67 Hari Keliling Asia Tenggara: Siem Reap (Angkor Wat)

Halo semuanya! Kembali lagi dengan post jalan-jalan keliling Asia Tenggara tahun lalu. Setelah jalan-jalan di ibukota Kamboja, Phnom Penh, gw dan Tichu melanjutkan perjalanan ke kota Siem Reap, tempat dimana terdapat kompleks kuil terkenal: Angkor Wat. Perjalanan dari Phnom Penh ke Siem Reap kami tempuh dengan menggunakan bis Mey Hong seharga 8 USD dengan waktu tempuh 6 jam. Sesampainya di Siem Reap, kami langsung check in di Parent Heritage Angkor Hotel. Kami menginap di hotel ini selama 4 malam dengan harga per malamnya Rp 332.000 sudah termasuk breakfast. Ada cerita unik waktu kami menginap di hotel ini. Jadi kan koper gw roda-nya rusak, karena keseringan ditarik-tarik di jalanan berlubang, terus gw iseng aja tanya sama agen asuransi perjalanan gw, ini bisa dicover asuransi atau ga. Ternyata bisa dong, tapi harus melampirkan surat keterangan dari hotel. Yaudah gw minta owner hotel ini buat bantu gw nulis surat keterangannya. Puji Tuhan, dia mau. Tentu saja sebelumnya gw udah ngobrol-ngobrol dulu sama dia dan emang orangnya friendly, jadi ya gas lah. Lumayan dapet reimbourse-an kerusakan koper hehe. Btw yang mau rekomen asuransi perjalanan oke bisa kontak gw juga ya. Hehe.

Hari 1
Sore menjelang malam kami keluar untuk jalan-jalan di kota Siem Reap. Kami ke salah satu jalanan terkenal yang bernama Pub Street. Di situ banyak bar, restoran dan kehidupan malam. Di dekatnya juga terdapat Old Market, tempat berbelanja suvenir. Setelah minum jus di salah satu kedai di Pub Street, kami makan malam di tempat yang banyak direkomendasikan traveller: Tevy’s Place. Restoran ini dikelola oleh pasangan suami istri Irlandia-Kamboja. Mereka menjual makanan khas Kamboja dan bapaknya (orang Irlandia) ramaaaah bgt, dia ajak ngobrol tamu-tamu restoran termasuk kami. Untuk makanannya rasanya enak, cuma kayanya gw salah pesan. Gw masih penasaran dengan Beef Loc Lac, karena yang kemarin dimakan di Titanic Restaurant rasanya ga seenak yang biasa gw makan di Paris. Yaudahlah ya gw pesan lagi di sini. Ternyata rasanya sama ga enaknya kaya di Titanic Restaurant. Gw mulai berpikir, kayanya emang rasa aslinya kaya gini kali ya. Rasa Beef Loc Lac yang di Paris mungkin sudah dimodif T____T

Kiri: Beef Loc Lac. Kanan: Berpose dengan bapak-bapak Irlandia ramah owner Tevy’s Place.

Hari 2
Hari ini adalah harinya kita menjelajah Angkor Wat! Yeaaaay! Gw penasaran kaya apa sih kompleks kuil populer di Asia Tenggara yang katanya lebih bagus dari Candi Borobudur. Pagi-pagi kami dijemput oleh tur yang sudah kami pesan sebelumnya. Kami memesan tur agar bisa dijemput di hotel dan menggunakan tour guide, dengan harga paket 13 USD. Harga ini belum termasuk harga tiket Angkor Wat yaitu 37 USD. Tiket Angkor Wat sendiri bisa dipesan online. Jika kalian mau berangkat sendiri dari hotel dan tidak membutuhkan tour guide, maka tidak perlu memesan paket 13 USD seperti punya gw. Cuma jujur ya, lebih enak pake tour guide sih, jadi bisa lebih dijelasin sejarah candi-candi yang ada di Angkor Wat.

Angkor Wat. Photo by Tichu.

Angkor Wat sendiri adalah kompleks besar yang terdiri dari beberapa kuil. Tujuan hari ini adalah ke Angkor Wat (kuil yang paling populer), Banteay Kdei, Ta Phrom Temple (kuil tempat syuting film Tomb Raider), Bayon Temple dan Phnom Bakeng Temple. Karena di Kamboja waktu itu lagi panas-panasnya, gw sempet kepanasan dan juga ga kuat jalan. Habis dari Ta Phrom Temple, gw sempet ga ikut turun ke Bayon Temple dan memilih ngadem di mobil. Daripada pingsan ye kan. Dari sekian banyak kuil, yang paling gw suka tentu saja Angkor Wat dan Ta Phrom Temple. Langsung saja kita liat foto-fotonya.

Ini adalah Ta Phrom Temple, terkenal karena menjadi tempat syuting Tomb Raider. Salah satu favoritku!

Sedikit cerita, dulunya kawasan Angkor Wat ini sempat hilang selama 500 tahun dan tertimbun pohon dan tanah. Namun kemudian ditemukan oleh Bangsa Prancis dan dirawat kembali sehingga bisa menjadi warisan UNESCO seperti sekarang. Pada saat itu lah Bangsa Prancis juga mulai menjajah Kamboja.

Bayon Temple, ada yang bisa liat gambar muka di tengah2 candi tersebut?

Menjelang sore, kami menuju ke Phnom Bakeng Temple untuk melihat sunset dari atas. Temple ini memang letaknya di atas bukit, jadi sangat cantik untuk melihat pemandangan ke bawah dan melihat sunset. Ada hal yang gw inget saat mendaki ke atas temple ini, gw ditelpon klien hahaha. Yah begitulah ya nasib jadi digital nomad, lagi mendaki aja telponan sama klien hahaha. Tapi untung deal sih pada saat itu.

