40 Hari di Eropa Tengah: Frankfurt

Yeayyyy, akhirnya sampai juga di bagian terakhir seri postingan gue ”40 Hari di Eropa Tengah”. Setelah 8 bulan lamanya berkutat dengan ini postingan dan struggle dengan niat dan juga waktu. Huff! Finally I did it and I will move on to next story hahaha. Oke, jadi bagian terakhir dari postingan ini gue akan menceritakan soal Frankfurt, destinasi penutup di rangkaian perjalanan gue di Eropa Tengah. Sebenernya gue ke sini cuma buat ketemu temen-temen doang, dan lagi.. gue pernah ke sini sebelumnya, around winter 2015. Daripada gue ceritain tentang proses ketemu temen2 gue mending gue langsung aja cerita tempat-tempat yang bisa dijajal selama di Frankfurt ya! Oh ya, fyi.. di kota ini gue nginep tempat temen jadi akomodasi gratis dan gue mendapat tiket Megabus dari Munchen ke Frankfurt seharga 1 Euro! Sisa-sisa tiket Megabus terakhir sebelum akhirnya gulung tikar dan merger sama Flixbus, huff.

So, what to visit when in Frankfurt?

1. Romer

Ini adalah main square-nya Frankfurt, di mana banyak bangunan khas Jerman yang motifnya kotak-kotak dan super cantik! Romer ini tadinya adalah city hall-nya Frankfurt selama 600 tahun. Sekarang bangunan ini lebih digunakan menjadi bangunan serbaguna milik pemda setempat.

img_5589

Romer, ikon Frankfurt

2. Frankfurt Cathedral

Katedral bergaya gothic ini terletak di pusat kota Frankfurt dan didedikasikan untuk Santo Bartholomeus.

img_5607

3. Alte Oper

Alte Oper adalah bahasa Jerman dari gedung Opera tua. Bangunan yang tadinya gedung opera ini sekarang digunakan sebagai tempat konser. Bangunannya kece dan terdapat square di depannya yang disebut Opernplatz.

img_5632

Bareng Nany, temen yang gue inepin kali ini, di depan Alte Oper

4. Eurotower

Kalo kalian suka liat foto lambang Euro yang gede banget, itu dia letaknya di depan tower ini. Gedung ini digunakan sebagai European Central Bank, yaitu bank sentral untuk Uni Eropa. Bangunan  ini terletak di Willy-Brand-Platz di Central Business District-nya Frankfurt. Kalo kita jalan kaki dari stasiun ke pusat kota, pasti bakal ngelewatin bangunan ini.

img_6504

5. Main River

Sungai Main membelah kota Frankfurt menjadi dua bagian. Sungai ini juga menjadi asal muasal pemberian nama Frankfurt-am-Main, yang artinya Frankfurt di sungai Main. Di pinggir sungai ini kita bisa duduk duduk cantik sambil menikmati pemandangan. Gue sendiri waktu itu ngobrol sama temen2 di sini sambil makan currywurst super pedas (belinya di kedai Best Worscht in Town (jalan Grueneburgweg 37). Dia jual currywurst dengan berbagai level kepedasan gitu, dan gue ga nyangka yang gue pesen bakal pedes banget hahaha).

img_5610

Sungai Main di kala senja

img_5616

Bareng anak-anak Frankfurters! Ada Nany, temen SMA gue; Nandha, temen organisasi waktu di fakultas; sama Dimas, temen organisasi tingkat UI. Lengkap deh! Haha.

Kayanya cuma itu aja yang bisa gue ceritain dari Frankfurt, gue ga terlalu eksplor banyak karena keasikan menghabiskan waktu sama temen-temen gue 🙂

 

img_5582

Auf Wiedersehen, Frankfurt!

 

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

Advertisements

40 Hari di Eropa Tengah: Neuschwanstein Castle dan Munich

Kalo di Jerman ada 1 tempat yang pengen banget gue liat, tempat itu adalah kastil Neuschwanstein. Kastil ini terkenal banget dengan kastil disney dan salah satu kastil yang paling populer di Eropa. Di penjelajahan ke Eropa Tengah kali ini gue sempatkan mampir ke Munich dan sekalian berkunjung ke Neuschwanstein. Postingan kali ini akan gue bagi menjadi beberapa bagian: Pertama, tentang penginapan gue, The Tent; Kedua, tentang Neuschwanstein Castle; Ketiga, tentang obyek wisata di Munich (atau bahasa Jermannya: Munchen).

THE TENT HOSTEL

Gue naik flixbus dari Salzburg ke Munich seharga 9 Euro. Gw menginap di Munich selama 4 malam, rencana awalnya cuma 3 malam, tapi karena penginapan di Salzburg terlalu mahal, jadilah kita 4 malam di sana. Gw menginap di hostel yang bernama The Tent. Hostel ini memiliki konsep tenda yang sangat unik. Jadi dia memiliki 2 tenda super besar: tenda pertama diisi sekitar 100 bunkbed atas bawah, jadi kita nginep satu atap bersama 100-150 orang, tenda kedua isinya orang-orang yang memilih untuk tidur di matras, bukan di bunkbed. Harganya pun beda, di bunkbed itu 12 Euro dan di matras 8 Euro. Gw memilih untuk tidur di bunkbed selama 2 malam dan di matras selama 2 malam. The tent ini hanya buka dari bulan Juni sampai awal Oktober, saat Oktoberfest. Karena ga mungkin tidur di tenda kalo bukan summer, bisa mati kedinginan tamu2nya. Hahaha. Fasilitas The Tent ini cukup lengkap, ada loker, wifi, kamar mandi, dapur, bahkan restoran kecil untuk breakfast, makan siang dan makan malam dengan harga yang cukup terjangkau. Ada juga hammock dan tempat duduk santai buat leyeh-leyeh di berbagai sudutnya. Kalo malem, kita bs berkumpul di api unggun sambil bersosialisasi sama backpacker lain.

Overall, it was a nice experience until.. the weather ruined it. Malam pertama tidur masih oke, agak berisik karena kebanyakan orang tapi gue masih bs tidur dengan nyaman. Malam kedua, cuaca mulai menggila, gue musti pake selimut berlapis-lapis. Malam ketiga, gue pindah ke matras, si Echa temen gue juga mulai bergabung dan dia yang ngide biar tidur di matras. Itu udaranya makin dingin, musti pake selimut tebel 3 biji dan muka musti ikut masuk ke selimut meskipun susah nafas, kalo ga ya kedinginan. Malam keempat udah merajalela dinginnya. Untung malam terakhir. Di luar 17 derajat tapi dinginnya bener2 gila, meskipun itu summer. Gue sama echa kapok tidur di tenda di Eropa! Hahahha. Udaranya itu yang labil, sebentar panas sebentar dingin ga bisa diprediksi. Tapi overall, gue cukup ngerekomendasiin sih ini hostel, tapi sebelum pesen musti liat cuaca dulu ya. Kalo bisa di atas 20 derajat! Haha.

IMG_5358

Dari kiri atas ke kanan, searah jarum jam: tenda yang isinya bunkbed, tenda yang isinya matras, api unggun di malam hari, tempat buat duduk santai dan leyeh-leyeh di halaman tenda.

