Perjalanan ke Negeri Sakura: Osaka

Setelah liburan ke 2 tempat tahun ini, saya memutuskan untuk berlibur lagi! Hahhaa. Semua hanya gara-gara impulsivitas saya melihat tiket promo murah. Bayangkan, siapa yang tak terketuk hatinya melihat tiket promo Kuala Lumpur-Osaka hanya seharga 1.5 juta rupiah PP! Hahaha. Saya menemukannya di akun twitter @flyingpromo. Di sana banyak penerbangan dalam dan luar negeri dengan harga super miring! Hal itu bisa terjadi karena pemilik akun tersebut, Mas Efan, memiliki Air Asia loyalty card yang namanya BIG! Gile, bisa promo abis-abisan gtu. Nah gue pun mengajak Melta, yang memang juga pengen ke Jepang. Tahun lalu kami pernah membayangkan liburan ke Jepang bareng, dan ternyata terwujud aja loh. Dia pun langsung mau saja saat diajak, dengan syarat, bukan saat musim dingin. Akhirnya kami memutuskan pergi di pertengahan bulan Oktober. Agak nekat sih gue, mengingat akan ada tes DELF (macam TOEFL buat Bahasa Prancis) di bulan November dan gue harus mempersiapkannya jauh-jauh hari.

Nah, untuk pergi ke negeri sakura ini kami harus mempersiapkan visa (yang kata orang agak susah dapetinnya). Dengan modal minjem duit emak, gue pun mengapply visa dan lolos! Hahaha. Ternyata apply visa jepang ga terlalu susah, tinggal masukin persyaratan yang ada di web, bayar biaya administrasi Rp320 ribu sama siapin rekening tabungan. Ga ada rumus pasti tabungannya musti berapa tapi kata orang-orang sih setidaknya 1 juta x jumlah hari kepergian lo ke sana. Misalnya lo ke sana 10 hari, lo musti nyiapin 10 juta..

Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu, 11 Oktober 2014. Saya dan Melta pergi ke Malaysia pada pukul 9 malam naik Lion Air (Rp900 ribu PP) untuk kemudian transit dan tidur di sana. Ini pertama kalinya saya tidur di bandara. Dan rasanya… ga enak! Hahahhaha. Iya lah, tidur di cuma di karpet dengan suara orang lalu lalang. Di bandara Kuala Lumpur ini memang tidak memungkinkan pengunjung untuk tidur di kursi. Kursinya didesain biar kita ga bisa tidur di sana. Beda banget sama bandara Kansai di Osaka yang kata teman saya, bisa tidur nyaman di kursi ditambah dikasi selimut. Waw! Yah walaupun Cuma di karpet tapi bandara KL itu nyaman, ga heran masuk dalam 10 bandara terbaik di dunia.

Day 1: KUALA LUMPUR-OSAKA

Setelah tidak bisa tidur selama semalam, kamipun berangkat ke Osaka pukul 8 pagi untuk menempuh perjalanan udara selama 7 jam. Di pesawat, kurang lebih sama keadaannya, gue cuma tidur-tidur ayam. Akhirnya sampai juga kami di Osaka, kurang lebih jam 4. Rasanya seneng campur terharu. Hahaha. Ini pertama kalinya gue ke luar negeri tanpa nyokap gue, ke Jepang pula gitu kan.

Sesampainya di airport kami langsung mencari kereta yang menghubungkan airport dengan pusat kota Osaka. Nama keretanya Nankai Express (920 Yen*). Setelah 1 jam di kereta, kami pun sampai di stasiun yang dekat dengan tempat kami menginap. Kami memesan hotel kapsul di Agoda bernama Shin-Imamiya Hotel (Rp 230.000). Kami memesan hotel ini karena kami ingin merasakan menginap di hotel kapsul. Hotel kapsul yang lain sudah penuh di tanggal itu dan satu-satunya pilihan kami adalah hotel ini.

Begitu sampai, kami langsung menanyakan modem wifi yang sudah kami pesan dari Jakarta. Dan modemnya pun sudah sampai. Fyi, kami memesan Japan Wireless dengan harga 4200 Yen (Rp 489.981) untuk 5 hari, dan modemnya pun bisa dipakai ramai-ramai sampai 10 gadget. Pelayanannya sangat bagus dan sinyalnya kencang. Recommended!