Sunset di Phnom Bakeng Temple

Hari 3
Setelah puas menjelajah Angkor Wat kemarin, hari ini kita berjalan-jalan di kota Siem Reap aja. Btw kalo memang kalian Temple Enthusiast, bisa juga membeli 3 days pass untuk keliling semua kuil di Angkor Wat, karena emang kuil-kuilnya sebanyak itu. Kalo ga segitunya sama kuil atau cuma punya waktu dikit di Siem Reap, bisa juga beli 1 day pass seperti gw kemarin.

Hari ini gw kerja dulu di pinggir kolam sampai waktu makan siang. Kemudian kita mencari restoran Malaysia untuk makan siang, rasanya enak dan cocok di lidah kita. Rekomendasi gw kalo mau ke Kamboja tapi pengen makanan yang citarasanya mirip Indonesia, datanglah ke restoran Malaysia. Pasti halal juga.

Kiri: Makan di restoran Malaysia. Kanan: Made in Cambodia Market.

Setelah makan, kita liat-liat ke pasar etnik bernama Made in Cambodia Market. Kemudian kita juga menjelajah beberapa kuil di tengah kota Siem Reap seperti Wat Bo dan Wat Damnak. Selain itu juga ngopi-ngopi cantik di Dialogue Siem Reap. Malamnya kita makan barbecue di pinggir sungai dengan harga yang cukup affordable.

Kiri: Wat Bo. Kanan: Wat Damnak

Hari 4
Hari ini adalah harinya leyeh-leyeh dan bekerja. Hari ini gw seharian di hotel buat bersantai sekaligus menyelesaikan pekerjaan. Sementara Tichu jalan-jalan sendirian di tengah kota. Sore hari-nya kami memesan pijat tradisional Kamboja di kamar hotel. Pijat ini adalah ide dari Tichu, karena gw emang jarang pijat jadi kayanya kalo sendirian juga ga akan mesen pijat hehe. Harganya sendiri adalah 8 USD per orang.

Malamnya, kami menonton pertunjukan sendratari tradisional Kamboja yaitu Apsara Dance di restoran bernama Robam. Di sini kalian bisa makan makanan Kamboja sekaligus menikmati pertunjukannya. Restoran ini terletak di Pub Street jadi mudah untuk ditemukan. Sendratari-nya bagus sih walo ga beda jauh sama yang di Indonesia ya hehe. Pengalaman yang cukup unik, apalagi bisa sambil makan dan juga ditemenin sama Tichu. Lagi-lagi kayanya kalo gw solo traveling ga masuk ke sini juga :))

Kiri: Lagi-lagi makan amok! Kanan: Berpose bersama para penari Apsara Dance.

Malam ini adalah malam terakhir kami di Siem Reap dan juga Kamboja. Sungguh senang apalagi bertepatan dengan International Women’s Day. Kami merayakan wanita dan juga kebebasannya untuk memilih. Seperti kami yang pada saat itu memilih menikmati hidup dengan travelling ke Kamboja. Besok kami akan melanjutkan perjalanan masing-masing. Gw akan melanjutkan trip secara solo ke Thailand dan Tichu akan kembali pulang ke Jakarta.

67 Hari Keliling Asia Tenggara: Phnom Penh

Setelah berpetualang selama 4 hari di Vietnam (Ho Chi Minh City), gw akan melanjutkan perjalanan ke Kamboja tepatnya kota Phnom Penh. Pagi itu gw mengalami kesialan. Gw kehilangan duit 200.000 VND (Rp 127.000) yang baru saja dikembalikan dari hostel untuk deposit. Kayanya duitnya jatuh dari kantong huhu. Gw pun berjalan ke tempat bis yang tidak begitu jauh dari hostel. Bisnya sendiri menggunakan bis Kumho Samco dengan harga Rp 398.000. Adapun waktu tempuh perjalanan Ho Chi Minh menuju Phnom Penh dengan bis adalah 5 jam.

Di Kamboja, mata uang yang digunakan adalah Riel dan USD. Kita dapat menggunakan kedua2nya untuk bertransaksi.

Hari 1

Di Phnom Penh gw memesan White Room Hotel seharga Rp 306.000 semalam. Karena gw berdua sama temen gw, jadi kita pesan hotel dengan harga per orang-nya Rp 153.000. Nah di trip Kamboja ini gw bakal jalan berdua sama temen kuliah S1 gw yang bernama Tichu. Kita bakal eksplor Kamboja selama kurang lebih seminggu.

Setelah gw check in hotel dan bertemu Tichu, kami lanjut makan malam di salah satu restoran yang direkomendasikan bernama Khmer Surin. Kita nyoba berbagai makanan termasuk makanan favorit di Kamboja: Amok Fish. Amok Fish di sini itu enak banget, sampe kita jadikan perbandingan kalo nyobain Amok Fish lain selama di Kamboja.

Khmer Surin dan Amok Fish yang enak

Hari 2

Di hari ini kita bakal jalan-jalan keliling Phnom Penh. Kalo di Kamboja ada yang namany Grab Tuktuk, kita langsung pergi ke destinasi pertama dengan mengggunakan Grab Tuktuk seharga Rp 18.200. Destinasi pertama kita adalah Independence Monument, lalu dilanjutkan ke dekat situ ada Statue of King Norodom. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, kita pun makan siang di salah satu rekomendasi restoran yaitu David Restaurant dengan menunya Khmer Noodle (Rp 70.000 udah sama minum). Jujur, lebih enak mie2-an yang ada di Vietnam daripada ini wkwk. Kalo Tichu mesen Vegetarian Amok.

Nah karena tempat makan siangnya panas, kami lanjut ngopi dan ngadem di Coffee Today. Gw mesen Thai Tea dengan harga Rp 32.000. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan ke National Museum of Cambodia. Kita ga masuk ke dalam karena tiketnya mayan mahal, jadi cuma keliling di luarnya aja. Itu aja udah cakep banget. Setelah itu kita lanjut ke Royal Palace, istana raja dengan harga tiket masuk 10 USD. Untuk masuk ke istana ini harus berpakaian sopan, lutut dan lengan ga boleh keliatan. Jadilah gw masuk sini pake cardigan hitam. Istananya sendiri cukup ok, walau menurut gw lebih bagus Royal Palace yang di Bangkok. Di kompleks Royal Palace kita juga bisa melihat Silver Pagoda.

