Sailing Komodo: Living on Boat.

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya, Bali dan Gili Trawangan.

Day 5
Setelah sampai di wisma nusantara 2, saya dan chitto istirahat sebentar di kamar lalu berkeliling mencari makan malam. Kami menemukan tempat makan ayam taliwang yang ramai, di seberang mal, bernama Ayam Taliwang Mandiri. Yang ramai itu memang pasti enak. Terbukti, makanan ini ludes dalam sekejap. Setelah banyak makan western food di gili, ayam taliwang ini bener2 nonjok!

Sepulangnya makan malam, kami kembali ke hotel dan bertemu teman2 yg berada di trip (harga di postingan sebelumnya) yang sama. Kami ber-12: cuni, chitto, randy (kepala suku), airin, doni, vincen, tutus, sari, ci lois, mbak ari, panji dan mas sujar. Dari obrolan di whatsapp si keliatannya anaknya seru2, pas ketemu seru beneran kok! Hahahaha.

Day 6
Tiba juga hari H-nya. LIVING ON BOAT!

Sebelum saya bercerita lebih banyak, ini dia peta perjalanan saya selama Living on Boat (LOB). Rute kami adalah yang diberi garis putih.

Jujur saya sempat takut tinggal di kapal. Takut merasa tidak nyaman dan takut mabuk laut. Tapi selalu ada yang pertama kali untuk segala sesuatunya. Pukul 12 kami dijemput oleh bis yang membawa kami ke labuan kayangan, tempat segala sesuatunya dimulai. Tak disangka, kami mendapat kapal phinisi yang besar penuh dengan orang (total 58 orang). Ternyata kami mendapat kapal yang besar karena banyaknya orang yang antusias mengikuti tur hari itu. Biasanya yang digunakan adalah kapal kecil.

Kapal phinisi yang kami gunakan. Photo by Vincentia Maria.

Setelah ngaret super lama karena ada masalah dengan segerombolan bule yang ditipu (mereka membayar kapal pada orang yang tidak jelas yang tidak memberikan uangnya pada pihak kapal), akhirnya kami berlayar pula pada pukul 4 sore. Otomatis, sunset di gili bola yang dijanjikan pun gagal dilihat. Kami sampai di gili bola pada pukul 10 malam dan menepi di sana untuk tidur (tidurnya tetap di kapal).

Sunset di perjalanan menuju Gili Bola

Tidur di kapal ala backpacker cukup simple. Kami semua tidur di dek kapal dengan menggunakan matras dan selimut. Matrasnya cukup empuk si, saya pernah merasakan tidur yg lebih sengsara daripada ini. Hahahaha. Tantangannya adalah, angin laut dan ombak yang mengguncang-guncang kapal. Kalau tidak kuat, bisa muntah ataupun sakit. Oiya ada juga beberapa kamar yg bisa disewa (130.000) tapi jumlahnya terbatas dan dapat dihitung dengan jari.

Malam pertama di kapal saya baru bisa tidur jam 3 pagi. Mayan lah daripada tidak sama sekali.

Day 7
Si chitto sepertinya tidak kuat semalam di kapal, ia terserang demam keesokan harinya.

Pada pagi hari kami berlayar ke Pulau Moyo. Kami akan mengunjungi air terjun, mata air tawar yang pertama dan terakhir dalam trip ini. Fyi, di kapal kita tidak bisa mandi karena persediaan air tawar sangat terbatas. Paling cuma bilas bilas saja. Setelah trekking 30 menit sampai jg kita di air terjun. Langsung kita main main dan selfie di sana. Sangking ramenya yang ikut selfie, fotonya muka orang semua ga keliatan air terjunnya. Hahahaha.

Air terjun (Photo by Sesari)

 

Kapal kami di pulau Moyo

Sehabis puas mandi di air terjun, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal menuju Danau Satonda. Di sana kami melihat lihat danau dan juga snorkeling!

Danau Satonda

Selfie di Pantai Satonda (Photo by Donni)

Sore itu berjalan dengan damai. Kami melanjutkan perjalanan selama 12 jam ke tempat paling ditunggu tunggu. Gili laba.
Day 8
Pukul 3 pagi saya terbangun. Saya melihat cahaya terang yang kemudian redup di langit langit. Saya bertanya tanya cahaya apa itu. Beberapa menit kemudian saya mengobrol dengan salah satu awak kapal, dan ia mengatakan bahwa gunung sangeang di bima meletus! Bisa-bisanya di antara 365 hari di tahun 2014 ia memilih meletus di hari di mana saya sedang berlayar menuju komodo. Padahal terakhir meletus tahun 1999. Terjawab sudah mengapa banyak sekali abu di sekujur badan saya dan di kapal. Butiran yang tadinya saya kira garam dari air laut ternyata abu vulkanik. O my god! Malam mulai mengerikan. Sambil berharap tidak terjadi apa-apa pada kami semua. Saya melanjutkan tidur dan bangun bangun terjadi huru hara di kapal.

