4-Hours-Trip to Basel, Switzerland

Halo! Udah lama juga ya ga ngeblog. Sayang nih, udah bayar domain mahal-mahal, tapi updateannya jarang-jarang hahaha. Sebenernya banyak sih perjalanan yang musti ditulis, tapi malesnya itu loh haha. Ditambah, sekarang gue sibuk kerja sambil kuliah. Yah akhirnya gue dapet kerja part-time juga buat mencukupi kebutuhan gue di Prancis, walaupun kerja fisik, tapi disyukuri aja. Oke deh, langsung aja ke cerita jalan-jalan keliling Eropa berikutnya yaitu Basel, Switzerland! Jeng jeng..

Di hari yang cerah tanggal 19 September 2015, gue dan temen gue Mas Istas ceritanya mau jalan-jalan ke luar kota. Si Mas Istas ini adalah dosen tamu, dia ngajar di Université de Haute Alsace 1 bulan lamanya. Ngajar teknik bo! Hahaha. Dulu dia pernah kuliah S3 di Prancis dan sekarang jadi dosen di ITS (Institut Teknologi Surabaya). Si Mas Istas ini punya temen Prancis, namanya Gilbert, dia kerja di uni juga. Si Gilbert rencananya mau ajak jalan-jalan Mas Istas sabtu ini, gue nimbrung deh hahaha.

Jam 12 siang kita dijemput sama mobilnya Gilbert di asramanya Mas Istas. Si Gilbert ternyata bawa istrinya juga. Guepun masuk mobil, ngobrol-ngobrol dan kemudian diketahui bahwa kita mau ke Swiss! Whatt? Gue kira kita mau jalan-jalan ke luar kota doang, taunya ke luar negeri. Mati lah, gue ga bawa paspor! Kata Gilbert ya udah coba aja, kalo ga tembus ya ntar parkir aja deket perbatasan trus masuknya jalan kaki.

30 menit berlalu dan kita memasuki perbatasan Prancis-Swiss. Hahaha. Deket ya, Mulhouse-Basel cuma 30 menit! Ternyata.. si penjaga perbatasan meloloskan mobil kita tanpa memeriksa apapun. Alhamdullilah! Kita pun melenggang kangkung masuk Basel!

Hahaha. Senangnya bisa ke Swiss, walaupun Basel agak berbeda dengan kota di Swiss yang lain. Kita tidak bisa melihat gunung salju dari sini. Bahkan, kata temen gue yang tinggal di Swiss, orang Swiss menyebut Basel “The Ugly Swiss” karena ga gitu bagus dibanding kota kota lain di Swiss. Duh, kasian amat.

Gilbert memarkirkan mobilnya di dekat pusat kota Basel, kita pun berjalan-jalan mengelilingi kota Basel dengan berjalan kaki. Langsung aja yuk cus liat foto-fotonya! 😀

IMG_4476

Strolling around the city

IMG_4479

This is Basel. Di setiap sudut kota ada gambar penunjuk jalan ke arah pusat kota.

IMG_4494

Sampailah kita di depan Rathaus. Gedung berwarna merah ini adalah city hall alias kantor walikota.

IMG_4509

Dalemnya Rathaus

IMG_4512

Masih di dalam Rathaus. Pas kita ke sini lagi ada grup pemain biola lagi main di sini.

IMG_4514

Very cool, huh?

IMG_4548

Sungai Rhein yang melewati Jerman bagian barat juga melewati Basel. Katanya, kalo musim panas, sungai ini penuh dengan orang-orang yang berenang di sungai ini untuk pergi ke kantor. Bahkan pas musim gugur ini juga terlihat 1-2 orang lagi berenang :O

IMG_4555

Perahu seharga 2 CHF (Swiss Franc) untuk menyeberangi sungai Rhein.

IMG_4564

O beautiful Rhein

IMG_4582

Nyeberang sungai, tau-tau udah di Munsterplatz. Katedral-nya kota Basel.

IMG_4583

Munsterplatz

IMG_4605

Dan perjalanan ini diakhiri dengan minum bir. Cheers!

 

Ga berasa 4 jam berlalu muterin kota Basel. Menurut gue pribadi kotanya yah ga gtu beda jauh sama kota-kota lain di Eropa. Cukup besar. Terus banyak Starbucks! Hahaha. Buat gue yang tinggal di Prancis agak amaze liat Starbucks, karena di Prancis yang namanya Starbucks dikiiiiiiiiit banget, bahkan di Mulhouse ga ada. Haha.

Oke deh, segini dulu ceritanya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

 

Travelling ke Barat Jerman (3): Bruhl-Cologne

Setelah menjelajah Bonn kemarin, hari ini gue akan meninggalkan Bonn dan rumah Laura yang hangat hahahahha. Agenda hari ini adalah ke satu kota yang namanya Bruhl, yang letaknya antara Cologne dan Bonn, dimana ada Augustusburg Palace, salah satu istana warisan UNESCO, kemudian balik ke Cologne dan jalan-jalan di sana sambil nunggu Megabus pulang ke Mulhouse jam 10 malam.

Augustusburg Palace ini letaknya persis di depan stasiun kota Bruhl. Dari luar keliatan banget bentuknya simetris, macam istana-istana Prancis. Istana ini bergaya Rococo dan disebut2 sebagai salah satu istana Rococo yang pertama dibangun di Jerman. Untuk masuk ke dalam gue harus membayar 5 Euro (harga pelajar). Begitu masuk ke dalam.. Jreng jreng jreng! Istananya bagus bangettt! Pantes ga boleh motret (oops, ketawan deh gue motretnya diem2). Istana ini dibangun dengan mandat dari Elector dan Uskup Cologne Clemens August pada tahun 1725. Ceritanya memang dia menghambur-hamburkan duit banget buat ngebangun istana ini. Langsung aja intip fotonya ya!

IMG_4316

IMG_4327

IMG_4331

Di luar, ada taman gede banget yang bentuknya juga simetris. Katanya taman ini dibangun oleh salah satu murid dari arsitek taman di Istana Versailles. Keren ! Pas jam makan siang, gue makan dengan bekal dari Laura, tongseng ! Hahahhaa. Indahnya dunia, bisa makan makanan Indonesia beberapa hari ini. Makasih Laura! :* (ssstt.. Laura ini punya catering loh di Bonn, yang ada deket situ dan kangen makanan Indo, mungkin bisa kontak dia hahahhaha). Sayangnya acara makan di pinggir taman ini kurang begitu nikmat, karena diganggu oleh angin kencang yang bikin gue kedinginan. Hahaha. Gue pun segera cus setelah selesai makan. Gue kemudian muterin taman yang segede alaihim. Sempet pengen ke rumah tempat Augustusburg berburu dan memanah buruannya juga, tapi jaraknya agak jauh dari taman tersebut.

