
anak penyu berbaris rapi

anak penyu berbaris rapi
Setelah bertualang ke beberapa bagian Indonesia, saya menyadari masih banyak yang perlu dieksplor dari bumi pertiwi ini. Barusan saya melihat lihat beberapa tempat cantik di google beserta melihat harga pesawat menuju ke sana. Saya jadi pengen eksplor indonesia terus dan terus. Indonesia ternyata sangat cantik. Sebuah surga! Banyak orang yang memilih untuk pergi ke luar negeri dibanding ke negerinya sendiri. Memang, tiket pesawatnya terkadang lebih murah ke luar negeri seperti singapura, malaysia atau thailand. Namun, dilihat dari segi kecantikan, flight ke kota-kota top Indonesia memang pantas diberi harga segitu. Sangat cantik!
Berikut beberapa wishlist saya sejak hari ini (bisa bertambah dan bila sudah terkabul akan dicoret):
1. Derawan
2. Pulau Weh, Sabang, Aceh
3. Belitung
4. Pulau Ora – Ambon
5. Tanjung Bira – Sulawesi Selatan
6. Krakatau
7. Bromo
8. Pahawang
9. Green Canyon
Dan ini adalah tempat-tempat cantik yang pernah saya datangi:
1. Wayag, Raja Ampat
2. Bali
3. Gili Trawangan
4. Komodo dan sekitarnya
5. Karimunjawa
6. Kiluan, Lampung
7. Sawarna
8. Derawan
9. Pulau Seribu (Harapan, Perak, Cipir, Kelor, Onrust)
10. Ujung Kulon
11. Pahawang, Lampung
12. Bromo
13. Kawah Ijen
Hihihi. Dari tadi saya membayangkan tempat tempat di wishlist sambil melihat gambarnya. aaaah bikin mupenggg. Yok yang mau bareng ngetrip!
O iya selain keliling Indonesia saya jg punya mimpi keliling dunia. Dulu gue pernah diketawain waktu gue bilang mimpi gue keliling dunia, tapi gue percaya gue pasti bisa. Asal ada usaha, niat, uang dan waktu. Hihihi.
Satu lagi, gue sering bgt dibilangin “Jalan-jalan mulu, duitnya ga abis-abis ya!”. Yah ini sih diaminin aja. Tapi sebenernya duitnya abis kok, cuma karena travelling itu passion gue jadi ya gue ga segan-segan buat ngabisin duit. Sebenernya kalian juga bisa, cuma pasti beda prioritas aja. Kalian juga bisa kok kalo mau!
Cheers!
Day 5
Setelah sampai di wisma nusantara 2, saya dan chitto istirahat sebentar di kamar lalu berkeliling mencari makan malam. Kami menemukan tempat makan ayam taliwang yang ramai, di seberang mal, bernama Ayam Taliwang Mandiri. Yang ramai itu memang pasti enak. Terbukti, makanan ini ludes dalam sekejap. Setelah banyak makan western food di gili, ayam taliwang ini bener2 nonjok!
Day 6
Tiba juga hari H-nya. LIVING ON BOAT!
Sebelum saya bercerita lebih banyak, ini dia peta perjalanan saya selama Living on Boat (LOB). Rute kami adalah yang diberi garis putih.
Jujur saya sempat takut tinggal di kapal. Takut merasa tidak nyaman dan takut mabuk laut. Tapi selalu ada yang pertama kali untuk segala sesuatunya. Pukul 12 kami dijemput oleh bis yang membawa kami ke labuan kayangan, tempat segala sesuatunya dimulai. Tak disangka, kami mendapat kapal phinisi yang besar penuh dengan orang (total 58 orang). Ternyata kami mendapat kapal yang besar karena banyaknya orang yang antusias mengikuti tur hari itu. Biasanya yang digunakan adalah kapal kecil.