Satu kapal kaget dengan berita meletusnya gunung sangeang. Para penumpang yang tadinya tidur di dek atas dipindahkan ke bawah karena terkena abu vulkanik paling parah. Para penumpang memakai masker ataupun sapu tangan. Saya sendiri tidak membawa masker dan pinjam ke orang lain tidak ada yang punya. Pasrah saja lah. Sunrise pagi itu pun ditemani oleh langit berabu.

Gili laba dipenuhi abu vulkanik dan trekking menuju puncak gili laba pun dibatalkan. Satu kapal kecewa tapi kami tak bisa berbuat apa apa karena ini adalah bencana alam. Saya sendiri merasa bersyukur masih bisa hidup. Karena bisa saja letusan gunungnya kena kapal kita atau terjadi gempa di laut. Bila salah satu dari dua hal itu terjadi tentunya saya tidak bisa lagi menceritakan pengalaman ini pada kalian, alias udah die.

Gili Laba yang dipenuhi abu vulkanik 

Oiya buat yang mau tau gili laba itu secantik apa sehingga banyak yang menyesali. Ini dia! Kalo menurut saya seperti raja ampat versi KW. Hehehhe. Cantik banget!

Courtesy of journals.worldnomads.com

Perjalanan ke pink beach juga dibatalkan. Kapal hanya berhenti dari kejauhan dan dari jarak segitu pantai tidak terlihat berwarna pink sama sekali. Tadinya kami dijadwalkan snorkeling di pink beach. Tapi tidak mungkin kecuali kalo mau bernafas pake abu. Huhu.
Kapal berlayar ke arah pulau komodo. Perjalanan ini terasa dipaksakan. Dalam keadaan bencana sepertinya tidak ada komodo yang mau berlama-lama di luar terkena abu vulkanik. Benar saja, trekking 3 km kami bersama hujan abu (ya, hujan abu, bukan hujan salju!) di komodo hasilnya nol. Saya tidak melihat komodo sama sekali. Teman saya ada yang melihat tapi cuma 1.

Hujan abu di Pulau Komodo

Pulau rinca yang harusnya dijadwalkan keesokan harinya dipercepat. Setelah dari pulau komodo kami menuju pulau rinca. Tempat lebih banyak komodo dan lebih liar. Sesampainya di sana, jalur trekking ditutup. Kami hanya bisa melihat komodo dari sekitar dapur. Ternyata di situ saja sudah banyak komodo berkeliaran. Bahkan kami melihat komodo kawin. Hahahaha

Kami melihat komodo dari jauh, karena komodo merupakan hewan yang berbahaya. Ia tidak bisa mendengar suara berisik. Saat di sana, ada bayi bule menangis. Sontak kepala komodo itu langsung tegak. Si anak bule pun dibawa menjauh oleh ayahnya (gila juga tuh bule living on boat bawa anak hahaha).

Our own seven wonders of the world: komodo dragon

Sebagai intermezzo, dulu katanya pernah ada bule prancis hilang di pulau rinca karena terpisah dari grupnya. Dua minggu kemudian, hanya jari dan cincinnya yang ditemukan. Semua habis dilahap komodo. Mengerikan!
Perjalanan diakhiri dengan sebuah ketidakpastian. Dalam keadaan darurat, awak kapal memberikan opsi untuk tetap lanjut menginap di kapal untuk besokannya ke pulau kelor (belum tentu di kelor cuacanya bagus) atau langsung mendarat di labuan bajo. Saya memilih untuk langsung pulang, saya tidak tahan menginap semalam lagi di kapal bersama abu vulkanik. Tapi suara terbanyak dipegang oleh yang ingin bertahan di kapal.
Full team at Pulau Rinca. Thank you guys for the fun holiday! :* (Photo by Tutus)

Full team at Pulau Rinca. Thank you guys for the fun holiday! :* (Photo by Tutus)

Day 9
Setelah semalam lagi di kapal bersama abu vulkanik, kami sampai juga di pulau kelor. Ternyata pulaunya sangat cantik. Kami snorkeling melihat biota laut yang sangat beragam. Bahkan ada ikan ikan nakal yang menggigiti kaki pengunjung. Kami trekking ke puncak pulau kelor, di mana pemandangannya sangat bagus dan dapat mengobati akan kekecewaan batalnya gili laba.

