Halo guys! Kembali lagi di travel blog gw! Setelah kemaren gw merincikan itinerary dan biaya di sini, sekarang saatnya gw cerita per negara. Perjalanan gw dimulai dari Vietnam tepatnya kota Ho Chi Minh City, di sini gw akan stay selama 4 hari untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja. Untuk mata uang Vietnam sendiri namanya adalah Dong. Kursnya itu 10.000 VND sekitar Rp 6.300. Saran gw kalo mau ke Vietnam, bisa menukar uang di money changer di Indonesia, karena kalau mau tarik ATM rate-nya mahal bgt! Dan di sini kalo kepepet mau tuker uang bisa bawa USD dan dituker di toko emas. Yak, toko emas ratenya lumayan bagus kalo di Vietnam dibanding money changer. Ok deh, langsung aja kita lanjut ke cerita perjalanan gw ya!
Hari 1
Berangkat dari Jakarta ke Ho Chi Minh City dengan maskapai Vietjet Air (3 jam): Rp 1.181.000.
Begitu landing naik bis kecil 109 persis di depan bandara menuju ke tengah kota. Harganya cuma Rp 10.000! Dengan tambahan Rp 10.000 lagi untuk 1 koper. O ya, di perjalanan kali ini gw bawa koper ukuran medium karena tangan gw udah ga kuat gendong backpack sejak patah tulang T___T
Bisnya kebetulan lewat depan hostel gw, jadi gw bisa turun di dekat situ. Gw memesan kamar di 9 Hostels & Suites, female dorm yang 1 kamarnya berisi 8 orang. Harga: Rp 75.000 per malam. Di Vietnam emang murah-murah, hostel di sini rate-nya ga nyampe Rp 100.000.
Setelah naruh koper di hostel, gw langsung jalan kaki ke Bui Vien Walking Street, jalanan terkenal di HCM. Di sini banyak resto, bar, coffee shop, tempat dugem dan kehidupan malam yang menyala. Bahkan ada debus juga alias orang makan api :O
Gw makan malam di Bun Cha 145, yang terkenal dengan Bun Cha (Rp 51.000). Bun Cha ini dalemnya babi. Rasanya enak, dan bikin nagih. Dalam trip ke Vietnam ini Bun Cha menjadi comfort food gw. Beberapa kali makan Bun Cha, soalnya di Indonesia susah nyarinya. Setelah jalan-jalan dan makan di Bui Vien, gwpun pulang ke hostel.
Makanan pertama di Vietnam: Bun Cha
Hari 2
Hari ini bangun agak siang, leyeh-leyeh, kerja bentar, baru cabut buat makan siang. Gw makan siang di Banh Mi Huynh Hoa, banh mi viral yang antriannya cukup panjang, apalagi di bawah panas matahari. Banh Mi ini non-halal, harganya Rp 44.000. Banh Mi itu adalah baguette dengan isian macem-macem. Kuliner Vietnam memang terpengaruh dari Prancis, karena bekas jajahan Prancis. Rasanya enak, dan bisa buat 2 kali makan karena isiannya banyak banget!
Banh Mi Huynh Hoa, isiannya ga pelit, mostly babi 🙂
Habis makan kita tur keliling Ho Chi Minh, gw jalan kaki ke Reunification Palace – Saigon Central Post Office yang cakepp banget – Cathédrale Notre Dame de Saigon yang masih direnovasi – City Hall yang bangunannya mirip kaya di Prancis Selatan dan yang terakhir ke Saigon Opera House. Gw juga sempet jalan-jalan di tengah kota, belanja di mall, ngadem di café lalu sorenya bungkus makanan buat makan malam di hostel.
Saigon Central Post Office yang rasanya kaya di Prancis
Hari 3
Hari ini juga baru jalan siang-siang. Maklum ya, namanya juga travelling sambil kerja, ga diburu-buru waktu jadi jalan ya sesukanya aja. Itu juga yang bikin gw stay di 1 kota 3-4 hari biar bisa santai, bisa kerja pokoknya woles lah. Pengennya berasa kaya lagi di rumah tapi pindah-pindah kota 😀
Siang ini gw coba makanan lokal lagi namanya Bun Rieu, yang ada di restoran Bun Rieu Ganh (Rp 38.000). Bun Rieu ini isinya ada bihun, darah babi, daging kepiting, tomat dan lain-lain. Banyak banget ingredient di situ, tapi secara rasa gw masih lebih suka Bun Cha.
Makan ala warga lokal di Bún Rieu Gánh
Setelah itu gw ikut tur ke Cu Chi Tunnels. Gw ikut tur dari Viator seharga Rp 284.000 . Meeting point di kantor travelnya terus kita naik bis ke Cu Chi Tunnels kira2 sejam. Cu Chi Tunnels itu sebuah kompleks di mana banyak terowongan yang dibuat saat perang Vietnam. Tentara Vietnam Utara banyak bersembunyi di terowongan ini dan mengatur strategi melawan musuh: tentara Vietnam Selatan dan Amerika Serikat. Di sini juga banyak jebakan-jebakan yang dibuat untuk menjebak musuh. Di sini kita juga bisa latihan menembak, yang harus menggunakan headphone khusus agar tidak merusak telinga. Overall menurut gw turnya oke sih, cuma… tour guidenya aksen Vietnamnya kental banget, gw jadi ga bisa terlalu nangkep dia ngomong apa T_T
Cu Chi Tunnels, merasakan ngumpet di bawah tanah seperti jaman Perang Vietnam
Malemnya, gw makan Pho (Rp 67.000) di restoran deket hostel, namanya Pho Ong Cat Gia Truyen. Rasanya enak sih, tapi somehow yang di Indo lebih gurih. Kayanya emang ditambahin micin yang di Indo hahahaha.
Hari 4
Pagi ini dimulai dengan kerja, ngobrol sama temen baru di hostel dan santai-santai. Siang baru gw makan Bun Bo (lupa nama tempatnya, tapi inget harganya: Rp 42.000 hahaha). Terus gw ke War Remnant Museum, salah satu museum yang recommended di Ho Chi Minh bahkan dapet penghargaan Trip Advisor dari tahun 2012 sampai 2014. Harga tiket masuknya sendiri adalah Rp 26.000. Murah ya, bikin betah ke museum di Asia Tenggara, harganya ga semahal Eropa haha. War Remnant Museum sendiri menceritakan sejarah perang Vietnam secara detail, banyak gambar-gambar yang disturbing, menurut gw kurang rekomen buat anak kecil. Ruangannya sendiri banyak yang hanya menggunakan kipas angin, tanpa AC, jadi berasa deh tuh bau ketek para turis yang kebanyakan bule, semerbak haha. Museumnya bener-bener bagus, gw lumayan lama di sini dan investasi perasaan juga, sedihnya berasa banget. Recommended pokoknya.
War Remnants Museum tampak depan
Setelah dari museum, gw ke Tan Dinh Church atau yang lebih dikenal dengan Pink Church. Warna pinknya cantik banget! Untuk makan malam, gw makan Banh Xeo di restoran Banh Xeo 46A. Banh Xeo sendiri adalah pancake goreng yang didominasi dengan toge dan udang. Harganya Rp 70.000. Menurut gw sih terlalu banyak minyak dan kurang berasa ya. Tapi gapapa, buat nyobain aja.
Salah satu makanan yang orang2 suka tapi gw ga suka: Banh Xeo. Kebanyakan minyaknya, shay!
Setelah makan Banh Xeo, saya pun pulang ke hostel dengan naik grab bike. Malam ini adalah malam terakhir di Vietnam, besok kita sudah pindah negara dan kota yaitu Kamboja!