 

NEUSCHWANSTEIN CASTLE

Habis cerita soal hostel, gue mau cerita soal Neuschwanstein Castle. Tadinya gue mau ke sini bareng Echa tapi si Echa ga jadi karena duitnya udah abis. Jadilah gue ke sini sendiri. Untuk mencapai kastil ini kita harus naik kereta ke kota Fussen. Gue membeli one-day bayern ticket (tiket ini bisa buat keliling region Bayern) seharga 23 Euro di ticket machine di stasiun tram deket hostel. Sebenernya bakal bisa lebih murah kalo perginya lebih dari seorang. Jadi setiap tambah 1 orang (maksimum 5 orang) cuma nambah 5 Euro. Hemat bgt kalo perginya berlima! Sayang gue cuma sendiri. Haha. Gue naik kereta ke Fussen dari Munich Hbf, keretanya cuma ada sejam sekali jadi harus bener-bener liat jadwal. Oya, tiket ini juga bisa dipake keliling kota, misalnya di kota Munchen. Jadi ga perlu beli tiket lagi buat transport dari hostel ke stasiun.

Untuk masuk kastilnya, kita juga harus membeli tiket dan disarankan membeli tiket online di website ini. Belinya paling lambat 2 hari sebelum keberangkatan, tapi beberapa hari sebelumnya lebih baik. Tidak dianjurkan buat membeli tiket on the spot karena banyak yang keabisan dan gigit jari, padahal udah jauh-jauh ke Fussen.

Perjalanan dari Munchen ke Fussen memakan waktu 2 jam. Pemandangan di sepanjang jalannya bagus banget, banyak bukit2 hijau yang dibangun rumah-rumah. Setelah sampai di Fussen, ikutin aja orang-orang lain, maka sampailah kita di tempat menunggu bus. Kita musti naik bis ini untuk bisa mencapai bagian bawah Neuschwanstain. Bis ini juga dicover dalam Bayern ticket. Setelah 5-10 menit naik bis, sampailah kita di ticket centre. Kita bisa mengambil tiket yang sudah dipesan di tempat ini. O ya, satu tiket harganya 13.8 Euro! Jangan mengantri di tempat orang yang mau beli tiket, ikutin aja petunjuk arah ke tempat pengambilan tiket yang sudah direservasi sebelumnya.

Habis beli tiket, kita punya beberapa opsi buat jalan ke atas: jalan kaki (sekitar 40 menit jalan menanjak), naik shuttle bus (2.60 Euro return) atau naik delman alias kereta kuda (6 Euro buat naik, 3 Euro buat turun). Gw pilih opsi yang kedua, naik shuttle bus. Sesampainya di atas, kita musti naik lagi buat ke istananya. Sebelum mencapai istana, kalian wajib ke jembatan yang namanya Marienbrucke (Mary Bridge), kita bisa liat kastilnya dari tempat ini dan ini bener-bener luar biasa pemandangannya. Puas foto-foto, gue pun naik ke atas menunggu giliran gue untuk masuk kastil (kita udah dapet jam masuk saat pesen tiket sebelumnya).

Tur mengitari kastil menurut gue cukup singkat, kita cuma 30 menit muterin kastil dipandu sama guide yang berbahasa Inggris. Saat di dalam kastil kita tidak diperbolehkan mengambil foto sama sekali, kecuali foto pemandangan di luar kastil. Kastilnya bagus sih, tapi secara interior masih bagusan Versailles hehe. Tapi worth it lah, masa udah jauh2 ke sini ga masuk kastil? Haha. Habis dari kastil gue muter2 di sekitar kastil sampe sore. Habis itu balik ke Munich.

img_5467

Neuschwanstein Castle dilihat dari Marienbrucke. Salah satu pemandangan terindah dalam hidup gue.

img_5524

Pemandangan di akhir tur mengitari kastil

img_5456

Di danau sekitar kastil

 

WHAT TO VISIT IN MUNICH?

Hari-hari lain di Munich dihabiskan dengan mengitari Munich. Berikut beberapa tempat yang harus dikunjungi di Munich.

1. Marienplatz

Tempat ini adalah central square-nya Munchen dan didominasi oleh New City Hall yang bangunannya bagus bangeeet. Sementara Old City Hall-nya ada di sisi lain daerah ini.

 

img_5419

Bareng Echa di Marienplatz. Echa itu temen satu organisasi di UI, yang bedanya 7 tahun (dia lebih muda) dari gue. Kalo ada traveller yang gue kenal dan lebih ngenes dari gue itu adalah Echa. Gue masih makan sandwich supermarket, dia cukup makan siang biskuit. Dia bahkan bela-belain jalan kaki selama hampir sejam dari pusat kota ke hostel biar ga keluar ongkos transport. Hahaha.

 

2. Viktualienmarkt

Sebuah kompleks pasar dimana banyak kios-kios yang menjual babi dan bir khas Bavaria. Hahaha. Surga! Orang-orang pada duduk dan ngobrol-ngobrol sambil makan babi dan bir! Gile gini aja udah rame apalagi pas Oktoberfest! Selain itu juga dijual macam-macam bahan pangan, buah dan sayuran seperti pasar pada umumnya.

 

img_5294

Kedai penjual babi-babian di Viktualienmarkt

img_5286

Nom nom nom~

img_5288

Orang yang duduk-duduk di “food court” Viktualienmarkt ini. Ruamenya!

 

3. Hofbrauhaus

Kalo kalian ada duit lebih dan ga ada masalah dengan makan babi dan minum bir, cobain deh ke Hofbrauhaus, ini adalah tempat minum bir tertua di Munchen. Tempatnya sendiri terdiri dari 3 lantai, dan rame bgt sama pengunjung. Wisatawan dan lokal pada makan di sini, ditemani dengan grup musik khas Bavaria. Gw sendiri ga mencicipi karena terhalang dana, tapi kalo suatu hari gue punya kesempatan balik lagi ke sini dengan dana yang lebih banyak, pasti ga akan gw lewatin!

 

img_5316

Hofbrauhus, tempat minum bir tertua di Munchen

img_5318

Hofbrauhaus tampak dalam. Arsitekturnya bener2 kece!

 

4. Englischer Garten

Melepas penat dari hiruk pikuk kota besar, gue melarikan diri sejenak ke Englischer Garten. Taman ini adalah taman terbesar di Munich dan jadi objek nomer wisata pertama di trip advisor. Kalau udara cerah, kalian bisa coba piknik di sini. Tempatnya cukup menenangkan.

 

img_5387

Sebagian kecil dari Englischer Garten

 

5. Nymphenburg Palace

Cuma beberapa perhentian dari hostel gue, ada sebuah istana di tengah kota Munchen. Namanya Nymphenburg Palace. Istana ini bergaya Baroque dengan bagian taman yang sangat luas.

 

img_5381

Istana Nymphenburg

 

6. Max-Joseph-Platz

Salah satu square yang cukup besar di Munchen, namanya Max-Joseph-Platz. Di tengah-tengah terdapat patung raja Maximilian Joseph, sementara di sekitarnya terdapat National Theatre, Konigsbau of the Munich residence dan Residenz Theatre.

