 Agt: BudapestVienna → 9 Euro, Regiojet (baru pertama kali naik regiojet, bus ini kece banget. Harga murah tapi fasilitas kaya pesawat, ada layar kecil di setiap bangku, bisa nonton, dengerin musik, dll; dikasi hot drink, bisa pilih kopi atau cokelat; dipinjami headset dan dipinjami koran)

Di Vienna gue nginep di rumah temennya temen, selama 3 malam.

Tempat yang dikunjungi: Hofburg Palace, Schonbrunn Palace, Belvedere Palace, State Opera, Ring road, Albertina, Museum’s Quarter, Rathaus, Karlskirche, City Centre

11 Agt: ViennaBratislava → 1 Euro, Regiojet (dengan fasilitas pesawat, gue bingung dia dapet untungnya darimana haha)

Di Bratislava gue menginap di host couchsurfing selama 1 malam (host gue pernah dapet beasiswa belajar bahasa Indonesia selama 1 tahun dan dia ngajak temen-temennya org Bratislava yang pernah tinggal di Indonesia juga buat ketemu gue. How cool!). Karena dia cuma bisa ngehost gue selama semalam, maka gue mencari hostel untuk 2 malam selanjutnya. Gue menginap di hostel Possonium: 19 Euro per malam.

Tempat yang dikunjungi: City centre, Michael’s gate, St. Martin’s cathedral, Devin castle (yang ini agak jauh di pinggir kota tapi bagus!), Blue church, Slavin Memorial, Bratislava castle

14 Agt: BratislavaPraha → 10 Euro, Regiojet

Di Praha gue menginap di Hostel Plus selama 3 malam, biaya 7 Euro per malam

Tempat yang dikunjungi: Charles Bridge, Old Town Square, Astronomical Clock, Wenceslas Square, Prague Castle, Jewish Quarter, Dancing House, Lennon Wall, Infant Jesus of Prague (Church)

17 Agt: PrahaSalzburg

Karena biaya bis langsung cukup mahal maka gue memutuskan untuk transit dulu di Munich, dengan rincian sebagai berikut: PrahaMunich → 9 Euro, Eurolines dan MunichSalzburg → 7 Euro, Flixbus

Di Salzburg gue menginap di Hostel Jufa selama 2 malam, harga per malam 26 Euro (biaya penginapan paling mahal selama trip ini, makanya ga mau lama-lama di Salzburg)

Tempat yang dikunjungi: Hohensalzburg castle (dari luar, soalnya masuknya bayar; tapi pemandangannya di atas bukit gitu, bagus), Old Town, Mirabell Garden, Hellburn palace, Nonnberg Abbey, Schloss Leopoldskron.

Kalo punya banyak waktu, gue bakal ke Hallstatt, kota deket sini yang katanya bagus banget dan juga ikut tur mengelilingi danau dan gunung di sekitar Salzburg, yang kece berat. Guengnya ga kesampean, maybe next time!

19 Agt: SalzburgMunich → 9 Euro, flixbus

Di Munich gue menginap selama 4 malam di The Tent Hostel. Hostel ini konsepnya tenda yang sangat unik (akan dibuat postingan sendiri mengenai hostel ini). Gue menginap 2 malam di bunkbed (12 Euro semalam) dan 2 malam di matras (8 Euro semalam).

Tempat yang dikunjungi: Neuchwanstain Castle (tujuan ke Munich emang pengen liat istana ini, jaraknya 3 jam dari kota Munich), City centre, Marienplatz, Rathaus, Englischer Garten, Nymphenburg Palace, Viktualienmarkt, Odeonsplatz.

23 Agt: MunichFrankfurt → 1 Euro, Megabus (gue mendapat sisa-sisa tiket murah Megabus yang terakhir, karena habis ini dia merger sama Flixbus dan harga tiketnya jadi lebih mahal)

Di Frankfurt gue menginap selama 3 malam di tempat teman, sebenernya ke kota ini karena ingin bertemu teman-teman saja.

26 Agt: FrankfurtParis → 19 Euro, Eurolines

Keterangan tambahan:

Gue mencari tiket bus dengan bantuan goeuro.com; di mana kita bisa membandingkan harga 1 bus dengan bus lain, bahkan bisa membandingkan dengan tiket pesawat dan kereta juga. Kalo dilihat dari rutenya agak sedikit muter-muter, karena disesuaikan dengan tiket dengan destinasi termurah.