Kiri: National Museum of Cambodia. Kanan: Royal Palace

Setelah dari Royal Palace kita ke temple lagi yang bernama Wat Phnom Daun Penh, kemudian jalan-jalan juga di tepi sungai di tempat yang bernama Sisowath Quay. Hari sudah menunjukkan sore hari, kita pulang ke hotel untuk mandi, karena habis itu akan dinner bersama teman kuliah S2 gw orang Kamboja yang bernama Vattey.

Sekitar pukul 7 kami dijemput Vattey menaiki mobil, kemudian kami makan malam di restoran pinggir sungai Mekong yaitu Titanic Restaurant. Dinamakan Titanic Restaurant karena bentuknya yang menyerupai kapal. Makanannya sendiri menurut saya masih kurang enak dibandingkan Khmer Surin. Saya menghabiskan Rp 196.000 untuk makan di sini. Maklum, tempatnya mayan fancy dengan view yang ciamik walaupun makanannya agak kurang. Salah dua dari tiga makanan yang kami pesan adalah Beef Loc Lac dan Amok 3 rasa. Gw dulu pas kuliah di Prancis suka banget makan Beef Loc Lac, makanya pengen ngerasain di negara asalnya. Taunya pas cobain ga enak huhu. Tapi besok masih mau coba lagi di tempat lain, siapa tau emang restorannya aja yang masaknya ga enak wkwk.

Bersama Vattey (kiri) dan Tichu (kanan) di Titanic Restaurant

Hari 3

Hari ini adalah hari wisata depresi. Gw akan masuk ke museum-museum dimana terdapat sejarah Pembantaian Khmer Rouge. Museum pertama adalah Tuol Sleng Genocide Museum atau S21 Prison dengan tiket masuk 5 USD (Rp 79.000). Tuol Sleng Genocide Museum adalah penjara tempat para korban Khmer Merah ditangkap dan disiksa. Sebelum tahun 1975 saat Khmer Merah berkuasa, tempat ini tadinya adalah sekolah. Khmer Merah yang dikepalai Pol Pot berkuasa dari tahun 1975 sampai 1979. Setelah mengkudeta pemerintahan saat itu, Pol Pot menjadi kepala negara diktator dan genosida terjadi di Kamboja.

Gedung sekolah yang dijadikan penjara Khmer Merah

Sedih banget rasanya berada di sini. Ada ya orang sejahat itu membantai manusia lain demi kekuasaan :”

Setelah wisata depresi yang pertama, gw dan Tichu bertemu dengan temen gw, orang Indonesia yang tinggal di Kamboja: Ega, untuk makan siang bersama. Kami makan siang menu fusion Kamboja di restoran yang bernama Labaab Restaurant. Sumpah ini restoran enak banget, kayanya jadi restoran terenak yang gw makan selama 67 hari keliling Asia Tenggara ini. Harganya setelah dibagi 3 adalah Rp 138.000.

Ini restoran paling enak yang gw makan selama trip ini: Labaab Restaurant

Setelah makan siang, gw melanjutkan wisata depresi kedua. Gw pergi sendiri karena Tichu ga mau tambah depresi. Kali ini tempatnya bernama The Killing Fields, udah keliatan ya dari namanya ini tempat apa. Tempat ini adalah tempat dimana para tahanan di masa Khmer Merah dieksekusi mati. Jaraknya sekitar 40-50 menit dari kota Phnom Penh dengan menggunakan tuk tuk. Jujur gw agak kasian sama abangnya sih jalan sejauh itu wkwk, cuma kayanya dia ga keberatan. Untuk harga tiket masuk Killing Fields sendiri adalah 6 USD, sudah termasuk audio guide. Killing Fields ini adalah 1 dari ratusan tempat eksekusi yang tersebar di seluruh Kamboja.

Foto sebelah kanan adalah pohon dimana anak kecil dibantai, kepalanya dilempar ke tembok sampai meninggal. Mereka membantai anak kecil juga karena takut jika tetap hidup, akan membalaskan dendam orang tua-nya yang dibunuh.

Di masa Khmer Merah, sebanyak 3 dari 8 juta warga Kamboja dibunuh. Yang artinya hampir 40% dari populasi Kamboja. Bapaknya Vattey sendiri punya 11 saudara, dan 8 di antaranya meninggal di masa itu T___T Betapa ngeri dan biadabnya Khmer Merah ya. Meskipun kekejaman Khmer Merah berhenti di awal 1979 karena terjadinya kudeta, namun Pol Pot masih berkeliaran bebas sampai tahun 1990-an dan Khmer Merah masih beroperasi. Ia meninggal di tahun 1998. Baru pada tahun 2000-an para penjahat ini, para petinggi Khmer Merah diadili dan dihukum seumur hidup.

Foto sebelah kanan adalah tugu pusat peringatan, di dalamnya terdapat tengkorak para korban. Beberapa banyak yang berlubang karena dibunuh dengan cangkul, tongkat dan alat-alat lain. Khmer Merah tidak menggunakan pistol karena peluru harganya mahal.

Bener-bener hari ini wisata depresi. Tapi seru juga karena jadi mengenal sejarah Kamboja. Buat yang suka sejarah, aku rekomendasiin dateng ke Phnom Penh.

Selesai sudah 3 hari di Phnom Penh, besok saatnya pindah ke kota lain di Kamboja yaitu Siem Reap, tempat dimana Angkor Wat berada.

