Situs Megalitikum Gunung Padang

Apa sih yang kebayang di benak kalian kalo mendengar kata situs megalitikum? Mungkin pelajaran sejarah di sekolah? Gw berkesempatan untuk mendatangi salah satu situs megalitikum tertua dan terbesar di Indonesia, Gunung Padang. Hari selasa tanggal 2 Juni gue ikut trip *lagi lagi* Rani Journey ke Gunung Padang di Cianjur. Wih kalo dibuat poin mungkin gue udah dapet ribuan poin kali ya kerjaannya ikut Rani Journey mulu. Hahaha. Harga one day trip ini adalah 185.000. Jam 7 kita kumpul di Plaza Semanggi untuk kemudian naik elf ke Cianjur. Gue pergi bareng temen kampus: Biyanto dan Erlyn serta temen les gue Nanda. Biyanto juga ngajak beberapa orang lagi, jadilah rame. Kita baru nyampe sana kira-kira jam setengah 1 siang karena kena macet di tol ciawi. Wew 5 jam di jalan! Sebelum ke Gunung Padang kita ke Stasiun dan Terowongan Lampegan untuk kemudian foto foto dan makan siang di sana. Terowongan ini konon kabarnya adalah terowongan tertua di Jawa Barat dan dibangun pada tahun 1879-1882. Sampai sekarang stasiun lampegan masih aktif dengan frekuensi kedatangan kereta 2 kali sehari dan menghubungkan Cianjur-Sukabumi.

lampegan1

Terowongan Lampegan. Gak berani masuk ke dalam situ, katanya serem dan ada kejadian aneh-aneh.

Niat banget nih ibu-ibu naik ke atas.

Stasiun Lampegan

Sehabis dari Lampegan kami langsung menuju Gunung Padang yang kira kira berjarak 6 km dari situ. Perjalanan menuju ke sana berkelak kelok, hanya bisa dilewati oleh 1 mobil besar dengan view sawah serta pepohonan yang menyegarkan mata. Kamipun sampai di Gunung Padang. Dari tempat parkir, kami harus berjalan menanjak kira-kira 10 menit menuju pintu masuk. Dari pintu masukpun terlihat anak tangga menjulang tinggi untuk melihat Gunung Padang. Kami harus menanjak kira-kira 30 menit dengan kemiringan 45-60 derajat dengan jalan berbentuk anak tangga yang tidak beraturan. Anak tangga ini mirip dengan punden berundak. Setelah beberapa kali berhenti akhirnya sampai juga kami di atas. Ternyata oh ternyata, untuk mencapai atas ada jalan lain yg lebih landai. Tangganya lebih tidak miring namun lebih banyak. Ternyata kami emang “dikerjai” disuruh naik tangga yang curam itu 😦

Ini tangganya masih belum nanjak banget, makin ke atas makin nanjak.

Ini tangganya masih belum nanjak banget, makin ke atas makin nanjak.

Sambil ngaso di atas kamipun diceritakan mengenai sejarah gunung padang oleh guide lokal. Jujur menurut saya guidenya terlalu berbelit-belit menjelaskannya. Hehe. Guepun mencoba mencari sejarahnya dari internet. Menurut wikipedia, gunung padang adalah situs megalitikum tertua di asia tenggara dengan luas 3 HA. Bahkan lebih luas dari candi borobudur. Gunung padang diketahui lebih tua daripada piramida di Mesir dengan umur ditaksir lebih dari 5000 tahun sebelum masehi. Situs ini adalah punden berundak dengan tujuan tempat pemujaan. Banyak sekali batu seperti menhir dan dolmen seperti yang suka ada di buku sejarah jaman sekolah dulu.

IMG_0092 IMG_0101

Di gunung padang ini, batu-batunya tidak tertata dengan baik, masih banyak berserakan, tidak seperti Macchu Picchu yang rapih (jaelah bandinginnya sama Macchu Picchu). Dalam bayangan gue sih lebih keren dari ini, tapi ini juga udah cukup bagus kok. Kamipun kemudian naik tangga lagi ke atas sekitar 5 menit untuk mencapai puncaknya. Dari sini, pemandangannya cukup bagus.

Gunung Padang dari atas

Gunung Padang dari atas

asiknya rame-rame!

asiknya rame-rame!

Setelah puas foto-foto, makan bakso, kemudian ngobrol-ngobrol, pukul 5 sore pun kami pulang. Kami kembali dengan menuruni tangga yang lebih landai. Walaupun anak tangganya banyak, tapi ini lebih landai dan teratur. Jaelah dari tadi aja naik begini, napa. Ga usah pake acara megap-megap kan? Hahhahha. Tapi gapapalah, mungkin emang lebih seru kalo curam.

tangga pas turun. landai banget kan?

tangga pas turun. landai banget kan?

Perjalanan pulang ke Jakarta sangatlah macet. Sampai-sampai di tengah kemacetan gue sempet menulis postingan ini. Hahaha. Kami mampir sebentar ke tempat oleh-oleh dan makan malam, dan kamipun sampai di Jakarta pukul setengah 12 malem.

Overall, gue seneng bisa ke Gunung Padang sama beberapa temen gue. Belakangan kan gue ngetrip cuma berdua, atau bahkan sendiri. Pengen rasanya jalan rame-rame sama orang yang lo kenal deket kaya kali ini 😀 😀

Advertisements

Gunung Bromo dan Air Terjun Madakaripura

Sepulangnya dari Kawah Ijen (baca di postingan sebelumnya), kami melanjutkan perjalanan ke Bromo. Kami sampai di penginapan bromo jam 7 malam. Setelah itu, kami makan malam dan beristirahat sampai kira-kira pukul 2. Ini pertama kalinya kami tidur di kasur dalam trip ini!

Pukul 2, gue pun bangun dan bersih2 sedikit. Kamipun bersiap-siap untuk kemudian naik jip ke Bromo. Satu jip berisi 8 orang. 2 orang di depan dan 6 orang di belakang. Untuk ke Bromo memang harus naik jip karena medannya cukup berat. Di jalan kita juga sempat kena macet karena ramenya jip yang ke sana. Akhirnya kami sampai juga di sana. Rencana kami untuk melihat sunrise di Penanjakan 1 gagal karena ramenya tempat tersebut. Kami akhirnya melihat sunrise dari Bukit Cinta. Keadaan malam itu sangat dingin, ditambah kami hanya diam dan menunggu sunrise muncul, tidak bergerak sama sekali. Gue sempet pengen pake masker kain kemarin biar mulut gue ga kedinginan, tapi karena bau belerang, gue pake syal aja buat nutupin mulut.

