67 Hari Keliling Asia Tenggara: Phnom Penh

Setelah berpetualang selama 4 hari di Vietnam (Ho Chi Minh City), gw akan melanjutkan perjalanan ke Kamboja tepatnya kota Phnom Penh. Pagi itu gw mengalami kesialan. Gw kehilangan duit 200.000 VND (Rp 127.000) yang baru saja dikembalikan dari hostel untuk deposit. Kayanya duitnya jatuh dari kantong huhu. Gw pun berjalan ke tempat bis yang tidak begitu jauh dari hostel. Bisnya sendiri menggunakan bis Kumho Samco dengan harga Rp 398.000. Adapun waktu tempuh perjalanan Ho Chi Minh menuju Phnom Penh dengan bis adalah 5 jam.

Di Kamboja, mata uang yang digunakan adalah Riel dan USD. Kita dapat menggunakan kedua2nya untuk bertransaksi.

Hari 1

Di Phnom Penh gw memesan White Room Hotel seharga Rp 306.000 semalam. Karena gw berdua sama temen gw, jadi kita pesan hotel dengan harga per orang-nya Rp 153.000. Nah di trip Kamboja ini gw bakal jalan berdua sama temen kuliah S1 gw yang bernama Tichu. Kita bakal eksplor Kamboja selama kurang lebih seminggu.

Setelah gw check in hotel dan bertemu Tichu, kami lanjut makan malam di salah satu restoran yang direkomendasikan bernama Khmer Surin. Kita nyoba berbagai makanan termasuk makanan favorit di Kamboja: Amok Fish. Amok Fish di sini itu enak banget, sampe kita jadikan perbandingan kalo nyobain Amok Fish lain selama di Kamboja.

Khmer Surin dan Amok Fish yang enak

Hari 2

Di hari ini kita bakal jalan-jalan keliling Phnom Penh. Kalo di Kamboja ada yang namany Grab Tuktuk, kita langsung pergi ke destinasi pertama dengan mengggunakan Grab Tuktuk seharga Rp 18.200. Destinasi pertama kita adalah Independence Monument, lalu dilanjutkan ke dekat situ ada Statue of King Norodom. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, kita pun makan siang di salah satu rekomendasi restoran yaitu David Restaurant dengan menunya Khmer Noodle (Rp 70.000 udah sama minum). Jujur, lebih enak mie2-an yang ada di Vietnam daripada ini wkwk. Kalo Tichu mesen Vegetarian Amok.

Nah karena tempat makan siangnya panas, kami lanjut ngopi dan ngadem di Coffee Today. Gw mesen Thai Tea dengan harga Rp 32.000. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan ke National Museum of Cambodia. Kita ga masuk ke dalam karena tiketnya mayan mahal, jadi cuma keliling di luarnya aja. Itu aja udah cakep banget. Setelah itu kita lanjut ke Royal Palace, istana raja dengan harga tiket masuk 10 USD. Untuk masuk ke istana ini harus berpakaian sopan, lutut dan lengan ga boleh keliatan. Jadilah gw masuk sini pake cardigan hitam. Istananya sendiri cukup ok, walau menurut gw lebih bagus Royal Palace yang di Bangkok. Di kompleks Royal Palace kita juga bisa melihat Silver Pagoda.

Kiri: National Museum of Cambodia. Kanan: Royal Palace

Setelah dari Royal Palace kita ke temple lagi yang bernama Wat Phnom Daun Penh, kemudian jalan-jalan juga di tepi sungai di tempat yang bernama Sisowath Quay. Hari sudah menunjukkan sore hari, kita pulang ke hotel untuk mandi, karena habis itu akan dinner bersama teman kuliah S2 gw orang Kamboja yang bernama Vattey.

Sekitar pukul 7 kami dijemput Vattey menaiki mobil, kemudian kami makan malam di restoran pinggir sungai Mekong yaitu Titanic Restaurant. Dinamakan Titanic Restaurant karena bentuknya yang menyerupai kapal. Makanannya sendiri menurut saya masih kurang enak dibandingkan Khmer Surin. Saya menghabiskan Rp 196.000 untuk makan di sini. Maklum, tempatnya mayan fancy dengan view yang ciamik walaupun makanannya agak kurang. Salah dua dari tiga makanan yang kami pesan adalah Beef Loc Lac dan Amok 3 rasa. Gw dulu pas kuliah di Prancis suka banget makan Beef Loc Lac, makanya pengen ngerasain di negara asalnya. Taunya pas cobain ga enak huhu. Tapi besok masih mau coba lagi di tempat lain, siapa tau emang restorannya aja yang masaknya ga enak wkwk.