67 Hari Keliling Asia Tenggara: Ho Chi Minh City

Halo guys! Kembali lagi di travel blog gw! Setelah kemaren gw merincikan itinerary dan biaya di sini, sekarang saatnya gw cerita per negara. Perjalanan gw dimulai dari Vietnam tepatnya kota Ho Chi Minh City, di sini gw akan stay selama 4 hari untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja. Untuk mata uang Vietnam sendiri namanya adalah Dong. Kursnya itu 10.000 VND sekitar Rp 6.300. Saran gw kalo mau ke Vietnam, bisa menukar uang di money changer di Indonesia, karena kalau mau tarik ATM rate-nya mahal bgt! Dan di sini kalo kepepet mau tuker uang bisa bawa USD dan dituker di toko emas. Yak, toko emas ratenya lumayan bagus kalo di Vietnam dibanding money changer. Ok deh, langsung aja kita lanjut ke cerita perjalanan gw ya!

Hari 1
Berangkat dari Jakarta ke Ho Chi Minh City dengan maskapai Vietjet Air (3 jam): Rp 1.181.000.
Begitu landing naik bis kecil 109 persis di depan bandara menuju ke tengah kota. Harganya cuma Rp 10.000! Dengan tambahan Rp 10.000 lagi untuk 1 koper. O ya, di perjalanan kali ini gw bawa koper ukuran medium karena tangan gw udah ga kuat gendong backpack sejak patah tulang T___T
Bisnya kebetulan lewat depan hostel gw, jadi gw bisa turun di dekat situ. Gw memesan kamar di 9 Hostels & Suites, female dorm yang 1 kamarnya berisi 8 orang. Harga: Rp 75.000 per malam. Di Vietnam emang murah-murah, hostel di sini rate-nya ga nyampe Rp 100.000.

Setelah naruh koper di hostel, gw langsung jalan kaki ke Bui Vien Walking Street, jalanan terkenal di HCM. Di sini banyak resto, bar, coffee shop, tempat dugem dan kehidupan malam yang menyala. Bahkan ada debus juga alias orang makan api :O

Gw makan malam di Bun Cha 145, yang terkenal dengan Bun Cha (Rp 51.000). Bun Cha ini dalemnya babi. Rasanya enak, dan bikin nagih. Dalam trip ke Vietnam ini Bun Cha menjadi comfort food gw. Beberapa kali makan Bun Cha, soalnya di Indonesia susah nyarinya. Setelah jalan-jalan dan makan di Bui Vien, gwpun pulang ke hostel.

Makanan pertama di Vietnam: Bun Cha

Hari 2
Hari ini bangun agak siang, leyeh-leyeh, kerja bentar, baru cabut buat makan siang. Gw makan siang di Banh Mi Huynh Hoa, banh mi viral yang antriannya cukup panjang, apalagi di bawah panas matahari. Banh Mi ini non-halal, harganya Rp 44.000. Banh Mi itu adalah baguette dengan isian macem-macem. Kuliner Vietnam memang terpengaruh dari Prancis, karena bekas jajahan Prancis. Rasanya enak, dan bisa buat 2 kali makan karena isiannya banyak banget!

Banh Mi Huynh Hoa, isiannya ga pelit, mostly babi 🙂

Habis makan kita tur keliling Ho Chi Minh, gw jalan kaki ke Reunification PalaceSaigon Central Post Office yang cakepp banget – Cathédrale Notre Dame de Saigon yang masih direnovasi – City Hall yang bangunannya mirip kaya di Prancis Selatan dan yang terakhir ke Saigon Opera House. Gw juga sempet jalan-jalan di tengah kota, belanja di mall, ngadem di café lalu sorenya bungkus makanan buat makan malam di hostel.

Saigon Central Post Office yang rasanya kaya di Prancis

Hari 3
Hari ini juga baru jalan siang-siang. Maklum ya, namanya juga travelling sambil kerja, ga diburu-buru waktu jadi jalan ya sesukanya aja. Itu juga yang bikin gw stay di 1 kota 3-4 hari biar bisa santai, bisa kerja pokoknya woles lah. Pengennya berasa kaya lagi di rumah tapi pindah-pindah kota 😀
Siang ini gw coba makanan lokal lagi namanya Bun Rieu, yang ada di restoran Bun Rieu Ganh (Rp 38.000). Bun Rieu ini isinya ada bihun, darah babi, daging kepiting, tomat dan lain-lain. Banyak banget ingredient di situ, tapi secara rasa gw masih lebih suka Bun Cha.

Makan ala warga lokal di Bún Rieu Gánh

Setelah itu gw ikut tur ke Cu Chi Tunnels. Gw ikut tur dari Viator seharga Rp 284.000 . Meeting point di kantor travelnya terus kita naik bis ke Cu Chi Tunnels kira2 sejam. Cu Chi Tunnels itu sebuah kompleks di mana banyak terowongan yang dibuat saat perang Vietnam. Tentara Vietnam Utara banyak bersembunyi di terowongan ini dan mengatur strategi melawan musuh: tentara Vietnam Selatan dan Amerika Serikat. Di sini juga banyak jebakan-jebakan yang dibuat untuk menjebak musuh. Di sini kita juga bisa latihan menembak, yang harus menggunakan headphone khusus agar tidak merusak telinga. Overall menurut gw turnya oke sih, cuma… tour guidenya aksen Vietnamnya kental banget, gw jadi ga bisa terlalu nangkep dia ngomong apa T_T

Cu Chi Tunnels, merasakan ngumpet di bawah tanah seperti jaman Perang Vietnam

Malemnya, gw makan Pho (Rp 67.000) di restoran deket hostel, namanya Pho Ong Cat Gia Truyen. Rasanya enak sih, tapi somehow yang di Indo lebih gurih. Kayanya emang ditambahin micin yang di Indo hahahaha.

Hari 4
Pagi ini dimulai dengan kerja, ngobrol sama temen baru di hostel dan santai-santai. Siang baru gw makan Bun Bo (lupa nama tempatnya, tapi inget harganya: Rp 42.000 hahaha). Terus gw ke War Remnant Museum, salah satu museum yang recommended di Ho Chi Minh bahkan dapet penghargaan Trip Advisor dari tahun 2012 sampai 2014. Harga tiket masuknya sendiri adalah Rp 26.000. Murah ya, bikin betah ke museum di Asia Tenggara, harganya ga semahal Eropa haha. War Remnant Museum sendiri menceritakan sejarah perang Vietnam secara detail, banyak gambar-gambar yang disturbing, menurut gw kurang rekomen buat anak kecil. Ruangannya sendiri banyak yang hanya menggunakan kipas angin, tanpa AC, jadi berasa deh tuh bau ketek para turis yang kebanyakan bule, semerbak haha. Museumnya bener-bener bagus, gw lumayan lama di sini dan investasi perasaan juga, sedihnya berasa banget. Recommended pokoknya.

