Get me outta here!

see. taste. tell

Menu

Skip to content
  • About
  • Indonesia
    • Bali
    • Jakarta
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Papua
  • Eropa
    • Austria
    • Belanda
    • Belgia
    • Ceko
    • Estonia
    • Finlandia
    • Hungaria
    • Italia
    • Jerman
    • Latvia
    • Polandia
    • Prancis
    • Rusia
    • Slovakia
    • Spanyol
    • Swiss
    • Yunani
  • Asia
    • Jepang
    • Korea Selatan
    • Thailand
    • Vietnam
    • Kamboja
    • Laos
  • Afrika
    • Maroko
  • Home

Author Archives

Cuni CandrikaCuni Candrika is an Indonesian globetrotter, lived in France for 4 years. She already travelled to 41 countries. Her dream is being a digital nomad and living from her backpack. Follow her journey at www.cunicandrika.com
Cuni Candrika's avatar

Family Trip to Bogor

June 29, 2015 by Cuni Candrika

Weekend kemarin (27-28 Juni 2015), gue sama keluarga besar pergi ke Bogor. Kita nginep di R Hotel Rancamaya yang terletak di Komplek Rancamaya, arah ke Sukabumi. Hotelnya sendiri gede dan bagus banget. Ya ga heran lah ya, bintang empat.

Gue berangkat dari Jakarta bersama adik dan nenek gue, keluarga yang lain naik mobil beda-beda. Perjalanan di sana hanya membutuhkan waktu 45 menit dari Kelapa Gading. Jalanan lowong, mungkin karena bulan puasa, pada males jalan-jalan ke Puncak. Kita pun sampe kecepetan. Kita nyampe hotel jam 12 kurang sementara baru bisa check in jam 1. Nungguin check in rasanya lama banget, apalagi buat nenek gue. Dia sempet marah dan bilang kalo pengen pulang aja. Rrrr.

R Hotel Rancamaya tampak depan

Dari lobby

Kamar dengan view kolam renang dan gunung salak

Kira-kira jam setengah 1, kitapun masuk ke kamar hotel. Gw yang belum makan, langsung memesan makanan kesukaan, Fish and Chips. Hahhaa. Kamar ini berada di lantai paling bawah dengan tipe deluxe lagoon (harga bulan ramadhan 935ribu, sementara harga asli 1.9 juta). Begitu buka teras kamar, langsung kolam renang. Wihh, mantap dah. Bisa langsung nyebur!

View teras kamar, bisa langsung nyebur ke kolam!

Habis ketemu sama sepupu-sepupu yang lain, kita jalan-jalan ngelilingin komplek hotel. Hotelnya bagus, ada komplek lapangan basket dan olahraga lain. Selain itu juga ada kandang rusa. Hahhaa. Kalo butuh cemilan, tinggal ke indomaret yang terletak di lantai bawah. Habis muter-muter, kita berenang. Karena ga semua orang pengen berenang, terjadilah peristiwa cebur-ceburan. Sepupu gue yang bernama Trema, diangkat dan diceburin sama adiknya sendiri. Hahahha. Maskaranya luntur deh trem 😛

hi deer!

the cousins

renang!

Habis berenang kita santai-santai sampai menunggu jam makan malam tiba. Kami sekeluarga berencana makan malam di Sari Wangi, jalan Padjajaran, Bogor. Makanannya sendiri makanan Sunda. Ya lumayanlah rasanya 😀

Setelah itu, anak-anak muda memisahkan diri untuk pergi ke Safari Night. Hahaha. Kita dari situ jam 7.45, sementara Safari Night tutup tiketnya jam 9.00. Ga nyangka juga perjalanan ke Safari memakan waktu 1 jam. Jam 9 kurang sedikit, kita sampai di Taman Safari. Pas banget! Pengunjung terakhir. Kita pun naik kereta terakhir yang akan membawa kita mengarungi kehidupan para satwa. How lucky!

SAFARI NIGHT

Gue baru pertama kali ikut safari night. Gue pernah dtg ke Taman Safari beberapa kali tapi siang-siang. Safari night ini beda sama yang siang hari. Untuk masuk dikenakan biaya 150.000 per orang dan 15.000 untuk satu mobil. Kalo yang siang kita bisa naik mobil sendiri, yang ini kita harus naik kereta wisata buat muterin kompleksnya.

Kereta wisata ini cukup panjang dan tidak ditutup jendela. Agak ngeri juga ya gimana kalo diterkam sama hewan buas. Tapi setelah naik ternyata ada yang lebih mengerikan, hawa dingin yang menusuk badan. Tadinya gue udah bawa jaket tapi ketinggalan di Sari Wangi *begok lu cun!*. Ya udah terima nasip aja, gue dengan kaos dan celana pendek harus menahan hawa dingin Taman Safari. Di kereta ini juga ada guide-nya yang menjelaskan hewan-hewan yang kita lalui.

Ini dia bentukan keretanya. Ada binatang berseliweran. (photo: rajakamar.com)

Perjalanan dengan kereta ini menempuh waktu 45 menit. Di belakang kereta kita ada mobil penjaga yang siap siaga kalo terjadi apa-apa. Sepanjang jalan kita ketemu badak, rusa, macan, babi dan lain-lainnya. Hewan-hewan yang juga ada di Safari Siang. Bedanya, pas udah mau terakhir, kita dikasih visualisasi penangkapan hewan yang tidak bertanggung jawab. Kita kaya denger suara tembakan di mana-mana dan ngeliat api. Berasa ngeri deh. Wkwk. Pas safari night ini susah bgt buat foto karena gelap. Menyerah buat foto-foto, akhirnya nikmatin aja lah perjalanannya.

Habis turun dari kereta, kita diturunkan di Baby Zoo. Tempat kita bisa berfoto bersama hewan-hewan yang masih bayi. Adik gue berfoto dengan orang utan. Gue juga melihat penampakan macan putih, tapi ga tau bisa foto di sana apa ga. Karena dia lagi muter-muter di kandangnya dengan mengeram-ngeram seram siap menerkam. Hiiiy!

Keluar dari baby zoo, kita ke arena bermain di mana banyak wahana-wahana kaya di Dufan tapi versi gak seramnya hahahha. Di sana kita naik wahana yang muter-muter, naik bom bom car dan naik sejenis kora-kora. Tadinya kita pikir gerakan si kora-kora ini bakal maju mundur kaya di Dufan, taunya dia malah muter-muter. Rrrrr. Pusing lagi deh!

bom bom car yang sukses membuat gue celaka. kalo setirnya dilepas dia muter sendiri kenceng banget dan tangan gue kekilir pas mau nahan setirnya 😦

Waktu menunjukkan pukul setengah 11 malam. Kita pun pulang dan berniat mampir di Cimory. Sayangnya cimory sudah tutup dan kita malah mampir ke Starbucks hahahha. Gak berapa lama, kita pun pulang ke hotel, tapi beli martabak dulu! Hahahhaha *MAKAN TEROS!*

MINGGU, 28 JUNI

Hari ini diawali dengan makan breakfast di restoran yang bernama Pavilion. Satu kamar dapat 2, kalo mau nambah lagi dikenakan biaya 165.000++ per orang. Breakfastnya sendiri rasanya biasa aja hahaha. Jenisnya mayan banyak lah! O ya, di sini gue ketemu Yinski, temen SMA gue. Hahhahaha. Jauh-jauh ke Rancamaya, ternyata ketemu orang yang dikenal juga. Susah ya jadi anak gaul! *DIKEPLAK*

Habis makan, gue bengong bengong cantik di teras kamar yang menghadap ke kolam. Rasanya menenangkan banget. Ya ga tenang tenang amat sih, wong sambil mainan gadget. Hahhaha. Pokoknya gue suka deh acara bengong ngeliatin air dan orang orang lalu lalang. Rasanya betah seharian di situ 😀

Waktu check out pun tiba. Setelah mandi, gue beres-beres dan pergi dari situ. Kamipun mampir ke rumah nyokap di Sentul, kemudian makan siang di Pasar Ah Poong.

keluarga besar surono. keluarga dari pihak nyokap. kurang anak ke-3nya si eyang.

PASAR AH POONG

Pasar Ah Poong ini mirip sama Clarke Quay yang di Singapore, tapi versi KW-nya. Ada bentukan perahu gede banget, tempat food court berada dan depannya ada sungai yang juga gede bgt. Makan di situ, viewnya sungai deh. Secara view boleh lah, tapi secara makanan biasa aja. Pasar Ah Poong ini memiliki food court EAT & EAT, kaya yang di Mal Kelapa Gading.

pasar ah poong (photo: liburananak.com)

pasar ah poong (photo: liburananak.com)

Kemarin gue nyobain ayam bakar madu (yang ternyata kecil banget dan biasa aja), batagor dan siomay (rasanya juga biasa aja), pisang goreng (kok kaya tawar gtu ya), sama Teh Tarik Melaka (ini yang paling mending). Untuk harga, menurut gue sih cukup mahal ya, secara rasanya standar. Di sebelah Ah Poong juga ada Mang Kabayan, Ikkudo Ichi sama Carnivor Restaurant. Mungkin bisa juga makan di sini untuk rasa yang lebih pasti.

