Get me outta here!

see. taste. tell

Menu

Skip to content
  • About
  • Indonesia
    • Bali
    • Jakarta
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Papua
  • Eropa
    • Austria
    • Belanda
    • Belgia
    • Ceko
    • Estonia
    • Finlandia
    • Hungaria
    • Italia
    • Jerman
    • Latvia
    • Polandia
    • Prancis
    • Rusia
    • Slovakia
    • Spanyol
    • Swiss
    • Yunani
  • Asia
    • Jepang
    • Korea Selatan
    • Thailand
    • Vietnam
    • Kamboja
    • Laos
  • Afrika
    • Maroko
  • Home

Author Archives

Cuni CandrikaCuni Candrika is an Indonesian globetrotter, lived in France for 4 years. She already travelled to 41 countries. Her dream is being a digital nomad and living from her backpack. Follow her journey at www.cunicandrika.com
Cuni Candrika's avatar

Museum Nasional Indonesia

March 12, 2015 by Cuni Candrika

Di suatu hari sabtu tanggal 7 Maret, gue iseng jalan-jalan sendirian ke Museum Nasional. Sebenernya gue udah pengen ke sana dari dulu, tapi susah banget ngajakin temen, pada ga bisa atau ga mau. Pas kebetulan kemarin ada kesempatan, gue cus lah ke museum nasional.

Sekitar jam 1 siang setelah gue ketemuan sama temen gue di sarinah, gue pergi ke museum ini. Tadinya gue mau pulang ke gading, tapi berhubung masih siang ntar diketawain sama pager, jadilah gue melancong ke sini. Ada temen gue yang pernah bilang kalo museum ini adalah museum paling bagus yang pernah dia liat. Karena gue penasaran, gue pengen liat ke sini. Lagian, museum nasional adalah salah satu museum terkenal di jakarta.

Turun di halte monas, gue masuk ke sini dengan bayar 5000 rupiah. Pertama gue masuk ke gedung lama, di sana dijelaskan mengenai etnisitas, dari sumatra sampe papua. Dijelasin baju adat, alat-alat penunjang hidup, alat musik dan lain sebagainya. Di gedung ini juga ada ruang keramik, rumah adat, ruang arca dan ruang tekstil.

museum nasional!
museum nasional!
tampak depan
tampak depan
museum ini juga disebut museum gajah
museum ini juga disebut museum gajah
sigale gale, boneka dari sumatra utara
sigale gale, boneka dari sumatra utara
nyi roro kidul lagi naik kuda terbang
nyi roro kidul lagi naik kuda terbang
gamelan jawa
gamelan jawa
berbagai rumah adat
berbagai rumah adat
halaman dengan arca-arca
halaman dengan arca-arca

Setelah muter-muter di gedung lama, gue ke gedung baru. Gedung baru ini bener2 modern. Asli bagus bgt! Bener kata tmn gue yang bilang ini museum paling bgs di jakarta (yang pernah gue liat). Gedung ini terdiri dari 4 lantai dan ada eskalator dan liftnya! Waw. keren deh. Di bangunan ini dijelasin tentang masa prasejarah, komunikasi, organisasi sosial, emas dan keramik.  Bahkan ada prasasti mulawarman atau apa gtu, yang suka ada di buku sejarah sekolah jaman dulu. Ternyata emang banyak benda-benda yang kita kenal dari buku sejarah yang disimpan di museum ini.

gedung baru yang modern
gedung baru yang modern
lantai 2 di gedung baru
lantai 2 di gedung baru
evolusi manusia prasejarah
evolusi manusia prasejarah
manusia prasejarah
manusia prasejarah
salah satu prasasti
salah satu prasasti

Sepulang dari sini gue iseng naik jakarta city tour bus a.k.a mpok siti (beneran ini nicknamenya). Gue sangat menyayangkan sekarang udah ga ada lagi tur guide di bis ini. Pas terakhir gue naik bis itu, tahun lalu, masih ada guidenya. Kan sayang ya, jadi sama aja kaya busway biasa 😦

indonesia jakarta museum indonesiajakartamuseum 2 Comments

Doraemon Gadget Expo

March 10, 2015 by Cuni Candrika

Hari minggu tanggal 22 Februari 2015 gue ke Doraemon Gadget Expo bersama 3 orang teman. Udah mau ke sini dari lama tapi ga jadi-jadi, akhirnya ada juga yang bisa digeret ke Ancol. Gue pergi sama Melta dan Yani, dan satu orang temen mereka yang bernama Yunita. Kita naik busway ke arah kota, kemudian naik angkot M15 menuju ke arah Ancol. Sampai depan gerbang Ancol, kita membayar uang masuk Ancol 25 ribu kemudian naik shuttle bis gratis menuju Ancol Beach City Mall. Kita harus menaiki shuttle yang bernama bus wara wiri ini dua kali. Naik yang ke arah timur dulu kemudian berhenti di gondola, baru naik ke arah barat untuk berhenti di Ancol Beach City. Mayan enak juga. Seinget gue beberapa tahun yang lalu belum ada ini bis.

Gue baca di facebooknya kalo buat masuk ke Doraemon Gadget Expo ini bisa buy 1 get 1 dengan flazz atau kartu kredit BCA. Curangnya, di loketnya ga diberitahukan sama sekali tentang hal itu. Gue smpt deg-degan juga takut tiba-tiba ga buy 1 get 1. Taunya bisa. Harga aslinya sendiri 99000 sudah termasuk PPN. Kalo buy 1 get 1 seorang jadi bayar 50ribu. Mayan lah.

Sebelum ke sini, gue udah baca di beberapa blog kalo pamerannya biasa aja. Dibanding yang di hongkong beda jauh. Bener sih, setelah masuk emang biasa aja, tapi mayan lah buat bernostalgia masa kecil bareng sama doraemon dan temannya yang lucu-lucu itu. Worth it lah kalo dengan 50ribu, kalo dengan harga 100ribu agak ga worth it. Nah, ini dia foto-fotonya. Enjoy! (Lucu ya bisa masang kolase foto kaya gini, beda sama waktu di blogspot dulu :P)

thank you guys!
thank you guys!
keluar di laci nobita!
keluar di laci nobita!
doraemon dengan ratusan gadgetnya
doraemon dengan ratusan gadgetnya
taman bermain
taman bermain
baling-baling bambu
baling-baling bambu
they are getting married!
they are getting married!
nobita dan keluarga
nobita dan keluarga
sejarah doraemon
sejarah doraemon
we-fie
we-fie
here we come!
here we come!
100 doraemon secret gadget expo
100 doraemon secret gadget expo
nobita dan teman-teman
nobita dan teman-teman
pintu ke mana saja
pintu ke mana saja
roti hafalan
roti hafalan
indonesia jakarta museum doraemonexpoindonesiajakarta Leave a comment

Pulau Harapan (Palsu)

February 2, 2015 by Cuni Candrika

Weekend kemarin, tanggal 31 Jan-1 Feb gue main ke Pulau Harapan, di Kepulauan Seribu. Gue ikut trip temen gue yang bernama Rani, nama tripnya Rani Journey. Kita bisa muterin Pulau Harapan dan sekitarnya dengan membayar 350 ribu. Kali ini gue pergi bareng Melta, partner trip ke Jepang gue. Biasanya agak susah ngajak dia trip ala backpacker, tapi entah kenapa sejak pulang dari Jepang dia jadi mau-an. Hahahha.

Gue dan Melta naik busway ke arah Pluit jam 5 pagi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik angkot B01 merah dari Pluit menuju Muara Angke. Meeting point trip ini. Kita sampai di Gerbang Muara Angke pukul 6.15. Kita musti agak jalan ke dalam dan becek-becekan untuk masuk ke pelabuhannya. Kamipun bertemu dengan tour leader kali ini, namanya Ranu. Gue agak heran ya, 3 kali ikut Trip Rani Journey tour leadernya namanya mirip-mirip semua. Dari Rani, Randy terus Ranu. Mungkin emang seleksinya berdasarkan nama. Hahahhaa.

Kami kemudian naik kapal, yang sudah penuh dengan orang. Gokil deh tuh kapal rame abis. Gue sama Melta duduk di sisi sebelah kanan kapal dan di luar. Harusnya kapal hari itu ada 2 yang ke Pulau Harapan, tapi 1 kapal ga jalan, jadi dipenuh-penuhin deh itu 1 kapal.

Kapal tapi rame amat. Udah kaya di angkot. (Photo by Rizal)

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8, dan kapal belum juga bergerak. Padahal di jadwal kapalnya jalan jam 7. Ternyata, ada polisi yang patroli di situ dan dia tidak mengijinkan kapal kita berangkat sampai muatannya dikurangi. Alhamdullilah! Soalnya agak ngeri juga ya bawa kapal ratusan orang berdesak-desakan gtu. Akhirnya sebagian orang yang duduk di atas atap, dipindahin ke kapal satunya lagi.

Perjalanan menuju Pulau Harapan memakan waktu 3 jam. Sepanjang jalan, ombaknya kenceng banget dan kapalnya goyang-goyang agak ekstrem. Gue sempet agak takut, begitu pula cewek sebelah gue, yang kayanya udah ketakutan banget. Tuh cewe kayanya emang ga siap backpackeran sih. Dia pake kosmetik lengkap beserta jaket bulu. Hmm..

Setelah harap-harap cemas menuju Pulau Harapan, akhirnya kapal sampai juga jam 11 siang. Pemandangan dari pelabuhannya cukup bagus dan terlihat gradasi warna biru muda dan biru tua. Kami pun menuju homestay dan makan siang di sana. Saya satu kamar berlima cewe-cewe semua. Homestaynya namanya Baronang 3 dan cukup oke, ada ACnya.

Pasukan trip Harapan kali ini.

Setelah makan siang, kami mulai perjalanan Island Hopping. Saya sudah siap dengan masker, snorkel, sepatu boot snorkeling dan dry bag. Gue sempet agak diketawain gara-gara bawa peralatan lengkap banget. Hahahha.