Akhirnya sunrise yang ditunggu-tunggu datang juga. Ini dia!

P1090857

It’s almost sunrise!

P1090859

Yeayy it’s sunrise!

Setelah mulai terang, kamipun langsung foto-foto di tempat itu. Pemandangannya spektakuler!

P1090890

The icon

Di atas awan

Puas foto-foto, kami kembali ke jip untuk melanjutkan perjalanan di spot lain di bromo. Kami ke savanna, bukit teletubbies dan juga pasir berbisik. Sayang, kami tidak mendaki untuk melihat kawah bromo, untuk menghemat waktu. Selain itu, pendakiannya juga ramai orang dan harus mengantri.

P1090922

Naik kudaa!

P1090923

Kudaaa!

IMG-20150518-WA0074

Bukit teletubbies

IMG-20150518-WA0079

Pasir berbisik

IMG-20150518-WA0098

Savanna!

IMG-20150518-WA0104

Sama bunga lavender

IMG-20150518-WA0109

IMG-20150518-WA0126

With jeep

Sepulang dari Bromo, kami kembali ke penginapan untuk beberes dan juga makan pagi menjelang siang alias brunch. Gue dan 6 orang yang lain berpamitan dengan yang lain untuk melanjutkan perjalanan ke Madakaripura. Sebenernya, madakaripura tidak masuk dalam paket trip ini, tapi karena gue udah sampe Bromo, sayang banget rasanya kalo ga ke Madakaripura. Gue pun bertekad harus ke sana bagaimanapun caranya. Ternyata, pihak Wuki Traveller bisa menyediakan mobil APV untuk ber-7 dan harus menambah 50ribu per orang. Tadinya APV ini memang digunakan sebagian peserta untuk kembali ke Surabaya. Lumayan banget Cuma nambah 50ribu termasuk tiket masuk, daripada harus sewa mobil!

Perjalanan ke Madakaripura memakan waktu 1 jam. Sepanjang jalan dari penginapan terlihat pemandangan pegunungan hijau yang memanjakan mata. Wuihh! Kamipun sampai di Madakaripura kira-kira pukul 12 siang.

Pemandangan sepanjang jalan dari penginapan

Pemandangan sepanjang jalan dari penginapan

Air terjun madakaripura dikisahkan adalah tempat bertapanya patih Gajah Mada. Untuk mencapai air terjun ini kami harus berjalan 30 menit. Tadinya jalannya lurus, tapi mendekati air terjun kami harus melewati bebatuan. Para pengunjung juga diharuskan memakai jas hujan karena akan melewati air terjun yang airnya membasahi tubuh layaknya hujan. Ada kebegoan yang terjadi di titik ini, gue yang sudah membawa jas hujan dari rumah lupa mengenakan penutup kepalanya saat melewati air terjun. Alhasil basahlah kepala gue dan airnya juga masuk ke badan. Sia-sia dah pake jas hujan!

Air terjun madakaripura sangatlah besar dan menawan. Di sekitarnya terdapat air terjun berbentuk tirai yang juga cantik! Ga nyesel deh pokoknya ke sana!

Air terjun madakaripura

Air terjun madakaripura

Air terjun madakaripura

Air terjun madakaripura

Air terjun berbentuk tirai di madakaripura

Air terjun berbentuk tirai di madakaripura

Kira-kira pukul 2 siang kami kembali dari air terjun tersebut. Gue dan beberapa orang yang lain mandi dulu karena kebasahan. Kemudian kita kembali ke Surabaya untuk pulang ke Jakarta. Kami mampir dulu ke tempat makan untuk makan malam dan ke toko oleh-oleh. Pukul 8 malam, gue sampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya, sementara yang lain ke bandara karena mereka naik pesawat. Jam 9 malam lewat, kereta pun berjalan. Beruntung, gue bisa duduk deket rombongan trip dengan menukar seat. Hehe. Malam itu rasanya panjang sekali, gue sempet ga bisa tidur sampe jam 3 pagi dan kelaperan. Gue mencari makanan di ruang restorasi dengan melewati banyak orang yang tidur di sepanjang jalan.  Maklum, gue waktu itu di gerbong 7.

Pukul 9 pagi, kamipun sampai di Jakarta dengan selamat. Terima kasih Surabaya dan sekitarnya! Bener-bener puas jalan-jalan di trip kali ini.

Perjuangan Mendaki ke Kawah Ijen

“Orang ma naik turun tangga biar kurus, lah ini buat liburan.” Begitu kira-kira kata temen gue waktu ngeliat perjuangan gue naik turun tangga kantor ke lantai 11 demi bisa fit saat ngedaki ke kawah ijen. Perjuangan naik turun tangga gue lakukan 2 bulan sebelum keberangkatan, alias bulan Maret. Awalnya masih rajin, tiap hari naik tangga, lama-lama berkurang hingga hanya 2 kali seminggu naik tangga. Mulai mendekati kepergian, gue mulai rutin lagi (hampir) tiap hari. Selain itu, gue juga ikut kelas aerobik/fitness 1-2 minggu sekali. Sulit ya, memang, membiasakan badan ini berolahraga, tapi demi kawah ijen semua gue lakukan!

Awal mula gue pengen ke kawah ijen, karena seorang teman, Sari yang sudah mengelilingi Indonesia, bilang kalo tempat terbagus yang pernah dia liat itu Kawah Ijen. Sejak saat itu, gue mulai suka googling dan liat-liat foto Ijen. Dari foto kawah biru toscanya, sampai foto blue fire. Buat yang belum tau, blue fire adalah api berwarna biru yang ada di dalam kawah Ijen, hanya bisa dilihat dini hari, dari jam 2-4. Blue fire katanya cuma ada 2 di dunia. Di Iceland dan Indonesia. Jika ingin melihat api lebih jelas, setelah mendaki selama 2 jam, kita harus turun lagi ke kawah selama 30 menit dengan kemiringan ekstrem agar bisa melihat si api biru. Banyak bule yang berburu api ini sampai ke kawah ijen.

