Halo semuanya! Kembali lagi dengan post jalan-jalan keliling Asia Tenggara tahun lalu. Setelah jalan-jalan di ibukota Kamboja, Phnom Penh, gw dan Tichu melanjutkan perjalanan ke kota Siem Reap, tempat dimana terdapat kompleks kuil terkenal: Angkor Wat. Perjalanan dari Phnom Penh ke Siem Reap kami tempuh dengan menggunakan bis Mey Hong seharga 8 USD dengan waktu tempuh 6 jam. Sesampainya di Siem Reap, kami langsung check in di Parent Heritage Angkor Hotel. Kami menginap di hotel ini selama 4 malam dengan harga per malamnya Rp 332.000 sudah termasuk breakfast. Ada cerita unik waktu kami menginap di hotel ini. Jadi kan koper gw roda-nya rusak, karena keseringan ditarik-tarik di jalanan berlubang, terus gw iseng aja tanya sama agen asuransi perjalanan gw, ini bisa dicover asuransi atau ga. Ternyata bisa dong, tapi harus melampirkan surat keterangan dari hotel. Yaudah gw minta owner hotel ini buat bantu gw nulis surat keterangannya. Puji Tuhan, dia mau. Tentu saja sebelumnya gw udah ngobrol-ngobrol dulu sama dia dan emang orangnya friendly, jadi ya gas lah. Lumayan dapet reimbourse-an kerusakan koper hehe. Btw yang mau rekomen asuransi perjalanan oke bisa kontak gw juga ya. Hehe.
Hari 1
Sore menjelang malam kami keluar untuk jalan-jalan di kota Siem Reap. Kami ke salah satu jalanan terkenal yang bernama Pub Street. Di situ banyak bar, restoran dan kehidupan malam. Di dekatnya juga terdapat Old Market, tempat berbelanja suvenir. Setelah minum jus di salah satu kedai di Pub Street, kami makan malam di tempat yang banyak direkomendasikan traveller: Tevy’s Place. Restoran ini dikelola oleh pasangan suami istri Irlandia-Kamboja. Mereka menjual makanan khas Kamboja dan bapaknya (orang Irlandia) ramaaaah bgt, dia ajak ngobrol tamu-tamu restoran termasuk kami. Untuk makanannya rasanya enak, cuma kayanya gw salah pesan. Gw masih penasaran dengan Beef Loc Lac, karena yang kemarin dimakan di Titanic Restaurant rasanya ga seenak yang biasa gw makan di Paris. Yaudahlah ya gw pesan lagi di sini. Ternyata rasanya sama ga enaknya kaya di Titanic Restaurant. Gw mulai berpikir, kayanya emang rasa aslinya kaya gini kali ya. Rasa Beef Loc Lac yang di Paris mungkin sudah dimodif T____T
Kiri: Beef Loc Lac. Kanan: Berpose dengan bapak-bapak Irlandia ramah owner Tevy’s Place.
Hari 2
Hari ini adalah harinya kita menjelajah Angkor Wat! Yeaaaay! Gw penasaran kaya apa sih kompleks kuil populer di Asia Tenggara yang katanya lebih bagus dari Candi Borobudur. Pagi-pagi kami dijemput oleh tur yang sudah kami pesan sebelumnya. Kami memesan tur agar bisa dijemput di hotel dan menggunakan tour guide, dengan harga paket 13 USD. Harga ini belum termasuk harga tiket Angkor Wat yaitu 37 USD. Tiket Angkor Wat sendiri bisa dipesan online. Jika kalian mau berangkat sendiri dari hotel dan tidak membutuhkan tour guide, maka tidak perlu memesan paket 13 USD seperti punya gw. Cuma jujur ya, lebih enak pake tour guide sih, jadi bisa lebih dijelasin sejarah candi-candi yang ada di Angkor Wat.
Angkor Wat. Photo by Tichu.
Angkor Wat sendiri adalah kompleks besar yang terdiri dari beberapa kuil. Tujuan hari ini adalah ke Angkor Wat (kuil yang paling populer), Banteay Kdei, Ta Phrom Temple (kuil tempat syuting film Tomb Raider), Bayon Temple dan Phnom Bakeng Temple. Karena di Kamboja waktu itu lagi panas-panasnya, gw sempet kepanasan dan juga ga kuat jalan. Habis dari Ta Phrom Temple, gw sempet ga ikut turun ke Bayon Temple dan memilih ngadem di mobil. Daripada pingsan ye kan. Dari sekian banyak kuil, yang paling gw suka tentu saja Angkor Wat dan Ta Phrom Temple. Langsung saja kita liat foto-fotonya.