Untuk makanan, makanan di Eropa Tengah tidak terlalu mahal, contohnya saja di Krakow gue mendapatkan full lunch set dengan harga 3 Euro. Di Budapest dan Praha yang notabene mata uangnya berbeda dari Euro juga tidak terlalu mahal. Sisanya, bila kotanya mahal seperti Salzburg, gue membeli sandwich 2 Euro-an di supermarket.

Dalam perjalanan ini gue banyak mengikuti Free Walking Tour, agar mendapat gambaran sejarah kotanya dengan lebih baik. Tur sejenis ini bisa dicari di google, dengan mengetikkan free walking tour + nama kota tujuan. Turnya sendiri gratis, tapi kita harus memberi tips. Setelah tanya ke beberapa orang tips normalnya, gue cuma ngasih 2 Euro-an aja.

Oya, gue cuma bawa backpack 32 liter (bawa bajunya cuma 7 helai), di sana gue sempat mencuci 2 kali. Satu di tempat teman di Bonn dan satu lagi di Hostel Possonium di Bratislava.

Total biaya transportasi : 132, 15 Euro

Total biaya akomodasi: 151 Euro

Total semua pengeluaran (termasuk transportasi dan akomodasi) selama 40 hari: Sekitar 700 Euro atau Rp 10 juta-an.

IMG_4263

One of the breathtaking view that I’ve seen during my summer trip. Guess where?

 

Beautiful Day at Luzern

Setelah berpetualang ke Mt. Titlis, keesokan harinya gue mengeksplor kota Luzern. Gue berencana pulang hari itu, tapi karena ga dapat blablacar, gue pulang keesokan harinya. Untungnya host couchsurfing gue masih mau nampung gue hahaha.

Kota Luzern sendiri sangat cantik, apalagi pas cerah! Beruntung hari itu cerah, karena teman gue yang dateng ke situ keesokan harinya, dapetnya cuaca mendung. Gue pun langsung jatuh cinta dengan kota Luzern. Keluar dari stasiun kereta utama, kita bisa menemukan danau Luzern. Di sepanjang pinggir danau itu terlihat pemandangan kota yang sangat memukau.

IMG_5941

Kapellbrucke (Chapel Bridge) dan pemandangan kota Luzern

IMG_5946

Kita bisa menyeberang ke arah pusat kota di Kapellbrucke ini

IMG_5948

Amazing landscape view

Jika kita menyeberang dari arah stasiun kereta, pemandangannya juga luar biasa. Danau luzern dengan latar belakang gunung salju.

IMG_6043

Dilihat dari arah pusat kota, danaunya punya background gunung salju

IMG_6048

Banyak angsa. Mereka ga kedinginan apa ya? Hihi

IMG_6052

Kapal-kapal di Danau Luzern

IMG_6022

Jalan di sepanjang danau. Daun2 mulai rontok, tandanya musim dingin segera tiba.

Pusat kota Luzern juga cukup cantik, banyak orang Indonesia bertebaran membeli oleh-oleh hahah. Oya, di Luzern ini buanyak bgt turis Indonesia. Mungkin karena banyak paket tur Indonesia yang menyelipkan Mt. Titlis untuk itinerari Eurotrip, jadilah mereka basecampnya di Luzern. Gue sendiri pernah ketemu beberapa rombongan tur dari Indonesia di kota ini.

IMG_5962

Pusat kota Luzern

IMG_5964

Masih di bagian pusat kota

IMG_5965

The last supper (?)

Jika ingin melihat pemandangan kota Luzern dari atas, kita bisa melihatnya dari Musegg Wall. Musegg Wall ini adalah tembok, semacam benteng yang dulunya mengelilingi kota Luzern untuk membatasi kota. Pemandangan sepanjang perjalanan naik ke benteng ini juga sangat bagus, apalagi dilengkapi dengan warna warni bunga musim gugur.

IMG_5968

Jalan menuju Musegg Wall. Cakeppp banget daun warna-warninya yak!

IMG_5983

Di sepanjang jalan menanjak dimanjakan dengan pemandangan ini.

IMG_5986

Musegg wall. Tadinya benteng untuk membatasi kota Luzern.

IMG_5989

Pemandangan dari atas Musegg Wall!