Pemandangan dari atas pulau kelor. Pic by Sesari Handayani.

Pukul 2 siang kami mendarat di labuan bajo, flores. Kami sangat senang bisa berjumpa dengan daratan. Kami langsung memesan hotel (hotel pagi: 350000/malam) dan mandi air hangat sepuasnya. Thank God we are in the land now!

Malamnya kami mencoba makan di restoran nomer 1 versi trip advisor di labuan bajo: mediterraneo. Tempat dan makanannya recommended.

Day 10
Saya sakit batuk dan pilek di labuan bajo. Saya menduga ini karena ulah abu vulkanik. Saya berniat ke dokter sepulangnya ke jakarta.

Karena abu vulkanik, pesawat saya dicancel 4 jam. Teman teman ada yang dicancel sampai 1-2 hari. Beberapa memutuskan naik kapal hingga mataram dan sisanya memutuskan menunggu kepastian pesawat.

Sebelum pulang, saya menjelajahi labuan bajo ke sebuah obyek bernama gua batu cermin. Tempatnya cukup bagus, isinya gua gua besar. Di bagian intinya, kita bisa melihat cahaya masuk dari celah gua di jam 12 siang. Bila beruntung dan ada air, cahaya akan memantulkan bayangan kita pada air. Sayang, saya datang ke sana terlalu pagi dan bukan saat musim hujan hahaha.

Gua batu cermin

Saatnya pulang, pukul 12 saya sampai di bandara komodo untuk check in. 2 jam kemudian, pesawat kecil membawa saya pulang ke rumah.

Epilog
Setelah dirontgen dan diperiksa ke dokter paru paru, saya tidak menderita penyakit serius. Hanya batuk pilek biasa ditambah ada sedikit debu di paru paru.

Tips tips Living on Boat (LOB):
-Sebelum memutuskan LOB, ketahui dulu mengenai tur anda, bagaimana anda akan tidur, mandi, makan, dan sebagainya. Biasanya kapal seperti yang saya ikuti itu tidurnya di dek beramai-ramai dan mandi seperlunya.
-Bawa jaket untuk menghalau dinginnya udara malam.
-Bawa ear plug (berguna bila naik kapal kecil dan berisik).
-Coba berbagai posisi duduk dan tidur yang nyaman untuk anda, agar anda tidak muntah.
-Gunakan sunblock di muka dan badan. Biar pulang pulang ga terbakar seperti saya.
-Saat makan, antrilah sedepan mungkin, ada kalanya para penumpang super kelaperan dan anda kehabisan makanan (dan musti nunggu dimasakin lagi).
-Bersiap untuk mandi/bilas di belakang kapal (tempat terbuka) dengan menggunakan baju. Kita juga bisa sikat gigi dan cuci muka di kapal (airnya dibuang keluar).
-Anda dapat meminum antimo untuk menghalau mabuk. Tapi jangan sampai anda terlewat petualangan seru karena kebanyakan tidur di kapal.

*mungkin ada yang mau menambahkan?*

Perjalanan ini dilakukan dengan kencana tour. Terdapat berbagai pilihan waktu perjalanan. Paling seru sih yang kaya saya, 4 hari 3 malam, benar benar berasa hidup di kapalnya.
Thank you for reading! :*