Setelah ngaret super lama karena ada masalah dengan segerombolan bule yang ditipu (mereka membayar kapal pada orang yang tidak jelas yang tidak memberikan uangnya pada pihak kapal), akhirnya kami berlayar pula pada pukul 4 sore. Otomatis, sunset di gili bola yang dijanjikan pun gagal dilihat. Kami sampai di gili bola pada pukul 10 malam dan menepi di sana untuk tidur (tidurnya tetap di kapal).
Tidur di kapal ala backpacker cukup simple. Kami semua tidur di dek kapal dengan menggunakan matras dan selimut. Matrasnya cukup empuk si, saya pernah merasakan tidur yg lebih sengsara daripada ini. Hahahaha. Tantangannya adalah, angin laut dan ombak yang mengguncang-guncang kapal. Kalau tidak kuat, bisa muntah ataupun sakit. Oiya ada juga beberapa kamar yg bisa disewa (130.000) tapi jumlahnya terbatas dan dapat dihitung dengan jari.
Day 7
Si chitto sepertinya tidak kuat semalam di kapal, ia terserang demam keesokan harinya.
Pada pagi hari kami berlayar ke Pulau Moyo. Kami akan mengunjungi air terjun, mata air tawar yang pertama dan terakhir dalam trip ini. Fyi, di kapal kita tidak bisa mandi karena persediaan air tawar sangat terbatas. Paling cuma bilas bilas saja. Setelah trekking 30 menit sampai jg kita di air terjun. Langsung kita main main dan selfie di sana. Sangking ramenya yang ikut selfie, fotonya muka orang semua ga keliatan air terjunnya. Hahahaha.
Sehabis puas mandi di air terjun, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal menuju Danau Satonda. Di sana kami melihat lihat danau dan juga snorkeling!
Satu kapal kaget dengan berita meletusnya gunung sangeang. Para penumpang yang tadinya tidur di dek atas dipindahkan ke bawah karena terkena abu vulkanik paling parah. Para penumpang memakai masker ataupun sapu tangan. Saya sendiri tidak membawa masker dan pinjam ke orang lain tidak ada yang punya. Pasrah saja lah. Sunrise pagi itu pun ditemani oleh langit berabu.
Gili laba dipenuhi abu vulkanik dan trekking menuju puncak gili laba pun dibatalkan. Satu kapal kecewa tapi kami tak bisa berbuat apa apa karena ini adalah bencana alam. Saya sendiri merasa bersyukur masih bisa hidup. Karena bisa saja letusan gunungnya kena kapal kita atau terjadi gempa di laut. Bila salah satu dari dua hal itu terjadi tentunya saya tidak bisa lagi menceritakan pengalaman ini pada kalian, alias udah die.
Oiya buat yang mau tau gili laba itu secantik apa sehingga banyak yang menyesali. Ini dia! Kalo menurut saya seperti raja ampat versi KW. Hehehhe. Cantik banget!

Courtesy of journals.worldnomads.com
Pulau rinca yang harusnya dijadwalkan keesokan harinya dipercepat. Setelah dari pulau komodo kami menuju pulau rinca. Tempat lebih banyak komodo dan lebih liar. Sesampainya di sana, jalur trekking ditutup. Kami hanya bisa melihat komodo dari sekitar dapur. Ternyata di situ saja sudah banyak komodo berkeliaran. Bahkan kami melihat komodo kawin. Hahahaha
Kami melihat komodo dari jauh, karena komodo merupakan hewan yang berbahaya. Ia tidak bisa mendengar suara berisik. Saat di sana, ada bayi bule menangis. Sontak kepala komodo itu langsung tegak. Si anak bule pun dibawa menjauh oleh ayahnya (gila juga tuh bule living on boat bawa anak hahaha).
Day 9
Setelah semalam lagi di kapal bersama abu vulkanik, kami sampai juga di pulau kelor. Ternyata pulaunya sangat cantik. Kami snorkeling melihat biota laut yang sangat beragam. Bahkan ada ikan ikan nakal yang menggigiti kaki pengunjung. Kami trekking ke puncak pulau kelor, di mana pemandangannya sangat bagus dan dapat mengobati akan kekecewaan batalnya gili laba.
