Taman Nasional Baluran dan Pulau Menjangan

Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu, 14 Mei 2015! Bukan, bukan karena hari itu adalah hari ulang tahun gue, tapi gue akan trekking ke Kawah Ijen, Jawa Timur. Gue ikut tripnya Wuki Traveller (1.100.000) dengan destinasi Baluran-Menjangan-Kawah Ijen-Bromo plus gue mau ke Madakaripura. Di postingan yang ini gue akan ceritain dulu perjalanan gue ke Baluran dan Menjangan.

Pukul 2 siang gue menaiki kereta ekonomi AC Kertajaya (90.000) dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Pasar Turi Surabaya. Gue tadinya bakal berangkat sama Dea, tapi karena dia mendadak ga bisa, ya sudahlah gue berangkat sendiri. Toh di Surabaya juga bakal ketemu Maria, temen trip Derawan gue. Aslik ya, duduk tegak di kereta selama 12 jam itu rasanya bosen banget, mati gaya, mana ga bisa ngobrol juga sama sebelahnya. Tapi untungnya gue bisa nyelonjorin kaki sih, karena depan gue kosong. Hahaha. Di perjalanan di kereta gue juga sempat ditemani oleh radio dakwah dalam bahasa Jawa, pembahasannya lucu sih. Hahaha.

Setelah melalui perjalanan panjang, 1 nasi goreng, 1 pop mie, 1 roti dan 1 botol aqua besar, akhirnya sampailah juga gue di Surabaya. Jam setengah 2 pagi! Di situ gue bertemu rombongan gue dengan total 18 orang. Dan juga bertemu Maria dan temannya yang bernama Rina. Di stasiun sempet ketemu juga sama Desi, teman di Sastra Prancis bersama pacarnya, dia ikut trip Wuki juga tapi beda rombongan. Fyi, trip Wuki yang ke ijen ini ada 3 rombongan dengan jumlah 18 orang tiap 1 rombongannya. Ada satu lagi yang paling kaget, gue juga ketemu salah 1 temen kursus gue di IFI, Dinda. Mungkin dia satu-satunya temen yang gue liat di hari ulang tahun gue itu (maklum, seharian ga ketemu temen dan keluarga). Itu juga gue liatnya cuma sekilas, pas dia ke WC di kereta. Eh pas turun, ternyata dia ikut ke ijen juga bareng rombongan Wuki yang lain. What a coincidence! Hahaha.

Setelah bertemu dengan teman-teman serombongan, kamipun pergi menaiki ELF menuju Baluran. Beruntung, gue dapet tempat duduk yang di tengah pas di belakang supir. Gue jadi bisa nyelonjorin kaki. Hahahah! Oiya, di trip ini juga ada 2 bule dari Inggris, satu ngajar di EF Indonesia, satu lagi bekas pengajar di EF. Mereka dibawa oleh seorang staff EF juga, orang Indonesia.

TAMAN NASIONAL BALURAN

Setelah tidur-tidur ayam (Fyi, selama trip 3 hari ini kami tidur di mobil, cuma tidur di kasur sekali waktu sebelum ke Bromo), kami sampai di Taman Nasional Baluran, Situbondo jam 7 pagi. Harga tiket masuk (ini udah include di trip) seharga 15000, tapi kalo buat bule jadi 150.000. Buset dah, bedanya 10 kali lipat, mak! Di baluran ini katanya mirip sama afrika. Sepanjang jalan yang kelihatan adalah savana, kami juga melihat beberapa rusa dan banyak monyet!

Setelah sarapan pagi, kami naik ke Menara Pandang di Baluran. Tangganya cukup curam dan hampir vertikal. Dari menara ini kita bisa melihat seluruh baluran, rumput-rumput hijaunya yang luas membentang, tapi sayang kami tidak melihat satu hewan pun dari situ.

Taman nasional Baluran dari menara pandang

Gunung ini namanya juga baluran

Setelah turun dari Menara Pandang, kami jalan-jalan dan juga foto-foto di savana. Apalagi kerjaan kita kalo ga foto-foto, bukan?

P1090695-1

P1090708

nice view, isn’t it?

P1090698

monyet-monyet nakal

P1090701

tanduk banteng

P1090752

Puas foto-foto, kita ke Pantai Bama yang terletak dekat dari Baluran. Pantainya sih biasa aja, tapi ada satu cerita di sini. Kaki gue kepentok beton gara-gara ngehindarin monyet-monyet di sini. Sampai sekarang ada bekas luka bulet gede di lutut kiri gue. Bukan karena snorkeling atau hiking, tapi karena ngehindarin monyet! Zzz. Monyet di sini nakal, temen gue yang lagi minum jeruk diambil sama monyet, terus dibuang airnya. Hahahhaa.

P1090738

Kok banyak sampahnya?

P1090743

Selepas dari Baluran, kami kembali ke kota untuk Sholat Jum’at terlebih dahulu. Tapi anehnya, jam setengah 12 siang soljum-nya udah bubar. Lah? Kok aneh? Masa ngikutin waktu Indonesia Tengah? Hmmm. Akhirnya pada sholat dulu di pom bensin. Setelah itu kita ganti baju karena mau snorkeling ke Menjangan.

PULAU MENJANGAN

Pulau Menjangan terletak di Bali Barat dan merupakan salah satu spot snorkeling terbaik di Bali. Dipikir-pikir ini trip ambisius juga ya, bisa-bisanya mampir di Bali! Hahahha. Untuk ke Menjangan, kita naik perahu dari Pantai Watudodol, Banyuwangi. Saat itu jam 2 siang dan ombak terlihat begitu kencang, sampai-sampai perahu yang mengangkut kami tidak bisa menepi ke pantai. Setelah 1 jam menunggu, perahunya berhasil menepi tapi ga menepi-nepi amat. Kita masih harus bersusah payah ngelewatin air untuk naik ke kapal tersebut.