War Remnants Museum tampak depan

Setelah dari museum, gw ke Tan Dinh Church atau yang lebih dikenal dengan Pink Church. Warna pinknya cantik banget! Untuk makan malam, gw makan Banh Xeo di restoran Banh Xeo 46A. Banh Xeo sendiri adalah pancake goreng yang didominasi dengan toge dan udang. Harganya Rp 70.000. Menurut gw sih terlalu banyak minyak dan kurang berasa ya. Tapi gapapa, buat nyobain aja.

Salah satu makanan yang orang2 suka tapi gw ga suka: Banh Xeo. Kebanyakan minyaknya, shay!

Setelah makan Banh Xeo, saya pun pulang ke hostel dengan naik grab bike. Malam ini adalah malam terakhir di Vietnam, besok kita sudah pindah negara dan kota yaitu Kamboja!

Belitung, Negeri Laskar Pelangi

Jumpa lagi, jumpa Maissy kembali! Hahahhaha. Yak, semuanya kita berjumpa lagi di blog post baru gue. Setelah sibuk dengan urusan ini itu, akhirnya gue sempat ngeblog lagi. Eh sekarang ngepostnya udah dari benua lain loh hihihi. Tapi nanti dulu ya ceritanya soal benua baru gue ini, sekarang saatnya mencicil utang post yang belum kesampean. Post kali ini tentang BELITUNG! Yeheeeeey another bucket list accomplished! Dari dulu gue udah pingin banget ke Belitung tapi belum kesampean. Akhirnya kesampean juga ke sini bersama keluarga tercinta pas libur Lebaran!

So here is the story!

Day 1 : 17 Juli 2015

Di hari pertama Lebaran ini gue harus bangun jam 3 pagi, setelah tidur Cuma 3 jam malemnya. Gue sama papa mama cito akan pergi ke Belitung dengan pesawat Citilink jam 6 pagi. Actually masih lama sebenernya, tapi nyokap memaksa buat pergi dari setengah 4. O my gosh, zombie mode on!

Setelah perjalanan selama 1 jam, kami sampai di Bandara Hanandjuddin Tanjung Pandan. Kita pun menunggu bapak supir selama 1 jam karena beliau sholat Ied dulu. Jam 8 ketemu Pak Harris, kita pun langsung cus ke perhentian pertama, Danau Tambang Kaolin!

Danau ini tadinya bekas tambang kaolin, warnanya biru muda cuakepppp banget! Berasa bukan kaya di Indonesia deh. Langsung aja cus terpana sama foto-fotonya!

belitung belitung IMG_1190

Perhentian kedua adalah rumah adat Belitung. Sayang cuma bisa foto-foto di luar, soalnya masih tutup.

IMG_1202

Habis itu kita pergi mencari makan siang, karena Lebaran, semua rumah makan pun tutup! Kita pun makan di hotel. Beruntung kita dikasi free breakfast yang udah mau habis! Hahahha. Kita menginap di Hotel Bahamas Belitung. Hotel ini mengklaim dirinya hotel bintang 3, tapi menurut gue banyak kekurangannya. Ratingnya juga ga terlalu bagus di Agoda.

Habis makan siang kita ke pantai tempat syuting film Laskar Pelangi, pantai Tanjung Tinggi. Di pantai ini banyak banget batu-batu besar menjulang yang super kece. Warna airnya juga biru muda dengan aksen hitam karena ada karang dan soft coral di bawahnya. Keren menurut gue! Di sini, coincidentally gue ketemu sama temen kampus gue, Nana yang sedang berlibur bersama suami dan anaknya hahahaha. Lagi-lagi ketemu temen pas liburan!

IMG_1219 IMG_1220 IMG_1235 IMG_1309

Waktu masih menunjukkan pukul 1 siang, kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel untuk istirahat. Kemudian melanjutkan bepergian pada pukul 4 sore. Mayan lah, recharge energy dengan siesta! Tidur siang!

Pukul setengah 5, setelah dijemput pak Harris, kita ke pantai Tanjung Pendam. Sebenernya hotel kita ngadep ke arah pantai ini, tapi ga bisa dibuat main pasir. Pantai ini bentuknya… biasa aja. Hahahahha. Dibanding dengan 2 keajaiban alam sebelumnya, ini pantai biasa aja. Gue pun yang bosan ngeliat sunset ga turun-turun memutuskan meninggalkan lokasi untuk makan malam. Restoran belum pada buka, jadilah kita memutuskan makan di restoran fast food kesukaan kita semua, KFC! Hahahhahaha. Jauh jauh ke Belitong makannya KFC. Habis itu kita pulang lagi ke hotel.

Day 2: 18 Juli 2015

Hari ini adalah harinya island hopping! Yeheeeeey! Ketemu laut lagi setelah sekian lama *padahal baru 2 bulan*. Salahnya adalah kita sekeluarga ga ada yang bawa sunblock. Nyari di Belitung mart juga ga ada. Yaudahlah pasrah aja gosong! Kita juga mencoba mencari makanan untuk dibawa ke pulau untuk makan siang, hasilnya nihil! Resto belum pada buka, jadilah kita beli roti dan camilan saja.

Sekapal isinya Cuma ber-6! Gue sekeluarga, Pak Harris sama awak kapalnya! Hahahhha. Buat gue yang biasa ikut open trip, rasanya agak beda. Berasa private sekaligus berasa sepi.