Day 10
Saya sakit batuk dan pilek di labuan bajo. Saya menduga ini karena ulah abu vulkanik. Saya berniat ke dokter sepulangnya ke jakarta.
Sebelum pulang, saya menjelajahi labuan bajo ke sebuah obyek bernama gua batu cermin. Tempatnya cukup bagus, isinya gua gua besar. Di bagian intinya, kita bisa melihat cahaya masuk dari celah gua di jam 12 siang. Bila beruntung dan ada air, cahaya akan memantulkan bayangan kita pada air. Sayang, saya datang ke sana terlalu pagi dan bukan saat musim hujan hahaha.
Epilog
Setelah dirontgen dan diperiksa ke dokter paru paru, saya tidak menderita penyakit serius. Hanya batuk pilek biasa ditambah ada sedikit debu di paru paru.
*mungkin ada yang mau menambahkan?*
Kami langsung makan di restoran bernama Salty Seagull. Adik saya sudah pernah makan di sana dan suka sekali dengan french friesnya. Saya memesan fish and chips yang dimasak dengan bir dengan minuman total seharga Rp 122.000. Rasanya biasa saja, namun kentangnya benar-benar enak.
Kami makan malam di nasi pedas Ibu Andika. Tempatnya sangat ramai dan mengantri. Tempat ini menyediakan berbagai lauk seperti nasi rames dan disajikan dengan bumbu super pedas. Menurut saya rasanya biasa saja, namun pedasnya yang membuat nikmat. Walau saya sempat kepedesan juga!
Di gili, pelabuhan sudah ramai diisi para expat. Kami pun menuju ke penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya, Trawangan Dive (Rp 750000/malam). Fyi, di sini banyak penginapan dengan harga 200.000. Cocok untuk yang mau hemat. Dan saya dengar dari teman saya, penginapannya juga cukup bagus.
Setelah menaruh tas, kami makan di tempat terdekat, di Genius. Jujur, makanannya not recommended. Saat itu, untuk selanjutnya kami memutuskan untuk makan di tmp yang direkomendasikan oleh temannnya chitto dan pilihan trip advisor.
Habis makan kami berkeliling gili trawangan naik andong (Rp 150.000). Selain andong, bisa jg dengan menggunakan sepeda. Tapi karena saya ga bisa naik sepeda, ya mau gimana lagi. Hahahaa.
Ternyata gili trawangan dapat dikitari dalam waktu 30 menit. Kami menandai beberapa spot bagus untuk didatangi selanjutnya. Setelah berkeliling, kami duduk duduk cantik di Horizontal sambil menikmati pantai. Fyi, semua pantai di gili trawangan sudah dimiliki oleh restoran. Jadi kalo mau duduk duduk cantik pake payung, mau ga mau musti memesan makanan di tempat tersebut dengan kisaran harga 50000-100000 minimal. Ga heran kenapa duit banyak kebuang di gili trawangan.
Malamnya, kami makan di pasar malam. Letak pasar ini di seberang pelabuhan. Bentuknya seperti food court. Makanan cukup bervariasi dengan harga relatif lebih murah dibanding restoran di gili. Kami makan seafood dengan total Rp 45.000.
Sesudah itu, kami sempat berpikir untuk dugem di salah satu bar. Karena gili trawangan adalah party island! Tapi karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan, akhirnya dicancel dan kami duduk duduk di Pesona (view ke pantai) sambil menghisap shisha.
Sementara di gili air keadaan membaik. Saya bisa melihat beberapa ikan dengan ditarik dan dipegangin guide-nya. Hahahaha. (Kebayang betapa lemahnya saya kalo dibawa travelling model begini). Setelah itu, kami makan siang di gili air (not recommended). Kemudian snorkeling lagi dan pulang. Jujur menurut saya (dan chitto) biota bawah laut 3 gili jauh di bawah ekspektasi. Ga sekeren yang dibayangin.