Habis dari sini, kita cus pulang ke Jakarta. Bye wiken! 😀

indonesia jawa bogorindonesiajawa barat Leave a comment

First time going abroad? Try Bangkok!

June 25, 2015 by Cuni Candrika

Habis dari Phuket (foto-fotonya bisa diintip di sini), gue pun ke Bangkok. Waktu itu gue sampai di Bangkok di hari terakhir di tahun 2011. So, gue bakal ngerayain tahun baru di sini. Bangkok sendiri kotanya menyenangkan, banyak kuil-kuil cantik dan harga barang/makanan di sini relatif murah. Gue ngerekomendasiin kota ini buat yang pengen nyobain ke luar negeri pertama kali dengan budget murah. Gue sendiri lebih prefer Bangkok daripada Singapore atau Kuala Lumpur. Waktu pas gue dateng, cuacanya panas banget. Meleleh!

GRAND PALACE

Tempat ini adalah tempat paling populer di Bangkok. Kalo googling Bangkok pasti yang paling pertama keluar adalah Grand Palace. Grand palace adalah komplek istana kerajaan yang juga menjadi tempat tinggal raja di masa lampau. Sekarang, Grand Palace masih digunakan untuk beberapa acara kerajaan. Untuk masuk ke sini, tidak diperkenankan menggunakan baju minim. Waktu itu gue pake celana pendek, disuruh ganti kain. Di sana disediain kain buat para wisatawan yang menggunakan kostum yang kurang sesuai.

CHAO PHRAYA RIVER

Di buku geografi, tempat ini terkenal banget hahahha. Sungai besar yang melintasi dan mengairi kota Bangkok. Di sungai ini kita bisa melihat Wat Arun, Grand Palace dan tempat-tempat terkenal lain di Bangkok. Jujur, sungai ini di bawah ekspektasi gue. Gue mengharapkan sungai yang bagus dan bersih. Tapi ternyata airnya agak coklat dan biasa banget hahhaha. Gue naik perahu yang melintasi sungai Chao Phraya. Kita mengarungi sungai sampai ke ujungnya dan sempat turun untuk melihat sebuah pasar kecil. Sayang, pas ke sana udah kesorean jadi cuma liat 1 perahu floating market.

IMG_1291
IMG_1318

BANGKOK AT NIGHT

Menjelang malam, gue muterin Bangkok, dari Chatuchak Weekend Market, trus keliling-keliling mall macam MBK dan Siam Discovery. Barang-barang di sini mayan murah si, ya ga beda jauh lah sama Jakarta. Hahahha.

NEW YEAR EVE AT CENTRAL WORLD

Setelah bertanya-tanya di mana tempat ngerayain malam tahun baru yang paling populer di Bangkok, kami menemukan Central World. Tempat ini rameeeee banget, bahkan jalan ke sananya aja crowded. Hahah. Ya wajarlah, tahun baru! 😀

IMG_1360

WAT PHO

Wat Pho ini disebut juga Temple of Reclining Buddha. Sesuai namanya, di sini ada patung Buddha Tidur guedee banget berwarna emas. Banyak bgt yang mau foto sama patung ini, tapi rada susah, secara panjangnya 43 meter. Jadi susah buat foto sama keseluruhan patung. Katanya, di kuil ini juga tempat lahirnya Thai Massage yang terkenal itu.

Perjalanan gue di Bangkok pun berakhir. Suatu hari, gue pengen ngejelajahin kota-kota lain di Thailand, kaya Chiang Mai, Chiang Rai, Lopburi, dan lain sebagainya 😀

asia thailand asiabangkokthailand Leave a comment

#DibuangSayang: Phuket, 2011

June 9, 2015 by Cuni Candrika

Sebelum gue punya blog ini, banyak tempat indah yang sudah gue jelajahi, sayangnya kisahnya tidak terekam dalam bentuk tulisan. Yang tersisa hanyalah kenangan dan foto. Daripada fotonya dibuang dan ditelantarkan begitu saja, mending gue jadiin postingan. Hahhaha. Untuk itulah postingan gue yang berupa foto dulu-dulu gue kasih hashtag #DibuangSayang.

Kali ini gue akan menampilkan foto gue waktu ke Thailand, akhir tahun 2011. Waktu itu gue liburan akhir tahun bersama keluarga, kami ke 2 tempat yaitu Phuket dan Bangkok. Here are some pics in Phuket!

IMG_0945

i forgot the beach name but it’s so crowded!

IMG_0991

the beautiful sunset

IMG_1020

the flying lantern

Gue ke Phi Phi Island waktu ke Phuket, kita ikut one day tour. Sayangnya saat itu bener-bener pas high season dan ruame banget sama turis, kapalnya mau menepi aja susah bgt. Bikin ilfeel deh pokoknya. Tapi pemandangannya emang bagus banget.

On the way to Phi Phi Island

On the way to Phi Phi Island

IMG_1047

Cakep ya!

IMG_1051

Banyak gundukan karst kaya di Raja Ampat

IMG_1054

Snorkeling with papa

IMG_1063

Me!

IMG_1088

The beautiful Phi Phi

IMG_1099

😀

IMG_1103

Clear waters

IMG_1147

another beach in Phuket

Habis dari Phuket, kita ke Bangkok!

asia thailand asiaphuketthailand 6 Comments

Situs Megalitikum Gunung Padang

June 4, 2015 by Cuni Candrika

Apa sih yang kebayang di benak kalian kalo mendengar kata situs megalitikum? Mungkin pelajaran sejarah di sekolah? Gw berkesempatan untuk mendatangi salah satu situs megalitikum tertua dan terbesar di Indonesia, Gunung Padang. Hari selasa tanggal 2 Juni gue ikut trip *lagi lagi* Rani Journey ke Gunung Padang di Cianjur. Wih kalo dibuat poin mungkin gue udah dapet ribuan poin kali ya kerjaannya ikut Rani Journey mulu. Hahaha. Harga one day trip ini adalah 185.000. Jam 7 kita kumpul di Plaza Semanggi untuk kemudian naik elf ke Cianjur. Gue pergi bareng temen kampus: Biyanto dan Erlyn serta temen les gue Nanda. Biyanto juga ngajak beberapa orang lagi, jadilah rame. Kita baru nyampe sana kira-kira jam setengah 1 siang karena kena macet di tol ciawi. Wew 5 jam di jalan! Sebelum ke Gunung Padang kita ke Stasiun dan Terowongan Lampegan untuk kemudian foto foto dan makan siang di sana. Terowongan ini konon kabarnya adalah terowongan tertua di Jawa Barat dan dibangun pada tahun 1879-1882. Sampai sekarang stasiun lampegan masih aktif dengan frekuensi kedatangan kereta 2 kali sehari dan menghubungkan Cianjur-Sukabumi.

lampegan1

Terowongan Lampegan. Gak berani masuk ke dalam situ, katanya serem dan ada kejadian aneh-aneh.

Niat banget nih ibu-ibu naik ke atas.

Stasiun Lampegan

Sehabis dari Lampegan kami langsung menuju Gunung Padang yang kira kira berjarak 6 km dari situ. Perjalanan menuju ke sana berkelak kelok, hanya bisa dilewati oleh 1 mobil besar dengan view sawah serta pepohonan yang menyegarkan mata. Kamipun sampai di Gunung Padang. Dari tempat parkir, kami harus berjalan menanjak kira-kira 10 menit menuju pintu masuk. Dari pintu masukpun terlihat anak tangga menjulang tinggi untuk melihat Gunung Padang. Kami harus menanjak kira-kira 30 menit dengan kemiringan 45-60 derajat dengan jalan berbentuk anak tangga yang tidak beraturan. Anak tangga ini mirip dengan punden berundak. Setelah beberapa kali berhenti akhirnya sampai juga kami di atas. Ternyata oh ternyata, untuk mencapai atas ada jalan lain yg lebih landai. Tangganya lebih tidak miring namun lebih banyak. Ternyata kami emang “dikerjai” disuruh naik tangga yang curam itu 😦

Ini tangganya masih belum nanjak banget, makin ke atas makin nanjak.

Ini tangganya masih belum nanjak banget, makin ke atas makin nanjak.

Sambil ngaso di atas kamipun diceritakan mengenai sejarah gunung padang oleh guide lokal. Jujur menurut saya guidenya terlalu berbelit-belit menjelaskannya. Hehe. Guepun mencoba mencari sejarahnya dari internet. Menurut wikipedia, gunung padang adalah situs megalitikum tertua di asia tenggara dengan luas 3 HA. Bahkan lebih luas dari candi borobudur. Gunung padang diketahui lebih tua daripada piramida di Mesir dengan umur ditaksir lebih dari 5000 tahun sebelum masehi. Situs ini adalah punden berundak dengan tujuan tempat pemujaan. Banyak sekali batu seperti menhir dan dolmen seperti yang suka ada di buku sejarah jaman sekolah dulu.

IMG_0092 IMG_0101

Di gunung padang ini, batu-batunya tidak tertata dengan baik, masih banyak berserakan, tidak seperti Macchu Picchu yang rapih (jaelah bandinginnya sama Macchu Picchu). Dalam bayangan gue sih lebih keren dari ini, tapi ini juga udah cukup bagus kok. Kamipun kemudian naik tangga lagi ke atas sekitar 5 menit untuk mencapai puncaknya. Dari sini, pemandangannya cukup bagus.