Hotel kapsul ini benar-benar di luar dugaan saya, saya membayangkan kapsulnya berjejer, tapi yang saya dapat adalah 1 kamar yang di dalamnya ada 1 kapsul. Hahahha. Setelah mandi, kami pergi makan sebentar di sekitar hotel (480 Yen*). Sejak kedatangan saya ke Osaka, saya sudah memperhatikan 1 hal. Suara ambulans yang tidak berhenti setiap 15 menit sekali. Saya pernah membaca buku bahwa katanya setiap 15 menit sekali ada orang yang bunuh diri di Jepang, Dan setiap ada ambulans saya jadi merinding membayangkannya.

Expectation

Reality

NAMBA-DOTONBURI

Meskipun lelah dan ingin tidur, tapi tidak mungkin malam itu tidak kami lewatkan dengan berjalan-jalan. Kami pergi ke daerah Namba (naik JR Line 150 Yen*), pusat perbelanjaan dan nongkrong anak muda Osaka di malam hari. Di sana ada area Shinsaibashi dan Dotonburi. Isinya adalah outlet2 makanan dan fashion di sepanjang jalan. Seruu! Kami pun makan takoyaki enak 760 Yen* (tapi berujung enek karena mesennya kebanyakan). Malam itu dilewatkan dengan berjalan-jalan sampai kaki pegel. Kami pun kembali ke hotel dan tidur dengan lelapnya malam itu.

Dotonburi, Osaka

Day 2 : OSAKA

Dua pemalas ini kecapekan dan baru bangun tidur jam 10! Kami pun mandi, lalu bersiap pergi ke Osaka Castle.

Sebelum ke Osaka Castle kami pergi ke Umeda Sky Building (180 Yen* via JR Line) terlebih dahulu untuk menitipkan barang di loker Willer Express (500 Yen*), bis yang akan kami naiki nanti malam menuju Tokyo. Setelah makan siang, kami pun ke Osaka Castle dengan menggunakan JR Line (160 Yen*).

OSAKA CASTLE

Sesampainya di Osaka Castle, saya agak terkejut karena ada pengumuman bahwa Osaka Castle tutup karena akan ada taifun. What? Taifun? Another disaster come again to my holiday. Rrrrr. Walau begitu kami masih agak santai, dan berpikir bahwa taifunnya paling bakal ga parah2 amat. Walaupun tidak bisa masuk, kami cukup puas untuk berfoto di luar Osaka Castle. Bangunannya sangat bagus. Penasaran dalamnya seperti apa. Sepulangnya kami dari Osaka Castle, kami bertemu dengan seorang bule yang senang bertemu kami karena bisa bahasa Inggris (maklum, orang Jepang kebanyakan ga bisa Bahasa Inggris). Dia agak panik lalu menanyakan tentang taifun. Dia bertanya-tanya apakah taifun itu berbahaya? Dengan sotoynya gue bilang aja kayanya ga bahaya. Hahaha.

Osaka Castle

Kami sampai di stasiun JR dan mendapat info bahwa JR akan tutup jam 4 karena taifun. Sementara saat itu adalah jam 3. Saya agak panik apakah harus kembali ke tempat bis Willer, atau melanjutkan pergi ke tempat wisata lain. Saya pun memutuskan pergi ke tempat wisata lain yaitu Shitennoji Temple (160 Yen* via JR Line). Di stasiun JR dekat Shitennoji, saya bertanya pada petugas di sana apakah subway juga tutup jam 4 atau tidak. Ternyata tidak, kami pun bisa santai dan menikmati sisa hari itu dengan subway. Di Osaka, jaringan subway dan jaringan JR berbeda. Subway itu pasti di bawah tanah, sementara JR bisa di atas, bisa di bawah.