 

img_5332

Max Joseph Platz, satu dari banyak Platz (bahasa Jerman dari Square) di Munchen

Sepertinya sudah cukup panjang dan lengkap postingan gue kali ini. Sampai jumpa di bagian terakhir postingan “40 Hari di Eropa Tengah” yaitu tentang Frankfurt. Ciao!

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

 

40 Hari di Eropa Tengah: Salzburg

Those hills are alive.. with the Sound of Music!

Sepanjang gue di Salzburg, gue keinget terus sama lagu ini.. Haha! Yap, film Sound of Music yang terkenal seantero dunia ini memiliki setting di Salzburg, bahkan mungkin itu salah satu yang menjadikan kota Salzburg seterkenal itu. Tapi apa iya, kota Salzburg sebagus itu? Gue ke sana untuk membuktikannya! Haha. Gue bela-belain bayar hostel paling mahal sepanjang trip gue selama 40 hari keliling Eropa Tengah yaitu seharga 26 Euro per malam demi menjajal kota ini.. Hostel itu adalah hostel paling murah yang gue temuin di Hostel World, namanya Hostel Jufa. Gue pun di kota ini cuma menginap selama 2 malam, gue mempersingkat perjalanan di kota ini karena tidak mau menghabiskan uang terlalu banyak. Jufa ini ternyata gabungan antara hostel dan hotel. Buat yang berduit, bisa menyewa kamar hotelnya yang kebanyakan letaknya di atas, sedangkan buat backpacker kaya gue, cukup puas dengan menyewa salah satu kasur di antara 6 kasur dalam satu ruangan dorm. Dorm ini letaknya di bawah, alias basement. Walau begitu kita memiliki fasilitas yang kurang lebih sama dengan para penghuni hotel.. kita dapet breakfast gratis dan bisa nonton film Sound of Music yang tiap malam diputar di ruang santai di dekat lobby. Overall, hostelnya biasa aja, sama kaya hostel-hostel lain tapi dia agak repot karena ga ada colokan di setiap tempat tidur, jadi ga bisa ngecharge dengan tenang di sebelah bantal tanpa takut kecopetan. Colokannya ada di sudut lain kamar.. Sama satu lagi, lokernya letaknya di luar, jadi kalo mau taruh barang berharga di loker, musti keluar kamar. Dan.. kamar mandinya juga di luar! Di bbrp hostel yang gue inepin di Eropa Tengah, kebanyakan kamar mandinya di dalam kamar, tapi ini di luar..

Perjalanan dari Praha ke Salzburg ditempuh dengan total 7 jam. Gue memutuskan untuk transit di Munich terlebih dahulu karena biaya perjalanan dari Praha ke Munich plus Munich ke Salzburg lebih murah dibanding biaya perjalanan langsung dari Praha ke Salzburg.  Biaya bis dari Praha ke Munich seharga 9 Euro dengan menggunakan Eurolines selama 5 jam dan biaya bis dari Munich ke Salzburg seharga 7 Euro dengan menggunakan Flixbus. 

Apa saja tempat yang bisa dikunjungi di Salzburg?

Kalo kalian tipe traveller yang males mikir itinerary dan punya uang lebih, kalian bisa mengikuti trip Sound of Music yang bisa keliling lokasi-lokasi syuting Sound of Music di Salzburg, trip yang katanya recommended sih Panorama Tours (ini bukan Panorama-nya Indo haha), harganya 42 Euro udah bisa keliling kota plus liat gunung dan danau di pinggir Salzburg. Terlalu mahal buat gue jadi gue memutuskan untuk eksplor Salzburg sendiri. So, kemana aja gue selama di Salzburg?

1. Mirabell Garden

Mirabell Garden adalah salah satu tempat syuting Sound of Music dimana suster Maria dan anak-anak Von Trapp bermain sambil bernyanyi-nyanyi. Taman ini cukup cantik, mirip kaya taman-taman di Eropa Barat yang bentuknya simetris. Mirabell Garden ini terletak di depan Mirabell Palace.

 

img_5126

Mirabell Garden

2. Old town

Di setiap kota di Eropa, Old town adalah jantung kehidupan, begitu pula di Salzburg. Kita bisa menemukan macam-macam situs turistik seperti Residenzplatz, Cathedral, Old City Hall, Mozartplatz dan juga Mozart Geburthaus alias tempat kelahiran Mozart.

img_5052

Salah satu sudut Aldstadt (Old Town)

img_5067

Chocolate Pretzel dengan latar belakang Hohensalzburg Castle

3. Nonnberg Abbey

Nonnberg Abbey ini letaknya ga gitu jauh dari hostel tempat gue menginap, tapi untuk menuju ke sini musti agak nanjak dulu. Di sinilah biara tempat suster Maria menghabiskan separuh hidupnya. Kita cuma bisa masuk ke dalam gerejanya saja dan tidak bisa melihat biara tersebut. Bentuk gerejanya sendiri kecil, katanya sih ini gereja tempat Maria dan kapten Von Trapp menikah di dunia nyata, kalo di film-nya bukan di sini, tapi di tempat lain.

img_5013

Halaman depan gereja di Nonnberg Abbey

4. Hohensalzburg castle

Kastil ini letaknya agak di atas bukit, dan bisa ditempuh dari arah Nonnberg Abbey. Untuk mencapai kastil ini jalannya cukup menanjak. Dan setelah sampai di pintu gerbang, ternyata masuk ke dalamnya bayar 9,80 Euro. Jeng jeng jeng jeng! Yaudah batal masuk kastil, liat-liat pemandangan aja dari atas bukit hahaha.

img_5158

View menuju Nonnberg Alley dan Hohensalzburg Castle

4. Hellburn Palace

Istana yang satu ini letaknya agak di pinggir kota, kita harus naik bis untuk mencapai ke sana. Kompleks istana ini cukup besar, dengan taman dan air mancur di tengahnya. Di dekat situ juga ada kebun binatang.

img_5164

Hellbrunn Palace, bagian depannya dijadikan syuting halaman rumah Von Trapp

img_5180

Gazebo di Hellbrunn Palace, tempat scene “Sixteen Going on Seventeen”

img_5183

Pemandangan di Hellbrunn Palace

7. Schloss Leopoldskron

Tempat ini juga merupakan tempat syuting Sound of Music yaitu bagian teras belakang rumah Kapten Von Trapp. Sayang, rumah ini sekarang sudah menjadi hotel sehingga kita tidak bisa masuk ke dalamnya. Gue sempet masuk ke halaman hotel ini dan melihat pagar tempat syuting Sound of Music. Kalo ga ikut tur, mencari tempat ini agak susah, musti jalan kaki tanpa ada arah petunjuk dari pemberhentian bis terdekat. Setelah jalan kaki ke arah kastil, kita tidak langsung sampai di kastil tetapi sampai di danau depan kastil yang super besaaaar dan musti mengelilingi danau ini untuk sampai di kastil. Danaunya baguuuus banget, dan pas gue dateng matahari lagi bersinar cerah dan membuat pantulan indah di danau ini. Bener-bener recommended!

img_5202

Kastil Leopoldskron yang sekarang sudah menjadi hotel

img_5194

Danau Leopoldskron. Bagian Salzburg yang paling gue suka!

img_5233

Teras belakang rumah Von Trapp, di mana Maria dan anak-anak Von Trapp kembali ke sini dengan menggunakan perahu (dan terjengkal karena kaget melihat ayahnya sudah pulang!) setelah bermain-main seharian.