Bali dan Gili Trawangan

Sejak awal tahun 2014, saya belum pernah mengikuti trip over weekend, dikarenakan jadwal les saya yang cukup menyita waktu di hari sabtu. Beruntung, adik saya mengajak saya berlibur tepat di saat les saya sudah berakhir, pada tanggal 24 mei 2014. Kami setuju mengadakan trip ini karena ada libur bolong-bolong di akhir bulan mei. Saya memutuskan berlibur selama 10 hari sejak tanggal 24 mei hingga 2 juni dengan destinasi bali-gili trawangan-komodo. Trip ke bali dan gili dilakukan oleh kami berdua tanpa mengikuti open trip sementara trip komodo mengikuti salah satu open trip teman saya, Randy Anggriany.
Here is the stories:
Day 1
Kepergian saya menuju bali bisa dikatakan tidak melalui persiapan yang matang. Bayangkan saja, flight jam stg 8. Saya pergi dulu menjenguk sahabat yang baru melahirkan jam 1 siang kemudian ngobrol-ngobrol sama seorang sahabat dan pulang pada pukul 5. Saat sampai kamar, saya cukup kaget juga kalau itu sudah jam 5. Gue yang tadinya mau nyobain damri thamrin city-bandara memutuskan untuk menelepon taksi untuk pukul stg 6. Bayangkan, gue hanya punya waktu setengah jam untuk packing. Sampai akhirnya charger kamera lupa dibawa sangking terburu2nya. Ajaibnya, gue sempet2nya berpikir bawa setrikaan buat ngerapihin baju2 yg kusut. Pada akhirnya setrikaan itu juga ga dipake *yaiyalah ngapain liburan bawa setrikaan*.
Saya sampai di bandara soekarno hatta kurang lebih pukul setengah 7. Saya langsung check in dan menunggu pesawat berangkat. Saat menunggu, saya sempat mengobrol sama cewe jerman yang juga mau ke bali (dia solo travelling 3 minggu) dan memperhatikan anak cacat yang didorong2 ke sana kemari oleh ibunya. Pesawat saya berangkat pukul stg 8 dan tiba di bandara bali jam stg 11 waktu sana. Saya dijemput adik yg sudah duluan di bali sejak hari rabu.

Kami langsung makan di restoran bernama Salty Seagull. Adik saya sudah pernah makan di sana dan suka sekali dengan french friesnya. Saya memesan fish and chips yang dimasak dengan bir dengan minuman total seharga Rp 122.000. Rasanya biasa saja, namun kentangnya benar-benar enak.

Setelah puas di sana, kami langsung pulang ke hotel. Kami menginap di Hotel Grandmas Seminyak. Hotel ini cukup bagus walaupun ukurannya kecil. Harganya Rp 350.000 per malam.
Day 2
Saya dan chitto (adik saya) adalah dua pemalas yang ga bisa bangun pagi. Di hari pertama saya di bali ini, kami baru bangun jam 11 dan berangkat jam 12. Kami memutuskan akan pergi ke restoran bernama el kabron. Tempat ini memiliki view pantai yang sangat memukau dengan private pool menghadap ke arah pantai. Tempatnya agak jauh dari kota, sehingga kami nyasar berkali-kali meski sudah pake GPS.
Elkabron adalah spanish restaurant dengan view ciamik. Anda diwajibkan memiliki minimum pembayaran 300rb jika ingin duduk-duduk cantik di pool side dan 200rb di restaurant side. Kami memilih pool side. Kami berenang-foto2-makan hingga pukul stg 5 sore. Lalu kami kembali pulang. Kami buru2 pulang karena mobil yang kami sewa hanya disewa sampai jam 6.
Setelah mengembalikan mobil, kami pergi ke kuta naik motor (harga sewa motor Rp 60000). Kami mencari kabel data kamera lumix saya namun tidak ketemu. Ya sudah saya pasrah saja tidak memakai kamera sebelum liburan. Untungnya kamera hp masih cukup ok untuk dijajal.

Kami makan malam di nasi pedas Ibu Andika. Tempatnya sangat ramai dan mengantri. Tempat ini menyediakan berbagai lauk seperti nasi rames dan disajikan dengan bumbu super pedas. Menurut saya rasanya biasa saja, namun pedasnya yang membuat nikmat. Walau saya sempat kepedesan juga!

Setelah itu kami berjalan jalan di kuta. Kuta mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam 5 tahun terakhir. Saya membeli celana pendek dan juga baju renang cantik berwarna pink malam itu. Super happy!
O iya, sebelum pulang saya ingin sekali menilik gay bar yang ramai dekat hotel. Tapi si chitto tidak mau menemani (takut ditaksir cowo katanya). Jadilah tidak jadi. Hahaha.
Day 3
Perjalanan kami di bali berakhir pagi ini. Kami memesan fast boat (wahana gili ocean) dari bali menuju gili trawangan seharga 275000 per orang (cukup murah jika dibandingkan tiket pesawat bali-lombok plus nyeberang ke pelabuhan gili). Fast boat ini diisi oleh 90% bule. Perjalanan hanya memakan waktu 1.5 jam.

Di gili, pelabuhan sudah ramai diisi para expat. Kami pun menuju ke penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya, Trawangan Dive (Rp 750000/malam). Fyi, di sini banyak penginapan dengan harga 200.000. Cocok untuk yang mau hemat. Dan saya dengar dari teman saya, penginapannya juga cukup bagus.