Gunung Padang dari atas

Gunung Padang dari atas

asiknya rame-rame!

asiknya rame-rame!

Setelah puas foto-foto, makan bakso, kemudian ngobrol-ngobrol, pukul 5 sore pun kami pulang. Kami kembali dengan menuruni tangga yang lebih landai. Walaupun anak tangganya banyak, tapi ini lebih landai dan teratur. Jaelah dari tadi aja naik begini, napa. Ga usah pake acara megap-megap kan? Hahhahha. Tapi gapapalah, mungkin emang lebih seru kalo curam.

tangga pas turun. landai banget kan?

tangga pas turun. landai banget kan?

Perjalanan pulang ke Jakarta sangatlah macet. Sampai-sampai di tengah kemacetan gue sempet menulis postingan ini. Hahaha. Kami mampir sebentar ke tempat oleh-oleh dan makan malam, dan kamipun sampai di Jakarta pukul setengah 12 malem.

Overall, gue seneng bisa ke Gunung Padang sama beberapa temen gue. Belakangan kan gue ngetrip cuma berdua, atau bahkan sendiri. Pengen rasanya jalan rame-rame sama orang yang lo kenal deket kaya kali ini 😀 😀

indonesia jawa cianjurgunung padangindonesiajawajawa barat 5 Comments

Gunung Bromo dan Air Terjun Madakaripura

May 22, 2015 by Cuni Candrika

Sepulangnya dari Kawah Ijen (baca di postingan sebelumnya), kami melanjutkan perjalanan ke Bromo. Kami sampai di penginapan bromo jam 7 malam. Setelah itu, kami makan malam dan beristirahat sampai kira-kira pukul 2. Ini pertama kalinya kami tidur di kasur dalam trip ini!

Pukul 2, gue pun bangun dan bersih2 sedikit. Kamipun bersiap-siap untuk kemudian naik jip ke Bromo. Satu jip berisi 8 orang. 2 orang di depan dan 6 orang di belakang. Untuk ke Bromo memang harus naik jip karena medannya cukup berat. Di jalan kita juga sempat kena macet karena ramenya jip yang ke sana. Akhirnya kami sampai juga di sana. Rencana kami untuk melihat sunrise di Penanjakan 1 gagal karena ramenya tempat tersebut. Kami akhirnya melihat sunrise dari Bukit Cinta. Keadaan malam itu sangat dingin, ditambah kami hanya diam dan menunggu sunrise muncul, tidak bergerak sama sekali. Gue sempet pengen pake masker kain kemarin biar mulut gue ga kedinginan, tapi karena bau belerang, gue pake syal aja buat nutupin mulut.

Akhirnya sunrise yang ditunggu-tunggu datang juga. Ini dia!

P1090857

It’s almost sunrise!

P1090859

Yeayy it’s sunrise!

Setelah mulai terang, kamipun langsung foto-foto di tempat itu. Pemandangannya spektakuler!

P1090890

The icon

Di atas awan

Puas foto-foto, kami kembali ke jip untuk melanjutkan perjalanan di spot lain di bromo. Kami ke savanna, bukit teletubbies dan juga pasir berbisik. Sayang, kami tidak mendaki untuk melihat kawah bromo, untuk menghemat waktu. Selain itu, pendakiannya juga ramai orang dan harus mengantri.

P1090922

Naik kudaa!

P1090923

Kudaaa!

IMG-20150518-WA0074

Bukit teletubbies

IMG-20150518-WA0079

Pasir berbisik

IMG-20150518-WA0098

Savanna!

IMG-20150518-WA0104

Sama bunga lavender

IMG-20150518-WA0109

IMG-20150518-WA0126

With jeep

Sepulang dari Bromo, kami kembali ke penginapan untuk beberes dan juga makan pagi menjelang siang alias brunch. Gue dan 6 orang yang lain berpamitan dengan yang lain untuk melanjutkan perjalanan ke Madakaripura. Sebenernya, madakaripura tidak masuk dalam paket trip ini, tapi karena gue udah sampe Bromo, sayang banget rasanya kalo ga ke Madakaripura. Gue pun bertekad harus ke sana bagaimanapun caranya. Ternyata, pihak Wuki Traveller bisa menyediakan mobil APV untuk ber-7 dan harus menambah 50ribu per orang. Tadinya APV ini memang digunakan sebagian peserta untuk kembali ke Surabaya. Lumayan banget Cuma nambah 50ribu termasuk tiket masuk, daripada harus sewa mobil!

Perjalanan ke Madakaripura memakan waktu 1 jam. Sepanjang jalan dari penginapan terlihat pemandangan pegunungan hijau yang memanjakan mata. Wuihh! Kamipun sampai di Madakaripura kira-kira pukul 12 siang.

Pemandangan sepanjang jalan dari penginapan

Pemandangan sepanjang jalan dari penginapan

Air terjun madakaripura dikisahkan adalah tempat bertapanya patih Gajah Mada. Untuk mencapai air terjun ini kami harus berjalan 30 menit. Tadinya jalannya lurus, tapi mendekati air terjun kami harus melewati bebatuan. Para pengunjung juga diharuskan memakai jas hujan karena akan melewati air terjun yang airnya membasahi tubuh layaknya hujan. Ada kebegoan yang terjadi di titik ini, gue yang sudah membawa jas hujan dari rumah lupa mengenakan penutup kepalanya saat melewati air terjun. Alhasil basahlah kepala gue dan airnya juga masuk ke badan. Sia-sia dah pake jas hujan!

Air terjun madakaripura sangatlah besar dan menawan. Di sekitarnya terdapat air terjun berbentuk tirai yang juga cantik! Ga nyesel deh pokoknya ke sana!

Air terjun madakaripura

Air terjun madakaripura

Air terjun madakaripura

Air terjun madakaripura

Air terjun berbentuk tirai di madakaripura

Air terjun berbentuk tirai di madakaripura

Kira-kira pukul 2 siang kami kembali dari air terjun tersebut. Gue dan beberapa orang yang lain mandi dulu karena kebasahan. Kemudian kita kembali ke Surabaya untuk pulang ke Jakarta. Kami mampir dulu ke tempat makan untuk makan malam dan ke toko oleh-oleh. Pukul 8 malam, gue sampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya, sementara yang lain ke bandara karena mereka naik pesawat. Jam 9 malam lewat, kereta pun berjalan. Beruntung, gue bisa duduk deket rombongan trip dengan menukar seat. Hehe. Malam itu rasanya panjang sekali, gue sempet ga bisa tidur sampe jam 3 pagi dan kelaperan. Gue mencari makanan di ruang restorasi dengan melewati banyak orang yang tidur di sepanjang jalan.  Maklum, gue waktu itu di gerbong 7.

Pukul 9 pagi, kamipun sampai di Jakarta dengan selamat. Terima kasih Surabaya dan sekitarnya! Bener-bener puas jalan-jalan di trip kali ini.

indonesia jawa bromoindonesiajawajawa timurmadakaripura 1 Comment

Perjuangan Mendaki ke Kawah Ijen

May 22, 2015 by Cuni Candrika

“Orang ma naik turun tangga biar kurus, lah ini buat liburan.” Begitu kira-kira kata temen gue waktu ngeliat perjuangan gue naik turun tangga kantor ke lantai 11 demi bisa fit saat ngedaki ke kawah ijen. Perjuangan naik turun tangga gue lakukan 2 bulan sebelum keberangkatan, alias bulan Maret. Awalnya masih rajin, tiap hari naik tangga, lama-lama berkurang hingga hanya 2 kali seminggu naik tangga. Mulai mendekati kepergian, gue mulai rutin lagi (hampir) tiap hari. Selain itu, gue juga ikut kelas aerobik/fitness 1-2 minggu sekali. Sulit ya, memang, membiasakan badan ini berolahraga, tapi demi kawah ijen semua gue lakukan!

Awal mula gue pengen ke kawah ijen, karena seorang teman, Sari yang sudah mengelilingi Indonesia, bilang kalo tempat terbagus yang pernah dia liat itu Kawah Ijen. Sejak saat itu, gue mulai suka googling dan liat-liat foto Ijen. Dari foto kawah biru toscanya, sampai foto blue fire. Buat yang belum tau, blue fire adalah api berwarna biru yang ada di dalam kawah Ijen, hanya bisa dilihat dini hari, dari jam 2-4. Blue fire katanya cuma ada 2 di dunia. Di Iceland dan Indonesia. Jika ingin melihat api lebih jelas, setelah mendaki selama 2 jam, kita harus turun lagi ke kawah selama 30 menit dengan kemiringan ekstrem agar bisa melihat si api biru. Banyak bule yang berburu api ini sampai ke kawah ijen.

Kesempatanpun datang saat gue melihat ada trip ke Ijen di pertengahan Mei, dan di trip itu juga ke Bromo. Sekalian, gue emang belum pernah ke Bromo dan pingin ke sana.