Meskipun kota Salzburg bener-bener menarik untuk pecinta Sound of Music, tapi sejujurnya, kota ini jauh dari ekspektasi gue. Gue udah ngebayangin kota yang bener-bener indah dengan danau dan gunung kece di sekitarnya, sayangnya untuk bisa mencapai danau dan gunung itu ga cukup dengan muter-muter kota Salzburg, kita harus ikut tur yang menjangkau tempat ini, yang agak di luar kota. Gue nemu Hop on Hop off tour khusus buat Lake and Mountain yang harganya lebih terjangkau dari Panorama Tour. Harganya 25 Euro. Ini linknya! Gue hampir ikut tur itu, tapi karena ramalan cuacanya jelek, batal deh. Saran gue kalo mau ke Salzburg, harus ikut tur Lake and Mountain dan juga harus ke Hallstatt, kota deket Salzburg yang bagus banget. Sayang, gue ga ke 2 tempat itu, jadi perjalanan gue di Salzburg terasa kurang berkesan. Haha.

img_5157

Auf Wiedersehen, Salzburg!

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Praha

Tanggal 14 Agustus 2016, gue meninggalkan Bratislava untuk menuju kota Praha. Gw naik bis regiojet seharga 10 Euro, dari Bratislava jam 09.45 dan nyampe ke Praha jam 14.30. Di Praha gue menginap di Hostel bernama Plus Prague, lokasinya ga di tengah kota, tapi buat ke tengah kota bisa naik tramnya. Tramnya ini cukup otentik, dan ga keliatan modern. Gue memilih hostel ini karena murah dan reviewnya bagus, harganya sendiri semalam hanya 7 Euro. Habis check in dan naruh barang-barang di hostel gue mulai menjelajahi Prague, gue langsung ke old town square. Praha ini kotanya bagus banget, gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Bener-bener unik, beda sama kota lain di Eropa dan cantik! Cuma satu kekurangannya, terlalu banyak turis di kota ini, jadinya crowded banget kemana-mana desek-desekan sama orang.

Gue di sini selama 4 hari 3 malam, muterin kota ini sampe puas. Gw juga sempet ikut Free Walking Tour di sini. Nah, di postingan kali ini gue mau kasi rekomendasi 6 tempat yang harus dikunjungin saat ke Praha, bahkan kalo lo cuma punya waktu sehari di Praha, lo bisa dateng ke semua tempat ini..

 

1. Old town square

Di setiap kota di Eropa yang pasti harus dicari itu pasti Main Square-nya, jantung tempat kota itu berdenyut. Dan Main Square di Praha itu bener-bener magical! Probably the best main square i’ve ever seen in Europe. Arsitekturnya bener-bener cantik. Udah gitu kereta kuda berisi turis suka berseliweran di sana. Aku sukaaaaa deh pokoknya!

img_4729

Cakep kan? Lebih cakep diliat aslinya sih daripada di gambar sih hahaha.

2. Astronomical Clock

Salah satu ikon kota Praha ini letaknya masih di area Main Square, bentuk jamnya sih emang bener-bener overrated. Kalo kata tour guide gue pas Free Walking Tour, astronomical clock adalah second most overrated tourist atraction after Manneken Pis in Europe hahaha. Dan gw setuju sih sama kata dia. Walaupun overrated, tapi tempat ini ga boleh dilewatin saat di Praha.

img_4709

Astronomical Clock

3. Charles Bridge

Jembatan ikonik kebanggaan Praha, wajib ke sini meskipun tempatnya super crowded hahaha. Jembatannya cakep banget, banyak musisi dan seniman yang mencari nafkah di jembatan itu. Ada grup musik, ada orang yang gambar silhoutte muka orang pake gunting, dan lain sebagainya. Bener-bener hidup, dan ramai! Haha.

img_4783

Ini dia gerbang masuk Charles Bridge, see how crowded it is.

img_4793

Kalo ini udah di tengah-tengah Jembatannya Charles.

img_4795

Salah satu patung di Charles Bridge.

img_4804

Kalo kita nyeberangin Charles Bridge sampe ujung, kita bisa menemukan sisi lain kota di seberang sungai dan ini juga cantiiiik!

4. Prague Castle

Prague Castle ini sebenernya kompleksnya luas banget dan bukan bener-bener castle sendiri, jadi dia terdiri dari gereja seperti Cathedrale St. Vitus dan Basilica of St George dan juga residential palace, tempat presiden tinggal. Agak susah foto castle ini dari bawah, tapi dari atas castle ini pemandangan kota Praha bener-bener bagus. Di atas castle ini ada starbucks haha, tempat dimana lo bisa ambil foto bagus (pinter bgt starbucks milih lokasinya) dan biar bs masuk itu pasti lo berasa ga enak kalo ga beli apa-apa.. cuma gue liat ada beberapa turis Asia yang cuek aja foto-foto di situ tanpa beli, jadi ya gue ikutan haha. Starbucksnya sendiri sebenernya ada di lantai bawah, di atasnya kaya rooftopnya gtu, tempat buat duduk-duduk dan ambil foto.

img_4842

St. Vitus Cathedral

img_4845

Salah satu gereja lain di Prague Castle

img_4891

View Praha dari Starbucks di Prague Castle.

5. Dancing House

Tempat ini letaknya agak di luar pusat kota, buat jalan kaki ke sini dibutuhkan sekitar setengah jam dari pusat kota. Tempat ini terkenal karena bentuk gedungnya yang unik dan keliatan kaya lagi joget haha.

img_4924

Dancing building

6. John Lennon Wall

Ini tempat nyarinya susah luar biasa, sempet bayangin wallnya bakal gede gitu kaya tembok Berlin sebelah timur yang isinya grafiti dan gambar-gambar semua. Eh ternyata tempatnya kecil banget! Tapi bagus sih, walaupun crowded banget kebanyakan orang.

img_4953

Gue di John Lennon Wall. Udah kaya kang pijet belom? Haha.

Jadi, makin pingin ke Praha kan? Hihihi. Pokoknya Praha sama Budapest itu wajib kalo pengen main ke Eropa Tengah 😀

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Bratislava

Habis dari Vienna, perjalanan berlanjut ke Bratislava. Buat yang belum tau, Bratislava adalah ibukota dari Slovakia. Slovakia itu dulu pernah satu negara sama Ceko, namanya Cekoslovakia, tapi sekarang udah pecah dan jadi negara sendiri-sendiri. Gue naik bis regiojet seharga 1 Euro! 1 Euro, bayangin! Emang deket banget sih, perjalanan dari Vienna ke Bratislava itu cuma 1.5 jam, tapi kalo mengingat servis di bis regiojet yang bener-bener mantap: dikasih hot drink, ada layar tv kecil di masing2 bangku buat hiburan, dipinjemin koran, headset, rasanya kasian aja sama ini bis, dapet untungnya dari mana coba. Hahaha. Gw berangkat dari Vienna tanggal 11 Agustus 2016 jam 10.25 dan sampai di Bratislava jam 12.00 siang. Keluar dari stasiun, gue langsung ke mal bernama Eurovea untuk beli makan siang dan menunggu host couchsurfing gue menjemput. Gue menunggu di depan sungai Danube sambil duduk-duduk ngantuk. Host gue yang bernama Michal (nama cowo ini) berjanji akan menjemput gue jam 3 siang sepulang dia kerja. Dia sebenernya kerjanya sampe sore, tapi sengaja pulang jam 3 biar gue ga nunggu lama. Dan surprisingly, dia udah nyamperin gue jam 2! Gile, baik banget. Sebelum balik ke rumahnya dia buat naruh barang, kita sempet minum gitu di salah satu resto/bar di mal sambil ngobrol-ngobrol. Waktu itu gue yang bayarin minumnya dia, dia sempet ngelarang gtu, tapi akhirnya gue tetep bayarin. Haha.