Tepar karena snorkeling seharian, kami tidur di hotel dari pukul 4 hingga 8 malam. Malamnya, kami mencoba restoran nomor 3 versi trip advisor, Il Pirata. Pizzanya lebih enak daripada dolce vita. Di trip advisor, disebutkan kalau calzone-nya juga enak. Tapi tidak cocok di lidah saya karena terlalu banyak tomat.
Day 5
Setelah sarapan di hotel, kami mengunjungi beach lounge paling ciamik, pearl beach lounge. Tempatnya benar benar cozy dan teratur. Kami di sini hingga pukul 1 siang.
Tak terasa perjalanan kami di gili trawangan berakhir. Sebenarnya masih mau tidur tidur cantik di pantai, tapi petualangan yang lebih menakjubkan sudah menunggu.
Kami naik taksi dari bangsal ke mataram (Rp 160.000) menuju tempat kami menginap, wisma nusantara 2 (semalam Rp 160.000). Dalam perjalanan kami sempat berhenti di Malimbu.
Gue sangat suka travelling, dan selalu ingin menuliskannya sepulang perjalanan, namun ujung-ujungnya selalu malas dan tidak sempat. Mungkin karena rutinitas pekerjaan gue juga dalam dunia tulis menulis, jadi sudah capek rasanya kalau harus ngeblog lagi. Hahahhah. Padahal dulu waktu kuliah gue suka banget nulis blog.
Anyway, akhirnya postingan yang mulai dibuat saat dalam perjalanan kereta pulang ke Jakarta ini selesai juga. Semoga catatan perjalanan gue tidak hanya sampai di sini ya. Selamat membaca!
Pada hari itu, 30 maret 2014, gue dan 8 org sahabat (cewe-cewe semua) pergi ke Cirebon untuk berjalan-jalan di kotanya. Kami pergi pagi jam 5.30 dengan menggunakan kereta Kutojaya Utara (Rp 35000) dari pasar senen menuju cirebon prujakan. Kami sampai di cirebon dan langsung dijemput oleh mobil yang kami charter (Rp 400000 sudah termasuk bensin dan supir) untuk memulai petualangan kami di kota udang tersebut.
Berikut rute yang kami jelajahi:
1. Nasi jamblang mang dul
Tempat makan yang satu ini benar2 ramai. Gue rasa di jakarta ga ada tempat yang secrowded ini.
Basically nasi jamblang ini kaya nasi rames, banyak lauknya dan bisa pilih sesuka hati.
Untuk rasa cukup enak. Untuk 2 porsi nasi kecil, kerang, semur tahu dan telur puyuh hanya 11.000 saja!
2. Masjid Agung
Masjidnya besar dan bagus. Bahkan lbh bagus drpd Masjid Keraton Kasepuhan.
3. Balai kota
Balai kota di cirebon ini agak berbeda dengan yang di jakarta. Kalau di jakarta kt tidak bs masuk ke dalamnya. Di sini bisa! Bahkan kita sampai masuk ke lantai 2 di ruang meetingnya. Gue agak takjub si. Darimana mereka tau orang2 yg masuk di situ baik2. Bisa aja kan kalo kita mau naruh bom. Hahahaha.
Salah satu keunikan dari gedung balai kota ini adalah terdapat gambar udang di bagian depan atas bangunan. Secara cirebon itu kota udang, ye kan.
4. Makam sunan gunung jati
Awalnya kt ga mau ke sini karena takut keabisan waktu dan mengira jaraknya jauh. Namun berkat pak supir, kita akhirnya ke sana juga.
Hmm.. banyak orang yg berziarah ke makam ini. Mereka berdoa (atau mungkin meminta rejeki?) pada sunan gunung jati dan istrinya yang konon katanya orang cina (kaya gue gtu *ngaku2*). Selain makam mereka, di kompleks pemakaman tersebut juga terdapat makam2 lain seperti keluarga dan para pejuang daerah. Oiya, makam sunan gunung jati dan istrinya tidak bs dimasuki para peziarah.