Perhentian pertama adalah Pulau Pasir. Oke, gue ketemu lagi dengan pulau model begini. Pulau pasir ini disebut juga gusung, yang bakal tenggelam kalo air sudah pasang. Buat yang pernah baca postingan gue di Derawan dan Pulau Harapan, di sana juga ada pulau model begini. Bedanya, di Belitung banyak bintang lautnya! Hihi. Mainlah kita sama Patrick!

IMG_1378

Perhentian kedua adalah snorkeling di dekat Pulau Lengkuas. Snorkeling di sini bawah lautnya mayan, ada karang berbentuk kipas dan banyak karang lainnya. Oke lah, cukup bagus. Puas snorkeling kita ke Pulau Lengkuas, yang sudah ditunggu-tunggu.

Di sini kita bisa naik mercusuar 18 lantai untuk melihat pemandangan yang luar biasa! Mercusuar ini sepertinya lagi direnovasi, beruntung kita masih boleh naik pas jam makan siang. Masuknya sendiri membayar 5000. Tangganya terbuat dari besi dan agak nyeremin karena di bbrp bagian anak tangganya udah ga ada. Pas turun lebih ga enak lagi, besi itu kena ke kaki bagian belakang dan bikin baret-baret 😦 Tapi never mind lah, pemandangan di atas luar biasa indahnya! Speeeeeeechlesss booo!

IMG_1409 IMG_1430 IMG_1432

Di belakang mercusuar ada semacam museum yang menjelaskan tentang pulau Lengkuas. Sepertinya juga lagi direnovasi, karena masih acak adut banget. Gue turun tangga mercusuar agak buru-buru, karena laper banget! Gue pun langsung menuju ke tempat penjualan makanan dan beli indomie goreng 2 biji pake telor hahahhaha. Orang-orang di sekitar gue pada geleng geleng gue makan sebanyak itu. Ya habis daripada kelaperan kan, ga ada nasi juga gitu.

Perhentian selanjutnya adalah Pulau Babi kecil. Pulaunya kecil, ga sebesar babi besar (iyalah). Warna lautnya pun masih menawan dengan gradasi warna biru tua dan biru muda. Banyak batu-batu besar yang bisa dibuat foto-foto ataupun merenung. Duh, gue suka banget merenung sambil liatin laut.

IMG_1500

Perhentian terakhir adalah Pulau Batu Berlayar. Pulaunya sendiri kecil, sekecil pulau pasir, tapi dia ga bisa tenggelam. Di pulau ini banyak batu-batu vertical yang ciamik. Setelah di Belitung 2 hari, gue melihat banyak banget batu di pulau ini, yang membuat cantik Belitung. Mungkin harusnya Belitung diberi julukan Kepulauan Batu *ngasal*.

IMG_1517

Selesai island hopping pukul 3 (cepet banget yak!), kamipun makan di kumpulan tempat makan seafood dan memilih sebuah restoran yang bernama Cinta Kasih *mungkin namanya cocok untuk tempat memadu kasih?*. Di sini kita nyobain ikan khas Belitung namanya Gangan. Ikan ini menggunakan kuah santan, mirip-mirip gulai gtu. Rasanya? Pedas pedas nikmat! Makanan yang lain juga ga kalah enak, dari ikan, udang, cumi sampai kangkung. Sangking kebanyakan mesennya, jadilah ga abis dan dibungkus bawa pulang. Perjalanan pulang sore itu terasa cepat. Kami sempat mampir ke kuliner khas Belitung macam Mie Atep dan Timpo Duluk tapi masih tutup. YAAAAA!

Day 3: 19 Juli 2015

Hari ini kita akan bepetualang ke Belitung Timur. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 1 jam. Hari ini buanyak banget tempat wisata yang kita kunjungin, langsung aja ya gue list tempat-tempat mana aja yang kita datengin. Cus!

  1. Batu mentas

Ke tempat ini karena liat foto temen gue yang ke sana. Sebenernya tempatnya biasa aja sih, ada kali yang di atasnya ada ayunan batu jadi asik buat foto-foto. Selain itu di sini juga dipelihara hewan sejenis kelelawar. Ada juga rumah kayu buat tempat nginep. Siapa tau kan ada yang merasa tertantang nginep dalam hutan.. O iya, tiket masuknya Rp 10.000,-

IMG_1555

  1. SD Laskar Pelangi

Belitung terkenal karena syuting film Laskar Pelangi. So, yang ke Belitung pasti pengen liat tempat ini donggg. SD-nya sendiri kecil, dan sayangnya banyak coret-coretan di dinding oleh orang orang tak bertanggung jawab. SD ini dikelilingi oleh pasir. Dan pas kemarin ke sana panasnya naujubilah tuh pasir, soalnya mataharinya bener-bener menyengat. Rasanya pengen cepat-cepat keluar dari pasir itu..

IMG_1585 IMG_1582

  1. Museum Kata Andrea Hirata

Di depan museum ini tertulis, “Museum sastra pertama di Indonesia”. Tentunya gue sebagai anak sastra penasaran dong pengen cepet-cepet masuk ke dalamnya hahaha. Museum kata ini isinya sebenernya campur aduk. Ada pengenalan tentang buku Laskar Pelangi, terjemahannya dalam berbagai Bahasa, terus ada juga quotes dari sastrawan terkemuka dunia. Selain itu juga banyak profil sastrawan di seluruh dunia. Yang bikin seneng dari museum ini adalah warnanya yang colorful banget! Cocok buat tempat foto-foto hahahahha.

IMG_1615

Laskar pelangi dalam berbagai bahasa

IMG_1609

In french!

IMG_1623 IMG_1634

  1. Rumah Ahok

Di dekat museum kata ada rumah mantan bupati Belitung Timur yang satu ini. Sekarang rumahnya dijadikan rumah dinas adiknya yang juga menjabat bupati saat ini, Basuri Tjahaja Purnama. Pas ke sana, pintu rumahnya kebuka lebar, pokoknya kesannya welcome bgt deh sama para penduduk yang mau bertamu. Gue jadi mikir, emangnya dia ga mau privacy apa ya. Hahahha. Pas ke sana Ahok juga lagi datang, pas banget. Di sebelah rumahnya ada toko kecil kepunyaan istri Ahok. Tokonya menyediakan berbagai macam souvenir khas Belitung. Di depan rumah Ahok ada sebuah tempat yang disebut Kampung Ahok.