IMG_4337

IMG_4350

Tongseng!!

IMG_4369

IMG_4391

Puas di istana Augustusburg, yang menurut gue recommended banget, gue pun menuju Cologne untuk menjelajah Cologne, sekali lagi..

Sampai di Cologne, gue melewati Katedral lagi, yang tepat berada di samping stasiun Cologne, kemudian jalan-jalan ke pusat kota yang juga terdapat kota tua. Tujuan pertama adalah melihat Museum Tina Farina, orang yang membuat Eau de Cologne. Sayangnya hari itu tidak ada kelompok tur berbahasa Inggris, adanya Bahasa Jerman, jadi ga bisa menjelajah museumnya. Untuk masuk museum ini kita harus mengikuti kelompok tur yang sudah ditentukan jamnya setiap harinya. Ga boleh main ngeloyor masuk gitu sendirian. Di bagian depan museum, dijual berbagai pernak Pernik dan tentunya Eau de Cologne. Asli ! Masih dari bahan yang sama yang dibuat oleh penemunya, si Farina ini. Btw, Farina ini cowok loh, kaya cewe ya namanya! Hahahha.

Selain Farina, ternyata di sini ada juga Eau de Cologne lain yang cukup besar. Bisa dibilang dia meniru Farina, tapi karena beda jenis, ga tau juga sih bisa dibilang meniru apa ga. Yang jelas gedungnya lebih gede dan modern daripada si museum Farina, makanya keliatan dia yang lebih menonjol.

IMG_4417

Old city

IMG_4422

Farina Museum

IMG_4425

Farina Museum, eau de cologne di mana2

IMG_4436

Rhein river

IMG_4413

Habis itu gue ngider-ngider lagi di pusat kota sambil makan french fries ala German ! Hahahha. Bisa dibilang french fries ini porsinya cukup besar, sampe gue ga abis dalam sekali makan. Hahahha.

IMG_4431

Perjalanan pun dilanjutkan ke Old Town kemudian ke sungai Rhine lagi. Di sepanjang sungai Rhine ada bangunan warna warni yang cakeppp banget hihi. Sebenernya itu adalah restoran, tapi bangunannya kece banget dan Instagram-able. Haha.

IMG_4437

Colorful house near the river

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 dan gue udah cape jalan-jalan. Megabus masih 3 jam lagi, bengong di depan sungai Rhine juga ga mungkin, karena udaranya dingin mampus. Akhirnya gue memutuskan melipir ke Coffee Bean buat menghangatkan diri, ngecharge sekaligus nge-wifi. Hahahha. Btw, toilet di Coffee Bean ini ada kodenya. Dan kita dikasih kode sama Baristanya saat melakukan transaksi pembelian. Hal ini untuk mencegah sembarang orang pipis gretongan di sana hahahah. Boleh juga idenya!

Akhirnya setengah 10 tiba! Gue pun berjalan ke arah halte Megabus untuk pulang ke Mulhouse. Auf Wiedersehen Germany! 😀 😀

IMG_4448

Travelling ke Barat Jerman (2): Bonn

Setelah menjelajah sedikit Cologne dan Dusseldorf, hari Minggu, 20 September 2015, gue menjelajah Bonn. Berhubung ini hari Minggu, jadilah gue jalan-jalan ditemani Laura.

Hari itu kami makan siang empal gepuk buatannya Laura. Rasanya, beuh, enak! Hahhaa. Udah lama ga makan makanan Indonesia, ketemu lagi rasanya super menyenangkan! Habis itu kita pergi ke Istana Drachenfels yang letaknya ada di Bonn.

IMG_4139

Empal gepuk buatan Chef Laura

ISTANA DRACHENFELS

Tempat ini dapat dijangkau dengan kereta dalam kota (entah tram apa subway, bisa di bawah tanah tapi bisa di atas juga hahahha). Di kereta ini kita ketemu sama bapak-bapak Jerman yang bisa Bahasa Indonesia. Denger kita ngomong, dia langsung nyamperin, dan ngajak ngobrol dengan Bahasa Indo seadanya. Ternyata dia pernah tinggal di Bandung beberapa tahun dan anaknya bahkan sekarang masih di sana. Ga berapa lama kemudian, kita berpisah dengan bapak-bapak itu dan turun di stasiun koenigswinter. Dari situ kita jalan dikit ke stasiun kereta Drachenfels. Akses menuju ke istana yang letaknya di atas bukit bisa ditempuh dengan berbagai cara, dari jalan kaki, naik sepeda atau naik kereta. Tentunya gue milih yang terakhir hahaha, naik kereta. Jadilah kita membeli tiket kombo, yang mencakup kereta dan juga tiket masuk istana, harganya 16 Euro. Mahal sih, tapi sekali-kali gapapa (kaya gini mulu nih kalo jalan-jalan, mikirnya selalu kapan lagi ke sini, tapi habis pulang liburan nangis darah liat rekening hahaha).

Kereta Drachenfels ini bentuknya ucuk! Kereta ini memiliki beberapa perhentian, kita bisa turun di istana yang letaknya agak di tengah, atau bisa juga turun di reruntuhan kastil yang letaknya di atas bukit. Pertama gue naik dulu ke reruntuhan kastil. Dari situ kita bisa liat kota Bonn dari atas, yang dibelah oleh sungai Rhein. Pemandangan dari sini cakepp banget, sayang waktu itu lagi berkabut.

P1100234

Kereta kecil naik ke atas Drachenfels

P1100211

Reruntuhan kastil Drachenfels. Kalo diliat dari jauh bagus nih, sayang musti naik helikopter dulu 😛

P1100227

Masih di reruntuhan

P1100216

Kota Bonn dari atas Drachenfels

P1100223

Masih cengar cengir. Habis ini manyun kameranya rusak.

O ya, di kastil ini ada peristiwa menyebalkan, yaitu kamera gue rusak kena ujan! Huhuhu. Kamera lumix kesayangan gue rusak. Ga sampe rusak parah sih, tapi tulisannya zoomnya error. KZL. Baru di negara pertama eurotrip aja udah rusak huhu.