Bersama Vattey (kiri) dan Tichu (kanan) di Titanic Restaurant

Hari 3

Hari ini adalah hari wisata depresi. Gw akan masuk ke museum-museum dimana terdapat sejarah Pembantaian Khmer Rouge. Museum pertama adalah Tuol Sleng Genocide Museum atau S21 Prison dengan tiket masuk 5 USD (Rp 79.000). Tuol Sleng Genocide Museum adalah penjara tempat para korban Khmer Merah ditangkap dan disiksa. Sebelum tahun 1975 saat Khmer Merah berkuasa, tempat ini tadinya adalah sekolah. Khmer Merah yang dikepalai Pol Pot berkuasa dari tahun 1975 sampai 1979. Setelah mengkudeta pemerintahan saat itu, Pol Pot menjadi kepala negara diktator dan genosida terjadi di Kamboja.

Gedung sekolah yang dijadikan penjara Khmer Merah

Sedih banget rasanya berada di sini. Ada ya orang sejahat itu membantai manusia lain demi kekuasaan :”

Setelah wisata depresi yang pertama, gw dan Tichu bertemu dengan temen gw, orang Indonesia yang tinggal di Kamboja: Ega, untuk makan siang bersama. Kami makan siang menu fusion Kamboja di restoran yang bernama Labaab Restaurant. Sumpah ini restoran enak banget, kayanya jadi restoran terenak yang gw makan selama 67 hari keliling Asia Tenggara ini. Harganya setelah dibagi 3 adalah Rp 138.000.

Ini restoran paling enak yang gw makan selama trip ini: Labaab Restaurant

Setelah makan siang, gw melanjutkan wisata depresi kedua. Gw pergi sendiri karena Tichu ga mau tambah depresi. Kali ini tempatnya bernama The Killing Fields, udah keliatan ya dari namanya ini tempat apa. Tempat ini adalah tempat dimana para tahanan di masa Khmer Merah dieksekusi mati. Jaraknya sekitar 40-50 menit dari kota Phnom Penh dengan menggunakan tuk tuk. Jujur gw agak kasian sama abangnya sih jalan sejauh itu wkwk, cuma kayanya dia ga keberatan. Untuk harga tiket masuk Killing Fields sendiri adalah 6 USD, sudah termasuk audio guide. Killing Fields ini adalah 1 dari ratusan tempat eksekusi yang tersebar di seluruh Kamboja.

Foto sebelah kanan adalah pohon dimana anak kecil dibantai, kepalanya dilempar ke tembok sampai meninggal. Mereka membantai anak kecil juga karena takut jika tetap hidup, akan membalaskan dendam orang tua-nya yang dibunuh.

Di masa Khmer Merah, sebanyak 3 dari 8 juta warga Kamboja dibunuh. Yang artinya hampir 40% dari populasi Kamboja. Bapaknya Vattey sendiri punya 11 saudara, dan 8 di antaranya meninggal di masa itu T___T Betapa ngeri dan biadabnya Khmer Merah ya. Meskipun kekejaman Khmer Merah berhenti di awal 1979 karena terjadinya kudeta, namun Pol Pot masih berkeliaran bebas sampai tahun 1990-an dan Khmer Merah masih beroperasi. Ia meninggal di tahun 1998. Baru pada tahun 2000-an para penjahat ini, para petinggi Khmer Merah diadili dan dihukum seumur hidup.

Foto sebelah kanan adalah tugu pusat peringatan, di dalamnya terdapat tengkorak para korban. Beberapa banyak yang berlubang karena dibunuh dengan cangkul, tongkat dan alat-alat lain. Khmer Merah tidak menggunakan pistol karena peluru harganya mahal.

Bener-bener hari ini wisata depresi. Tapi seru juga karena jadi mengenal sejarah Kamboja. Buat yang suka sejarah, aku rekomendasiin dateng ke Phnom Penh.

Selesai sudah 3 hari di Phnom Penh, besok saatnya pindah ke kota lain di Kamboja yaitu Siem Reap, tempat dimana Angkor Wat berada.