IMG_1636 IMG_1641

  1. Bukit Samak

Dari bukit ini kita bisa melihat kota Belitung dari atas.

IMG_1647

  1. Restoran Sari Dini dan Warkop Milenium

Yang ini pastinya bukan tempat wisata, namanya juga restoran. Kita makan di resto ini yang menghidangkan berbagai makanan khas laut. Rasanya.. biasa aja hahahha. Setelah itu kita ngupi2 nyobain Kopi Belitung di Warkop Milenium. Ini baru maknyus!

  1. Wihara Dewi Kwan Im

Wihara ini cukup besar, dengan dominasi warna merah dan kuning yang menyala. Tempatnya cukup bagus dan di sana bisa diramal. Gue sih ga nyobain..

IMG_1655

  1. Pantai Burung Mandi

Harga tiket masuk ke pantai ini adalah 5000 per orang. Pantainya sendiri biasa banget, tapi ada perahu Belitung yang cukup unik.

IMG_1703

  1. Open Pit

Ini dia tempat yang jarang ada itinerary trip-trip. Padahal tmpnya bagus loh! Open pit ini adalah bekas pertambangan. Warnanya biru tosca dengan tanah di sekelilingnya. Untuk mencapai tempat ini harus menanjak sekitar 20 menit. Kalo males, bisa juga naik ojek.

Di sini kita bisa menyewa guide untuk menunjukkan jalan dengan merogoh kocek 50.000. Sebenernya ga perlu perlu amat sih guide. Cuma karena bapak supir sudah bertitah jadi ya kita ikutin aja.

IMG_1725

  1. Beli oleh-oleh

Kita sempet mampir ke toko Gamat untuk beli kaos khas Belitung. Di dekat situ juga ada toko oleh-oleh makanan.

Overall, menurut gue Belitung cocok untuk jadi tempat wisata keluarga. Kemana-mana deket dan bisa dijangkau dengan mobil. Tidak terlalu banyak island hopping (cuma sehari), jadi ga terlalu cape buat orang tua atau anak kecil. Kalo disuruh membandingkan, gue lebih suka Derawan atau Komodo. Tapi tiap tempat memang memiliki keunikannya tersendiri..

Notes:

Rincian biaya akomodasi dan transportasi

Mobil: 800.000 per hari (kalo ga high season bisa 600.000)

Boat: 700.000 per hari (kalo ga high season 500.000)

Snorkel: 40.000

Pelampung: 40.000

Hotel Bahamas: 1.000.000 per hari (kamar bisa diisi 3 orang)

Gue nyewa mobil dengan supirnya Pak Harris, orangnya asik banget, cepat tanggap, bahkan sampe ngebantu hidangin makanan ke kita karena pelayannya lama. Pokoknya SANGAT MEMUASKAN. No telpnya: 081282038811 (kalo ke Pak Harris langsung harganya bisa lebih murah, kemaren gue lewat temennya jadi agak mahal).

Things to do in Seoul

Dulu waktu gue masih kuliah, gue sering diajak nyokap dinas ke luar negeri. Dia sih kerja, gue keluyuran aja sendiri muter-muter kota tempat dia kerja. Salah satu kota yang pernah gue jelajahin sendirian adalah Seoul, ibukota Korea Selatan. Waktu itu gue di sana selama 5 hari. Lama banget. Dulu gue belum tahu destinasi perjalanan yang seru-seru, kalo gue udah tau mungkin gue bakal keluyuran ke Pulau Nami atau Mount Sorak. Berhubung gue ngikut mak gue aja, jadilah gue di Seoul sampe mati gaya dan udah apal jalan-jalannya. Berikut hal-hal yang bisa dilakukan di Seoul:

1. Berkunjung ke Gyeongbokgung Palace

Istana yang suka ada di pilem pilem Korea ini adalah salah satu istana utama pada jamannya Raja Joseon. Dulunya istana ini adalah tempat tinggal sekaligus tempat untuk menjalankan pemerintahan. Pas gue ke sana gue liat prajurit prajurit Korea gitu lagi baris berbaris. Hihiy!

2. Foto-foto sama bunga Sakura pas musim semi

Berhubung di Indonesia ga ada musim semi, makanya kita norak ya foto-foto sama bunga sakura pas musim semi. Pas banget gue ke sininya bulan April. Kalo yang pada pengen liat Sakura bisa ke Korea (atau Jepang) pas bulan-bulan ini.

3. Naik bis Hop On Hop Off

Bis Hop On Hop Off adalah bis yang bisa digunakan muter-muter kota dan lo bisa turun naik sesuka hati di tempat-tempat populer yang ada halte bis ini. Kalo lo cuma punya waktu sehari, disaranin naik bis ini buat melihat Seoul secara keseluruhan. Di bis ini gue ngobrol sama seorang bule yang lagi business trip. Mayan lah jadi ketemu temen baru kan 🙂

4. Belanja

Di Seoul banyak banget pusat perbelanjaan kaya Dongdaemun, Namdaemun ataupun Myeong Dong. Harga yang ditawarkan pun bervariasi dari yang murah sampai mahal. Kita juga bisa nemuin pernak-pernik Korea di pusat perbelanjaan tersebut.


5. Melihat Seoul dari atas di Seoul Tower

Memori yang gue inget waktu mau menuju Seoul Tower adalah banyak orang pacaran. Hahhaha. Berhubung gue sendirian ya, cuma bisa gigit jari aja hahahaha. Habis itu gue masuk dan naik ke atas untuk melihat kota Seoul dari atas.