Setelah menaruh tas, kami makan di tempat terdekat, di Genius. Jujur, makanannya not recommended. Saat itu, untuk selanjutnya kami memutuskan untuk makan di tmp yang direkomendasikan oleh temannnya chitto dan pilihan trip advisor.

Halaman depan hotel Trawangan Dive yang juga menjadi tempat kursus diving

Habis makan kami berkeliling gili trawangan naik andong (Rp 150.000). Selain andong, bisa jg dengan menggunakan sepeda. Tapi karena saya ga bisa naik sepeda, ya mau gimana lagi. Hahahaa.

Ternyata gili trawangan dapat dikitari dalam waktu 30 menit. Kami menandai beberapa spot bagus untuk didatangi selanjutnya. Setelah berkeliling, kami duduk duduk cantik di Horizontal sambil menikmati pantai. Fyi, semua pantai di gili trawangan sudah dimiliki oleh restoran. Jadi kalo mau duduk duduk cantik pake payung, mau ga mau musti memesan makanan di tempat tersebut dengan kisaran harga 50000-100000 minimal. Ga heran kenapa duit banyak kebuang di gili trawangan.

Malamnya, kami makan di pasar malam. Letak pasar ini di seberang pelabuhan. Bentuknya seperti food court. Makanan cukup bervariasi dengan harga relatif lebih murah dibanding restoran di gili. Kami makan seafood dengan total Rp 45.000.

Sesudah itu, kami sempat berpikir untuk dugem di salah satu bar. Karena gili trawangan adalah party island! Tapi karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan, akhirnya dicancel dan kami duduk duduk di Pesona (view ke pantai) sambil menghisap shisha.

Day 4
Hari ini kami mengikuti paket snorkeling ke 3 gili (Rp 120.000) dari pagi hingga sore. Kami berencana melihat penyu dan ikan di gili meno dan gili air. Karena ombak yang cukup besar, saya tidak bisa menikmati perjalanan tersebut.  Bahkan saya muntah saat sedang snorkeling di gili meno. Pengalaman pertama muntah saat snorkeling! Underwater casing pun menjadi tak berguna karena saya tidak bisa fokus foto. Fokus berenang saja sudah cukup menyita energi! Dan ternyata si casing ga bisa dibawa ke laut dalam dengan ombak besar. Air sempat merembes sedikit ke dalam casing. Saya gagal melihat penyu di gili meno!

Sementara di gili air keadaan membaik. Saya bisa melihat beberapa ikan dengan ditarik dan dipegangin guide-nya. Hahahaha. (Kebayang betapa lemahnya saya kalo dibawa travelling model begini). Setelah itu, kami makan siang di gili air (not recommended). Kemudian snorkeling lagi dan pulang. Jujur menurut saya (dan chitto) biota bawah laut 3 gili jauh di bawah ekspektasi. Ga sekeren yang dibayangin.

Pulangnya kami mencoba makan pizza di Dolce Vita. Restoran nomor 1 versi trip advisor. Pizzanya lumayan empuk dan tebal, rasanya cukup enak walaupun ga sampai enak banget. Hahahaha. Harga cukup bersahabat.
Di gili, banyak dijual gelato (10.000-12.000) di kios2 pinggir jalan. Saat kami kepanasan, gelato lah obatnya. Hahahaha.

Tepar karena snorkeling seharian, kami tidur di hotel dari pukul 4 hingga 8 malam. Malamnya, kami mencoba restoran nomor 3 versi trip advisor, Il Pirata. Pizzanya lebih enak daripada dolce vita. Di trip advisor, disebutkan kalau calzone-nya juga enak. Tapi tidak cocok di lidah saya karena terlalu banyak tomat.

Day 5
Setelah sarapan di hotel, kami mengunjungi beach lounge paling ciamik, pearl beach lounge. Tempatnya benar benar cozy dan teratur. Kami di sini hingga pukul 1 siang.

Tak terasa perjalanan kami di gili trawangan berakhir. Sebenarnya masih mau tidur tidur cantik di pantai, tapi petualangan yang lebih menakjubkan sudah menunggu.

Kami pergi dari gili menuju pelabuhan bangsal (lombok) dengan fast boat 10 menit seharga Rp 75.000. Selain fast boat, juga ada boat biasa seharga Rp 13.000 (30 menit). Tadinya saya mau naik yang boat biasa, tapi karena sang adik pengen yang cepat, ya sudah saya mengalah saja.