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Putri. Di sini kita snorkeling. Bawah lautnya cukup oke. Banyak karang-karang dan juga ikan kecil lewat. Oke lah. Setelah itu kita ke Pulau Gosong Air. Pemandangan di sini bagus banget. Gue ga nyangka ada yang bagus macam gitu di Pulau Seribu. Kita bisa snorkeling di laut dangkal dan ada segerombolan ikan jalan-jalan di sana. Anak-anak langsung pada ngasi cracker buat dikasih makan ke ikan-ikan itu.

Ikan Sergeant Major yang langsung rame ngeliat cracker (Photo by Rizal)

Pulau Gosong Air. Airnya bening banget.

Puas main air dan foto-foto, kita ke Pulau Gosong Darat. Nah pulau ini asli mirip banget sama Pulau Gusung yang ada Di Derawan. Mungkin yang namanya Pulau Gusung emang modelnya begini semua kali ya. Bagus deh pokoknya! Uniknya, ada yang jualan gorengan di tengah pulau kecil itu. Itu pulau kecil banget, kaya cuma berapa meter. Kalo airnya pasang, kayanya itu pulau kelelep deh. Si Melta dan temen baru kita yang namanya Pipit langsung menyerbu itu tukang gorengan. Hahahhaa.

Penampakan Pulau Gosong Darat dari perahu

Ini separo pulaunya. Kecil tapi berkesan.

Ayo berkemah!

Sehabis itu, kita ke Pulau Perak. Pulau ini juga bagus, dengan gradasi warna biru yang keren. Gue suka denger cerita soal Pulau Perak ini dari temen gue si Ires. Dia sering berkemah di sana. Haha. Pengen rasanya kali-kali nyobain berkemah di pulau juga. Gue sama temen-temen baru muterin ini pulau sambil ledekin sih Pipit yang gayanya pecicilan dan ga berenti ngomong. Hahhaha. Akhirnya ada juga trip di mana bukan gue sasaran bully-nya, tapi orang lain! Hahahhaha.

Pulau Perak

Pukul 5 sore, kami kembali ke Pulau Harapan. Di dermaga, kami nyobain jajanan khas Pulau Harapan, Cilung Abon. Jajanan ini mirip sama cireng tapi ini digulung, namanya juga cilung! Hahhaa. Cilung yang enak yang di dermaga, harganya Rp 5000,-. Ada juga yang sama abang lewat harganya Rp 3000,- tapi enakan yang di dermaga. Buat Om Dodi yang udah nraktir kita-kita, thank you ya! Hahahhaa.

Setelah itu kami pun pulang ke penginapan untuk mandi dan makan malam. Rencananya, habis makan malam akan ada barbecue di dermaga. Tapi karena hujan lebat, acara barbecue-annya dicancel L

Malam itu kami tidur cepat sekitar jam 9. Kemudian kami bangun pukul 6 pagi di hari Minggu. Saat bangun, di luar masih hujan. Sepertinya perjalanan kami ke Pulau Bulat dan Genteng dicancel. Kami menunggu sampai jam 8 untuk mendapat kepastian, namun guide yang di kapal ga dateng2 ke tempat kita. Itu artinya, tidak ada perjalanan kali itu. Agak kecewa sih. Tapi memang itu resikonya pergi saat musim hujan.

Hari itu, kami hanya berjalan-jalan keliling pulau dan juga makan indomie di warung. Hahahha. Walaupun hujan tapi kita tetep bisa ketawa-ketawa ceria dengan teman-teman baru.

Pukul 11 kami menaiki kapal lagi untuk menuju Jakarta. Kapalnya juga sudah cukup penuh. Gue sampe duduk harus menekuk kaki. Banyak orang yang kesulitan mendapat tempat duduk, tapi nyebelinnya ada beberapa orang yang dengan seenaknya santai-santai tiduran. Rrrr.

Sampai Jakarta, kami makan seafood dulu di Muara Angke. Setelah itu kami pun pulang ke rumah masing-masing, masih ditemani hujan 🙂

See you next trip! (Photo by Dodi)

indonesia jawa indonesiajawapulau seribu 1 Comment

Family Weekend in Tanjung Lesung

January 17, 2015 by Cuni Candrika

Di awal tahun ini, gue bersama keluarga merencanakan liburan ke Tanjung Lesung. Kami pergi pada tanggal 10-11 Januari 2015. Kami berangkat dari Jakarta pukul 8 pagi di hari Sabtu, kemudian sampai di Tanjung Lesung sekitar jam 2 siang. Lumayan juga, perjalanannya 6 jam (ga gitu macet), belum dipotong waktu makan siang dan mampir buat sarapan.

Tanjung Lesung ini letaknya di Banten, tepatnya setelah Anyer dan Carita. Pas masuk, kelihatan tempatnya private banget. Tanjung Lesung punya kompleks pribadi sekitar 1500 HA. Kami menginap di Tanjung Lesung Beach Hotel. Kami memesan cottage yang paling kecil dengan 1 kamar. Harga per malamnya Rp 1.700.000,- (kebayang ga kuat bayarnya kalo pergi ke sana sendiri hahahah). Hotel ini cukup bagus dan memiliki kolam renang sendiri yang langsung menghadap pantai. Wih, berasa kaya di Bali deh!

Kolam renang menghadap pantai di Tanjung Lesung Beach Hotel

Setelah check-in, kami pergi ke Beach Club. Beach Club ini adalah pusat kegiatan olahraga air di Tanjung Lesung. Di sini kita bisa snorkeling, jet ski, banana boat bahkan bisa menyewa kapal untuk pergi ke Ujung Kulon atau Anak Gunung Krakatau. Jika ingin ke Ujung Kulon, harganya cukup mahal. Rp 8.500.000,- dengan maksimum 8 orang. Mending ikut trip backpacker dari Jakarta deh. Haha.

Saya dan Cito ingin snorkeling di Beach Club. Sayangnya karena cuaca kurang mendukung dan airnya keruh, snorkelingnya tidak bisa dilakukan. Huhu. Akhirnya kita Jet Ski saja (Rp 320.000 selama 20 menit). Ini adalah pengalaman pertama gue Jet Ski. Rasanya, serem ! hahhahaha. Tadinya gue mau jet ski berdua aja disetirin cito, tapi akhirnya kami memutuskan jet ski bergantian dengan disetirin abangnya. Abangnya ini nyetirnya gokil juga, beberapa kali rasanya loncat dan hampir jatuh. Rada ngeri gue. Hahahha.

Setelah jet ski, saya duduk-duduk sebentar di pinggir pantai, lalu balik ke hotel untuk berenang. Hahaha. Pantainya sendiri cukup bagus untuk ukuran Pulau Jawa. Oke lah ! Di malam hari, kami sekeluarga melihat pertunjukan yang diadakan pihak hotel yaitu Debus ! Agak ngeri juga ngeliat orang ditusuk-tusuk gtu. Rrrr.

Jembatan di dekat Beach Club

Keesokan harinya, Cito, Mama dan Papa ingin bersepeda keliling pantai. Sebagai satu-satunya anggota keluarga yang tidak bisa bersepeda, saya memilih melipir ke jembatan di pantai Beach Club. Setelah agak bosan di situ, saya jalan-jalan lagi dan menemukan spot nyaman di villa sebelah. Namanya villa kalicaa. Vila ini masih satu manajemen dengan hotel kami. Sepertinya semua yang ada di Tanjung Lesung memang di bawah 1 manajemen. Di villa ini ada private beach dengan view pantai yang bagussss, kaya di Gili. Saya menghabiskan waktu berjam-jam tidur-tiduran di kursi pantai itu.

Jemur-jemur cantik di pantainya Kalicaa Villa

Pantainya cakep. Mungkin yang paling bagus di Pulau Jawa.

Ada 1 hal yang agak lucu waktu saya di Tanjung Lesung, saya bertemu dengan segerombolan karyawan dari kantor tempat saya pernah melamar dulu. Hahaha. Mereka lagi outing di Tanjung Lesung. What a coincidence! Saya bisa tahu karena saya pernah interview sama CEO-nya dan dia ada di sana waktu itu. Hahahhaa.

Jam 1 siang kami pulang dari Tanjung Lesung, kami mampir dulu ke Karang Bolong, Anyer, untuk melihat-lihat. Tadinya mau mampir ke mercusuar juga, tapi rasanya terlalu sore. Meskipun cuma sebentar, tapi senang rasanya ketemu pantai lagi. Di penghujung bulan Januari rencananya saya juga mau ke pantai lagi, ke manakah? Tunggu jawabannya di postingan selanjutnya!

indonesia jawa indonesiajawajawa barat Leave a comment

Hutan Pinus Gunung Pancar

January 17, 2015 by Cuni Candrika

Kalo pengen wisata alam yang ijo-ijo, bisa coba ke tempat ini. Hutan pinus gunung pancar!

Letaknya di sentul. Masuknya lewat perumahan sentul city. Tadinya gue sama teman2 mau ke wisata pemandian air panasnya. Cuma karena penuh sesak, akhirnya kita mengurungkan niat dan foto2 saja di sekitar hutan pinus. Kalo kt temen gue yg liat fotonya sih bagus ya, kaya di aussie. Hahaha.

Untuk masuk ke tempat ini kita musti bayar 25 ribu. Itu belum termasuk kalo mau ke pemandian air panas. Yang juga bayar 25 ribu. Di sini kayanya banyak premannya. Ati2 sm pak ogah di sepanjang jalan!

Overall sih tmp wisatanya cuma gitu aja, tapi okelah buat foto-foto dan refreshing! Here are some pics from Gunung Pancar!

Hutan Pinus

Ngeliatin apa, bu?

We-fie with SFC friends

 
indonesia jawa hutanindonesiajawasentul Leave a comment

Happy New Year!

January 16, 2015 by Cuni Candrika

Postingan pertama di tahun 2015. Yippie!

Di postingan ini gue mau cerita tentang malam tahun baru gue dan bagaimana gue menghabiskan hari pertama di tahun 2015.