Habis dari reruntuhan kastil, kita naik kereta lagi turun ke bawah, tempat istana utuhnya ada. Istana ini juga bagus banget, apalagi ada taman di bagian luar istana, yang bikin warna warni dan juga tambah cantik!

IMG_4200

Istana Drachenfels dilihat dari taman

IMG_4193

Cakep yak!

IMG_4191

IMG_4196

Eh, ada Laura!

Dari sini kita turun ke bawah jalan kaki ke museum reptil. Museumnya sih sebenernya biasa aja. Tapi ya lumayan lah, daripada lumanyun hahahha. Habis itu kita pun turun ke bawah untuk pulang.

Habis dari istana, kita sempet jalan-jalan ke pusat kota bentar, lalu makan malam dengan kebab! Hahaha. Makanan anak kosan Eropa banget tuh, Kebab! Kebab di sini beda sama doner kebab di Indo, daging dan sayurnya lebih banyak. Pokoknya makan itu aja udah kenyang deh. Harganya berkisar di 4 Euro.

Usai makan kebab, kita pulang. Pulang-pulang, gue ngerendem kamera di beras, berharap airnya bakal masuk ke beras dan kameranya betul lagi T__T

Hari Senin, 21 September (gue masih libur loh!), gue menjelajah kota Bonn sendirian, karena Laura kerja. Kota Bonn ini disebutnya Kota Beethoven, karena Beethoven lahir dan besar di sini, sebelum dia pergi ke Austria. Bahkan di kota ini juga ada festival of Beethoven, yang spanduknya ada dimana-mana pas gue ke sana.

Tujuan pertama gue hari itu adalah Godesburg. Godesburg ini kastil juga, tapi tinggal menaranya doang, jauh lebih kecil daripada Drachenfels. Gue ke Godesburg dulu karena itu yang paling jauh dari tengah kota, sementara obyek wisata lain ada di tengah kota. Nyari ini kastil susahnya ampun, mana gue ga ada GPS kan, ga mau roaming. Akhirnya ketemu juga jalan menuju kastil ini, yang adalah tangga batu ditengah hutan. Mana sepi. Jalan 10 menit, keliatan kuburan. Kanan gue kuburan ala Eropa gitu, yang cakep, tapi tetep aja serem. Mana sendirian pulak. Akhirnya sampai juga di menara itu. Bagus sih dari luar, tapi gue males naik tangga ke atasnya, cape, mana ga ada orang hahaha.

IMG_4239

Godesberg. Entah kenapa ini obyek wisata sepi banget, mungkin karena itu hari senen pagi.

Habis dari Godesburg, gue ke taman gedeeee banget, trus melipir ke pinggir sungai Rhein buat makan siang! Hahaha. Kali ini bawa bekal ayam penyet buatannya Laura! Walaupun sambel terasinya pake terasi ABC tapi tetep aja… Nyammm..

IMG_4245

Makan ayam penyet di tepi sungai Rhine. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?

Selesai makan, gue kembali menyusuri taman dan menemukan taman kecil bergaya jepang yang bernama Japanische Garten, tamannya terawat banget, dengan daun-daun berbentuk bulat lonjong yang dipotong secara teratur (waktu gue ke sana ada amang-amangnya lagi motong daun). Gue menuju ke pusat kota dengan melalui Post Tower dan Kantor PBB yang tinggi menjulang. Pas lewat situ berasa agak aneh karena semua orang berpakaian rapi sementara gue keliatan banget turisnya hahaha. Jalan terus, gue menyusuri sungai Rhine lagi sambil sekali sekali duduk kecapean sampe ke pusat kota.

IMG_4259

Japanischer Garten

IMG_4257

Japanischer Garten

IMG_4264

Yang kiri Post Tower, yang kanan gedung PBB

Sampe pusat kota, gue ngelewatin Universitas Bonn yang bangunannya kece berat. Terus gue duduk-duduk di taman depannya. Taman tersebut menghadap Akademische Kuntsmuseum. Gue kalo jalan-jalan sendirian kerjaannya melipir duduk duduk mulu. Antara pegel sama pengen menikmati perjalanannya. Hahahha. Habis itu gue ke gereja yang bernama Bonn Minster dan kemudian berlabuh di depan patung Beethoven gede banget di tengah kota. Di depan patung ini ada kantor pos gede yang warnanya ucuk.

IMG_4274

Universitat Bonn

IMG_4276

Asik ya bisa duduk duduk di taman depan kampus

IMG_4286

Bonn Minster yang lagi sedikit direnovasi

IMG_4290

Ada benteng-bentengan lucu di tengah kota

IMG_4289

Bonn, City of Beethoven

Habis itu gue ke Beethoven Haus alias museum Beethoven. Nyari ini museum susah bener, karena tempatnya kecil dan ga mencolok mata. Di museum ini ada barang-barang peninggalan Beethoven dan juga kisah perjalanan hidupnya beliau. Sayangnya semua keterangan di museum ini berbahasa Jerman (point yang perlu dicatat, museum di Eropa kecuali yang terkenal banget, pake Bahasa negaranya masing-masing dan tidak diterjemahkan dalam Bahasa Inggris). Mereka ada kasih brosur Bahasa Inggris mengenai ruangan-ruangan dan benda-benda koleksinya sih, tapi ga selengkap penjelasan Bahasa Jerman di masing-masing bendanya. Di museum ini juga ada ruangan digital tempat kita bisa mendengarkan karya-karya Beethoven di computer.

IMG_4298

Beethoven House

IMG_4296

Salah satu piano yang pernah dimainin Beethoven

Puas liat museum dan muter-muter pusat kota, gue ke arah sungai Rhein lagi sambil menunggu Laura pulang kantor. Karena tiba-tiba hujan, gue melipir ke salah satu space taman yang ada atapnya. Dan di situ gue melihat pelangi, tepat di atas sungai Rhine. Cakep bangetttt! Indahnya karya Tuhan yang satu ini.

IMG_4302

Rainbow over the Rhein

To be continued..

Travelling ke Barat Jerman (1): Cologne-Dusseldorf

Dulu waktu masih di Indonesia, gue udah mulai ngecek tiket tiket keliling Eropa. Kira-kira gue bisa ke mana ya dari kota gue. Hahaha. Dan ternyata, gue bisa ke beberapa kota dari tempat gue tinggal, Mulhouse. Ga nyangka juga sih, soalnya kan Mulhouse ga populer-populer amat. Malah kota yang lebih populer suka ga ada bus ke kota-kota lain haha.