Setelah bermain di Baluran dan snorkeling di Menjangan (cek di postingan sebelumnya), gue sampai di pos awal pendakian ijen yaitu Paltuding kira-kira pukul 3 pagi. Setelah menunggu rombongan ngumpul, kita naik jam 3.30. Untuk menaiki kawah ijen kita harus menyiapkan baju hangat (karena suhu di sana luar biasa dingin sampai keluar asap dari mulut saya), alas kaki yang cocok untuk mendaki, senter dan yang paling penting adalah masker. Bau belerang di kawah ijen sangat menyengat, sehingga mengharuskan kita memakai masker. Gue agak galau, mau pake masker biasa atau gas mask. Secara gue baca di blog bule, mereka pada pake gas mask untuk faktor keamanan, tapi orang Indonesia kayanya lebih cuek bebek soal keselamatan. Gue sempet diketawain gara-gara mau pake gas mask. Akhirnya gue bawa aja 2-2nya. Masker kain biasa dan gas mask. Gue beli gas mask hanya 60.000 di web ini.

Rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok, kelompok pertama adalah kelompok yang ingin mengejar blue fire, sehingga mereka harus mendaki setengah berlari agar bisa sampai di kawah setidaknya jam 4. Ga mungkin dong gue ikut kelompok yang ini? Hahahha. Gue sendiri ikut kelompok tengah-tengah, namun di perjalanan jadi kelompok paling belakang. Hahhaha. Seperti sudah diduga, gue yang lemah dalam urusan trekking ini pasti paling belakang!

Gue di barisan belakang bersama dengan Tour Leader Eki, bersama dengan 5 orang yang lain. Kami semua lemah-lemah. Bahkan surprisingly ada yang lebih lemah dari gue hahahah *oops!*. Kami berhenti hampir tiap 5 menit sekali, untuk mengatur nafas dan istirahat. Namun Eki terus mengingatkan kami untuk tidak duduk, agar tidak susah lagi saat berdiri dan mendaki. Beberapa dari kami (termasuk saya) sempat ingin menyerah namun Eki terus berkata “Ayo, jangan nyerah, masa sudah sampai sini kok nyerah.” Gue pun berjalan dan terus berjalan. Suatu keuntungan bagi kami untuk mendaki dalam keadaan gelap, karena kami tidak melihat seberapa panjang dan seramnya jalur trekking yang kami lewati.

Separuh lebih perjalanan telah terlewati. Kami pun beristirahat sebentar di sebuah warung besar. Bau belerang sangat menyengat sampai pada titik ini. Gue pun memutuskan untuk mengganti masker kain dengan gas mask. Thanks God, sekarang bisa lebih bernafas dengan gas mask ini! Setelah beristirahat 15 menit, kamipun melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini lebih curam, tapi kami sadar di sekeliling kami ada pemandangan menakjubkan.

Pukul 5 pagi, setelah 2,5 jam mendaki (pendakian normal 2 jam), kami sampai juga di atas, kami berhenti untuk melihat jejeran gunung di atas awan. Omygod, kami berada di atas awan! Buat gue yang baru pertama kali naik gunung, ini pemandangan benar-benar menakjubkan. Luar biasa! Mungkin foto bisa lebih mengatakannya..

P1090797-1

amayzeeeeeng!

P1090800

sudut pandang lain..

P1090808

Gue di atas awaaan!

P1090794

The girl in the gas mask. Scary, huh?

Kami berfoto sejenak dengan pemandangan ini, untuk menunggu perginya kabut yang sedang menyelimuti kawah ijen. Setelah beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak, kawah ijen! Perjalanan menjadi lebih sulit karena bau belerang semakin menyengat. Bahkan gue mulai batuk-batuk! Waduh, ga kebayang gimana yang pake masker biasa. Akhirnya kamipun sampai di puncak kawah ijen! Sayang sekali, kabut tebal menyelimuti kawahnya yang berwarna biru tosca. Kami tidak bisa melihat cantiknya kawah ijen. Tapi gue udah bersyukur karena bisa sampai di sini dan melihat pemandangan yang menakjubkan. Bau belerang semakin menyengat dan sudah masuk paru-paru. Paru-paru pun terasa sesak. Saat itu, blue fire sudah tidak ada, karena kami kurang pagi sampai di sana.

P1090814

Kawah ijen yang tertutup kabut

P1090822

Gue lagi nahan nafas!

P1090827

Ruamenya kaya pasar!

Teman-teman yang sampai di sana jam setengah 5 sempat turun ke kawah dan melihat sisa-sisa blue fire. Ada 1 orang yang berhasil sampai kawah pukul 4.15 dan dia berhasil mendapatkan foto blue fire. Wow, luar biasa sekali semangatnya! Orang yang sama juga sempat menunggu di atas sampai kabut hilang. Gila dah! Buat mereka yang turun ke kawah, mereka bisa melihat biru tosca-nya ijen, karena bisa melihat dari sudut pandang yang tidak dikelilingi kabut. Sementara kami yang tidak turun, harus cukup puas memandangi kabutnya saja. Dari cerita teman saya yang turun, medan untuk turun ke bawah sangat terjal, apalagi pas naik ke atasnya lagi, beuh, katanya sih kemiringan hampir vertical. Kebayang betapa bahayanya kalo turun ke kawah.

Blue fire yang berhasil diambil sama anak yang sampai kawah jam 4.15 (Photo by Yogi)

IMG-20150517-WA0021

Sisa-sisa blue fire. Dan itu disekelilingnya adalah belerang (Photo by Rina)

IMG-20150517-WA0019

Kawah biru tosca yang berhasil diambil kalau turun ke bawah (Photo by Rina)

Biru toscanya kawah ijen dari Mbah Google (Photo from ramadhanadi.wordpress.com)

Eki mengajak kami untuk cepat-cepat kembali pulang karena asap belerang menggila dan anginnya ke arah pengunjung. Kata dia, baru kali ini dia ngerasain asepnya separah ini. Wow! Setelah berfoto-foto kami pun kembali. Perjuangan banget foto di situ ga pake masker, karena langsung menghirup belerang. Gue sampai ga bisa senyum sangking nahan nafasnya. Huhu.

Perjalanan turun biasanya lebih mudah, tapi ini tak semudah itu. Kami harus menahan berat badan saat turun. Saat turun, hari sudah terang dan kami bisa melihat dengan persis trek yang tadi kami lalui. Gila, ternyata trek pendakiannya jauuuuuuuuh banget dan cukup miring. Gue yakin, kalo gue pas ndaki ngeliat trek-nya pasti jadi jiper duluan dan ga jadi daki. Untung pas gelap!

Sesampainya di bawah, kami pun sarapan dan kemudian melanjutkan perjalanan ke pemandian air panas. Menurut saya sih tempatnya biasa aja. Tapi ya lumayanlah buat yang mau menghangatkan (atau memanaskan?) kaki dengan air belerang.

Pemandian air panas ijen

Pemandian air panas ijen

KISAH SANG PENAMBANG BELERANG

Selain cerita pendakian, ada juga cerita lain yang kami temui. Cerita sang penambang belerang. Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan bapak-bapak yang mendaki ke ijen untuk mengambil belerang di kawahnya. Mereka mengangkut belerang sebanyak 80 KG. Mereka harus menaiki medan yang terjal dari kawah untuk kemudian turun ke bawah. Gila! Kita aja orang biasa ga bisa ngangkut itu belerang sambil berdiri, ini mereka ngangkut belerang sambil mendaki. Dan lebih gilanya, mereka menjual belerang tersebut dengan harga 900 per kg. 80 kg cuman dapet 70ribu!! Gila, perjuangan mereka mendaki dengan asap belerang Cuma dihargai segitu. Dan banyak dari mereka yang hanya menggunakan masker biasa, tidak menggunakan masker yang layak. Gila ya, bersyukur banget kita yang kerja biasa ga perlu menghadapi maut seperti itu dan mendapatkan upah yang jauh lebih layak. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

Salah satu penambang belerang

Salah satu penambang belerang

Simak cerita selanjutnya di Bromo, di sini.

indonesia jawa indonesiajawajawa timurkawah ijen 5 Comments

Taman Nasional Baluran dan Pulau Menjangan

May 21, 2015 by Cuni Candrika

Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu, 14 Mei 2015! Bukan, bukan karena hari itu adalah hari ulang tahun gue, tapi gue akan trekking ke Kawah Ijen, Jawa Timur. Gue ikut tripnya Wuki Traveller (1.100.000) dengan destinasi Baluran-Menjangan-Kawah Ijen-Bromo plus gue mau ke Madakaripura. Di postingan yang ini gue akan ceritain dulu perjalanan gue ke Baluran dan Menjangan.

Pukul 2 siang gue menaiki kereta ekonomi AC Kertajaya (90.000) dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Pasar Turi Surabaya. Gue tadinya bakal berangkat sama Dea, tapi karena dia mendadak ga bisa, ya sudahlah gue berangkat sendiri. Toh di Surabaya juga bakal ketemu Maria, temen trip Derawan gue. Aslik ya, duduk tegak di kereta selama 12 jam itu rasanya bosen banget, mati gaya, mana ga bisa ngobrol juga sama sebelahnya. Tapi untungnya gue bisa nyelonjorin kaki sih, karena depan gue kosong. Hahaha. Di perjalanan di kereta gue juga sempat ditemani oleh radio dakwah dalam bahasa Jawa, pembahasannya lucu sih. Hahaha.