Host gue ini adalah salah satu host yang paling memorable dalam perjalanan gue selama 40 hari di Eropa Tengah. Jadi waktu itu gue minta dia jadi host gue, karena dia pernah ke Indonesia. Foto profilnya keliatan bgt di salah satu tempat di Indonesia. Ya jarang2 kan bisa nemu bule yang pernah ke Indo. Eh, dia accept gue dan kita sepakat bahwa gue nginep tempatnya dia selama 1 malam. Gue sebenernya di Bratislava 3 malem, tapi dia ga bisa host gue selama 3 malem karena dia harus bantu-bantu nikahan adiknya di malam ke-2 dan ke-3 gue di sana. Nah, setelah ngobrol-ngobrol, ternyata dia itu pernah tinggal di Indonesia selama 16 bulan karena ikut program beasiswa Darmasiswa, yang gue baru tau kalo program itu ada. Jadi program ini memang khusus untuk orang asing yang mau belajar Bahasa Indonesia. Ternyata, di Bratislava ada 2 orang lagi yang ikut program yang sama. Dan si host gue mengajak mereka berdua untuk bertemu gue malamnya. Baik banget sumpah, gue terharu dia arrange pertemuan itu buat gue. Jadi setelah naruh barang di rumah, gue dan dia pergi makan malam dan bertemu 2 temannya itu. Sepanjang malam mereka cerita pengalaman mereka di Indonesia, yang bener-bener unforgetable katanya. Unik-unik sih, yang paling ajaib adalah waktu salah satu temennya cerita kalo dia nemuin pasukan kecoa buanyaaaak bgt di kamar kosannya, sampe akhirnya dia bunuhin satu-satu hahaha. Overall, mereka seneng banget ke Indonesia. Bahkan si host gue pernah punya pacar 3 orang Indonesia hahaa. Cuma kalo ditanya mau ga tinggal lebih lama lagi di Indo, dia bilang “Ga. 2 tahun kayanya udah maksimal buat gue, habis itu rasanya pengen pulang.” Hahaha. O iya, mereka juga bisa bahasa Indonesia dikit-dikit, jadi mereka latihan juga pas ketemu sama gue haha.  Ada satu kata-kata mereka yang gw inget, salah satu dari mereka bilang “Gila ya, gue kangen sama Indonesia, tinggal di Indonesia selama itu rasanya kaya mimpi, sekarang di Bratislava itu kaya kembali ke kenyataan.” Terus yang lain nyaut, “Kalo kamu lagi di dalam mimpi ya, Cuni. Mimpi kamu itu Prancis”. Hahaha. Lucu rasanya negara kita itu dianggep mimpi sama orang asing, sementara gue di sini lagi menjalani mimpi gue, di Prancis, yang ga seindah dalam bayangan gue hahaha *loh kok ada curhat colongan?* hahhaa. Kembali ke topik. Malam itu dihabiskan dengan ngobrol, makan, jalan, sampe akhirnya waktu menunjukkan lewat dari pukul 12 dan kita pun pulang naik taksi haha. Si host gue ini besokannya musti balik ke kantor.

img_4515

Dari kanan ke kiri: Gue, Michal (host gue, pernah tinggal di Lampung 16 bulan), Temen cowonya (gue lupa namanya siapa, dia juga di Lampung), Temen cewenya (tinggal di Malang).

Besokannya gue pindah dari rumah host gue ke hostel yang bernama Possonium (18 Euro per malam). Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini gue nginap di hostel. Dan setelah ini gue bakal tinggal di hostel terus (kecuali di Frankfurt, ada temen). Rasanya, seneng sih.. hahaha. Akhirnya gue bisa bangun tidur sesuka gue, tanpa harus ngikutin host gue, gue ga usah pusing basa-basi cari topik buat ngobrol. Tapi kesenangan itu hanya berlangsung beberapa hari, habis itu gue ngerasa kesepian. Karena orang-orang di hostel ga ada yang bisa diajak ngobrol sampe deket bgt, biasanya ngobrol cuma sekedarnya, dan ga sampe deket bgt. Sementara kalo di couchsurfing berasa deket sama host-nya dan bisa ngobrol macem-macem. Saat itu gue ngerti, ternyata emang metode yang paling cocok buat gue adalah couchsurfing haha.

Habis naruh barang di Possonium, gue mengitari Bratislava, berbekal juga beberapa tips dari si host. Bratislava ini kotanya cukup kecil, jadi beberapa jam cukup buat mengitari Bratislava. Habis itu gue ke Bratislava castle, istana kecil yang berada di tengah kota Bratislava. Agak sorean, gue ke Devin castle, bayar sih masuknya (4 Euro buat umum, 2 Euro buat mahasiswa), tapi worth it, lebih bagus dibanding Bratislava castle. Untuk ke Devin ini kita musti naik bis sekitar 45 menit dari tengah kota. Recommended! O iya, selama di Bratislava gue ga gt makan makanan lokal, soalnya harganya ga semurah di Krakow atau Budapest dan duit gue udah mulai menipis. Gue berapa kali makan panini di pinggir jalan, recommend dari host gue hahha (harganya kalo ga salah 3 Euro).

img_4528

Pusat kota Bratislava. And out of nowhere gue ketemu sama Helmi Yahya, dan tim-nya yang entah lagi mau syuting apa di Bratislava.

 

img_4530

Di Bratislava itu banyak banget patung-patung unik. Salah satunya patung ini.

 

img_4545

Bratislava castle tampak depan. Lebih mirip sama kantor pemerintahan ya? Haha.

 

img_4559

View dari atas Bratislava castle

img_4582

Reruntuhan Devin Castle

img_4613

Devin Castle. Di sini gue bertemu sama cewe yang diduga cewek Indonesia, yang kerjaannya self video gtu, jadi keliatan ngomong sendiri di layar telepon haha. Mungkin lagi buat vlog..