SHITENNOJI TEMPLE

Keluar dari stasiun JR, kami mendapati angin kencang dan juga hujan. Kami lupa membawa payung, maka kami masuk lagi ke dalam stasiun untuk menunggu hujan reda. Saya pun mulai panik, apakah ini yang dinamakan taifun. Saya mencoba mencari informasi dari teman saya yang pernah tinggal di Jepang soal taifun. Katanya sih tidak berbahaya. Tapi dosennya pernah nabrak pohon gara2 kebawa angin taifun. Itu sih katanya karena dosennya badannya kecil. Kesannya kalo saya tidak mungkin terbang gitu ya. Hahaha. Setelah mendapat penjelasan dari dia, saya agak merasa tenang. Memang, saya disarankan untuk tidak keluar keluar, tapi nanggung banget, masa diem aja di dalam. Hahahha.

Saya dan Melta kemudian mencari payung dan mendapatkan payung transparan ala ala orang Jepang (565 Yen*). Payung ini yang akhirnya melindungi kami selama perjalanan jalan kaki ke Shitennoji Temple. Dan.. setelah susah payah jalan ke sana, Shitennoji temple pun juga tutup! Hhh.. agak kecewa, tapi ya sudahlah kami berfoto-foto saja di depan. Sekembalinya dari Shitennoji Temple, kami langsung kembali ke tempat bis Willer Express. Rencana awalnya, kami ingin melihat-lihat Universal City Walk, namun karena perjalanan ke sana harus ditempuh dengan JR dan JRnya sudah tutup. Ya apa boleh buat.

Shitennoji Temple

Kami naik subway ke stasiun Osaka/Umeda (280 Yen), stasiun paling dekat dengan Umeda Sky Building. Stasiun tersebut sepi sekali, semua pusat perbelanjaan tutup, bahkan kami kesulitan mencari restoran. Ternyata memang semua pegawai di Jepang dipulangkan jam 4 sore, karena ada taifun. Dipikir-pikir canggih juga negara ini, bisa memprediksi bencana alam, dan semuanya akurat. Saya akhirnya makan sushi di Family Mart. Fyi, sushi Family Mart ini enak2, harganya juga cukup murah (1 kotak sushi sekitar 400 Yen). Setelah makan, dengan susah payah kami berjalan ke Umeda Sky. Angin semakin kencang dan hujan semakin deras. Rasanya sekarang benar-benar taifun. Payung melta terbalik karena angin.

Sesampainya di terminal bis, another bad news come. Bis kami ke Tokyo di cancel karena taifun! Omygod, rasanya pengen nangis saat itu. Kenapa rasanya bencana ga abis-abis datang ke liburan saya. Dari komodo kena abu vulkanik, derawan ga dapet penginapan, sekarang di Jepang gue kena taifun. Rrrr. Beruntung, Melta anaknya woles. Dia menenangkan gue dan bilang “Ya udahlah, mau diapain lagi.” Haahahha. Itu kata kunci dia kalo udah pasrah sama segala sesuatunya. Akhirnya saya memesan bis ke Tokyo kembali keesokan harinya (cancellation bis hari ini direfund) dan hostel dekat situ di Agoda. Beruntung bisa dapat penginapan itu. Semakin malam ternyata taifun semakin parah. Kami tidak bisa pergi berjalan kaki ke penginapan karena hujan deras dan angin kencang. Payung saya pun terbalik. Kami bertemu dengan orang Indonesia yang menyarankan naik taksi, katanya naik taksi kalau dekat harganya 680 Yen (sekitar 70ribu rupiah). Yasudah akhirnya kami naik taksi ke penginapan, si bapak taksi yang tidak bisa Bahasa Inggris agak kesulitan menemukan itu hostel. Untung dia canggih dan bisa nyari lewat GPSnya sendiri. Akhirnya kami sampai di Drop Inn Osaka Hostel (Rp 342.000 per malam). Thank God we are safer now! Anyway, selama gue di Jepang, menurut gue ini hostel yang paling bagus. Meskipun satu ruangan bisa belasan orang, tapi tempatnya bersih, baru dan nyaman!

Day 3: UNIVERSAL STUDIO OSAKA

Seharusnya saya sudah berada di Tokyo hari ini. Ya, semua rencana berantakan gara-gara si taifun, tapi sekali lagi harus bersyukur karena masih hidup dan masih bisa tidur dengan pulas.

Hari ini saya memutuskan pergi ke Universal Studio Osaka (USO). Tempat yang tidak masuk daftar tujuan saya dari awal, karena basically menurut saya Universal Studio dan Disneyland itu sama di negara manapun.  Tempatnya lebih cocok untuk anak kecil dan masuk ke situnya mahal. Hahahhaa. Saya agak penasaran sama USO ini karena ada wahana baru, The Wizarding World of Harry Potter.