Setelah melalui perjalanan panjang, 1 nasi goreng, 1 pop mie, 1 roti dan 1 botol aqua besar, akhirnya sampailah juga gue di Surabaya. Jam setengah 2 pagi! Di situ gue bertemu rombongan gue dengan total 18 orang. Dan juga bertemu Maria dan temannya yang bernama Rina. Di stasiun sempet ketemu juga sama Desi, teman di Sastra Prancis bersama pacarnya, dia ikut trip Wuki juga tapi beda rombongan. Fyi, trip Wuki yang ke ijen ini ada 3 rombongan dengan jumlah 18 orang tiap 1 rombongannya. Ada satu lagi yang paling kaget, gue juga ketemu salah 1 temen kursus gue di IFI, Dinda. Mungkin dia satu-satunya temen yang gue liat di hari ulang tahun gue itu (maklum, seharian ga ketemu temen dan keluarga). Itu juga gue liatnya cuma sekilas, pas dia ke WC di kereta. Eh pas turun, ternyata dia ikut ke ijen juga bareng rombongan Wuki yang lain. What a coincidence! Hahaha.

Setelah bertemu dengan teman-teman serombongan, kamipun pergi menaiki ELF menuju Baluran. Beruntung, gue dapet tempat duduk yang di tengah pas di belakang supir. Gue jadi bisa nyelonjorin kaki. Hahahah! Oiya, di trip ini juga ada 2 bule dari Inggris, satu ngajar di EF Indonesia, satu lagi bekas pengajar di EF. Mereka dibawa oleh seorang staff EF juga, orang Indonesia.

TAMAN NASIONAL BALURAN

Setelah tidur-tidur ayam (Fyi, selama trip 3 hari ini kami tidur di mobil, cuma tidur di kasur sekali waktu sebelum ke Bromo), kami sampai di Taman Nasional Baluran, Situbondo jam 7 pagi. Harga tiket masuk (ini udah include di trip) seharga 15000, tapi kalo buat bule jadi 150.000. Buset dah, bedanya 10 kali lipat, mak! Di baluran ini katanya mirip sama afrika. Sepanjang jalan yang kelihatan adalah savana, kami juga melihat beberapa rusa dan banyak monyet!

Setelah sarapan pagi, kami naik ke Menara Pandang di Baluran. Tangganya cukup curam dan hampir vertikal. Dari menara ini kita bisa melihat seluruh baluran, rumput-rumput hijaunya yang luas membentang, tapi sayang kami tidak melihat satu hewan pun dari situ.

Taman nasional Baluran dari menara pandang

Gunung ini namanya juga baluran

Setelah turun dari Menara Pandang, kami jalan-jalan dan juga foto-foto di savana. Apalagi kerjaan kita kalo ga foto-foto, bukan?

P1090695-1

P1090708

nice view, isn’t it?

P1090698

monyet-monyet nakal

P1090701

tanduk banteng

P1090752

Puas foto-foto, kita ke Pantai Bama yang terletak dekat dari Baluran. Pantainya sih biasa aja, tapi ada satu cerita di sini. Kaki gue kepentok beton gara-gara ngehindarin monyet-monyet di sini. Sampai sekarang ada bekas luka bulet gede di lutut kiri gue. Bukan karena snorkeling atau hiking, tapi karena ngehindarin monyet! Zzz. Monyet di sini nakal, temen gue yang lagi minum jeruk diambil sama monyet, terus dibuang airnya. Hahahhaa.

P1090738

Kok banyak sampahnya?

P1090743

Selepas dari Baluran, kami kembali ke kota untuk Sholat Jum’at terlebih dahulu. Tapi anehnya, jam setengah 12 siang soljum-nya udah bubar. Lah? Kok aneh? Masa ngikutin waktu Indonesia Tengah? Hmmm. Akhirnya pada sholat dulu di pom bensin. Setelah itu kita ganti baju karena mau snorkeling ke Menjangan.

PULAU MENJANGAN

Pulau Menjangan terletak di Bali Barat dan merupakan salah satu spot snorkeling terbaik di Bali. Dipikir-pikir ini trip ambisius juga ya, bisa-bisanya mampir di Bali! Hahahha. Untuk ke Menjangan, kita naik perahu dari Pantai Watudodol, Banyuwangi. Saat itu jam 2 siang dan ombak terlihat begitu kencang, sampai-sampai perahu yang mengangkut kami tidak bisa menepi ke pantai. Setelah 1 jam menunggu, perahunya berhasil menepi tapi ga menepi-nepi amat. Kita masih harus bersusah payah ngelewatin air untuk naik ke kapal tersebut.

Sepanjang jalan, ombaknya pun kencang luar biasa. Gue sampai berpikir lebih baik ga usah dipaksain daripada kenapa-kenapa. Sepertinya memang pilihan yang salah ke Menjangan di sore hari. Harusnya pagi. Tadinya di jadwal memang mau pagi, tapi karena mengejar SolJum, jadilah dituker sama Baluran jadwalnya. Baluran jadi pagi dan Menjangan jadi sore. Eh ternyata SolJum-nya juga ga kekejar. Wek wew..

Di jalan kita sempat bertemu dengan sebuah Pura di Pulau. Sangat unik menurut kami. Ga berapa lama kemudian, setelah sejam, kamipun sampai di spot snorkeling pertama! Karangnya banyak banget plus ada ikan warna-warni di atasnya pokoknya kece deh! Spot snorkeling kedua pun ga kalah kece. Sayang, di spot kedua ini banyak bulu babi sehingga musti hati-hati pas lagi snorkeling.

Pura di Pulau Menjangan

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Menjangan underwater (Photo by Wuki Traveller)

Kami kembali dari snorkeling saat hari sudah mulai sore. Saat sampai di dekat pantai pun hari sudah gelap. Sangking ombaknya kenceng banget, kejadian lagi seperti kita mau berangkat, yaitu nunggu di laut sampai ombaknya mereda. Dan perahu yang mau menepi juga musti ngantri satu per satu, ga boleh bersamaan. Ada kali nunggu di kapal sambil muter-muter selama setengah jam di kegelapan malam. Di sinilah kesialan mulai terjadi, gue yang basah kuyup habis snorkeling, terombang-ambing di perahu kemudian mabuk. Rasanya parah bgt, mabuk sambil berasa mulai masuk angin. Tak lama setelah temen gue muntah, gue pun akhirnya muntah juga! Huhuhuhu. Setelah itu kita pun bisa turun, bukan di tepi pantai, tapi masih di laut. Air kira-kira seleher kita. Gue dengan life jacketnya disuruh berpegangan pada tali sampai ke pantai. Di setiap setengah meter ada bapak-bapak yang bersiap mengangkat kita untuk diestafet dan diberikan ke depannya. Jadi rasanya itu kaya dilempar-lempar di lautan. Gila dah! Barang-barangpun disuruh ditinggal di kapal karena sangat sulit membawa barang bersama kita. Setelah sampai di daratan dan kedinginan kami pun mencari tempat mandi. Tak sabar menunggu kamar mandi yang sudah diantrikan oleh banyak orang, kami pun dibawa untuk mandi di rumah penduduk. Dan, ke rumah penduduknya itu lewat jalan raya. Jadilah gue dengan celana renang pink super pendek, berjalan di jalan raya! Rrrr.. Setelah sampai di rumah penduduk, kami pun mandi, ber6! Hahahhahaha. Rekor mandi bareng terbanyak dalam sejarah hidup gue. Mana semuanya baru kenal hari itu. Hahahhaa. Epic dah!

Usai mandi, kami pun menunggu yang lain dan bersiap untuk melakukan perjalanan ke Kawah Ijen..

Simak postingan selanjutnya di kawah ijen, di sini.

bali indonesia jawa balibaluranindonesiajawajawa timurmenjangan 6 Comments

Bertemu Nemo di Pahawang

May 6, 2015 by Cuni Candrika

Doing trip with totally strangers: checked.

Di kamis malam yang cerah tanggal 30 April 2015, gue memberanikan diri untuk ikutan trip sendirian ke pahawang. Lagi2 gue ikut Rani Journey hahahaa (Rp 450.000, meeting point Pelabuhan Merak). Setelah ditolak sm beberapa orang buat jalan ke pahawang, akhirnya gue memutuskan untuk pergi sendiri. Alasannya simpel: kalo nunggu ada temen dulu bisa2 gue ga pergi2. Toh di sana juga pasti bakal dapet temen. Mungkin ini bisa jadi latihan buat bener2 doing solo trip nantinya hahahaha.