Sepanjang jalan, ombaknya pun kencang luar biasa. Gue sampai berpikir lebih baik ga usah dipaksain daripada kenapa-kenapa. Sepertinya memang pilihan yang salah ke Menjangan di sore hari. Harusnya pagi. Tadinya di jadwal memang mau pagi, tapi karena mengejar SolJum, jadilah dituker sama Baluran jadwalnya. Baluran jadi pagi dan Menjangan jadi sore. Eh ternyata SolJum-nya juga ga kekejar. Wek wew..

Di jalan kita sempat bertemu dengan sebuah Pura di Pulau. Sangat unik menurut kami. Ga berapa lama kemudian, setelah sejam, kamipun sampai di spot snorkeling pertama! Karangnya banyak banget plus ada ikan warna-warni di atasnya pokoknya kece deh! Spot snorkeling kedua pun ga kalah kece. Sayang, di spot kedua ini banyak bulu babi sehingga musti hati-hati pas lagi snorkeling.

Pura di Pulau Menjangan

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Kami kembali dari snorkeling saat hari sudah mulai sore. Saat sampai di dekat pantai pun hari sudah gelap. Sangking ombaknya kenceng banget, kejadian lagi seperti kita mau berangkat, yaitu nunggu di laut sampai ombaknya mereda. Dan perahu yang mau menepi juga musti ngantri satu per satu, ga boleh bersamaan. Ada kali nunggu di kapal sambil muter-muter selama setengah jam di kegelapan malam. Di sinilah kesialan mulai terjadi, gue yang basah kuyup habis snorkeling, terombang-ambing di perahu kemudian mabuk. Rasanya parah bgt, mabuk sambil berasa mulai masuk angin. Tak lama setelah temen gue muntah, gue pun akhirnya muntah juga! Huhuhuhu. Setelah itu kita pun bisa turun, bukan di tepi pantai, tapi masih di laut. Air kira-kira seleher kita. Gue dengan life jacketnya disuruh berpegangan pada tali sampai ke pantai. Di setiap setengah meter ada bapak-bapak yang bersiap mengangkat kita untuk diestafet dan diberikan ke depannya. Jadi rasanya itu kaya dilempar-lempar di lautan. Gila dah! Barang-barangpun disuruh ditinggal di kapal karena sangat sulit membawa barang bersama kita. Setelah sampai di daratan dan kedinginan kami pun mencari tempat mandi. Tak sabar menunggu kamar mandi yang sudah diantrikan oleh banyak orang, kami pun dibawa untuk mandi di rumah penduduk. Dan, ke rumah penduduknya itu lewat jalan raya. Jadilah gue dengan celana renang pink super pendek, berjalan di jalan raya! Rrrr.. Setelah sampai di rumah penduduk, kami pun mandi, ber6! Hahahhahaha. Rekor mandi bareng terbanyak dalam sejarah hidup gue. Mana semuanya baru kenal hari itu. Hahahhaa. Epic dah!

Usai mandi, kami pun menunggu yang lain dan bersiap untuk melakukan perjalanan ke Kawah Ijen..

Simak postingan selanjutnya di kawah ijen, di sini.

Advertisements

Bertemu Nemo di Pahawang

Doing trip with totally strangers: checked.

Di kamis malam yang cerah tanggal 30 April 2015, gue memberanikan diri untuk ikutan trip sendirian ke pahawang. Lagi2 gue ikut Rani Journey hahahaa (Rp 450.000, meeting point Pelabuhan Merak). Setelah ditolak sm beberapa orang buat jalan ke pahawang, akhirnya gue memutuskan untuk pergi sendiri. Alasannya simpel: kalo nunggu ada temen dulu bisa2 gue ga pergi2. Toh di sana juga pasti bakal dapet temen. Mungkin ini bisa jadi latihan buat bener2 doing solo trip nantinya hahahaha.

Perjalanan gue dimulai pukul setengah 6 sore. Gue menunggu busway ke arah slipi jaya untuk naik bis merak dari situ. Busway ini lamanya ampun2an. Gw nunggu selama sejam baru dapet. Begitu sampe slipi jaya, gue ke toilet dulu. Kemudian gue keluar lagi nyari bisnya. Eh itu bis lewat di depan mata gue. Ga keburu ngejarnya. Mana kosong lagi. Yasudahlah, karena dr yang gue baca dia ada stgh jam sekali, gue memutuskan untuk makan dulu. Habis makan gue duduk manis lagi di halte, nunggu bis. Ga brp lama bisnya muncul. Horee! Langsung lah gue masuk dan thanks god, dapet duduk! Itu adalah seat terakhir di bis itu. Ga kebayang kalo musti berdiri selama 3.5 jam ke merak. Adapun ongkos bis Merak adalah 30.000. Gue duduk paling belakang dan sempit2an diantara 2 bapak2. Ternyata bis ini ada wcnya. Cenggih! Cucok buat gue yang hobinya beser. Gue pun sempat tertidur di bis. Bangun2, eh pundak gue udah disandarin bapak2 di sebelah kanan yang terlelap. Pengen ngebangunin tapi ga enak. Yaa untungnya ga brp lama dia sadar dan bangun sendiri. Hahahhaha. *coba kalo cowo ganteng yak?*

Begitu sampe di serang, mulai banyak yang turun dan orang2 yang tadinya berdiri udah bisa pada duduk. Jam stgh 11 pun gue udah sampe pelabuhan merak. Ternyata lebih cepat dari yang dibayangkan, kurang dari 3 jam! Sampe di merak gue menjalani ritual ke wc dulu plus beli roti biar ga kelaparan. Gue nunggu tour leader yang namanya koheng di sana. Harusnya kt ketemu jam stgh 12, tapi dia baru dtg jam stgh 1 lewat. Katanya sih mobilnya mogok. Habis ketemu koheng, gue mulai kenalan sama peserta2 lainnya. Banyak bgt yg surprise gue pergi sendiri hahahaa.

