Trip to Ujung Kulon

Satu bulan satu trip. Itu yang pengen gue lakuin di tahun 2015 ini. Hahaha. Setelah ga kemana-mana (yang berbau alam maksudnya) di bulan Februari, gue pergi ke Ujung Kulon di bulan Maret ini. Gue kali ini pergi bersama temen kampus gue, Dea. Dan lagi lagi ikut Rani Journey! Hahahha. Harga tripnya 675ribu (belum termasuk alat snorkel 50ribu).

Sebelum gue ceritain perjalanan gue, gue mau ceritain kejadian nyeremin yang dialami Dea sebelum berangkat ke Ujung Kulon. Jadi dia pergi dari Depok naik kereta ke Stasiun Sudirman. Dia pun naik 640 dari Stasiun Sudirman menuju Plaza Semanggi, tempat meeting point kita. Di jalan tiba-tiba ada 2 orang laki-laki naik dan memaksa pengemudi membelokkan arah ke tempat gelap. Setelah sudah sepi dan entah ada di mana, metro mini pun dipaksa berhenti dan terlihat 5 preman lain muncul. Totalnya ada 7 orang. Supir dan kenek dipaksa keluar dan pintu pun ditutup dari luar. Beberapa preman terlihat membawa pistol dan samurai kecil. Mereka pun berteriak, “Gue ga mau ngambil duit lo semua, gue cuma ada urusan sama ni supir. Kalian jangan berani-berani telepon, atau gue sayat-sayat muka lo pada”. Kebayang gimana mencekamnya itu kejadian. Sementara gue nelpon-nelpon Dea mulu karena udah telat dan itu handphonenya getar-getar mulu. Di luar si supir dan kenek pun digebukin sampai berdarah-darah. Di dalam total ada 7 penumpang, 4 wanita (termasuk 1 ibu hamil) dan 3 pria. 3 pria ini berinisiatif menahan pintu untuk membiarkan cewek-cewek keluar. Akhirnya para wanita pun berhasil lari kabur lalu kemudian naik taksi. Para preman sempat mengejar tapi untungnya ga kekejar dan mereka ga nembak. Sementara itu, Dea ga tahu nasip 3 pria yang menahan pintu. Semoga mereka selamat. Dea sampai di Semanggi dengan muka pucat. Dia menceritakan semua kejadiannya ke gue dan kita pun melapor polisi (no telp polisi: 112, catet!). Semoga pak polisi bisa menemukan para preman tersebut dan para penumpang yang lain selamat. We pray for them!

Setelah Dea datang, pukul stgh 10 malam kami berangkat ke Ujung Kulon. Kami sempat diliatin para peserta yang lain karena telat. Hahaha. Maap ya guys, ini emergency! Jadi mikir kadang kalo sebel liat orang lain telat, mungkin aja ada alasan di balik telatnya itu. Kami naik bus AC berukuran sedang dengan total peserta 25 orang. Kami duduk di barisan paling belakang karena kami agak big size. Mayan lah, 5 kursi di belakang bisa didudukin sama 4 orang. Hahaha. Perjalanan ini sangatlah dingin. Selepas dari Anyer, jalanan sangatlah buruk. Sepanjang jalan berkelok-kelok dan juga sempat beberapa kali kami loncat dari tempat duduk. Berasa naik wahana di Dufan.

Setelah perjalanan kurang lebih 6 jam, pukul 4 pagi kami tiba di tujuan. Sumur! Di sini kita istirahat sejenak, mandi dan sarapan sebelum berangkat ke Pulau Peucang pada pukul 7 pagi.

Pukul 7 kami sedikit menyeberangi laut untuk naik kapal ke tujuan. Perjalanan dengan kapal memakan waktu 3 jam. Perhentian pertama kami adalah Padang Penggembalaan Banteng Cidaon. Kami berharap melihat banteng bahkan badak bercula satu di sana! Tapi sayang, kami cuma melihat 1 banteng dan tidak melihat yang lain. Di Cidaon ini ada 1 hal yang pasti ditemukan: tai banteng! Jadi kalo kalian ga bisa foto sama bantengnya, foto lah sama tainya aja *LAH?* Hahhahaa. Oya, hati-hati juga tanahnya suka njeblos. Jadi musti pinter2 cari pijakan yang kokoh.

Hello!

Hello!