Universal Studio Osaka

Kami sampai di Universal Studio (180 Yen via JR Line) sekitar jam 1 siang, maklum bangun tidurnya aja baru jam 10. Udara sudah jauh lebih cerah dari kemarin. Taifun telah pergi jauh dari Osaka. Kami menitipkan tas di loker, kemudian membeli tiket seharga 6980 Yen. Agak heran karena tempat ini super super rame padahal hari biasa. Kami pun foto-foto di bola dunia khas Universal Studio  lalu langsung menuju ke wahana Harry Potter. Ternyata kita harus ambil jam antrian masuk dulu untuk masuk ke wahana ini, sangking banyaknya pengunjung yang mau ke situ. Kami dapat jam antrian masuk, jam 3. Sambil menunggu, kami menaiki wahana-wahana lain terlebih dulu. Satu hal yang agak ajaib dari USO adalah, setiap karakter di wahana yang kami naiki memakai bahasa Jepang. Kami sukses mengantuk saat karakter tersebut ngoceh-ngoceh sendiri dalam bahasa Jepang. Hahahha.

Akhirnya jam antrian masuk ke Harry Potter tiba juga. Begitu masuk, tempatnya benar-benar Wow! Persis kaya penggambaran dunia Harry Potter di film dan bukunya. Kami masuk ke hogsmeade dan melihat desa dengan rumah bercerobong asap dilapisi salju. Di sepanjang jalan kami melihat Honeydukes (yang super super antri masuknya), toko Ollivander dan masih banyak lagi. Kami melihat kerumuman orang mengantri Butterbeer dan kami berjanji akan minum juga setelah puas melihat-lihat.

Kami pun memasuki wahana utama di dunia Harry Potter tersebut, untuk memasuki wahana tersebut kami harus mengantri 2 jam! Sambil mengantri, kami memperhatikan orang-orang Jepang yang pake kostum unik-unik Cosplay. Waktu itu ada segerombolan cewek pake kostum berdarah-darah. Kami juga menghabiskan waktu dengan wifi-an. Thanks to japan wireless, again! Haha. Wahana yang di dalam, begitu mirip dengan kastil Hogwarts. Kami pun bermain seolah-olah naik sapu terbang untuk mengelilingi Hogwarts bersama Harry Potter. Overall, cukup seru, walau ga ngerti Harry ngomong apa. Hahahha. Malam mulai tiba saat kami keluar dari kastil. Kami pun mengantri butterbeer dan rasanya ternyata enak (1100 Yen sudah mendapatkan mug)! Gabungan butter dan beer hahahahha. Kami agak tertarik mengantri Honeydukes, tapi melihat antrian yang sangat panjang dan saat itu sudah super super dingin, kami mengurungkan niat tersebut dan keluar dari zona Harry Potter.

The Wizarding World of Harry Potter

Di cuaca yang sedingin itu saya cuma memakai cardigan dan sepatu yang tidak nyaman sama sekali. Tadinya kami mau pulang saja, tetapi karena sayang, kami melanjutkan mengitari USO, makan churros (450 Yen) dan melihat parade karnaval.

Kami pun pulang ke terminal willer express (180 Yen via JR Line), kali ini bisnya beroperasi dan kami bisa tidur di bis dengan nyaman selama perjalanan ke Tokyo. Bis willer express ini sangat bagus, ada selonjoran kaki dan juga tutup kepala serta selimut. Saya memesan tipe Relax seharga 4800 Yen. Terdapat berbagai pilihan harga dan fasilitas yang berbeda.

Ruang tunggu Willer Express Umeda Sky Building (photo from Google)

Bis Willer Express tipe Relax tampak depan (photo from Google)

Bis Willer Express tipe Relax tampak dalam (photo from Google)

*1 Yen = 113.5 Rupiah
Baca lanjutannya di sini.
Advertisements

5 thoughts on “Perjalanan ke Negeri Sakura: Osaka

  1. Pingback: Perjalanan ke Negeri Sakura: Tokyo dan Nikko | see. taste. tell

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s