Jadi, Mulhouse ini letaknya di perbatasan Prancis, Swiss dan Jerman, makanya banyak bus yang suka lewat situ, untuk ke kota lain di Eropa. Salah satunya adalah Megabus. Megabus ini adalah perusahaan bis Eropa dengan harga mulai dari 1 Euro. 1 EURO? Kapan lagi bisa keliling Eropa dengan harga segitu, wong naik tram satu kota aja one way 1.5 Euro hahahha.

Dan Megabus ini punya trayek Mulhouse-Cologne (Jerman). Gue langsung seneng banget, karena gue punya temen di deket situ, di Bonn. Bahkan sebelum gue berangkat ke Prancis, gue udah merencanakan destinasi pertama gue, yaitu Cologne dan Bonn. HAHAHA.

Jadilah di weekend di minggu kedua gue kuliah di Prancis gue langsung ke Cologne, tepatnya tanggal 18 September 2015. Pas banget tuh, lagi stress-stressnya kuliah, dengerin dosen ngomong Bahasa Prancis cepet banget (Iya, kuliah gue pake Bahasa Prancis! Pusing pala barb!) plus temen-temen yang susah banget dideketin (beda banget sama Indo bo!) dan tugas yang udah lumayan numpuk.

Gue memesan tiket jam 23.45 dari depan Stasiun Mulhouse menuju Cologne naik Megabus. Malam amat yak? Iya itu salah satu minusnya naik bus murah, jamnya dipasang di jam-jam ga nyaman buat bepergian. Waktu itu gue ga dapat tiket 1 Euro, dapatnya 5 Euro. Tapi mayan banget lah, jadi 10 Euro PP! Haha. Naik kereta yang jaraknya cuma setengah jam aja ga dapet segitu. Haha.

Jam 23.30 gue udah siap depan halte. Di tengah dinginnya cuaca Prancis. Kalo di Indonesia enak ya, malam-malam juga udaranya ga dingin dingin amat, lah di sini? Hahaha. Di luar 10 menit diem aja udah kedinginan. Gue tunggu sampai 23.40, kok bisnya ga ada-ada, mana ga ada orang lain yang nunggu di situ. Apa jangan jangan gue salah halte? Hmmm. Tiba-tiba gue teringat pengalaman temen gue yang Megabusnya telat, bahkan pernah sampai ga dateng. Mati. Ga kebayang kalo tuh malam bisnya ga dateng. Sempet juga baca forum ada yang megabusnya telat 5 jam @_@

Akhirnya gue telpon aja CSnya, mana CSnya basenya di London kan, kena international call deh. Dan CSnya bilang “Megabusnya telat 1 jam.” Doeng! Kesel sih tapi seenggaknya ga dicancel hahahaha. Oke, gue masih nunggu aja di halte yang sama. Kedinginan. 15 menit kemudian, ada orang minta-minta dateng, dia tanya “Kamu punya koin ga? Aku belum makan 3 hari.” Ah elah. Tempat sepi gini, ada aja. Karena gue takut gue kasi aja koin gue. Di Prancis ini emang banyak orang minta-minta, tapi mereka selalu ga keliatan kaya orang minta-minta. Bisa aja ada orang tiba-tiba nyamperin lo di jalan terus minta duit. Sebenernya sih tinggal bilang aja “ga ada” terus mereka pergi, belum pernah sih nemu yang maksa gitu (jangan sampe juga..) cuma kalo tempatnya gelep ya ngeri lah. Huhu.

Habis itu, gue berpikir buat masuk aja ke dalam stasiun, tapi gue takut gue ga bisa liat megabus dateng kalo nunggunya di dalem stasiun. Terus gue celingukan liat halte lain deket situ, eh ternyata ada cewe 1, gue samperin aja sok kenal, ternyata dia nunggu megabus jg. Alhamdullilah! Ada temennya! Akhirnya sisa menunggu selama 30 menit dihabiskan dengan ngobrol sama nih cewe yang ternyata orang Spanyol. Haha. Ga berapa lama ada juga cowok yang nunggu (dan kita ternyata pernah ketemu di couchsurfing meeting!) dan jadilah kita ngobrol bertiga.

Kira-kira jam 00.45 bus yang ditunggu dateng juga! Huahhh… senangnya! Langsung kita bertiga berlarian ke bus itu. Nunjukkin tiket, terus duduk di tempat yang pewe. Kalo busnya lagi ga rame, bisa tuh 2 kursi kita pake sendirian, kaya waktu itu. O ya, meski murah, tapi bis ini juga dilengkapi wifi, colokan (ga semua kursi ada) dan WC (sayangnya waktu itu lagi rusak). Mayan lah. Walaupun manyun juga nunggu 1 jam di udara dingin hahahha.

Habis itu gue pun istirahat, sambil kadang-kadang melek, liat udah nyampe mana. Karena ini perjalanan ke luar Prancis gue yg pertama, gue excited banget. Ini bis sempet berhenti ngangkut penumpang di Freiburg, Frankfurt dan beberapa kota lain di Jerman. Selain excited, gue juga ngeri sih, karena saat itu residence permit gue belum keluar hahahha. Nekad ya, belum punya residence permit tapi udah keluar Prancis. Tapi dari semua anak yg udah nyoba, belum ada yang ketangkep sih. Border di sini emang penjagaannya ga ketat, kecuali di beberapa titik rawan.

Setelah perjalanan 8 jam, akhirnya jam 9 pagi kita sampai juga di COLOGNE! Hahahhaa. Hore! Halte yang di Cologne ini bener-bener di tengah jalan, ga deket stasiun, jauh dari pusat kota dan ga ada tempat duduknya. Gila! Hahaha. Sesampainya di sana, gue janjian mau ketemuan sama temen gue Laura, terus kita berdua mau ketemu temannya di Dusseldorf. Tadinya gue sempet mau naik blablacar (apa lagi tuh Blablacar? Tenang, nanti gue akan buat cerita sendiri tentang blablacar) ke Dusseldorf biar murah dibanding kereta, tapi karena blablacarnya ga dapet, akhirnya gue naik kereta aja bareng Laura dari Cologne.

Penampakan megabus. Bus 1 Euro-an.