Kesempatanpun datang saat gue melihat ada trip ke Ijen di pertengahan Mei, dan di trip itu juga ke Bromo. Sekalian, gue emang belum pernah ke Bromo dan pingin ke sana.

Setelah bermain di Baluran dan snorkeling di Menjangan (cek di postingan sebelumnya), gue sampai di pos awal pendakian ijen yaitu Paltuding kira-kira pukul 3 pagi. Setelah menunggu rombongan ngumpul, kita naik jam 3.30. Untuk menaiki kawah ijen kita harus menyiapkan baju hangat (karena suhu di sana luar biasa dingin sampai keluar asap dari mulut saya), alas kaki yang cocok untuk mendaki, senter dan yang paling penting adalah masker. Bau belerang di kawah ijen sangat menyengat, sehingga mengharuskan kita memakai masker. Gue agak galau, mau pake masker biasa atau gas mask. Secara gue baca di blog bule, mereka pada pake gas mask untuk faktor keamanan, tapi orang Indonesia kayanya lebih cuek bebek soal keselamatan. Gue sempet diketawain gara-gara mau pake gas mask. Akhirnya gue bawa aja 2-2nya. Masker kain biasa dan gas mask. Gue beli gas mask hanya 60.000 di web ini.

Rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok, kelompok pertama adalah kelompok yang ingin mengejar blue fire, sehingga mereka harus mendaki setengah berlari agar bisa sampai di kawah setidaknya jam 4. Ga mungkin dong gue ikut kelompok yang ini? Hahahha. Gue sendiri ikut kelompok tengah-tengah, namun di perjalanan jadi kelompok paling belakang. Hahhaha. Seperti sudah diduga, gue yang lemah dalam urusan trekking ini pasti paling belakang!

Gue di barisan belakang bersama dengan Tour Leader Eki, bersama dengan 5 orang yang lain. Kami semua lemah-lemah. Bahkan surprisingly ada yang lebih lemah dari gue hahahah *oops!*. Kami berhenti hampir tiap 5 menit sekali, untuk mengatur nafas dan istirahat. Namun Eki terus mengingatkan kami untuk tidak duduk, agar tidak susah lagi saat berdiri dan mendaki. Beberapa dari kami (termasuk saya) sempat ingin menyerah namun Eki terus berkata “Ayo, jangan nyerah, masa sudah sampai sini kok nyerah.” Gue pun berjalan dan terus berjalan. Suatu keuntungan bagi kami untuk mendaki dalam keadaan gelap, karena kami tidak melihat seberapa panjang dan seramnya jalur trekking yang kami lewati.

Separuh lebih perjalanan telah terlewati. Kami pun beristirahat sebentar di sebuah warung besar. Bau belerang sangat menyengat sampai pada titik ini. Gue pun memutuskan untuk mengganti masker kain dengan gas mask. Thanks God, sekarang bisa lebih bernafas dengan gas mask ini! Setelah beristirahat 15 menit, kamipun melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini lebih curam, tapi kami sadar di sekeliling kami ada pemandangan menakjubkan.

Pukul 5 pagi, setelah 2,5 jam mendaki (pendakian normal 2 jam), kami sampai juga di atas, kami berhenti untuk melihat jejeran gunung di atas awan. Omygod, kami berada di atas awan! Buat gue yang baru pertama kali naik gunung, ini pemandangan benar-benar menakjubkan. Luar biasa! Mungkin foto bisa lebih mengatakannya..

P1090797-1

amayzeeeeeng!

P1090800

sudut pandang lain..

P1090808

Gue di atas awaaan!

P1090794

The girl in the gas mask. Scary, huh?

Kami berfoto sejenak dengan pemandangan ini, untuk menunggu perginya kabut yang sedang menyelimuti kawah ijen. Setelah beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak, kawah ijen! Perjalanan menjadi lebih sulit karena bau belerang semakin menyengat. Bahkan gue mulai batuk-batuk! Waduh, ga kebayang gimana yang pake masker biasa. Akhirnya kamipun sampai di puncak kawah ijen! Sayang sekali, kabut tebal menyelimuti kawahnya yang berwarna biru tosca. Kami tidak bisa melihat cantiknya kawah ijen. Tapi gue udah bersyukur karena bisa sampai di sini dan melihat pemandangan yang menakjubkan. Bau belerang semakin menyengat dan sudah masuk paru-paru. Paru-paru pun terasa sesak. Saat itu, blue fire sudah tidak ada, karena kami kurang pagi sampai di sana.

P1090814

Kawah ijen yang tertutup kabut

P1090822

Gue lagi nahan nafas!

P1090827

Ruamenya kaya pasar!

Teman-teman yang sampai di sana jam setengah 5 sempat turun ke kawah dan melihat sisa-sisa blue fire. Ada 1 orang yang berhasil sampai kawah pukul 4.15 dan dia berhasil mendapatkan foto blue fire. Wow, luar biasa sekali semangatnya! Orang yang sama juga sempat menunggu di atas sampai kabut hilang. Gila dah! Buat mereka yang turun ke kawah, mereka bisa melihat biru tosca-nya ijen, karena bisa melihat dari sudut pandang yang tidak dikelilingi kabut. Sementara kami yang tidak turun, harus cukup puas memandangi kabutnya saja. Dari cerita teman saya yang turun, medan untuk turun ke bawah sangat terjal, apalagi pas naik ke atasnya lagi, beuh, katanya sih kemiringan hampir vertical. Kebayang betapa bahayanya kalo turun ke kawah.

Blue fire yang berhasil diambil sama anak yang sampai kawah jam 4.15 (Photo by Yogi)

IMG-20150517-WA0021

Sisa-sisa blue fire. Dan itu disekelilingnya adalah belerang (Photo by Rina)

IMG-20150517-WA0019

Kawah biru tosca yang berhasil diambil kalau turun ke bawah (Photo by Rina)

Biru toscanya kawah ijen dari Mbah Google (Photo from ramadhanadi.wordpress.com)

Eki mengajak kami untuk cepat-cepat kembali pulang karena asap belerang menggila dan anginnya ke arah pengunjung. Kata dia, baru kali ini dia ngerasain asepnya separah ini. Wow! Setelah berfoto-foto kami pun kembali. Perjuangan banget foto di situ ga pake masker, karena langsung menghirup belerang. Gue sampai ga bisa senyum sangking nahan nafasnya. Huhu.