IMG_5997

Luzern from above

IMG_6003

Do you see the lake? 

Sehabis turun dari Musegg Wall, gue menuju Lion Monument. Ini adalah salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi di Luzern. Di sini gue nemu rombongan tur Indonesia! Lion monument ini dibuat untuk mengenang para tentara Swiss yang gugur dalam revolusi Prancis.

IMG_6017

Jujur, gue memiliki ekspektasi lebih sama Lion Monument ini..

Segitu aja jalan-jalan gue di Lucerne, walaupun gue ga banyak cerita, tapi gambar aja udah berbicara banyak mengenai kota yang cantik ini. Enaknya sih emang ke Lucerne pas autumn kaya gue ini, biar gunung saljunya keliatan dan daun-nya cantik cantik hihi.

Keesokan harinya, gue pulang ke Mulhouse dengan naik blablacar dari Bern. Jadi gue transit dulu di Bern terus ngambil blablacar lain dengan tujuan Bern-Mulhouse. Agak susah kalo nyari yang langsung dr Luzern. Pas gue naik blablacar yang dari Bern aja pake ada kejadian drama cari-carian sama supirnya, sampe 45 menit sendiri dan gue lari ngos-ngosan ngiterin stasiun Bern sambil telpon supirnya. Pelajaran sih, kalo mau janjian jangan di stasiun Luzern, gede banget dan ada 2 gedung, jadi ngebingungin..

My First Snowy Mountain: Mt. Titlis

Setelah bertolak dari Bern, gue melanjutkan perjalanan menggunakan blablacar menuju kota Luzern. Gue memilih Luzern karena gue pengen melihat Mt. Titlis, gunung salju yang cukup populer untuk turis Indonesia haha. Sebenernya sempet kepikir juga mau ke Titlis apa Jungfrau, puncak Alpen yang lumayan terkenal juga. Tapi karena Jungfrau sulit diakses dan musti naik kereta yang mahalnya naujubilah itu dengan perjalanan jauh, maka gue memutuskan untuk pergi ke Titlis saja.

Sampe di Luzern, gue dijemput sama temennya host gue di stasiun tram deket rumahnya. Gue agak deg-degan takut hostnya serem gitu haha. Ternyata begitu nyampe rumahnya, ada temen-temennya si host lagi party! Wuahhh! Ternyata rame banget dan seru. Mereka asik gitu diajak ngobrol. Mereka kebanyakan orang swiss sama ada beberapa orang Chili. Ditambah ada 1 lagi yang nginep juga buat Couchsurfing, orang India. Jadilah berasa soirée internationale gitu. Terus karena ada beberapa yang bisa bahasa Prancis, jadilah kita ngobrol dengan berbagai bahasa gitu. Ada yang ngomong pake swiss-jerman, pake inggris, prancis dan juga spanyol. Haha. Turns out.. kekhawatiran gue bener2 termentahkan dan malam itu gue dapet banyak temen baru. Ternyata, host gue yang orang Irak itu nyewa rumah di situ bareng orang Swiss.. trus ada juga temennya, orang Turki yang suka dateng ke situ. Jadi mereka bertiga yang manage couchsurfing gitu. Makanya gue bingung pas telponan menuju ke sana, kok ada 3 orang berbeda yang nelpon gue hahaha. Ternyata mereka bersahabat..Si host gue sempet bilang dia ga nyangka kalo gue ternyata anaknya open dan banyak ngobrol, soalnya stereotypenya orang Asia kan pendiem haha (ini udah stereotype yang mendunia banget)

IMG_5743

Bersama host dan teman-temannya

Setelah puas malam itu, gue pun tidur bersama si surfer (sebutan buat orang yang nginap dalam Couchsurfing) cewek dari India dalam 1 kamar. Anak ini kuliah di Belgia, dan dia punya europass, tiket kereta buat keliling Eropa. Wow! Dia ternyata udah ke Mt. Titlis hari itu, dan dia ceritain pengalamannya di sana. Di hari yang sama dia juga ke Jungfrau. Hahaha. Ambisius bener ya, tapi emang itu strateginya buat manfaatin europass-nya.