Seperti tahun baru tahun kemarin, gue memutuskan untuk bertahunbaru di apartemen saja. Lagi2 gue ajak temen2 nginep untuk ngeliat kembang api bareng2. Temen2 kali ini dari circle geng Wawan. Hahahhaa. Jadi kita semua bisa ketemu gara2 Wawan deh pokoknya. Tapi sayang Wawan ga ikut acara kita karena sedang menempuh ilmu di Rusia. Di sini ada Erlyn, Rosa dan Rew. Harusnya ada Biyanto juga, tapi karena dia PHP, jadilah kita setaun dari 2014-2015 nunggu dia ga dateng2. Hahahha.

Kalo tahun lalu gue ke bundaran HI, taun ini gue ngeliat kembang api cukup dari apartemen. Kapok ke HI, desek2an sama banyak orang. Ujung-ujungnya bukannya seneng malah gondok. Hahahha. Ternyata ngeliat kembang api dari apartemen seru juga kok. Setelah kita muter2 cari spot yang oke, dari rooftop sampe kolam renang, akhirnya pilihan terakhir jatuh pada lantai kamar gue. Hahaha. Kita ngeliat kembang api dari jendela deket lift lantai 18. Di situ kembang apinya keliatan lebih jelas. Selain acara liat kembang api gue juga ada acara tuker kado. Kebetulan, kita dapet kado seperti yang kita mau. Rosa dapet buku (untung bukan gue yang dapet, karena gue ga suka baca), Rew dapet gelas, Erlyn dapet semacam karpet duduk, sementara gue dapat makanan! Hahahhaa. Selain itu kita juga pizza party!

Tuker kado di malam tahun baru

Keesokan harinya kita memutuskan untuk pergi ke hutan mangrove Pantai Indah Kapuk. Gue emang pengen ke tempat ini udah dari lama. Kebetulan anak2 pada mau juga. Langsung lah cus.

Setelah bertemu dengan si PHP Biyanto di halte Tosari, kami ke halte busway monas untuk menunggu BKTB (sejenis busway dengan tiket Rp 6.000) yang langsung ke PIK. Nunggu ini bis lamanya aujubile. Maklum armadanya cuma ada 5 biji. Kami sempat putus asa dan memutuskan untuk ngeteng angkot aja dari Kota. Tapi kemudian bis itu datang, setelah menunggu 45 menit. Awalnya kami ga yakin kalau itu bis ke PIK. Mana abangnya ga teriak2 kalo itu bis ke PIK. Kita *gue tepatnya* cuma modal sotoy aja. Ikut itu bis ke kota, eh ternyata itu bis beneran ke PIK. Hahahha. Alhamdullilah!

Seperti ini kira-kira bentukan bisnya. Tapi ga ada petunjuk rutenya di kacanya. Pokoknya kalo liat ini bis, niscaya bis ini menuju ke Pantai Indah Kapuk. (Photo by Google)

Fyi kalo mau ke PIK juga bisa naik kopami 02 dari kota terus lanjut mikrolet 03 merah ke PIK.

Perjalanan ke PIK cukup lama, ada kali sejam. Kami turun di yayasan Buddha Tzu Chi. Kemudian jalan kaki ke arah kiri menuju hutan mangrove. Perjalanan ke sana memakan waktu 20 menit jalan kaki. Kondisi waktu itu gerimis. Jadi agak ga nyaman jalan kemana2 becek.

Masuk ke dalam hutan mangrove ini kita diharuskan merogoh kocek Rp25.000 per orang. Di sana dilarang membawa kamera baik digital maupun SLR. Denger2 kalo bawa kamera disuruh bayar sejuta. Yang boleh digunakan hanya kamera HP. Tapi waktu ke sana sih pemeriksaannya ga terlalu ketat, cuma ditanya bawa kamera atau ga. Tanpa diperiksa tasnya satu per satu. Tempat ini buka dari pukul 8 pagi sampai 7 malam.

Kompleks hutan mangrovenya cukup luas. Terdapat beberapa penginapan dari yang ukurannya sekecil tenda sampai yang luas. Banyak pohon mangrove yang ditanam oleh berbagai perusahaan/institusi yang sempat ke situ, salah satunya saya melihat nama SMA saya. Santa Ursula. Hahahha. Di sana kita juga bisa naik kano. Tadinya kepengen, cuma karena cuaca kurang bersahabat, ga jadi deh. Akhirnya kita muter-muter aja ngelilingin hutan sambil foto-foto. Tempatnya cukup ok untuk refreshing. Melihat alam dan hijau dimana2. Sayang karena cuaca hujan jadi agak kurang maksimal.

Itu pohon-pohon yang ditanam sama berbagai institusi. 

Yang bentuknya segitiga itu penginapan seluas tenda tapi dari kayu. Mungkin bisa coba nginep kapan2! 

Berasa kaya di danau UI. Hahahha.

Kami sempat makan sore di sana, indomie seharga Rp 12ribu. Setelah puas berkeliling kami pulang pukul 7 malam dan menunggu bis BKTB lagi selama 45 menit. Kali ini tempat menunggunya lebih epik. Tidak ada halte, tidak ada tempat duduk, hanya berdiri di jalan saja. Mau nangis rasanya. Cape dan pegel bo!

Akhirnya datang juga tuh bis yang super lama. Dan anak2pun kembali menginap di tempat saya malam itu..

What a day!

indonesia jakarta hutanindonesiajakarta Leave a comment

Perjalanan ke Negeri Sakura: Kyoto

November 17, 2014 by Cuni Candrika

Postingan ini merupakan lanjutan postingan sebelumnya di Tokyo dan Nikko.

DAY 6: OSAKA-KYOTO

Perjalanan menempuh waktu 8 jam. Pukul 8 pagi kami sudah tiba di terminal Willer Express di Umeda Sky Building. Lagi-lagi tempat ini, sepertinya memang saya ditakdirkan untuk terus kembali ke sini, ke Willer Express, ke Osaka. Udah 4 kali ke sini selama kami di Jepang. Di sana, saya membuang sepatu saya yang sudah tidak enak dipakai, sekalian buang sial. Hahahha. Saya meneruskan perjalanan dengan sandal jepit Melta, yang walaupun sempit, tapi lebih proper daripada sepatu saya.

Kami memiliki 2 pilihan untuk pergi dari Osaka ke Kyoto. Pertama, naik Shinkansen 10 menit dengan harga 1420 Yen* atau naik kereta biasa 30 menit dengan harga 560 Yen*. Rencananya saya akan naik Shinkansen saat pulang dari Kyoto ke Osaka (flight kami ke Indonesia dari Osaka). Kami pun naik kereta biasa dan.. voila! Dalam 30 menit kami sudah berada di Kyoto!

Stasiun Kyoto sangatlah luas, kami membeli Kyoto Bus Pass (500 Yen seharian) terlebih dahulu untuk berkeliling Kyoto nantinya. Kami berjalan kaki menuju penginapan J-Hoppers Kyoto (5300 Yen untuk 2 malam), dari stasiun kira-kira jaraknya 20 menit. Sesampainya di hostel, saya mandi dulu kemudian bersiap menjelajah Kyoto! Sehabis makan, saya mencari sepatu boots di Department Store dekat stasiun. Sangatlah sulit mencari sepatu dengan ukuran kaki saya 41. Sepertinya memang cewek2 Jepang kakinya kecil mungil, ga kaya saya. Akhirnya setelah 2 jam mencari, ketemu juga boots di GU. Ga disangka, harganya cukup murah dan ada ukuran saya. Langsung saja saya membelinya! (N.B: setelah saya kembali ke Jakarta, saya menemukan sepatu yang sama di UNIQLO dengan harga 2 kali lipat)

GINKAKUJI TEMPLE

Setelah belanja, kami pergi dengan menggunakan bis dari stasiun Kyoto ke Ginkakuji Temple, kami naik bis ke stasiun terdekat, kemudian jalan kaki menuju templenya. Sepanjang jalan menuju temple, terdapat berbagai jajanan dan pernak-pernik khas Jepang. Saya tergiur untuk membeli Es Krim Green Tea-nya (300 Yen). Nyam! Sepanjang saya di Jepang, semua makan di sini beserta jajanannya enak-enak. Ga ada yang ga enak. Bahkan melta yang katanya picky eater juga makan terus selama di sini.

I miss this ice cream when back to Jakarta

Ginkakuji (tiket masuk 500 Yen) ini templenya sangat rindang, dipenuhi dengan pepohonan. Sayang, tidak ada guide yang bisa menceritakan asal muasal temple ini pada saya, keterangan di bookletnya pun menurut saya kurang jelas. Tapi menurut saya templenya sangat bagus. Saya mulai jatuh cinta dengan kota budaya, Kyoto. Sesuai dugaan saya sebelumnya..

Ginkakuji Temple

KYOMIZUDERA
Hari mulai sore, dan kami  memutuskan untuk pergi ke kuil lain, Kiyomizudera (tiket masuk 300 Yen). Perjalanan ke kuil ini juga dipenuhi stall2 makanan dan pernak pernik. Kami betah berlama-lama jalan di sini. Karena hari mulai sore, kami pun agak tergesa-gesa ke sana. Kiyomizudera adalah kawasan kuil yang sangat luas. Kami mengitari kuil ini selama 1 jam. Sayang, di sana, ada kuil yang sedang direnovasi. Kami menghabiskan sunset di tempat ini, melihat pemandangan kota Kyoto yang begitu cantik. Di mana-mana banyak wanita yang memakai Yukata. Mungkin lain waktu saya juga pengen nyoba jalan-jalan di Jepang pake yukata. Hihi.

Sunset in Kyoto from Kyomizudera

GION

Ternyata boots yang baru saya beli juga tidak senyaman itu saat dipakai. Saya pun menemukan sepatu kets Puma dengan harga diskon di jalan dan membelinya. Haha. Boros banget gue belanja2 mulu. Sehabis dari Kiyomizudera, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Gion. Kawasan ini adalah pusat perbelanjaan di Kyoto. Kawasan ini juga terkenal dengan Geisha-nya. Sayang, kami tidak menemukan Geisha saat itu.