Setelah menunggu lagi, kita pun naik kapal ke merak. Gue dan bbrp org lain masuk ke ruangan vip. Mayan lah di situ duduknya enak, bisa nonton tipi plus ada ac ala kadarnya. Kita musti nambah 8 ribu buat duduk di situ. Jam menunjukkan pukul stgh 3 dini hari. Tapi kok kapal belum gerak juga. Gue sm tmn2 baru berasa ini kapal ga gerak2, tapi begitu nanya ke awak kapalnya katanya ini kapal udah jalan dari jam 2 kurang 10. Hahahah. Ternyata emang ga berasa kalo udah jalan. Bagus deh! Perjalanan selama 2 jam lebih itu gue habiskan dengan tidur sambil sesekali nonton film yang diputar.

Sekitar jam 4 kita sampai di bakauheni. Masih membutuhkan dua jam lagi perjalanan darat untuk sampai di dermaga ketapang, tempat kita naik perahu ke pahawang. Kalo dibandingkan dengan perjalanan ke kiluan, perjalanan ke ketapang ini jauuuuuh lebih singkat. Ke kiluan butuh berjam2 dengan kondisi jalan yang super jelek dan ngebuat kita loncat2 di mobil. Sesampainya di ketapang kita ganti baju dan cuci2. Siap2 buat snorkeling. Di ketapang ini kita digabrukin di 1 rumah penduduk bareng trip2 lain juga buat makan dan ganti baju. Crowded bgt dah itu tempat.

Dari dermaga ketapang kita mulai snorkeling keliling Pahawang. Kita sempet ke homestay dulu buat nurunin ransel, karena perahunya emang crowded banget dan takut kelebihan muatan. Perhentian pertama adalah snorkeling di Pulau Balak. Snorkeling di sini lumayan, banyak ikan biru kecil-kecil plus karang warna putih.

Setelah itu kami makan siang di Tanjung Putus. Pantainya kece bangett! Warna laut gradasi biru muda-biru layaknya pantai-pantai cantik di Endonesa tercinta. Yang paling epik adalah di sini kita makan siang nasi padang! Bukannya makan seafood gtu ya. Hahaha. Jadilah kita makan nasi padang sambil ngeliatin laut.

Makan nasi padang sambil ngeliatin view ini!

Makan nasi padang sambil ngeliatin view ini!

Tanjung Putus

Habis itu kita snorkeling lagi! Kali ini nama tempatnya Jelarangan. Jeng jeng jeng! Begitu masuk laut beuhh pemandangannya bagus banget. Jadi banyak coral yang dibudidayain gitu di situ, plus ada tulisan “Pulau Pahawang Wisataku”. Sebenernya tulisan itu ngeganggu sih kalo menurut gue. Jadi bikin tercemar wkwk. Trus di situ kita juga liat berbagai macam makhluk laut dari soft coral warna-warni, nemo sampai anemon ungu! Yang paling bikin gue kaget adalah si anemon ini. Kereeeeen banget. Dan dia ada di pahawang! *oke gue akui gue agak underestimate pahawang hahahaha*. Sayang gue ga bisa eksplor lautnya lebih banyak, karena ombaknya kenceng bgt. Kalo pake life jacket rasanya kaya mau muntah kebawa arus, sementara kalo life jacketnya dipegang doang di depan, gue jadi ga jalan karena ngelawan arus. Sementara gue ga pake fin. Dan gue ga berani kalo lepas life jacket full. Hahahhaa. Baru kali ini gue pikir kalo fin ada gunanya, biasanya kan gue pake booties aja, karena faktor kenyamanan.

Underwater life (Photo by Paskal)

Here it comes, nemo! (Photo by Paskal)

4

Anemon aaaaa! I love this! (Photo by: Paskal)

Habis snorkeling kita main2 lagi ke pantai, kali ini ke Kelagian kecil. Pantai yang ini juga cukup bagus, walaupun masih kalah sama Tanjung Putus. Ga jauh dari situ, kita snorkeling lagi. Bawah lautnya ga sebagus di Jelarangan, tapi oke lah! Banyak ikan warna warni.

Pulau kelagian kecil. Yuhuu!

Kelagian Kecil (Photo by Paskal)

Habis itu kita balik ke homestay buat mandi dan makan malam. Pas mau tidur, ternyata tidurnya banyak yang ngemper gitu di depan kamar. Perasaan gue ikut trip Rani bbrp kali pasti dapat kamar deh, 1 kamar ber5 gitu. Tapi yang ini cuma beralaskan tikar dan dijejerin satu2, yasudahlah nikmati saja. Selain itu, kamar mandinya cuma 1. Kebayang deh, belasan orang ngantri mandi begitu lama. Dan harus nimba dulu. Hahahha.

Keesokan harinya, hari Sabtu, habis makan pagi kita main ke pulau Pahawang Kecil. Pulaunya bagus. Di pulau itu juga ada resort orang Prancis. Wow, orang bule emang tau aja ya tempat bagus di Indonesia. Langsung dibuat resort sama dia. Tapi uniknya, resort ini ga disewain tapi dijadiin resort pribadi sama dia. Hmm..

Sama temen-temen baru di Pulau Pahawang Kecil

Ga jauh dari situ, kita snorkeling lagi. Kita juga sempat snorkeling terakhir kalinya di Cukubedil. Pemandangan bawah lautnya cukup oke lah. Gila juga ya dipikir2 udah snorkeling 5 kali dari hari pertama. Hahaha. Ini memang trip snorkeling! Sayang yang duduk di kapal aja tapi ga nikmatin bawah lautnya..