Perjalanan turun biasanya lebih mudah, tapi ini tak semudah itu. Kami harus menahan berat badan saat turun. Saat turun, hari sudah terang dan kami bisa melihat dengan persis trek yang tadi kami lalui. Gila, ternyata trek pendakiannya jauuuuuuuuh banget dan cukup miring. Gue yakin, kalo gue pas ndaki ngeliat trek-nya pasti jadi jiper duluan dan ga jadi daki. Untung pas gelap!

Sesampainya di bawah, kami pun sarapan dan kemudian melanjutkan perjalanan ke pemandian air panas. Menurut saya sih tempatnya biasa aja. Tapi ya lumayanlah buat yang mau menghangatkan (atau memanaskan?) kaki dengan air belerang.

Pemandian air panas ijen

Pemandian air panas ijen

KISAH SANG PENAMBANG BELERANG

Selain cerita pendakian, ada juga cerita lain yang kami temui. Cerita sang penambang belerang. Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan bapak-bapak yang mendaki ke ijen untuk mengambil belerang di kawahnya. Mereka mengangkut belerang sebanyak 80 KG. Mereka harus menaiki medan yang terjal dari kawah untuk kemudian turun ke bawah. Gila! Kita aja orang biasa ga bisa ngangkut itu belerang sambil berdiri, ini mereka ngangkut belerang sambil mendaki. Dan lebih gilanya, mereka menjual belerang tersebut dengan harga 900 per kg. 80 kg cuman dapet 70ribu!! Gila, perjuangan mereka mendaki dengan asap belerang Cuma dihargai segitu. Dan banyak dari mereka yang hanya menggunakan masker biasa, tidak menggunakan masker yang layak. Gila ya, bersyukur banget kita yang kerja biasa ga perlu menghadapi maut seperti itu dan mendapatkan upah yang jauh lebih layak. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

Salah satu penambang belerang

Salah satu penambang belerang

Simak cerita selanjutnya di Bromo, di sini.

Taman Nasional Baluran dan Pulau Menjangan

Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu, 14 Mei 2015! Bukan, bukan karena hari itu adalah hari ulang tahun gue, tapi gue akan trekking ke Kawah Ijen, Jawa Timur. Gue ikut tripnya Wuki Traveller (1.100.000) dengan destinasi Baluran-Menjangan-Kawah Ijen-Bromo plus gue mau ke Madakaripura. Di postingan yang ini gue akan ceritain dulu perjalanan gue ke Baluran dan Menjangan.

Pukul 2 siang gue menaiki kereta ekonomi AC Kertajaya (90.000) dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Pasar Turi Surabaya. Gue tadinya bakal berangkat sama Dea, tapi karena dia mendadak ga bisa, ya sudahlah gue berangkat sendiri. Toh di Surabaya juga bakal ketemu Maria, temen trip Derawan gue. Aslik ya, duduk tegak di kereta selama 12 jam itu rasanya bosen banget, mati gaya, mana ga bisa ngobrol juga sama sebelahnya. Tapi untungnya gue bisa nyelonjorin kaki sih, karena depan gue kosong. Hahaha. Di perjalanan di kereta gue juga sempat ditemani oleh radio dakwah dalam bahasa Jawa, pembahasannya lucu sih. Hahaha.

Setelah melalui perjalanan panjang, 1 nasi goreng, 1 pop mie, 1 roti dan 1 botol aqua besar, akhirnya sampailah juga gue di Surabaya. Jam setengah 2 pagi! Di situ gue bertemu rombongan gue dengan total 18 orang. Dan juga bertemu Maria dan temannya yang bernama Rina. Di stasiun sempet ketemu juga sama Desi, teman di Sastra Prancis bersama pacarnya, dia ikut trip Wuki juga tapi beda rombongan. Fyi, trip Wuki yang ke ijen ini ada 3 rombongan dengan jumlah 18 orang tiap 1 rombongannya. Ada satu lagi yang paling kaget, gue juga ketemu salah 1 temen kursus gue di IFI, Dinda. Mungkin dia satu-satunya temen yang gue liat di hari ulang tahun gue itu (maklum, seharian ga ketemu temen dan keluarga). Itu juga gue liatnya cuma sekilas, pas dia ke WC di kereta. Eh pas turun, ternyata dia ikut ke ijen juga bareng rombongan Wuki yang lain. What a coincidence! Hahaha.

Setelah bertemu dengan teman-teman serombongan, kamipun pergi menaiki ELF menuju Baluran. Beruntung, gue dapet tempat duduk yang di tengah pas di belakang supir. Gue jadi bisa nyelonjorin kaki. Hahahah! Oiya, di trip ini juga ada 2 bule dari Inggris, satu ngajar di EF Indonesia, satu lagi bekas pengajar di EF. Mereka dibawa oleh seorang staff EF juga, orang Indonesia.

TAMAN NASIONAL BALURAN

Setelah tidur-tidur ayam (Fyi, selama trip 3 hari ini kami tidur di mobil, cuma tidur di kasur sekali waktu sebelum ke Bromo), kami sampai di Taman Nasional Baluran, Situbondo jam 7 pagi. Harga tiket masuk (ini udah include di trip) seharga 15000, tapi kalo buat bule jadi 150.000. Buset dah, bedanya 10 kali lipat, mak! Di baluran ini katanya mirip sama afrika. Sepanjang jalan yang kelihatan adalah savana, kami juga melihat beberapa rusa dan banyak monyet!

Setelah sarapan pagi, kami naik ke Menara Pandang di Baluran. Tangganya cukup curam dan hampir vertikal. Dari menara ini kita bisa melihat seluruh baluran, rumput-rumput hijaunya yang luas membentang, tapi sayang kami tidak melihat satu hewan pun dari situ.

Taman nasional Baluran dari menara pandang

Gunung ini namanya juga baluran

Setelah turun dari Menara Pandang, kami jalan-jalan dan juga foto-foto di savana. Apalagi kerjaan kita kalo ga foto-foto, bukan?

P1090695-1

P1090708

nice view, isn’t it?