 

Keesokan harinya, gue habiskan dengan leyeh leyeh di kamar hostel menikmati kasur. Hari itu adalah salah satu hari di liburan gue selama 40 hari dimana gue ga pengen kemana mana sama sekali, pengen istirahat aja. Gtu enaknya jalan-jalan dalam jangka panjang, bisa sambil santai. Sesiangan juga gue habiskan buat nyuci baju di mesin cuci hostel, nyucinya gratis, tapi karena deterjennya abis terpaksa gue beli sendiri deterjennya di warung sebelah haha. Tapi ujung-ujungnya gue keluar juga karena bosen, sekitar jam 4 sore gue keluar dan ikut Free Walking Tour di Bratislava. Lumayan, jadi tau sejarah tempat-tempat yang gue datengin kemarinnya. Menutup perjalanan gue di Bratislava, gue pergi ke Slavin memorial, tempat peringatan tentara Soviet yang gugur di Perang Dunia II, di tempat ini juga banyak kuburan gt. Pas pulangnya, gue agak nyasar-nyasar dikit karena letak tempat ini agak di atas, tapi untungnya gue menemukan jalan pulang haha.

img_4653

Blue church, cakep ya! Biru semua gitu..

img_4654

Blue church tampak dalam.

img_4629

Michael’s Gate, salah satu gerbang ke pusat kota Bratislava yang sangat ikonik.

Segitu saja kisah perjalanan gue di Bratislava, besok gue akan melanjutkan petualangan di Praha.

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

 

 

40 Hari di Eropa Tengah: Vienna

Setelah puas menghabiskan liburan di Budapest, gue beralih ke kota selanjutnya, Vienna! Dari Budapest gue naik bis Regiojet seharga 9 Euro. Bis ini adalah bis antar negara Eropa yang paling kece yang pernah gue temuin, harganya murah dan fasilitasnya kaya pesawat! Ada layar kecil di setiap bangku dimana kita bisa nonton film, memutar lagu ataupun main game. Terus dikasih headphone satu-satu dan dikasih hot drink, gratis! Bahkan dia juga nyediain koran kalo ada yang mau baca. That was sooooo cooool! Selain itu juga ada wifi dan colokan seperti layaknya bis di Eropa. Gue berangkat dari Budapest tanggal 8 Agustus 2016 pukul 9.15 dan sampai di Vienna pukul 13.55. Masuk ke Vienna gue mulai berasa kembali ke Eropa Barat, hahaha. Karena di sini semuanya berbahasa Jerman dan ga ada lagi huruf alfabet aneh-aneh kaya di Budapest ataupun Krakow. Dan karena kita kembali ke negara dengan mata uang Euro, otomatis barang-barang semuanya jadi lebih mahal. O la la. Kembali ke makan sandwich 1 Euro di supermarket!

Di Vienna gue tinggal di tempat temennya temen gue, orang Indonesia. Gue punya temen yang tinggal di Vienna, tapi karena dia lagi liburan juga, jadilah gue dititipkan ke temennya, ibu-ibu, namanya Ibu Bidah. Ibu Bidah ini sedang menjalankan kuliah doktorat di Universitat Wien. Gue janjian sama ibu ini di salah satu stasiun metro, untuk bersama-sama pulang ke rumahnya. Waktu itu sampai di rumah, sudah sore hari, jadi gue memutuskan untuk istirahat dan ga kemana-mana seharian. Gue mulai pingin nyantai, secara kemarin udah jalan-jalan terus.

Keesokan harinya, tanggal 9 Agustus, gue ikut Free Walking Tour (FWT) jam 10 pagi. Kita bertemu di Albertina, sebuah museum di pusat kota, berkeliling memutari Inner Stadt atau pusat kota dan mengakhiri perjalanan di gereja terbesar di Vienna, St. Stephen’s Cathedral. Selama trip ini, ini adalah FWT paling mengecewakan, peserta turnya banyak banget dan ga dibagi lagi, ada sekitar 60 orang dalam 1 tour, jadilah kita ga fokus karena terlalu banyak orang. Udah gitu, pas terakhirnya secara ga langsung guidenya kaya minta 10 Euro gitu. What?? Ga memaksa sih, cuma kayanya orang orang pada ngikutin kata dia. Gue sih ngasi 2 Euro doang, bodo amat. Hahaha. Mana ada sih dimana mana FWT ngasi patokan uang tips.

img_4313

Patung Mozart, di sebuah taman di kawasan Hofburg Palace

img_4332

Sebuah sudut kota

Habis ikut FWT, gue beli makan siang sandwich di supermarket (di sini yang murah namanya Billa), kemudian gue melanjutkan perjalanan ke Karlskirche atau St. Charles Church, di sana sempet duduk-duduk di luar sambil makan es krim yang dijual di mobil-mobil gt. Di perjalanan gue juga sempet liat Universitat Wien yang bangunannya keren bgt, klasik gitu. Habis itu gue balik lagi ke pusat kota untuk lebih menikmati bangunan yang tadi gue liat pas FWT. Gue ke kompleks Hofburg Palace, ikon-nya Vienna. Hofburg Palace ini kompleks istananya besar bgt dan ada beberapa musium juga dalam kompleknya. Kerennya, istana ini masih berada di pusat kota, dan ga berdiri sendiri di agak pinggir kota kaya istana di Eropa kebanyakan. Habis itu gw menuju ke Vienna Ring Road, kaya semacam pembatas buat keluar dari pusat kota gitu. Di Vienna Ring Road ini ada Austrian Parlement Building dan juga Rathaus atau City Hall. Kebetulan di halaman Rathaus lagi ada persiapan pemutaran festival film gitu, tapi pas gue lewat belum mulai acaranya, jadi ga bisa sekalian nonton. Habis itu gue balik ke rumahnya Ibu Bidah, hari itu kayanya udah cukup yang dikunjungin, dan pengen leyeh-leyeh di rumah.

img_4343

Gloomy Karlskirche

img_4356

Salah satu sudut di kompleks Hofburg Palace

img_4363

Masih di Hofburg Palace

img_4409

Ini juga..

img_4410

Ini juga! Hahaha. Gede banget kan kompleks istananya!

img_4393

Austrian Parlement Building

Leyeh-leyeh berlanjut sampe keesokan harinya, gue ga bisa keluar karena di luar hujan deras. Males keluar, gue leyeh-leyeh aja sampe jam 3 sore, nunggu ujannya berenti. Hahaha. Gitu nikmatnya solo travelling, mau santai-santai doang seharian juga ga ada yang ngurusin. Si Ibu Bidah jg baik banget, ngebiarin gue di rumahnya, kapan aja hahaha. Setelah hujan berhenti, tujuan gue hari iru adalah ke 2 istana besar di Vienna. Istana Belvedere dan Istana Schonbrunn. Perhentian pertama ke Istana Schonbrunn, istana yang paling luas di Vienna. Kompleks istananya gede banget, dengan halaman luas yang bentuknya simetris, seperti istana di Eropa Barat kebanyakan. Di sini kita bisa liat Istana Schonbrunn dari atas, sedikit tips, di deket tempat pandang yang dari atas itu, ada restoran yang bisa kita colong wifi-nya hahah. Mayan lah buat update instagram hahha. O ya, gue kalo jalan-jalan ga pernah paket data atau sengaja mesen paket yang dari luar negeri gitu, gue bergantung pada wifi dan telp/sms. Kalo ada apa-apa gue bisa sms host gue, ya secara ga mahal juga sih, pake kartu Prancis selama masih di Uni Eropa harganya 0.07 Euro per sms. Puas di Istana Schonbrunn, gue ke istana yang lebih kecil bernama Belvedere. Tipikalnya sama kaya Schonbrunn, simetris dengan halaman luas di depannya, tapi yang ini bangunannya lebih berwarna putih, sementara Schonbrunn kuning kecoklatan gitu. O ya, kita bisa masuk ke Schonbrunn, dan melihat istananya ke dalam, tapi harus bayar, kalo gue sih dari luar aja. Hehe.