Setelah makan siang (yang tidak include di trip), kita balik ke Ketapang. Setelah itu, kita mampir dulu makan di Bakso Sony dan mampir ke pusat oleh-oleh. Tadinya mau ketemu Devi si gadis Lampung, tapi waktu tidak memungkinkan. Hiks. Sekitar pukul 6 kita naik kapal ke Merak. Kali ini kita duduk di ruangan eksekutif dengan nambah 11.000. Ruangannya di bawah, jadi agak berasa goncangannya. Sebenernya ruangan ini bagus, banyak sofa-sofa gtu, plus kita dapet hiburan live music (Bahkan ada momen dangdutan bareng! Hahahaha), tapi sayang ac-nya ga gitu berasa, dan dari tempat gue duduk rasanya puanaaaaas banget! Huhuhu. Setelah 2.5 jam perjalanan, sampailah juga kita di pulau jawa lagi, di Pelabuhan Merak. Dari situ gue nebeng mobil temen yang ke Kelapa Gading. Senangnya nemu temen yang kebetulan ke sana. Hihi. Dan gue pun sampe rumah pukul 12 malam…

Oke dah, sampai jumpa 2 minggu lagi di petualangan yang sudah saya tunggu-tunggu! Hahahhaa.

Ternyata ikut trip sendirian itu asik, bisa ketemu teman-teman baru, tapi juga bebas ngelakuin apa yang kita mau.

Notes: For more beautiful pictures, see my travelmate blog, Paskal in here. 

Surga Itu Bernama Raja Ampat

Siapa yang tak kenal Raja Ampat? Hampir semua orang tahu kalau tempat itu adalah tempat terindah di Indonesia. Tujuan para traveler ataupun backpacker. Tak pernah terbayang rasanya gue menjejakkan kaki di sini. Pada akhir tahun 2012, nyokap gue mengajak tahun baruan di tempat yang anti mainstream, yaitu Raja Ampat. Hahhaa. Tempat ini memang bukan family destination, malah lebih ke backpacker destination, karena medannya yang cukup berat. Tapi emang keluarga gue keluarga metal, seperti kata mantan bos gue, “Gila lo ya ke Raja Ampat sama keluarga lo. Kalo jaman dulu tuh ya suka ada jargon ‘Pergi aja sana lu sama keluarga lu yang metal-metal!’ itu cocok banget buat lo dan keluarga lo.”

Perjalanan menempuh sebuah surga memang sangat berat *apalagi surga yang beneran yak?*. Gue transit 3 kali naik pesawat sebelum akhirnya sampai di Sorong, Papua. Gue pergi naik Sriwijaya Air, tiket termurah untuk ke sana, waktu itu harganya 4 juta PP. Gue sempet transit di Jogja, Surabaya dan Makassar. Gila dah, kayanya itu transit terbanyak sepanjang hidup gue. Setelah mengalami perjalanan yang sangat melelahkan, sampai juga kita ke Sorong. Bandara Dominus Eduard Osok (DEO) ini super kecil. Bener-bener ga keliatan kaya bandara. Denger-denger sih waktu itu lagi dibangun bandara yang lebih besar, ga tau juga sekarang udah jadi apa belum.

Kota Sorong ini cukup kecil. Gue cukup familiar sama nama kota ini karena kakek gue pernah tinggal dan kerja bertahun-tahun di sini. Sorong ini terkenal dengan tambangnya dan ada Pertamina di sini. Kakek dan nyokap kerja di sana jadi suka bolak balik bahkan tinggal di sini. Sayang ya, dulu Raja Ampat belum terkenal. Coba kalo udah, kakek gue pasti seneng hihi. Pas ke Sorong ini kita juga sempet ke rumah dinas kakek gue. Hahhaa. Dari luar sih besar. Kita juga melihat pemandangan kota Sorong dari atas bukit.

kota sorong dari atas

kota sorong dari atas

Setelah bermalam di kota Sorong, kami pergi ke Pelabuhan Waisai untuk menuju Raja Ampat. Setelah sampai, kami pun menuju ke penginapan yang sudah dipesan nyokap. Waktu itu, kita dapat penginapan yang cukup sederhana dengan view laut. Bahkan penginapannya pun dibangun di atas laut. Kalo malem-malem lagi tidur gitu berasa diombang-ambing. Penginapan ini harganya cukup terjangkau karena fasilitasnya terbatas mungkin juga karena yang punya itu temennya nyokap. Harganya 500 ribu semalam untuk 1 cottage sederhana (2 kamar) sudah termasuk makan 3x sehari. Kita juga bisa nyewa perahu langsung di sini. –> CP Mbak Kiki (Pin BB 512f0c17). Kita melihat beberapa resort mewah sepanjang perjalanan, tapi sayang kita ga nginep di situ. Hahahha.

Sunset di malam pertama di Raja Ampat

Sunset di malam pertama di Raja Ampat

Berikut tempat wisata yang kita kunjungi selama di sana. Karena kita ga ikut tur atau trip, jadilah kita kemana-kemana berempat. Sepi banget. Seneng banget rasanya kalo lagi papasan sama orang di laut, dadah-dadah gitu kita. Hahaha.

Teluk Kabui

Sepanjang jalan kita melihat gundukan pulau karst yang berbentuk setengah lingkaran. Begitu juga ketika sampai di sana. Teluk kabui ini disebutnya versi kecil wayag. Mirip kaya wayag tapi warnanya lebih ke hijau, ga kaya wayag yang punya warna biru gradasinya cantik.

Gundukan pulau karst

Memasuki Teluk Kabui

11

Teluk Kabui

Pulau Urai

Gue ga bisa cerita banyak soal pulau ini, udah lupa soalnya hahahha. Liat gambarnya aja yak!

15

Perjalanan menuju Pulau Urai

Pulau Urai

17

Wayag

Tadinya ikon yang ada di foto-foto ini sempat ga masuk itinerary kita. Cuman karena gue dan adek gue memaksa untuk ke sana jadilah kita pergi. Ya iyalah, udah jauh-jauh ke Raja Ampat masa ga ke Wayag? Gila aja. Dan selama di sini, belum ada tempat yang bisa dibilang wow banget, jadi kita harus pergi ke sini, pokoknya harus. Buat nyewa perahu dari penginapan ke sini, lumayan mahal satu perahu 7 juta. Padahal itu cuma perahu doang, gimana kapal. Hahahah.