P1090698

monyet-monyet nakal

P1090701

tanduk banteng

P1090752

Puas foto-foto, kita ke Pantai Bama yang terletak dekat dari Baluran. Pantainya sih biasa aja, tapi ada satu cerita di sini. Kaki gue kepentok beton gara-gara ngehindarin monyet-monyet di sini. Sampai sekarang ada bekas luka bulet gede di lutut kiri gue. Bukan karena snorkeling atau hiking, tapi karena ngehindarin monyet! Zzz. Monyet di sini nakal, temen gue yang lagi minum jeruk diambil sama monyet, terus dibuang airnya. Hahahhaa.

P1090738

Kok banyak sampahnya?

P1090743

Selepas dari Baluran, kami kembali ke kota untuk Sholat Jum’at terlebih dahulu. Tapi anehnya, jam setengah 12 siang soljum-nya udah bubar. Lah? Kok aneh? Masa ngikutin waktu Indonesia Tengah? Hmmm. Akhirnya pada sholat dulu di pom bensin. Setelah itu kita ganti baju karena mau snorkeling ke Menjangan.

PULAU MENJANGAN

Pulau Menjangan terletak di Bali Barat dan merupakan salah satu spot snorkeling terbaik di Bali. Dipikir-pikir ini trip ambisius juga ya, bisa-bisanya mampir di Bali! Hahahha. Untuk ke Menjangan, kita naik perahu dari Pantai Watudodol, Banyuwangi. Saat itu jam 2 siang dan ombak terlihat begitu kencang, sampai-sampai perahu yang mengangkut kami tidak bisa menepi ke pantai. Setelah 1 jam menunggu, perahunya berhasil menepi tapi ga menepi-nepi amat. Kita masih harus bersusah payah ngelewatin air untuk naik ke kapal tersebut.

Sepanjang jalan, ombaknya pun kencang luar biasa. Gue sampai berpikir lebih baik ga usah dipaksain daripada kenapa-kenapa. Sepertinya memang pilihan yang salah ke Menjangan di sore hari. Harusnya pagi. Tadinya di jadwal memang mau pagi, tapi karena mengejar SolJum, jadilah dituker sama Baluran jadwalnya. Baluran jadi pagi dan Menjangan jadi sore. Eh ternyata SolJum-nya juga ga kekejar. Wek wew..

Di jalan kita sempat bertemu dengan sebuah Pura di Pulau. Sangat unik menurut kami. Ga berapa lama kemudian, setelah sejam, kamipun sampai di spot snorkeling pertama! Karangnya banyak banget plus ada ikan warna-warni di atasnya pokoknya kece deh! Spot snorkeling kedua pun ga kalah kece. Sayang, di spot kedua ini banyak bulu babi sehingga musti hati-hati pas lagi snorkeling.

Pura di Pulau Menjangan

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Kami kembali dari snorkeling saat hari sudah mulai sore. Saat sampai di dekat pantai pun hari sudah gelap. Sangking ombaknya kenceng banget, kejadian lagi seperti kita mau berangkat, yaitu nunggu di laut sampai ombaknya mereda. Dan perahu yang mau menepi juga musti ngantri satu per satu, ga boleh bersamaan. Ada kali nunggu di kapal sambil muter-muter selama setengah jam di kegelapan malam. Di sinilah kesialan mulai terjadi, gue yang basah kuyup habis snorkeling, terombang-ambing di perahu kemudian mabuk. Rasanya parah bgt, mabuk sambil berasa mulai masuk angin. Tak lama setelah temen gue muntah, gue pun akhirnya muntah juga! Huhuhuhu. Setelah itu kita pun bisa turun, bukan di tepi pantai, tapi masih di laut. Air kira-kira seleher kita. Gue dengan life jacketnya disuruh berpegangan pada tali sampai ke pantai. Di setiap setengah meter ada bapak-bapak yang bersiap mengangkat kita untuk diestafet dan diberikan ke depannya. Jadi rasanya itu kaya dilempar-lempar di lautan. Gila dah! Barang-barangpun disuruh ditinggal di kapal karena sangat sulit membawa barang bersama kita. Setelah sampai di daratan dan kedinginan kami pun mencari tempat mandi. Tak sabar menunggu kamar mandi yang sudah diantrikan oleh banyak orang, kami pun dibawa untuk mandi di rumah penduduk. Dan, ke rumah penduduknya itu lewat jalan raya. Jadilah gue dengan celana renang pink super pendek, berjalan di jalan raya! Rrrr.. Setelah sampai di rumah penduduk, kami pun mandi, ber6! Hahahhahaha. Rekor mandi bareng terbanyak dalam sejarah hidup gue. Mana semuanya baru kenal hari itu. Hahahhaa. Epic dah!

Usai mandi, kami pun menunggu yang lain dan bersiap untuk melakukan perjalanan ke Kawah Ijen..

Simak postingan selanjutnya di kawah ijen, di sini.

Trip to Ujung Kulon

Satu bulan satu trip. Itu yang pengen gue lakuin di tahun 2015 ini. Hahaha. Setelah ga kemana-mana (yang berbau alam maksudnya) di bulan Februari, gue pergi ke Ujung Kulon di bulan Maret ini. Gue kali ini pergi bersama temen kampus gue, Dea. Dan lagi lagi ikut Rani Journey! Hahahha. Harga tripnya 675ribu (belum termasuk alat snorkel 50ribu).

Sebelum gue ceritain perjalanan gue, gue mau ceritain kejadian nyeremin yang dialami Dea sebelum berangkat ke Ujung Kulon. Jadi dia pergi dari Depok naik kereta ke Stasiun Sudirman. Dia pun naik 640 dari Stasiun Sudirman menuju Plaza Semanggi, tempat meeting point kita. Di jalan tiba-tiba ada 2 orang laki-laki naik dan memaksa pengemudi membelokkan arah ke tempat gelap. Setelah sudah sepi dan entah ada di mana, metro mini pun dipaksa berhenti dan terlihat 5 preman lain muncul. Totalnya ada 7 orang. Supir dan kenek dipaksa keluar dan pintu pun ditutup dari luar. Beberapa preman terlihat membawa pistol dan samurai kecil. Mereka pun berteriak, “Gue ga mau ngambil duit lo semua, gue cuma ada urusan sama ni supir. Kalian jangan berani-berani telepon, atau gue sayat-sayat muka lo pada”. Kebayang gimana mencekamnya itu kejadian. Sementara gue nelpon-nelpon Dea mulu karena udah telat dan itu handphonenya getar-getar mulu. Di luar si supir dan kenek pun digebukin sampai berdarah-darah. Di dalam total ada 7 penumpang, 4 wanita (termasuk 1 ibu hamil) dan 3 pria. 3 pria ini berinisiatif menahan pintu untuk membiarkan cewek-cewek keluar. Akhirnya para wanita pun berhasil lari kabur lalu kemudian naik taksi. Para preman sempat mengejar tapi untungnya ga kekejar dan mereka ga nembak. Sementara itu, Dea ga tahu nasip 3 pria yang menahan pintu. Semoga mereka selamat. Dea sampai di Semanggi dengan muka pucat. Dia menceritakan semua kejadiannya ke gue dan kita pun melapor polisi (no telp polisi: 112, catet!). Semoga pak polisi bisa menemukan para preman tersebut dan para penumpang yang lain selamat. We pray for them!