Sambil menunggu Laura yang keretanya gangguan dari Bonn (iya, kereta di Eropa juga banyak gangguan macam KRL!), dari tempat nunggu bus gue jalan ke pusat kota, ngelewatin sungai Rhein (sungai yang membelah Jerman bagian barat) dan berujung di Katedral Cologne, yang sebelahan sama stasiun utama (bahasa Jermannya Hauptbahnhof). Katedral Cologne yang terkenal ini bener-bener bergaya gothic dan menimbulkan kesan mistis gimana gitu. Hihi.

P1100101

Sungai rhein di Cologne

P1100108

Katedral Cologne bergaya gothic

P1100109

Dari samping. Langitnya gloomy amat yak!

P1100111

Love lock di jembatan dekat Hauptbahnhof

Setelah muterin ini katedral, akhirnya Laura pun datang! Horeeee! Ga nyangka akhirnya bisa tinggal di Eropa ngikutin nih anak. Laura itu temen SMA gue, dari dulu dia suka banget sama Jerman, sementara gue suka banget sama Prancis. Eh dia udah ke sana duluan, bahkan sekarang udah kerja tetap di sana. Sekarang akhirnya gue bisa nyusul! Hihi :*

Kita pun naik kereta ke DUSSELDORF. Perjalanan Bonn-Dusseldorf cuma ditempuh sekitar setengah jam. Kita beli tiket kereta seharga 42 Euro yang bisa dipake untuk maksimal 5 orang. Jadi mau lo cuman ber2 juga ya harganya tetep segitu, mending ber5 kalo mau maksimalin tiket ini. Karena kita cuman ber2, jadilah seorang kena 21 Euro. Tiket ini bisa dipake seharian keliling North Rhine-Westphalia (region yang di dalamnya ada kota Bonn, Cologne, Dusseldorf, Dortmund, Essen, dll)

P1100129

This is Laura! Hari itu rambutnya dikeriting buat menyambut gua hahahah. Gue jadi berasa kaya upik abu.

Sesampainya di Dusseldorf kita makan siang dulu, makan makanan khas Bavaria (Jerman), Schweinhaxe (12.5 Euro), alias paha babi. Hahaha. Kalo liburan, saatnya makan enak hahahah setelah di kosan makan makanan rumahan mulu. Kita makan di restoran yang bernama Schwein Janes, yang cukup terkenal di Dusseldorf. Letaknya sendiri masih di kawasan Old town. Kita makan ini sambil minum bir khas Dusseldorf, Schlosser Alt. Beuh, mantap dah. Makan makanan lokal di tempat aslinya bersama dengan orang lokal (Laura gue anggap orang lokal hahahha).

IMG_4121

I AM HAPPY!

Habis makan, kita muter-muter Old Town. Di sini ada city hall yang cantik banget dengan bunga-bunganya!

P1100135

City Hall

P1100142

Dusseldorf City Hall

IMG_4129

Old town

Kaki pun terus melangkah ke arah sungai Rhein. Di sepanjang sungai Rhein di Dusseldorf ada banyak restoran dan tempat nongkrong yang asik. Kalo ga ada duit, tinggal beli aja sandwich supermarket, terus duduk di sepanjang sungai Rhein, sambil liat orang lalu lalang dan kadang ada atraksi macem-macem. Di sini gue berpisah sebentar dengan Laura, karena dia mau ketemu temennya dan gue memilih untuk eksplor kota ini sendirian.

P1100151

Jalan di sepanjang sungai Rhein.

P1100155

Nongkrong kece sambil ngeliatin sungai Rhein, kalo punya duit

P1100162

Hey Laura!

P1100164

Nah kalo ga ada duit, beli aja sandwich supermarket terus duduk duduk di sini. Tetep asik kok!

Gue pun muter-muter ga tentu arah, ngelewatin gereja St. Lambertus, liat orang yang lagi nikah, terus jalan lagi ke Old Town dan nemuin Champs-Elysees-nya Dusseldorf, yang bernama Koenigsallee. Di sini bertengger butik papan atas macam Channel, Louis Vuitton, dan teman-temannya. Di tengah-tengahya ada sungai kecil yang juga kece. Keren deh. Mungkin karena udah umur ya, gue sebentar-sebentar berhenti untuk duduk. Hahaha. Ini enaknya jalan sendirian, lo bisa duduk selama mungkin tanpa ngerasa ga enak sama partner travelling lo hahhaha.

St. Lambertus church. Someone is getting married!

P1100181

Sungai yang ngebelah Koenigsallee. Pretty, Huh?

P1100182

Koenigsallee, Champs-Elyseesnya Dusseldorf. O ya, Dusseldorf ini adalah ibukota dari region North-Rhine Westphalia

Habis itu gue ke taman yang guede banget, namanya Hofgarten. Di sini ada bangunan asimetris bergaya modern yang namanya Ko-Bogen. Asik deh, ngeliatin itu bangunan sambil memandang taman, danau dan angsa-angsa yang lucu. Puas bengong di taman, gue melipir ke dekat situ, dan ngeliat ada band manggung di Universitas Dusseldorf. Sempet duduk sebentar tapi karena hujan, gue memutuskan untuk berteduh di mal dekat situ, sambil menunggu Laura.

P1100188

Hofgarten. Damainya!

P1100193

Ko-bogen. Keren yak!

P1100198

Eh ada angsa lewat..

Setelah ketemu Laura, kita makan malam! Hahahha. Kali ini kita makan ramen (12 Euro) yang katanya paling enak di Dusseldorf, nama restonya Takumi, letaknya di daerah Japanische Viertel, deket sama Hauptbahnhof. Kita ngantri panjang di depan pintu, ada kali 30 menit baru bisa masuk. Ramennya menurut gue sih biasa aja. Bahkan gue ga habis loh! Kayanya gue kebanyakan makan hari itu. Sejak di Eropa, gue ga biasa makan banyak. Mungkin karena pas awal awal sampe dibiasain makan sandwich doang tiap hari. Jadi kalo makan banyak dikit aja, langsung berasa kenyang banget hahahha. Sayang banget nih ramen ga habis, padahal harganya bisa 3 kali lipat ramen enak di Jakarta. Dan habis beli itu, gue nyesel sih kenapa gue makan di resto mulu hari itu, keluar duitnya mayan banyak. Sambil berjanji besok bakal bawa bekel dari rumah atau beli makan di supermarket aja.

IMG_4138

Enakan Ikkudo Ichi menurut gue! Haha.