Dari Gion kami pulang ke hostel. Kami makan di dekat hostel (650 Yen) lalu kemudian beristirahat. Menurut saya, hostel ini agak kurang nyaman. Dinginnya udara di luar masuk ke dalam, saya tidak tahu apa pemanas di dalam rusak atau dindingnya kurang tebal. Yang jelas, banyak orang juga mengeluhkan hal itu di internet. Showernya agak aneh karena harus ditekan tiap 5 menit sekali. Dan untuk menuju ke lantai atas tidak tersedia lift, alias harus naik tangga. J-Hoppers Hostel ini memang terkenal sebagai salah satu pelopor hostel di Jepang, sudah berdiri sejak tahun 2000-an. Mungkin karena sudah lama ini, maintenance-nya jadi kurang, berbeda sama hostel2 baru yang sebelumnya saya inapi. Kelebihannya, penerima tamunya ramah. Namanya Yulia, dan dia berasal dari Rusia. Hostel ini juga meminjamkan yukata free untuk kita berfoto-foto.

DAY 7 : KYOTO

Belajar dari pengalaman kami sebelumnya, kami bangun pukul 7 pagi dan berangkat pukul 8. Udah hari ke-7, baru belajar, telat booo! HAHAHHA.

Hari ini kami berencana akan pergi ke Kinkakuji Temple, kawasan Arashiyama dan juga Nishiki Market.

KINKAKUJI TEMPLE
Perjalanan dari stasiun Kyoto menuju Kinkakuji ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan bis. Kinkakuji temple (tiket masuk 400 Yen) ini sangat terkenal dengan kuil emasnya. Benar saja, begitu masuk ke dalam, saya menemukan kuil emas yang sangat cantik dengan pantulan air yang sempurna. Saya semakin jatuh cinta dengan Kyoto. Setelah mengitari area kuil, kami pun melanjutkan perjalanan ke Arashiyama. Oh iya, kuil-kuil yang saya datangi di Kyoto ini hanya bisa dilihat dari luar. Kita tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat isi kuil tersebut.

The beautiful Kinkakuji Temple (Golden Pavillion)

ARASHIYAMA

Kami naik bis ke Arashiyama di mana terdapat Togetsukyo Bridge, yang sangat bagus di musim gugur. Sayang, waktu itu daun musim gugur di Kyoto belum nampak. Puncak musim gugur di Kyoto itu bulan November. Saya terbayang  bagaimana indahnya jembatan tersebut dengan latar belakang daun musim gugur yang memukau. Setelah melewati jembatan, kami mengikuti jalan, yang akhirnya membawa kami ke Bamboo Path. Tempat ini sangat keren, terdapat jalan di mana kiri kanannya ada pohon bamboo yang tinggi menjulang. Cooooool! Setelah itu, kami naik Sagano Romantic Train (620 Yen) yang di sekitarnya terdapat pohon dan sungai cantik. Sagano train ini jadwalnya sejam sekali. Waktu saya ke sana, saya datang jam 1, tapi mendapatkan tiket yang jam 3. Harus menunggu agak lama untuk menikmati Sagano.

Togetsukyo Bridge

Bamboo Path

Setelah berkeliling dengan Sagano train, kami naik JR dari stasiun terdekat (200 Yen) untuk kembali ke terminal bis untuk melanjutkan perjalanan ke Nishiki Market. Agak deg-degan juga karena pasar ini tutupnya jam 5. Beruntung, hari itu adalah malam minggu, dan ternyata pasarnya tutup agak malam. Kami belanja oleh-oleh di Nishiki Market, dan sekitarnya. Akhirnya kami bisa puas-puasin belanja oleh-oleh. Pas banget, karena itu adalah malam terakhir kami di Jepang.

Sagano Romantic Train

View from Sagano Romantic Train

Pukul 9 malam kami pulang ke hostel dan saya berfoto-foto dengan yukata yang disediakan. Sayang si Mel ga mau foto pake yukata. Malam itu kami mulai packing dan menyadari bahwa bawaan kami berlipat ganda. Semoga kami tidak kena tambahan bagasi di flight esok hari.

DAY 8: KYOTO-KUALA LUMPUR

Tak terasa sudah hari terakhir di Jepang. Saya sangat sedih karena saya mulai mencintai kota ini, dan negara ini. Yaa selain itu males juga sih ke kantor tau bakal ada kerjaan numpuk. Hahaha. Hari ini kami bangun pagi kembali karena akan mengeksplor sebuah kuil yang tak kalah cantiknya dengan kuil lain, Fushimi Inari Shrine (free entry).

FUSHIMI INARI SHRINE 

Kuil ini masuk dalam peringkat pertama tempat di Jepang yang paling banyak dikunjungi oleh turis versi Trip Advisor. Terdapat ribuan gerbang untuk menuju puncaknya. Perjalanan menuju puncak memakan waktu 1.5 jam. Kami tidak sampai puncak dan hanya berhenti di tengah-tengah. Selain lelah, kami juga harus mengejar bis untuk kembali ke hostel lalu pulang ke Osaka.

Sepanjang Fushimi Inari Shrine pemandangannya begini semua

Sehabis makan siang, kami mengambil barang bawaan kami di Hostel kemudian ke stasiun Kyoto, tempat kita akan menaiki Shinkansen ke Osaka (1420 Yen). Shinkansen ini benar-benar cepat, dalam 10 menit kami sudah tiba di Osaka. Di luar kereta terlihat pemandangannya cepat sekali berubah, sementara di dalam, tidak terasa kecepatannya. Coool! Jika Anda memiliki banyak budget, Anda bisa menggunakan Shinkansen untuk berkeliling Jepang. Harganya sendiri sekitar 3 juta rupiah untuk satu minggu. Jarak dari Osaka ke Tokyo saja hanya ditempuh dalam waktu 2 jam, berbeda dengan naik bis malam yang menempuh waktu 8 jam.

Tiket Shinkansen Kyoto-Osaka

Shinkansen (Japanese bullet train)

Setibanya di Osaka, kami menuju Namba untuk menaiki Nankai Express ke Bandara Kansai. Yang kami takutkan terjadi, tas kami overload sehingga harus menambah extra bagasi. Kamipun membayar 4000 Yen untuk kelebihan bagasi kami berdua. Di bandara, akhirnya kami bertemu Tokyo Banana, yang sangat sulit dicari di Jepang. Tokyo Banana ini sangat terkenal di Indonesia, sementara di Jepang, sepertinya biasa saja. Maklum, semua snack di Jepang memang enak-enak. Kata teman saya, kalau mau mencari Tokyo Banana yang lebih murah, bisa dicari di Tokyo Sky Tree. Perbedaan harga sampai dengan Rp 50.000 dibanding di bandara.

Pukul 4 sore, saatnya kami berpisah dengan Jepang. Sedih rasanya. Jam 10 malam kami sudah tiba kembali di Kuala Lumpur. Suasana di sana sangat berbeda. Kami bertemu dengan petugas imigrasi yang galak-galak, jauh berbeda dengan orang Jepang yang sangat baik dan sangat santun. Di Jepang, orang-orangnya sangat helpful. Meskipun mereka tidak bisa Bahasa Inggris, tapi mereka akan mencoba menjawab pertanyaan kita sekuat tenaga, saya sendiri sampai kasihan melihatnya. Mereka juga selalu berterima kasih dan minta maaf. Bayangkan, saya tidak sengaja menyenggol orang di bis, eh malah dia yang minta maaf. Padahal saya yang salah, jadi merasa gak enak sendiri..

Karena sudah tahu spot enak untuk tidur, kami mengunjungi Burger King yang sofanya bisa untuk ditiduri. Setelah makan malam di sana, saya pun tertidur. Cukup pulas hari itu. Keesokan harinya kami berangkat ke Jakarta pukul 8 pagi dan tiba di Jakarta pukul 9. Selamat kembali ke kota yang panas dan macet. Hehehe..

Note:

*1 Yen = 113.5 Rupiah

Total biaya keseluruhan perjalanan kurang lebih Rp13.500.000 (jika tidak terjadi ketinggalan bus dan tidak belanja belanji, mungkin bisa Rp 11.000.000)

Arigatou Gozaimasu, Japan!

asia jepang jepangkyotoosaka 7 Comments

Perjalanan ke Negeri Sakura: Tokyo dan Nikko

November 14, 2014 by Cuni Candrika

Postingan ini merupakan lanjutan postingan sebelumnya di Osaka.

DAY 4 : TOKYO

Setelah bermalam di bis dengan tidur yang cukup nyenyak, kami sampai di Tokyo tepatnya di Stasiun Ikebukuro. Dari Ikebukuro, kami naik subway ke Asakusa tempat hostel kami berada. Kami membeli tiket terusan subway untuk 1 hari penuh seharga 1000 Yen*. Kami menginap di Khaosan Asakusa Hostel World & Ryokan (3400 Yen per malam) dengan memesan tempat tidur ala Jepang, yang disebut Ryokan. Asakusa adalah daerah pusat budaya dan pernak pernik tradisional Tokyo, berbeda dengan bagian Tokyo lain yang “kota” banget. Setelah mandi, kami melanjutkan perjalanan ke Tsukiji Fish Market.

TSUKIJI FISH MARKET
Kami sampai di sini kira-kira jam 1, banyak tempat yang sudah tutup, namun beberapa penjual masih buka. Kabarnya, Tsukiji Fish Market adalah pasar tempat menjual ikan terbesar di dunia. Di sini dijual berbagai macam ikan seperti salmon, tuna dan sebagainya. Jika ke sini jam 4 subuh, Anda bisa melihat pelelangan tuna. Saran saya kalau mau ke sini lebih baik di pagi hari, jangan kesiangan kaya saya. Di sini kami melihat berbagai makanan dan juga ikan dijual, kami tidak membeli apa-apa karena sudah kenyang. Perjalanan pun dilanjutkan ke Meiji Shrine.