Memasuki wilayah wayag, warna air mulai berubah menjadi gradasi biru muda-biru tua, luar biasa deh warnanya. Banyak banget batu karst yang disekelilingnya ada warna laut biru muda. Begitu agak jauh dari karst, barulah biru tua. Pokoknya amazing deh, gue sampai bilang gini waktu liat yang namanya wayag, “Tuhan, ini yang namanya surga ya?”

Pantai Wayag

Pantai Wayag

Ah-mazing!

Gue dan cito memutuskan untuk trekking ke atas, sementara mama dan papa udah ga kuat dan memutuskan menunggu di bawah. Trekkingnya luar biasa berat, apalagi kita cuma pake sandal jepit dan ga ada persiapan apa-apa. Kita trekking 30 menit, di atas batu karst dengan kemiringan 60 derajat. Sangatlah berat buat gue yang jarang olahraga. Akhirnya gue sempet dibantu sama guidenya, bahkan badan gue didorong dari bawah. Hahhaa. Luar biasa dah!

Setelah 30 menit, akhirnya sampai juga kita di atas. Pemandangan paling menakjubkan selama hidup gue. Mungkin emang benar kalo ada yang bilang “Surga itu Bernama Raja Ampat.”

Ini dia tampak atasnya, subhanallah!

Ini dia tampak atasnya, subhanallah!

Sama gue! Hahaha.

Tips dari gue, kalau pulang dari Wayag jangan kemaleman, karena ga ada penerangan sama sekali. Kepulangan gue ke penginapan disambut hujan lebat, mana gelap dan perahu seadanya. Kita cuma tutupan pake jaket doang. Kiri kanan banyak batu karst. Guide gue menyorotkan senternya ke segala arah agar tidak bertabrakan dengan karst-karst tersebut. Luar biasa deh malam itu!

Liburan di Raja Ampat yang cuma 3 hari itu memang sangat singkat, tapi menimbulkan kesan mendalam. Gue agak nyesel kenapa ga lebih lama lagi di sana. Bisa lebih banyak yang dieksplor. Dan gue juga menyayangkan kenapa gue ga bisa diving. Karena katanya di sana itu surganya diving!

Selain di daerah Wayag, dari yang gue baca tujuan turis itu juga ada di Misool. Moga-moga kapan-kapan bisa ke sana! Sekarang sudah banyak trip backpacker yang pergi ke raja ampat. Semakin mudah ke sana. Tinggal nabungnya aja ya.

Total pengeluaran gue selama 5 hari 4 malam dari berangkat sampai pulang kira-kira 10 juta per orang (sudah termasuk tiket). Itu dengan gaya backpacker ya! Pokoknya kalo ada uang, kudu wajib harus ke sana ya, guys!

Trip to Ujung Kulon

Satu bulan satu trip. Itu yang pengen gue lakuin di tahun 2015 ini. Hahaha. Setelah ga kemana-mana (yang berbau alam maksudnya) di bulan Februari, gue pergi ke Ujung Kulon di bulan Maret ini. Gue kali ini pergi bersama temen kampus gue, Dea. Dan lagi lagi ikut Rani Journey! Hahahha. Harga tripnya 675ribu (belum termasuk alat snorkel 50ribu).

Sebelum gue ceritain perjalanan gue, gue mau ceritain kejadian nyeremin yang dialami Dea sebelum berangkat ke Ujung Kulon. Jadi dia pergi dari Depok naik kereta ke Stasiun Sudirman. Dia pun naik 640 dari Stasiun Sudirman menuju Plaza Semanggi, tempat meeting point kita. Di jalan tiba-tiba ada 2 orang laki-laki naik dan memaksa pengemudi membelokkan arah ke tempat gelap. Setelah sudah sepi dan entah ada di mana, metro mini pun dipaksa berhenti dan terlihat 5 preman lain muncul. Totalnya ada 7 orang. Supir dan kenek dipaksa keluar dan pintu pun ditutup dari luar. Beberapa preman terlihat membawa pistol dan samurai kecil. Mereka pun berteriak, “Gue ga mau ngambil duit lo semua, gue cuma ada urusan sama ni supir. Kalian jangan berani-berani telepon, atau gue sayat-sayat muka lo pada”. Kebayang gimana mencekamnya itu kejadian. Sementara gue nelpon-nelpon Dea mulu karena udah telat dan itu handphonenya getar-getar mulu. Di luar si supir dan kenek pun digebukin sampai berdarah-darah. Di dalam total ada 7 penumpang, 4 wanita (termasuk 1 ibu hamil) dan 3 pria. 3 pria ini berinisiatif menahan pintu untuk membiarkan cewek-cewek keluar. Akhirnya para wanita pun berhasil lari kabur lalu kemudian naik taksi. Para preman sempat mengejar tapi untungnya ga kekejar dan mereka ga nembak. Sementara itu, Dea ga tahu nasip 3 pria yang menahan pintu. Semoga mereka selamat. Dea sampai di Semanggi dengan muka pucat. Dia menceritakan semua kejadiannya ke gue dan kita pun melapor polisi (no telp polisi: 112, catet!). Semoga pak polisi bisa menemukan para preman tersebut dan para penumpang yang lain selamat. We pray for them!