img_4427

Halaman Istana Schonbrunn

img_4441

Istana Schonbrunn

img_4455

That’s me, di dekat resto yang ada wifi-nya! Hahah. Summernya dingin bo, pake jaket sama celana panjang gitu gue.

img_4486

Istana Belvedere

Habis dari istana, gue balik lagi ke pusat kota untuk melihat tempat yang belum gue jelajahi kemarin. Karena itu summer, jadi jam 8 malem juga masih terang benderang hahaha. I love summer! Gue kali ini mampir ke Museumsquartier, kompleks di mana terdapat banyak museum di dalamnya dan ke Mariahilfestrasse, jalan besar tempat dimana banyak toko dan restoran gitu. Gue sempet ngiler liat Nordsee (chain fastfood-nya Jerman yang isinya makanan dari ikan) jadilah gue beli makan malam itu haha.

Perjalanan gue ke Vienna berakhir sudah, keesokan harinya gue akan melanjutkan perjalanan ke Bratislava!

Menurut gue pribadi, Vienna ga sebagus ekspektasi gue hahaha. Bagus sih, bangunannya klasik gitu dan cantik, rapih, terawat, keliatan banget kota musikal, tapi mungkin karena gue suka jalan-jalan di Eropa Barat ya, jadi keliatan sama aja kaya di Prancis, Jerman, dan tempat-tempat lain, beda sama Budapest atau Krakow yang bener-bener baru buat gue. It just my two cents, though! 🙂

img_4480

Halaman Istana Belvedere

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.

40 Hari di Eropa Tengah: Budapest

Tanggal 5 Agustus pagi gue meninggalkan Krakow untuk menuju ke Budapest. Perjalanan ke Budapest memakan waktu 7 jam. Gue naik Polskibus lagi, kali ini harganya 8 Euro. Di Budapest gue akan meninggalkan kenyamanan Couchsurfing gue bersama orang Indonesia di 2 kota sebelumnya dan mencoba peruntungan dengan warga lokal. Gue sampai di Budapest kira-kira setengah 5 sore dan langsung mencari money changer di terminal bis. Budapest ini memiliki mata uang Forint. Gue mulai panik karena gue tidak menemukan money changer di terminal, gue mencari-cari kesana kemari masih belum ketemu juga. Akhirnya gue masuk ke dalam stasiun metro dan menemukannya. Alhamdullilah! Setelah itu gue membeli tiket metro menuju tempat bertemu gue dan host couchsurfing gue. Kami bertemu di stasiun metro dekat rumahnya di pusat kota. Namanya Ivett, orang Hungaria asli yang baik dan juga ramah sekali, bahkan pas pertama ketemu langsung keliatan kalo dia open. Dia mengantar gue ke rumahnya untuk naruh barang bawaan. Habis itu gue diajak melihat Budapest di malam hari. Kami menelusuri jembatan, lalu berputar-putar di pusat kota tempat banyak makanan berada. Kami ngobrol macem-macem di sepanjang jalan, walaupun Bahasa Inggrisnya ga terlalu lancar, tapi dia tetep punya banyak hal untuk diceritakan. Gue diajak untuk membeli burger di food truck, tempatnya cukup rame dan burgernya lumayan enak. Setelah itu dia menunjukkan ke gue tempat paling hits di Budapest, sebuah Ruin Bar yang bernama Szimpla, Ruin Bar paling besar dan paling tua di Budapest. Ruin Bar sendiri adalah sebuah bar dengan konsep unik: bar ini menggunakan tempat tua yang sudah tak terurus/hancur, kemudian menjadikannya bar dan memenuhinya dengan barang-barang antik, juga terdapat banyak tandatangan artis di dindingnya. Agak susah sebenernya mendeskripsikan tempat ini, yang jelas ada suasana berantakan di dalamnya. Dan di Szimpla ini buanyak banget orang, sampe berasa bising banget dan kalo mau ngobrol ga bakal kedengeran. Gue sama Ivett cuma masuk buat liat-liat sekeliling dan ga lama-lama di situ. Habis itu kita pulang, karena kaki gue mulai sakit, ada gelembung di telapak kaki gue, sepatunya ga nyaman buat dipakai saat itu. Huff.

img_3976

Ini dia Ivett, cewek Hungaria host couchsurfing gue ❤ ❤

Keesokannya, tanggal 6, gue berjalan mengitari Budapest sendirian, karena Ivett ada janji sama temannya hari itu. Jujur, travelling ideal versi gue ya kaya gt, gue bisa eksplor sendirian sepanjang hari, terus gue bisa pulang ke tempat orang yang gue kenal dan menceritakan petualangan gue hari itu. Gue kurang suka eksplor tempat bareng orang lain, tapi jg terlalu kesepian kalo sepanjang hari gue lewati sendirian, gue harus ngomong sama orang lain. Dan kadang kalo di hostel gue malah berasa kesepian karena belum tentu kita bisa cerita sama orang lain, kayanya couchsurfing emang cocok buat gue hahaha.

Guepun menyusuri Budapest sendirian dengan kaki yang masih sakit, dengan berbekal peta dan beberapa petunjuk dari Ivett. Karena waktu itu kaki gue sakit, gue naik bus untuk naik ke Buda Castle, tujuan teramai di Budapest. Padahal sebenernya jalan kaki ga terlalu jauh, cuma 30 menit dari pusat kota. Budapest sendiri terbagi menjadi dua bagian dengan dipisahkan oleh sungai Danube. Dua wilayah ini disebut Buda dan Pest. Pusat kota terletak di wilayah Pest, sementara di wilayah Buda terdapat Buda Castle, kompleks istana yang sangat besar terletak agak di bukit. Di kompleks istana ini terdapat beberapa museum, monumen, gereja dan juga istana itu sendiri. Dari atas Buda Castle terlihat pemandangan Pest yang cantik dengan gedung parlemennya, serta Sungai Danube. Yang haram untuk dilewatkan di Buda Castle adalah Matthias Church dan Fisherman’s Bastion. Gue hampir aja turun dari Buda Castle dengan melewatkan itu semua kalo ga inget wejangan dari Ivett, katanya harus mampir ke Fisherman’s Bastion. Matthias Church sendiri sangat cantik dilihat dari luar, dengan atapnya yang eksotik khas Hungaria. Waktu gue ke sana, lagi ada pernikahan di area Fisherman’s Bastion, jadi agak susah ambil angle foto yang bagus dari situ. Dari Fisherman’s Bastion juga keliatan jelas gedung parlemen Budapest yang luar biasa cantik. O iya, di sini gue juga nyobain snack khas Budapest yang namanya Kurtoskalacs, pastry besar yang berbentuk roll.