Keesokan harinya, gue menuju Mt. Titlis dan bertemu di stasiun bersama salah satu temennya temen gue, namanya Ladina. Gue baru kali ini ketemu Ladina karena dikenalin lewat whatsapp sama temen gue, Tichu. Anaknya baik banget, walaupun bahasa inggrisnya pas-pasan, tapi keliatan dia friendly banget. Sampai detik itu, berdasarkan pengalaman gue selama 4 hari gue berpikir, orang Swiss beda banget ya sama orang Prancis yang tertutup hahaha. Dari stasiun Luzern (hauptbahnhof) kita naik kereta menuju Engelberg (20 Euro PP) kemudian dilanjutkan dengan naik cable car (89 Euro-iya, mahal banget, tapi sekali seumur idup haha) ke atas Mt. Titlis. Di perjalanan naik kereta ke arah Engelberg, depan gue duduk anak yang keterbelakangan mental, terus dia kaya nunjuk2 peta di meja kereta gitu, “Kita ke Mt Titlis” sambil diulang-ulang. Dia kayanya excited banget gitu. Asli, saat itu gue rasanya sedih banget liat anak itu. Gue kaya merasa bersyukur banget atas segala anugrah yang udah Tuhan kasih buat gue sampai saat ini. Meskipun kaya gitu aja, tapi perjalanan di kereta itu ga akan pernah gue lupa.

Sampai di Engelberg, pemandangannya udah bagus bangettt. Kiri kanan gunung salju cantikkk banget. Dan di sana ketemu beberapa orang Indonesia yg juga mau naik Mt. Titlis. Hahaha. Dari Engelberg kita menuju ke stasiun cable car untuk naik ke Titlis. Gue mulai nambahin baju beberapa lapis dan juga sarung tangan biar ga kedinginan. Perjalanan naik cable car pun tergolong lama. Kira-kira kita sempet transit di 3 stasiun sebelum akhirnya sampai ke puncak gunung.

IMG_5751

Ini dia Engelberg!

IMG_5796

Pemandangan dari cable car

Begitu nyampe atas, beuhhhh… gila pemandangannya luar biasa indah banget! Pemandangan yang gue ga pernah liat sebelumnya. Gue ada di atas gunung salju! Ga sia2 bayar 89 Euro hahahha. Di Mt Titlis ini banyak atraksinya, kita bisa masuk ke gua es -gua yang semuanya terbuat dari es. Selain itu kita juga bisa naik jembatan dari tali gitu. Setelah puas jalan jalan dan foto-foto, gue sama Ladina makan siang di salah satu restoran di situ. Ngeliat pemandangan dari resto itu aja rasanya seneng banget. Buat ngehemat, gue mesen French Fries doang di situ haha.

IMG_5809

This is Titlis! Amayzeeeeng!

IMG_5804

Goa yang terbuat dari es

IMG_5825

Melewati jembatan yang goyang-goyang

IMG_5848

Entah anaknya siapa, yang jelas udah jagoan main ski-nya.

IMG_5893

Cable car buat naik ke atas-dilihat dari restoran

Habis makan, gue memutuskan untuk naik cable car terbuka.. jadi cable carnya ga ditutupin sama kaca dan bisa langsung ngerasain hawa dingin yang menusuk. Buat naik cable car ini dikenakan biaya lagi kalo ga salah 10 Euro. Ladina sendiri lebih memilih menunggu di restoran karena udara yang mendadak sangat dingin. Yaudah, gue naik cable car itu sendirian bolak balik. Sensasinya.. wow. Agak serem juga sih ga ada pembatasnya gitu Haha.

IMG_5906

Selfie at Mt. Titlis

Setelah puas seharian main di Mt. Titlis kita pun pulang ke Luzern dengan bahagia (guenya sih bahagia, Ladina kayanya biasa aja, udah sering liat gunung es haha). Ladina pun melanjutkan perjalanan ke kotanya yang deket Zurich (baik bener kan, mau jauh2 dateng buat nemenin gue!). Di Luzern gue sempet muter2 di deket sungainya terus ke centre ville.. Ada kejadian menyeramkan pas gue jalan-jalan ini, gue ketemu cowo eksibisionis, alias memamerkan itunya di jalan. Anjrit, perasaan terakhir gue liat gituan di Depok, ini udah jauh-jauh ke Swiss nemu begitu. Dan pas gue ceritain ke host gue, dia bilang dia yang udah bertaun2 di Luzern aja ga pernah liat, gue baru kali itu ke situ bisa-bisanya nemu..