6. Main ke Yeouido Park

Waktu itu karena gue udah bosen sama pemandangan kota, gue main aja ke salah satu taman yang ada di Seoul, namanya Yeouido Park. Mata lumayan dimanjakan oleh yang ijo-ijo. Sayang waktu gue ke sini hari udah agak gelap.

7. Main di Lotte World

Lotte World ini mirip banget sama Disneyland. Katanya sih, Lotte World ini adalah theme park indoor terbesar di dunia. Seru sih main di sana, banyak mainan ekstrem yang ga berani gue naikin. Kalo udah sore, kita bisa liat parade juga. Tapi gue berasa kesepian ke taman bermain sendirian. Semua orang bareng sama temen-temennya, ketawa-ketawa, gue mau nyari kenalan juga ga mungkin SKSD sama satu grup ABG gtu. Hahahhaa.

8. Jalan kaki muterin Seoul

Kota seoul itu nyaman dan bersih banget. First impression gue bener-bener bagus sama ini kota. Kemana-mana jalan kaki juga bisa dan lo bisa nemuin berbagai hal yang unik, lucu dan bagus di kota ini. Jadi, kalo bingung mau kemana, ya udah jalan aja kemana kaki melangkah. Hahaha.

First time going abroad? Try Bangkok!

Habis dari Phuket (foto-fotonya bisa diintip di sini), gue pun ke Bangkok. Waktu itu gue sampai di Bangkok di hari terakhir di tahun 2011. So, gue bakal ngerayain tahun baru di sini. Bangkok sendiri kotanya menyenangkan, banyak kuil-kuil cantik dan harga barang/makanan di sini relatif murah. Gue ngerekomendasiin kota ini buat yang pengen nyobain ke luar negeri pertama kali dengan budget murah. Gue sendiri lebih prefer Bangkok daripada Singapore atau Kuala Lumpur. Waktu pas gue dateng, cuacanya panas banget. Meleleh!

GRAND PALACE

Tempat ini adalah tempat paling populer di Bangkok. Kalo googling Bangkok pasti yang paling pertama keluar adalah Grand Palace. Grand palace adalah komplek istana kerajaan yang juga menjadi tempat tinggal raja di masa lampau. Sekarang, Grand Palace masih digunakan untuk beberapa acara kerajaan. Untuk masuk ke sini, tidak diperkenankan menggunakan baju minim. Waktu itu gue pake celana pendek, disuruh ganti kain. Di sana disediain kain buat para wisatawan yang menggunakan kostum yang kurang sesuai.

CHAO PHRAYA RIVER

Di buku geografi, tempat ini terkenal banget hahahha. Sungai besar yang melintasi dan mengairi kota Bangkok. Di sungai ini kita bisa melihat Wat Arun, Grand Palace dan tempat-tempat terkenal lain di Bangkok. Jujur, sungai ini di bawah ekspektasi gue. Gue mengharapkan sungai yang bagus dan bersih. Tapi ternyata airnya agak coklat dan biasa banget hahhaha. Gue naik perahu yang melintasi sungai Chao Phraya. Kita mengarungi sungai sampai ke ujungnya dan sempat turun untuk melihat sebuah pasar kecil. Sayang, pas ke sana udah kesorean jadi cuma liat 1 perahu floating market.

BANGKOK AT NIGHT

Menjelang malam, gue muterin Bangkok, dari Chatuchak Weekend Market, trus keliling-keliling mall macam MBK dan Siam Discovery. Barang-barang di sini mayan murah si, ya ga beda jauh lah sama Jakarta. Hahahha.

NEW YEAR EVE AT CENTRAL WORLD

Setelah bertanya-tanya di mana tempat ngerayain malam tahun baru yang paling populer di Bangkok, kami menemukan Central World. Tempat ini rameeeee banget, bahkan jalan ke sananya aja crowded. Hahah. Ya wajarlah, tahun baru! 😀

WAT PHO

Wat Pho ini disebut juga Temple of Reclining Buddha. Sesuai namanya, di sini ada patung Buddha Tidur guedee banget berwarna emas. Banyak bgt yang mau foto sama patung ini, tapi rada susah, secara panjangnya 43 meter. Jadi susah buat foto sama keseluruhan patung. Katanya, di kuil ini juga tempat lahirnya Thai Massage yang terkenal itu.

Perjalanan gue di Bangkok pun berakhir. Suatu hari, gue pengen ngejelajahin kota-kota lain di Thailand, kaya Chiang Mai, Chiang Rai, Lopburi, dan lain sebagainya 😀

#DibuangSayang: Phuket, 2011

Sebelum gue punya blog ini, banyak tempat indah yang sudah gue jelajahi, sayangnya kisahnya tidak terekam dalam bentuk tulisan. Yang tersisa hanyalah kenangan dan foto. Daripada fotonya dibuang dan ditelantarkan begitu saja, mending gue jadiin postingan. Hahhaha. Untuk itulah postingan gue yang berupa foto dulu-dulu gue kasih hashtag #DibuangSayang.

Kali ini gue akan menampilkan foto gue waktu ke Thailand, akhir tahun 2011. Waktu itu gue liburan akhir tahun bersama keluarga, kami ke 2 tempat yaitu Phuket dan Bangkok. Here are some pics in Phuket!

IMG_0945

i forgot the beach name but it’s so crowded!

IMG_0991

the beautiful sunset

IMG_1020

the flying lantern

Gue ke Phi Phi Island waktu ke Phuket, kita ikut one day tour. Sayangnya saat itu bener-bener pas high season dan ruame banget sama turis, kapalnya mau menepi aja susah bgt. Bikin ilfeel deh pokoknya. Tapi pemandangannya emang bagus banget.

On the way to Phi Phi Island

On the way to Phi Phi Island

IMG_1047

Cakep ya!

IMG_1051

Banyak gundukan karst kaya di Raja Ampat

IMG_1054

Snorkeling with papa

IMG_1063

Me!

IMG_1088

The beautiful Phi Phi

IMG_1099

😀

IMG_1103

Clear waters

IMG_1147

another beach in Phuket

Habis dari Phuket, kita ke Bangkok!