img_4041

Pemandangan dari Buda Castle

img_4056

Kurtoskalacs, Hungarian Chimney Cake. Snack ini juga bisa ditemukan di Ceko dan negara Eropa Tengah lain dengan nama yang berbeda.

img_4201

Matthias Church

img_4073

Atap-atap di Matthias Church, lucu ya..

img_4089

Fisherman’s Bastion

Selesai mengagumi kompleks istana ini, gue kembali ke arah Pest dengan menaiki bus. Gue berjalan menyusuri sungai Danube menuju gedung parlemen. Di situ gue menemukan sepatu-sepatu besi berserakan yang ternyata adalah sebuah tempat peringatan bagi orang-orang Yahudi yang ditembak di pinggir sungai Danube. Jadi sebelum ditembak dan didorong ke sungai, mereka disuruh melepas sepatu terlebih dahulu. Lagi-lagi jejak NAZI di Eropa Tengah, bener bener ngebuat pilu. Setelah dari situ gue ke Budapest Parliament Building yang cantiknya luar biasa. Puas foto-foto gue tiduran di bangku deket situ hahaha. Salah satu enaknya solo travelling, bisa ngapain aja termasuk tiduran di mana saja dan kapan saja. Hahaha. O ya, kalo di Eropa itu tidur di taman atau bangku dekat teman itu sudah biasa, jangan dibandingin sama di Jakarta ya hahaha.

img_4103

Sepatu besi untuk memperingati korban Holocaust di Budapest

img_4119

Gedung Parlemen Hungaria, so beautiful!

Dari situ gue melanjutkan perjalanan ke St Stephen’s Basilica, sebuah gereja yang diberi nama raja pertama Hungaria, Stephen. Adapun gereja ini memiliki tinggi yang sama dengan gedung parlemen, dan mereka adalah dua bangunan tertinggi di Hungaria dengan tinggi 96 m, tidak boleh ada bangunan lain yang tingginya melebihi itu. Konon katanya, di gereja ini disimpan tangan kanan Raja (yang juga menjadi Santo-sebutan untuk orang suci agama Katolik) Stephen. Selepas dari situ gue menaiki subway ke Hosok Tere, monumen besar tempat mengenang para pahlawan. Di dekat situ gue melihat Beer Bike yang lagi ngetem buat disewain. Beer Bike adalah sebuah kendaraan yang berisi 10 orang yang mengayuhnya sambil berhadap-hadapan (kaya naik angkot gtu) dan mereka muter keliling kota sambil minum bir (total 30 liter!) yang sudah disediakan di kendaraan itu. Biasanya mereka muter kota sambil ruri, alias seru sendiri, mereka nyanyi-nyanyi dan teriak-teriak di dlm beer bike itu. Oya, ada musiknya juga di dalam situ! Kata Ivett sih biasanya mereka ngadain semacam bachelor party di situ. Asli seru abis!

img_4184

Mamam pizza 2 Euro-an di depan St. Stephen’s Basilica

img_4158

Hosok Tere

Jalan dikit dari Hosok Tere, ada salah satu tempat terpopuler di Budapest, Szechenyi Thermal Bath. Gw pernah liat di foto temen gue sih bagus ya. O ya, pemandian air panas kaya gini juga ngehits banget di Budapest. Gue sih ga nyobain, ga pengen dan ga sesuai sama kantong hihi. Habis dari situ gue pulang ke rumahnya Ivett. Kayanya udah hampir semua tempat populer di Budapest udah gue kunjungi hari itu, kecuali satu, yang katanya tempat terindah buat liat Budapest night view, itu disimpan buat besok malam hihi.

Gue pulang dengan banyak cerita untuk Ivett. Tapi sebanyak2nya cerita gue jg tetep aja banyakan cerita dia hahahha. Malam itu gue habiskan dengan santai dan nonton Sex and City versi Hungaria hahaha. Negara2 di Eropa selalu punya cara untuk mendubbing film US ke bahasanya sendiri2 wkwk.

Keesokan harinya, hari minggu, gue juga jalan-jalan sendiri untuk kembali menjelajahi Budapest. Di saat bingung mau ngapain, Free Walking Tour jawabannya! Hahaha. Meski FWT kali ini rutenya ga beda jauh sama lokasi jalan-jalan kemarin, tapi gue pengen melihat Budapest dengan perspektif yang berbeda, perspektif warga lokal, alias guidenya. Tempat tujuan akhir FWT ini adalah Buda Castle, tapi bedanya dari perjalanan gue kemarin, gue kali ini naik ke atas Buda Castle jalan kaki! Hahaha. Karena jalan kaki gue bisa menikmati menyusuri Chain Bridge, jembatan yang sangat besar penghubung Buda dan Pest.

Di saat solo travelling pasti ada aja kejutannya. Kali ini gue ketemu sama orang Indonesia di Free Walking Tour (FWT)! Awalnya kita cuma liat-liatan, dalam hati gue yakin dia orang Indonesia tapi segan nyapa duluan, ternyata gitu juga yang ada di pikiran dia. Dan pas akhirnya nyapa, ternyata bener! Dan bukan cuma orang Indonesia, tapi dia juga anak sanur, dan punya banyak friend in common sama gue. Nama panggilannya Noni, anak sanur 08 dan juga anak UI yang udah tinggal di Milan selama beberapa tahun. Hahaha. Habis itu kita ngobrol macem-macem dan akhirnya kita bisa foto diri dengan proper, karena kita berdua solo travelling jadi dari kemaren ga ada yang motoin hahaha. Sekarang saatnya saling minta fotoin hahahah. Habis dr FWT kita ngemil snack Hungaria bareng yang disebut Langos. Sayangnya habis itu kita musti berpisah, karena dia mau ikut bar crawl tur yang diadakan sama tur yang sama, sementara gue mau naik ke atas Citadel, tempat yang katanya bagus banget buat liat night view. Bye, Noni, semoga kapan2 bisa ketemu lagi..

img_4236

Gedung Parlemen dari atas Fisherman’s Bastion

img_4293

Meet Noni, Sanurians and UI-ers juga! 😀

img_4239

Langos, snack khas Hungaria, toppingnya bisa macem-macem.

Perjuangan naik ke atas Citadel jauh lebih sulit dibandingin ke atas Buda Castle, bukitnya lebih tinggi dan lebih curam. Gue sempet duduk beberapa kali untuk ambil napas. Sampai di atas hari belum bisa disebut gelap, masih peralihan dari sore menuju malam. Sudah banyak orang yang menanti di atas situ untuk melihat city view. Udara mulai dingin, anginnya berasa banget. Sambil menanti gue mencoba menghangatkan badan dengan mencari spot yang terlindungi dari angin, tapi ga ngaruh sama sekali rrrr. Setengah jam kemudian hari sudah benar benar gelap. Gue kembali ke spot awal tempat melihat night view, dan…. jeng jeng jeng jeng! I saw the most breathtaking night city view in my life! Seriously! Ini bener bener jadi penutup yang indah di hari terakhir gue di Budapest. Totally recommended!!

img_4260

Sunset in Citadel

img_4275

Breathtaking view of Budapest from Citadel. A must visit!!

P.S: Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanan saya 40 Hari di Eropa Tengah bisa klik link ini.