Habis makan, kita pun pulang ke rumah Laura di Bonn dengan menggunakan tiket yang sama. Hihi. Asik, akhirnya ketemu kasur setelah semalaman tidur di bis. Tapi jangan senang dulu, perjalanan ke Bonn agak berliku, seperti biasa, selalu ada aja jinx travelling gue. Itu kereta karena lagi ada stasiun yang perbaikan, berenti ga sampai Bonn, tapi sampai kota deket situ. Dari situ kita musti naik shuttle bus ke Bonn. Dan nunggu shuttle busnya itu… satu jam! Di tengah udara Jerman yang dingin dan ga ada bangku sama sekali, nunggunya berdiri doang. Kaya deja vu ya, perasaan kemarin udah ngalamin ini. Haha.

To be continued on next post..

Note: 1 Euro = Rp 16.000 (saat gue ke sini)

France, A Dream Comes True

Hola!

Setelah perjalanan sekitar 15 jam, akhirnya tanggal 21 Agustus 2015 sampe juga gue di Prancis, negara impian! Hahahhaha. Dua minggu sebelum ke Prancis, gue banyak farewell-an sama temen-temen di Jakarta. Rasanya sedih banget musti ninggalin comfort zone gue. Tapi kaya temen gue bilang, “The line between your comfort zone and your dream is very thin.”. Emang berat rasanya ninggalin Jakarta, zona nyaman gue senyaman nyamannya. Kalo ditanya gue happy apa ga tinggal di Jakarta, jawabannya pasti happy! Hahahaha. (Kan ada tuh tipe orang yang kerjaannya ngutuk2 Jakarta dan pengen banget keluar dari sini). Kalo gue ga, gue ninggalin Jakarta karena gue punya mimpi, yaitu kuliah di Prancis. Dan setelah melalui perjalanan berat, mimpi itupun tercapai. O ya, satu lagi yang buat gue berat ninggalin Jakarta saat itu adalah eyang gue (gue tinggal sama eyang gue dari kecil) sakit mayan parah, dan sakitnya itu bener-bener 2 minggu sebelum gue berangkat (now she already rest in peace :(( ). Gue sempet pikir apa diundur aja ya gue perginya, tapi kayanya ga ngaruh apa-apa juga gue perginya kapan. Hiks.

Setelah galau ninggalin Jakarta (dan ada satu kegalauan yang lain), akhirnya gue nyampe Bandara Paris Charles de Gaulle kira-kira jam 7 pagi. Gue naik pesawat bareng Olla, temen yang kuliah di Prancis juga tahun ini. Sebelum ngambil bagasi gue sempet ke WC, pas gue balik WC si Olla udah ilang, jadilah gue ga ketemu Olla lagi hari itu. Yak, bagasi pun datang, koper seberat 33 kg harus dibawa sendirian! Plus ransel besar yang kalo ditimbang bisa sampai 7 kg. Si koper ini rodanya agak bermasalah, jadi susah dibawanya dan bikin jadi berat banget. Beraaaaat banget rasanya narik si koper, sampe tiap 2 meter sekali gue berenti. Dari Charles De Gaulle gue naik RER ke kota Paris. Sebelum naik RER (kereta gitu), gue beli sim card Lebara yang dijual di toko depan loket. Lebara ini salah satu dari sedikit SIM Card prabayar di Prancis. Kebanyakan kalo di sini bayarnya abonemen. Waktu itu gue beli 10 Euro (SIM card dan isinya 5 Euro). Yak, perjuangan menarik koper dalam kereta pun dimulai. Sangking gedenya itu koper sampe ngalangin jalan wkwk. Tujuan pertama adalah Gare de Lyon, gue rencana mau taruh koper di sini sampai 5 hari ke depan untuk kemudian bisa langsung dibawa ke kota tempat gue kuliah, Mulhouse (kereta ke Mulhouse berangkat dari Lyon). Naik RER musti transit dulu sekali baru bisa nyampe Gare de Lyon. Beuh perjuangan narik kopernya itu bener-bener dah. Sampe ada adegan gue jatuh dan kaki gue ketimpa koper di eskalator. Parah. Dan yang membuat itu lebih parah adalah ga ada satu orangpun yang berinisiatif bantu gue. Man, orang Prancis bener-bener cuek banget. Dia ga ngebantu sampe dimintain tolong. Gue yakin kalo gue ada di Jakarta pasti banyak yang bantu.

Sesampainya di Gare de Lyon, gue masih nyari tempat lokernya sampai muter muter. Ternyata itu stasiun kereta guede banget, huhu. Gue musti naik 3 tingkat untuk mencapai tempat loker. Di sana ketemu orang Indonesia, hahahha. Tuh orang sempet bantu angkutin itu koper juga di tempat screening hahahah. Koper pun masuk ke loker. Biayanya 10 euro untuk hari pertama dan tambahan 5 euro per harinya. Habis dari Gare de Lyon, gue menuju ke apartemennya Sally, temen UI gue. Nyampe sana sekitar jam 1 dan langsung tepar, rasanya ga kuat kemana mana lagi hari itu. Habis dibuatin ramen, gue pun terlelap! Hahahah. Hari itu cuma dilalui sambil tidur, ngenet, ngobrol sama Sally dan belanja ke supermarket deket situ.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Hari ini gue ke Istana Versailles. Hore! Dari dulu pengen banget ke Versailles tp ga kesampaian waktu ke Paris. Sekarang kesampaian hahahhaa. Untuk ke Versailles kita harus naik RER C dengan harga 8 euro pulang pergi. Sesampainya di Versailles gue beli tiket seharga 35 euro (termasuk tiket istana, taman dan rumah Marie Antoinette). Gue pun bertemu dengan Esa, teman UI juga, yang kebetulan tinggalnya dekat situ. Dia nyempetin nemenin ke Versailles di tengah-tengah deadline tesis yang jatuh keesokan harinya hahahaha. Yang bikin gue iri adalah si Esa bisa masuk Versailles gratis (tapi istananya aja), karena dia pelajar di bawah 26 tahun. Damn! Sementara gue yang udah tuir harus bayar segitu mahal. Di Eropa, kalo lo pelajar di bawah 26 banyak diskon yang bakal didapet. Jadi, kalo emang mau kuliah di Eropa mending buruan, sebelum ketuaan kaya gue ahahaha. Ga enak bgt kan, dompet mahasiswa tapi musti bayar layaknya pekerja. Huff.