Kami naik taksi dari bangsal ke mataram (Rp 160.000) menuju tempat kami menginap, wisma nusantara 2 (semalam Rp 160.000). Dalam perjalanan kami sempat berhenti di Malimbu.

Ini adalah awal dari trip komodo kami. Kami menggunakan open trip-nya si randy dengan total peserta 12 orang. Open trip ini seharga Rp 1.9 juta (belum termasuk tiket pesawat) dengan total perjalanan 4 hari 3 malam di kapal menuju NTB dan komodo. Yang belakangan saya ketahui biasa disebut living on boat.
Penasaran dengan perjalanan saya di laut? Klik Sailing Komodo: Living on Boat.

Berpetualang ke Kota Cirebon!

Gue sangat suka travelling, dan selalu ingin menuliskannya sepulang perjalanan, namun ujung-ujungnya selalu malas dan tidak sempat. Mungkin karena rutinitas pekerjaan gue juga dalam dunia tulis menulis, jadi sudah capek rasanya kalau harus ngeblog lagi. Hahahhah. Padahal dulu waktu kuliah gue suka banget nulis blog.

Anyway, akhirnya postingan yang mulai dibuat saat dalam perjalanan kereta pulang ke Jakarta ini selesai juga. Semoga catatan perjalanan gue tidak hanya sampai di sini ya. Selamat membaca!

Pada hari itu, 30 maret 2014, gue dan 8 org sahabat (cewe-cewe semua) pergi ke Cirebon untuk berjalan-jalan di kotanya. Kami pergi pagi jam 5.30 dengan menggunakan kereta Kutojaya Utara (Rp 35000) dari pasar senen menuju cirebon prujakan. Kami sampai di cirebon dan langsung dijemput oleh mobil yang kami charter (Rp 400000 sudah termasuk bensin dan supir) untuk memulai petualangan kami di kota udang tersebut.

Berikut rute yang kami jelajahi:
1. Nasi jamblang mang dul
Tempat makan yang satu ini benar2 ramai. Gue rasa di jakarta ga ada tempat yang secrowded ini.
Basically nasi jamblang ini kaya nasi rames, banyak lauknya dan bisa pilih sesuka hati.

Untuk rasa cukup enak. Untuk 2 porsi nasi kecil, kerang, semur tahu dan telur puyuh hanya 11.000 saja!

2. Masjid Agung
Masjidnya besar dan bagus. Bahkan lbh bagus drpd Masjid Keraton Kasepuhan.

3. Balai kota
Balai kota di cirebon ini agak berbeda dengan yang di jakarta. Kalau di jakarta kt tidak bs masuk ke dalamnya. Di sini bisa! Bahkan kita sampai masuk ke lantai 2 di ruang meetingnya. Gue agak takjub si. Darimana mereka tau orang2 yg masuk di situ baik2. Bisa aja kan kalo kita mau naruh bom. Hahahaha.

Salah satu keunikan dari gedung balai kota ini adalah terdapat gambar udang di bagian depan atas bangunan. Secara cirebon itu kota udang, ye kan.

4. Makam sunan gunung jati
Awalnya kt ga mau ke sini karena takut keabisan waktu dan mengira jaraknya jauh. Namun berkat pak supir, kita akhirnya ke sana juga.

Hmm.. banyak orang yg berziarah ke makam ini. Mereka berdoa (atau mungkin meminta rejeki?) pada sunan gunung jati dan istrinya yang konon katanya orang cina (kaya gue gtu *ngaku2*). Selain makam mereka, di kompleks pemakaman tersebut juga terdapat makam2 lain seperti keluarga dan para pejuang daerah. Oiya, makam sunan gunung jati dan istrinya tidak bs dimasuki para peziarah.

Mereka hanya bisa berdoa di balik pintu.

Satu hal yang gue dan teman2 sayangkan dari tempat ini adalah terlalu banyak org yg meminta sedekah. Bahkan banyak di antara mereka yang terlihat memaksa, sambil mengetuk2 kotak sedekahnya saat orang2 pada lewat.

cirebon 1

Ini orang-orang yang berdoa di balik pintu makam sunan gunung jati

5. Keraton Kanoman
Keraton ini memiliki kompleks yang cukup kecil. Areanya tidak sebagus keraton kasepuhan.

cirebon 3

6. Keraton Kasepuhan
HTM: 8000
Areanya cukup luas dan menarik, tapi menurut gue msh lbh bagus keraton solo atau jogja.

Satu yang gue agak kecewa dr keraton ini adalah, adanya pegawai2 yang sok2 menyapu dan membersihkan lantai lalu di ujung pintu mereka meminta sumbangan -_____-. Keliatan bgt pamrih dan pengen diliatnya ye kan.

cirebon 4

Kedua teman berpose di salah satu bagian Keraton Kasepuhan

7. Empal gentong
Salah satu makanan khas cirebon ini ckp enak. Tapi sayang di tmp yg kami beli banyak lemaknya. Dagingnya sendiri terasa empuk dan yummy.
Satu porsi dihargai 30ribuan.