MEIJI SHRINE dan HARAJUKU
Meiji shrine adalah sebuah kuil di sebelah pusat perbelanjaan Harajuku. Cuaca saat itu cukup dingin ditambah hujan, kuilnya sendiri cukup besar namun sederhana. Terdapat tempat berbagai doa yang ditulis di kayu digantung. Saya juga pengen nulis doa, tapi lalu inget kantong. Hahah.

Sehabis dari Meiji Shrine kami ke Harajuku. Saya berharap bisa menemukan jaket tebal dan boots di sini. Karena kabarnya harganya ada yang miring. Tapi setelah berputar-putar, saya tidak menemukan yang harganya miring. Kami malah berakhir belanja di Daiso untuk keperluan pribadi dan oleh-oleh. Saya juga berharap melihat banyak yang cosplay di sini, namun karena cuaca jelek dan hari itu masih hari biasa, tidak begitu banyak orang cosplay.

Meiji Shrine

Harajuku Street

Wallpaper at Harajuku Street

SHIBUYA dan SHINJUKU

Mengejar waktu, kami pun pergi ke Shibuya. Di sana adalah pusat kota Tokyo, di mana terdapat persimpangan Shibuya yang sangat ramai orang berlalu lalang. Kami mencari patung Hachiko, anjing yang terkenal itu. Agak susah mencari patung Hachiko, dalam bayangan saya patungnya besar, namun ternyata kecil dan sulit dicari.

Di Shibuya ini kami makan malam di Pepper Lunch. Sistem pemesanannya agak unik karena kami harus memilih menu dan membayar di boks panjang (seperti boks minuman kaleng), lalu mengambil bon dan memberikannya pada pelayan di sana. Pepper Lunchnya kurang lebih sama seperti yang di Jakarta. Yang saya amati sejak saya sampai di negara ini adalah banyaknya bangku untuk makan sendiri atau mengitari dapur. Jarang bangku yang untuk rame2. Sepertinya orang Jepang lebih senang makan sendirian daripada bersama orang lain.

Shibuya crossing line

d4de6-img-20141015-wa0012

Patung Hachiko

Selepas dari Shibuya kami ke Shinjuku. Shinjuku ternyata kurang wah dibanding Shibuya, padahal dalam bayangan saya Shinjuku itu lebih wah. Hehehhe. Saya menemukan UNIQLO lalu membeli jaket di sana. Akhirnya ketemu jaket juga! Sementara itu bootsnya belum ketemu, padahal kaki saya sudah sakit sekali ditambah sepatunya kemasukan air hujan 😦

Kemudian kami pulang ke Asakusa dan berharap bisa melihat pasar tradisional Nakamise di sana, sayang pasarnya sudah tutup dari jam 5 sore. Saya pun Cuma berfoto di kuil ini..

DAY 5: NIKKO

Kami bangun pada hari itu sekitar jam 10. Kami benar-benar pemalas, karena terlalu lelah setiap malamnya. Saya membayangkan perjalanan dari Tokyo ke Nikko hanyalah 1 jam. Tapi ternyata 3 jam. Jeng jeng jeng! Alhasil hari itu diawali dengan terburu-buru, kejar-kejaran sama kereta.

Kami melihat lihat sebentar ke Nakamise Shopping Street, tempat di mana banyak pernak pernik tradisional dijual, kemudian makan di MOS Burger (700 Yen). Setelah itu kami langsung naik kereta menuju kota Nikko (1360 Yen). Nikko menjadi tujuan kami di Jepang karena di bulan Oktober ini, di Nikko sudah musim gugur. Kota lain juga sudah musim gugur, namun belum banyak bunga musim gugurnya. Sementara di Nikko, sudah banyak. Kami berniat pergi ke beberapa air terjun yang di kanan kirinya ada autumn leaves.

Perjalanan dari Tokyo ke pusat kota Nikko ditempuh selama 2 jam 10 menit dengan menggunakan kereta Nikko Tobu Line dari stasiun Asakusa. Sesampainya di stasiun Nikko, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kami harus melanjutkan perjalanan ke Okunikko (menggunakan Nikko Day Pass 2000 Yen tergantung jarak), tempat air terjun2 itu berada. Perjalanan ke Okunikko berjarak 1 jam dengan menggunakan bis, kami pun langsung ke Kegon Falls (tiket masuk 550 Yen). Air terjun yang katanya paling besar di Nikko.

Naik air terjun di sini sangatlah berbeda dengan di Indonesia, di Indonesia kita harus trekking berjam-jam untuk melihat indahnya air terjun, sementara di sini kita tinggal naik lift menuju ke atas, lalu sampailah ke Observation deck air terjun. Memang, kita hanya bisa melihat air terjun tanpa bisa main dan mandi-mandi di sana. Tapi itu saja sudah sangat bagus. Kami melihat daun musim gugur di air terjun tersebut, belum benar-benar merah, tapi sudah lumayan lah.

Kegon Falls

It’s autumn in Nikko!

Pukul 5 kami melanjutkan perjalanan ke Ryuzu Falls (naik bis 420 Yen), sayang sampai sana sudah gelap, mana semua petunjuk jalan bertuliskan huruf kanji. Akhirnya kami berhasil melihat Ryuzu falls, yang jauh lebih kecil daripada Kegon. Namun sangat cantik karena di sebelah kiri dan kanannya ada autumn leaves. Saya agak menyesal sampai di sini sesore ini, karena kalo lebih siang pasti pemandangannya jauh lebih indah dan spot yang didapat pasti lebih banyak. Itulah ganjaran bangun siang, kalo kata orang jaman dulu.. rejekinya dipatok ayam. Hahahha. Di Ryuzu, kami makan udon dulu untuk makan malam, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Tokyo. Kami harus sampai Tokyo setidaknya jam stgh10 malam, karena jam 10.15 kami sudah harus naik bis Willer Express ke Kyoto. Selamat berpacu dalam waktu!

Ryuzu Falls 

Perjalanan dari Nikko ke Tokyo sangatlah tidak mulus. Diawali dengan menunggu kereta di peron yang salah. Dan kami harus berkejar2an dengan kereta di peron lain yang akan segera berangkat. Di tengah jalan, kami dipindahkan ke kereta Express (alias lebih mahal). Kami pikir kami tidak harus membayar lagi, tapi ternyata kami harus bayar lagi, atau kami harus turun. Mau ga mau kami membayar, karena kami harus sampai ke Tokyo pukul setengah 10, dan tidak ada waktu untuk menunggu kereta lagi. Saya deg-degan dalam hati, takut tidak sampai di terminal tepat waktu.

Kami sampai di stasiun Asakusa setengah 10, kemudian harus naik subway lagi ke stasiun Shinjuku, tempat terminal bis berada. Tidak saya sangka-sangka, perjalanan ke Shinjuku cukup jauh. Dalam pikiran saya di Jepang kemana-mana deket, karena transportasinya gampang. Di tengah jalan di subway, kami melirik jam dan sudah pukul 09.45. 30 menit lagi menuju keberangkatan bis! Saya dan Melta memutuskan turun dan naik taksi ke Shinjuku, dengan ekspektasi perjalanan lebih cepat. Taksi di sini ternyata lebih mahal daripada di Osaka, sekali buka pintu 700 yen. Ternyata, Shinjuku letaknya memang agak lumayan, kami sampai sana pukul 22.25 dengan argo taksi seharga 4500 yen. Gila, stres banget, baru kali ini naik taksi seharga Rp500.000 dengan waktu tempuh 30 menit, mana tetep telat pula!

Kami sudah telat 10 menit dari pukul 22.15. Dan bispun sudah pergi. Ya, inilah Jepang, telat 1 menit aja ditinggal, apalagi 10 menit. Padahal saya sudah memohon untuk ditunggu dengan meng-email ke Willer Express. Tapi apa daya.. Perasaan kesal sekesal-kesalnya ini pun muncul kembali, udah capek-capek naik kereta Express, naik taksi 500ribu, tapi tetep aja telat! Akhirnya, tiket bispun Cuma di-refund 50%.

Saat itu saya hanya memiliki 2 pilihan, naik bis ke Osaka lalu melanjutkan perjalanan ke Kyoto via kereta (Osaka ke Kyoto cuma 30 menit). Atau naik bis ke Kyoto keesokan harinya dengan harga tiket 2x lebih mahal. Akhirnya kami memutuskan naik bis ke Osaka (3900 Yen). Bisnya tidak sebagus kemarin dan harganya lebih murah sedikit, tapi tidak apa, yang penting kami bisa ke Osaka. Kami pun menunggu jam keberangkatan bis, pukul 00.30.

Karena bisnya tidak sebagus kemarin, bis ini tidak ada selonjoran kaki, tutup kepala dan juga chargeran. Di bis itu saya cuma bisa tidur-tidur ayam, tidak sepulas waktu naik bis dari Osaka ke Tokyo.

*1 Yen = 113.5 Rupiah

Intip kelanjutannya di Perjalanan ke Negeri Sakura: Kyoto!

asia jepang jepangnikkotokyo 4 Comments

Perjalanan ke Negeri Sakura: Osaka

November 12, 2014 by Cuni Candrika

Setelah liburan ke 2 tempat tahun ini, saya memutuskan untuk berlibur lagi! Hahhaa. Semua hanya gara-gara impulsivitas saya melihat tiket promo murah. Bayangkan, siapa yang tak terketuk hatinya melihat tiket promo Kuala Lumpur-Osaka hanya seharga 1.5 juta rupiah PP! Hahaha. Saya menemukannya di akun twitter @flyingpromo. Di sana banyak penerbangan dalam dan luar negeri dengan harga super miring! Hal itu bisa terjadi karena pemilik akun tersebut, Mas Efan, memiliki Air Asia loyalty card yang namanya BIG! Gile, bisa promo abis-abisan gtu. Nah gue pun mengajak Melta, yang memang juga pengen ke Jepang. Tahun lalu kami pernah membayangkan liburan ke Jepang bareng, dan ternyata terwujud aja loh. Dia pun langsung mau saja saat diajak, dengan syarat, bukan saat musim dingin. Akhirnya kami memutuskan pergi di pertengahan bulan Oktober. Agak nekat sih gue, mengingat akan ada tes DELF (macam TOEFL buat Bahasa Prancis) di bulan November dan gue harus mempersiapkannya jauh-jauh hari.