IMG_5861

Me at Titlis

Bern, Ibukota Swiss yang Cantik

Banyak yang bilang jalan jalan ke Swiss itu mahal. Emang! Hahaha. Mau naik keretanya aja harganya puluhan euro. Makanya mumpung gue tinggal di Mulhouse, kota yang deket sama Swiss, gw manfaatkan untuk ke sana tanpa kereta. Gue naik blablacar yang cuma 8 Euro dari Mulhouse ke Bern. Agak susah nyari blablacar dari Mulhouse ke Bern, pertamanya gue udah dapet tapi tiba-tiba dicancel sama supirnya. Terpaksa gue nunggu 2 hari lagi buat naik blablacar yang lain. Karena gue ga punya temen di Bern, gue nyoba pake couchsurfing. Couchsurfing (CS) adalah situs komunitas traveller yang memungkinkan kita untuk menginap secara gratis dimanapun di dunia ini. Caranya kita tinggal meminta numpang pada orang-orang yang tinggal di kota yang kita tuju. Ini pertama kalinya gue pake Couchsurfing buat nginep di tempat orang. Gw pernah nginepin orang, sering ketemu nongkrong sama komunitas CS di beberapa kota, tapi baru kali ini gue nginep tempat orang ga dikenal. Di Bern ini susah banget nyari host, gue udah nanya ke 30 orang tapi semua responnya negatif. Akhirnya gue open request aja, jadi kalo ada yang mau numpangin gue bisa kirim pesen. Eh, nemu juga host. Cowo sih, agak ngeri awalnya, cuma gue pikir cuek aja, daripada ga jadi pergi hahahha. Gw bakal nginep tempat dia selama 3 hari 2 malam dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Luzern.

Jadilah gue pergi naik blablacar dari Mulhouse ke Bern, di suatu siang di bulan Oktober, pas lagi musim gugur. Sepanjang jalan ngelewatin Swiss pemandangannya cantik abiiis! Di sebelah kanan kiri kita banyak bukit-bukit dan di tengah-tengahnya ada rumah kecil-kecil. Ditambah dengan bunga musim gugur yang cakep banget. Seru deh pokoknya!

Setelah sekitar 2 jam perjalanan, sampai juga di ibukota Swiss yaitu Bern. Buat yang belum tau, ibukota Swiss itu Bern. Bukan Zurich, ataupun Geneva. Sampai di sana sore sore gue keliling pusat kota dulu sebelum ke rumah host gw. Gue mampir ke Federal Palace di mana gue ga sengaja nemuin pemandangan kota Bern bagus banget dari atasnya. Apalagi ditambah pemandangan autumn leaves warna kuning oranye dan merah yang bikin tambah ciamik. Habis dari sini gue muterin old town dan nemu Zytglogge, menara dengan jam di atasnya yang bagus. Puas muterin kota tua, gue langsung ke rumah host gue naik tram. Di Bern ini adalah tram paling mahal yang gue temuin, naik tramnya sekali bisa 2 CHF lebih dan kalo dikonversiin 3 Euro!

IMG_5453

Welcome to Bern!

IMG_5454

Kotanya bersih dan teratur, kaya kota-kota di Swiss yang lain

IMG_5460

Federal Palace

IMG_5520

Dari atas Federal Palace

IMG_5521

Indahnyaaaa!

IMG_5522

Zytglogge, jam gadangnya warga Bern

Akhirnya sampe juga gue di rumah host gue, cuaca saat itu gerimis dan host gue jemput di halte tram bawa payung. Orangnya keliatan ramah banget. Di rumahnya ternyata ada 2 kamar, 1 buat dia dan 1 lagi kosong, gue tidur di kamar kosong itu. Sebenernya kamar kosong ini lebih buat ruang tamu, ada tivinya dan juga tempat tidurnya itu sofabed. Kalo ga dipake tidur bisa dilipet jadi sofa. Host gue ternyata adalah orang Israel yang udah tinggal lama di Amerika. Terus dia pindah ke Swiss dan di sini dia jadi penyanyi di sinagoga (tempat ibadah orang Yahudi). Dia keliatan agak takut waktu memperkenalkan dirinya sebagai orang Yahudi, ga tau kenapa, mungkin karena gue dari Indonesia dan orang Indonesia kan pro-Palestina banget. Mungkin ya.. Gue sih santai aja hahah. Gue seneng kenal sama banyak orang dari berbagai ras dan etnis. Si host gue ini ternyata udah beberapa kali ke Indonesia buat surfing. Dia suka banget surfing. Dan yang lebih ajaib adalah dia beliin gue indomi! Jadilah kita makan malam indomi goreng hahaha. Awalnya dia ga tau kalo kuahnya ga usah dimakan, tapi habis itu gue kasitau haha. Jadilah malam itu kita ngobrol ngalor ngidul. Haha. Seneng gue kalo ketemu orang yang bisa bahasa Inggris, bisa ngomong hampir apa aja kaya dalam bahasa ibu gue haha.