Rame-rame di Cidaon

Rame-rame di Cidaon (Photo by Fuad)

Sehabis itu kami langsung menuju Pulau Peucang. Mendekati pulau peucang, terlihat air yang berwarna hijau. Gue agak bingung kenapa airnya dari jauh hijau, padahal kalo didekati warnanya adalah biru muda. Seperti pantai-pantai cantik di Indonesia tercinta. Tapi ekspektasi gue terhadap Pulau Peucang lebih tinggi dari itu, sebenernya. Hahaha.

Pulau Peucang

Pulau Peucang

Kami menyusuri garis pantai Pulau Peucang untuk menuju ke sebuah spot foto bagus yaitu sejenis laguna. Untung aja ke sini, karena tempatnya oke banget! Tadinya sempet mau berhenti di tengah jalan karena mikir pasti pantainya sama semua jenisnya.

Laguna di Pulau Peucang

Laguna di Pulau Peucang

Waktu menunjukkan jam makan siang, kami pun makan di kapal. Tadinya kami pengen makan di pulau, tapi takut makanannya digondol monyet. Bener aja, waktu kami ngupi-ngupi di pulau sehabis makan, gula kami digondol monyet. Seplastik gula dibawa kabur ke atas pohon lalu dijatuhin sama dia. Beuh, sia-sia! Di tempat ini banyak hewan berkeliaran, ada juga babi dan rusa selain monyet.

Tadinya kita mau trekking ke karang copong, tapi takut kehabisan waktu, acara trekking pun dibatalkan. Kami lanjut untuk snorkeling di area deket situ. Menurut gue sih tempat snorkelingnya mayan, bisa ketemu nemo. Tapi ga bagus-bagus amat juga. Mungkin karena gue sering ke tempat yang lebih bagus. *ciegitu* *sombongnya* *self-toyor*.

Di tempat snorkeling ini guide kami yang bernama Fuad, seru sendiri gtu snorkelingnya, semua udah naik kapal, kecuali 3 orang. Dia dan 3 orang itu masih asik snorkeling dan membuat kita bengong nungguin dia. *Piss mas!*

Habis dari spot snorkeling ini, kami langsung ke tempat kami menginap di Pulau Handeleum. Sebelumnya, kami melewati Karang Copong. Intinya sih karang gede, tapi agak bolong gtu. Mirip sama Karang Bolong di Anyer tapi ini lebih gede dan banyak.

Karang Copong

Karang Copong

Pukul 5 sore kami sampai di Handeleum. Kami menempati penginapan 2 lantai yang sepertinya bekas kantor di pulau itu. Tadinya kami semua mau disatuin di 1 penginapan, tapi karena 1 dan lain hal, akhirnya yang di gedung itu cuma cewe-cewe plus ada rombongan bapak-bapak dari Mancing Mania. Gerombolan cowo-cowo tidur di penginapan sebelah.

Setelah mandi, kamipun makan malam lalu bercerita-cerita sama teman-teman baru.

Keesokan harinya kami bangun cukup pagi lalu kemudian duduk-duduk di saung kecil yang menghadap arah pantai. Yaampun pemandangannya luar biasa. Ini emang lukisan Tuhan yang paling indah! Ga sia-sia bangun pagi-pagi. Kami pun foto-foto, lalu kemudian sarapan pagi.

image

Pagi di Handeleum (Photo by Dina)

image

Bersama lukisan Tuhan

Sehabis sarapan kami meninggalkan Pulau Handeleum untuk kemudian berkano di Muara Cigenter. Kami berkano dengan 1 kano untuk 5 orang. Berkano di sungai tengah hutan, rasanya kaya lagi di amazon. Keren deh. Ditemani dengan suara-suara alam di sekitar kita. Sayangnya, kano yang kita naikin agak bocor. Jadi musti dikeluarin terus airnya dari perahu. Gue ga tau juga ya, emang semua kano begitu apa kano kita doang. Kami dibekali oleh 2 dayung dan kami mendayung bergantian. Plus abang-abangnya juga ngedayung. Ini serunya ke ujung kulon, pemandangannya bukan cuma pantai tapi bisa berkano juga!

Pulang berkano kami snorkeling lagi di satu tempat yang kalo ga salah namanya Pulau Caring *cmiiw*. Tempatnya kurang lebih sama kaya spot sebelumnya. Di sini ada nemo juga, tapi yang lucu adalah habitatnya warna item bukan bening. Hahaha.

Puas berkano, kamipun makan siang lalu kembali ke Sumur. Dari Sumur kami berangkat ke Jakarta dan sampai pukul setengah 11 malam. See you on next trip!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s