Perjalanan gue dimulai pukul setengah 6 sore. Gue menunggu busway ke arah slipi jaya untuk naik bis merak dari situ. Busway ini lamanya ampun2an. Gw nunggu selama sejam baru dapet. Begitu sampe slipi jaya, gue ke toilet dulu. Kemudian gue keluar lagi nyari bisnya. Eh itu bis lewat di depan mata gue. Ga keburu ngejarnya. Mana kosong lagi. Yasudahlah, karena dr yang gue baca dia ada stgh jam sekali, gue memutuskan untuk makan dulu. Habis makan gue duduk manis lagi di halte, nunggu bis. Ga brp lama bisnya muncul. Horee! Langsung lah gue masuk dan thanks god, dapet duduk! Itu adalah seat terakhir di bis itu. Ga kebayang kalo musti berdiri selama 3.5 jam ke merak. Adapun ongkos bis Merak adalah 30.000. Gue duduk paling belakang dan sempit2an diantara 2 bapak2. Ternyata bis ini ada wcnya. Cenggih! Cucok buat gue yang hobinya beser. Gue pun sempat tertidur di bis. Bangun2, eh pundak gue udah disandarin bapak2 di sebelah kanan yang terlelap. Pengen ngebangunin tapi ga enak. Yaa untungnya ga brp lama dia sadar dan bangun sendiri. Hahahhaha. *coba kalo cowo ganteng yak?*

Begitu sampe di serang, mulai banyak yang turun dan orang2 yang tadinya berdiri udah bisa pada duduk. Jam stgh 11 pun gue udah sampe pelabuhan merak. Ternyata lebih cepat dari yang dibayangkan, kurang dari 3 jam! Sampe di merak gue menjalani ritual ke wc dulu plus beli roti biar ga kelaparan. Gue nunggu tour leader yang namanya koheng di sana. Harusnya kt ketemu jam stgh 12, tapi dia baru dtg jam stgh 1 lewat. Katanya sih mobilnya mogok. Habis ketemu koheng, gue mulai kenalan sama peserta2 lainnya. Banyak bgt yg surprise gue pergi sendiri hahahaa.

Setelah menunggu lagi, kita pun naik kapal ke merak. Gue dan bbrp org lain masuk ke ruangan vip. Mayan lah di situ duduknya enak, bisa nonton tipi plus ada ac ala kadarnya. Kita musti nambah 8 ribu buat duduk di situ. Jam menunjukkan pukul stgh 3 dini hari. Tapi kok kapal belum gerak juga. Gue sm tmn2 baru berasa ini kapal ga gerak2, tapi begitu nanya ke awak kapalnya katanya ini kapal udah jalan dari jam 2 kurang 10. Hahahah. Ternyata emang ga berasa kalo udah jalan. Bagus deh! Perjalanan selama 2 jam lebih itu gue habiskan dengan tidur sambil sesekali nonton film yang diputar.

Sekitar jam 4 kita sampai di bakauheni. Masih membutuhkan dua jam lagi perjalanan darat untuk sampai di dermaga ketapang, tempat kita naik perahu ke pahawang. Kalo dibandingkan dengan perjalanan ke kiluan, perjalanan ke ketapang ini jauuuuuh lebih singkat. Ke kiluan butuh berjam2 dengan kondisi jalan yang super jelek dan ngebuat kita loncat2 di mobil. Sesampainya di ketapang kita ganti baju dan cuci2. Siap2 buat snorkeling. Di ketapang ini kita digabrukin di 1 rumah penduduk bareng trip2 lain juga buat makan dan ganti baju. Crowded bgt dah itu tempat.

Dari dermaga ketapang kita mulai snorkeling keliling Pahawang. Kita sempet ke homestay dulu buat nurunin ransel, karena perahunya emang crowded banget dan takut kelebihan muatan. Perhentian pertama adalah snorkeling di Pulau Balak. Snorkeling di sini lumayan, banyak ikan biru kecil-kecil plus karang warna putih.

Setelah itu kami makan siang di Tanjung Putus. Pantainya kece bangett! Warna laut gradasi biru muda-biru layaknya pantai-pantai cantik di Endonesa tercinta. Yang paling epik adalah di sini kita makan siang nasi padang! Bukannya makan seafood gtu ya. Hahaha. Jadilah kita makan nasi padang sambil ngeliatin laut.

Makan nasi padang sambil ngeliatin view ini!

Makan nasi padang sambil ngeliatin view ini!

Tanjung Putus

Habis itu kita snorkeling lagi! Kali ini nama tempatnya Jelarangan. Jeng jeng jeng! Begitu masuk laut beuhh pemandangannya bagus banget. Jadi banyak coral yang dibudidayain gitu di situ, plus ada tulisan “Pulau Pahawang Wisataku”. Sebenernya tulisan itu ngeganggu sih kalo menurut gue. Jadi bikin tercemar wkwk. Trus di situ kita juga liat berbagai macam makhluk laut dari soft coral warna-warni, nemo sampai anemon ungu! Yang paling bikin gue kaget adalah si anemon ini. Kereeeeen banget. Dan dia ada di pahawang! *oke gue akui gue agak underestimate pahawang hahahaha*. Sayang gue ga bisa eksplor lautnya lebih banyak, karena ombaknya kenceng bgt. Kalo pake life jacket rasanya kaya mau muntah kebawa arus, sementara kalo life jacketnya dipegang doang di depan, gue jadi ga jalan karena ngelawan arus. Sementara gue ga pake fin. Dan gue ga berani kalo lepas life jacket full. Hahahhaa. Baru kali ini gue pikir kalo fin ada gunanya, biasanya kan gue pake booties aja, karena faktor kenyamanan.

Underwater life (Photo by Paskal)

Here it comes, nemo! (Photo by Paskal)

4

Anemon aaaaa! I love this! (Photo by: Paskal)

Habis snorkeling kita main2 lagi ke pantai, kali ini ke Kelagian kecil. Pantai yang ini juga cukup bagus, walaupun masih kalah sama Tanjung Putus. Ga jauh dari situ, kita snorkeling lagi. Bawah lautnya ga sebagus di Jelarangan, tapi oke lah! Banyak ikan warna warni.

Pulau kelagian kecil. Yuhuu!

Kelagian Kecil (Photo by Paskal)

Habis itu kita balik ke homestay buat mandi dan makan malam. Pas mau tidur, ternyata tidurnya banyak yang ngemper gitu di depan kamar. Perasaan gue ikut trip Rani bbrp kali pasti dapat kamar deh, 1 kamar ber5 gitu. Tapi yang ini cuma beralaskan tikar dan dijejerin satu2, yasudahlah nikmati saja. Selain itu, kamar mandinya cuma 1. Kebayang deh, belasan orang ngantri mandi begitu lama. Dan harus nimba dulu. Hahahha.

Keesokan harinya, hari Sabtu, habis makan pagi kita main ke pulau Pahawang Kecil. Pulaunya bagus. Di pulau itu juga ada resort orang Prancis. Wow, orang bule emang tau aja ya tempat bagus di Indonesia. Langsung dibuat resort sama dia. Tapi uniknya, resort ini ga disewain tapi dijadiin resort pribadi sama dia. Hmm..

Sama temen-temen baru di Pulau Pahawang Kecil

Ga jauh dari situ, kita snorkeling lagi. Kita juga sempat snorkeling terakhir kalinya di Cukubedil. Pemandangan bawah lautnya cukup oke lah. Gila juga ya dipikir2 udah snorkeling 5 kali dari hari pertama. Hahaha. Ini memang trip snorkeling! Sayang yang duduk di kapal aja tapi ga nikmatin bawah lautnya..

Setelah makan siang (yang tidak include di trip), kita balik ke Ketapang. Setelah itu, kita mampir dulu makan di Bakso Sony dan mampir ke pusat oleh-oleh. Tadinya mau ketemu Devi si gadis Lampung, tapi waktu tidak memungkinkan. Hiks. Sekitar pukul 6 kita naik kapal ke Merak. Kali ini kita duduk di ruangan eksekutif dengan nambah 11.000. Ruangannya di bawah, jadi agak berasa goncangannya. Sebenernya ruangan ini bagus, banyak sofa-sofa gtu, plus kita dapet hiburan live music (Bahkan ada momen dangdutan bareng! Hahahaha), tapi sayang ac-nya ga gitu berasa, dan dari tempat gue duduk rasanya puanaaaaas banget! Huhuhu. Setelah 2.5 jam perjalanan, sampailah juga kita di pulau jawa lagi, di Pelabuhan Merak. Dari situ gue nebeng mobil temen yang ke Kelapa Gading. Senangnya nemu temen yang kebetulan ke sana. Hihi. Dan gue pun sampe rumah pukul 12 malam…

Oke dah, sampai jumpa 2 minggu lagi di petualangan yang sudah saya tunggu-tunggu! Hahahhaa.

Ternyata ikut trip sendirian itu asik, bisa ketemu teman-teman baru, tapi juga bebas ngelakuin apa yang kita mau.

Notes: For more beautiful pictures, see my travelmate blog, Paskal in here. 

indonesia sumatera indonesialampungpahawang 6 Comments

Surga Itu Bernama Raja Ampat

March 27, 2015 by Cuni Candrika

Siapa yang tak kenal Raja Ampat? Hampir semua orang tahu kalau tempat itu adalah tempat terindah di Indonesia. Tujuan para traveler ataupun backpacker. Tak pernah terbayang rasanya gue menjejakkan kaki di sini. Pada akhir tahun 2012, nyokap gue mengajak tahun baruan di tempat yang anti mainstream, yaitu Raja Ampat. Hahhaa. Tempat ini memang bukan family destination, malah lebih ke backpacker destination, karena medannya yang cukup berat. Tapi emang keluarga gue keluarga metal, seperti kata mantan bos gue, “Gila lo ya ke Raja Ampat sama keluarga lo. Kalo jaman dulu tuh ya suka ada jargon ‘Pergi aja sana lu sama keluarga lu yang metal-metal!’ itu cocok banget buat lo dan keluarga lo.”