Teman gue mengatakan empal gentong yang enak di Cirebon adalah Bu Dharma, tetapi kami tidak makan di sana, melainkan makan di resto yang kita lewati saja. Mungkin itu yang membuat empal gentong yang kami cicipi tak seenak itu.

8. Gua Sunyaragi
HTM: 8000
Ini dia tempat paling bagus yg kita kunjungi di cirebon. Dari luar sih biasa aja. Begitu masuk, waw!
Dimana2 ada gua yg terbuat dari karang, seperti di gambar ini.

Saran gue, kalau mau masuk sini, mending nyewa guide karena kalo engga bakal ga ngerti sama sekali ni gua kenapa bisa begini, gimana dibuatnya, dll. Sebagai spoiler, di sini juga ada benda yang disebut-sebut akan membuat jauh jodoh bila dipegang. Benda apakah itu? Cari tau sendiri yaa! *rese*

cirebon 5

Here we are! Without me.. hahahha *nasip jadi yang bawa kamera*

cirebon 6

9. Klenteng Dewi Kwan Im
Klenteng ini agak susah mencarinya. Supir kami yang notabene orang Cirebon saja kebingungan.
Klenteng ini sangatlah bagus, namun pesan bapak penjaganya, bila ingin memoto orang sembayang harus meminta ijin orang tersebut dahulu. Bener juga sih.

cirebon 7

cirebon 8

10. Kampung Batik Trusmi
Di tempat ini banyak tersedia toko-toko batik cirebon. Karena hari sudah mulai gelap, kami tak sempat berjalan kaki mengitari kampung batik ini. Kami memutuskan untuk singgah di 1 tempat saja yang sangat besar dan ramai. Jujur, batik di sini ga beda jauh sama yang ada di Thamrin City. Harganya juga ga beda jauh. Haha.

11. Mie Koclok Edi
Malam tiba, kota cirebon pun terlihat seperti kota mati. Banyak pusat perbelanjaan dan tempat makan yang tutup. Kami ingin sekali mie koclok, pak supir yang baik hati pun mencarikan mie koclok yang masih buka ke sana kemari.

Tempat ini sangatlah ramai. Yang jual juga rada-rada bolot, karena punya kami ga dibuat-buatin sementara yang mesennya lebih belakangan dari kami dibuatin duluan. Setelah sempat bersitegang dengan bapaknya, akhirnya makanan kami pun jadi.

Harga mie koclok ini 12000. Menurut gue sih rasanya biasa saja, tapi kata teman gue enak.

Dann.. berakhirlah perjalanan kami mengunjungi kota Cirebon. 11 tempat berhasil disambangi berkat charter mobil dan bapak supir yang baik hati. Kami pun pulang naik kereta dari stasiun prujakan pukul 10 malam dan sampai di senen jam 1 dini hari.

Anyway, gue merasa tulisan ini terlalu kaku dan kurang imajinatif. Tapi sepertinya memang gaya menulis gue seperti itu, straight to the point. Semoga informatif yaa!

Santap Italia di Izzi Pizza


Sebagai pecinta menu all-you-can-eat, saya senang berburu voucher restoran di sebuah situs yang dikenal dengan disdus. Saat itu, saya menemukan voucher Izzi Pizza seharga Rp 80.000,-. Langsung tergeraklah tangan saya untuk mengklik tulisan “Buy Now”. Selang beberapa bulan, saya menggunakan voucher tersebut bersama salah satu teman saya. Saat itu, saya memilih untuk makan di Izzi Pizza Menteng, yang letaknya dekat dengan flyover Kuningan ke arah Menteng.

Saya datang ke sini kira-kira pukul 4 sore. Saya memilih seat non smoking yang terletak di lantai 1. Restoran ini memiliki 2 lantai dan juga area smoking serta non smoking. Jika anda ingin beromantis-romantis ria dengan pasangan di sini, saya sarankan anda datang saat hari mulai gelap. Makan di Izzi Pizza saat hari masih terang benar-benar belum terasa romantis dan istimewa.