Setelah Dea datang, pukul stgh 10 malam kami berangkat ke Ujung Kulon. Kami sempat diliatin para peserta yang lain karena telat. Hahaha. Maap ya guys, ini emergency! Jadi mikir kadang kalo sebel liat orang lain telat, mungkin aja ada alasan di balik telatnya itu. Kami naik bus AC berukuran sedang dengan total peserta 25 orang. Kami duduk di barisan paling belakang karena kami agak big size. Mayan lah, 5 kursi di belakang bisa didudukin sama 4 orang. Hahaha. Perjalanan ini sangatlah dingin. Selepas dari Anyer, jalanan sangatlah buruk. Sepanjang jalan berkelok-kelok dan juga sempat beberapa kali kami loncat dari tempat duduk. Berasa naik wahana di Dufan.

Setelah perjalanan kurang lebih 6 jam, pukul 4 pagi kami tiba di tujuan. Sumur! Di sini kita istirahat sejenak, mandi dan sarapan sebelum berangkat ke Pulau Peucang pada pukul 7 pagi.

Pukul 7 kami sedikit menyeberangi laut untuk naik kapal ke tujuan. Perjalanan dengan kapal memakan waktu 3 jam. Perhentian pertama kami adalah Padang Penggembalaan Banteng Cidaon. Kami berharap melihat banteng bahkan badak bercula satu di sana! Tapi sayang, kami cuma melihat 1 banteng dan tidak melihat yang lain. Di Cidaon ini ada 1 hal yang pasti ditemukan: tai banteng! Jadi kalo kalian ga bisa foto sama bantengnya, foto lah sama tainya aja *LAH?* Hahhahaa. Oya, hati-hati juga tanahnya suka njeblos. Jadi musti pinter2 cari pijakan yang kokoh.

Hello!

Hello!

Rame-rame di Cidaon

Rame-rame di Cidaon (Photo by Fuad)

Sehabis itu kami langsung menuju Pulau Peucang. Mendekati pulau peucang, terlihat air yang berwarna hijau. Gue agak bingung kenapa airnya dari jauh hijau, padahal kalo didekati warnanya adalah biru muda. Seperti pantai-pantai cantik di Indonesia tercinta. Tapi ekspektasi gue terhadap Pulau Peucang lebih tinggi dari itu, sebenernya. Hahaha.

Pulau Peucang

Pulau Peucang

Kami menyusuri garis pantai Pulau Peucang untuk menuju ke sebuah spot foto bagus yaitu sejenis laguna. Untung aja ke sini, karena tempatnya oke banget! Tadinya sempet mau berhenti di tengah jalan karena mikir pasti pantainya sama semua jenisnya.

Laguna di Pulau Peucang

Laguna di Pulau Peucang

Waktu menunjukkan jam makan siang, kami pun makan di kapal. Tadinya kami pengen makan di pulau, tapi takut makanannya digondol monyet. Bener aja, waktu kami ngupi-ngupi di pulau sehabis makan, gula kami digondol monyet. Seplastik gula dibawa kabur ke atas pohon lalu dijatuhin sama dia. Beuh, sia-sia! Di tempat ini banyak hewan berkeliaran, ada juga babi dan rusa selain monyet.

Tadinya kita mau trekking ke karang copong, tapi takut kehabisan waktu, acara trekking pun dibatalkan. Kami lanjut untuk snorkeling di area deket situ. Menurut gue sih tempat snorkelingnya mayan, bisa ketemu nemo. Tapi ga bagus-bagus amat juga. Mungkin karena gue sering ke tempat yang lebih bagus. *ciegitu* *sombongnya* *self-toyor*.

Di tempat snorkeling ini guide kami yang bernama Fuad, seru sendiri gtu snorkelingnya, semua udah naik kapal, kecuali 3 orang. Dia dan 3 orang itu masih asik snorkeling dan membuat kita bengong nungguin dia. *Piss mas!*

Habis dari spot snorkeling ini, kami langsung ke tempat kami menginap di Pulau Handeleum. Sebelumnya, kami melewati Karang Copong. Intinya sih karang gede, tapi agak bolong gtu. Mirip sama Karang Bolong di Anyer tapi ini lebih gede dan banyak.

Karang Copong

Karang Copong

Pukul 5 sore kami sampai di Handeleum. Kami menempati penginapan 2 lantai yang sepertinya bekas kantor di pulau itu. Tadinya kami semua mau disatuin di 1 penginapan, tapi karena 1 dan lain hal, akhirnya yang di gedung itu cuma cewe-cewe plus ada rombongan bapak-bapak dari Mancing Mania. Gerombolan cowo-cowo tidur di penginapan sebelah.

Setelah mandi, kamipun makan malam lalu bercerita-cerita sama teman-teman baru.

Keesokan harinya kami bangun cukup pagi lalu kemudian duduk-duduk di saung kecil yang menghadap arah pantai. Yaampun pemandangannya luar biasa. Ini emang lukisan Tuhan yang paling indah! Ga sia-sia bangun pagi-pagi. Kami pun foto-foto, lalu kemudian sarapan pagi.

image

Pagi di Handeleum (Photo by Dina)

image

Bersama lukisan Tuhan

Sehabis sarapan kami meninggalkan Pulau Handeleum untuk kemudian berkano di Muara Cigenter. Kami berkano dengan 1 kano untuk 5 orang. Berkano di sungai tengah hutan, rasanya kaya lagi di amazon. Keren deh. Ditemani dengan suara-suara alam di sekitar kita. Sayangnya, kano yang kita naikin agak bocor. Jadi musti dikeluarin terus airnya dari perahu. Gue ga tau juga ya, emang semua kano begitu apa kano kita doang. Kami dibekali oleh 2 dayung dan kami mendayung bergantian. Plus abang-abangnya juga ngedayung. Ini serunya ke ujung kulon, pemandangannya bukan cuma pantai tapi bisa berkano juga!