Nah, untuk pergi ke negeri sakura ini kami harus mempersiapkan visa (yang kata orang agak susah dapetinnya). Dengan modal minjem duit emak, gue pun mengapply visa dan lolos! Hahaha. Ternyata apply visa jepang ga terlalu susah, tinggal masukin persyaratan yang ada di web, bayar biaya administrasi Rp320 ribu sama siapin rekening tabungan. Ga ada rumus pasti tabungannya musti berapa tapi kata orang-orang sih setidaknya 1 juta x jumlah hari kepergian lo ke sana. Misalnya lo ke sana 10 hari, lo musti nyiapin 10 juta..

Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu, 11 Oktober 2014. Saya dan Melta pergi ke Malaysia pada pukul 9 malam naik Lion Air (Rp900 ribu PP) untuk kemudian transit dan tidur di sana. Ini pertama kalinya saya tidur di bandara. Dan rasanya… ga enak! Hahahhaha. Iya lah, tidur di cuma di karpet dengan suara orang lalu lalang. Di bandara Kuala Lumpur ini memang tidak memungkinkan pengunjung untuk tidur di kursi. Kursinya didesain biar kita ga bisa tidur di sana. Beda banget sama bandara Kansai di Osaka yang kata teman saya, bisa tidur nyaman di kursi ditambah dikasi selimut. Waw! Yah walaupun Cuma di karpet tapi bandara KL itu nyaman, ga heran masuk dalam 10 bandara terbaik di dunia.

Day 1: KUALA LUMPUR-OSAKA

Setelah tidak bisa tidur selama semalam, kamipun berangkat ke Osaka pukul 8 pagi untuk menempuh perjalanan udara selama 7 jam. Di pesawat, kurang lebih sama keadaannya, gue cuma tidur-tidur ayam. Akhirnya sampai juga kami di Osaka, kurang lebih jam 4. Rasanya seneng campur terharu. Hahaha. Ini pertama kalinya gue ke luar negeri tanpa nyokap gue, ke Jepang pula gitu kan.

Sesampainya di airport kami langsung mencari kereta yang menghubungkan airport dengan pusat kota Osaka. Nama keretanya Nankai Express (920 Yen*). Setelah 1 jam di kereta, kami pun sampai di stasiun yang dekat dengan tempat kami menginap. Kami memesan hotel kapsul di Agoda bernama Shin-Imamiya Hotel (Rp 230.000). Kami memesan hotel ini karena kami ingin merasakan menginap di hotel kapsul. Hotel kapsul yang lain sudah penuh di tanggal itu dan satu-satunya pilihan kami adalah hotel ini.

Begitu sampai, kami langsung menanyakan modem wifi yang sudah kami pesan dari Jakarta. Dan modemnya pun sudah sampai. Fyi, kami memesan Japan Wireless dengan harga 4200 Yen (Rp 489.981) untuk 5 hari, dan modemnya pun bisa dipakai ramai-ramai sampai 10 gadget. Pelayanannya sangat bagus dan sinyalnya kencang. Recommended!

Hotel kapsul ini benar-benar di luar dugaan saya, saya membayangkan kapsulnya berjejer, tapi yang saya dapat adalah 1 kamar yang di dalamnya ada 1 kapsul. Hahahha. Setelah mandi, kami pergi makan sebentar di sekitar hotel (480 Yen*). Sejak kedatangan saya ke Osaka, saya sudah memperhatikan 1 hal. Suara ambulans yang tidak berhenti setiap 15 menit sekali. Saya pernah membaca buku bahwa katanya setiap 15 menit sekali ada orang yang bunuh diri di Jepang, Dan setiap ada ambulans saya jadi merinding membayangkannya.

Expectation

Reality

NAMBA-DOTONBURI

Meskipun lelah dan ingin tidur, tapi tidak mungkin malam itu tidak kami lewatkan dengan berjalan-jalan. Kami pergi ke daerah Namba (naik JR Line 150 Yen*), pusat perbelanjaan dan nongkrong anak muda Osaka di malam hari. Di sana ada area Shinsaibashi dan Dotonburi. Isinya adalah outlet2 makanan dan fashion di sepanjang jalan. Seruu! Kami pun makan takoyaki enak 760 Yen* (tapi berujung enek karena mesennya kebanyakan). Malam itu dilewatkan dengan berjalan-jalan sampai kaki pegel. Kami pun kembali ke hotel dan tidur dengan lelapnya malam itu.

Dotonburi, Osaka

Day 2 : OSAKA

Dua pemalas ini kecapekan dan baru bangun tidur jam 10! Kami pun mandi, lalu bersiap pergi ke Osaka Castle.

Sebelum ke Osaka Castle kami pergi ke Umeda Sky Building (180 Yen* via JR Line) terlebih dahulu untuk menitipkan barang di loker Willer Express (500 Yen*), bis yang akan kami naiki nanti malam menuju Tokyo. Setelah makan siang, kami pun ke Osaka Castle dengan menggunakan JR Line (160 Yen*).

OSAKA CASTLE

Sesampainya di Osaka Castle, saya agak terkejut karena ada pengumuman bahwa Osaka Castle tutup karena akan ada taifun. What? Taifun? Another disaster come again to my holiday. Rrrrr. Walau begitu kami masih agak santai, dan berpikir bahwa taifunnya paling bakal ga parah2 amat. Walaupun tidak bisa masuk, kami cukup puas untuk berfoto di luar Osaka Castle. Bangunannya sangat bagus. Penasaran dalamnya seperti apa. Sepulangnya kami dari Osaka Castle, kami bertemu dengan seorang bule yang senang bertemu kami karena bisa bahasa Inggris (maklum, orang Jepang kebanyakan ga bisa Bahasa Inggris). Dia agak panik lalu menanyakan tentang taifun. Dia bertanya-tanya apakah taifun itu berbahaya? Dengan sotoynya gue bilang aja kayanya ga bahaya. Hahaha.

Osaka Castle

Kami sampai di stasiun JR dan mendapat info bahwa JR akan tutup jam 4 karena taifun. Sementara saat itu adalah jam 3. Saya agak panik apakah harus kembali ke tempat bis Willer, atau melanjutkan pergi ke tempat wisata lain. Saya pun memutuskan pergi ke tempat wisata lain yaitu Shitennoji Temple (160 Yen* via JR Line). Di stasiun JR dekat Shitennoji, saya bertanya pada petugas di sana apakah subway juga tutup jam 4 atau tidak. Ternyata tidak, kami pun bisa santai dan menikmati sisa hari itu dengan subway. Di Osaka, jaringan subway dan jaringan JR berbeda. Subway itu pasti di bawah tanah, sementara JR bisa di atas, bisa di bawah.

SHITENNOJI TEMPLE

Keluar dari stasiun JR, kami mendapati angin kencang dan juga hujan. Kami lupa membawa payung, maka kami masuk lagi ke dalam stasiun untuk menunggu hujan reda. Saya pun mulai panik, apakah ini yang dinamakan taifun. Saya mencoba mencari informasi dari teman saya yang pernah tinggal di Jepang soal taifun. Katanya sih tidak berbahaya. Tapi dosennya pernah nabrak pohon gara2 kebawa angin taifun. Itu sih katanya karena dosennya badannya kecil. Kesannya kalo saya tidak mungkin terbang gitu ya. Hahaha. Setelah mendapat penjelasan dari dia, saya agak merasa tenang. Memang, saya disarankan untuk tidak keluar keluar, tapi nanggung banget, masa diem aja di dalam. Hahahha.

Saya dan Melta kemudian mencari payung dan mendapatkan payung transparan ala ala orang Jepang (565 Yen*). Payung ini yang akhirnya melindungi kami selama perjalanan jalan kaki ke Shitennoji Temple. Dan.. setelah susah payah jalan ke sana, Shitennoji temple pun juga tutup! Hhh.. agak kecewa, tapi ya sudahlah kami berfoto-foto saja di depan. Sekembalinya dari Shitennoji Temple, kami langsung kembali ke tempat bis Willer Express. Rencana awalnya, kami ingin melihat-lihat Universal City Walk, namun karena perjalanan ke sana harus ditempuh dengan JR dan JRnya sudah tutup. Ya apa boleh buat.

Shitennoji Temple

Kami naik subway ke stasiun Osaka/Umeda (280 Yen), stasiun paling dekat dengan Umeda Sky Building. Stasiun tersebut sepi sekali, semua pusat perbelanjaan tutup, bahkan kami kesulitan mencari restoran. Ternyata memang semua pegawai di Jepang dipulangkan jam 4 sore, karena ada taifun. Dipikir-pikir canggih juga negara ini, bisa memprediksi bencana alam, dan semuanya akurat. Saya akhirnya makan sushi di Family Mart. Fyi, sushi Family Mart ini enak2, harganya juga cukup murah (1 kotak sushi sekitar 400 Yen). Setelah makan, dengan susah payah kami berjalan ke Umeda Sky. Angin semakin kencang dan hujan semakin deras. Rasanya sekarang benar-benar taifun. Payung melta terbalik karena angin.