Mereka hanya bisa berdoa di balik pintu.
Satu hal yang gue dan teman2 sayangkan dari tempat ini adalah terlalu banyak org yg meminta sedekah. Bahkan banyak di antara mereka yang terlihat memaksa, sambil mengetuk2 kotak sedekahnya saat orang2 pada lewat.
5. Keraton Kanoman
Keraton ini memiliki kompleks yang cukup kecil. Areanya tidak sebagus keraton kasepuhan.
6. Keraton Kasepuhan
HTM: 8000
Areanya cukup luas dan menarik, tapi menurut gue msh lbh bagus keraton solo atau jogja.
Satu yang gue agak kecewa dr keraton ini adalah, adanya pegawai2 yang sok2 menyapu dan membersihkan lantai lalu di ujung pintu mereka meminta sumbangan -_____-. Keliatan bgt pamrih dan pengen diliatnya ye kan.
7. Empal gentong
Salah satu makanan khas cirebon ini ckp enak. Tapi sayang di tmp yg kami beli banyak lemaknya. Dagingnya sendiri terasa empuk dan yummy.
Satu porsi dihargai 30ribuan.
Teman gue mengatakan empal gentong yang enak di Cirebon adalah Bu Dharma, tetapi kami tidak makan di sana, melainkan makan di resto yang kita lewati saja. Mungkin itu yang membuat empal gentong yang kami cicipi tak seenak itu.
8. Gua Sunyaragi
HTM: 8000
Ini dia tempat paling bagus yg kita kunjungi di cirebon. Dari luar sih biasa aja. Begitu masuk, waw!
Dimana2 ada gua yg terbuat dari karang, seperti di gambar ini.
Saran gue, kalau mau masuk sini, mending nyewa guide karena kalo engga bakal ga ngerti sama sekali ni gua kenapa bisa begini, gimana dibuatnya, dll. Sebagai spoiler, di sini juga ada benda yang disebut-sebut akan membuat jauh jodoh bila dipegang. Benda apakah itu? Cari tau sendiri yaa! *rese*
9. Klenteng Dewi Kwan Im
Klenteng ini agak susah mencarinya. Supir kami yang notabene orang Cirebon saja kebingungan.
Klenteng ini sangatlah bagus, namun pesan bapak penjaganya, bila ingin memoto orang sembayang harus meminta ijin orang tersebut dahulu. Bener juga sih.


10. Kampung Batik Trusmi
Di tempat ini banyak tersedia toko-toko batik cirebon. Karena hari sudah mulai gelap, kami tak sempat berjalan kaki mengitari kampung batik ini. Kami memutuskan untuk singgah di 1 tempat saja yang sangat besar dan ramai. Jujur, batik di sini ga beda jauh sama yang ada di Thamrin City. Harganya juga ga beda jauh. Haha.
11. Mie Koclok Edi
Malam tiba, kota cirebon pun terlihat seperti kota mati. Banyak pusat perbelanjaan dan tempat makan yang tutup. Kami ingin sekali mie koclok, pak supir yang baik hati pun mencarikan mie koclok yang masih buka ke sana kemari.
Tempat ini sangatlah ramai. Yang jual juga rada-rada bolot, karena punya kami ga dibuat-buatin sementara yang mesennya lebih belakangan dari kami dibuatin duluan. Setelah sempat bersitegang dengan bapaknya, akhirnya makanan kami pun jadi.
Harga mie koclok ini 12000. Menurut gue sih rasanya biasa saja, tapi kata teman gue enak.
Dann.. berakhirlah perjalanan kami mengunjungi kota Cirebon. 11 tempat berhasil disambangi berkat charter mobil dan bapak supir yang baik hati. Kami pun pulang naik kereta dari stasiun prujakan pukul 10 malam dan sampai di senen jam 1 dini hari.
Anyway, gue merasa tulisan ini terlalu kaku dan kurang imajinatif. Tapi sepertinya memang gaya menulis gue seperti itu, straight to the point. Semoga informatif yaa!