Versailles sendiri areanya sangat luas. Langsung aja ya kagumi keindahannya dari foto-foto ini!

pertama dan terakhir kali pake tangan buntung di prancis tahun 2015 hahahha sekarang udah dingin

pertama dan terakhir kali pake tangan buntung di prancis tahun 2015 hahahha sekarang udah dingin

IMG_3199

kapel kecil

tamannya dilihat dari istana

tamannya dilihat dari istana

IMG_3253

lukisan cantik di langit-langit

galerie des glaces

galerie des glaces

tempat tidur marie antoinette

tempat tidur marie antoinette

galerie des batailles - isinya lukisan pertempuran di prancis dari masa ke masa

galerie des batailles – isinya lukisan pertempuran di prancis dari masa ke masa

IMG_3307

Francois Premier

Habis dari istana, kitapun makan siang sebentar kemudian pergi ke taman. Sayang, jimatnya Esa (alias kartu pelajar) udah ga berlaku lagi di sini. Katanya sih, kalo ga summer dia bisa masuk gratis juga ke taman. Cuma karena waktu itu summer, mungkin udah terlalu banyak turis dan rugi ngasi gratisan ke mahasiswa. Hahahha. Mungkin.. Yah, berpisah deh kita. Gue melanjutkan masuk taman dan si Esa pulang kembali mengerjakan tesisnya hahaha.

A bientot Esa! Gue ga akan lupa kata2 lo sebelum pergi, "Selamat datang di kegilaan ini!" (maksudnya kuliah-red)

A bientot Esa! Gue ga akan lupa kata2 lo sebelum pergi, “Selamat datang di kegilaan ini!” (maksudnya kuliah-red)

Tamannya sendiri guedeeee banget, dan hampir simetris bentuknya. Luar biasa! Udah gitu ada perahu perahuan yang bisa didayung berdua. Petit Trianon (rumah Marie Antoinette) letaknya masih agak jauh dari taman. Banyak jalan deh hari itu.

IMG_3329

Taman versailles yang kiri kanan hampir simetris. Beneran bisa liat, dulu cuma liat di buku kuliah S1 (dulu gue S1 Sastra Prancis).

IMG_3369

Bahkan pohonnya simetris

Danau di Taman Versailles

Danau di Taman Versailles

IMG_3380

Salah satu ruangan di Petit Trianon-kediaman Marie Antoinette

IMG_3392

Taman di Petit Trianon

Minggu, 22 Agustus 2015

Di minggu pagi gue janjian ketemuan sama temen SMA dan kuliah gue, Gita. Gita udah berkeluarga di sini dan suaminya orang Prancis. Pas hari itu kebetulan dia lagi pindahan ke rumah baru dan nyempetin ketemu gue pagi-pagi. Hahaha. Kita sarapan di Brioche Doree deket Notre-Dame sambil cerita-cerita banyak hal. Banyak kata-katanya yang memotivasi gue memasuki dunia perkuliahan yang kejam. Hahahaha. Habis itu diapun pulang dan gue melanjutkan perjalanan ke Cathedrale Notre-dame de Paris.

IMG_3442

Sama Mme Parisienne di patung St Michel. Gita ini satu-satunya temen SMA yang sejurusan waktu di Sastra Prancis dulu.

IMG_3456

Cathedrale Notre-Dame de Paris

IMG_3457

Tampak dalam

IMG_3499

Ukiran patung di pintu masuk

Habis dari Cathedrale Notre-Dame gue menuju ke Basilica Sacre-Coeur, perjalanan ke sini agak capek karena harus menanjak ke atas. Gue turun di metro Pigalle dan masih agak jauh perjalanan dari sana ke Sacre Coeur. Di tengah perjalanan sempet ngeliat red light districtnya Paris alias Moulin Rouge. Lucu ya, tempat prostitusi ini bersebelahan dengan gereja Sacre Coeur. Setelah jalan agak jauh, sampai juga ke Sacre Coeur. Sebenernya ada 2 opsi buat naik, bisa naik tangga, atau naik semacam lift menuju ke atas. Karena pas jalan dari arah gue ga nemu liftnya, jadilah gue naik tangga. Hahahha. O iya, untuk naik lift (yang mirip kereta gantung) ini harus membayar seharga tiket 1 kali metro (subway).

Paris red light district - Moulin Rouge

Paris red light district – Moulin Rouge

Pas sampe atas ternyata ada pertunjukan (kayanya sih sulap, ga gtu merhatiin). Dari sacre Coeur kelihatan kota Paris dari atas, cakep deh. Asik rasanya merenung sore sore sambil memandangi Paris dari atas. Tadinya mau sampai malam biar bisa liat city light. Tapi kalo di sini gelapnya baru setengah 9 malam, kelamaan nunggunya. Bangunan gereja sacre-coeurnya sendiri dari luar sangat cantik, gue lebih suka arsitektur yang ini daripada Notre-Dame. Tapi bagian dalamnya memang ga seluas Notre-Dame. O iya, pas gue ke sini ada juga pertunjukan orang dribbling bola pake kaki di tiang. Jagoan banget deh, pokoknya. Memang ada ada aja ya cara warga Paris untuk mencari sesuap nasi.

Pertunjukkan dribbling di tiang depan Sacre Coeur

Pertunjukkan dribbling di tiang depan Sacre Coeur

Paris dari atas Montmartre

Paris dari atas Montmartre

Setelah itu, gue pulang dengan menggunakan si lift dan langsung mencari metro terdekat untuk pulang ke rumah Sally.

Senin, 23 Agustus 2015

Di hari ini gue agak malas-malasan, baru bangun jam 10an, terus makan siang di Chinatown. Akhirnya makan nasi juga pake daging. Gue dikasi rekomendasi sama Gita untuk makan di restoran Vietnam terkenal gtu, sayangnya tuh restoran hari itu tutup, jadilah gue makan di resto sebelahnya. Dagingnya enak sih, tapi nasinya agak aneh buat gue. Tapi gapapalah, mengobati rindu akan nasi setelah beberapa hari makan sandwich mulu.