Sesampainya di terminal bis, another bad news come. Bis kami ke Tokyo di cancel karena taifun! Omygod, rasanya pengen nangis saat itu. Kenapa rasanya bencana ga abis-abis datang ke liburan saya. Dari komodo kena abu vulkanik, derawan ga dapet penginapan, sekarang di Jepang gue kena taifun. Rrrr. Beruntung, Melta anaknya woles. Dia menenangkan gue dan bilang “Ya udahlah, mau diapain lagi.” Haahahha. Itu kata kunci dia kalo udah pasrah sama segala sesuatunya. Akhirnya saya memesan bis ke Tokyo kembali keesokan harinya (cancellation bis hari ini direfund) dan hostel dekat situ di Agoda. Beruntung bisa dapat penginapan itu. Semakin malam ternyata taifun semakin parah. Kami tidak bisa pergi berjalan kaki ke penginapan karena hujan deras dan angin kencang. Payung saya pun terbalik. Kami bertemu dengan orang Indonesia yang menyarankan naik taksi, katanya naik taksi kalau dekat harganya 680 Yen (sekitar 70ribu rupiah). Yasudah akhirnya kami naik taksi ke penginapan, si bapak taksi yang tidak bisa Bahasa Inggris agak kesulitan menemukan itu hostel. Untung dia canggih dan bisa nyari lewat GPSnya sendiri. Akhirnya kami sampai di Drop Inn Osaka Hostel (Rp 342.000 per malam). Thank God we are safer now! Anyway, selama gue di Jepang, menurut gue ini hostel yang paling bagus. Meskipun satu ruangan bisa belasan orang, tapi tempatnya bersih, baru dan nyaman!

Day 3: UNIVERSAL STUDIO OSAKA

Seharusnya saya sudah berada di Tokyo hari ini. Ya, semua rencana berantakan gara-gara si taifun, tapi sekali lagi harus bersyukur karena masih hidup dan masih bisa tidur dengan pulas.

Hari ini saya memutuskan pergi ke Universal Studio Osaka (USO). Tempat yang tidak masuk daftar tujuan saya dari awal, karena basically menurut saya Universal Studio dan Disneyland itu sama di negara manapun.  Tempatnya lebih cocok untuk anak kecil dan masuk ke situnya mahal. Hahahhaa. Saya agak penasaran sama USO ini karena ada wahana baru, The Wizarding World of Harry Potter.

Universal Studio Osaka

Kami sampai di Universal Studio (180 Yen via JR Line) sekitar jam 1 siang, maklum bangun tidurnya aja baru jam 10. Udara sudah jauh lebih cerah dari kemarin. Taifun telah pergi jauh dari Osaka. Kami menitipkan tas di loker, kemudian membeli tiket seharga 6980 Yen. Agak heran karena tempat ini super super rame padahal hari biasa. Kami pun foto-foto di bola dunia khas Universal Studio  lalu langsung menuju ke wahana Harry Potter. Ternyata kita harus ambil jam antrian masuk dulu untuk masuk ke wahana ini, sangking banyaknya pengunjung yang mau ke situ. Kami dapat jam antrian masuk, jam 3. Sambil menunggu, kami menaiki wahana-wahana lain terlebih dulu. Satu hal yang agak ajaib dari USO adalah, setiap karakter di wahana yang kami naiki memakai bahasa Jepang. Kami sukses mengantuk saat karakter tersebut ngoceh-ngoceh sendiri dalam bahasa Jepang. Hahahha.

Akhirnya jam antrian masuk ke Harry Potter tiba juga. Begitu masuk, tempatnya benar-benar Wow! Persis kaya penggambaran dunia Harry Potter di film dan bukunya. Kami masuk ke hogsmeade dan melihat desa dengan rumah bercerobong asap dilapisi salju. Di sepanjang jalan kami melihat Honeydukes (yang super super antri masuknya), toko Ollivander dan masih banyak lagi. Kami melihat kerumuman orang mengantri Butterbeer dan kami berjanji akan minum juga setelah puas melihat-lihat.

Kami pun memasuki wahana utama di dunia Harry Potter tersebut, untuk memasuki wahana tersebut kami harus mengantri 2 jam! Sambil mengantri, kami memperhatikan orang-orang Jepang yang pake kostum unik-unik Cosplay. Waktu itu ada segerombolan cewek pake kostum berdarah-darah. Kami juga menghabiskan waktu dengan wifi-an. Thanks to japan wireless, again! Haha. Wahana yang di dalam, begitu mirip dengan kastil Hogwarts. Kami pun bermain seolah-olah naik sapu terbang untuk mengelilingi Hogwarts bersama Harry Potter. Overall, cukup seru, walau ga ngerti Harry ngomong apa. Hahahha. Malam mulai tiba saat kami keluar dari kastil. Kami pun mengantri butterbeer dan rasanya ternyata enak (1100 Yen sudah mendapatkan mug)! Gabungan butter dan beer hahahahha. Kami agak tertarik mengantri Honeydukes, tapi melihat antrian yang sangat panjang dan saat itu sudah super super dingin, kami mengurungkan niat tersebut dan keluar dari zona Harry Potter.

The Wizarding World of Harry Potter

Di cuaca yang sedingin itu saya cuma memakai cardigan dan sepatu yang tidak nyaman sama sekali. Tadinya kami mau pulang saja, tetapi karena sayang, kami melanjutkan mengitari USO, makan churros (450 Yen) dan melihat parade karnaval.

Kami pun pulang ke terminal willer express (180 Yen via JR Line), kali ini bisnya beroperasi dan kami bisa tidur di bis dengan nyaman selama perjalanan ke Tokyo. Bis willer express ini sangat bagus, ada selonjoran kaki dan juga tutup kepala serta selimut. Saya memesan tipe Relax seharga 4800 Yen. Terdapat berbagai pilihan harga dan fasilitas yang berbeda.

Ruang tunggu Willer Express Umeda Sky Building (photo from Google)

Bis Willer Express tipe Relax tampak depan (photo from Google)

Bis Willer Express tipe Relax tampak dalam (photo from Google)

*1 Yen = 113.5 Rupiah
Baca lanjutannya di sini.
asia jepang jepangosaka 5 Comments

Desa Biduk-Biduk dan Labuan Cermin

August 10, 2014 by Cuni Candrika
Postingan ini merupakan lanjutan postingan sebelumnya >> Derawan Islands: July 2014

Day 5: Derawan-Tanjung Batu-Berau-Biduk Biduk

Dengan modal google dan modal nekat, kami ber3 melanjutkan perjalanan ke desa Biduk Biduk. Di sini ada tempat bernama Labuan Cermin yang cakeeeeeeeeup banget! (kata mbah Google)

Perjalanan menuju desa ini tidaklah mudah, dari Derawan kami harus menempuh perjalanan laut selama 30 menit ke Tanjung Batu (biaya Rp 70.000). Dari Tanjung batu kami mengikuti travel seharga Rp100.000 (kalo ga high season harganya 70000) menuju Berau (kota Tanjung Redeb) lewat jalan darat berkelak kelok selama 2.5 jam. Dari Tanjung Redeb kami menggunakan travel lain (CP: Mas Hadi-081346665355) menempuh perjalanan darat berkelak kelok selama 5 jam sampai ke Desa Biduk Biduk (Rp 150.000-harga asli Rp135.000). Fyi travel di sini kita naik mobil dengan penumpang lain. Kira2 7-8 orang di dalam mobil Avanza. Jika ingin mencarter mobil untuk Anda sendiri, Anda bisa membayar sekitar Rp 800.000 per mobil dari Berau.

Kami sampai di Biduk Biduk kira-kira jam 9 malam, saya sudah membooking Penginapan Selvia untuk dijadikan tempat tinggal kami selama di sana. Ketika sampai di sana hal tak diduga pun terjadi, kamar yang sudah kami pesan diberikan pada orang lain dengan alasan, “dari tadi mbak tidak bisa dihubungin.” F*CK!!! Gila yaaa, gue udah confirm dan telepon nih penginapan sampai 3 kali, bahkan sehari sebelum ke biduk biduk, tapi pihak penginapan dengan santainya memberikan pada orang lain. Duarrrr! Gue ga bakal rekomenin ini penginapan, meskipun di internet yang muncul Cuma penginapan selvia, masih banyak penginapan yang lain! Kata supir saya ada penginapan Miranti yang lebih recommended. Baik dari soal pelayanan maupun view.

Ditolak di penginapan selvia, kami pun mengelilingi desa tersebut (yang sedang mati lampu) untuk mencari penginapan lain. Pencarian tidak membuahkan hasil. Semua penginapan di desa tersebut (Cuma ada 5 sih) habis dibooked orang. Maklum high season! Banyak penduduk sekitar situ yang berwisata ke biduk-biduk. Bapak supir pun ternyata berhati baik, ia mencarikan kami tempat teduh di rumah keluarganya, meskipun rumahnya kecil dan sederhana, yang penting kami bisa tidur malam itu. Blessed we are! Jadi berasa live in! hahahaha.

Fyi, di desa biduk biduk sangat jarang air tawar, adanya air asin. Si bapak Mudasir pemilik rumah pun (tadinya dia kepala desa) menawarkan untuk mandi ke tempat tetangga bila ingin air tawar. Saya sih merasa tidak enak, dan tidak masalah mandi dengan air asin. Tapi nona vincen dan ci lois pengen mandi air tawar, jadilah kita mandi di rumah tetangga keesokan harinya. Konon katanya hanya ada 2 rumah di biduk biduk yang punya air tawar…

Day 6: Teluk Sumbang-Pulau Kaniungan Besar

Di belakang rumah kami terdapat dermaga, oleh karena itu kami nyewa perahu kecil dari situ untuk memutari daerah ini. Bila tidak, Anda dapat menyewa perahu di Teluk Sulaiman. Harga perahu Rp 400.000 seharian.

Kami naik perahu ditemani bapak dan juga anaknya yang paling kecil, Mila. Bapak dan ibu yang kami tempati memiliki 5 orang anak. Anaknya yang paling besar sudah berkeluarga, sementara yang paling kecil masih SD. Bapak juga membawa makanan untuk bekal kami di Teluk Sumbang, bekal ini dimasakkan oleh ibu.

Setelah perjalanan dari desa biduk-biduk selama 2 jam, sampai juga kami di Teluk Sumbang. Di sini ada air terjun kecil dan besar. Air terjun kecil dekat dari pantai sementara membutuhkan waktu 1.5 jam untuk trekking ke air terjun besar. Nona vincen dan ce lois ga pengen trekking jauh-jauh, maka kami memutuskan cuma main di air terjun kecil.

Air terjun kecil di teluk sumbang

Jujur air terjunnya sih biasa, apalagi ditambah banyaknya pengunjung hari itu, rasanya menjadi kurang spesial. Sehabis bermain di teluk sumbang, kami makan siang di kapal. Meskipun menunya sederhana tapi kebersamaannya terasa. Makasih ya bapak dan mila!