Pulang berkano kami snorkeling lagi di satu tempat yang kalo ga salah namanya Pulau Caring *cmiiw*. Tempatnya kurang lebih sama kaya spot sebelumnya. Di sini ada nemo juga, tapi yang lucu adalah habitatnya warna item bukan bening. Hahaha.

Puas berkano, kamipun makan siang lalu kembali ke Sumur. Dari Sumur kami berangkat ke Jakarta dan sampai pukul setengah 11 malam. See you on next trip!

Pulau Harapan (Palsu)

Weekend kemarin, tanggal 31 Jan-1 Feb gue main ke Pulau Harapan, di Kepulauan Seribu. Gue ikut trip temen gue yang bernama Rani, nama tripnya Rani Journey. Kita bisa muterin Pulau Harapan dan sekitarnya dengan membayar 350 ribu. Kali ini gue pergi bareng Melta, partner trip ke Jepang gue. Biasanya agak susah ngajak dia trip ala backpacker, tapi entah kenapa sejak pulang dari Jepang dia jadi mau-an. Hahahha.

Gue dan Melta naik busway ke arah Pluit jam 5 pagi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik angkot B01 merah dari Pluit menuju Muara Angke. Meeting point trip ini. Kita sampai di Gerbang Muara Angke pukul 6.15. Kita musti agak jalan ke dalam dan becek-becekan untuk masuk ke pelabuhannya. Kamipun bertemu dengan tour leader kali ini, namanya Ranu. Gue agak heran ya, 3 kali ikut Trip Rani Journey tour leadernya namanya mirip-mirip semua. Dari Rani, Randy terus Ranu. Mungkin emang seleksinya berdasarkan nama. Hahahhaa.

Kami kemudian naik kapal, yang sudah penuh dengan orang. Gokil deh tuh kapal rame abis. Gue sama Melta duduk di sisi sebelah kanan kapal dan di luar. Harusnya kapal hari itu ada 2 yang ke Pulau Harapan, tapi 1 kapal ga jalan, jadi dipenuh-penuhin deh itu 1 kapal.

Kapal tapi rame amat. Udah kaya di angkot. (Photo by Rizal)

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8, dan kapal belum juga bergerak. Padahal di jadwal kapalnya jalan jam 7. Ternyata, ada polisi yang patroli di situ dan dia tidak mengijinkan kapal kita berangkat sampai muatannya dikurangi. Alhamdullilah! Soalnya agak ngeri juga ya bawa kapal ratusan orang berdesak-desakan gtu. Akhirnya sebagian orang yang duduk di atas atap, dipindahin ke kapal satunya lagi.

Perjalanan menuju Pulau Harapan memakan waktu 3 jam. Sepanjang jalan, ombaknya kenceng banget dan kapalnya goyang-goyang agak ekstrem. Gue sempet agak takut, begitu pula cewek sebelah gue, yang kayanya udah ketakutan banget. Tuh cewe kayanya emang ga siap backpackeran sih. Dia pake kosmetik lengkap beserta jaket bulu. Hmm..

Setelah harap-harap cemas menuju Pulau Harapan, akhirnya kapal sampai juga jam 11 siang. Pemandangan dari pelabuhannya cukup bagus dan terlihat gradasi warna biru muda dan biru tua. Kami pun menuju homestay dan makan siang di sana. Saya satu kamar berlima cewe-cewe semua. Homestaynya namanya Baronang 3 dan cukup oke, ada ACnya.

Pasukan trip Harapan kali ini.

Setelah makan siang, kami mulai perjalanan Island Hopping. Saya sudah siap dengan masker, snorkel, sepatu boot snorkeling dan dry bag. Gue sempet agak diketawain gara-gara bawa peralatan lengkap banget. Hahahha.

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Putri. Di sini kita snorkeling. Bawah lautnya cukup oke. Banyak karang-karang dan juga ikan kecil lewat. Oke lah. Setelah itu kita ke Pulau Gosong Air. Pemandangan di sini bagus banget. Gue ga nyangka ada yang bagus macam gitu di Pulau Seribu. Kita bisa snorkeling di laut dangkal dan ada segerombolan ikan jalan-jalan di sana. Anak-anak langsung pada ngasi cracker buat dikasih makan ke ikan-ikan itu.

Ikan Sergeant Major yang langsung rame ngeliat cracker (Photo by Rizal)

Pulau Gosong Air. Airnya bening banget.

Puas main air dan foto-foto, kita ke Pulau Gosong Darat. Nah pulau ini asli mirip banget sama Pulau Gusung yang ada Di Derawan. Mungkin yang namanya Pulau Gusung emang modelnya begini semua kali ya. Bagus deh pokoknya! Uniknya, ada yang jualan gorengan di tengah pulau kecil itu. Itu pulau kecil banget, kaya cuma berapa meter. Kalo airnya pasang, kayanya itu pulau kelelep deh. Si Melta dan temen baru kita yang namanya Pipit langsung menyerbu itu tukang gorengan. Hahahhaa.

Penampakan Pulau Gosong Darat dari perahu

Ini separo pulaunya. Kecil tapi berkesan.

Ayo berkemah!

Sehabis itu, kita ke Pulau Perak. Pulau ini juga bagus, dengan gradasi warna biru yang keren. Gue suka denger cerita soal Pulau Perak ini dari temen gue si Ires. Dia sering berkemah di sana. Haha. Pengen rasanya kali-kali nyobain berkemah di pulau juga. Gue sama temen-temen baru muterin ini pulau sambil ledekin sih Pipit yang gayanya pecicilan dan ga berenti ngomong. Hahhaha. Akhirnya ada juga trip di mana bukan gue sasaran bully-nya, tapi orang lain! Hahahhaha.