Perjalanan menempuh sebuah surga memang sangat berat *apalagi surga yang beneran yak?*. Gue transit 3 kali naik pesawat sebelum akhirnya sampai di Sorong, Papua. Gue pergi naik Sriwijaya Air, tiket termurah untuk ke sana, waktu itu harganya 4 juta PP. Gue sempet transit di Jogja, Surabaya dan Makassar. Gila dah, kayanya itu transit terbanyak sepanjang hidup gue. Setelah mengalami perjalanan yang sangat melelahkan, sampai juga kita ke Sorong. Bandara Dominus Eduard Osok (DEO) ini super kecil. Bener-bener ga keliatan kaya bandara. Denger-denger sih waktu itu lagi dibangun bandara yang lebih besar, ga tau juga sekarang udah jadi apa belum.

Kota Sorong ini cukup kecil. Gue cukup familiar sama nama kota ini karena kakek gue pernah tinggal dan kerja bertahun-tahun di sini. Sorong ini terkenal dengan tambangnya dan ada Pertamina di sini. Kakek dan nyokap kerja di sana jadi suka bolak balik bahkan tinggal di sini. Sayang ya, dulu Raja Ampat belum terkenal. Coba kalo udah, kakek gue pasti seneng hihi. Pas ke Sorong ini kita juga sempet ke rumah dinas kakek gue. Hahhaa. Dari luar sih besar. Kita juga melihat pemandangan kota Sorong dari atas bukit.

kota sorong dari atas

kota sorong dari atas

Setelah bermalam di kota Sorong, kami pergi ke Pelabuhan Waisai untuk menuju Raja Ampat. Setelah sampai, kami pun menuju ke penginapan yang sudah dipesan nyokap. Waktu itu, kita dapat penginapan yang cukup sederhana dengan view laut. Bahkan penginapannya pun dibangun di atas laut. Kalo malem-malem lagi tidur gitu berasa diombang-ambing. Penginapan ini harganya cukup terjangkau karena fasilitasnya terbatas mungkin juga karena yang punya itu temennya nyokap. Harganya 500 ribu semalam untuk 1 cottage sederhana (2 kamar) sudah termasuk makan 3x sehari. Kita juga bisa nyewa perahu langsung di sini. –> CP Mbak Kiki (Pin BB 512f0c17). Kita melihat beberapa resort mewah sepanjang perjalanan, tapi sayang kita ga nginep di situ. Hahahha.

Sunset di malam pertama di Raja Ampat

Sunset di malam pertama di Raja Ampat

Berikut tempat wisata yang kita kunjungi selama di sana. Karena kita ga ikut tur atau trip, jadilah kita kemana-kemana berempat. Sepi banget. Seneng banget rasanya kalo lagi papasan sama orang di laut, dadah-dadah gitu kita. Hahaha.

Teluk Kabui

Sepanjang jalan kita melihat gundukan pulau karst yang berbentuk setengah lingkaran. Begitu juga ketika sampai di sana. Teluk kabui ini disebutnya versi kecil wayag. Mirip kaya wayag tapi warnanya lebih ke hijau, ga kaya wayag yang punya warna biru gradasinya cantik.

Gundukan pulau karst

Memasuki Teluk Kabui

11

Teluk Kabui

Pulau Urai

Gue ga bisa cerita banyak soal pulau ini, udah lupa soalnya hahahha. Liat gambarnya aja yak!

15

Perjalanan menuju Pulau Urai

Pulau Urai

17

Wayag

Tadinya ikon yang ada di foto-foto ini sempat ga masuk itinerary kita. Cuman karena gue dan adek gue memaksa untuk ke sana jadilah kita pergi. Ya iyalah, udah jauh-jauh ke Raja Ampat masa ga ke Wayag? Gila aja. Dan selama di sini, belum ada tempat yang bisa dibilang wow banget, jadi kita harus pergi ke sini, pokoknya harus. Buat nyewa perahu dari penginapan ke sini, lumayan mahal satu perahu 7 juta. Padahal itu cuma perahu doang, gimana kapal. Hahahah.

Memasuki wilayah wayag, warna air mulai berubah menjadi gradasi biru muda-biru tua, luar biasa deh warnanya. Banyak banget batu karst yang disekelilingnya ada warna laut biru muda. Begitu agak jauh dari karst, barulah biru tua. Pokoknya amazing deh, gue sampai bilang gini waktu liat yang namanya wayag, “Tuhan, ini yang namanya surga ya?”

Pantai Wayag

Pantai Wayag

Ah-mazing!

Gue dan cito memutuskan untuk trekking ke atas, sementara mama dan papa udah ga kuat dan memutuskan menunggu di bawah. Trekkingnya luar biasa berat, apalagi kita cuma pake sandal jepit dan ga ada persiapan apa-apa. Kita trekking 30 menit, di atas batu karst dengan kemiringan 60 derajat. Sangatlah berat buat gue yang jarang olahraga. Akhirnya gue sempet dibantu sama guidenya, bahkan badan gue didorong dari bawah. Hahhaa. Luar biasa dah!

Setelah 30 menit, akhirnya sampai juga kita di atas. Pemandangan paling menakjubkan selama hidup gue. Mungkin emang benar kalo ada yang bilang “Surga itu Bernama Raja Ampat.”

Ini dia tampak atasnya, subhanallah!

Ini dia tampak atasnya, subhanallah!

Sama gue! Hahaha.

Tips dari gue, kalau pulang dari Wayag jangan kemaleman, karena ga ada penerangan sama sekali. Kepulangan gue ke penginapan disambut hujan lebat, mana gelap dan perahu seadanya. Kita cuma tutupan pake jaket doang. Kiri kanan banyak batu karst. Guide gue menyorotkan senternya ke segala arah agar tidak bertabrakan dengan karst-karst tersebut. Luar biasa deh malam itu!

Liburan di Raja Ampat yang cuma 3 hari itu memang sangat singkat, tapi menimbulkan kesan mendalam. Gue agak nyesel kenapa ga lebih lama lagi di sana. Bisa lebih banyak yang dieksplor. Dan gue juga menyayangkan kenapa gue ga bisa diving. Karena katanya di sana itu surganya diving!

Selain di daerah Wayag, dari yang gue baca tujuan turis itu juga ada di Misool. Moga-moga kapan-kapan bisa ke sana! Sekarang sudah banyak trip backpacker yang pergi ke raja ampat. Semakin mudah ke sana. Tinggal nabungnya aja ya.

Total pengeluaran gue selama 5 hari 4 malam dari berangkat sampai pulang kira-kira 10 juta per orang (sudah termasuk tiket). Itu dengan gaya backpacker ya! Pokoknya kalo ada uang, kudu wajib harus ke sana ya, guys!

indonesia papua indonesiapapuaraja ampat 7 Comments

Trip to Ujung Kulon

March 17, 2015 by Cuni Candrika

Satu bulan satu trip. Itu yang pengen gue lakuin di tahun 2015 ini. Hahaha. Setelah ga kemana-mana (yang berbau alam maksudnya) di bulan Februari, gue pergi ke Ujung Kulon di bulan Maret ini. Gue kali ini pergi bersama temen kampus gue, Dea. Dan lagi lagi ikut Rani Journey! Hahahha. Harga tripnya 675ribu (belum termasuk alat snorkel 50ribu).

Sebelum gue ceritain perjalanan gue, gue mau ceritain kejadian nyeremin yang dialami Dea sebelum berangkat ke Ujung Kulon. Jadi dia pergi dari Depok naik kereta ke Stasiun Sudirman. Dia pun naik 640 dari Stasiun Sudirman menuju Plaza Semanggi, tempat meeting point kita. Di jalan tiba-tiba ada 2 orang laki-laki naik dan memaksa pengemudi membelokkan arah ke tempat gelap. Setelah sudah sepi dan entah ada di mana, metro mini pun dipaksa berhenti dan terlihat 5 preman lain muncul. Totalnya ada 7 orang. Supir dan kenek dipaksa keluar dan pintu pun ditutup dari luar. Beberapa preman terlihat membawa pistol dan samurai kecil. Mereka pun berteriak, “Gue ga mau ngambil duit lo semua, gue cuma ada urusan sama ni supir. Kalian jangan berani-berani telepon, atau gue sayat-sayat muka lo pada”. Kebayang gimana mencekamnya itu kejadian. Sementara gue nelpon-nelpon Dea mulu karena udah telat dan itu handphonenya getar-getar mulu. Di luar si supir dan kenek pun digebukin sampai berdarah-darah. Di dalam total ada 7 penumpang, 4 wanita (termasuk 1 ibu hamil) dan 3 pria. 3 pria ini berinisiatif menahan pintu untuk membiarkan cewek-cewek keluar. Akhirnya para wanita pun berhasil lari kabur lalu kemudian naik taksi. Para preman sempat mengejar tapi untungnya ga kekejar dan mereka ga nembak. Sementara itu, Dea ga tahu nasip 3 pria yang menahan pintu. Semoga mereka selamat. Dea sampai di Semanggi dengan muka pucat. Dia menceritakan semua kejadiannya ke gue dan kita pun melapor polisi (no telp polisi: 112, catet!). Semoga pak polisi bisa menemukan para preman tersebut dan para penumpang yang lain selamat. We pray for them!