Keesokan harinya, karena host gue lowong, kita jalan-jalan berdua muterin Bern dan muterin sungai Aare yang mengeliling pusat kota Bern. Kota ini cantik banget, apalagi di musim gugur.

IMG_5537

Cantiknya sungai Aare

IMG_5540

And those trees!

IMG_5559

Jembatan di Sungai Aare

IMG_5599

Sungai Aare yang mengelilingi pusat kota Bern

IMG_5600

Lovely!

IMG_5529

Bersama host gue

Di hari terakhir gue di sini, gue diajak naik ke bukit Gurten pake cable car, bareng sama salah satu temen cewenya (temennya ini sakit kanker, dan si host gue emang nemenin dia karena perhatian). Dari bukit ini bisa keliatan gunung es! Gila, ini gunung es pertama yang gue liat dalam hidup gue. Rasanya takjub banget meskipun cuma dari jauh. Dan untungnya cuaca hari itu cerah jadi keliatan gunung esnya. Di atas bukit ini juga banyak peternakan kambing. Kita turun dari bukit itu dengan jalan kaki sampai ke tempat kita parkir mobil (si Ibu bawa mobil). Setelah itu kita pulang dan gue bersiap-siap untuk meninggalkan Bern dan melanjutkan perjalanan ke Luzern. Jujur, sebenernya, walaupun host gue baik banget, tapi dia agak genit, ga sampe parah dan mengganggu sih, tapi gue rada ga nyaman. Dan di Luzern gue bakal di-host-in lagi sama seorang cowo Irak, jadi gue agak takut. Bukan mendiskreditkan warga negara tertentu ya, tapi ya namanya juga jaga-jaga. Gue sempet siap-siap nyiapin list hostel kalau-kalau host gue yang di Luzern serem hahahha.

IMG_5678

Pegunungan Alpen di Bukit Gurten

IMG_5679

Amaze!!

IMG_5716

Kambing-kambing (?) berkulit tebal yang hidup di udara dingin

IMG_5724

See you, Bern!

Bersambung ke My First Snowy Mountain: Mt. Titlis

Haut-Koenigsbourg, Kastil Terbesar di Alsace

Setiap saya melintasi jalan tol dari selatan ke utara Alsace (region di sebelah timur Prancis), di sebelah kiri saya selalu terlihat sebuah kastil besar berwarna kecokelatan yang terletak di atas bukit. Sayapun bertanya pada supir blablacar (moda transportasi murah, macam nebengers, yang membawa saya dari satu kota di kota lain) kastil apakah itu. Ia berkata bahwa itu adalah kastil terbesar di Alsace, Haut-Koenigsbourg namanya. Suatu hari setelah saya selesai main ke Strasbourg, saya ingin menyambangi kastil ini.

Untuk mencapai kastil ini, saya harus menaiki bis dari kota Selestat, sebuah kota yang berada di tengah-tengah Alsace. Mencapai kota Selestat bisa dengan kereta dari Strasbourg/Colmar/Mulhouse atau dengan blablacar tentunya. Dari depan stasiun Selestat, saya menunggu shuttle bis nomer 500 dengan tujuan Haut-Koenigsbourg.

IMG_5295

Stasiun Sélestat

Hari itu, akhir bulan Oktober 2015, di musim gugur, saya hanya berdua saja dengan backpacker asal Kanada dan si bapak supir di dalam bis. Kami bertiga mengobrol dalam Bahasa Prancis, karena si turis ini aslinya dari Quebec, bagian dari Kanada yang berbahasa Prancis. Pemandangan menuju ke atas bukit sangatlah memukau, di kiri kanan, daun berwarna merah dan oranye khas musim gugur. Benar benar saat yang tepat untuk mengeksplor kastil ini.