Setelah Dea datang, pukul stgh 10 malam kami berangkat ke Ujung Kulon. Kami sempat diliatin para peserta yang lain karena telat. Hahaha. Maap ya guys, ini emergency! Jadi mikir kadang kalo sebel liat orang lain telat, mungkin aja ada alasan di balik telatnya itu. Kami naik bus AC berukuran sedang dengan total peserta 25 orang. Kami duduk di barisan paling belakang karena kami agak big size. Mayan lah, 5 kursi di belakang bisa didudukin sama 4 orang. Hahaha. Perjalanan ini sangatlah dingin. Selepas dari Anyer, jalanan sangatlah buruk. Sepanjang jalan berkelok-kelok dan juga sempat beberapa kali kami loncat dari tempat duduk. Berasa naik wahana di Dufan.

Setelah perjalanan kurang lebih 6 jam, pukul 4 pagi kami tiba di tujuan. Sumur! Di sini kita istirahat sejenak, mandi dan sarapan sebelum berangkat ke Pulau Peucang pada pukul 7 pagi.

Pukul 7 kami sedikit menyeberangi laut untuk naik kapal ke tujuan. Perjalanan dengan kapal memakan waktu 3 jam. Perhentian pertama kami adalah Padang Penggembalaan Banteng Cidaon. Kami berharap melihat banteng bahkan badak bercula satu di sana! Tapi sayang, kami cuma melihat 1 banteng dan tidak melihat yang lain. Di Cidaon ini ada 1 hal yang pasti ditemukan: tai banteng! Jadi kalo kalian ga bisa foto sama bantengnya, foto lah sama tainya aja *LAH?* Hahhahaa. Oya, hati-hati juga tanahnya suka njeblos. Jadi musti pinter2 cari pijakan yang kokoh.

Hello!

Hello!

Rame-rame di Cidaon

Rame-rame di Cidaon (Photo by Fuad)

Sehabis itu kami langsung menuju Pulau Peucang. Mendekati pulau peucang, terlihat air yang berwarna hijau. Gue agak bingung kenapa airnya dari jauh hijau, padahal kalo didekati warnanya adalah biru muda. Seperti pantai-pantai cantik di Indonesia tercinta. Tapi ekspektasi gue terhadap Pulau Peucang lebih tinggi dari itu, sebenernya. Hahaha.

Pulau Peucang

Pulau Peucang

Kami menyusuri garis pantai Pulau Peucang untuk menuju ke sebuah spot foto bagus yaitu sejenis laguna. Untung aja ke sini, karena tempatnya oke banget! Tadinya sempet mau berhenti di tengah jalan karena mikir pasti pantainya sama semua jenisnya.

Laguna di Pulau Peucang

Laguna di Pulau Peucang

Waktu menunjukkan jam makan siang, kami pun makan di kapal. Tadinya kami pengen makan di pulau, tapi takut makanannya digondol monyet. Bener aja, waktu kami ngupi-ngupi di pulau sehabis makan, gula kami digondol monyet. Seplastik gula dibawa kabur ke atas pohon lalu dijatuhin sama dia. Beuh, sia-sia! Di tempat ini banyak hewan berkeliaran, ada juga babi dan rusa selain monyet.

Tadinya kita mau trekking ke karang copong, tapi takut kehabisan waktu, acara trekking pun dibatalkan. Kami lanjut untuk snorkeling di area deket situ. Menurut gue sih tempat snorkelingnya mayan, bisa ketemu nemo. Tapi ga bagus-bagus amat juga. Mungkin karena gue sering ke tempat yang lebih bagus. *ciegitu* *sombongnya* *self-toyor*.

Di tempat snorkeling ini guide kami yang bernama Fuad, seru sendiri gtu snorkelingnya, semua udah naik kapal, kecuali 3 orang. Dia dan 3 orang itu masih asik snorkeling dan membuat kita bengong nungguin dia. *Piss mas!*

Habis dari spot snorkeling ini, kami langsung ke tempat kami menginap di Pulau Handeleum. Sebelumnya, kami melewati Karang Copong. Intinya sih karang gede, tapi agak bolong gtu. Mirip sama Karang Bolong di Anyer tapi ini lebih gede dan banyak.

Karang Copong

Karang Copong

Pukul 5 sore kami sampai di Handeleum. Kami menempati penginapan 2 lantai yang sepertinya bekas kantor di pulau itu. Tadinya kami semua mau disatuin di 1 penginapan, tapi karena 1 dan lain hal, akhirnya yang di gedung itu cuma cewe-cewe plus ada rombongan bapak-bapak dari Mancing Mania. Gerombolan cowo-cowo tidur di penginapan sebelah.

Setelah mandi, kamipun makan malam lalu bercerita-cerita sama teman-teman baru.

Keesokan harinya kami bangun cukup pagi lalu kemudian duduk-duduk di saung kecil yang menghadap arah pantai. Yaampun pemandangannya luar biasa. Ini emang lukisan Tuhan yang paling indah! Ga sia-sia bangun pagi-pagi. Kami pun foto-foto, lalu kemudian sarapan pagi.

image

Pagi di Handeleum (Photo by Dina)

image

Bersama lukisan Tuhan

Sehabis sarapan kami meninggalkan Pulau Handeleum untuk kemudian berkano di Muara Cigenter. Kami berkano dengan 1 kano untuk 5 orang. Berkano di sungai tengah hutan, rasanya kaya lagi di amazon. Keren deh. Ditemani dengan suara-suara alam di sekitar kita. Sayangnya, kano yang kita naikin agak bocor. Jadi musti dikeluarin terus airnya dari perahu. Gue ga tau juga ya, emang semua kano begitu apa kano kita doang. Kami dibekali oleh 2 dayung dan kami mendayung bergantian. Plus abang-abangnya juga ngedayung. Ini serunya ke ujung kulon, pemandangannya bukan cuma pantai tapi bisa berkano juga!

Pulang berkano kami snorkeling lagi di satu tempat yang kalo ga salah namanya Pulau Caring *cmiiw*. Tempatnya kurang lebih sama kaya spot sebelumnya. Di sini ada nemo juga, tapi yang lucu adalah habitatnya warna item bukan bening. Hahaha.

