Sailing Komodo: Living on Boat.

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya, Bali dan Gili Trawangan.

Day 5
Setelah sampai di wisma nusantara 2, saya dan chitto istirahat sebentar di kamar lalu berkeliling mencari makan malam. Kami menemukan tempat makan ayam taliwang yang ramai, di seberang mal, bernama Ayam Taliwang Mandiri. Yang ramai itu memang pasti enak. Terbukti, makanan ini ludes dalam sekejap. Setelah banyak makan western food di gili, ayam taliwang ini bener2 nonjok!

Sepulangnya makan malam, kami kembali ke hotel dan bertemu teman2 yg berada di trip (harga di postingan sebelumnya) yang sama. Kami ber-12: cuni, chitto, randy (kepala suku), airin, doni, vincen, tutus, sari, ci lois, mbak ari, panji dan mas sujar. Dari obrolan di whatsapp si keliatannya anaknya seru2, pas ketemu seru beneran kok! Hahahaha.

Day 6
Tiba juga hari H-nya. LIVING ON BOAT!

Sebelum saya bercerita lebih banyak, ini dia peta perjalanan saya selama Living on Boat (LOB). Rute kami adalah yang diberi garis putih.

Jujur saya sempat takut tinggal di kapal. Takut merasa tidak nyaman dan takut mabuk laut. Tapi selalu ada yang pertama kali untuk segala sesuatunya. Pukul 12 kami dijemput oleh bis yang membawa kami ke labuan kayangan, tempat segala sesuatunya dimulai. Tak disangka, kami mendapat kapal phinisi yang besar penuh dengan orang (total 58 orang). Ternyata kami mendapat kapal yang besar karena banyaknya orang yang antusias mengikuti tur hari itu. Biasanya yang digunakan adalah kapal kecil.

Kapal phinisi yang kami gunakan. Photo by Vincentia Maria.

Setelah ngaret super lama karena ada masalah dengan segerombolan bule yang ditipu (mereka membayar kapal pada orang yang tidak jelas yang tidak memberikan uangnya pada pihak kapal), akhirnya kami berlayar pula pada pukul 4 sore. Otomatis, sunset di gili bola yang dijanjikan pun gagal dilihat. Kami sampai di gili bola pada pukul 10 malam dan menepi di sana untuk tidur (tidurnya tetap di kapal).

Sunset di perjalanan menuju Gili Bola

Tidur di kapal ala backpacker cukup simple. Kami semua tidur di dek kapal dengan menggunakan matras dan selimut. Matrasnya cukup empuk si, saya pernah merasakan tidur yg lebih sengsara daripada ini. Hahahaha. Tantangannya adalah, angin laut dan ombak yang mengguncang-guncang kapal. Kalau tidak kuat, bisa muntah ataupun sakit. Oiya ada juga beberapa kamar yg bisa disewa (130.000) tapi jumlahnya terbatas dan dapat dihitung dengan jari.

Malam pertama di kapal saya baru bisa tidur jam 3 pagi. Mayan lah daripada tidak sama sekali.

Day 7
Si chitto sepertinya tidak kuat semalam di kapal, ia terserang demam keesokan harinya.

Pada pagi hari kami berlayar ke Pulau Moyo. Kami akan mengunjungi air terjun, mata air tawar yang pertama dan terakhir dalam trip ini. Fyi, di kapal kita tidak bisa mandi karena persediaan air tawar sangat terbatas. Paling cuma bilas bilas saja. Setelah trekking 30 menit sampai jg kita di air terjun. Langsung kita main main dan selfie di sana. Sangking ramenya yang ikut selfie, fotonya muka orang semua ga keliatan air terjunnya. Hahahaha.

Air terjun (Photo by Sesari)

 

Kapal kami di pulau Moyo

Sehabis puas mandi di air terjun, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal menuju Danau Satonda. Di sana kami melihat lihat danau dan juga snorkeling!