Habis makan siang gue ke KBRI buat lapor diri sama translate akte kelahiran. Di sini gue janjian sama Olla dan Rezzy. Rezzy (Eji) adalah salah satu temen deket di kampus. Hari itu dia baru banget dateng ke Paris untuk berkuliah di La Rochelle. Gue dulu waktu kuliah suka berandai-andai sama dia minum kopi di depan menara Eiffel. Eh, ternyata mimpi kita itu kesampean. Ga janjian ga apa, kita berangkat S2 di Prancis di tahun yang sama! Kadang emang luar biasa kekuatan mimpi itu. Thanks God!

Jadi untuk mewujudkan kata-kata di mimpi itu, sudah jelas dong tujuan pertama kita ke mana? Ke Eiffel! Hahahhaha. Sayangnya hari itu hujan badai yang luar biasa. Jarang jarang di Paris sampai hujan badai gtu. Jadilah kita Cuma foto-foto sekadarnya, lalu berteduh di Metro sambil menunggu Siska (anak Sastra Prancis juga tahun 05). Siskapun datang dan kita main ke rumahnya dia sambil dimasakin makan malam, nasi kuning sama ayam panggang yang endues! Hahahhahah. Gue tadinya berencana pulang (Eji emang nginep di situ), tapi karena di luar udaranya luar biasa dingin dan gue mager, gue akhirnya nginep di tempat Siska.

The dreamers - Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu

The dreamers – Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (abaikan rambut gue yang kaya habis kena topan)

Selasa, 24 Agustus 2015

Saatnya keliling Paris bersama Eji! Hahahha. Rute kita bisa dibilang agak mainstream, tapi emang itu tempat yang wajib dikunjungin kalo di Paris. Perhentian pertama adalah Sorbonne. Siapa sih yang ga tau Sorbonne? Sekolah paling terkenal di Prancis. Jadi kita ceritanya mau daftar ulang.. ahahhaha. Kidding! Kita jalan muter-muter Sorbonne sambil foto-foto pake tongsis dan fish eye hahahhaha.

IMG_3655

Sorbonne- altar pengetahuan

Habis itu kita ke Notre-Dame dan sempet masuk ke toko buku yang lumayan terkenal, Gilbert Jaune. Bareng sama Eji ini gue baru tau kalo Notre-Dame adalah titik 0-nya Paris. Alias tempat pertama saat kota Paris baru dibangun. Jam makan siang tiba! Kita makan Crepes di sebelah Notre-Dame sambil ngeliat orang lalu lalang. Jadi gini rasanya makan ngadep ke jalan 2-2nya. Kaya kata salah satu dosen KBP (Kemahiran Berbahasa Prancis) dulu, orang Prancis sukanya melihat dan dilihat, jadi dia suka ngopi-ngopi sambil ngadep jalan (kalo berdua, dua-duanya ngadep jalan, bukan hadap-hadapan).

IMG_3725

Titik nol – Cathedrale Notre Dame de Paris

IMG_3748

Makan crepes di depan Notre Dame. Makan crepes di bawa sama duduk di restoran harganya beda jauh loh hahahha.

Habis dari Notre-Dame kita berjalan kaki menuju Hotel de Ville, kemudian menyusuri sungai Seine sambil melewati Chatelet. Sempet liat juga jembatan cinta (yang ada kunci-kunci dikasi nama pasangan itu). Tadinya tempatnya bukan di situ, tapi karena jembatan yang asli udah runtuh keberatan gembok, jadilah lokasinya dipindahin.

IMG_3690

Selfie di sungai seine. Bbrp bulan setelah foto ini, salah satu temen gue komentar pas liat foto ini di insta, “Wah ini waktu lo masih bahagia ya, lo belum disiksa” (maksudnya kuliah -red)

IMG_3759

Chatelet

Kita menuju ke Musee du Louvre, di mana kacamata item gue sempet masuk selokan -_-. Habis itu kita duduk duduk di Jardin de Tuileries dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Champs Elysees, tempat di mana brand papan atas Prancis bertengger. Di sini kita juga janjian sama 4 temennya Eji yang diplomat. Jadi Eji dan temen-temennya ini sebenernya dapat beasiswa dari Kemenlu ke Prancis untuk akhirnya menjadi penerjemah negara untuk Bahasa Prancis. Keren yak? Mungkin ada yang tertarik mempersunting Eji? Hahahhaha (Malah jadi biro jodoh). Habis itu kita ke Arc de Triomphe.

P1100039

Musee du Louvre, di dalamnya ada Monalisa karya Leonardo Da Vinci

P1100071

Hiburan murah meriah ala orang Eropa- duduk2 di taman! (Jardin Tuileries)

P1100090

Champs Elysees- Pusat perbelanjaan paling terkenal se-Eropa, di mana ada Channel, Louis Vuitton, dll.

IMG_3779

The gloomy arc de triomphe

Habis itu kita ke Eiffel lagi! Hahahha. Kita cari spot foto bagus yang ada rumput-rumputnya ntuh. Hahahha. Untung hari itu ga ujan kaya kemarin, jadi foto-fotonya cukup puas. Lucunya pas di situ kita ketemu pasangan Korea yang minta fotoin. Karena kamera dia ga gtu bagus hasilnya, dia minta tolong fotoin pake HP gue dan ntar dikirimin ke email dia hahahhaa. Si pasangan ini ceritanya lagi honeymoon. Makanya wajib banget kan foto depan Eiffel hahahha.

IMG_3843

Menara sutet

Habis dari Eiffel kita berpisah jalan sama temen-temennya Eji, gue dan Eji balik lagi ke daerah Sorbonne buat janjian makan malam sama Sally dan Siska. Jadi ceritanya, Sally ini pernah jadi murid les privatnya Eji sebelum dia ke Prancis, makanya kenal. Kita makan di resto Asia, yang sebenernya ga enak-enak amat. Hahahhaa. Milih tempatnya agak ngasal yang ini. Malam pun datang, dan kita pulang ke tempat masing-masing.

IMG_3864

From left to right: Cuni-Eji-Siska-Sally

Keesokan harinya gue harus bangun jam 4 untuk mengejar kereta paling pagi ke kota tujuan gue, Mulhouse. Tentunya perjalanan yang ini juga pake drama. Dari nyasar nyari halte bis, nunggu loker gue buka jam 6.15 (ngambil koper yang gue titipin di Gare de Lyon itu). Sampe geret2 koper segede gajah sambil setengah lari. Gimana ga lari, keretanya berangkat jam 6.30 sementara gue baru bisa ngambil koper 15 menit sebelumnya? Gila dah..

Itu dia petualangan pertama gue di benua Eropa, nantikan petualangan lain di post selanjutnya! :*