Puas berkano, kamipun makan siang lalu kembali ke Sumur. Dari Sumur kami berangkat ke Jakarta dan sampai pukul setengah 11 malam. See you on next trip!

Museum Nasional Indonesia

Di suatu hari sabtu tanggal 7 Maret, gue iseng jalan-jalan sendirian ke Museum Nasional. Sebenernya gue udah pengen ke sana dari dulu, tapi susah banget ngajakin temen, pada ga bisa atau ga mau. Pas kebetulan kemarin ada kesempatan, gue cus lah ke museum nasional.

Sekitar jam 1 siang setelah gue ketemuan sama temen gue di sarinah, gue pergi ke museum ini. Tadinya gue mau pulang ke gading, tapi berhubung masih siang ntar diketawain sama pager, jadilah gue melancong ke sini. Ada temen gue yang pernah bilang kalo museum ini adalah museum paling bagus yang pernah dia liat. Karena gue penasaran, gue pengen liat ke sini. Lagian, museum nasional adalah salah satu museum terkenal di jakarta.

Turun di halte monas, gue masuk ke sini dengan bayar 5000 rupiah. Pertama gue masuk ke gedung lama, di sana dijelaskan mengenai etnisitas, dari sumatra sampe papua. Dijelasin baju adat, alat-alat penunjang hidup, alat musik dan lain sebagainya. Di gedung ini juga ada ruang keramik, rumah adat, ruang arca dan ruang tekstil.

Setelah muter-muter di gedung lama, gue ke gedung baru. Gedung baru ini bener2 modern. Asli bagus bgt! Bener kata tmn gue yang bilang ini museum paling bgs di jakarta (yang pernah gue liat). Gedung ini terdiri dari 4 lantai dan ada eskalator dan liftnya! Waw. keren deh. Di bangunan ini dijelasin tentang masa prasejarah, komunikasi, organisasi sosial, emas dan keramik.  Bahkan ada prasasti mulawarman atau apa gtu, yang suka ada di buku sejarah sekolah jaman dulu. Ternyata emang banyak benda-benda yang kita kenal dari buku sejarah yang disimpan di museum ini.

Sepulang dari sini gue iseng naik jakarta city tour bus a.k.a mpok siti (beneran ini nicknamenya). Gue sangat menyayangkan sekarang udah ga ada lagi tur guide di bis ini. Pas terakhir gue naik bis itu, tahun lalu, masih ada guidenya. Kan sayang ya, jadi sama aja kaya busway biasa 😦

Doraemon Gadget Expo

Hari minggu tanggal 22 Februari 2015 gue ke Doraemon Gadget Expo bersama 3 orang teman. Udah mau ke sini dari lama tapi ga jadi-jadi, akhirnya ada juga yang bisa digeret ke Ancol. Gue pergi sama Melta dan Yani, dan satu orang temen mereka yang bernama Yunita. Kita naik busway ke arah kota, kemudian naik angkot M15 menuju ke arah Ancol. Sampai depan gerbang Ancol, kita membayar uang masuk Ancol 25 ribu kemudian naik shuttle bis gratis menuju Ancol Beach City Mall. Kita harus menaiki shuttle yang bernama bus wara wiri ini dua kali. Naik yang ke arah timur dulu kemudian berhenti di gondola, baru naik ke arah barat untuk berhenti di Ancol Beach City. Mayan enak juga. Seinget gue beberapa tahun yang lalu belum ada ini bis.

Gue baca di facebooknya kalo buat masuk ke Doraemon Gadget Expo ini bisa buy 1 get 1 dengan flazz atau kartu kredit BCA. Curangnya, di loketnya ga diberitahukan sama sekali tentang hal itu. Gue smpt deg-degan juga takut tiba-tiba ga buy 1 get 1. Taunya bisa. Harga aslinya sendiri 99000 sudah termasuk PPN. Kalo buy 1 get 1 seorang jadi bayar 50ribu. Mayan lah.

Sebelum ke sini, gue udah baca di beberapa blog kalo pamerannya biasa aja. Dibanding yang di hongkong beda jauh. Bener sih, setelah masuk emang biasa aja, tapi mayan lah buat bernostalgia masa kecil bareng sama doraemon dan temannya yang lucu-lucu itu. Worth it lah kalo dengan 50ribu, kalo dengan harga 100ribu agak ga worth it. Nah, ini dia foto-fotonya. Enjoy! (Lucu ya bisa masang kolase foto kaya gini, beda sama waktu di blogspot dulu :P)

Pulau Harapan (Palsu)

Weekend kemarin, tanggal 31 Jan-1 Feb gue main ke Pulau Harapan, di Kepulauan Seribu. Gue ikut trip temen gue yang bernama Rani, nama tripnya Rani Journey. Kita bisa muterin Pulau Harapan dan sekitarnya dengan membayar 350 ribu. Kali ini gue pergi bareng Melta, partner trip ke Jepang gue. Biasanya agak susah ngajak dia trip ala backpacker, tapi entah kenapa sejak pulang dari Jepang dia jadi mau-an. Hahahha.

Gue dan Melta naik busway ke arah Pluit jam 5 pagi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik angkot B01 merah dari Pluit menuju Muara Angke. Meeting point trip ini. Kita sampai di Gerbang Muara Angke pukul 6.15. Kita musti agak jalan ke dalam dan becek-becekan untuk masuk ke pelabuhannya. Kamipun bertemu dengan tour leader kali ini, namanya Ranu. Gue agak heran ya, 3 kali ikut Trip Rani Journey tour leadernya namanya mirip-mirip semua. Dari Rani, Randy terus Ranu. Mungkin emang seleksinya berdasarkan nama. Hahahhaa.

Kami kemudian naik kapal, yang sudah penuh dengan orang. Gokil deh tuh kapal rame abis. Gue sama Melta duduk di sisi sebelah kanan kapal dan di luar. Harusnya kapal hari itu ada 2 yang ke Pulau Harapan, tapi 1 kapal ga jalan, jadi dipenuh-penuhin deh itu 1 kapal.