Danau Satonda

Selfie di Pantai Satonda (Photo by Donni)

Sore itu berjalan dengan damai. Kami melanjutkan perjalanan selama 12 jam ke tempat paling ditunggu tunggu. Gili laba.
Day 8
Pukul 3 pagi saya terbangun. Saya melihat cahaya terang yang kemudian redup di langit langit. Saya bertanya tanya cahaya apa itu. Beberapa menit kemudian saya mengobrol dengan salah satu awak kapal, dan ia mengatakan bahwa gunung sangeang di bima meletus! Bisa-bisanya di antara 365 hari di tahun 2014 ia memilih meletus di hari di mana saya sedang berlayar menuju komodo. Padahal terakhir meletus tahun 1999. Terjawab sudah mengapa banyak sekali abu di sekujur badan saya dan di kapal. Butiran yang tadinya saya kira garam dari air laut ternyata abu vulkanik. O my god! Malam mulai mengerikan. Sambil berharap tidak terjadi apa-apa pada kami semua. Saya melanjutkan tidur dan bangun bangun terjadi huru hara di kapal.

Satu kapal kaget dengan berita meletusnya gunung sangeang. Para penumpang yang tadinya tidur di dek atas dipindahkan ke bawah karena terkena abu vulkanik paling parah. Para penumpang memakai masker ataupun sapu tangan. Saya sendiri tidak membawa masker dan pinjam ke orang lain tidak ada yang punya. Pasrah saja lah. Sunrise pagi itu pun ditemani oleh langit berabu.

Gili laba dipenuhi abu vulkanik dan trekking menuju puncak gili laba pun dibatalkan. Satu kapal kecewa tapi kami tak bisa berbuat apa apa karena ini adalah bencana alam. Saya sendiri merasa bersyukur masih bisa hidup. Karena bisa saja letusan gunungnya kena kapal kita atau terjadi gempa di laut. Bila salah satu dari dua hal itu terjadi tentunya saya tidak bisa lagi menceritakan pengalaman ini pada kalian, alias udah die.

Gili Laba yang dipenuhi abu vulkanik 

Oiya buat yang mau tau gili laba itu secantik apa sehingga banyak yang menyesali. Ini dia! Kalo menurut saya seperti raja ampat versi KW. Hehehhe. Cantik banget!

Courtesy of journals.worldnomads.com

Perjalanan ke pink beach juga dibatalkan. Kapal hanya berhenti dari kejauhan dan dari jarak segitu pantai tidak terlihat berwarna pink sama sekali. Tadinya kami dijadwalkan snorkeling di pink beach. Tapi tidak mungkin kecuali kalo mau bernafas pake abu. Huhu.
Kapal berlayar ke arah pulau komodo. Perjalanan ini terasa dipaksakan. Dalam keadaan bencana sepertinya tidak ada komodo yang mau berlama-lama di luar terkena abu vulkanik. Benar saja, trekking 3 km kami bersama hujan abu (ya, hujan abu, bukan hujan salju!) di komodo hasilnya nol. Saya tidak melihat komodo sama sekali. Teman saya ada yang melihat tapi cuma 1.

Hujan abu di Pulau Komodo

Pulau rinca yang harusnya dijadwalkan keesokan harinya dipercepat. Setelah dari pulau komodo kami menuju pulau rinca. Tempat lebih banyak komodo dan lebih liar. Sesampainya di sana, jalur trekking ditutup. Kami hanya bisa melihat komodo dari sekitar dapur. Ternyata di situ saja sudah banyak komodo berkeliaran. Bahkan kami melihat komodo kawin. Hahahaha

Kami melihat komodo dari jauh, karena komodo merupakan hewan yang berbahaya. Ia tidak bisa mendengar suara berisik. Saat di sana, ada bayi bule menangis. Sontak kepala komodo itu langsung tegak. Si anak bule pun dibawa menjauh oleh ayahnya (gila juga tuh bule living on boat bawa anak hahaha).