Setelah Dea datang, pukul stgh 10 malam kami berangkat ke Ujung Kulon. Kami sempat diliatin para peserta yang lain karena telat. Hahaha. Maap ya guys, ini emergency! Jadi mikir kadang kalo sebel liat orang lain telat, mungkin aja ada alasan di balik telatnya itu. Kami naik bus AC berukuran sedang dengan total peserta 25 orang. Kami duduk di barisan paling belakang karena kami agak big size. Mayan lah, 5 kursi di belakang bisa didudukin sama 4 orang. Hahaha. Perjalanan ini sangatlah dingin. Selepas dari Anyer, jalanan sangatlah buruk. Sepanjang jalan berkelok-kelok dan juga sempat beberapa kali kami loncat dari tempat duduk. Berasa naik wahana di Dufan.

Setelah perjalanan kurang lebih 6 jam, pukul 4 pagi kami tiba di tujuan. Sumur! Di sini kita istirahat sejenak, mandi dan sarapan sebelum berangkat ke Pulau Peucang pada pukul 7 pagi.

Pukul 7 kami sedikit menyeberangi laut untuk naik kapal ke tujuan. Perjalanan dengan kapal memakan waktu 3 jam. Perhentian pertama kami adalah Padang Penggembalaan Banteng Cidaon. Kami berharap melihat banteng bahkan badak bercula satu di sana! Tapi sayang, kami cuma melihat 1 banteng dan tidak melihat yang lain. Di Cidaon ini ada 1 hal yang pasti ditemukan: tai banteng! Jadi kalo kalian ga bisa foto sama bantengnya, foto lah sama tainya aja *LAH?* Hahhahaa. Oya, hati-hati juga tanahnya suka njeblos. Jadi musti pinter2 cari pijakan yang kokoh.

Hello!

Hello!

Rame-rame di Cidaon

Rame-rame di Cidaon (Photo by Fuad)

Sehabis itu kami langsung menuju Pulau Peucang. Mendekati pulau peucang, terlihat air yang berwarna hijau. Gue agak bingung kenapa airnya dari jauh hijau, padahal kalo didekati warnanya adalah biru muda. Seperti pantai-pantai cantik di Indonesia tercinta. Tapi ekspektasi gue terhadap Pulau Peucang lebih tinggi dari itu, sebenernya. Hahaha.

Pulau Peucang

Pulau Peucang

Kami menyusuri garis pantai Pulau Peucang untuk menuju ke sebuah spot foto bagus yaitu sejenis laguna. Untung aja ke sini, karena tempatnya oke banget! Tadinya sempet mau berhenti di tengah jalan karena mikir pasti pantainya sama semua jenisnya.

Laguna di Pulau Peucang

Laguna di Pulau Peucang

Waktu menunjukkan jam makan siang, kami pun makan di kapal. Tadinya kami pengen makan di pulau, tapi takut makanannya digondol monyet. Bener aja, waktu kami ngupi-ngupi di pulau sehabis makan, gula kami digondol monyet. Seplastik gula dibawa kabur ke atas pohon lalu dijatuhin sama dia. Beuh, sia-sia! Di tempat ini banyak hewan berkeliaran, ada juga babi dan rusa selain monyet.

Tadinya kita mau trekking ke karang copong, tapi takut kehabisan waktu, acara trekking pun dibatalkan. Kami lanjut untuk snorkeling di area deket situ. Menurut gue sih tempat snorkelingnya mayan, bisa ketemu nemo. Tapi ga bagus-bagus amat juga. Mungkin karena gue sering ke tempat yang lebih bagus. *ciegitu* *sombongnya* *self-toyor*.

Di tempat snorkeling ini guide kami yang bernama Fuad, seru sendiri gtu snorkelingnya, semua udah naik kapal, kecuali 3 orang. Dia dan 3 orang itu masih asik snorkeling dan membuat kita bengong nungguin dia. *Piss mas!*

Habis dari spot snorkeling ini, kami langsung ke tempat kami menginap di Pulau Handeleum. Sebelumnya, kami melewati Karang Copong. Intinya sih karang gede, tapi agak bolong gtu. Mirip sama Karang Bolong di Anyer tapi ini lebih gede dan banyak.

Karang Copong

Karang Copong

Pukul 5 sore kami sampai di Handeleum. Kami menempati penginapan 2 lantai yang sepertinya bekas kantor di pulau itu. Tadinya kami semua mau disatuin di 1 penginapan, tapi karena 1 dan lain hal, akhirnya yang di gedung itu cuma cewe-cewe plus ada rombongan bapak-bapak dari Mancing Mania. Gerombolan cowo-cowo tidur di penginapan sebelah.

Setelah mandi, kamipun makan malam lalu bercerita-cerita sama teman-teman baru.

Keesokan harinya kami bangun cukup pagi lalu kemudian duduk-duduk di saung kecil yang menghadap arah pantai. Yaampun pemandangannya luar biasa. Ini emang lukisan Tuhan yang paling indah! Ga sia-sia bangun pagi-pagi. Kami pun foto-foto, lalu kemudian sarapan pagi.

image

Pagi di Handeleum (Photo by Dina)

image

Bersama lukisan Tuhan

Sehabis sarapan kami meninggalkan Pulau Handeleum untuk kemudian berkano di Muara Cigenter. Kami berkano dengan 1 kano untuk 5 orang. Berkano di sungai tengah hutan, rasanya kaya lagi di amazon. Keren deh. Ditemani dengan suara-suara alam di sekitar kita. Sayangnya, kano yang kita naikin agak bocor. Jadi musti dikeluarin terus airnya dari perahu. Gue ga tau juga ya, emang semua kano begitu apa kano kita doang. Kami dibekali oleh 2 dayung dan kami mendayung bergantian. Plus abang-abangnya juga ngedayung. Ini serunya ke ujung kulon, pemandangannya bukan cuma pantai tapi bisa berkano juga!

Photo by Dina
Photo by Dina
Photo by Peter
Photo by Peter
Photo by Peter
Photo by Peter

Pulang berkano kami snorkeling lagi di satu tempat yang kalo ga salah namanya Pulau Caring *cmiiw*. Tempatnya kurang lebih sama kaya spot sebelumnya. Di sini ada nemo juga, tapi yang lucu adalah habitatnya warna item bukan bening. Hahaha.

Puas berkano, kamipun makan siang lalu kembali ke Sumur. Dari Sumur kami berangkat ke Jakarta dan sampai pukul setengah 11 malam. See you on next trip!

indonesia jawa indonesiajawajawa baratujung kulon Leave a comment

Post navigation

← Older posts
Newer posts →

About Me

Cuni Candrika

Cuni Candrika

Cuni Candrika is an Indonesian globetrotter, lived in France for 4 years. She already travelled to 41 countries. Her dream is being a digital nomad and living from her backpack. Follow her journey at www.cunicandrika.com

View Full Profile →

Categories

  • asia
  • austria
  • bali
  • belgium
  • czech
  • estonia
  • europe
  • finland
  • flores
  • france
  • germany
  • greece
  • hungary
  • indonesia
  • italy
  • jakarta
  • jawa
  • jepang
  • kalimantan
  • kamboja
  • korea selatan
  • kuliner
  • laos
  • latvia
  • morocco
  • museum
  • netherlands
  • papua
  • poland
  • russia
  • slovakia
  • spain
  • sumatera
  • sweden
  • switzerland
  • thailand
  • vietnam

Instagram

No Instagram images were found.

Archives

  • December 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • February 2024
  • November 2022
  • October 2022
  • September 2022
  • August 2022
  • November 2020
  • August 2020
  • May 2020
  • July 2019
  • February 2019
  • August 2018
  • June 2018
  • February 2018
  • January 2018
  • August 2017
  • July 2017
  • June 2017
  • May 2017
  • April 2017
  • March 2017
  • January 2017
  • November 2016
  • October 2016
  • September 2016
  • June 2016
  • March 2016
  • February 2016
  • January 2016
  • December 2015
  • November 2015
  • October 2015
  • July 2015
  • June 2015
  • May 2015
  • March 2015
  • February 2015
  • January 2015
  • November 2014
  • August 2014
  • June 2014
  • April 2014
  • October 2012

Recent Posts

  • 67 Hari Keliling Asia Tenggara: Siem Reap (Angkor Wat)
  • 67 Hari Keliling Asia Tenggara: Phnom Penh
  • 67 Hari Keliling Asia Tenggara: Ho Chi Minh City
  • 67 Hari Keliling Asia Tenggara: Itinerary
  • What to do in Semarang?
Follow see. taste. tell on WordPress.com
Create a free website or blog at WordPress.com.
see. taste. tell
Blog at WordPress.com.
Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • see. taste. tell
    • Join 82 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • see. taste. tell
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...