Kapal tapi rame amat. Udah kaya di angkot. (Photo by Rizal)

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8, dan kapal belum juga bergerak. Padahal di jadwal kapalnya jalan jam 7. Ternyata, ada polisi yang patroli di situ dan dia tidak mengijinkan kapal kita berangkat sampai muatannya dikurangi. Alhamdullilah! Soalnya agak ngeri juga ya bawa kapal ratusan orang berdesak-desakan gtu. Akhirnya sebagian orang yang duduk di atas atap, dipindahin ke kapal satunya lagi.

Perjalanan menuju Pulau Harapan memakan waktu 3 jam. Sepanjang jalan, ombaknya kenceng banget dan kapalnya goyang-goyang agak ekstrem. Gue sempet agak takut, begitu pula cewek sebelah gue, yang kayanya udah ketakutan banget. Tuh cewe kayanya emang ga siap backpackeran sih. Dia pake kosmetik lengkap beserta jaket bulu. Hmm..

Setelah harap-harap cemas menuju Pulau Harapan, akhirnya kapal sampai juga jam 11 siang. Pemandangan dari pelabuhannya cukup bagus dan terlihat gradasi warna biru muda dan biru tua. Kami pun menuju homestay dan makan siang di sana. Saya satu kamar berlima cewe-cewe semua. Homestaynya namanya Baronang 3 dan cukup oke, ada ACnya.

Pasukan trip Harapan kali ini.

Setelah makan siang, kami mulai perjalanan Island Hopping. Saya sudah siap dengan masker, snorkel, sepatu boot snorkeling dan dry bag. Gue sempet agak diketawain gara-gara bawa peralatan lengkap banget. Hahahha.

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Putri. Di sini kita snorkeling. Bawah lautnya cukup oke. Banyak karang-karang dan juga ikan kecil lewat. Oke lah. Setelah itu kita ke Pulau Gosong Air. Pemandangan di sini bagus banget. Gue ga nyangka ada yang bagus macam gitu di Pulau Seribu. Kita bisa snorkeling di laut dangkal dan ada segerombolan ikan jalan-jalan di sana. Anak-anak langsung pada ngasi cracker buat dikasih makan ke ikan-ikan itu.

Ikan Sergeant Major yang langsung rame ngeliat cracker (Photo by Rizal)

Pulau Gosong Air. Airnya bening banget.

Puas main air dan foto-foto, kita ke Pulau Gosong Darat. Nah pulau ini asli mirip banget sama Pulau Gusung yang ada Di Derawan. Mungkin yang namanya Pulau Gusung emang modelnya begini semua kali ya. Bagus deh pokoknya! Uniknya, ada yang jualan gorengan di tengah pulau kecil itu. Itu pulau kecil banget, kaya cuma berapa meter. Kalo airnya pasang, kayanya itu pulau kelelep deh. Si Melta dan temen baru kita yang namanya Pipit langsung menyerbu itu tukang gorengan. Hahahhaa.

Penampakan Pulau Gosong Darat dari perahu

Ini separo pulaunya. Kecil tapi berkesan.

Ayo berkemah!

Sehabis itu, kita ke Pulau Perak. Pulau ini juga bagus, dengan gradasi warna biru yang keren. Gue suka denger cerita soal Pulau Perak ini dari temen gue si Ires. Dia sering berkemah di sana. Haha. Pengen rasanya kali-kali nyobain berkemah di pulau juga. Gue sama temen-temen baru muterin ini pulau sambil ledekin sih Pipit yang gayanya pecicilan dan ga berenti ngomong. Hahhaha. Akhirnya ada juga trip di mana bukan gue sasaran bully-nya, tapi orang lain! Hahahhaha.

Pulau Perak

Pukul 5 sore, kami kembali ke Pulau Harapan. Di dermaga, kami nyobain jajanan khas Pulau Harapan, Cilung Abon. Jajanan ini mirip sama cireng tapi ini digulung, namanya juga cilung! Hahhaa. Cilung yang enak yang di dermaga, harganya Rp 5000,-. Ada juga yang sama abang lewat harganya Rp 3000,- tapi enakan yang di dermaga. Buat Om Dodi yang udah nraktir kita-kita, thank you ya! Hahahhaa.

Setelah itu kami pun pulang ke penginapan untuk mandi dan makan malam. Rencananya, habis makan malam akan ada barbecue di dermaga. Tapi karena hujan lebat, acara barbecue-annya dicancel L

Malam itu kami tidur cepat sekitar jam 9. Kemudian kami bangun pukul 6 pagi di hari Minggu. Saat bangun, di luar masih hujan. Sepertinya perjalanan kami ke Pulau Bulat dan Genteng dicancel. Kami menunggu sampai jam 8 untuk mendapat kepastian, namun guide yang di kapal ga dateng2 ke tempat kita. Itu artinya, tidak ada perjalanan kali itu. Agak kecewa sih. Tapi memang itu resikonya pergi saat musim hujan.

Hari itu, kami hanya berjalan-jalan keliling pulau dan juga makan indomie di warung. Hahahha. Walaupun hujan tapi kita tetep bisa ketawa-ketawa ceria dengan teman-teman baru.

Pukul 11 kami menaiki kapal lagi untuk menuju Jakarta. Kapalnya juga sudah cukup penuh. Gue sampe duduk harus menekuk kaki. Banyak orang yang kesulitan mendapat tempat duduk, tapi nyebelinnya ada beberapa orang yang dengan seenaknya santai-santai tiduran. Rrrr.

Sampai Jakarta, kami makan seafood dulu di Muara Angke. Setelah itu kami pun pulang ke rumah masing-masing, masih ditemani hujan 🙂

See you next trip! (Photo by Dodi)