Pulau Perak

Pukul 5 sore, kami kembali ke Pulau Harapan. Di dermaga, kami nyobain jajanan khas Pulau Harapan, Cilung Abon. Jajanan ini mirip sama cireng tapi ini digulung, namanya juga cilung! Hahhaa. Cilung yang enak yang di dermaga, harganya Rp 5000,-. Ada juga yang sama abang lewat harganya Rp 3000,- tapi enakan yang di dermaga. Buat Om Dodi yang udah nraktir kita-kita, thank you ya! Hahahhaa.

Setelah itu kami pun pulang ke penginapan untuk mandi dan makan malam. Rencananya, habis makan malam akan ada barbecue di dermaga. Tapi karena hujan lebat, acara barbecue-annya dicancel L

Malam itu kami tidur cepat sekitar jam 9. Kemudian kami bangun pukul 6 pagi di hari Minggu. Saat bangun, di luar masih hujan. Sepertinya perjalanan kami ke Pulau Bulat dan Genteng dicancel. Kami menunggu sampai jam 8 untuk mendapat kepastian, namun guide yang di kapal ga dateng2 ke tempat kita. Itu artinya, tidak ada perjalanan kali itu. Agak kecewa sih. Tapi memang itu resikonya pergi saat musim hujan.

Hari itu, kami hanya berjalan-jalan keliling pulau dan juga makan indomie di warung. Hahahha. Walaupun hujan tapi kita tetep bisa ketawa-ketawa ceria dengan teman-teman baru.

Pukul 11 kami menaiki kapal lagi untuk menuju Jakarta. Kapalnya juga sudah cukup penuh. Gue sampe duduk harus menekuk kaki. Banyak orang yang kesulitan mendapat tempat duduk, tapi nyebelinnya ada beberapa orang yang dengan seenaknya santai-santai tiduran. Rrrr.

Sampai Jakarta, kami makan seafood dulu di Muara Angke. Setelah itu kami pun pulang ke rumah masing-masing, masih ditemani hujan 🙂

See you next trip! (Photo by Dodi)

Family Weekend in Tanjung Lesung

Di awal tahun ini, gue bersama keluarga merencanakan liburan ke Tanjung Lesung. Kami pergi pada tanggal 10-11 Januari 2015. Kami berangkat dari Jakarta pukul 8 pagi di hari Sabtu, kemudian sampai di Tanjung Lesung sekitar jam 2 siang. Lumayan juga, perjalanannya 6 jam (ga gitu macet), belum dipotong waktu makan siang dan mampir buat sarapan.

Tanjung Lesung ini letaknya di Banten, tepatnya setelah Anyer dan Carita. Pas masuk, kelihatan tempatnya private banget. Tanjung Lesung punya kompleks pribadi sekitar 1500 HA. Kami menginap di Tanjung Lesung Beach Hotel. Kami memesan cottage yang paling kecil dengan 1 kamar. Harga per malamnya Rp 1.700.000,- (kebayang ga kuat bayarnya kalo pergi ke sana sendiri hahahah). Hotel ini cukup bagus dan memiliki kolam renang sendiri yang langsung menghadap pantai. Wih, berasa kaya di Bali deh!

Kolam renang menghadap pantai di Tanjung Lesung Beach Hotel

Setelah check-in, kami pergi ke Beach Club. Beach Club ini adalah pusat kegiatan olahraga air di Tanjung Lesung. Di sini kita bisa snorkeling, jet ski, banana boat bahkan bisa menyewa kapal untuk pergi ke Ujung Kulon atau Anak Gunung Krakatau. Jika ingin ke Ujung Kulon, harganya cukup mahal. Rp 8.500.000,- dengan maksimum 8 orang. Mending ikut trip backpacker dari Jakarta deh. Haha.

Saya dan Cito ingin snorkeling di Beach Club. Sayangnya karena cuaca kurang mendukung dan airnya keruh, snorkelingnya tidak bisa dilakukan. Huhu. Akhirnya kita Jet Ski saja (Rp 320.000 selama 20 menit). Ini adalah pengalaman pertama gue Jet Ski. Rasanya, serem ! hahhahaha. Tadinya gue mau jet ski berdua aja disetirin cito, tapi akhirnya kami memutuskan jet ski bergantian dengan disetirin abangnya. Abangnya ini nyetirnya gokil juga, beberapa kali rasanya loncat dan hampir jatuh. Rada ngeri gue. Hahahha.

Setelah jet ski, saya duduk-duduk sebentar di pinggir pantai, lalu balik ke hotel untuk berenang. Hahaha. Pantainya sendiri cukup bagus untuk ukuran Pulau Jawa. Oke lah ! Di malam hari, kami sekeluarga melihat pertunjukan yang diadakan pihak hotel yaitu Debus ! Agak ngeri juga ngeliat orang ditusuk-tusuk gtu. Rrrr.

Jembatan di dekat Beach Club

Keesokan harinya, Cito, Mama dan Papa ingin bersepeda keliling pantai. Sebagai satu-satunya anggota keluarga yang tidak bisa bersepeda, saya memilih melipir ke jembatan di pantai Beach Club. Setelah agak bosan di situ, saya jalan-jalan lagi dan menemukan spot nyaman di villa sebelah. Namanya villa kalicaa. Vila ini masih satu manajemen dengan hotel kami. Sepertinya semua yang ada di Tanjung Lesung memang di bawah 1 manajemen. Di villa ini ada private beach dengan view pantai yang bagussss, kaya di Gili. Saya menghabiskan waktu berjam-jam tidur-tiduran di kursi pantai itu.

Jemur-jemur cantik di pantainya Kalicaa Villa

Pantainya cakep. Mungkin yang paling bagus di Pulau Jawa.

Ada 1 hal yang agak lucu waktu saya di Tanjung Lesung, saya bertemu dengan segerombolan karyawan dari kantor tempat saya pernah melamar dulu. Hahaha. Mereka lagi outing di Tanjung Lesung. What a coincidence! Saya bisa tahu karena saya pernah interview sama CEO-nya dan dia ada di sana waktu itu. Hahahhaa.

Jam 1 siang kami pulang dari Tanjung Lesung, kami mampir dulu ke Karang Bolong, Anyer, untuk melihat-lihat. Tadinya mau mampir ke mercusuar juga, tapi rasanya terlalu sore. Meskipun cuma sebentar, tapi senang rasanya ketemu pantai lagi. Di penghujung bulan Januari rencananya saya juga mau ke pantai lagi, ke manakah? Tunggu jawabannya di postingan selanjutnya!