Ini adalah Ta Phrom Temple, terkenal karena menjadi tempat syuting Tomb Raider. Salah satu favoritku!
Sedikit cerita, dulunya kawasan Angkor Wat ini sempat hilang selama 500 tahun dan tertimbun pohon dan tanah. Namun kemudian ditemukan oleh Bangsa Prancis dan dirawat kembali sehingga bisa menjadi warisan UNESCO seperti sekarang. Pada saat itu lah Bangsa Prancis juga mulai menjajah Kamboja.
Bayon Temple, ada yang bisa liat gambar muka di tengah2 candi tersebut?
Menjelang sore, kami menuju ke Phnom Bakeng Temple untuk melihat sunset dari atas. Temple ini memang letaknya di atas bukit, jadi sangat cantik untuk melihat pemandangan ke bawah dan melihat sunset. Ada hal yang gw inget saat mendaki ke atas temple ini, gw ditelpon klien hahaha. Yah begitulah ya nasib jadi digital nomad, lagi mendaki aja telponan sama klien hahaha. Tapi untung deal sih pada saat itu.
Sunset di Phnom Bakeng Temple
Hari 3
Setelah puas menjelajah Angkor Wat kemarin, hari ini kita berjalan-jalan di kota Siem Reap aja. Btw kalo memang kalian Temple Enthusiast, bisa juga membeli 3 days pass untuk keliling semua kuil di Angkor Wat, karena emang kuil-kuilnya sebanyak itu. Kalo ga segitunya sama kuil atau cuma punya waktu dikit di Siem Reap, bisa juga beli 1 day pass seperti gw kemarin.
Hari ini gw kerja dulu di pinggir kolam sampai waktu makan siang. Kemudian kita mencari restoran Malaysia untuk makan siang, rasanya enak dan cocok di lidah kita. Rekomendasi gw kalo mau ke Kamboja tapi pengen makanan yang citarasanya mirip Indonesia, datanglah ke restoran Malaysia. Pasti halal juga.
Kiri: Makan di restoran Malaysia. Kanan: Made in Cambodia Market.
Setelah makan, kita liat-liat ke pasar etnik bernama Made in Cambodia Market. Kemudian kita juga menjelajah beberapa kuil di tengah kota Siem Reap seperti Wat Bo dan Wat Damnak. Selain itu juga ngopi-ngopi cantik di Dialogue Siem Reap. Malamnya kita makan barbecue di pinggir sungai dengan harga yang cukup affordable.
Kiri: Wat Bo. Kanan: Wat Damnak
Hari 4
Hari ini adalah harinya leyeh-leyeh dan bekerja. Hari ini gw seharian di hotel buat bersantai sekaligus menyelesaikan pekerjaan. Sementara Tichu jalan-jalan sendirian di tengah kota. Sore hari-nya kami memesan pijat tradisional Kamboja di kamar hotel. Pijat ini adalah ide dari Tichu, karena gw emang jarang pijat jadi kayanya kalo sendirian juga ga akan mesen pijat hehe. Harganya sendiri adalah 8 USD per orang.
Malamnya, kami menonton pertunjukan sendratari tradisional Kamboja yaitu Apsara Dance di restoran bernama Robam. Di sini kalian bisa makan makanan Kamboja sekaligus menikmati pertunjukannya. Restoran ini terletak di Pub Street jadi mudah untuk ditemukan. Sendratari-nya bagus sih walo ga beda jauh sama yang di Indonesia ya hehe. Pengalaman yang cukup unik, apalagi bisa sambil makan dan juga ditemenin sama Tichu. Lagi-lagi kayanya kalo gw solo traveling ga masuk ke sini juga :))
Kiri: Lagi-lagi makan amok! Kanan: Berpose bersama para penari Apsara Dance.
Malam ini adalah malam terakhir kami di Siem Reap dan juga Kamboja. Sungguh senang apalagi bertepatan dengan International Women’s Day. Kami merayakan wanita dan juga kebebasannya untuk memilih. Seperti kami yang pada saat itu memilih menikmati hidup dengan travelling ke Kamboja. Besok kami akan melanjutkan perjalanan masing-masing. Gw akan melanjutkan trip secara solo ke Thailand dan Tichu akan kembali pulang ke Jakarta.