Harga makanan dan minuman di restoran Italia ini benar-benar variatif, dari Rp 18.000,- hingga Rp 115.000,-. Untuk Pizza atau pasta sendiri harganya berkisar antara Rp 60.000,- hingga Rp 100.000,- Berikut menu yang saya dan teman saya santap. Oiya, saya juga melampirkan harganya sebagai referensi. Waktu saya makan sih, all you can eat, jadi saya tidak membayar sebanyak akumulasi jumlah harga di bawah ini. Hoho. Oiya, fotonya dapat diintip di bawah artikel ini 🙂


1. Soup of The Day (Rp 25.000)


Jenis sup ini tergantung hari kedatangan kita. Waktu saya ke sana, saya mendapatkan Mushroom Soup. Sup jamur ini berwarna kecoklatan dan agak kental. 

2. Prawn Linguine With Garlic and Chili (Rp 62.000)


Linguine adalah salah satu pasta yang mirip dengan fettucini hanya bentuknya lebih tipis. Linguine dalam menu ini dilengkapi dengan bawang putih, minyak zaitun, cabai merah dan juga udang. Rasanya cukup pedas. Buat yang ga terlalu suka pedas, lebih baik jangan dicoba! Haha. 

3. Tuna Melt Pizza (Rp 85.000)


Pizza di Izzi Pizza terbagi menjadi dua, Pizza ‘biasa’ dan Super Thin Crust Italian Pizza. Bedanya, yang satu lebih tebal dari yang lain. Yang jenis kedua juga lebih renyah, terutama di bagian pinggirannya. Tuna Melt Pizza masuk di jenis yang kedua, Super Thin Crust Italian Pizza.  Hidangan ini disiram dengan saus krim, serta ditemani oleh bawang bombay, paprika merah dan buah zaitun. Meski terdiri dari 8 slice, tapi rasanya pizza ini cukup sedikit dan cuma sekedar lewat di tenggorokan. Entah karena pizzanya yang tipis atau karena saya yang porsinya besar. Hoho.

4. Fettuccine Con Funghi (Rp 65.000)


Pasta berjenis fettuccini ini disajikan dengan saus krim putih. Krimnya, menurut saya, agak membuat kenyang. Setelah menyantap menu ini, rasanya perut langsung penuh. Berbeda dengan saat saya menyantap Prawn Linguine. Menu ini juga dipercantik dengan sebuah Garlic Bread yang berdiri di atasnya. 

5. Izzi’s Chicken Wings (Rp 42.000)


Chicken Wings ini kurang lebih sama dengan chicken wings yang biasa dijual di restoran lain, rasanya agak mirip dengan yang dijajal di salah satu kompetitornya, Pizza Hut. Terdapat enam buah sayap ayam per porsinya.

6. Beef ‘n’ Izzi Pizza (Rp 90.000-Regular)


Seperti sudah saya paparkan sebelumnya, terdapat dua jenis pizza di Izzi Pizza, yang normal dan yang lebih tipis. Beef ‘n’ Izzi Pizza masuk dalam kategori normal. Pizza ini juga dapat dipilih dalam 2 jenis ukuran, regular dan large. Harganya tentu berbeda, pizza regular dihargai Rp 90.000 sementara pizza large dihargai Rp 115.000. Pizza ini berisi smoked beef, beef salami, spicy beef, Italian sausage, mozzarella dan diberi saus BBQ.

7. Spaghetti Bolognaise (Rp 62.000)


Mungkin jenis pasta yang satu ini lebih populer dari jenis-jenis pasta yang saya sebutkan sebelumnya. Spaghetti dengan saus bolognaise ini menutup perjumpaan kami berdua dengan Izzi Pizza. Entah kenapa, saat saya mencoba menu ini, rasanya kurang enak. Entah karena memang kurang nikmat, atau saya sudah kekenyangan. Hahahah.

8. Lemon Tea Refill (Rp 28.000)


Di antara semua minuman yang terpampang di buku menu, saya dan teman saya memilih minuman refill, agar bisa minum sepuasnya. Pilihan pun jatuh pada lemon tea. Lemon tea-nya sama dengan lemon tea kebanyakan. Namun di sini pelayannya cukup sigap, begitu lemon tea saya habis, dia langsung mengisinya kembali tanpa perlu dipanggil.

Itu dia cerita saya di Izzi Pizza, Menteng. Semoga bisa menjadi alternatif untuk menyantap makanan Italia. Ciao!