Our own seven wonders of the world: komodo dragon

Sebagai intermezzo, dulu katanya pernah ada bule prancis hilang di pulau rinca karena terpisah dari grupnya. Dua minggu kemudian, hanya jari dan cincinnya yang ditemukan. Semua habis dilahap komodo. Mengerikan!
Perjalanan diakhiri dengan sebuah ketidakpastian. Dalam keadaan darurat, awak kapal memberikan opsi untuk tetap lanjut menginap di kapal untuk besokannya ke pulau kelor (belum tentu di kelor cuacanya bagus) atau langsung mendarat di labuan bajo. Saya memilih untuk langsung pulang, saya tidak tahan menginap semalam lagi di kapal bersama abu vulkanik. Tapi suara terbanyak dipegang oleh yang ingin bertahan di kapal.
Full team at Pulau Rinca. Thank you guys for the fun holiday! :* (Photo by Tutus)

Full team at Pulau Rinca. Thank you guys for the fun holiday! :* (Photo by Tutus)

Day 9
Setelah semalam lagi di kapal bersama abu vulkanik, kami sampai juga di pulau kelor. Ternyata pulaunya sangat cantik. Kami snorkeling melihat biota laut yang sangat beragam. Bahkan ada ikan ikan nakal yang menggigiti kaki pengunjung. Kami trekking ke puncak pulau kelor, di mana pemandangannya sangat bagus dan dapat mengobati akan kekecewaan batalnya gili laba.

Pemandangan dari atas pulau kelor. Pic by Sesari Handayani.

Pukul 2 siang kami mendarat di labuan bajo, flores. Kami sangat senang bisa berjumpa dengan daratan. Kami langsung memesan hotel (hotel pagi: 350000/malam) dan mandi air hangat sepuasnya. Thank God we are in the land now!

Malamnya kami mencoba makan di restoran nomer 1 versi trip advisor di labuan bajo: mediterraneo. Tempat dan makanannya recommended.

Day 10
Saya sakit batuk dan pilek di labuan bajo. Saya menduga ini karena ulah abu vulkanik. Saya berniat ke dokter sepulangnya ke jakarta.

Karena abu vulkanik, pesawat saya dicancel 4 jam. Teman teman ada yang dicancel sampai 1-2 hari. Beberapa memutuskan naik kapal hingga mataram dan sisanya memutuskan menunggu kepastian pesawat.

Sebelum pulang, saya menjelajahi labuan bajo ke sebuah obyek bernama gua batu cermin. Tempatnya cukup bagus, isinya gua gua besar. Di bagian intinya, kita bisa melihat cahaya masuk dari celah gua di jam 12 siang. Bila beruntung dan ada air, cahaya akan memantulkan bayangan kita pada air. Sayang, saya datang ke sana terlalu pagi dan bukan saat musim hujan hahaha.

Gua batu cermin

Saatnya pulang, pukul 12 saya sampai di bandara komodo untuk check in. 2 jam kemudian, pesawat kecil membawa saya pulang ke rumah.

Epilog
Setelah dirontgen dan diperiksa ke dokter paru paru, saya tidak menderita penyakit serius. Hanya batuk pilek biasa ditambah ada sedikit debu di paru paru.

Tips tips Living on Boat (LOB):
-Sebelum memutuskan LOB, ketahui dulu mengenai tur anda, bagaimana anda akan tidur, mandi, makan, dan sebagainya. Biasanya kapal seperti yang saya ikuti itu tidurnya di dek beramai-ramai dan mandi seperlunya.
-Bawa jaket untuk menghalau dinginnya udara malam.
-Bawa ear plug (berguna bila naik kapal kecil dan berisik).
-Coba berbagai posisi duduk dan tidur yang nyaman untuk anda, agar anda tidak muntah.
-Gunakan sunblock di muka dan badan. Biar pulang pulang ga terbakar seperti saya.
-Saat makan, antrilah sedepan mungkin, ada kalanya para penumpang super kelaperan dan anda kehabisan makanan (dan musti nunggu dimasakin lagi).
-Bersiap untuk mandi/bilas di belakang kapal (tempat terbuka) dengan menggunakan baju. Kita juga bisa sikat gigi dan cuci muka di kapal (airnya dibuang keluar).
-Anda dapat meminum antimo untuk menghalau mabuk. Tapi jangan sampai anda terlewat petualangan seru karena kebanyakan tidur di kapal.

*mungkin ada yang mau menambahkan?*

Perjalanan ini dilakukan dengan kencana tour. Terdapat berbagai pilihan waktu perjalanan. Paling seru sih yang kaya saya, 4 hari 3 malam, benar benar berasa hidup di kapalnya.
Thank you for reading! :*
Advertisements

One thought on “Sailing Komodo: Living on Boat.

  1. Pingback: Bali dan Gili Trawangan | see. taste. tell

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s