IMG_5387

Pemandangan sepanjang jalan

Setengah jam berlalu dan kamipun sampai di depan pintu masuk. Ternyata di sini banyak juga turis lain dan mereka membawa mobil. Pantes, yang dateng turis kaya atau penduduk Prancis semua yang bawa mobil, kita doang yang backpacker gembel hahahha. O ya, harga shuttle bis ini 2 Euro sekali jalan. Untuk masuk ke dalam kastil, kita harus merogoh kocek 9 Euro (kalo sudah naik bis ini, kita hanya perlu membayar 7 Euro).

IMG_5300

Pintu masuk ke dalam kastil

IMG_5303

Bentuknya si kastil

IMG_5305

Ayo masuk!

IMG_5310

Dalamnya kira-kira begini..

IMG_5311

Dan begini..

IMG_5317

Kastilnya unik ya.. Beda sama kastil2 Prancis yang lain..

IMG_5320

“Apa lo liat liat?”

IMG_5323

Sampailah kita di bagian atas kastil

IMG_5329

I see the lights..

IMG_5337

Whoaa.. Amazing!

IMG_5343

Such a breathtaking view! Nikmat mana yang kamu dustakan?

IMG_5348

I can look at this all day long!

IMG_5349

Those autumn color!

IMG_5350

Pemandangan yang terbingkai..

IMG_5361

Antoine, si orang Kanada yang nemu di bis..

IMG_5363

Habis dari kastil doi hiking di hutan-hutan, saya sih melipir saja..

IMG_5375

Tampak bawah..

Habis puas menikmati pemandangan dari Kastil Haut-Koenigsbourg yang kece badai! Sayapun kembali ke Selestat, di situ saya sempat eksplor sedikit kota kecil ini..

IMG_5397

Salah satu gereja di Sélestat..

IMG_5401

Kotanya sendiri kecil dan ga gitu banyak yang bisa diliat..

Sampai jumpa di petualangan Cuni selanjutnya!

Colmar, When A Magic Begins

Colmar adalah salah satu kota di Alsace, bagian timur Prancis yang terletak di antara Strasbourg dan Mulhouse. Kota ini sangat terkenal karena rumah-rumah Alsace yang cantik dan warna warni. Bahkan di Malaysia, dibangun sebuah komplek turistik bernama Colmar Tropicale yang bangunannya dibuat menyerupai kota Colmar. Kota ini merupakan salah satu syuting film disney dibuat. Wajar, kotanya magis banget sih!

Kotanya sendiri cukup kecil, cukup ke sini dengan one day trip. Bisa ditempuh dengan naik kereta selama 30 menit dari Strasbourg (kira-kira 10 Euro), atau dengan blablacar yang lebih bersahabat di kantong (bisa dengan 5 Euro saja).

Highlight dari kota ini adalah La Petite Venise atau The Little Venise. Di tempat ini terdapat bangunan Alsace warna warni sepanjang kanal. Lebih cantik lagi kalo ke sininya pas summer atau awal spring, banyak bunga yang dipasang di sepanjang kanal. Sisanya, siap-siap dimanjakan dengan bangunan khas Alsace di seluruh kota.

IMG_5127

Selamat datang di kota Colmar!

IMG_5137

Sebuah taman besar di kota Colmar, yang dinamakan Champ de Mars. Kece berat ya pas musim gugur!

IMG_5148

Biasanya kalo ada tulisannya eau potable, airnya bisa diminum. hihi.

IMG_5165

Ini yang namanya Little Venise. Instagram-able!

IMG_5170IMG_5190

IMG_5199

IMG_5149

IMG_5202

IMG_5212

Nah, kalo beberapa yang di bawah ini diambil pas Natal, makanya ada dekor macem-macem di beberapa rumahnya. Ada jg Christmas Market yang rame bgt! (tentang Christmas Market akan dibuat postingan sendiri).

IMG_7496

IMG_7492

IMG_7487

Makanan khas Alsace: Choucroute aux 5 viandes. Isinya daging babi. Makannya mirip banget sama khas Jerman, karena Alsace pernah menjadi bagian dari Jerman.

IMG_7504

 

So, jangan lupa ke Colmar ya, kalo ada kesempatan main ke timur Prancis, atau barat Jerman! :))