Habis makan kami snorkeling di pulau kaniungan besar, ikan dan karangnya bagus-bagus. Sayang saya sempat panik saat snorkeling di situ, jadi rasanya kurang nikmat. Huhu. Btw kayanya next trip musti beli kamera underwater sendiri nih, biar bisa foto biota laut yang ucukk. *brb nabung*

Sepulangnya kami ke rumah di biduk biduk, kami berjumpa dengan beberapa tamu ibu yang merupakan agen Herbalife dari Berau (keren ye produknya bisa sampai ke pelosok!). Kami ngobrol ngobrol sambil mati lampu (entah kenapa tiap malam jam 8 malam mati lampu). O ya, di desa ini lampu hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 6 pagi, sisanya mati lampu. Hari itu saya mulai betah di rumah bapak, rasanya sedih juga ya besok sudah pulang.

Day 7: Teluk Sulaiman-Danau Labuan Cermin

The day has come! When we will go to Labuan cermin!

Pagi pagi kami ke Teluk Sulaiman, untuk bermain-main. Di sini banyak kapal dan perahu, memang dermaga besarnya berada di sini. Sehabis itu kami pulang kembali untuk makan siang. Kami menunggu waktu kepergian kami ke Labuan cermin yang sudah diatur oleh bapaknya. Namun rasanya lamaaa sekali kami harus menunggu sampai akhirnya kami ke sana. Jam 3 sore kami baru ke sana itu juga kami terancam batal ke sana.

Usut punya usut, ternyata terjadi miskomunikasi antara bapak dan pihak manajemen Labuan cermin. Bapak sudah mendaftar dari kemarin untuk kepergian hari ini, tapi ternyata tidak diinfokan lagi oleh pihak manajemen kalau nomor antrian sudah dekat. Alhasil pas kami ke sana nomor antriannya sudah lewat dan kami terancam tidak bisa pergi. Setelah agak bersitegang, kami akhirnya berhasil ke sana dengan mulai mengantri lagi. Akhirnya jam 4 kami menyeberang ke Labuan cermin (harga: Rp10.000 per orang. Jika ingin carter perahu bisa, harganya Rp100.000 per kapal). Buat yang mau ke sana, langsung saja datang on the spot jangan pake daftar-daftar!

Ternyata, pergi ke Labuan cermin di sore hari merupakan suatu kesalahan. Labuan cermin paling indah dinikmati saat jam 12 siang saat matahari di atas kepala (saya sudah tahu mengenai hal ini, tapi karena tripnya diurus sm bapak ya saya ikut saja). Basically, Labuan cermin merupakan danau dengan 2 rasa, air asin dan air tawar. Air asin berada di bawah dan air tawar di atas. Danau ini sangat unik, bahkan pernah masuk ke salah satu program tv. Karena atasnya air tawar, saat ada sinar matahari, airnya sangat jernih bahkan bisa memantulkan pemandangan di sekitarnya.

Kecewa. Destinasi yang kami impikan bahkan hingga mengorbankan perjalanan sebegitu lama ternyata tidak sebagus yang kita bayangkan. Salah timing! Danau tersebut tidak terlihat cantik dan jernih. Berbeda dengan teman saya yang mengunjunginya saat siang hari. Ya sudahlah, akhirnya saya berenang di sana pake ban. Airnya bener bener dingin dan menyejukkan. Kalo kata nona sih ga ada ikan di sana, tapi kata mbah google ada. Hmmm..

EXPECTATION (dari Mbah Google)

REALITY (diambil jam 4 sore)

Actually setelah beberapa lama dapet juga foto yang agak mending

labuan cermin

Foto dari temen yang pergi ke sana beberapa hari sebelum gue, pas di jam 12 siang (Photo by Lilis Sundari)

Pelajaran yang bisa dipetik selain jangan ke Labuan cermin sore2 adalah jangan ke Labuan cermin saat libur lebaran karena ramenya luar biasa. Teman saya yang pergi ke sana 2 hari sblm lebaran masih merasakan sepinya tempat tersebut. Dan satu lagi! Jangan pernah pergi ke best spot di hari terakhir liburan! Karena bila tidak berhasil, Anda tak akan punya kesempatan ke sana lagi keesokannya. Pergilah di hari pertama Anda liburan! Lesson learned.

Sepulang dari Labuan cermin kami pamit dengan keluarga Bapak Mudasir yang luar biasa baik. Kami memberikan tip padanya (Rp 400.000) karena telah menampung dan menerima kami sebagai keluarga selama 2 malam. Jujur, yang paling berkesan dari Labuan Cermin bukan pemandangannya, tapi kehangatan dan kebersamaan bersama keluarga Pak Mudasir, beserta ibu dan anak cucunya. Tak lupa ibu agen herbalife dari berau dan anak2nya. Semua terasa hangat, sampai sampai saya hampir menitikkan air mata sebelum berpisah. Ternyata inilah hikmah dari tidak mendapat penginapan selvia. Pengalaman yang lebih berharga menanti :”)

Keluarga Bapak Mudasir (bapak, ibu, 4 anak dan 2 cucu)

Kami pun menempuh perjalanan ke Berau (kota Tanjung Redeb) selama 5 jam (Rp 800.000 untuk sewa mobil. Tadinya kami sewa untuk kami sendiri tapi abangnya malah angkut 2 penumpang lain dan bilang harga segitu pas karena kami sudah diantar ke Teluk sulaiman dan Labuan cermin. Rrrrrr!)

Di Tanjung Redeb kami tidur di Hotel Eksekutif (220.000 per malam sudah pake AC). Nikmatnya tidur di kasur empuk dan di bawah AC! Hahahahha.

Day 8: Ibukota Berau (Tj. Redeb)-Jakarta

Sebelum pulang ke Jakarta, kami makan di resto rekomendasi pemilik hotel, namanya Sari Ponti. Restoran seafood ini makanannya enak enak. Kami memesan kepiting dan udang dan rasanya luar biasa. Baru kali ini nemu resto seafood enak selama kami di Kalimantan. Hahahhaa. Harganya juga sepadan sih, 1 orang habis Rp 110.000

Kami pun diantar ke bandara dengan mobil hotel (biaya Rp75000 untuk segrup-kami ber3). Bandara Berau juga cukup bagus walaupun tidak terlalu besar. Sayang, penerbangan kami dengan pesawat Garuda harus de-delay sampai 2 jam. O iya, untuk pesawat dari Berau ke Jakarta, kami dapat yang paling murah Rp 1.600.000 naik Garuda. Hahahhaa.

Jam 11 malam pun kami sampai di Jakarta! Bye bye Kalimantan timur! :”) 

Kalimantan: done. Tinggal Sulawesi sama Maluku yang belum pernah gue langkahkan kaki.

Total biaya selama 8 hari, kira-kira Rp 6.500.000,- dengan perincian seperti disebutkan di atas.

Membandingkan 2 kota besar di Kalimantan Timur: Tarakan dan Berau. Kedua kota ini menjadi meeting point trip derawan. Perjalanan dari Jakarta ke tarakan lebih murah daripada Jakarta ke berau, bedanya kalo dari tarakan ke derawan langsung 3 jam naik boat sementara dari berau 2.5 jam dulu naik mobil baru stgh jam naik kapal. Kalo rame rame ikut trip, oke dari Tarakan bisa sewa kapal buat rame-rame. Tapi kalo pribadi kayanya mendingan dari Berau, ngetengnya lebih gampang. Kotanya sendiri lebih maju Tarakan, tapi sepertinya Berau dengan sumber daya tambangnya akan berkembang jauh lebih pesat lagi selama beberapa tahun ke depan.

indonesia kalimantan biduk bidukderawanindonesiakalimantan 1 Comment

Post navigation

← Older posts
Newer posts →

About Me

Cuni Candrika

Cuni Candrika

Cuni Candrika is an Indonesian globetrotter, lived in France for 4 years. She already travelled to 41 countries. Her dream is being a digital nomad and living from her backpack. Follow her journey at www.cunicandrika.com

View Full Profile →

Categories

  • asia
  • austria
  • bali
  • belgium
  • czech
  • estonia
  • europe
  • finland
  • flores
  • france
  • germany
  • greece
  • hungary
  • indonesia
  • italy
  • jakarta
  • jawa
  • jepang
  • kalimantan
  • kamboja
  • korea selatan
  • kuliner
  • laos
  • latvia
  • morocco
  • museum
  • netherlands
  • papua
  • poland
  • russia
  • slovakia
  • spain
  • sumatera
  • sweden
  • switzerland
  • thailand
  • vietnam

Instagram

No Instagram images were found.

Archives

  • December 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • February 2024
  • November 2022
  • October 2022
  • September 2022
  • August 2022
  • November 2020
  • August 2020
  • May 2020
  • July 2019
  • February 2019
  • August 2018
  • June 2018
  • February 2018
  • January 2018
  • August 2017
  • July 2017
  • June 2017
  • May 2017
  • April 2017
  • March 2017
  • January 2017
  • November 2016
  • October 2016
  • September 2016
  • June 2016
  • March 2016
  • February 2016
  • January 2016
  • December 2015
  • November 2015
  • October 2015
  • July 2015
  • June 2015
  • May 2015
  • March 2015
  • February 2015
  • January 2015
  • November 2014
  • August 2014
  • June 2014
  • April 2014
  • October 2012

Recent Posts

  • 67 Hari Keliling Asia Tenggara: Siem Reap (Angkor Wat)
  • 67 Hari Keliling Asia Tenggara: Phnom Penh
  • 67 Hari Keliling Asia Tenggara: Ho Chi Minh City
  • 67 Hari Keliling Asia Tenggara: Itinerary
  • What to do in Semarang?
Follow see. taste. tell on WordPress.com
Create a free website or blog at WordPress.com.
see. taste. tell
Blog at WordPress.com.
Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • see. taste. tell
    • Join 82 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • see. taste. tell
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...